Little Christmas (Series) – Winter Heat – Shaekiran

21

Winter Heat

A Christmas special fiction written by Shaekiran

Chanyeol x Wendy

In Romance, AU, angst and campus life story

Oneshot long with T Rated

Disclaimer

Shaekiran’s little chirstmas project with EXO. Standard disclaimer applied. Please enjoy and Merry Christmas!

Author’s Note

Cerita ini berhubungan dengan cerita Falling For You , jadi eki harap kalian membaca  cerita tersebut terlebih dahulu agar semakin mengerti jalan cerita ff Winter Heart ini.

Previous Series

For Life |Falling For You | What I Want For Christmas | Twenty Four | [Now Playing] Winter Heat |

 

“It’s like you’re by my side”

©2016 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

Waktu adalah sesuatu yang sangat kubenci. Tau kenapa? Bukannya aku ingin egois, tapi aku merasa waktulah yang paling egois. Maksudku, ia selalu bergerak maju-konstan tanpa peduli sekelilingnya. Detik berubah menit, menit berganti jam dan jam menjadi hari. Hari perlahan menjadi bulan, bulan berganti musim dan tahunpun ikut berganti. Sungguh, aku benci pergantian waktu itu. Aku sangat benci, apalagi saat waktu tak mau berputar ke masa lalu.

Oppa, kau akan pergi ke pesta natal juga?” suara riang Sooyoung menyadarkanku. Ah, ternyata ia sudah pulang sekolah dan sialnya aku tadi tengah melamunkan sesuatu yang tidak penting-waktu.

Hmm, aku ingin berangkat. Kau tau darimana? Kyungsoo?” tanyaku sambil mengikat tali sepatu kets putih yang tengah kupakai. Adikku itu-Park Sooyoung- nampak mengangguk ringan.

“Iya, tadi aku bertemu Kyungsoo oppa di depan,” jawabnya dan aku hanya terkekeh sambil merapikan syalku.

“Kau masih menyukai si kutu buku pendek membosankan itu?” tanyaku akhirnya karena sadar pipi Sooyoung memerah tiap kali membicarakan Kyungsoo yang kumaksud. Sungguh, aku tidak pernah menyangka kalau adikku yang notabene populer sepertiku itu malah jatuh hati pada Kyungsoo, adik tingkat sekaligus tetangga kami yang kutau sangat membosankan. Yah, bukannya aku menghina Kyungsoo, toh kami sebenarnya juga dekat karena sudah saling kenal sejak kecil dan Kyungsoo pun memanggilku hyung dengan akrabnya. Aku hanya tak menyangka saja.

Hmm,” gumaman singkat lolos dari bibir Sooyoung, kemudian ia duduk di sofa sebelahku.

“Dan ia masih menolakmu sampai sekarang?” lanjutku dan Sooyoung hanya mengangguk kecil dengan raut murung. Perkiraanku ia baru saja ditolak saat bertemu Kyungsoo di luar tadi.

“Bahkan ia menolakku saat aku bilang cinta padanya barusan,” akui Sooyoung yang 100% sesuai prediksiku. Aku hanya tertawa kecil, kemudian mengacak-acak rambut adikku itu gemas.

“Perlu oppa hajar si kecil itu?” tanyaku bercanda dan hanya desahan tak bersemangat yang lolos dari bibir adik semata wayangku.

Gwenchana oppa, pergilah. Kau bisa terlambat nanti. Jaga Kyungsoo oppa di pesta untukku,” katanya kemudian berlalu menaiki tangga-masuk ke kamarnya di lantai 2.

 

 

Suasana pesta natal yang hangat menyambutku seketika saat tiba di café. Banyak mahasiswa yang sudah datang dan mereka menyambutku tak kalah hangat. Jadi dengan cepat aku membaur dan mulai berpesta.

“Ah Kyungsoo,” panggilku pada seorang pria cukup pendek dengan alis tebal, jangan lupa ekspresi kelewat datar miliknya yang membuatku gemas memanggilnya membosankan secara sepihak.

Ne Hyung?” jawabnya dan aku langsung tersenyum.

“Kemarilah, duduk disini,” kataku sambil menepuk sofa sebelahku dan ia langsung menurut.

“Bagaimana hubunganmu dengan Sooyoung?” tanyaku to the point dan Kyungsoo nampak membelalakkan matanya, mungkin kaget dengan pertanyaanku barusan.

“Maksud hyung apa? Tentu saja kami baik,” jawabnya cukup gugup, nampak dari kata-katanya yang beberapa bergetar.

“Benarkah? Bagus kalau begitu,” kataku sambil meneguk sirup yang ada di meja.

“Kyung, kau tau? Mungkin akhir-akhir ini aku akan sangat sibuk. Kau tau ‘kan? Selepas natal dan tahun baru maka aku akan naik semester dan itu akan menjadi semester terakhirku di universitas. Kau paham ‘kan bagaimana sibuknya mahasiswa tingkat akhir?” tanyaku dan Kyungsoo langsung mengangguk.

“Jadi, bisa aku minta tolong jagakan adikku Sooyoung?”

