[Oneshoot] Christmas With Alessa | by L.Kyo

1483112829256

Title: Christmas With Alessa | Author: L.Kyo | Artworker: IRISH | Cast: Alessa Kim (truwita’s OC), Do Kyungsoo | Genre: Fantasy, Fluff | Rating: PG-15 | Lenght: Oneshoot | Disclamer. This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

.
[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

.
.
HAPPY READING

.

Di malam natal ini, Alessa tidak kemana-mana. Seperti biasa selama 18 tahun yang ia lakukan hanyalah menatap butiran salju di balik jendela. Menatap beberapa orang-orang saling melempar salju, memainkan serbuk keemasan mereka untuk menunjukkan atraksi bola salju dalam berbagai bentuk dan menghidupkannya. Seperti karakter olaf dalam kartun frozen.

 

Petasan ada di mana-mana. Bahkan langit yang semula gelap sekarang layaknya pelangi karena beberapa orang pintar memainkan manteranya dengan tongkat kecil mereka. Ada beberapa dari orang-orang es mengebor tanah dengan palu besi keemasan yang sekali pukul sudah menampakkan bundaran es beku yang bisa di buat untuk berselancar.

 

Itu semua karena ayahnya. Katanya, ia tidak ingin anaknya bergaul dengan orang-orang bermantera itu. Hei, ini jaman apa? Bukan jaman orang-orang bersusah payah untuk berwara-wiri kesana kemari, ini sudah maju. Dan sekarang bisa membeli serbuk emas yang ada di pasar besar tengah kota dan menebarkan keseluruh rumah. Dan barang-barang itu akan bekerja sendiri tanpa kita bersusah payah berkeringat.

 

“Itu tidak baik untuk kesehatanmu! Gunakan tubuhmu dan jangan terlalu bergantung pada emas basi itu!” Tuan Cho dengan jas hitamnya berteriak tegas pada Alessa yang pagi-pagi sudah merengek minta jalan-jalan. Persetan dengan Ayahnya. Enak saja berkata seperti itu pada putri satu-satunya ini?

 

Bahkan Ayahnya suka menggoda wanita lain dan bersenang-senang di sana bermaksud mencari ibu baru. Cih, bagi Alessa itu tidak adil. Ayahnya dengan gampang membeli serbuk itu lalu memamerkan manteranya untuk menggoda para wanita. Dan Ayahnya begitu bangga dengan sebutan duda keren. Lalu jika Ayahnya senang bermain manter, apa bedanya jika Alessa dilarang bergaul dengan mereka?

 

Benar-benar Alessa ingin ngamuk saat ini juga. Hadiah natal yang ia inginkan adalah segenggam serbuk emas, ia tidak butuh barang mahal seperti berlian. Ayolah, Alessa sudah ketinggalan jauh menikmati itu semua. Tapi ia tidak mengerti dengan semua yang dipikiran tuan Cho. Dan ia mendapatkan hadiah seekor kuda berambut emas.

 

Tahukah kalian? Di negeri ini, kuda adalah hadiah terbasi yang mereka dapatkan. Bisa ditoleransi jika ia mendapatkan sepasang sepatu roda yang bisa melewati jalanan vertikal, diagonal, di jurang, di laut tanpa perlu takut jatuh. Atau sebuah selancar untuk bermain-main di atas bekuan es? Apa gunanya kuda? Kuda itu jalannya lambat dan susah untuk menuruti sang pemiliknya.

 

Dan kali ini, Alessa ingin melakukan satu hal gila. Ia membawa segebok lembaran uang dan memasukkan ke dalam tas. Ia sudah tertutup rapat dengan mantel bulu menutupi sebagian bola matanya. Sepatu boots warna hitam dengan alas lancip. Alessa bersiap berpetualang sekarang.

 

“Aku tidak peduli Ayah murka dan mengejarku dengan pengawal-pengawal bodoh itu. Yang jelas aku harus mengambil oksigen banyak diluar sebelum aku mati di dalam rumah sialan ini”. Omel Alessa sembari mengikat erat kain satu persatu hingga menjuntai panjang hingga beberapa meter.

 

Untuk masalah melarikan diri, itu sangat mudah dengan kemampuan panjat Alessa yang memang terbilang jago. Ia bukan gadis yang suka memakai gaun saat pertemuan, atau memakai heels tinggi yang membuat kakinya seperti pincang.

 

Masa bodoh saat Ayahnya melirik murka saat ia memakai setelah kemeja dan celana jeans. Memang ada yang salah? Ini kan juga pakaian, lebih sopan tanpa memamerkan belahan dada yang membuat Alessa geli bukan main. Itu bukan style nya.

