[VIGNETTE] Christmas With Hanbyul – HyeKim

christmas-hanbyul

|Christmas with Hanbyul|

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Kim Jongdae [EXO’s Chen] &  Hanbyul [vvixo’s OC]

Genre : Romance, Sad, Fantasy || Length : Vignette || Rating : PG-15

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

— Dedicated to vvixo in the original character event—

HAPPY READING


“I’ll be waiting for you. Waiting for you again today,” (EXO – Winter Heart)


Dingin. Mungkin itu pendeskripsian yang tepat untuk hari ini di bulan desember, dimana musim dingin sudah menyerang negara yang memiliki empat musim dan identik pula dengan serpihan kecil berwarna putih bernamakan salju. Sekumpulan manusia berpakaian tebal dengan kupluk juga syal yang melilit dileher tampak memadati tortoar. Hal tersebut sangat wajar karena besok ialah tangal dua puluh lima yang berarti perayaan natal, dimana orang-orang sibuk membeli kado natal.

Namun sesosok perempuan dengan surai terikat satu itu melangkah dengan lesu dan menggerakan logam beriris hitamnya ke arah sekitar―kepada orang-orang yang memamerkan senyuman dengan bungkus kado natal untuk orang terkasih. Senyum tipis tersirat berbagai makna itu tercipta diparas Hanbyul, perempuan tersebut. Otaknya mengingat sangat jelas akan sosok lelaki yang dulu menjajikannya untuk bertemu kembali di pohon natal yang terdapat di taman Namsan yang selalu ada setiap tahun tatkala sudah mendekati perayaan natal. Lelaki itu juga berjanji  akan memberikannya kado natal terindah ketika bertatap muka kembali.

Namun, janji itu palsu. Hanbyul pun tersenyum mencibir mengingat untaian janji yang Jongdae kumandangkan padanya. Mengingatnya kembali membuat Hanbyul mengeluarkan umpatan, “Dasar Jongdae brengsek!”

’Klik!’

Suara yang merupakan pintu appartemen milik Hanbyul terbuka setelah dimasuki kode sandi pun terdengar, langsung saja gadis itu membuka alas kakinya dan menjajarkannya dengan sepatu-sepatu miliknya di rak sepatu. Namun sebelum dirinya mengangkat kepala dan mengiring langkah memasuki appartemennya, sebuah suara menyerobot.

“Sudah pulang?”

Hanbyul pun mengangkat kepalanya dan langsung disuguhi sosok Xifei yang memakai celana pendek dan kaos berwarna putih polos serta rambut berantakan dengan ponsel yang berada digenggaman tangannya. Melihat sahabatnya yang selalu seenak jidat memasuki appartemennya, Hanbyul hanya menggeleng lalu melepas syal serta jaket tebalnya untuk ia gantung di dalam lemari yang berada tepat di sebelah kanannya.

“Dilihat-lihat kamu seperti tunawisma, ya. Main masuk ke appartemen orang lalu mengobrak-abrik isinya,” sindir Hanbyul dengan mata mendelik ke arah Xifei yang sedang memfokuskan diri pada ponselnya.

Hanbyul pun menutup lemarinya dan membalikan badan ke arah Xifei yang sekarang mengangkat kepalanya untuk menatap Hanbyul lalu  mengeluarkan cengiran tanpa dosa. “Kamu tahu sendiri harga sewa appartemenku naik lalu aku baru dipecat akhir-akhir ini. Dan well―”

“―kamu akan menginap di sini dan menghabiskan isi kulkasku sampai waktu yang tidak menentu,” potong Hanbyul seraya memajukan langkah ke depan satu langkah dan menyarangkan tatapan menghunus pada Xifei yang malahan melihatkan dua jari tangan ke arah Hanbyul―pertanda peace lengkap dengan cengirannya.

Daripada pusing berdebat dengan gadis semacam Xifei, dipilih lah oleh Hanbyul untuk memasuki lebih lanjut petak appartemennya namun ketika melewati Xifei dirinya masih sempat melirik sahabatnya dari ujung mata sambil bersuara, “Sepertinya kamu bermasalah dalam hal pekerjaan.”

