[Vignette] Christmas with Chellynne | truwita

14833033467871

Christmas with Chellynne
Author: truwita | Artworker: IRISH
Cast: Chellynne (Gxchoxpie’s OC), Kim Kai
Genre: Fantasy, Romance| Rating: PG-13 | Lenght: Vignette
Disclamer: This story is mine, pure my imagination. if there’s same of plot, character, etc… it’s pure accidentally. Don’t plagiarize or copy without my permission.

“Tak ada kisah bahagia untuk cinta yang bersemi dari dua dunia.”

Happy reading~

Musim dingin sudah dimulai. Semalam, salju pertama baru saja turun. Cuaca pagi ini minus, tapi cukup hangat. Butiran salju yang tersisa di ranting-ranting, di ujung genting dan sudut-sudut jalanan meneriakan kabar bahwa musim dingin sudah benar-benar tiba. Meski begitu, orang-orang sudah disibukan dengan berbagai kegiatan di balik pakaian super tebal. Matahari juga sudah memulai tugasnya, bersinar malu-malu.

Ah, indahnya. Gadis itu metutup mata, menengadah ke langit. Meresapi sapuan angin dingin pada wajahnya. ini adalah musim favoritnya, musim miliknya.

“Chellynne!”

“Ah, i-ibu.” Meski sudah cukup lama, kata “ibu” masih begitu janggal di lidah.

“Berapa kali kubilang? Jangan berdiam diri di balkon dengan pakaian seperti ini! Aigoo, coba lihat?” wanita paruh baya itu menangkup kedua pipinya. Ia tersenyum, mensyukuri rasa hangat dan nyaman yang menjalar ke seluruh permukaan wajah. “Kenapa aku punya anak-anak yang nakal? Sudah kukatakan, pakai mantelmu dan jangan bertelanjang kaki! aigoo…”

Baekhyun, kakak lelaki kedua di rumah itu berdiri di ambang pintu, mengikuti gerakan wanita yang mereka sebut ibu dengan sedikit gerakan tambahan yang berlebihan. Terlihat menggemaskan, ah, pria satu itu memang.

Saat si ibu berbalik, tamatlah sudah dirinya. “Ya! Apa yang barusan kau lakukan, Byun Baekhyun?!”

Lelaki itu menggeleng dan segera berlari sebelum si ibu berhasil memukul kepalanya. Chellynne tersenyum kecil.

Di hidupnya, si gadis terbiasa sendiri. Keadaan yang sekarang terjadi sedikit banyak membuatnya kikuk. Ia bisa melakukan banyak hal seorang diri. Tak perlu sebuah keluarga atau teman. Hidupnya sudah sempurna. Setidaknya, begitulah ia berpendapat tentang dirinya di masa lampau.

Sebelumnya, ia benci kehangatan dalam bentuk apapun. Sebagaimana kebanyakan manusia benci kedinginan. Tapi lihatlah sekarang, semuanya berbalik tiga ratus enam puluh derajat.

Manusia bilang, roda kehidupan akan terus berputar. Kehidupan akan terus berubah-ubah selagi waktu bergulir, banyak hal yang akan terjadi dan tak bisa diprediksi. Ia tak pernah berpikir roda miliknya juga akan ikut berputar. Takjub adalah hal pertama yang dirasakan. Mungkin, Tuhan sedang memberinya hadiah atas kepatuhannya selama ribuan tahun silam.

“Masuklah, kau bisa mati kedinginan.”

“Oh, Baekbeom-oppa!”

Secangkir cokelat panas yang disodorkan padanya diterima dengan suka cita. “Benarkah?”

“Hmm?”

“Manusia bisa mati jika kedinginan?”

“Kau mulai lagi,” Baekbeom menyeruput kopi dari cangkirnya. “Tentu saja. Kau bertanya seperti bocah.”

Oppa!” si gadis mencebik tak terima, tapi memutuskan untuk kembali bertanya. “Memangnya kenapa mereka bisa mati hanya karena kedinginan?”

