[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 22)

MY LADY - CHAPTER 22.jpg

MY LADY

[ Chapter 22]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21

Sena kembali mematut dirinya di depan cermin. Memperhatikan setiap detail perubahan yang terjadi padanya hari ini. Senyuman bahagia terus tercetak di bibirnya disamping debaran jantungnya yang tidak bisa ia kendalikan. Antara bahagia dan cemas terus menghantuinya saat ini. Sena mencoba mencari celah di antara penampilannya saat ini. Takut ia ada sesuatu yang kurang dari penampilannya. Tapi tetap saja ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

Sebuah gaun pengantin warna putih ia kenakan saat ini. Butuh tenaga yang cukup banyak untuk sekedar memakai gaun tersebut, karena selain mewah, gaun pengantin itu juga berat. Untaian kristal dibentuk sedemikian rupa menghiasi gaun yang dikenakan Sena. Bagian ekor yang cukup panjang dan lebar membuat Sena kesusahan saat melangkah. Sedangkan bagian depannya dibuat mengembang untuk menyamarkan perut Sena yang sudah mulai membuncit karena kehamilannya.

Rambut merahnya ia sanggul ke atas dengan sebuah mahkota kecil ia gunakan di puncak kepalanya. Wajahnya dirias dengan make up yang tidak terlalu berlebihan, tapi juga tidak sederhana. Dua buah anting dari berlian ia gunakan di kedua telinganya membuat penampilam Sena semakin sempurna saja.

Saat Sena sedang asyik memperhatikan penampilannya, tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Sena membalikkan badannya untuk melihat siapa yang masuk. Senyuman Sena semakin lebar saja tatkala ia melihat siapa yang sedang berdiri mematung di ambang pintu. Baekhyun yang awalnya ingin melihat Sena, hanya bisa mematung saat ia melihat penampilan Sena yang begitu mempersona di matanya. Lama ia hanya berdiam diri saja sampai ia mendengar suara memanggilnya. Menyadarkannya dari lamunan.

“Apa pesonaku telah menyihirmu menjadi sebuah patung, my lord?”

“Kau bukan hanya telah menyihirku menjadi patung, my lady, tapi kau juga telah menyihirku untuk terus jatuh cinta pada dirimu, sayangku.” Jawab Baekhyun sambil melangkahkan kakinya menuju Sena.

Bukan hanya Baekhyun yang terpesona akan penampilan Sena saat ini, tapi juga Sena merasakan hal yang sama pada Baekhyun. Melihat Baekhyun memakai sebuah tuxsedo warna putih dengan rambut ia rapikan ke atas telah berhasil membuat Sena terpesona karenanya. Ia tidak pernah melihat Baekhyun setampan ini sebelumnya, dan itu membuat kesan tersendiri pada hati Sena.

Tatapan mata Baekhyun dan tidak pernah terlepas sampai Baekhyun berdiri tepat di depan Sena. mereka saling menyelami kedalaman dari tatapan mata masing-masing. Setelah menemukan apa yang mereka cari dari arti tatapan tersebut, keduanya otomatis saling melemparkan sebuah senyum bahagia.

Baekhyun merangkul pinggang Sena, membawa semakin merapat ke tubuhnya. “Aku tidak sabar untuk melepaskan gaun ini dari tubuhmu, my lady.” Bisik Baekhyun sambil mengelus pipi Sena dengan lembutnya.

“Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan itu nanti malam, my lord.” Jawab Sena penuh janji manis pada calon suaminya itu.

“Akan kuingat selalu janjimu itu, my lady.” Lalu Baekhyun mengecup sekilas bibir Sena. ia hanya menempelkannya sesaat karena jika Baekhyun melumatnya sudah bisa dipastikan nanti ia akan merusak penampilan Sena yang sudah sempurna itu. “Sampai jumpa lagi di atas altar, sayang.” Pamit Baekhyun kembali mengecup bibir Sena untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan Sena kembali sendirian.