Eh?” spontan, Kyungsoo membulatkan matanya, tepat setelah aku mengucapkan kalimat itu.

“Kau tau, adikku itu sangat populer. Bukannya aku membangga-banggakan adikku, tapi banyak laki-laki yang datang ke rumah ingin menemui Sooyoung. Untung saja selalu aku yang membuka pintu jadi aku dengan mudah mengusir mereka semua, hahaha..” tawaku lolos dan Kyungsoo masih menatapku lekat.

“Kau tau ‘kan bagaimana polosnya adikku? Aku takut kalau dia sampai kenapa-kenapa karena salah memilih orang,” lanjutku kini sambil menepuk pahanya singkat.

“Maksud hyung?” tanyanya dan aku hanya mengulum senyum tipis.

“Aku menyukaimu,”

Eh?” Kyungsoo membulatkan matanya, bahkan kini badannya mundur ke belakang secara spontan.

“Bukan suka dalam artian namja, maksudku aku menyukai kepribadianmu Kyungsoo. Meskipun sedikit membosankan, tapi kau ini tidak pernah neko-neko dan aku tau kalau kau itu pria baik-baik,” terangku karena Kyungsoo sepertinya salah paham.

“Ja-jadi hyung?” tanyanya sedikit gagap dan aku menepuk pahanya sekali lagi.

“Jaga adikku, yah, hanya kau satu-satunya laki-laki yang kuberi wewenang menjaga adikku seperti aku menjaganya,” ucapku kemudian dan Kyungsoo lagi-lagi membulatkan matanya. Lama-lama bola matanya yang hampir keluar itu lucu juga kalau dilihat, apa karena ini Sooyoung menyukainya?

“Tapi jangan terbebani Kyung-ah, kau boleh menjaga adikku bukan sebagai oppa-nya,” dan kekehen ‘eh’ kembali lolos dari bibirnya secara spontan.

“Kalau misalnya kau punya perasaan lebih pada adikku, gwenchana, aku akan menerimanya. Aku tidak akan mempersulit kalian dan aku akan merestui dengan cuma-cuma karena aku sangat mengenalmu. Jangan sungkan padaku Kyung-ah,” kataku akhirnya dan ia nampak mulai panik.

“Anu hyung, bu-bu-bukan begitu, tapi-“

“Tapi kalau kau memang tidak punya perasaan apa-apa padanya dan hanya menganggapnya sebagai adik kecilmu, gwenchana, aku juga baik-baik saja. Tapi jika memang demikian, kumohon tolak adikku dengan tegas. Tak apa meski ia menangis, aku tak akan mendatangimu kemudian menghajarmu sampai babak belur. Tapi tolong jelaskan dengan sangat kalau kau tidak menyukainya dan jangan beri ia harapan palsu,” terangku dan Kyungsoo mulai menghela nafasnya panjang.

“A-aku, hatiku ragu hyung,” jawabnya dan aku hanya terkekeh, kemudian menyentil dahinya gemas.

“Aku juga pernah ragu dan akhirnya berakhir menyesal sampai sekarang. Jadi tolong jangan ragu dan tetapkan hatimu, arraseo? Setidaknya aku ingin jadi hyung dan oppa yang baik bagi kalian berdua karena memang kau sudah seperti adikku sendiri,” dan begitulah kuakhiri konservasiku dengan Kyungsoo, berharap kalau ia bijak dan tidak berlaku bodoh sepertiku dulu.

Ya, seperti aku si namja bodoh, dan aku benci itu.

 

 

Salju turun perlahan. Butir esnya beberapa kali bersarang di rambutku yang kini berjalan santai di trotoar yang juga penuh gundukan salju, namun aku tidak peduli dan terus saja berjalan tanpa menghiraukan lalu lintas padat yang kulewati sekarang.

Langkahku ku belokkan pada sebuah toko bunga yang juga ku kunjungi tiap akhir tahun selama beberapa tahun belakangan ini. Banyak interiornya yang sudah berubah dan kuyakin pegawai tokonya pun takkan mengingatku. Jadi dengan cepat aku memesan sebuket bunga mawar-seperti pesananku malam natal tahun-tahun sebelumnya.

Selesai dengan mawar indah yang kini sudah ada di genggaman, lantas kurajut langkah kakiku menuju halte. Omong-omong aku tidak jadi ikut pesta natal. Selesai dengan dialogku bersama Kyungsoo, aku langsung pamit pergi. Yah, sebenarnya ada tempat yang ingin ku kunjungi. Ada seseorang yang menungguku disana-agaknya, dan sekarang aku tengah menuju ke sana.

Sebuah bus berhenti di halte, dan dengan cepat kunaiki bus biru yang akan membawaku ke tempat tujuanku itu. Bangku belakang paling pojok menjadi pilihanku kali ini, seperti biasanya. Kutatap jendela kaca yang menampakkan salju turun disebelahku, kemudian tersenyum karena kini bus-ku sudah melaju ke jalan-membelah kota Seoul di malam natal.