Sebelum mendapat respon apapun dari Xifei, gadis bernama Hanbyul itu  menjatuhkan diri di atas sofa ruang tengah dengan kedua tangan terlentang dan tubuh bersandar ke sofa, fokus matanya menerawang ke langit-langit appartemen. Xifei pun tampak mengangkat bahu dengan raut acuh lalu mengiring tungkainya mendekati Hanbyul. Bisa dibilang ini bukan kali pertamanya gadis itu dipecat dan alasannya yang selalu saja ada.

“Entahlah. Kamu tahu sendiri bahwa bossku di tempat kerjaku sebelumnya itu perfeksionis sekali. Aku malas. Sedikit salah langsung saja disemprot habis-habisan, mana kadang di hadapan karyawan lain bahkan pelanggan restoran,” ujar Xifei menyampaikan eluhannya sambil membanting bokongnya ke sisi sofa lalu memainkan ponselnya kembali dengan raut cuek, seakan dipecat dirinya dan terusir dari appartemen sewaannya bukanlah hal yang berat. Tentu saja, gadis itu tinggal menumpang di appartemen Hanbyul dengan tidak tahu malunya.

Well, Hanbyul pun sering mendengar cerita Xifei akan sosok boss yang memiliki pandangan perfeksionisme itu. Sebelumnya Xifei bekerja di restoran ayam goreng yang terkenal di distrik Seocho, namun karena bossnya yang perfeksionis juga sedikit tempramental membuatnya tidak betah dan mungkin inilah batas akhirnya.

“Hanbyul! Hanbyul” tiba-tiba saja Xifei memekik membuat Hanbyul meliriknya malas dengan satu alis terangkat, gadis itu pun menatap Hanbyul antusias lalu melirik sebentar ponselnya setelah itu mendekatkan badannya kepada Hanbyul yang mencuri-curi pandang ke arah layar ponsel Xifei guna mengetahui hal apa yang membuat sahabatnya antusias. “Besok tepat tanggal dua puluh lima, salju pertama akan turun!”

Lain halnya dengan Xifei, Hanbyul terlihat tidak begitu antusias dan memutar bola mata malas. “Huh, kukira kamu mendapatkan kupon belanja gratis selama satu bulan di Times Square Mall.” kembali Hanbyul menyandar malas ke sandaran sofa sambil menerawang ke langit-langit appartemen.

Xifei pun mendelik ke arah Hanbyul lalu menurunkan ponselnya dan menyarangkan tatapan dalam pada Hanbyul. Ditatapi begitu, Hanbyul pun menoleh dengan wajah bertanya-tanya. “Besok tanggal dua puluh lima, kamu akan menunggunya di tempat biasa?” pertanyaan Xifei diunsuri nada hati-hati.

Bergeminglah sosok bernama Hanbyul itu dengan wajah tanpa ekspresi, kembalilah dirinya menatap langit-langit appartemennya dengan senyum tipis. “Bukannya setiap tahun aku selalu menunggunya di tempat yang sama?”

Napas berat keluar dari mulut milik Hanbyul, terlihat jelas dirinya sedikit putus asa namun bukankah janji adalah sesuatu yang harus ditepati? Namun bila begitu, ke mana sajakah seorang Kim Jongdae selama tujuh tahun ini? Bukannya lelaki itu juga berjanji akan menemuinya lagi di hari natal dengan sebungkus kado terbaik. Dapat dilihat Xifei menatap sahabatnya miris.

“Kuharap Jongdae datang tahun ini. Bukankah romantis dirinya kembali setelah tujuh tahun di hari natal bahkan disaat salju pertama turun?” ucap Xifei seraya berlalu menuju dapur karena perutnya yang mendadak kelaparan dan meminta jatah makan berupa cemilan enak milik Hanbyul yang memenuhi kulkas gadis Si Empunya appartemen.

Dalam diamnya dengan memandang langit-langit appartemennya nanar, Hanbyul bergumam dalam hati. “Aku juga berharap begitu,”

“Hanbyul-ah, aku akan pergi besok,”

Netra gadis yang dipanggil Hanbyul itu melebar dengan wajah kaget menatap Jongdae yang menyerukan hal tersebut. Akhirnya setelah menelan ludahnya memasuki kerongkongan, Hanbyul mencetuskan satu pertanyaan. “Ke mana?”

