Always Love You – deagoldea

11efd16495f9f0f7e412409e97983d11

Always Love You by deagoldea. vignette. supranatural, school life, sad, teen, romance

 

Starring by EXO’s Chanyeol and OC’s Lee Hyo Jin

 

You can find the other cast in the story

 

The story is purely from my imagination. Don’t be plagiator and siders!

 

Happy Reading!

 

“Kita tidak bisa terus bersama.”

Lelaki itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Entah sudah berapa kali mereka membahas masalah ini. Rasanya muak mendengar orang yang kau cintai berkata seperti itu, benar bukan?

“Kita saling mencintai, apa salahnya?” balas lelaki jangkung itu dengan nada bicaranya yang dinaikkan –meski hanya sedikit.

Sedangkan gadis yang berdiri di hadapannya ini kembali melempar pandangannya ke arah lain, seakan tidak sudi lagi untuk menatap lelaki yang ada di hadapannya. Hanya sekian detik, sebelum akhirnya ia kembali menatap lelaki bermarga Park di hadapannya ini. Mata lelaki itu, entahlah, cukup sulit dijelaskan.

“Haruskah kita membahas ini setiap kali kita bertemu?”

Gadis itu menundukkan kepalanya dalam mendengar nada bicara lelaki bersurai hitam itu. Salahkah jika ia hanya berharap lelaki ini dapat hidup normal? Gadis itu sepenuhnya sadar jika ia terlalu jauh berbeda dengan lelaki yang sangat sempurna di hadapannya –setidaknya itu menurut orang-orang termasuk dirinya.

“Kita terlalu berbeda, kau tahu itu ‘kan?”

“Lalu apa salahnya? Bukankah cinta bisa menyatukan semua perbedaan? Itu yang kau katakan padaku dulu.”

Tidak, lelaki bernama Park Chanyeol itu benar. Memang benar jika ia pernah mengatakan hal itu dulu pada Chanyeol. Namun itu dulu, saat mereka masih belum memiliki perasaan apapun satu sama lain. Sekarang keadaan sudah berbeda, dan gadis itu seakan ingin menarik ucapannya saat itu, atau mungkin berharap tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu pada Chanyeol.

“Tolong jangan seperti ini, Hyo Jin. Aku mencintaimu, aku yakin kau tahu perasaanku.”

Jemari Chanyeol mulai menarik gadis yang mengenakan name tag Lee Hyojin itu dalam pelukannya. Sementara gadis itu hanya diam, tidak merespon ataupun menolak pelukan Chanyeol. Tidak, Hyo Jin tidak terlalu munafik untuk menolak pelukan nyaman dari kekasihnya itu. Tapi ia juga terlalu takut untuk membalas pelukan itu, tentu Hyo Jin takut akan jatuh semakin dalam di pelukan lelaki jangkung itu.

“Aku hanya ingin kau hidup dengan normal, Chanyeol. Itu saja.”

“Hidupku sudah cukup menyenangkan bersamamu. Tidakkah kau sadar?”

“Aku tidak bisa terus menemanimu.”

“Tentu kau bisa. Dan akan kupastikan kau bisa terus menemaniku.”

Akhir dari perdebatan mereka selalu seperti ini. Sekeras apapun Hyo Jin menasihati Chanyeol, tetap saja lelaki itu tidak akan mendengar ataupun melaksanakannya. Hyo Jin sadar betul jika kekasihnya ini termasuk orang yang cukup keras kepala.

“Hei, Park Chanyeol!”

Seruan itu segera mengalihkan atensi keduanya. Seorang lelaki besurai hitam dengan tinggi yang hampir menyamai Chanyeol datang dengan langkah panjangnya.

“Aku mencarimu dari tadi. Apa yang kau lakukan di atap sendirian?” tanya lelaki bersurai hitam yang baru saja datang pada Chanyeol. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan seseorang yang mungkin saja menemani Chanyeol di sini.

“Tidak ada, hanya menikmati senja.”