“Oh? coba lihat, siapa yang bertanya?” Baekbeom menyipitkan mata, menilik gestur adik perempuannya. “Yah. Serius, berapa usiamu? Apa kau bayi?”

Chellynne menggeleng. “Aku Chellynne.”

“Astaga.” Baekbeom menyerah. “Tentu saja mereka bisa mati. Banyak hal yang bisa membuat manusia mati. Ah, tidak. Bukan manusia saja, tapi seluruh mahluk hidup di muka bumi ini. Salah satunya saat udara di sekitar mereka terlalu dingin. Kau pikir, kenapa populasi kehidupan di kutub sedikit sekali? Karena hanya segelintir makhluk hidup yang bisa bertahan dengan cuaca dingin.” Baekbeom meyeruput lagi kopinya. “Tapi telalu panas juga bukan hal yang bagus.”

“Lupakan.” Baekbeom menegakkan tubuhnya. “Kau bukannya ada wisata musim dingin dengan klub cheers?”

“Oh, ya.” Chell menghela napas. “Sebenarnya bukan wisata, tapi ada pelatihan untuk turnamen basket musim ini. Heran, kenapa mereka harus membawa anggota klubku juga.”

“Berapa hari?”

“Tiga hari dua malam.” Chell mencebik. “Tahun ini aku tak bisa melewatkan malam natal dengan kalian.”

“Eish, lihat bayi besar ini.”

***

“Pagi, Chell.” Kai menyapa dengan wajah dingin dan intonasi datarnya. Memang biasa seperti itu. Mungkin kalau bukan karena kakaknya Baekhyun, lelaki itu tak akan pernah berinisiatif untuk menyapanya lebih dulu. Ayolah, dia benci hal-hal seperti ini. Dulu, ia tak akan peduli pendapat orang lain, tapi sekarang berbeda. Manusia senang sekali berasumsi. Hal itu membuat banyak kesalahpahaman terjadi. Begitu juga yang dialaminya. Seluruh mahasiswa di kampus, mencurigai hubungan mereka.

“Oh. Pagi, sunbae.”

Kai menoleh dan tatapan mereka bertemu sesaat. Salah satu sudut bibir lelaki itu tertarik. ya Tuhan, kalau Chell tak salah lihat, Kai tersenyum?

“Rambutmu baru ya? Cantik.”

Eh? Chell menyentuh rambutnya yang dibuat agak ikal hari ini.

Dari semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya, yang paling sulit diatasi adalah reaksi semua sel yang ada di dalam tubuh mortalnya ketika berinteraksi dengan Kai. Semuanya seperti terbakar dan membawa perasaan aneh yang terasa asing. Menyakitkan, dan Chell tak suka perasaan itu. sebisa mungkin ia selalu menghindari kontak dengan Kai. Anehnya, kenapa tubuhnya bereaksi pada Kai saja?

“Chellynne! Sebelah sini!” teriakan Sora membuat Chell mengerjap dan kembali pada realita. Cepat-cepat gadis itu meletakan koper dan mengikuti langkah Kai yang sudah masuk ke dalam bis, lalu menghampiri temannya dengan kepala tertunduk. Pasti ada yang salah dengan tubuhku.

“Kau… baik-baik saja? Wajahmu merah sekali.”

***

Semuanya sudah bersiap dan melakukan pemanasan tak lama setelah tiba di tempat tujuan. Tak banyak yang bisa Chell lakukan. Ia bahkan terlalu malas untuk melakukan kegiatan pemanasan dengan yang lain. Berbeda dengan teman-temannya yang tampak semangat karena akan melewatkan malam natal dengan sekolompok cowok-cowok keren. Beberapa dari mereka yang berkencan dengan anggota klub basket, merasa mendapat jackpot. Tentu saja.

Sora menyikut lengan Chell. “Apa?” sora tak menjawab dengan kata-kata, ia menunjuk ke arah lapangan—tempat anak-anak basket melakukan simulasi pertandingan—menggunakan dagu. “Apa sih?”