Sena tidak menjawab perkataan Baekhyun, tapi ia terus menatap punggung Baekhyun yang terus menjauh sebelum menghilang di balik pintu. Selepas kepergian Baekhyun, seorang pelayan masuk untuk memasangkan tudung kepala di kepala Sena. Setelah itu, ia membantu Sena untuk keluar dari kamar karena upacara pemberkatan pernikahannya akan segera dilaksanakan.

Sesampainya di halaman villa, Sena dapat melihat Yuta dan Johnny sudah menunggunya di samping mobil yang akan digunakannya untuk ke gereja. Sebenarnya Baekhyun menginginkan jika upacara tersebut dilaksanakan di halaman belakang villa saja, tapi Sena menolaknya dengan tegas karena ia merasa jika sebuah pernikahan itu merupakan sesuatu hal yang suci dan Sena ingin melakukannya di tempat yang suci pula. Pada akhirnya Baekhyun pun mengalah karena ia tahu berdebat dengan Sena hanya akan membuang-buang waktu saja, karena yang akan menang dari perdebatan itu pastilah Sena.

Yuta membukakan pintu belakang agar Sena dapat memasukinya, sedangkan Johnny memilih untuk segera masuk ke bangku pengemudi. Dengan bantuan Yuta, Sena berhasil memasuki mobil tersebut tanpa kesulitan sedikit pun. Perlahan mobil yang mereka tumpangi mulai melaju menjauhi villa Baekhyun menuju ke sebuah gereja yang telah Sena dan Baekhyun pilih sebagai tempat upacara pernikahan mereka.

Selama perjalanan, jantung Sena tidak pernah berhenti untuk berdetak sangat cepat. Jika ditanya ia sangat gugup, maka jawabannya adalah ya. Ia sangat gugup. Bahkan lebih gugup dari saat ia menunggu hasil ujian kelulusan. Lebih gugup dari saat ia menunggu kelahiran putra pertamanya, Jaehyun. Sena mengalihkan perhatiannya menuju jendela kaca mobil, berharap pemandangan indah yang dilihatnya dapat mengurangi rasa gugupnya.

Saat mereka sudah hampir mencapai setengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakang membuat Sena tersadar dari lamunannya. Ia menolehkan wajahnya untuk melihat apa yang terjadi di belakangnya. Perasaan tidak enak mulai menyelimutinya tatkala ia tidak lagi melihat satu mobil yang mengiringinya seperti saat ia meninggalkan villa tadi.

“Tundukkan kepalamu, nona.” Ucap Yuta membuat Sena kembali menoleh ke depan. “Kumohon tundukkan kepalamu, nona.” Perintah Yuta lagi karena Sena masih saja bergeming di tempatnya. Ia merasa menjadi lambat dalam memahami situasi yang sedang terjadi saat ini.

Kesadaran seakan tertarik ke dalam sebuah lubang hitam yang besar sehingga Sena hanya bisa diam saja tanpa mampu bergerak sedikit pun sampai ia mendengar deru mesin mobil yang mendekat ke arah mobilnya dengan kecepatan yang di atas batas normal.

“NONA!!” teriak Yuta lagi membuat kesadaran Sena sepenuhnya pulih. “MENUNDUKK!!” seketika itu juga Sena menundukkan, dan tepat saat Sena menundukkan terdengarlah bunyi letusan senjata api yang berhasil memecahkan kaca jendela yang berada tepat di samping Sena.

“SHIITT!!!” rutuk Johnny kali ini saat ia tidak bisa menghindar dari tembakan tersebut. Sekuat tenaga ia tetap mempertahankan konsentrasinya dalam menyetir, tapi di sisi lain ia juga harus terus menghindar dari kejaran orang gila yang berada di dalam mobil yang mengejar mereka.