 

Alessa sigap turun dari lantai 3 rumahnya tanpa kesulitan apapun. Ini sebenarnya mudah tapi ada hal-hal yang harus ia terima saat ia pulang nanti. Yang pertama adalah ia harus siap dengan makanan yang disebut vegetarian. Karena Ayahnya tahu jika Alessa muak dengan sayuran-sayuran itu. Yang kedua adalah ia terpaksa tidur di lantai 1 tanpa adanya barang-barang mewah yang selalu ia pakai setiap hari.

 

Bukan style nya harus menikmati barang-barang kuno dan tanpa adanya pelayan yang mau membersihkan kamarnya. Alessa malas, sangat malas dengan itu semua. Tapi demi kesenangan yang ia ingin rasakan berpuluh tahun, ia rela sengsara nantinya. Jika Ayahnya sayang padanya, bukankah ancaman itu hanya akan angin berlalu? Alessa harus percaya diri dan yakin dengan perasaan lembut Ayahnya.

 

Alessa mengendap-endap ke belakang rumah, melewati beberapa pengawal dan berhenti di sebuah kandang kuda. Dan Alessa ingat jika ia mendapat seekor kuda berambut emas. “Baiklah, kali ini aku akan menaikimu!” Alessa membuka pintu kayu itu sepelan mungkin tanpa adanya suara decitan.

 

Kuda putih itu berambut emas, bermata biru dan terdapat kalung perak dengan sesuatu bercahaya di sana. Alessa hanya melihat dari kejauhan dan kuda itu terlihat seperti kuda biasa. Tapi saat ia melihat kuda itu secara dekat, mata kuda itu sedikit berbeda. Jika kuda yang bertemu orang baru akan mengangkat tubuhnya karena panik.

 

Tapi kuda ini bahkan memundurkan kakinya dan mengeluarkan suara kuda yang terdengar lembut. Alessa sedikit menyukainya dan ia ragu untuk menyentuhnya. Ajaibnya, kuda itu mengerti dan mendekatkan puncak kepalanya di telapak tangan Alessa. Dan saat itu juga, Alessa menyukainya.

 

 

***

 

 

“Apa kau tahu dimana aku membeli serbuk emas?” Tanya Alessa pada kuda yang ia tuntun selama sejam itu. Alessa melongo kesana-kemari, yang ia dapatkan hanyalah toko tua yang sudah setengah tutup dan beberapa pohon natal dengan hiasan yang sudah hilang karena tertumtup salju.

 

“Hei, apa kita tersesat?” Alessa menhentikan langkahnya dan melihat kuda itu sedikit khawatir. Daerah itu sepi, maunya ingin ke kota besar tapi semakin ia berjalan yang ia lihat hanyalah hutan. Uap dingin dari mulutnya keluar karena dingin luar biasa. Ia tidak memakai sarung tangan yang biasanya ia pakai.

 

Ia belum mempersiapkan rencana pelarian dengan baik. “Ikut aku!” Alessa kaget bukan main karena ada suara pria yang dekat dengannya. Tangan kanannya yang memegang untain tali kuda kini terlihat kendor. Bahkan tali itu terikat dipergelangan tangan pria itu.

 

Alessa pikir, Ayahnya memberikan kado seorang jelmaan kuda? Mata Alessa ingin melotot. Ia bahkan tak bosan memandang dari atas sampai bawah. Tanpa pakaian baju hangat dan tanpa alas kaki, pria itu sama sekali tak kedinginan. Hanya sehelai kaos tipis berwarna putih, rambutnya hitam semburat emas, bibirnya merah, dan kalung perak itu masih melekat di lehernya.

 

“Ayahmu memberikan hadiah diriku karena Ayahmu tahu kau akan melarikan diri suatu saat nanti!” Pria itu mengambil untain tali dari tangan Alessa dan memutarkan tali itu ke pergelangan tangannya hingga membentuk sebuah gelang. “Kau dipekerjakan Ayahku sebagai penguntit?” Alessa segera menarik tudungnya dan menaikkan masker menutupi mulutnya.

 

“Ah tidak. Tidak. Maksudku … aku bukan putri Tuan Cho. Kau salah sangka! Jadi berhenti mengikutiku. Aku bukan Alessa!” Alessa tertangkap basah, otaknya sudah terngiang sayuran dan tanpa pelayan yang membuatnya mual. Ia pikir dalam beberapa detik mungkin Alessa akan diseret namun pria itu hanya terdiam. Lalu tiba-tiba pria itu menunduk dan berjongkok, seperti memberikan sebuah penghormatan.