“Wah, kau perlu periksa kejiwaan, Chell. Jangan-jangan kau…”

“Apa?”

“Lesbi?”

“Kau mau mati?”

“Chell, Chell!” Sora kembali menyikutnya, kali ini berulang-ulang tanpa menoleh, fokus melihat seseorang yang menjadi center di lapangan.

“Apa lagi?”

“Bukankah… Kai-sunbae melihat ke arah sini?”

Chell kembali menoleh ke arah lapangan. Benar saja, Kai sedang melihatnya, memerhatikannya. Tiba-tiba Chell merasa bingung harus bersikap seperti apa. Tatapan yang dilayangkan Kai membuatnya kehilangan kecerdasan selama beberapa saat.

Ketika sesi pelatihan selesai, hal mengejutkan terjadi. Kai menghampiri Chell yang tengah beristirahat di kursi tribun.

“Boleh aku duduk di sini?”

Chell tak langsung menjawab, bergeming sambil mengerjapkan mata.

“Kau tak pernah menggubris surat-suratku, sepertinya kau tipe gadis yang lebih menyukai tindakan langsung, ya.” Monolog Kai. “Kencanlah denganku malam natal nanti.” Tambahnya, lalu bangkit dan kembali bergabung dengan timnya.

***

“Apa? Apa yang tidak kuketahui, Chellynne?! Katakan, atau aku akan mencoretmu sebagai teman!”

“Bukan apa-apa.”

“Bohong!”

“Serius. Aku lelah, malam ini aku akan melewatkan makan malam. Kau, pergilah sendiri.”

Chellynne mengabaikan protesan sahabatnya, lekas masuk penginapan dan merebahkan tubuh. sayangnya, meski hampir satu jam berlalu sejak ia mencoba untuk melepas penat dengan tidur, ia tak pernah bisa memejamkan mata dengan tenang. Wajah Kai selalu muncul mengganggu.

“Uh!” Chell melempar bantal ke dinding. Meraih mantel dan mengenakannya asal sambil berjalan keluar. “Mungkin aku perlu udara segar.”

Gadis itu memutuskan duduk di sebuah kursi besi yang terletak di bawah pohon setelah berjalan-jalan mengitari taman vila. Suara jangkrik berderik dan suara daun kering yang bergesekan tertiup angin menjadi irama yang memenuhi telinga. Lama sekali, ia merenung. Beberapa hari yang lalu, Aprodhite—sang dewi cinta—menemuinya lewat mimpi. Memberi peringatan tentang pantangan untuk para dewi yang sedang berada di bumi.

Tak ada kisah bahagia untuk cinta yang bersemi dari dua dunia.

Begitu katanya.

“Sendiri?” suara bariton seseorang memecah lamunan Chell. “Susah tidur, ya?”

“Kim Kai sunbae-nim…” Chell menyentuh dadanya yang bergemuruh dan terasa panas. “A-apa yang—”

“Aku melihatmu berjalan sendiri, kupikir kau butuh teman.”

“Tidak!” spontan Chell menjawab setengah berteriak. Sesungguhnya, ia sama sekali tak bermaksud bersikap begitu, hanya saja sebuah kilasan dari potongan masa depan tiba-tiba muncul di depan matanya.

“A-aku—maaf.”

“Maaf, aku tidak—hanya saja…”

“Tak apa,” Kai tersenyum, “Maaf menganggu waktu sendirimu. Tapi ini sudah cukup larut, berbahaya jika kau masih berkeliaran seorang diri.”

Sun-sunbae.” Chell mencekal pergelangan tangan Kai, ketika lelaki itu hendak melangkah pergi. Tak lama, karena ia langsung melepasnya segera. “Maaf.”

“Ada apa?”

Chell terlihat ragu-ragu. Tapi ia harus mengatakannya sebelum terlambat. “Jangan menyukaiku. Jika sudah terlanjur, berhentilah.”

“Eh?” Kai nampak terkejut meski tak perlu waktu lama untuk kembali mengontrol air mukanya. “Kenapa memangnya? Kenapa aku harus?”