“Jaga posisimu tetap seperti itu, nona!!” perintah Yuta lagi sambil mengarahkan moncong senjata apinya untuk menembak mobil yang berusaha mencelakai  mereka. Sena bahkan tidak menyadari sejak kapan Yuta sudah memegang senjata apinya. Detik berikutnya terdengar bunyi tembakan yang memekakan telinga. Entah itu berasal dari senjata api milik Yuta atau dari senjata api milik orang asing itu.

Sena menutup telinganya untuk meredam suara memekakakan itu. Serpihan kaca berhamburan ke tubuhnya, membuat ia mengalami beberapa luka sayatan akibat serpihan tersebut. Sena semakin mengeratkan pejaman matanya. Ia tidak sanggup melihat apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Suasana begitu mencekam, dan itu berhasil membuatnya mati lemas. Suara tercekat, bahkan untuk menjerit sekalipun. Keringat dingin mulai bermunculan saat ia mendengar makian yang silih berganti dilontarkan oleh Yuta dan Johnny.

Adu tembakan masih berlangsung dari kedua belah pihak, sampai Sena mendengar makian keras yang dilontarkan oleh Yuta. “Sialan!!” umpatnya membuat Sena mengintip sedikit ke arahnya. Mata Sena membulat seketika saat ia melihat Yuta memegangi bagian bahunya yang berdarah akibat terkena peluru panas.

Seakan semua itu belum berakhir, ucapan Johnny membuat ketakutan Sena semakin bertambah besar saja, ditambah lagi mobil yang mengejar mereka semakin mempersempit jarak di antara mereka. “Sial, remnya blong!!” wajah Sena dan Yuta memucat seketika mendengar hal itu.

“Brengsekk!!” umpat Yuta sambil mengisi peluru pada senjata apinya, mengabaikan rasa sakit yang amat sangat mendera bahu kanannya. Belum sempat Yuta mengarahkan senjatanya, tubrukan demi tubrukkan mereka dapatkan dari mobil yang mengerjar mereka. Tidak hanya dari belakang, bahkan dari samping pun menjadi incaran mereka. Hal itu sukses membuat guncangan yang sangat besar untuk ketiganya. Bahkan tak jarang, tubuh Sena sukses membentur apapun yang ada di dekatnya. Entah itu pintu mobil atau pun kursi yang ada di depannya.

Selama itu pula, Sena menangis dalam diam. Berdo’a semoga ia dapat selamat, dan berharap Baekhyun dapat menyelamatkannya dari semua ini. Ia terus merapalkan nama itu sebagai penawar dari rasa takutnya. Tapi seakan kegilaan ini belum berakhir juga, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Johnny menabrak pembatas jalan yang menikung karena mobil kehilangan kendali.

Sena belum sempat mencerna apa yang terjadi, karena Yuta segera melompat kearahnya dan mendekapnya. Melindungi Sena dari benturan demi benturan yang akan diterimanya saat mobil terus saja berguling di sebuah tebing yang tidak terlalu curam, tapi bisa menghilangkan nyawa siapa saja yang jatuh ke dalamnya. Entah sudah keberapa kalinya mobil mereka terus berguling tanpa henti, hingga pada dasar jurang, barulah mobil itu berhenti dalam keadaan terbalik.

Untuk beberapa detik, Sena tidak mampu membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat sakit semuanya, dan ia bisa merasakan dekapan Yuta yang tidak lagi erat seperti sebelumnya. Perlahan ia membuka matanya untuk melihat keadaan sekitarnya. Pemandangan pertama yang dilihat Sena untuk pertama kali adalah wajah bersimbah darah milik Yuta yang tidak jauh dari wajahnya.

Tubuh Sena menegang saat ia merasakan tidak adanya pergerakan apapun dari tubuh yang sudah menyelamatkannya itu. Bahkan deru napasnya pun tidak dapat Sena rasakan. Sena mencoba melepaskan pelukan Yuta, dan berusaha menyentuh wajah tampan itu. Tubuh Sena bergetar hebat saat ia berhasil menyentuh wajah tanpa nyawa itu, dan pertahanan Sena seakan runtuh seketika. Tanpa sadar ia menitikan air matanya yang memang sudah mengalir sejak awal teror tadi.