“Wendy-ah, apa kau ingat dulu kita sering berebut posisi duduk di bangku sudut dekat jendela?” batinku tiba-tiba saat memandangi salju itu. Aku sangat ingat bagaimana dulu saat SMA sangat sulit bagiku duduk di sini karena ada seorang gadis cerewet yang suka merengek, dan aku terpaksa mengalah untuknya.

Setengah jam, waktu yang di perlukan bus ini hingga sampai ke halte yang paling dekat tempat tujuanku. Lantas dengan cepat aku turun kemudian mulai berjalan kaki menuju tempat Wendy berada sekarang. Ya, aku ingin menemui Wendy, si gadis cerewet yang selalu memaksaku mengalah itu. Setelah 15 menit berjalan kaki dari halte, akhirnya aku tiba, dan aku tau Wendy sedang tersenyum karena melihatku datang mengunjunginya.

“Wendy-ah, apa kau merindukanku?”

 

 

 

Flashback On

Seoul, 3 tahun yang lalu

Sudah terlalu banyak mobil lalu lalang yang lewat. Ntah berapa puluh kendaraan yang sudah melaju sejak sejam lalu aku menunggu disini. Omong-omong, namaku Park Chanyeol, seorang siswa SMA kelas 3 yang hampir mengikuti ujian akhir sekolah dan sedang sibuk-sibuknya belajar untuk ujian masuk ke universitas. Dan bicara tentang mobil yang kumaksud, itu hanya karena aku sedang bosan saja karena pemandangan yang kulihat sejak tadi hanya mobil yang lalu lalang. Sudah sejam aku menunggu seseorang dan orang yang kutunggu itu tidak datang juga.

“Wendy-ah, kau sebenarnya kemana sih?” aku menggumam dalam hati, cukup kesal juga karena gadis ini membuatku menunggu berjam-jam di cuaca sedingin ini.

Dua jam.

Tanpa terasa sudah 2 jam pula aku menggigil di taman tepi jalan dan Wendy belum juga menampakkan batang hidungnya. Lantas kulirik jam yang melingkar di tangan kiriku. Pukul 9 malam. Ayolah, ia ingin membuatku menunggu sampai kapan? Sampai hari natalkah? Atau tahun baru?

Namanya Son Wendy, ia gadis yang kutunggu dengan sangat sabar, dan mulai tak sabar karena aku sudah terlalu lama menunggu. Ia adalah adik kelasku di SMA dan apa harus kuakui bagaimana perasaanku pada gadis satu ini? Tunggu, apa mawar yang ada di genggaman tanganku ini sudah cukup menjelaskan semuanya?

Jadi, aku menyukainya. Sungguh, aku tengah jujur sekarang. Gadis ini adalah cinta pertamaku selama 18 tahun aku hidup di bumi ini.

Pertemuan kami pertama kali terjadi di bis, di hari ia pertama kali masuk SMA. Jadi, saat itu bis penuh dan ia hanya bisa berdiri kaku sambil memegangi pegangan bis sedangkan aku duduk santai di bangku pojok. Sebenarnya awalnya ia punya bangku tempat duduk, tapi ia merelakannya pada seorang nenek tua yang kebetulan naik. Bukankah gadis yang sangat baik hati?

Akhirnya kami sampai di halte depan sekolah. Awalnya aku tidak tau ia adalah siswi baru di SMA-ku karena ia memakai jaket, tapi setelah ia melepas jaket seturunnya kami dari bis, aku sadar kalau ia adalah juniorku.

“Pegal karena berdiri setengah jam?” tanyaku akhirnya sembari menunggu lampu penyebrangan berubah menjadi hijau, dan ia menatapku yang baru saja mengajaknya bicara dengan tatapan super kaget. 

“Anu- ti-ti-tidak apa-apa-sun-bae?” ucapnya gugup dan tergagap, nada bertanya tersirat di akhir kalimatnya. Ah, ia pasti bingung karena kami memakai seragam yang sama ‘kan? Mungkin ia takut salah bicara jadi ia memanggilku sunbae dengan canggung.

“Namaku Park Chanyeol, kelas 12A. Kau tidak salah mengucap sunbae, tenang saja. Kau siswi baru ‘kan?” tanyaku dan ia mengangguk sekilas sambil tersenyum tipis.

“Wendy, namaku Son Wendy sunbae,” dan begitulah kami pertama kali saling mengenal, di antara banyaknya manusia lewat dan padatnya mobil lalu lalang di tepi jalan penyebrangan menuju sekolah, di pagi hari yang cerah di awal tahun ajaran baru.

“Kau marah karena kubentak?” tanyaku pada Wendy yang kini memegangi pegangan bis tepat disampingku dengan wajah cemberut. Kebetulan kami satu bis pulang lagi. Omong-omong bentak yang kumaksud karena tadi aku memang membentaknya di barisan karena aku adalah panitia MOS sementara ia adalah siswa baru yang harus ikut MOS. Alasannya sepele, ia lupa membawa bet nama kartonnya, tapi aku membentaknya luar biasa dan menyuruhnya jalan jongkok satu lapangan penuh sepakbola.