“Karena… karena…”

“Menyukai seseorang tidak sesederhana itu. Kita tak bisa menentukan kapan kita akan mulai menyukainya dan kapan kita akan berhenti menyukainya.”

“Jadi, jangan meminta sesuatu yang berada di luar kendaliku.”

***

Taman belakang villa.
Pukul 10 malam
.

Sebuah surat bersampul kuning itu Chell temukan di loker sepatunya. Tak ada keterangan lebih seperti nama pengirim dan tujuannya. Terlalu singkat dan padat, tapi Chell sudah bisa menebak siapa yang mengirimnya.

“Kenapa?”

“Bukan apa-apa.” Buru-buru Chell menyembunyikan surat itu.

***

Sore harinya selepas latihan, para anggota klub cheers merencanakan sebuah pesta natal kecil. Mereka sibuk sekali melakukan ini dan itu—membeli ini dan itu. mau tak mau Chellynnepun ikut bergabung mempersiapkan pesta mereka. Ia memutuskan untuk pergi membeli beberapa kembang api, cemilan tengah malam dan soft drink ditemani Sora.

Sora terlihat senang sekali, gadis itu menarik Chell ke sana-ke mari. Berbanding terbalik dengan Chell yang terlihat lesu sepanjang hari. Gadis itu menatap Sora yang tersenyum dan sesekali membisikan pujian saat menonton sirkus jalanan. Perasaan Chell mendadak tak enak. ia tak bisa melupakan kilasan yang semalam di lihatnya. Ia punya firasat sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat.

“Sora,” Chell menyentuh bahu si empunya.

“Hmm?”

“Kau tahu, senang bisa bertemu dan bersahabat denganmu.”

Sora mengerutkan kening, tampak bingung, namun matanya menyipit kemudian. “Kau… apa yang kau inginkan? Kau pasti mau meminta sesuatu kan?”

“Tidak, lupakan. Kita harus bergegas sebelum gelap.” Chell melenggang mendahului Sora, ia meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja dan normal. Semua yang dia khawatirkan, mungkin hanya kecemasan yang berlebih.

Saat turun di halte dekat villa tempat mereka menginap, Sora terus saja protes karena menurutnya, mereka kurang mengoptimalkan kesempatan. Seharusnya ia bisa jalan-jalan sedikit lebih lama, banyak hal menarik di pasar tadi yang belum pernah ia lihat di Seoul. tapi Chell berdalih, bahwa dia lelah dan ingin segera istirahat.

Secara kebetulan, mereka berpapasan dengan beberapa anggota tim basket yang baru saja menyelesaikan latihannya. Hal yang di luar dugaan kembali terjadi. Kai lekas menghampiri Chell saat eksistensi gadis itu berada dalam jarak pandangnya. Malah, dengan santainya merebut kantong belanja di tangan si gadis. Semua orang saling berbisik dan berasumsi.

“Permisi sunbae. Maaf, biar aku saja yang melakukannya.” Chell mencoba merebut kantong belanjaan dan menyenyajarkan langkah.

“Tak apa, biar kubantu.” Tanpa ragu, Kai masuk ke villa perempuan, meletakan belanjaan di atas meja dan menyapa ala kadarnya saat berpapasan dengan mahasiswi.

Hal itu menjadi hot topic mendadak, membuat Chell menjadi pusat perhatian. Ia tak begitu menyukainya. Maka, dia yang semula hendak mengabaikan semua kelakuan Kai, memutuskan untuk menemui lelaki itu sesuai keinginannya, sekaligus memperingatkannya tentang betapa merugikan apa yang telah dia perbuat.

***

Pesta sudah setengah jalan. Cuaca malam ini minus dua derajat. Di tengah cuaca seperti itu, seluruh anggota masih tampak semangat bernyanyi, menari, dan melakukan banyak hal—bersenang-senang. Kai yang duduk di ujung meja melirik arloji di tangan sambil bangkit meninggalkan kerumunan. Hal itu tak lupaut dari perhatian Chell. Malam ini pasti akan menjadi malam yang panjang. Setelah lima menit berpikir, Chell akhirnya bangkit dan membulatkan tekad.