Diiringi senyum simpulnya, Jongdae mengulurkan tangan untuk mengelus surai milik Hanbyul. Nampak gadis itu ingin menangis. “Inggris. Kamu tahu kan aku memimpikan kuliah di sana, aku mendapatkan beasiswa fakultas kedokteran di Oxford,” kata Jongdae dengan gembiranya.

Melihat teman masa kecilnya begitu bahagia, Hanbyul mengurungkan niat menjadi gadis cengeng akan kepergian Jongdae. Lantas ia pun mengulum senyum dan berucap. “Selamat, impanmu terwujud. Tapi aku pasti akan merindukanmu.” namun akhir ucapannya diikuti bibirnya yang cemberut.

Sejenak Jongdae tertawa lalu mengacak-acak rambut Hanbyul. Lalu ia meraih kedua bahu Hanbyul dan menatap obsidian milik perempuan itu. Dengan senyum lembutnya kembalilah Jongdae berfrasa. “Aku janji akan kembali menemuimu. Tepat di hari natal di pohon natal yang ada di taman Namsan. Aku akan kembali dengan hadiah natal terbaik untukmu.”

Hanbyul mengerjap dan menatap Jongdae lurus-lurus. Tidak ada kebohongan dari binar mata lelaki itu. Lantas Hanbyul menghela napas dan tersenyum tipis, setidaknya dengan janji itu dirinya jadi mempunyai harapan, bukan?

“Baiklah, kamu janji?” Hanbyul memastikan dan dengan mantap Jongdae mengangguk.

“Janji,” ujar pemuda Kim itu seraya menarik Hanbyul kedalam dekapannya.

Tapi sebuah harapan kadang pula tidak membuahkan hasil.  

Dua puluh lima desember. Yang mana pada hari itu perayaan natal disambut dengan hangat oleh orang-orang yang merayakannya. Apalagi salju pertama yang dikatakan akan turun pada hari natal di tahun ini. Dengan langkah malasnya, Hanbyul menelusuri jalanan tortoar di daerah Namsan. Dirinya melirik beberapa orang yang melewatinya dengan sumringah lalu ia pun menghela napas.

Hari ini, kembali Hanbyul mengunjungi taman Namsan dengan harapan di hari natal yang mungkin tidak akan terwujud. Langit mulai gelap dan angin makin bertiup kencang mengingat salju pertama akan turun malam ini, cuaca pun makin dingin menjadi-jadi. Tungkai milik Hanbyul pun berhenti di bawah sebuah pohon natal yang menjadi tempat yang Jongdae janjikan padanya.

“Huh,” napas keluar dari mulut Hanbyul berupa uapan dingin, kedua tangannya ia masukan ke saku jaket tebalnya. Badannya mulai menggigil dengan berdiri mematung dan bola mata bergerak ke sana-sini. “Hari ini adalah natal terakhir aku menunggumu, Jong. Bila kamu tidak datang lagi, aku tidak akan menunggumu lagi.” gumam Hanbyul pelan dengan mata nanar.

Dengan sebuah pengharapan yang berada dihatinya, seorang Hanbyul pun rela berdiri di tempat ia berjanji dengan Jongdae. Berkali-kali ia menoleh ke sana-ke sini tatkala seseorang melewatinya, memastikan apakah sosok yang ia tunggu melewatinya. Angin dingin pun tidak menggetarkan tekadnya untuk menunggu seorang Kim Jongdae. Tak terasa sudah lima jam lamanya Hanbyul menunggu. Gadis itu pun merapatkan jaketnya lalu memasukan kedua tangan ke saku jaket hangatnya, napas dengan uap dingin itu keluar dari mulutnya entah untuk keberapa kalinya. Pipinya sudah memerah akan cuaca sedingin ini.

Aish, nappeun seikkia, (Dasar brengsek)” umpat Hanbyul dengan gigi menggertak dan pandangan mata menyapu ke sekeliling, bibirnya ia majukan pertanda inilah batasnya untuk menunggu malam ini.

Hanbyul mengadahkan kepalanya ke langit lalu kembali menghela napas dengan raut putus asa. “Ya! Kim Jongdae, kau pikir kau siapa hah? Telah membuatku menunggu selama ini di hari natal?” omel Hanbyul sambil menatapi langit luas yang memayunginya malam ini, seakan langit gelap tanpa bertabur bintang malam ini itu sosok Jongdae.

