Full Moon – Christy Wu

full-moon

Full Moon

Cast : Baekhyun & Aimee

Genre : Mystery | Rating : G | Lenght : Vignette

[ Original Story By Christy Wu]

Disclaimer :

Ff ini murni buatan Christy sendiri jika ada kesamaan dengan cerita yang lain itu hal yang tidak disengaja sama sekali.

Waktu kecil aku pernah kabur dari rumah pada malam hari, aku masih ingat kalau saat itu aku sedang kesal karena dimarahi ibu bermain hujan saat siang. Aku mengurung diriku dikamar sebelum meloncat melalui jendela menapaki rerumputan basah sehabis dicumbu hujan. Rumahku berada dipedesaan yang masih dikelilingi hutan, penduduknya masih banyak yang bekerja sebagai penebang kayu, penyadap getah atau pengerajin ukiran kala itu.

Aku masih ingat segarnya udara malam dengan campuran aroma rumput basah, begitu segar. Piyama tidurku yang berwarna putih menyapu tanah, kaki kecil tanpa alasku berjalan dengan ringan diantara jalan setapak yang diterangi cahaya bulan.

Konon masyarakat desaku percaya kalau jangan pernah keluar rumah dimalam hari, karena ada monster yang mengintaimu dari kegelapan. Mata merahnya menatapmu dari balik bayangan pohon yang menyembunyikan tubuh besarnya dengan netra merah menyala dan gigi taring runcing yang siap mengoyakmu jadi tak berbentuk. Mereka bilang monster itu punya wajah yang menyeramkan dan tidak bisa tersenyum bahkan kau bisa langsung mati jika menatap matanya.

Tapi, aku tetaplah gadis kecil yang tak mau tahu masalah orang dewasa bicarakan yang disebut bahaya. Ditemani suara jangkrik aku naik ke bukit dan duduk di batu besar. Dari sana aku bisa menikmati bulan penuh dengan sangat jelas malam itu dan aku bertemu dengan sosok yang begitu sangat indah dimataku.

Sosoknya keluar dari kegelapan, kulitnya bersinar perak dibawah sinar bulan. Rambutnya berwarna merah menyala, mencolok diantara kegelapan yang hutan ciptakan. Bibirnya membentuk kurva simetris yang manis saat ia berjalan dan berjongkok dihadapanku, hingga aku tahu kalau obsidiannya berwarna hijau keabu – abuan. Ingatan kecilku masih ingat begitu tampannya pemuda itu.

“Kenapa anak manis sepertimu bisa disini tengah malam?” tanya – nya sambil mengusap rambutku. Suaranya mengalun merdu, sehalus rayuan angin malam yang menerbangkan daun jati.

“Aku hanya ingin ketenangan dengan melihat bulan penuh setelah dimarahi ibu karena main air hujan.” Ujarku saat itu yang ku ingat jelas. “Huh, jadi anak kecil sangat merepotkan. Aku ingin cepat menjadi dewasa.”

“Apa kau tidak tahu kalau ada monster yang berkeliaran saat malam? Apa kau tidak takut padaku?”

“Aku tahu, tapi aku hanya anak kecil yang tak mau tahu urusan orang dewasa dan juga untuk alasan apa aku harus takut kepadamu? Pemuda setampan dirimu?” dengan nada polos kukatakan semua yang ada dalam fikiranku dan dia tertawa hingga matanya menyipit.

“Kalau begitu ayo kita nikmati bulan penuh ini bersama – sama! apa kau mau?” tanyanya. Akupun mengangguk dengan semangat. Kemudian ia memakaikan mahkota yang terbuat dari bunga dikepalaku.

“Sebagai perkenalan aku membuatkan mahkota bunga untukmu, namaku Baekhyun. Siapa namamu?”

“Aimee, namaku Aimee.”

Malam itu kami menikmati bulan penuh dari atas bukit bersama. Aku tidak tahu kemana ia pergi karena saat terbangun aku sudah ada dirumah. Wajah khawatir ayah dan ibu yang pertama kali kulihat. Kata mereka aku ditemukan tidur di halaman belakang. Terdengar mustahil karena jelas – jelas aku pergi ke bukit malam itu, yang menjadi bukti nyata kalau aku tidak berhayal adalah mahkota bunga diatas nakas yang kata ibu kupakai.

Aku tidak berkata apapun saat itu. Mereka mengira kalau aku berhalusinasi saat itu hingga aku pindah tinggal dikota.

Hari ini setelah sekian lama aku kembali pulang kekampung halaman. Bukan pada situasi yang tergolong bahagia, aku kembali untuk mengebumikan kedua orang tuaku yang meninggal bersamaan dalam kecelakaan mobil. Sesuai dengan wasiat mereka yang menginginkan beristirahat dengan tenang dikampung halaman. Sebagai anak aku harus mengabulkan keinginan terakhir mereka.