Kai sudah menunggu, tepat seperti dugaannya.

“Kau datang.” Kai bergeser, memberikan ruang untuk gais itu duduk di sampingnya.

“Kau—”

“Aku tak bisa lama-lama, aku hanya ingin—”

“Ayo berkencan.” Kai berkata cepat dan jelas. “Berkencanlah denganku, Chell.”

“Tidak.” Chell menjawab setengah sadar. Meski sudah menduga hal itu, ia tak berpikir akan sebegitu gamblangnya Kai bicara.

“Kenapa? Beri aku alasan.”

“Aku hanya… tidak bisa.”

“Katakan saja dengan jelas alasanmu. Itu lebih baik. Atau setidaknya mari kita berkencan dulu, jika kau masih tak bisa menyukaiku setelah semuanya, aku tidak akan memaksa lagi.”

Belum sempat Chell kembali dari keterkejutan, Kai sudah menarik tangannya, memeluk tubuhnya, “Aku akan berusaha yang terbaik. Saranghae.” Bisiknya.

.-Fin?

a/n:
Happy new year! yes. pertama, biarkan aku mengirup udara /paan/
yesh, ini adalah salah satu proyek yang ter-ter… duh, entahlah. aku tahu ini baru setengah cerita. dan belum sampai konflik keknya /yes, i know it/
aku lagi ada di ujung dunia /gak/ serius, aku lagi di pulau jawa paling ujung, dan di sini minim sinyal banget, udah gitu jalanan jelek, makanan mahal, mandi susah, tidur gerah, /nahloh(?)/alesan
so, aku mau ngucapin beribu maaf buat Geceku sayang, ce, maapkan aku, ini jauh banget dari espektasi, karena disini juga minim listrik, Ya Allah. ini pokoknya di luar espektasi banget. karena udah mepet jadi aku posting sampe sini dulu nanti selengkapnya aku pc kamu say :v
ayok coba pendapat kalian gimana? haruskah aku simpan cerita cukup sampai disini? /banyakacotaesitatah/dibalang

dan btw, btw, aku jamin abis ini udahan bacotnyah, selamat buat Chellynne yang resmi debut dan ditaksir sunbae seksi :v aku berusaha bikin genre yang kamu suka. tapi jadinya malah begini, maapkan /sungkem/kecup bazah pemilik oc/
jadi, wellcome to the jungle Chellynne Byun!

sekian dan terima kasih~

3 tanggapan untuk “[Vignette] Christmas with Chellynne | truwita”

  1. cellynne nya jawab apa kakaaaaakkkkk..
    *ini udah telat marahmarah pula

    jadi ceritanya aku mampir ke sini karena males beud bikin nama oc buat dipasangin sama kai, akhirnya kuingat pekan oc nasional kan full member lalu kucari yg kai lalu kukepo dan kubaca ffnya. sekian laporan terimakasih. /ditimpuk

  2. pertama, kaktata itu authornya masih kakiren :’v

    dan… INI GANTUNG SIAL JAHAT BANGET IH AKU BUTUH MYTH LEBIH BANYAK/kayang/
    pertamanya udah nduga ini pasti chell ada apa apanya wkwk tak kira dia serigala atau makhluk apa /nid/ ternyata dewi waaaak KUMENEMUKAN MYTH LAGI UHUY

    aku setuju aja si chell jadi dewi, pas banget sama visualya gatau kenapa kwkw
    btw kaktata semangaaat… aku sendiri dengan kurangajarnya blm bales vn, line hape-ku error kak :’) entar lewat pc yah wwkwk /nid/

    tapi, balik lagi ke awal, ini gantung banged kak buanget lah, soale si chell belum mutusin gimana dia ‘yes or no’ gitu lho, ah gitu ih, lanjut kek 😦 seenggaknya sampe jawaban chell habis itu respon aprhodite habis itu respon kai habis itu hubungan akhir mereka /semua aja nid/ /digampar/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s