“La…ri.” lirih seseorang yang membuat Sena sadar dari keterkejutannya. “An…da….ha…rus….se…la…mat….” ucapnya tersendat-sendat karena ia tersedak oleh darahnya sendiri. Sena mengedarkan pandangannya dan dapat ia lihat Johnny sudah terkulai lemas di luar mobil. Entah bagaimana caranya ia bisa sampai terpental keluar dari mobil tersebut, dan Sena tidak mau repot-repot memikirkan caranya karena baginya itu pemikiran yang sangat mengerikan.

Sena berusaha menjauhkan tubuh Yuta dari tubuhnya, dan dengan sisa kekuatannya ia keluar dari mobil tersebut dengan cara merangkak. Ia mengaibaikan beberapa serpihan kaca yang menancap di kulit mulusnya. Sena terus bergerak ke arah Johnny yang masih terbatu-batuk mengeluarkan darahnya. Tubuhnya sudah di penuhi darahnya sendiri yang keluar dari mana.

“John…ny.” panggil Sena sambil menangis. Johnny berusaha tersenyum ke arah Sena walau yang tercetak adalah senyuman lemah.

“La…ri..” perintahnya lagi yang membuat Sena menggelengkan kepalanya. Ia tidak tega jika harus meninggalkan pengawalnya itu dalam keadaan sekarat seperti ini. Walaupun ia mengambil jurusan kedokteran, saat ia masih dalam keadaan shock seperti ini, semua ilmu yang dimilikinya serasa menguap begitu saja. Otaknya terasa kosong dan Sena benci hal itu. “Ku…mo…hon…” ucap Johnny lagi, air mata Sena semakin mengalir deras karenanya.

Suara deru mobil berhenti membuat tubuh Sena menegang seketika. Ia menatap Johnny dengan pandangan ketakutannya, dan Johnny juga dapat merasakannya. “Ak…ku….a…kan….ba…ik…ba…ik ..sa…ja…per…gi…lah….”

Sena mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia menjawab ucapan Johnny yang menyuruhnya untuk segera pergi. “Maafkan aku…” ucap Sena sambil berusaha untuk berdiri dari tempatnya. Hal terakhir yang dilihatnya adalah senyuman tulus yang Johnny tunjukkan padanya sebelum ia berbalik meninggalkan Johnny.

Dengan sisa tenaganya, Sena melangkah memanjat tebing tersebut. Dalam hati Sena bersyukur karena tebing itu sedikit lebat dengan pohon, sehingga selama Sena memanjat, ia bisa berpegangan pada pohon-pohon yang dilewatinya. Sena telah menanggalkan sepatu heelsnya karena ia merasa kesulitan berjalan menaiki tebing dengan sepatu tinggi tersebut, ditambahkan lagi beratnya gaun yang dipakainya membuat Sena tidak bisa melangkah dengan cepat. Sekarang barulah ia merutuki keinginannya memilih gaun ini, jika saja dulu ia mendengarkan Baekhyun tentang gaun ini, mungkin saat ini ia bisa berjalan dengan leluasa. Baekhyun begitu tidak menyukai gaun ini disebabkan gaun ini terlihat berat dan sangat merepotkan.

Saat Sena setengah perjalanan, ia kembali mendengar suara tembakan yang diiringi oleh suara ledakan yang amat sangat besar membuat ia menghentikan langkahnya seketika. Wajah Sena semakin bertambah pucat saat ia menoleh kembali ke belakang. Detak jantungnya semakin cepat saat ia melihat kobaran api melahap mobil yang terbalik itu. Menghanguskan apa saja yang ada di dekatnya.

Lama Sena memandangi kobaran tersebut, hingga ia tidak sengaja bersitatap dengan seseorang yang memakai kaca mata hitam berdiri tidak jauh dari tempat mobil yang terbakar itu. Tubuh Sena kembali membeku saat merasakan firasat buruk akan segera terjadi padanya. Ia segera membalikkan badannya, berusaha kembali melanjutkan pelariannya yang sempat tertunda.