“Ti-tidak sunbae, sa-saya tidak ma-marah,” nada bicara Wendy begitu formal, dengan ucapan sunbae yang kaku dan kepala menunduk ke bawah, ketakutan kalau kataku.

“Gwenchana, jangan memanggilku formal begitu. Begini-begini aku hanya galak saat MOS, aslinya aku ini orang yang ceria, baik hati dan tidak sombong kok,”kataku narsis dan Wendy masih menundukkan kepalanya, takut memandangku seperti pertama kali kami bertemu tadi pagi.

“Cih, aku paling benci kalau seseorang tidak menatap mataku saat bicara,” kataku tiba-tiba dan Wendy langsung mengangkat kepalanya.

“Ma-maaf sunbae,” katanya masih gugup, jadi dengan cepat aku segera berdiri.

“Duduklah, “ titahku dan kulihat Wendy membelalakkan matanya. 

“Ti-tidak sunbae, itu bangku sunbae,” jawabnya dan aku hanya mengerling malas. Aku paling benci saat seseorang menolak kebaikanku.

“Gwenchana, kau pasti pegal setelah jalan jongkok dan berdiri di bis, jadi lebih baik kau saja yang duduk,” titahku namun ia masih saja berdiri di tempat. Jadi dengan sangat terpaksa aku menariknya duduk di bangkuku kemudian menggantikan posisinya berdiri.

“Duduk saja dengan tenang dan jangan melawan. Satu lagi, jangan berbicara formal dan kaku padaku, aku benci itu. Panggil saja aku sunbae seperti kau memanggil oppa-mu, bisa ‘kan?” kataku dan ia menggeleng ragu. 

“Aku tidak punya oppa, jadi aku tidak tau cara memanggil oppa seperti kata sunbae,” jawabnya polos dan itu mengingatkanku akan adikku Sooyoung. Jadi tanpa bisa ditahan sebuah tawa kecil lolos dari bibirku.

“Baiklah, kalau begitu jangan panggil aku sunbae tapi panggil oppa saja, arraseo? Aku akan jadi oppa-mu agar kau bisa memanggil kata ‘oppa’ dengan baik,” kataku dan tanpa sadar ia terkekeh, sebuah senyum mengembang di bibir mungilnya.

“Benarkah? Aku bisa memanggil sunbae dengan oppa? Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin punya seorang oppa, tapi aku ini anak tunggal,” akunya dan aku hanya tersenyum kecil, ntah kenapa yakin dengan ucapanku sendiri.

“Tentu saja, aku akan jadi oppa-mu,” dan ia tersenyum sumringah.

Aneh memang mengingat pertemuan pertama kami. Awalnya kaku dan gugup-gugup-an namun sekarang akrab-nya keterlaluan. Sejak percakapan kami di bus, Wendy bahkan tidak pernah memanggilku sunbae lagi, malah ia memanggilku oppa dan memperlakukanku memang seperti oppa-nya sendiri. Dan akupun memperlakukannya dengan hal yang sama, memperlakukannya seperti adikku sendiri.

Kami bercanda di bus, rebutan dan bahkan tak jarang adu mulut hanya karena bangku. Padahal dulu ia jual mahal saat kutawari bangku, namun sekarang ia selalu memaksaku mengalah. Persis seperti adik menyuruh oppa-nya mengalah. Namun aku suka itu, aku suka bagaimana Wendy bersikap padaku. 

Tak jarang, karena keakraban kami yang diluar batas hingga terkenal di sekolah –maaf, aku lupa memperkenalkan kalau aku ini adalah Ketua OSIS yang sangat disegani di SMA dan sangat populer di kalangan guru dan sesama murid- Wendy jadi bulan-bulanan siswi kelas 3 dan aku dengan mudahnya menyelamatkan gadis itu dari bully dengan kalimat “Dia ini donsaengku.” Setelah kejadian itu, kami memang dianggap oppa dan donsaeng di sekolah, bahkan Wendy juga mengakuiku sebagai oppa-nya pada teman-temannya tanpa malu-malu lagi.

Dan begitulah kami terjebak dalam hubungan oppa-donsaeng, sampai aku tak sadar kalau ada rasa yang tumbuh mekar menyisip diantara hubungan aku dan Wendy. Sederhana, namun sanggup merusak semuanya. Cinta, racun paling mematikan antar pria dan wanita.

Hanya sebuah kata sederhana namun sanggup membuatku kelimpungan setengah mati. Sungguh, aku tau Wendy menyukaiku, namun itu hanya sebatas oppa saja. Aku sangat yakin Wendy mengidap brother complex melihat bagaimana ia benar-benar memperlakukanku sebagai kakak laki-laki baginya dan itu membuatku menjadi serba salah. 

Kalau saja aku tidak jatuh hati pada Wendy yang selalu bersamaku kemanapun dan kapanpun itu, mungkin gundah-gulana ini tidak akan terjadi. Namun takdir berkata lain, aku tidak sanggup mengontrol perasaanku sendiri hanya sebatas oppa bagi Wendy. Aku sudah jatuh terlalu dalam dan aku ingin memiliki Wendy sebagai gadisku, bukan adikku-dan aku tau itu salah. Jadi aku memilih bungkam, enggan memekarkan rasaku dan memilih menguburnya dalam-dalam agar Wendy tak tahu. Setidaknya, aku tidak ingin kehilangan Wendy meski ia hanya berperan sebagai adikku.

