[ONESHOT] Christmas With Taemi -by AYUSHAFIRAA

christmas-taemi

“Kau pikir aku akan baik-baik saja tanpamu?”

.

.

.

Christmas with Taemi

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

also a christmas gift for ARRYLEA sunbaenim(?)^^

`Starring ARRYLEA OC’s Kim Taemi & Wu Yifan as Kris Wu.`

|| Fantasy, Romance, Sad ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Wattpad ― Kakaostory

♫♫ Recommended Song : EXO – Miracles in December (Repeat mode) ♫♫

[Desember, Tahun 2056]

Ruangan putih yang diterangi cahaya lampu terang benderang telah menjadi tempat bagi wanita berumur 59 tahun itu menghabiskan waktu di ujung senjanya. Di samping kiri kanan ranjang pesakitannya dilengkapi berbagai alat medis, karena sewaktu-waktu ia pasti membutuhkan alat-alat itu untuk bertahan hidup.

Nenek Kim, begitulah ia akrab dipanggil oleh para dokter serta perawat yang merawatnya. Setiap hari, Nenek Kim selalu menghabiskan waktunya dengan membuat burung origami. Karena katanya, jika kalian bisa membuat 1000 burung origami, harapan kalian akan dikabulkan, dan Nenek Kim percaya itu.

“Memangnya apa yang akan Nenek minta jika Nenek berhasil membuat 1000 burung origami?” tanya seorang perawat cantik yang ramah.

Tangan penuh kerut itu masih sibuk membuat origami ke-1000. Di sela pekerjaannya, Nenek Kim tersenyum pada si perawat.

“Aku ingin kembali ke tahun 2016, tahun di mana aku bertemu sekaligus kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku. Aku ingin mengulang semuanya. Aku ingin kembali bersama orang itu meski sekejap saja.” ucap Nenek Kim dengan mata berkaca-kaca.

“Maafkan aku, Nenek. Mungkin aku seharusnya tidak bertanya. Maaf karena telah membuatmu sedih.”

“Tidak apa-apa, Suster. Kau tidak usah merasa bersalah. Toh, aku tidak pernah merasa baik-baik saja sejak hari dia meninggalkanku.” Airmata Nenek Kim tumpah, menetes tepat ke burung origaminya yang ke-1000.

“Suster, aku lelah. Aku ingin istirahat dulu.”

“Ah, baiklah.” Perawat cantik itu membantu Nenek Kim untuk merebahkan dirinya di atas ranjang. “Selamat istirahat, Nenek.” Ucap perawat itu sesaat setelah dirinya menyelimuti tubuh ringkih dan tua Nenek Kim.

Nenek Kim perlahan memejamkan kedua matanya, terlelap saking lelahnya. Jarum jam di dinding yang semula berputar teratur seketika terhenti untuk sesaat. Waktu berhenti saat itu juga, sebelum akhirnya  waktu berjalan mundur dengan tempo cepat, membawa Nenek Kim kembali ke masa mudanya.

TRAK!

Jarum jam itu patah.

[Desember, Tahun 2016]

Nenek Kim menyadari dirinya kini tengah berdiri di tempat yang tak asing. Suara ribut siswa-siswi yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing di jam istirahat ini membuat Nenek Kim tersentak. Tangan penuh kerutannya kini tak ada lagi. Ia menepuk-nepuk wajahnya, kulitnya yang kendor kini kembali kencang.

“Apa ini mimpi?” tanyanya pada dirinya sendiri.

“Yak! Kim Taemi! Jadi sedaritadi kau tak mendengarkan aku bicara, eoh?!”

Nenek Kim berpaling ke samping kirinya, seorang siswa berambut coklat bergaya spike yang duduk tepat di sampingnya itu tampak memandangnya kesal.

“Kris?”

Siswa itu tampak mengerutkan keningnya, “Iya, Aku masih Kris kok. Kau ini kenapa sih? Aneh sekali.”

“Tahun berapa sekarang?”

“Huh? Kau pasti sakit ya?” tangan Kris bergerak menyentuh kening Nenek Kim namun Nenek Kim menepisnya.

“Jawab saja pertanyaanku!”

“Tahun 2016, Dasar Taemi bodoh! Kenapa? Apa kau baru kembali dari menjelajah masa depan eoh?”