“Huft.” lagi, Hanbyul menghela napas lelah. Dadanya naik turun dengan napas tak teratur lantaran amarah yang menumpuk dalam dirinya.

Mata indah milik Hanbyul terpejam sebentar lalu kembali terbuka. Setelah memikirkannya kembali, Hanbyul mengangguk lalu menurunkan pandangan dari langit malam Seoul. Obsidiannya menerawang ke arah bawah lalu tungkainya mulai beranjak dengan perasaan kecewa yang dalam. Namun tatkala ia mengangkat kepalanya, netranya langsung disuguhi sosok yang membuat organnya membeku seketika. Bibir Hanbyul mengatup rapat dengan wajah terkejutnya. Sosok itu berdiri beberapa meter di depannya sambil mengulum senyum yang membuat hati Hanbyul tergelitik dan jatuh dalam pesonanya.

“Jongdae?” gumam Hanbyul dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka akan menemui pemuda itu sekarang. Dengan muka linglungnya, Hanbyul bertanya. “Kenapa kamu ada di sini?”

Kim Jongdae, sosok yang berdiri di hadapan Hanbyul dengan senyum manisnya itu merajut langkah mendekati Hanbyul yang tampak masih dilanda shock dan mengedipkan matanya beberapa kali. Hingga akhirnya rajutan tungkai milik Jongdae mencapai finalnya dengan berdiri tepat di depan Hanbyul yang sekon selanjutnya menintikan satu kristal dari pelupuk matanya.

Ya! Kamu ini ke mana saja?” seru Hanbyul dengan mata berkaca-kaca dan air mata yang mengalir, kemudian ia menghambur memeluk Jongdae yang langsung balas memeluknya dengan seuntas senyum tipis. “Kamu mengatakan akan datang di hari natal, tapi setiap tahun kamu tidak pernah datang. Dasar bodoh.”

Tangan Jongdae terangkat mengelus rambut belakang Hanbyul, pemuda bermarga Kim itu pun juga menintikan liquid bening dari obsidian miliknya. Senyum samar terpatri dimukanya.

“Maaf, baru bisa datang sekarang,” lalu terdengar isakan lolos dari mulut Hanbyul, Jongdae pun tambah mengeratkan pelukannya. “Selama ini aku menyuruh ibu untuk tidak memberitahu keadaanku padamu. Maaf.”

Hanbyul pun mulai melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah tampan Jongdae sejenak. Tangan lelaki itu mengelus puncuk kepala Hanbyul yang melingkarkan kedua tangannya dileher Jongdae. Keduanya saling melempar pandangan dengan beribu rindu tersirat, hingga serpihan salju yang diperkirakan turun hari ini pun berjatuhan ke muka bumi.

Tangan Jongdae pun turun mengelus pipi Hanbyul, kembali ia pun bersuara. “Selamat natal, Hanbyul-ah…” cubitan pun disarangkan Jongdae dipipi Hanbyul dengan gemas, gadis itu tampak memejamkan mata dengan senyum bahagia pertanda menyukai sikap Jongdae padanya. “… senang bisa menghabiskan natal denganmu lagi.”

Kelereng milik Hanbyul menatap lekat wajah Jongdae, lalu kepalanya pun mengangguk dengan wajah terharu. “Aku pun senang bisa bertemu denganmu di hari natal yang penuh kasih ini,” sekarang giliran tangan Hanbyul yang jahil mengacak-acak rambut Jongdae dan respon lelaki itu hanya kekehan kecil.

“Oh ya,” tangan Hanbyul turun dari surai Jongdae lalu melipatnya didepan dada sambil menatap tajam Jongdae yang menampakan raut bertanya. “Katanya kamu akan memberikan hadiah natal terbaik untukku sata bertemu lagi!” tagih Hanbyul dengan bibir dimajukan.

Jongdae terkekeh pelan lalu menaruh tangannya di puncuk kepala Hanbyul, gadis itu masih menampilkan wajah memberengut. Kemudian Jongdae pun sedikit menunduk untuk menaruh penuh tatapannya tepat dimata indah milik Hanbyul.