Hari ini malam natal, natal pertama sejak aku mengenal Wendy. Jadi aku dengan senang hati menerima ajakan Wendy untuk bertemu di taman di malam natal. Dan disinilah aku, 2 jam menunggu tanpa kepastian kehadiran Wendy ditengah salju yang mulai turun tipis. 

“Angkat Wen, angkat,” aku menggumam sembari menempelkan ponsel hitamku ke telinga, menghubungi Wendy. Namun sudah kali ke-7 aku melakukan hal yang sama dan hasilnya pun sama pula, nihil. Wendy tidak mengangkat telfon dariku.

“Sebenarnya kau dimana Wen?” aku mengguman lagi sembari menatap sekelilingku yang mulai sepi. Awal aku datang ke taman, tempat ini sungguh padat manusia, namun kini manusia yang ada disini bisa dihitung jari. Bosan, akhirnya ku pandangi lagi jalan raya di depanku. Hasilnya masih sama, banyak mobil yang lewat dan banyak pejalan kaki di seberang sana yang- 

Bukankah itu Wendy? 

Mataku hanya terpaku ke depan, ke seberang jalan yang kini menampakkan seorang gadis yang sangat ku kenal sebagai Wendy sedang berjalan bersama pria. Sungguh, aku benar-benar tidak salah lihat. Itu benar-benar Wendy yang sedang kutunggu selama lebih dari 2 jam dengan badan menggigil dibawah guyuran salju yang turun tipis. Dan sekarang ia malah jalan dengan pria lain? Jadi dengan cepat aku berdiri dari dudukku, meninggalkan mawarku begitu saja di bangku taman kemudian menyebrang jalan dengan tergesa-gesa. 

“Son Wendy! Wendy!” aku berteriak, masa bodoh meski kini orang yang lewat menatapku bingung, yang penting sekarang adalah aku bertemu Wendy.

“Ah, Chanyeol oppa?” sebuah kalimat lolos dari bibir Wendy, matanya membulat, mungkin cukup kaget karena kini aku berdiri di depannya dengan wajah pucat dan rambut dipenuhi salju. 

“Kemana saja kau? Aku sudah menung-“

“Siapa laki-laki ini Wen?” kutatap nyalang laki-laki di sebelah Wendy, orang yang sudah memotong ucapanku tiba-tiba dan juga oknum yang kuyakini membuat Wendy tidak menemuiku di taman.

“Ah, aku pacarnya Wendy-“

Brughhh!

Satu bogem mentah sukses kusarangkan di wajah lelaki itu sedetik setelah ia mengucapkan kalimatnya, dan sedetik pula jeda hingga Wendy memekik kaget.

“Oppa, apa yang kau lakukan?!” tanyanya kaget dan langsung menghampiri lelaki yang bahkan belum ku kenal namanya itu. Kutatap Wendy yang kini lebih peduli dengan bibir berdarah lelaki yang tadi bersamanya daripada aku yang kini hatinya terkoyak karena melihatnya dengan lelaki lain. Ingin aku menangis saja, namun mataku terlalu nyalang untuk menangis. Untuk malam ini saja aku ingin bertindak egois. Hanya malam ini, aku tidak ingin menjadi oppa-nya Wendy. 

Brughhh!

Satu lagi tinju kasar ku sarangkan ke wajah lelaki itu tanpa peduli Wendy yang kini mulai menangis. Sungguh, aku gelap mata. Aku sadar reaksiku salah. Reaksiku ini bukanlah reaksi seorang kakak yang menangkap basah adiknya pacaran diam-diam, malah lebih mirip reaksi seorang lelaki yang memergoki pacarnya berselingkuh. Yah, lebih mirip seperti itu dan aku egois karena menganggap Wendy adalah milikku. Jadi dengan gelap mata dan bekal sabuk cokelat taekwondo, aku menghajar laki-laki itu habis-habisan.

“Oppa, jangan oppa!” ku dengar isakan Wendy yang makin menjadi dan aksi kami yang seketika jadi bahan tontonan pejalan kaki. Aku melengos. Lantas kulepaskan pacar Wendy yang sudah babak belur itu, kemudian menatap Wendy ragu.

“Maaf Wen,” lirihku kemudian pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua. Sungguh, aku benar-benar malu. Betapa bodoh aku karena gelap mata dan begitu serakah menggangap Wendy itu milikku padahal ia hanya menganggapku oppa-nya. Betapa bodoh karena sekarang hubunganku dan Wendy tidak akan bisa sama lagi, tidak akan seakrab dulu dan-

“Awas oppa!”

BRUGHHHH!