Lelaki jangkung itu menatap Chanyeol dengan tatapan tidak yakin. Sejak kapan seorang Park Chanyeol jadi peduli pada langit senja? Seperti bukan Chanyeol yang biasanya.

“Kau tahu kau tampak aneh belakangan ini, Chanyeol.”

Chanyeol berdecak sebal, “Terserah apa katamu, Sehun.”

“Hei, bukankah siswi satu tahun di atas kita bunuh diri di sini? Bahkan orang-orang masih sering melihat arwahnya di sini. Ah, aku baru ingat, ya benar. Aku sangat yakin.”

Chanyeol berdecak sebal. Haruskah Sehun membabarkan secara detil rumor lama –yang anehnya– masih beredar di sekolah mereka? Ayolah, kejadian itu sudah terjadi setahun yang lalu. Apa untungnya mereka masih membicarakan rumor semacam itu?

“Kudengar karena kondisi keluarganya yang membuat siswi itu bunuh diri. Ah sayang sekali, padahal dia siswi yang cantik dan cukup populer ‘kan?”

“Bisakah kau berhenti membicarakan rumor tidak jelas itu? Lagipula itu hanya rumor.” Chanyeol membalas celotehan Sehun barusan dengan nada kesal yang cukup kentara, sementara Sehun mencibir.

“Bukankah kau juga pernah membicarakan rumor itu padaku, huh? Jangan terlalu munafik, Chanyeol-ah.”

Lelaki bermarga Park itu mendecak sebal. Ya meskipun yang Sehun katakan barusan tidak sepenuhnya salah, namun haruskah ia membahas itu di depan Hyo Jin? Chanyeol menatap ke arah gadis itu sementara Hyo Jin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya seakan memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.

“Kang ssaem menyuruhmu menemuinya sekarang. Sudah ya, aku pulang dulu.”

Hanya beberapa langkah Sehun berjalan sebelum akhirnya berhenti dan membalikkan badannya –kembali menghadap ke arah Chanyeol.

“Berhati-hatilah. Arwah itu kadang menunjukkan dirinya pada seseorang yang datang ke sini. Jika kau beruntung, mungkin kau bisa bertemu dengannya.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sehun segera melanjutkan langkahnya tanpa kembali menoleh ke belakang. Menyisakan Chanyeol yang berdecak sebal karena pesan tidak jelas dari Sehun.

“Kurasa kau beruntung karena bisa bertemu denganku.” Hyo Jin tertawa kecil.

“Jangan hiraukan kata-kata temanku tadi, dia suka mengada-ada.”

Hyo Jin tersenyum. Tidak, Sehun tidak sepenuhnya salah. Semua yang dikatakannya, memang itulah kebenarannya. Dan Hyo Jin sudah cukup terbiasa dengan rumor itu.

“Apa yang salah? Memang begitulah kebenarannya. Aku memang bunuh diri di sini karena kondisi keluargaku yang sudah berantakan.”

Setetes air mata tanpa sadar turun dari pelupuk matanya. Dengan segera Hyo Jin menghapusnya sebelum Chanyeol sadar jika ia menangis dalam diam.

“Aku menyesal. Andai saja kita bisa lebih cepat bertemu, mungkin kita tidak akan jadi seperti ini.”

Hyo Jin menundukkan kepalanya dalam, tersenyum getir mengetahui jika memang ia dan Chanyeol tidak akan bisa bersatu. Mereka sudah berbeda dunia, apa lagi yang harus dipertahankan?

“Aku mencintaimu, Lee Hyo Jin. Aku mencintaimu tanpa peduli kita berbeda. Kau tahu itu ‘kan?”

Chanyeol menaikkan nada bicaranya. Ia sangat tidak suka jika Hyo Jin sudah berbicara seperti ini. Tentu, ia tidak mau menyakiti hati gadis itu dengan kembali mengingat luka satu tahun yang lalu, yang membuatnya harus terjun dari atap sekolah. Bahkan pada saat terakhir gadis itu hidup di dunia, ia tetap sendirian. Salahkah Chanyeol ingin menemani gadis ini? Persetan dengan dunia mereka yang berbeda, Chanyeol mencintainya, salahkah?