“Aku sudah memberikan kadoku,” dahi Hanbyul resmi merengut bingung dengan wajah tak paham. Senyum pedih yang tersamarkan itu tercetak dibibir Jongdae dan ia pun kembali bersajak. “Kebersamaan, kebersamaan denganmu saat natal adalah hadiahku untukmu. Kebersamaan kita.”

Penggalan kata itu membuat darah Hanbyul berdesir dan dirinya bergeming dengan fokus matanya menatap Jongdae lekat-lekat. Lelaki itu menepuk-nepuk puncuk kepala Hanbyul dengan tangan yang ia taruh dari tadi di sana.

“Apa kamu suka kadoku?” Jongdae bertanya sambil memasukan kedua tangannya ke jaket tebal yang ia kenakan untuk berperang dengan hawa dingin.

Kelopak mata Hanbyul mengerjap beberapa kali, lalu ia memasang wajah berpura-pura marah dengan tatapan sebal. “Selama tujuh tahun ini ternyata kamu belajar gombalan receh seperti itu, ya.” ledek Hanbyul dengan bibir mencibir.

Ledekan Hanbyul kembali melepaskan kekehan Jongdae yang lagi-lagi mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut Hanbyul. Dengan senyum jenakanya, Jongdae mengajukan pertanyaan. “Kamu tidak puas dengan hadiah natal dariku?”

Hanbyul membuang mukanya kemudian mengangguk dengan bibir mengerucut. “Ya, aku tidak puas,”

Sebelum bertindak kembali, Jongdae milirik arloji ditangan kanannya. Sisa waktunya hanya sepuluh menit lagi. Jongdae pun tersenyum samar lalu menatap Hanbyul yang masih buang muka darinya, diam-diam gadis itu tersenyum tipis merasa berhasil mengerjai Jongdae. Hingga sebuah gerakan yang membuat Hanbyul tersentak ia terima, dengan tiba-tiba Jongdae meraih bahunya dan menariknya membuat gadis itu menoleh kembali ke arahnya. Hanbyul merasa dunia berhenti tatkala benda lembam itu menyapa bibirnya, matanya melebar—terkejut bukan main. Sementara sosok pemuda yang menciumnya itu memejamkan mata diiringi satu tetesan air mata menyusuri pipinya.

Kedua bibir itu terus bersentuhan tanpa ada penggerakan apapun, sampai Hanbyul merasa matanya rabun sekejap karena tubuh Jongdae di hadapannya mulai memudar. Matanya kembali melebar namun sekarang disertai tetesan air hangat merembet turun. Jongdae pun tampak menjauhkan wajahnya dari wajah Hanbyul kemudian menatap gadis itu dengan senyum lembut.

“Jong…” suara yang ingin ia keluarkan terasa sangat sulit untuk Hanbyul, serasa semua frasanya tertahan ditenggorokan. Sosok Jongdae yang sudah sebagian memudar itu melambaikan tangannya, senyum yang terukir itu pertanda sebuah perpisahan.

“Jongdae.” kembali Hanbyul memanggil dengan air mata yang makin merembet, hatinya tercebik sekarang ini.

Sosok Jongdae yang sebentar lagi menghilang itu berucap. “Selama dua tahun ini aku hanya ingin bersama denganmu disaat hari natal. Hanya bertemu denganmu sedetiktpun, aku tak apa. Sesuai janji, kita bertemu lagi di hari natal. Hutangku lunas, Hanbyul-ah.”

Hanbyul mulai menangis terisak dengan kepala menggeleng-geleng tidak terima, tangannya terulur untuk meraih tubuh Jongdae dan memanggil nama pemuda itu. “Jongdae-ah,” namun pupus kala sosok itu menghilang total terbawa semilir angin musim dingin.

“Aaa… Jongdae…” ucap Hanbyul tersendat dengan air mata makin deras bak sungai mengalir dipipi miliknya yang memerah kedinginan, tubuhnya ambruk di atas jalanan yang mulai memutih tertumpuk salju. Tangisnya makin menjadi.