Hanya sepersekianmili detik, badanku terhempas ke jalan raya. Begitu banyak lampu mobil yang kini menyorotku, namun aku tak peduli. Masa bodoh dengan luka yang kini kudapat karena menggores aspal atau beberapa orang yang mulai mengerumuniku layaknya semut, fokusku kini lebih pada kerumunan orang di tengah jalan raya sana. Kupaksakan badanku berdiri, kemudian menerobos kerumunan yang menjadi fokusku itu. Hatiku tak tenang, ada sesuatu yang janggal karena aku mendengar suara panik Wendy sebelum-

“Sepertinya gadis ini meninggal dunia” 

-aku menggores aspal.

Flashback Off

 

“Aku merindukanmu Wen,” lirihku setelah meletakkan bunga mawar itu ke dalam kotak kaca di depanku. Ya, ini tempat Wendy sekarang. Tempat penyimpanan abu jenazah-rumah Wendy yang damai.

“Wendy-ah, apa kau merindukanku, hmm? Kau merindukan oppa jahatmu ini?” tanyaku lagi meski kutau seribu kalipun bertanya Wendy takkan pernah bisa menjawabku lagi. Ia sudah terlalu tenang di atas sana. Jadi aku hanya terdiam, bingung ingin berkata apalagi meski aku sudah menyiapkan apa saja yang ingin kubicarakan dengannya. Rasanya semua kalimat yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari itu menguap begitu saja.

“Maafkan aku,” hanya itu kalimat yang lolos dari bibirku setelah terdiam beberapa menit, diikuti jeda yang cukup lama hingga bibirku sanggup berkata-kata meski dengan getar yang semakin menjadi-jadi.

“Maaf, maaafkan aku Wen,”dan kali ini, tangisku pun lolos.

 

 

Tungkaiku kugerakkan paksa meski rasanya begitu kaku. Langkahku cukup terseok-seok, hingga kini Baekhyun-salah satu teman baikku di SMA- harus memapahku berjalan menuju rumah duka. Ya, Wendy meninggal di tempat. Sebuah truk yang seharusnya menabrakku berakhir menabrak Wendy hingga gadis itu kehilangan nyawanya di malam natal. Malam dimana aku dengan egois dan serakah menghakimi Wendy. Membuatku kini kehilangan sosoknya karena ia menyelamatkanku, oppa-nya yang brengsek ini. 

“Wendy meninggalkan ini, hanya buku harian, tapi banyak namamu yang tertulis disana nak,” seorang wanita berumur awal 40 tahunan berucap sambil menepuk bahuku ringan, kemudian meletakkan buku berwarna biru laut itu di pangkuanku yang kini duduk meringkuk di salah satu sudut ruangan. Bisa kulihat mata bengkak dan kehilangan amat sangat dibalik senyum wanita cantik itu, ia ibu Wendy.

Kutatap buku milik Wendy tidak berselera, namun iming-iming banyak namaku dari bibir ibu Wendy seakan membuat tanganku kini membuka lembar demi lembar buku harian itu, ingin melihat seberapa banyak ungkapan benci dan cacian yang ingin Wendy tujukan padaku karena serakah dan merengut nyawanya. 

 

Musim Semi, 2013

Hari ini hari pertama aku menjadi siswi SMA, dan diary apa kau tau? Aku mendapatkan seorang oppa, ya, oppa yang selama ini sangat kuimpi-impikan. Namanya Park Chanyeol ^^

Aku menatap tulisan itu datar. Ya, Wendy belum tau saja bagaimana bejatnya orang yang ia anggap oppa ini. Lalu dengan tidak bersemangat kubalik lembar selanjutnya.

  

Musim Semi, 2013
Sudah lebih sebulan aku menjadi adikknya Chanyeol oppa, dia baik sekali. Bahkan ia menyelamatkanku dari bully, bukankah aku beruntung punya oppa seperti dia, diary? Hanya saja, kami sering berebut bangku di bus, haha, lucu sekali kalau aku mengingat bagaimana ngototnya aku di bus :v

Beruntung? Kau salah Wendy, aku malah jadi bencana bagimu.

  

Musim Panas, 2013
Hari sudah berganti dengan cepat. Sekarang sudah musim panas, dan Seoul rasanya sudah seperti neraka saja. Untung ada Chanyeol oppa yang selalu membelikan es krim cokelat sepulang sekolah, kalau tidak mungkin aku sudah mati kepanasan. Terimakasih Chanyeol oppa-ku, dan maaf kalau adikmu ini masih saja merebut bangku dekat jendela di bus :p

 

Musim Gugur, 2013
Saat daun mulai berguguran dan suhu semakin dingin, Chanyeol oppa selalu datang kemudian memarahiku karena aku tidak bawa syal. Jadi, oppa selalu memakaikan syalnya padaku sementara ia sendiri kedinginan tanpa syal. Baik sekali kan oppa-ku diary? 😀

Aku tidak baik Wen, aku oppa yang jahat.

 

Musim Gugur, 2013
Sudah terlalu banyak syal yang oppa pinjamkan padaku. Apa aku perlu merajut sebuah syal untuk kado ulang tahunnya akhir November nanti, diary? Tapi….aku tidak pandai merajut. Bagaimana ini? 😦

Syal? Kau bahkan tidak memberikan kado apapun padaku saat aku ulang tahun Wen.