Ya, benar. Lelaki itu adalah Kris Wu, dan dirinya adalah Kim Taemi. Permohonannya terkabul. Ia kembali menjadi anak SMA berusia 19 tahun, bukan lagi seorang nenek 59 tahun yang sakit-sakitan. Ia kembali ke tahun 2016, tahun di mana… Kris masih ada di sampingnya.

Taemi menarik nafas dalam-dalam,  semangat dalam dirinya mampu bangkit begitu saja. “Jadi, apa yang mau kau katakan? Maaf aku tadi tak mendengarnya.”

“Tahun 2016?”

“Bukan! Yang sebelumnya!”

“Aku masih Kris?”

“Aish!” Taemi hendak memukul kepala Kris keras-keras, tapi bahkan sebelum Taemi mendaratkan pukulannya, Kris sudah ketakutan lebih dulu.

“Kenapa Kris-ku ini ‘pintar’ sekali ya? sampai-sampai, aku ingin sekali memukul kepalanya.” Ucap gadis itu dengan sedikit bumbu ironi dan tawa garing yang dipaksakan.

Kris nyengir kuda, cahaya matahari yang saat itu bersinar terang memantul ke gigi putihnya. “Sebenarnya, aku ingin sekali mengajakmu kencan di malam natal nanti. Tapi…”

“Tapi? Tapi apa?”

“Orang tuaku ingin aku ikut ke Kanada saja, sekalian bersiap merayakan tahun baru di sana.”

“Ah,” Taemi mengangguk, ada sedikit rasa kecewa yang membuat tenggorokannya tercekat. “Kalau begitu pergilah, aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin tidak apa-apa?”

Di balik ‘tidak apa-apa’ pasti ada apa-apa. Tidakkah kau mengerti, Kris?

Taemi tersenyum, memaksakan diri. “Aku tidak apa-apa kok!”

“Lagipula, aku kan masih punya lelaki lain!” lanjut Taemi diakhiri dengan menjulurkan lidahnya, mengolok-olok Kris. Ia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan kekasihnya yang masih menganga itu begitu saja.

“Yak! Aish! Kim Taemi! Yak! Kau mau selingkuh dariku eoh?!” teriak Kris. Bahkan setelah Taemi berjalan sedikit jauh pun, suara lelaki itu masih terdengar. Diam-diam, Taemi tertawa kecil.

.

.

.

Lelaki lain apanya? Selingkuh apanya? Nyatanya gadis bernama Kim Taemi itu terlihat berjalan sendirian saja di malam natal tahun ini. Salju yang turun, lampu jalanan yang terang, mantel dan syal merah tebal yang membungkus tubuh kurusnya… huf! Malam natalnya istimewa sekali.

“Tidak apa-apa, Kim Taemi! Kau bisa membuat boneka salju dan menyihirnya untuk hidup seperti Elsa yang menghidupkan Olaf!”

“Eoh?” Jalanan yang dilaluinya seketika berubah menjadi gelap. Tidak! Bukan jalanannya! Semuanya gelap!

“Aku buta? Eoh? yang benar saja! tidak! Aku tidak ingin buta!”

Orang-orang di sekitarnya kemudian memandang Taemi dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak? Mata Taemi ditutup dengan tangan kekasihnya sendiri tapi gadis itu malah berteriak bahwa dirinya buta? ‘Gadis itu pasti gila’ pikir orang-orang yang lewat.

“Yak!” lelaki di belakang Taemi langsung menoyor kepala gadis itu untuk menyadarkannya dari khayalan lebaynya.

“Kau tidak buta! Ini aku, Kris!”

“Ah? Aku tidak buta ya?” gadis itu tersenyum sendiri menyadari tingkah bodohnya tadi. Kok bisa-bisanya ia tidak merasa tangan Kris menutupi matanya ya? Hahah, sudahlah!

Eh? Tunggu!

“Kris? Bukannya malam ini seharusnya kau pergi ke Kanada?” tanya Taemi yang benar-benar bingung kenapa Kris malah ada di sini bersamanya.

Kris manyun, “Apa saat ini kau sedang mengusirku?”