Baru tiga langkah Sena berjalan, ia kembali mendengar suara tembakan yang diarahnya padanya. Ketakutan begitu mencekamnya membuat ia tanpa sadar terus memanggil nama orang yang tidak ada bersamanya di sana. Baekhyun. Perasaan takut yang dideranya membuat Sena merasakan sedikit tendangan dari janinnya. Sena menghentikan langkahnya sejenak menahan rasa sakit akibat dari tendangan itu. Namun, semua itu adalah keputusan yang salah.

Orang yang mengejar Sena berhasil menyarangkan sebuah timah panas pada kiri Sena. Seketika itu juga tubuh Sena jatuh terduduk akibat tembakan itu. Rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhnya, membuat Sena berpikir akan menyerah saja. Tapi seakan Tuhan masih menginginkannya hidup, tendangan di perut Sena menyadarkan Sena untuk tidak menyerah sekarang, karena itu Sena bangkit berdiri untuk kembali melanjutkan langkah kakinya.

Ujung tebing yang memperlihatkan jalanan seakan angin segar bagi Sena. Derap langkah kaki yang semakin mendekat tidak mematahkan semangat Sena untuk terus bergerak. Sena semakin mempercepat langkah kakinya walau harus terseok-seok dengan keadaannya saat ini. Sena menghembuskan napas lega tatkala kaki telanjangnya berhasil menyentul aspal jalanan.

Mata Sena menatap penuh kebahagiaan saat ia melihat sebuah mobil melaju mendekat ke arahnya berdiri. Ia berusaha melangkah untuk berdiri di tengah jalan dengan maksud menghentikan mobil mobil guna dimintai tolong olehnya. Dengan sisa tenaganya ia melangkah semakin ke tengah jalan, dan berdiri di sana dengan detak jantung yang berdegup kencang. Karena kemungkinan yang akan di dapatnya ada dua, yang pertama mobil itu akan berhenti, dan yang kedua mobil itu akan menabraknya.

Tapi semua kemungkinan yang dipikirkan Sena semuanya meleset. Mobil tersebut tidak berhenti, tidak juga menabraknya, tapi ia hanya melewati tubuh Sena begitu saja. Sena bisa mendengar cacian dan umpatan yang dilontarkan pengemudi tersebut atas aksi yang dilakukan oleh Sena saat ini. “Wanita Gila!!”

Senyuman Sena menghilang saat mobil itu melewatinya dengan kecepatan tinggi. Tepat saat mobil itu melewati tubuh Sena, ia kembali menolehkan kepalanya ke arah mobil yang melewatinya itu berasal. Bukan tanpa alasan Sena menolehkan kepalanya kembali, tapi mendengar suara decitan ban yang dipaksa berhenti saat kecepatannya sedang tinggi.

Sebelum Sena dapat mengelak, tubuhnya sudah terpental ke atas karena tidak bisa menghindari benturan itu. Sena tidak tahu berapa kali ia berputar di atas karena semuanya terjadi begitu cepat. Sepersekian detik berikutnya tubuh Sena sudah terjerembap di atas permukaan aspal. Sena tidak bisa merasakan tubuhnya saat ini. Rasa sakit seakan hilang dari tubuhnya. Tapi satu hal yang dirasakannya, sesuatu yang terus mengalir dari dalam tubuhnya.

Gerakan-gerakan resah dapat ia rasakan dari perutnya. Seperti sesuatu mencari jalan keluar, dan Sena kenal perasaan itu. Ingin rasanya ia mengusap lembut perutnya untuk menenangkan bayinya, tapi ia tidak bisa. Ia seperti orang lumpuh yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Perlahan Sena membuka matanya dan ia dapat melihat mobil yang baru saja menabraknya itu berhenti tidak jauh dari tempatnya berbaring saat ini. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya saat ia melihat langkah kaki mendekat ke arahnya.