Suasana hatiku masih bercambur aduk. Aku masih belum bisa dengan ikhlas menerima kepergian mereka dan juga kesendirianku tanpa orang tua saat ini.

Aku mencoba melakukan kebiasaan kecilku dulu dengan berjalan – jalan malam. Aku mengenakan sweater putih, celana jeans hitam dan sepatu cokelat. Saat keluar dari rumah aku sudah disambut dengan udara segar khas pedesaan yang telah lama tidak kurasakan. Ketenangan perlahan mulai merambatiku saat tidak ada bising kuda besi yang biasa kudengar saat dikota, yang ada hanya bunyi dari hewan – hewan malam yang bersuara dari rumahnya. Tak ada lampu – lapu besar dipinggir jalan seperti dikota sana, disini yang ada hanyalah sekelompok kunang – kunang hilir mudik dan cahaya bulan yang menerangi jalan.

Keadaan masih tetap sama, hanya saja penduduk desa tak seramai dulu karena beberapa sudah memilih untuk merantau dikota besar seperti keluargaku. Yang masih menetap hanya beberapa orang yang cinta akan ketenangan.

Batu besar diatas bukit tempatku melihat bulan penuh saat kecil masih tetap berada ditempatnya. Semua terasa masih sama, yang berbeda hanyalah malam ini bulan sedang setengah bersembunyi di awan. Walau sinarnya masih sanggup menerangi sekitar tapi tak cukup terang untuk menerangi hatiku yang berkabut.

Walapun begitu aku tetap duduk dibatu besar, menikmati bulan setengah seorang diri.

Sesuatu bergerak dari kegelapan hutan, pergerakannya tak tergesa – gesa namun membuat kabur semua hewan malam dari persembunyian. Mataku menyipit menanti apa yang akan keluar dari hutan saat siluet itu makin dekat, awan yang menutupi bulan menyingkir, hingga cahaya bulan penuh mengenainya. Tubuhnya berpendar keperakan dibawah cahaya bulan, rambutnya hitamnya sepekat kegelapan hutan tanpa sinar.

Dia

Baekhyun – orang yang dulu pernah bersamaku menikmati bulan penuh saat kecil. Masih terlihat sama saat pertama kali aku bertemu dengannnya 20 tahun yang lalu, yang berbeda hanya warna rambutnya yang berubah jadi hitam. Seharusnya bukankah ia menua.

Tanganku berkeringat dingin, mulai mengerti arti ketakutan dari cerita semua orang saatku kecil. Seiringan dirinya yang mulai mendekat dengan langkah tenang. Alih – alih lari – tubuhku membatu hingga ia berada didepanku, tangannya yang runcing dan dingin menyentuh daguku hingga tatapanku bertemu dengan netranya yang hijau ke abu – abuan.

“Hai Aimee, akhirnya kita bertemu lagi.” Sapanya ramah dengan senyum simetris yang dulu kupuji indah.

Tubuhku bergetar saat dia menyelipkan anak rambutku kebelakang telinga lalu memakaikanku mahkota bunga yang seakan memang sudah ia persiapkan sebelumnya. “Lama tak berjumpa, kau sekarang sudah dewasa.” Ujarnya. “Apa kau sekarang takut?” ia memainkan bibir bawahku dengan jemarinya, tak kuasa air mataku jatuh juga dengan isakan yang ku tahan.

Kulihat ia terkekeh dan taring tajam mengintip di balik bibirnya yang tipis,”Apa sekarang kau tahu siapa aku?” bisiknya tepat ditelingaku.

“Monster.”

Dan kurasakan bibirnya membentuk senyuman dileherku.

FIN

Ini hanya bagian dari remah – remah imaginasi Christy. jangan terlalu dibaca dengan serius karena ini hanya sekedar hiburan 🙂

Salam Sayang Christy Wu

XOXO

6 thoughts on “Full Moon – Christy Wu

  1. Kereeeeeeeeeen ini endingnya cuma begitu ???duh q nyesek bgt ini nanggung hiks lanjutin yaaaaa satu chapter lagi deh please!!!!!!!!!!!!!

  2. hadeuhhhhhhhhhh misterius bnget….. kecehhhhh spt biasa… ngebatanginnya Baekhyun zaman exodus gilaaaaa keceh bnget kan asliii sukaaaaaa

  3. ada nextnya ya kak. Soalnya andingnya gntung bkin pnasaran, lg seru2nya ehh malah and. Di tunggu nextnya aja deh. Bye jumpa lg

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s