 

“Perkenalkan saya Do Kyungsoo. Suatu kehormatan bisa menemani perjalanan anda malam ini!” Pria itu menaikkan wajahnya lalu tersenyum, menampakkan bibir merahnya yang begitu tampan. Alessa kelabakan karena jujur saja ia tidak pernah mendapatkan hal semanis itu.

 

“Ya, ya!” Coba Alessa acuh sembari membiarkan Kyungsoo yang masih berjongkok. Namun pria itu tak bergerak. “Apa kau harus menunggu perintahku supaya kau berdiri? Ayolah, kau bukan robot!” Omel Alessa yang tidak sabar. Kyungsoo mengerti dan berdiri. Mungkin ini kesempatan Alessa untuk bersenang-senang. “Namamu Kyungsoo? Itu nama dari Ayahku?” Mereka berjalan beriringan layaknya dua manusia yang sedang menikmati malam natal. “Tidak juga!”

 

Alessa masih ingin mengetahui banyak hal. “Lalu bagaimana kau menjadi manusia kuda? Ah maksudku wujudmu itu?” Ucap Alessa ragu. Bisa-bisa ia ditendang karena mengucapkan pertanyaan aneh. Tapi tidak masalah kan, akan lebih baik jika ia mengenal kuda tampannya ini lebih jauhkan?

 

“Aku boleh jujur. Berjanjilah untuk tak memukulku!” Ucap Kyungsoo sembari memberikan jari kelingkingnya. Namun Alessa menatap Kyungsoo aneh. “Apa kuda juga membuat perjanjian dengan cara seperti ini? Sungguh tidak kreatif meniru cara manusia”. Ucap Alessa sewot. “Jadi katakan!” Tapi tetap saja Alesa penasaran.

 

“Kau menyebut mereka dengan orang-orang bermantera. Dan aku tahu kau tidak boleh dekat dengan orang seperti kami. Ayahmu benar, terkadang orang seperti itu sedikit berbahaya jika mereka tidak bisa mengendalikan kekuatan mereka dengan baik”. Alessa berhenti saat Kyungsoo mengatakan itu semua.

 

Ya! Darimana kau tahu tentang masalah kami? Lalu kau menipu Ayahku? Apa maksud dengan menemani perjalanan denganku?” Pertanyaan Alessa yang terkesan polos berhasil membuat Kyungsoo terbahak. “Jujur sajalah, kau pasti suka Ayahmu ditipu seperti ini. Bukankah kau ingin menghirup udara segar di luar?” Kyungsoo menunjuk langit-langit yang masih turun salju tipis.

 

“Benar juga, tapi kan …” Alessa ragu. “Jangan-jangan kau ingin menculikku?” Alessa merapatkan jaket mantelnya, membuat pria di sisinya kelabakan. “Hei, bukan. Kenapa aku melakukan hal itu?” Kyungsoo menganyunkan tangannya tak terima dengan tuduhan Alessa. “Mana ada orang licik berkata jujur!” Teriak Alessa ketakutan.

 

Sebenarnya Alessa jago bela diri, tapi beda lagi jika ia berhadapan secara langsung. Rasanya percuma saja ia belajar judo. “Jangan mendekat!” Teriak Alessa. Kyungsoo hanya menghela nafas dan menggaruk rambutnya tak gatal. “A … aku punya serbuk emas. Dan aku bisa saja mengubahmu menjadi cairan es. Ketika kau akan berubah menjadi cairan es, aku akan menginjak-injaknya. Apa kau tidak lihat boots ku ini?”

 

Alessa kembali memamerkan boots nya yang beralas lancip. Kyungsoo menepuk dahinya. “Kau tadi bilang padaku sedang mencari serbuk emas. Mana ada kau akan mengubahku?” Kyungsoo hanya menggeleng-geleng. “Ayo kita berjalan-jalan. Belum tengah malam sebelum Ayahmu mencarimu!” Tangan kiri Kyungsoo menengedah, bermaksud menggandeng tangan Alessa.

 

“Tidak. Jangan berpikir untuk menyentuhku.” Alessa berjalan cepat dan pada akhirnya berlari. Kyungsoo kembali menarik napas. “Ya Tuhan!” Kyungsoo mengusap kalung peraknya lalu berubah menjadi seekor kuda lagi. Mengejar Alessa berlari sembari terus berteriak protes. “KENAPA KAU BERUBAH MENJADI KUDA? BERHENTI MELAKUKAN ITU!”