Tapi semakin langkah kaki itu mendekat, semakin tipis pula kesadaran Sena. Napasnya memberat dan ia dapat merasakan sesak yang begitu mencekik paru-parunya. Gerakan dari bayinya pun semakin lama semakin lemah seiring dengan semakin lemahnya tubuh Sena. Hal terakhir yang diingatnya sebelum menutup mata adalah prianya yang sedang menunggunya di altar.

“Baek….hyun….”

***

“Jangan ada pergerakan sebelum ada perintah.” Ucap Sehun melalui alat komunikasi yang terpasang di tangannya. Ia mencoba memperingatkan anak buahnya agar jangan bertindak gegabah, karena saat ini tidak jauh dari mereka sedang diadakan sebuah transaksi dalam dunia hitam. Dengan seksama Sehun terus memperhatikan apa yang terjadi di depannya, tidak lupa Kyungsoo juga berada di sampingnya.

Dari jarak yang lumayan dekat ini, Sehun dapat melihat apa yang terjadi di depannya, namun sayang ia tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh orang di depannya. Sekian lama hanya mengamati menimbulkan perasaan curiga di pikiran Sehun. Kecurigaannya bertambah besar tatkala ia melihat sesuatu yang janggal terjadi di depannya. Salah satu dari orang yang sedang bertransaksi itu tampak marah pada lawan bicaranya itu. Terlebih setelah itu, mereka membubarkan diri begitu saja tanpa ada transaksi yang diharapkan oleh Sehun.

“Sialan!!” umpat Sehun yang langsung keluar dari persembunyiannya. “TANGKAP MEREKA SEMUA!!!” perintahnya membuat Kyungsoo membulatkan matanya.

MWO?” Terdengar seruan protes dari Jongdae yang bisa Sehun dengar di telinganya. “YA!! Kau sudah gila? Kita tidak punya bukti apa-apa. YA!!” mendengar teriakan Jongdae membuat Sehun melepaskan alat komunikasi yang menempel telinganya.

“Berisik!!!” umpatnya sambil mempercepat langkahnya untuk mendekati tempat transaksi itu karena ia beranggapan bahwa semua orang itu akan pergi saat ini juga. Semua orang langsung lari kotar ketir saat melihat sosok Sehun yang berlari ke arah mereka.

Beberapa polisi yang ikut dalam misi kali ini segera menyusul Sehun saat mereka melihat situasi yang sudah tidak lagi kondusif. Mereka semua berpencar untuk menangkap siapa saja yang bisa mereka tangkap. Perkelahian antara polisi dan anggota gangster itu tidak dapat dielakan. Siapapun tidak mau ditangkap oleh polisi walaupun mereka bersalah.

Setelah aksi baku hantam itu berlangsung beberapa menit, Sehun akhirnya bisa menaklukkan salah satu dari anggota gangster itu. Sehun terus memukulnya bertubi-tubi hingga ia tidak mampu untuk melawan lagi. “Di mana paketnya?” tanya Sehun.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan.”

“Berengsek!!” Sehun kembali memukul wajah babak belur itu membuatnya muntah darah. Saat Sehun akan memukul lagi, ia bisa melihat seseorang yang dari kejauhan tersenyum meremehkan ke arahnya. Sebelum Sehun sempat mengejar orang tersebut, ia segera berlari ke sebuah mobil yang di parkir tidak jauh dari lokasi perkelahian tersebut.

Menyadari bahwa tangkapannya ada yang kabur, Sehun segera beranjak dan berusaha mengejar orang tersebut yang sudah melajukan mobilnya menjauhi tempat tersebut. Namun langkah Sehun terhenti saat sebuah mobil  menghadang langkahnya.

“Masuklah.”

Bukannya menurut untuk masuk, Sehun malah berjalan ke arah sisi pengemudi lalu membuka pintunya. “Biarkan aku yang mengemudi.” Ucapnya sambil memasuki mobil tersebut tanpa menunggu jawaban dari pengemudi awalnya, Kyungsoo.