“Bukan begitu!” Taemi meremas mantel biru dongker Kris, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kau bilang tidak akan bisa menemani malam natalku. Kau bilang akan pergi ke Kanada. Jadi aku pikir kau benar-benar akan pergi. Aku pikir, aku benar-benar akan sendirian malam ini. Membayangkannya saja sudah membuatku sedih tahu!”

Kris menarik tubuh Taemi ke pelukannya, gadisnya itu menggemaskan sekali jika sudah seperti ini. Kris mengelus lembut rambut panjang gadis itu, mengecup puncak kepalanya sekilas.

“Kau sepertinya lebih senang ada dalam pelukanku ya daripada pergi bermain ice skating atau setidaknya pergi ke festival natal? Atau nonton film, mungkin?”

“Cih, bilang saja kau ini mau mengajakku melakukan semua itu! Begitu saja kok repot!” balas Taemi sembari mencubit hidung mancung Kris.

“Baiklah-baiklah!” Kris berdeham sebentar, lalu berlutut di depan Taemi.

“Nona Kim Taemi, maukah kau ikut aku menghabiskan malam natal kita?”

Taemi menahan tawanya, “Aku bersumpah kalau tadi aku mengira aku akan dilamar! Tapi nyatanya tidak!”

“Astaga! Kita masih SMA!” ucap Kris mengingatkan, namun akhirnya ia tertawa juga membayangkan hal yang sama.

.

.

.

“Jadi apa yang membuatmu tidak jadi berangkat ke Kanada, hm?” tanya Taemi pada Kris yang sedang mengelus kepalanya penuh kasih sayang. Saat ini, mereka sedang berada di taman kota. Kris duduk di bangku taman dan Taemi merebahkan tubuh di bangku taman yang sama dengan mengandalkan paha Kris sebagai bantalan kepalanya. Mungkin salju sudah berhenti turun, tapi dinginnya masih membekas.

“Tentu saja alasanku yang paling mendasar adalah dirimu, Taemi.”

“Benarkah? Masa hanya karena aku?” gadis itu terlihat tak percaya.

Kris menundukkan kepalanya, menghalangi pemandangan langit yang sebelumnya dilihat Taemi. “Kau mau bukti apa?”

“Kau tetap di sampingku sampai pagi tiba! Tidak ada bermain ponsel, tidak ada waktu untuk orang lain! Cukup untukku saja malam ini! titik!” pinta Taemi dengan penekanan di akhir.

“Baiklah! Aku mengerti, Nona Kim!”

“Bukan Nona Kim!” Taemi bangkit dari posisi tidurnya, menangkup kedua pipi putih Kris yang sedikit terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

“Lalu apa? Margamu kan Kim!”

“Nyonya Wu! Malam ini aku akan menjadi Nyonya Wu!” Chu!~ gadis itu menempelkan bibirnya di bibir Kris tanpa memberi aba-aba akan mencium sama sekali. Tapi lama kelamaan, bibir yang semula hanya menempel pun mulai saling bertaut satu sama lain seiring ciuman mereka yang semakin dalam.

“Itu bukan ciuman pertama kita, tapi kenapa rasanya tetap sama?” Kris bingung sekali sementara Taemi terkekeh mendengar pertanyaannya. Memang sama, sama mendebarkannya, sama berbunga-bunganya.

“Haruskah kita menikah cepat, Kris? Entah kenapa rasanya aku tak sabaran sekali ingin menjadi Nyonya Wu.” Ucap Taemi tanpa basa-basi.

“Sekarang saja bagaimana?”

Taemi tersedak, “Sekarang?”

.

.

.

Di sebuah gereja kecil jauh dari Seoul, setelah mengucap janji suci di depan seorang pendeta yang mereka culik dari gereja besar yang sedang sibuk-sibuknya mengurusi misa, Kris memakaikan flower crown yang baru ia beli di penjual pinggir jalan itu ke kepala Taemi. Unch! Romantis sekali!

“Semoga Tuhan selalu memberkati pernikahan kalian!”

Pernikahan ini seperti main-main, tapi ini sungguh pernikahan! Taemi dan Kris sudah menikah sekarang! Ya, meskipun pernikahan mereka sangat sangat sangat sangat sederhana dan mendadak, mereka tetap bahagia.

“Terimakasih banyak, Pak Pendeta. Kami tidak akan pernah melupakan jasa Pak Pendeta yang sudah menikahkan kami!” ucap Kris berterimakasih.