 

Musim Gugur, 2013
Sialan, banyak sekali sunbae dan bahkan hoobae sepertiku yang memberi Chanyeol oppa dan isinya barang mahal dan bagus semua. Apalah dayaku yang hanya ingin memberikan syal rajut dengan hasil super tidak memuaskan seperti ini -,-
Apa aku tidak usah memberi kado saja ya, diary?

Dasar bodoh, justru kadomu yang paling kutunggu Wen.

 

Musim Dingin, 2013
Aku cemburu. Aku cemburu saat Chanyeol oppa menolong Moonbyul sunbae yang terpeleset hingga mereka berakhir dengan Chan oppa yang menahannya seperti adegan drama-drama. Sialan! Aku cemburu oppa!

 

Musim Dingin, 2013
Matilah aku diary. Aku baru sadar kalau aku menyukai oppa-ku sendiri. Bodoh kau Wen, bodoh! Tapi aku juga tidak bisa memendam perasaanku, ottokhe? Apa aku mengikuti saran Yuta saja?

Tunggu, menyukai oppa-ku sendiri? Itu berarti- 

“Aku Yuta,”

Kutatap seorang lelaki yang kini sudah duduk di sebelahku tanpa ijin, orang yang mengaku bernama Yuta- yang ternyata pacar Wendy yang kupukul di malam natal.

“Ah, ternyata pacarnya Wendy,” kataku lirih dan lelaki itu malah menatapku sedih.

“Maafkan aku,” katanya tiba-tiba sambil membungkukkan badannya 90 derajat dengan air mata bercucuran. Hei, apa yang tengah ia lakukan sekarang? Kenapa ia-

“Aku bukan pacarnya Wendy,” mataku terbelalak. Jadi ia bukan pacarnya Wendy?

“Aku sepupunya, dan aku yang dengan bodohnya memberi saran pada Wendy,” lanjutnya kini dengan mata basah karena tangis yang memenuhi matanya.

“Apa maksudmu?” tanyaku dan Yuta mulai menceritakan semuanya, dengan air mata yang bercucuran dan kata maaf yang terus terukir hingga akhir kisahnya. Membuatku mencelos, terdiam kaku, dan hanya berakhir semakin meringkuk dengan tangis yang makin menjadi.

 

 

Kutatap foto Wendy yang tengah tersenyum di rumah-nya itu untuk terakhir kalinya malam ini, lalu aku balas tersenyum setelah kurasa air mata sudah kering dari mataku.

“Aku tau ini terlalu cepat Wen, tapi Selamat Natal. Aku tau kita belum pernah merayakan natal bersama, tapi anggap saja kunjunganku tiap tahun kesini tiap malam natal selain karena ini adalah hari peringatan kau pergi ke surga, juga hari dimana aku selalu ingin menghabiskan malam natal bersamamu-satu momen yang belum pernah kita lakukan bersama-sama,” kataku kali ini sambil mengelus kaca kediaman gadisku itu dengan senyum terkulum tipis. Aku sangat berharap Wendy tengah tersipu menatapku dari atas sana, sungguh, aku benar-benar berharap menatapnya.

Drrttttt…..

Atensiku teralih sejenak dari Wendy. Kutatap layar ponselku yang kini menampakkan nama Sooyoung, lalu dengan cepat kugeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telingaku.

“…….”

Ne, aku akan menjemput mereka,” ucapku mengakhiri panggilan yang ternyata bukan dari Sooyoung, tapi dari ahjussi penjual kaki lima yang mengatakan kalau adikku dan seorang lelaki bibir segiempat tengah mabuk dan tertidur di warungnya.

Jadi, kutatap Wendy dengan senyum masih terkulum.

“Maaf Wen, sepertinya kita harus berpisah sekarang. Aku harus menjemput Sooyoung, yah kau taulah, katanya ia mabuk. Aku perlu memarahinya segera, kau tak apa ‘kan?” tanyaku dan senyum Wendy di foto seakan membuatku yakin gadis itu mengatakan iya.

“Kalau begitu aku pergi Wen, aku akan datang lagi nanti,” pamitku kemudian mengecup singkat kaca kediaman Wendy penuh sayang- gadis yang akan selalu memenuhi tiap bilik hatiku itu.

Aku membenci waktu karena ia tidak mau berputar ke malam natal 3 tahun lalu dimana Wendy pergi meninggalkanku selamanya. Aku ingin kembali, ingin serakah memiliki Wendy lebih awal dan mungkin ini semua tidak akan terjadi. Namun sang waktu berkata lain, ia tidak ingin berbalik. Aku menyesal karena aku bodoh dengan hati, dan aku tidak mau adik-adikku –Sooyoung dan Kyungsoo- juga menyesal nantinya karena ragu pada hati, jangan sampai mereka berakhir sepertiku dan Wendy.

“Jadi mereka mabuk?” tanyaku kini pada ahjussi yang tadi menelfonku sesampainya aku di kedainya dan ia langsung mengangguk.