“Kau selalu saja seenaknya.” Protesnya tapi langsung menuruti apa kata Sehun.

Setelah Sehun mengambil alih kemudi, ia segera menginjak pedal gas guna menyusul mobil yang menjadi targetnya. Dan usaha Sehun tidak sia-sia karena mobil yang menjadi incarannya sudah terlihat jejaknya. Tanpa sadar ia menyeringai sambil menatapnya.

“Kurasa kita telah dijebak.” Ucap Kyungsoo memecahkan keheningan antara mereka.

“Kau benar.” Jawab Sehun menyetujui apa yang diucapkan oleh Kyungsoo.

“Itu hanya pengalihan akan transaksi yang sebenarnya.” Ucap Kyungsoo lagi yang kali ini tidak ditanggapi apapun oleh Sehun. “Sepertinya ada pengkhianat di sini.”

Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara, karena target mereka sudah ada di depan mata. Beberapa kali Sehun mencoba menghentikan laju mobil incarannya itu dengan cara menabrak bagian belakangnya, namun semua percobaannya tidak ada yang berhasil dan Sehun menggeram marah. Pengemudi targetnya itu sama gigihnya dengan Sehun, sampai suatu ketika, tiba-tiba mobil di depannya itu bergerak ke samping kanan seperti menghindari sesuatu.

Sehun yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi pun terlambat melihat apa yang sedang dihindari mobil di depannya. Sekuat tenaga Sehun berusaha menginjak pedal rem agar mobil dapat berhenti tepat waktu. Namun, semuanya terlambat saat ia merasakan sesuatu menghantam bagian depan mobilnya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Mobil tepat berhenti beberapa meter dari tempat ia menghantam sesuatu itu.

Dengan terburu-buru Sehun dan Kyungsoo keluar dari dalam mobil guna melihat apa yang sudah mereka tabrak, karena kejadiannya berlangsung sangat cepat. Pemandangan pertama yang dilihat Sehun mampu membuat wajahnya pucat seketika. Tubuhnya bergeming di samping pintu mobil yang masih terbuka. Suara tercekat dan jantungnya berdetak dengan sangat cepatnya. Langkah kaki Kyungsoo yang berusaha mendekati sesosok yang tergolek lemah itu membuat Sehun kembali sadar dari rasa keterkejutannya.

Dengan susah payah Sehun juga ikut bergerak mendekati sosok itu. Berusaha melawan traumanya akan darah yang kembali mengingatkannya pada tragedi yang menimpanya dulu. Semakin Sehun mendekat, semakin jelas pula sosok yang tergolek lemah itu. Warna gaun putih yang digunakannya sudah berubah warna menjadi merah darah dari tubuhnya sendiri. Tubuh Sehun kembali menegang saat mengenali wajah yang tertutupi darah tersebut. Lee Sena.

***

“Bagaimana?”

“Semuanya berjalan dengan lancar.”

“Bagus.”

“Tapi kami ragu apakah wanita itu selamat atau tidak.”

“Apa maksudmu?”

“Kami tidak berhasil membakarnya, tapi ia terbujur kaku akibat ditabrak sebuah mobil.”

“Terus awasi dia. Jangan sampai dia selamat.”

Iye, algeuseumnida.”

***

“Bagaimana hasilnya, Taeyoung?” tanya Baekhyun pada orang di seberang telepon.

“Mereka memakan umpan kita.” Jawab orang bernama Taeyoung tersebut.

“Bagus. Bagaimana dengan pengkhianat itu?”

“Dia sudah ditangkap oleh polisi.”

“Penjara polisi hanya awal dari neraka yang akan ia rasakan. Setelah ia bebas, baru ia akan merasakan bagaimana neraka yang sesungguhnya itu.” setelah itu Baekhyun mematikan sambungan teleponnya karena ia mendapat isyarat dari Kai bahwa upacara pernikahannya akan segera dilaksankan.