“Dan juga… maaf karena kami sempat menculikmu dan membawamu ke sini.” kini giliran Taemi yang berbicara, kikuk.

Pendeta itu tersenyum ramah, “Tidak apa-apa. Lagipula siapa yang bisa menghalangi dua insan yang ingin meresmikan hubungan di hadapan Tuhan?”

“Ya ampun, ingin rasanya aku menciummu, Pak Pendeta!” Kris menepuk-nepuk bibirnya sendiri.

“Aku banyak urusan! Sekian dan terimakasih!”

.

.

.

Tik! Tok! Tik! Tok!

Pukul 2.00 pagi. Masih di malam natal, pasangan muda itu belum juga terlelap. Mereka sibuk membayangkan masa depan mereka setelah hari ini. Mereka akan punya anak berapa? Apa mereka akan selalu bahagia? Apa tidak akan ada pertengkaran luar biasa yang berusaha memisahkan mereka? Ya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu saling mereka lontarkan dan mereka jawab sebisanya, diawali dengan kata ‘mungkin’.

‘Mungkin, 12 anak?’

‘Mungkin saja, memangnya sesulit itu untuk selalu bahagia?’

‘Mungkin ada, tapi aku harap kita akan berbaikan lagi setelahnya.’

“Bagaimana jika umurku tidak panjang, Taemi? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menikah lagi?”

DEG!

Pertanyaan Kris seketika menyadarkan Taemi, mengundang kembali ingatan-ingatan buruk Taemi tentang Kris yang akan pergi meninggalkannya esok hari, tentangnya yang tidak pernah bisa bangkit lagi dari keterpurukannya setelah hari itu. Semua luka 40 tahun yang lalu, terlintas begitu saja.

“Jangan.”

“Jangan apa?” tanya Kris.

“Jangan pernah tinggalkan aku, sekalipun kau mendapat berita penting besok.” Ujar Taemi menahan airmatanya.

“Kau ini bicara apa sih?”

“KAU PIKIR AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA TANPAMU?!” airmata Taemi akhirnya jatuh juga. “KALAU KAU TETAP PERGI, AKU TIDAK AKAN PERNAH MERASA BAIK-BAIK SAJA SEUMUR HIDUPKU!”

Kris tak mengerti dengan Taemi yang tiba-tiba menjadi emosional sekali, padahal awal mereka berandai-andai, Taemi masih baik-baik saja.

“Bagaimana kalau aku benar-benar harus pergi?”

Taemi terdiam tanpa suara untuk beberapa saat, sementara bulir airmatanya terus membasahi pipi.

“Kalau begitu pergilah.” Jawab Taemi akhirnya.

“PERGILAH! AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA! AKU AKAN HIDUP BAHAGIA! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGINGATMU LAGI! PERGI! PERGILAH SESUKA HATIMU!”

Jangan pergi… aku tidak akan baik-baik saja… aku tidak akan hidup bahagia… aku akan selalu mengingatmu… jangan pergi… jangan….

Di balik setiap perkataan wanita yang sedang emosi, pasti terkandung makna sebaliknya. Kris tahu itu.

“Maafkan aku, Sayang.” Kris mendekap tubuh gemetar Taemi erat.

Dalam dekapan Kris, Taemi tak kuasa menitikkan airmatanya. Aroma tubuh Kris, kehangatannya, bau parfum mengesankan yang selama ini dipakainya, bagaimana mungkin Taemi bisa melupakan semua itu bahkan setelah 40 tahun?

“Jangan pernah tinggalkan aku…” pinta Taemi berlinangan airmata.

“Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.”

.

.

.

Drrrt… drrttt…

Suara getar ponsel itu mengusik mimpi indah Kris. Kris perlahan melepaskan pelukan Taemi yang masih terlelap di sampingnya dan meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas laci.

“Halo?”

“….”

“A-apa?! Lalu Ayah dirawat di mana sekarang?”

“….”

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”

Jangan pernah tinggalkan aku, sekalipun kau mendapat berita penting besok.

Kris memandangi malaikat tak bersayap yang masih memejamkan matanya. Lelaki itu enggan untuk membangunkan Taemi karena wajahnya yang menyiratkan rasa lelah. Tangan Kris bergerak membelai rambut Taemi penuh kasih sayang.