“Kita.. memang tidak ditakdirkan Chanyeol-ah.”

“Berhenti bicara yang tidak-tidak, Lee Hyo Jin.”

Tiba-tiba saja gadis itu merasakan sakit yang teramat di bagian dadanya, membuat ia jatuh terduduk sambil memegang dadanya. Namun Chanyeol dengan sigap meraih gadis itu dalam pelukannya sebelum sempat membiarkan lantai yang kasar menyentuh kulit gadis itu.

“Ada apa? Kau kenapa, Hyo Jin-ah?” tanya Chanyeol dengan nada khawatir.

Hyo Jin meremas seragam sekolahnya di bagian dada, seakan dengan melakukan itu dapat menghilangkan rasa sakit di dadanya. Wajahnya yang menahan sakit justru makin membuat Chanyeol khawatir.

“Kurasa sudah waktunya aku pergi.”

Dengan bersusah payah Hyo Jin mengatakan itu sambil menahan sakit di dadanya.

“Apa yang kau bicarakan? Kau tidak akan kemana-mana, Hyo Jin-ah!” seru Chanyeol dengan nada tinggi. Tentu, ia sangat takut Hyo Jin meninggalkannya.

“Ayo.. kita bertemu di kehidupan selanjutnya Chanyeol-ah.”

Suara Hyo Jin bahkan bergetar menahan tangis. Mau tidak mau ia harus berpisah dengan lelaki yang ia cintai. Andai saja, satu tahun yang lalu ia tidak terlalu putus asa sampai bunuh diri, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin saat ini ia dan Chanyeol sedang nonton film romantis bersama seperti pasangan kebanyakan jika saja ia tidak melakukan hal itu setahun yang lalu.

“Aku mencintaimu.. selalu, Park Chanyeol.”

Tepat setelah mengatakan itu, dalam sekejap bayangan Hyo Jin menghilang bagai debu yang ditiup angin. Tanpa sadar air mata sudah menetes dari manik kehitaman Chanyeol. Ia tidak bisa merasakan keberadaan Hyo Jin lagi di dekapannya. Ia hanya mendekap angin sekarang.

“Tidak. Hyo Jin-ah! Lee Hyo Jin!”

Chanyeol mengedarkan pandangannya ke seluruh arah sambil terus memanggil-manggil nama gadis yang dicintainya itu. Namun percuma, tidak ada sama sekali tanda jika Hyo Jin masih berada di situ. Gadis itu benar-benar pergi, menghilang tanpa jejak.

Saat Chanyeol akan beranjak –berusaha untuk mencari keberadaan gadis itu, ia merasa ada sesuatu yang terinjak. Sebuah gelang, gelang yang selalu Hyo Jin kenakan di pergelangan tangan kanannya. Gelang berhiaskan daun semanggi berdaun empat, gelang yang selalu Hyo Jin banggakan sebagai jimat keberuntungannya.

four-leaf-clover-bracelet-in-gold-lucky-charm-everyday-jewelry-bridesmaid-jewelry-wedding-bracelet

 

“Tidak. Kau tidak boleh pergi Hyo Jin-ah. Tidak!”

Katakanlah Chanyeol sudah seperti orang tidak waras sekarang. Terduduk di atap sekolah sendirian sambil terus menggenggam erat gelang milik Hyo Jin. Ah lebih tepatnya Chanyeol sedang terduduk dalam keadaan menangis dan tampak seolah tidak akan melepaskan genggamannya pada gelang itu.

 

***

 

“Tidak!”