“Jongdae, kenapa?! Tidak! Akh!” Hanbyul mengerang sambil mencengkam helaian rambutnya, tangisnya makin keras dan matanya terpejam mencoba menampik hal yang baru ia ketahui. Kim Jongdae, sosok yang ia sayangi sudah tidak ada di dunia ini.

EPILOG

“Kim Jongdae,” bariton milik pemuda dengan jas serba hitam dan topi hitam itu terdengar. Dirinya mengangkat pandangannya ke arah lelaki yang ia panggil dengan nama Jongdae itu, tampak lelaki yang ia panggil sudah berdiri di hadapannya. “Kau tahu bukan hari ini hari spesial untukmu?”

Tanpa menunggu lama, Jongdae mengangguk mantap kemudian menatap sosok pemuda di depannya. “Sudah genap dua tahun aku meninggal karena kecelakaan lalu lintas di Oxford. Dan sekarang tanggal dua puluh lima desember, dimana aku bisa melaksanakan urusanku yang masih tertinggal selama aku hidup.”

Pemuda di depannya itu tersenyum tipis lalu mengulurkan tangan menepuk bahu kanan Jongdae. “Ya, temui gadis itu untuk memberikannya kado natal terbaik hari ini. Hanya itu urusanmu yang masih tertinggal.”

Jongdae pun mengangguk dan menatap pemuda di depannya dengan wajah meyakinkan. “Tenang saja, hyungnim. Aku akan melakukannya.” lalu Jongdae pun berjalan menjauh untuk menemui Hanbyul, karena janjinya dengan gadis itulah yang menjadi urusan tertinggalnya.

Sementara pemuda yang dipanggil hyungnim oleh Jongdae itu terlihat memandang punggung Jongdae yang kian mengecil dengan pandangan sebal. “Heh, kau manusia yang sudah mati! Aku ini malaikat pencabut nyawa, jangan seenaknya memanggilku hyungnim!”

Namun Jongdae tak mengidahkannya. Setelah dua tahun, jiwa yang mati yang masih memiliki urusan di bumi akan diberi kesempatan untuk melaksanakannya. Yang sekarang Jongdae inginkan adalah menghabiskan waktu natal walau hanya sedetik bersama Hanbyul, gadis yang tak lekang oleh waktu dihatinya.

—Fin—


HyeKim’s Letter :

Happy new year, everyoneAnd merry christmas (walau telat, gak apa ya) bagi yang merayakan natal, ehehehe. Karena ini temanya natal ahahaha.

Semoga tahun ini diberkahi dan resolusi 2k16 yang belum tercapai bisa tercapai di 2k17.

Untuk kak vixxo/bunga, maaf bila gak sesuai ekspetasi. Ide ini muncul dari hasil semi-writer block, huft. Dan aku gak niat buat kalian nangis bombay di tahun baru, ini dikarenakan Kak Bunga yang mau sad ngehehehe XD semoga dengan mini event unofficial ini kita jadi tambah deket, Kak XD

Bagi para pembaca ayo tumpahkan cinta kalian di kolom komentar ya! Karena kita lagi buat mini event unofficial untuk para OC kesayangan staff EXOFFI, jangan lupa dibaca ya sama dikomen :p

P.s : btw di epilog ada malaikat maut, ane ngebayanginnya Lee Dongwook LOLZ

See you!

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

11 tanggapan untuk “[VIGNETTE] Christmas With Hanbyul – HyeKim”

  1. Gue baca FF yang bahagia trus turun ke FF yang sidihnya gak ketulungan, gimna gitu rasanya

    Nangis gue baca FF loe dek, dirimu sungguh tega 😭😭

    Kenapa itu sih Jongdae kecelakaan dan mati? Hanbyul di tinggal mati ama si jongdae 😭😭

    Gue nangis asli baca ini FF 😭😭/sebenarnya efek pas baca FF ini keputar lagu galau 😂😂/

    Semangat terus muat FF yang lainnya dek 🙆🙆

    1. Ahahah langsung dijatohin lagi terbang

      Ini bukan kemauan aku loh, ini kemauan pemilik OCnya Hanbyul, kak vixo buat dibuatin sad :v