 

 

***

 

 

Setelah beberapa menit meyakinkan Alessa pada akhirnya Alessa sedikit luluh. Setelah membeli beberapa pakaian hangat untuk Kyungsoo, sepasang sarung tangan dam menikmati kue hangat dan cokelat panas. Alessa rasa ia seperti kembali merasakan indahnya natal bersama sang mendiang Ibu.

 

Ia bersyukur bisa menikmati ini semua walaupun masih ada yang kurang dalam hidupnya. “Menyenangkan bukan?” Kyungsoo melepaskan kedua tangan Alessa yang masih sibuk menjaga keseimbangan di atas es beku. “Sebentar. Jangan lepaskan dulu!” Kedua tangan Alessa melentang, mencoba menjaga keseimbangan. “Kau bisa melakukannya!” Pria itu menepuk memberi semangat.

 

“Coba kau tarik kakimu kebelakang. Lakukan seperti di TV!” Teriak Kyungsoo. Ahh pria itu, pria baru kenal tapi sok mengenal Alessa. Gadis itu menghela nafas namun tetap saja ia tak bisa. “Aku menyerah! Bawa aku kepinggir! Aku lelah!” Ucap Alessa tidak sabar. Kyungsoo menarik lengan Alessa dan gadis itu pergi duduk di kursi sana.

 

“Apa tidak menyenangkan?” Kyungsoo ikut duduk di sisi Alessa. “Sungguh menyenangkan. Aku lama tidak merasakan seperti ini. Sampai saat ini aku tidak mengerti dengan semua pemikiran Ayahku. Setelah Ibuku meninggal, aku dilarang untuk keluar tanpa pengawasan pengawal. Entah kau makhluk atau manusia yang pintar mantera, aku sangat bersyukur bisa mengenalmu!”

 

“Mungkin kau jimat yang sengaja diberikan Ayahku untuk menghiburku. Mungkin Ayahku merasa bersalah dan memberikan ku seekor kuda. Dan itu kau. Itu yang dipikirkan Ayahku, kan?” Ucap Alessa meminta konfirmasi Kyungsoo.

 

“Hmm, bagaimana ya?” Kyungsoo tak bisa menjawab. Itu hanya sebuah kebetulan. Karena Kyungsoo hanya iseng. Jika Kyungsoo menjawab iseng bukankah ia malah mendapatkan sebuah tamparan keras? “Intinya semua orang tua pasti menyayangi anaknya, kan? Itu pasti juga Ayahmu! Jadi sudahlah. Kau tidak perlu berpikir jauh. Percayalah pada Ayahmu dan cintailah dia. Dia bermaksud pasti ada alasannya”. Kata Kyungsoo panjang lebar.

 

“Benarkah?” Alessa tersenyum. “Lalu, karena kau tahu tentang dunia luar ini, aku ingin mendengar sebuah cerita tentang salju pertama yang bisa mengabulkan sebuah permohonan!” Tanya Alessa tanpa ekspresi. “Jika itu benar, bisakah aku membuat Ibuku terlihat di depan mataku semenit saja?”

 

“Itu konyol. Manusia tidak bisa melakukan itu melebihi Tuhan. Jangan percaya hal seperti itu. Dan jangan menangis”. Kyungsoo menatap Alessa yang sudah mulai berkaca-kaca. “Kau bisa membuat Ibumu sedih di sana. Hapus airmatamu!” Pinta Kyungsoo. Tapi Alessa tetap diam.

 

Tak sabar, Kyungsoo menyeka air mata Alessa. Gadis itu menatap Kyungsoo diam. Sentuhan pria itu begitu hangat dan nyaman. “Maaf”. Tahu jika Kyungsoo melakukan hal gila baru saja. Mereka terdiam satu sama lain. Kyungsoo rasa ia membuat satu kesalahan. “Bagaimana kalau jalan-jalan naik kuda? Aku akan berubah jadi kuda dan kau bisa memintaku berlari kesana kemari. Aku akan melakukannya”.

 

Alessa masih terdiam. “Lalu bagaimana tentang ciuman pertama?” Kyungsoo hanpir saja tersedak dengan ludahnya sendiri. Kyungsoo tak habis pikir, sedari tadi pertanyaan Alessa memang tak masuk akal. Dan pertanyaan kali ini membuat Kyungsoo ingin minta ampun.

 

“Ibuku pernah bilang jika sepasang kekasih berciuman di saat salju turun akan menjadi pasangan paling bahagia di dunia!” Kata Alessa. Alis Kyungsoo saling bertautan, kedua kakinta bergerak tak karuan. ‘Lalu apa maksud pertanyaanmu?’ Batin Kyungsoo.