Lelaki jangkung itu tersentak bangun dari tidurnya dengan napas terengah. Kepalanya berputar mengamati sekeliling sebelum akhirnya sadar ia ada di kamarnya. Sial, mengapa mimpi semacam itu selalu menghantuinya belakangan ini? Tepatnya ini sudah hari ketiga. Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Kenapa mimpi itu terasa sangat nyata?”

Ponsel yang berdering tiba-tiba membuat Chanyeol segera mengambil benda persegi panjang itu dari nakas.

“Hei, kau dimana? Ini sudah jam delapan dan kau belum juga datang?”

Sial. Mimpi yang beberapa hari ini terus datang di alam tidurnya memang membuat jam tidurnya sedikit tersita.

“Aku akan terlambat. Sepuluh menit lagi aku akan sampai di sana.”

Saat Chanyeol baru akan beranjak dari tempat tidurnya, ia baru sadar sesuatu sudah melingkar di tangan kanannya. Sebuah gelang dengan hiasan daun semanggi berdaun empat. Aneh, rasanya ia sama sekali tidak pernah membeli atau memakai gelang itu. Mengapa tiba-tiba ada di pergelangan tangan kanannya?

“Bukankah ini.. gelang dalam mimpiku?”

Hei, bagaimana bisa gelang dalam mimpinya tiba-tiba muncul dan ada di pergelangan tangannya? Bahkan Chanyeol sama sekali tidak pernah memakai ataupun melihat secara langsung gelang itu.

Ah, sudahlah. Chanyeol segera bersiap dan mengenakan seragam sekolahnya. Sudah dapat dipastikan jika ia akan terlambat. Mau tidak mau Chanyeol memanjat pagar belakang sekolahnya. Well, katakanlah Chanyeol termasuk siswa nakal atau sejenisnya. Namun nyatanya banyak juga yang melakukan cara itu, untuk masuk maupun keluar dari sekolah.

Bruk!

“Ah, maaf. Aku tidak sengaja.”

Chanyeol segera membantu gadis itu untuk berdiri. Beruntung gadis yang ia tabrak tidak mengomelinya panjang lebar. Gadis itu masih menundukkan kepalanya –membersihkan debu yang menempel di seragam sekolahnya. Tunggu, mereka satu sekolah.

“Hei, kau satu sekolah denganku? Seragam kita sama.”

Gadis itu segera mendongakkan kepalanya begitu mendengar seruan Chanyeol. Lelaki bermarga Park itu justru tiba-tiba terdiam mematung setelah melihat wajah gadis di hadapannya.

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku hampir tersesat tadi.”

Chanyeol masih diam mematung, kembali memeriksa wajah gadis itu dengan teliti. Tidak, ia sama sekali tidak keliru. Gadis di hadapannya ini memang benar-benar gadis yang ada dalam mimpinya beberapa hari belakangan.

“Lama tak berjumpa, Park Chanyeol.”

“Kau mengenalku?”

Gadis itu tersenyum hangat.

“Tentu saja, di kehidupan sebelumnya.”

 

-END-

Setelah sekian lama aku nggak ngepost (iya lama, lama banget, ampe udah ganti tahun XD) akhirnya aku kembali ngepost cerita. Awalnya dapat ide begini gara2 nonton drama lets fight ghost hoho. Tentunya dengan perubahan sana sini maka lahirlah ff absurd ini. Sebenernya ini mau di post tahun lalu (tanggal 30 atau 31 kan tahun lalu ya XD) tapi aku yang lupa mulu huhu. Maklumin sikap pelupa ini:(

Nggak masuk akal? Ya namanya juga lahir dari imajinasi liar aku. Emang lagi random banget waktu itu tiba-tiba aja kepikiran buat ff semacam ini karena memang belum pernah buat yang begini sebelumnya. Pengetikan pun secepatnya dan tanpa sempat di koreksi ada typo nya atau kata yang bertele-tele. Jadi kalo ada kesalahan di sana sini mohon dimaafkan yaa:3

Mind to review? Just comment, or you can chat me on line hoho

ID : deagoldea_

Regards,

Dea

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s