Aku pergi dulu sebentar ya, Sayang. Sebentar saja kok! Aku akan segera kembali. –Kris’ tulis lelaki itu di secarik kertas kecil yang ia taruh di atas ponsel Taemi.

“Emmhhh!~” Taemi meregangkan tubuhnya, meraba-raba kasur di mana Kris berbaring di sampingnya semalaman.

“Kris? Kau di mana?” tanya Taemi sambil berusaha mengumpulkan nyawanya. Gadis itu mengucek kedua matanya, melihat ke arah jam dinding yang ada di penginapan yang mereka sewa.

DEG!

Kejadian ini…

Jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30 pagi, dirinya yang hanya seorang diri di kamar itu, dan…

Drrrttt…. drrrrtttt…. drrrt… drrrrtttt…

Catatan kecil di atas ponselnya yang bergetar karena sebuah panggilan.

“Halo?”

“…..”

Srash~

Aku pergi dulu sebentar ya, Sayang. Sebentar saja kok! Aku akan segera kembali. –Kris

Nyatanya… Kris tak pernah kembali lagi.

Taemi terdiam dengan wajah pucat pasinya di kamar mayat sebuah rumah sakit yang tak jauh dari penginapan. Wajah Taemi hampir sama pucatnya dengan wajah tak berekspresi Kris. Lelaki itu terbujur kaku di hadapannya, terdiam tanpa ada niatan menenangkannya dalam sebuah pelukan.

Luka tak berdarah ini kembali membuat Taemi ingin mati. Ia salah dalam membuat permohonan. Ia tak seharusnya memohon untuk kembali ke tahun Kris meninggalkannya. Karena nyatanya, ia tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, ia tidak akan pernah bisa mengubah takdir. Kris tetap pergi meninggalkan Taemi dan mengalami kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan nyawanya.

Keajaiban itu… tidak pernah ada untuk Kim Taemi.

.

.

.

[Kembali ke Desember, Tahun 2056]

Hari natal akhirnya datang juga. Ruang rawat Taemi yang biasanya sepi kini terlihat ramai. Bukan karena banyaknya anak-anak kecil yang menanti diberi kado natal, melainkan karena banyaknya anggota tim medis yang berusaha menangani kondisi Kim Taemi yang tiba-tiba memburuk.

Segala alat dan tenaga medis telah dikerahkan semaksimal mungkin hingga detak jantung Taemi kembali normal. Tak lama, Taemi terbangun dari kondisi buruknya, memutar bola mata untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ramai sekali.

“Kris?” gumam Taemi pelan, tak ada seorang pun yang mendengarnya.

“Eoh?! Nenek?! Nenek Kim sudah sadar?!” perawat cantik yang melihat Taemi membuka matanya pun berbinar bahagia.

Taemi memberi isyarat pada perawat cantik itu untuk mendekat. Taemi berbisik dengan lemah, menyuruh orang-orang yang ada di ruangan itu untuk meninggalkannya seorang diri. Lebih tepatnya, Taemi memohon.

Saat orang-orang di ruangan itu menuruti keinginan Taemi untuk meninggalkannya seorang diri, Taemi tersenyum dengan airmata berlinang. Kris ada di ruangan itu, masih dengan ketampanan yang sama seperti 40 tahun yang lalu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kris, lelaki itu mendekat menghampiri Taemi yang terbaring lemah di ranjang pesakitannya.

Rasa rindu, kesal, marah, dan cinta, semuanya bercampur aduk menjadi satu dalam dada Taemi. Menyesakkan.

“Aku tidak pernah baik-baik saja, lelaki jahat.”

Tangan Kris membelai lembut rambut beruban Taemi,

“Apa aku datang terlambat?”

“Ya… kau sangat… sangat terlambat, Kris.”

Kris ikut berbaring di samping Taemi, memeluk wanita tua itu dengan begitu erat. Taemi juga membalas pelukan Kris, tak kalah eratnya, mencoba menyalurkan rindu yang telah tertahan puluhan tahun lamanya.

“Dasar brengsek! Kenapa kau baru datang menjemputku sekarang?” Taemi memukul-mukul dada Kris. Kris harus tahu betapa tersiksanya Taemi hidup berpuluh-puluh tahun dengan rasa menyesal dan rasa benci akan diri sendiri.

“Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar minta maaf untuk semua airmatamu yang pernah jatuh.” Kris menyeka airmata di pipi Taemi.

“Kris… ayo kita menikah lagi dan punya 12 anak di surga…”

“Aku mencintaimu, Kris. Sampai kapanpun itu, kau akan tetap menjadi satu-satunya.”

.

.

.

Tidak akan ada lelaki lain lagi. Sungguh, Kris.

 

Tamat.

39 thoughts on “[ONESHOT] Christmas With Taemi -by AYUSHAFIRAA

  1. Ayu plis ane bukan sunbae-_- ngepost ff aja jarang wkwkw. /kemudian ditabok budir.
    Anyway, makasih :’v ane gatau harus mengapresiasikannya bagaimana :3 karena tbh ane baper sama Kris disini. Ayu ente berhasil bikin ane gagal move on sama Kriseu :””” ane kangen Kriseu :””””
    Ceritanya sukaakk banget!!!!! Ayu jjangjjang! Meskipun ane jadi nenek-nenek disini, baelah wkwkwkwk. Nggak mengecewakan pokonya suka!! Terimakasih hadiahnyaaaaa kucinta ayu❤❤❤
    Pokonya suka aja 😦 gabisa jelasin!! Huhuhu maaf yaa gabisa cuap banyak. Suka tak perlu banyak alasan, betul? Ehehehhe. /aku merasa berdosa karena gabisa ngomen sepanjang si nidul ngomen di ff yang ane.-. Gila si eta emang 😦 wkwkwkw.

    Btw makasih juga udah bikin happy end meski harus mewek-mewekan dan baper-baperan dulu:’v ane jadi ngebayangin gimana kalau ane beneran bisa turn back the time/? hahahaha. Ide yang luar biyasahhhhh!

    CINTA AYU!!!😘😘😘😘

    • Hihi gapapa kak xD sunbae itukan yg penting punya ilmu lebih dari diri ini hehe xD iyaaa kak samasama^^ makasih kalo emang suka kikikik 😀 maapkeun yaa kak, ayu teh langsung nulis aja kek gini gak mikir2 dulu :’3 asalnya mau ngasih fluff tapi apa daya diri ini baperan dan akhirnya nyerempet ke sad 😦 itu juga karakter taemi gak tau sama gak tau malah jauh beda huhuhu 😦 bhaks, iya gapapa kak segitu juga udah panjang kok komennya hehe :v aku malah gak tau jadinya happy ending soalnya aku mewek aja menghayati(?) Kalo jadi nenek kim disitu gimana hohoho :’v yaampun kak idung ayu terbang kalo dipuji mulu :’3 iyaa kak makasih, CINTA JUGA!!! 😘😘😘😘

      • Tapi ilmu ane juga belum sebanyak itu kok Ayu hahaha.

        Ah gapapa sans saja. Ane kan udah bilang serah mo diapain dan si Kimmi asal no psycho ;v wkwk. Untung dibawa ke dunia perbaperan angling darma. Selamat jiwa raga Kimmi wkwk :3

      • Tapi kan jelas lebih banyak dari aku xD /keukeuh /plak tadinya taemi mo dibikin gila, tapi inget kata no psychology sedang tidak mud dengan genre itu bhakakak xD angling darma 😄

  2. AT FIRST KAK YU, ANE GAK NGEH ITU NENEK KIM TEH SI KIMI DAN ANE PEN NGEKEK PAS TAU SI KIMI BERWUJUD NENEK-NENEK DAN MO NGEKEK LAGI ADA NAMA ELSA MUNCUL WKWKWK

    Oh jadi ini yg kak yu tanyain tentang nikah di malem natal terus nyulik pendeta 😄 MASYA ALLAH, SI KRIS LANGSUNG GARCEP KAWIN MASSS MAO DONG COWOK KAYAK KRIS

    Tapi ya masa depan gak bisa diubah mau balik ke masa lalu juga, takdir Kris harus metong ya metong

    Tapi kak yu kok aku rasa ini kek plotnya diburu-buru ya? Tapi bagus kok, mereka berdua berakhir di surga akakaka jadi ini hepi ending menurut ane 😄

    Btw kak yu happy new year ya moah ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s