“Yah, anak muda memang sering mabuk ‘kan?” kelakarnya sambil menunjuk Sooyoung dan Kyungsoo yang tertidur di meja yang sama dan aku hanya tertawa kecil.

Tunggu, lalu bagaimana caranya aku membawa kedua bocah mabuk ini pulang?

 

 

“Wendy menyukaimu. Malam itu kami tengah pura-pura pacaran seperti ideku agar membuatmu cemburu dan tau bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Jadi kami membiarkanmu menunggu 2 jam lebih di taman sendirian, sementara aku dan Wendy menatapmu dari kejauhan.

Kau tidak tau kan bagaiman berulang kali Wendy bilang ia tidak tahan karena melihatmu menggigil kedinginan dan memilih menghampirimu saja? Tapi aku menahannya. Maaf, kalau aku tidak menahannya berulang kali mungkin ini tidak akan terjadi.

Jadi Wendy menurutiku, kemudian kembali memperhatikanmu dari kejauhan. Setelah kami rasa cukup kau menunggu, kami sengaja menampakkan diri. Kami berjalan mondar-mandir di seberang jalan tepat di depan matamu, dan akhirnya kau menemukan kami juga. Wendy sangat senang saat kau datang dengan wajah cemburu, itu artinya cintanya terbalas.

Namun ia benar-benar kaget saat kau tiba-tiba memukulku sangat keras, berulang-ulang hingga aku babak belur. Lalu kau pergi begitu saja hanya dengan sebersit kata maaf. Wendy mengejarmu, ingin meluruskan kesalahpahaman tapi itu semua malah terjadi. Kau melamun di tengah jalan raya, dan Wendy menolongmu dari truk yang hampir melibasmu dengan nyawanya sendiri.

Maaf karena semuanya jadi berakhir seperti ini, aku benar-benar minta maaf.

Wendy menitipkan ini padaku. Aku satu-satunya sepupunya, satu-satunya saudaranya tapi sayang aku lebih muda darinya jadi ia tidak bisa memanggilku oppa. Lagipula aku orang Jepang dan tinggal lama di Osaka, jadi Wendy jarang bisa bertemu denganku. Aku sangat berterimakasih karena kau sudah menjadi saudara bagi Wendy, jadi oppa-nya Wendy yang baik.

Tapi Wendy jatuh cinta pada oppa-nya dan ia tau ia salah. Namun cintanya ternyata terbalas, ia begitu senang, tapi ia juga pergi terlalu cepat. Ini syal yang Wendy titipkan, katanya kalau misal nanti ia ditolak olehmu, tolong berikan syal ini atas namanya karena ia tidak akan berani menemuimu lagi. 

Maafkan aku, tapi Wendy ingin kau memakai ini. Meski jelek, tapi Wendy menaruh hatinya ke tiap sentuhan rajutan tangannya. Ia ingin syal ini menghangatkanmu dengan hati tulus miliknya. Sekali lagi, aku minta maaf. Wendy benar-benar menyukaimu. 

 

-FIN-

Shaekiran’s Note

Yehet, akhirnya series ini berakhir sudah meski waktunya gak sesuai harapan eki, maunya end sebelum taun baru, eh taunnya end pas udah tahun baru T.T/dibalang/

Dan memulai awal tahun ini, eki bakal nerusin hutang ff chapter eki yang masih nunggak, wkwk, so tunggui yaw eki kombek dengan new chapter/ditimpuk/ganyanyaki/ T.T

Dan (2) lagi chingu, eki ntar pagi jam 8-an mau berangkat perjalanan jauh balek ke tempat sekolah eki, wkwk, libur sekolah eki telah usai sodara, tolong kasihani eki yang cuma libur ganyampe 2 minggu ini. T.T So, doain eki selamat sampe tujuan yaw/ngarep/dibalang/ XD

Last but not least,

Happy New Year!

Big Luv, Shaekiran ❤

8 tanggapan untuk “Little Christmas (Series) – Winter Heat – Shaekiran”

    1. Wkwk, syukur deh kalo ngena chingu, padahal itu ngasal lo, absurd gitu,😂😂
      Jan nangis chingu, nanti kering matanya/dibalang/
      Thanks for reading chingu, Cintakuh padamuh,😍

  1. eki barusan kepalanya terantuk sama apa, hm? Tumben wenyeol dibikin ngenes gini :v biasanya lawak-lawak romantis 😀 tapi sedih dd bacanya qaqa /plak/ ditunggu HUTANG-nya 🙂

    1. Iya mbak, ane keknya kejedot daun pisang tadi, 😂🔪
      Wenyeol keenakan dibikin romens lawak mulu, sesekali ngenes gpp dunks/dibalang/😂😂
      Jadi sedih ah, nanti aku ikutan sedih/digampar/😂
      HUTANG mesti dikeps yaak,😂🔪
      Thanks for reading garemkuh, utang didoain lunas yaww,😆😘
      Cintakuh padamuh. 😍❤

    1. Ini romance kok, cuman sad nya nyempil aja dikit/dibalang/😂
      Bijak karena udah pengalaman, bhakss,😂😂
      Thanks for reading chingu,Cintakuh padamuh. ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s