      Jangan nangis kak pukpuk

  2. akhirnya ane sempet juga baca punya lu els bahahahak :’v daku ingin menangis 😭/tampolelsa KAMPRETNYA SI JONGDAE ITU ㅠㅠ UDAH DITUNGGUIN MALAH METONG AH SYEBEL KZL AKUTU ㅠㅠ keren els :’v Ahra rasa Hanbyul ini mah baperan sumpah bhahahak X’D Maapkeun aku teh baru sempet baca punyamu els padahal dirimu cepet bgt baca punyaku huhu ㅠㅠ
    Baca ini ane jadi inget mv miracles in december :’v dan bener si jongdae teh egois sama kek part nyanyinya :’v

    1. KAK AYUUU RAPOPO MAMPIR AJA ANE UDAH BAHAGIA HIKS

      Jangan nangis atuh kak yu /balik tampol/kabur keketek luhan/

      Hanbyul baperan :”) aku yg nulisnya lebih baperan /ga/

      Iya macem MV MID yak XD XD nunggu doi eh doinya gak dateng2 hiks sedih lalu di MV itu luhan so giyowo walau muka mellow dia minta kugigit /salah fokus/kayang/

  3. KURANG AJAR KAU ELS, KENAPA BIKIN JONGDAE MATI? /lempar lembing/ /ga
    di awal aku salah fokus sama karakternya xiefei, that so… OMG MBAK AKU SUKA KARAKTER YANG GITU /lalu kayang/
    aku udah ngebatin semakin baca kebawah yang ada aku nggumam ‘jongdae mati nih, mati, fix ini mah’ sama ‘jangan mati lah apa kek gitu asal jan mati orang udah tuju taun jomblo juga kan kasial byul-nya’ kan kan kan aku galau/nid

    jadi

    pada akhirnya mati :’) GAPAPA BYUL GENCANAYOH AYO MUPON AYO INI UDAH 2K17 AYO MUPON/nid itu kamu nid/ /ngguling/

    els btw aku suka narasi kamu :33 ciyusan aaaakkkk xD Dan btw lagi, gaktau kenapa aku suka aja gitu kalok ada yang pake ‘kamu’ bukannya ‘kau’ (padahal sendirinya sering pake kau) bikos ‘kamu’ itu kesannya lebih lembut aiiiiihhh x3 suka aja wkwk

    1. INI BIKOS KAK VIXO INGIN SAD KULAGI MENTOK DENGAN IDE TAU-TAU JADINYA BEGITU /terjun payung/

      Entah kujuga malah seneng sama karakter Xifei bakakakakak /ikutan kayang/

      Tuju taun mblo :”””))) dan berakhir ditinggal metong itu nyesegnya lebih2 kak nid.

      KAK NID NGACA KAK, ENTE JUGA PERLU MOVE ON /DISAMBIT/

      AKKK MAKASIH KAK NIDDD XD XD aku pun kalo pake ‘kau’ terkesan diucapan formal aja, gak tau kenapa suka aja pake kamu :3

  4. kak, sakit ati gue baca ini. nyeseek. jadi inget mantan gue kan.bukan mati sih, tapi ninggalin. brengsek banget tuh bocah sumpah-kok lo jadinya curhat, cong?-tauk deh njing, kesel gue-kesel sih kesel, gausah manggil gue anjing juga keles-gue gak manggil lo anjing kok, lo-nya aja yg ngerasa /ditendang ke neraka/
    *monolog /eciee yg jones tahun baru/

    1. Dirimu baper mantan mulu sampe itu anjing-anjingan keluar XD maki-maki aja gih mantannya ahahahah buakakak /gak/

      Ciee jones ciee :v makasih sudah mampir dan terus komen ya

  5. El, kubaper :’v mengapa Jongdae pake acara kecelakaan? Kasihan Hanbyul, dirinya seperti cewek yg menunggu dan merasa telah di phpin😂😂😂
    Malaikat pencabut nyawa-nya dah baik dibilang hyungnim biar kelihatan muda dripada harabeoji 😂 /lah?/

    1. Wkwkwk selamat baper. Suwer gak mau buat sad tadi tapi kak bunga selaku pemilik OC maunya dibuatin sad yaudah mau kumaha lagi ahah.

      Hanbyul nunggu udah lamaaaa sekali ketemu wujud arwah doang wakakakak.

      Dipanggil uyut paling si jongdae dibalang /gaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s