Sejujurnya ia sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan acara demi acara hari ini, lalu segera membawa Sena ke ranjang pengantin mereka. Walaupun mereka sudah sering melakukannya, rasanya akan berbeda jika Sena sudah sah menjadi miliknya. Pintu gereja terbuka, menandakan bahwa Baekhyun harus masuk ke dalamnya.

Dengan perasaan gugup, Baekhyun melangkahkan kakinya di atas karpet yang sudah ditaburi kelopak mawar putih. Tidak pernah sekalipun Baekhyun gugup dalam hidupnya selama ini, walaupun itu saat pengumuman kelulusannya sekalipun. Baekhyun mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, dan ia dapat melihat beberapa orang yang dikenalnya sedang duduk rapi mengikuti upacara sakral ini. Baekhyun menyunggingkan senyumnya sebagai tanda bahwa ia sangat bahagia hari ini.

Tidak berapa lama setelah Baekhyun berdiri di altar dengan seorang pendeta, pintu gereja pun terbuka supaya pengantin wanitanya dapat memasukinya. Alunan musik pengiring pernikahan memenuhi gereja.  Semua orang tersenyum ke arah mempelai wanita yang sedang berjalan itu, seakan mereka juga ikut bahagia tatkala mereka melihat senyuman bahagia dari sang mempelai.

Tapi senyuman bahagia itu tidak tertular pada mempelai pria. Seakan senyuman yang beberapa menit lalu diperlihatkannya itu tidak pernah terjadi sama sekali. Ia menatap tajam wanita yang sedang berjalan ke arahnya itu. Tidak pernah sekalipun terbesit dalam benaknya akan menikahi wanita itu. Shannon William.

~ tbc ~

Iklan

46 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 22)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY  [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 32) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Wah shanon kayaknya gila juga yaa.. Masa tiba” dia yang nikah sma baek.. Pantas aja waktu di perkenalan tokoh shanon yang jadi nyonya byun.. Tetnyata begini ceritanya.. Sumpah thor menarik banget ceritanya.. Nggak bisa ketebak..

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 31) | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 30) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 29) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Lah jngan” yg nembaki mobilnya sena tu suruhannya shanon??
    Lohlohlohhh jdi gni critanya knpa shanon bsa jdi istri baekhyun? Kn baekhyun bsa nolak aduh gmna nasib sena?:’ gmna debay nya :’
    aaarrggggg pngen gw jambak tuh rmbutnya shanon :’ pkoknya greget, penasaraannnn aarrggghhh neeexxxtttt ><

  15. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My – (Chapter 27) | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 26) | EXO FanFiction Indonesia

  17. Erghhh. Sebenarnya siapa si penghianatt itu😑😑😑
    Semakin panass sajah, semakin mendebarkan.
    Benar2 tidak bisa ditebak😍

    Bertahanlah lee sena😢

  18. Johnny Yutaa,aku sayang kalian *eh.
    Alurnya perfect seperti biasanya.Dan apakah Shannon dibalik semuanya ?? Who know’s? penasaran sama yang khianatin Baekhyun

  19. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 25) | EXO FanFiction Indonesia

  20. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 24) | EXO FanFiction Indonesia

  21. omgg makinnnn runyam aja ceritanyaaaa… itu sehun yang nabrak sena ??
    dan jngan bilang insiden yang mau bunuuh sena itu suruhannya shannon ?? .
    baekhyun gimnaa ?? masa blom dapet kabar jugaa ?? lgian knpa ngga berangkat bareng aja siihhh.. uughhh baek cewe mu ilang lagi tuhhhh.
    ditangan polisi pulaaaa.
    baekhyun ngga nikahkan sma shannon ?? plisss jawab engaa hehehe
    next chap akan sangat ditunggu yaa min azalea 😀

  22. Laaaah kok tiba tiba shannon? Apa yang nembak mobil sena itu suruhannya shannon?
    Untung yang nabrak sena sehun, Sehun mah pasti jagain sena selalu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s