 

“Kau itu sungguh polos atau bodoh?” Teriak Kyungsoo sembari berdiri dari duduknya. “Kenapa kau marah?” Protes Alessa. Sepertinya mood Alessa kembali stabil. “Kau berpikiran jika aku akan memintamu berciuman denganku? Kau gila?” Teriak Alessa tak mau kalah.

 

“Pertanyaanmu sedari tadi aneh. Tentu saja aku berpikiran seperti itu! Lalu apa ciuman-ciuman itu tadi? Bertanyalah realistis!” Kyungsoo sewot. Kedua telinganya memerah tiba-tiba. “Lalu kenapa kedua telingamu memerah? Apa harapanmu tidak kesampaian? Kau benar-benar ingin menciumku? Baiklah. Ini!”

 

Bibir Alessa mengerucut tanpa sungkan. “Apa ini?” Pipi Kyungsoo memerah dan melangkahkan kakinya lebar meninggalkan Alessa yang sudah mengada-ngada. “Karena kau sudah menemaniku, tentu saja aku akan memberikan keinginan dalam pikiran dari otak mesummu itu!” Ledek Alessa.

 

“Siapa yang mesum? Siapa yang mulai? Aku atau kau? Pertanyaan itu sudah mengada-ada.” Protes Kyungsoo menjauh. Alessa mengambil segenggam salju dan membuat bola lalu melemparkan ke punggung Kyungsoo. “Lihat, siapa yang polos disini!” Goda Alessa bertubi-tubi. “Mana aku tahu!” Ucap Kyungsoo berlari menjauh.

 

“Kemana kau? Sini cium aku!” Tawa Alessa riang sembari mengejar Kyungsoo seolah sedikitpun tak ingin di sentuh. Pikir Alessa, ini adalah natal terbaiknya. Tanpa Ibu, tanpa Ayah yang di sisinya. Setidaknya ada orang baru yang menengadahkan tangannya, menerimanya dan mau menemaninya kapan saja. Orang aneh dengan perkenalan yang aneh. Dia adalah Do Kyungsoo, orang aneh yang ia sebut sebagai cinta pertamanya.

 

 

-FIN-

 

 

Selamat debut teruntuk OC nya Tata aka truwita. Kamu minta genre fantasy / adventure. Aku gak tahu ini sudah fantasy atau bukan. Beneran aku paling payah kalo fantasy lo :’’’) Hikseeu~

Aku gak tahu ini bagus apa gak Ta. Dan maaf kalo postnya terlambat. Seharusnya mo tak jadwal jam 8 malam tapi karena aku sibuk yah begitu deh^^ Semoga kamu suka Ta. Dan ucapkan selamat debut buat OC Alessa Kim. /prok-prok/ yeah~

7 thoughts on “[Oneshoot] Christmas With Alessa | by L.Kyo

  1. AWAWAWAAAAAAW KAKIREN MAAP BARU BACA. TELAT BANGET YAA HUHU
    ini bagusssss kaaaak. Kusukaaaak makasihhhh,
    Sini tak ketjup bazah dulu kak, kyungsunya /gak
    Ga ada yg lebih bangzat dari papih emang yaa,
    Unch banget deh. Al jadi unyu2 mesum gitu. Wkwkwk
    Lanjut dong kaaak lanjut, itu belum ketauan mereka sama papih. /dibalang/
    Terus nanti yaa padahal kyung tadinya mau ngecengin papih bukan Al. /imajinasi apaini/abaikan
    Sekali lagi makasih banyak kaaaak!
    Kapan2 debutin oc ku di ffmu yg lain kak. Hihiw /gaktaudiri/dibuangjilid2/

  2. ‘sini cium aku’ NGAKAK, INI AL COCOK BANGET/dibalang
    ngekek juga di bagian papih Cho yang so posesip gitu tapi sendirinya tebar pesona, bah :’v

    aku suka fantasinya kakiren, bagus benda2nya wkwk kan ucul gituuuu… sempet kepikiran tinkerbell juga waktu bahas bubuk emas wkwk tapi ternyata manusia haha DAN aku serius gak nyangka ternyata kuda itu kyungsu OH GITU KYUNG, SEKARANG PEKERJAANMU BERALIH JADI KUDA/nid?/

    wiiih, kukira bakal ada momen ketahuan sama papih wkwk tapi untung gak ada, jadi merak bisa kencan kejar-kejaran sama main salju dengan tenang waks xD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s