[VIGNETTE] Christmas with Gaeun

1483028869057

CHRISTMAS WITH GAEUN

.

Romance, Fluff, Slice-of-life || Vignette || PG-13

.

Starring
EXO’s Chanyeol with L.Kyo‘s OC Shin Gaeun

.

“Apa yang kau inginkan sebagai hadiah natal?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Big thanks to IRISH for the amazing poster

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Gaeun-ah ….”

“Hmm?”

“Apa yang kau inginkan sebagai hadiah natal?”

Pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Park Chanyeol, sang kekasih, membuat Shin Gaeun yang sedang menguntai langkah terpaku untuk sesaat. Gadis itu tak lekas menjawab, tetapi otaknya sibuk berpikir. Kalau mau jujur, ia sebenarnya bingung. Tradisi di keluarganya tidak biasa memberi hadiah khusus saat natal. Biasanya ia akan menghabiskan natal dengan keluarga hanya dengan bermain lilin serta melihat indahnya kerlap-kerlip lampu natal. Paling-paling hanya makan bersama, tetapi tak ada sampai tukar kado.

Maka dari itu, ketika ditodong pertanyaan demikian, Gaeun malah bingung sendiri.

Tak ingin mendiamkan sang kekasih terlalu lama tetapi belum juga mendapat jawaban yang pas, Gaeun pun hanya mengangkat bahu sebagai respon.

Eyy, jangan begitu. Ayo, sebutkan saja, apa yang kau mau,” tukas Chanyeol lagi.

Kembali Gaeun mengangkat bahu, sambil dalam hati mengomel, “Kalau aku tidak punya jawaban, kau mau apa?”

“Kau benar-benar tidak mau hadiah natal?” Chanyeol masih belum menyerah.

Kini Gaeun pun menghentikan langkah, agak kesal. “Bukan begitu. Masalahnya, aku pun tak tahu apa yang kuinginkan, sebab dalam keluargaku tak pernah ada tradisi saling memberi kado natal. Tak seperti anak-anak lain yang mungkin telah merancang dari jauh-jauh hari apa yang harus ia minta, aku malah bisa dibilang tak punya keinginan.”

Chanyeol menggamit tangan Gaeun yang diselimuti sarung tangan wol merah, kemudian mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Seraya itu, diam-diam kedua sudut bibir sang pemuda terangkat.

“Kalau sebuah lamaran di hari Natal, kau mau?” ucap pemuda itu.

Manik Gaeun memang membola untuk sesaat. Hanya sesaat, lalu sang gadis kembali pada mode straight face-nya. Ditatapnya sang kekasih lurus-lurus.

“Tak semudah itu untuk melamarku, tuan Park,” ujar Gaeun. “Kau ingat, kan, aku hanya mau menerimamu jika kau memberiku cincin berlian?”

“Tentu!” sahut Chanyeol masih dengan senyum.

Gaeun mengernyitkan dahi untuk beberapa saat, agak heran dengan kepercayaan diri yang tersirat dari sikap Chanyeol. Tetapi gadis garis Shin itu memutuskan untuk mengabaikannya. Toh berkencan selama Chanyeol selama ini sudah mengajarkannya bahwa pemuda di sampingnya itu dikaruniai kepercayaan diri yang, memang, agak berlebihan.

Sebenarnya, bukannya Gaeun ingin menjadi gadis matre yang hanya melihat pria berdasarkan hartanya. Bukan. Maksud Gaeun dari cincin berlian adalah ia ingin melihat kesungguhan hati Chanyeol dalam mencintainya. Lagipula kalau saat ini juga tiba-tiba pemuda itu berlutut dan memintanya menjadi pendamping hidup, Gaeun pasti akan berkata ya. Hanya saja, Gaeun tak ingin semuanya terjadi secara terburu-buru. Ia menghendaki perencanaan yang matang, pertimbangan yang mantap, dan kegigihan yang teguh.

***

Tanggal 24 Desember. Kedua insan tersebut memutuskan untuk menghabiskan siang ke sore hari dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Tepatnya, Chanyeol ingin membelikan sebuah hadiah natal untuk ibunya, dan meminta Gaeun untuk menemani. Gadis Shin yang kebetulan sedang tidak ada kerjaan tersebut menyetujui untuk ikut, dengan syarat saat petang sudah harus sampai di rumah sebab ia hendak menghabiskan malam natal bersama dengan keluarganya.

Pada akhirnya, bukan hanya satu kalung liontin kristal es yang dibeli oleh Chanyeol untuk hadiah natal, tetapi pasangan itu pun membeli dua topi tanduk rusa untuk masing-masing, dan Gaeun dipaksa untuk mengenakannya dalam perjalanan pulang, meski ia amat malu.

Dengan tangan yang saling menggenggam, jemari yang saling terselip, keduanya berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang seirama. Udara musim dingin yang awalnya menusuk pun seolah tak terasa. Selain karena mantel tebal yang mereka kenakan, juga karena kehangatan yang timbul di antara mereka.

“Gaeun-ah, ini malam natal, kan?” celetuk Chanyeol tiba-tiba.

“Hmm ….” Gaeun menggumam sebagai respon. “Tetapi ini belum memasuki malam, jadi aku tak tahu apakah tetap bisa disebut malam natal atau tidak. Memangnya kenapa?”

Tiba-tiba pemuda garis Park itu berlutut di hadapan Gaeun. Tangannya merogoh saku mantelnya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru. Gaeun awalnya bingung, tetapi begitu Chanyeol membuka kotak tersebut dan mengacungkannya di hadapan Gaeun, gadis itu pun terperanjat.

Maniknya seketika membola begitu melihat apa yang terdapat di dalam kotak. Sebuah cincin berlian.

“Chanyeol-ah …. Kau ….” Gaeun benar-benar kehabisan kata-kata.

Sebuah senyum manis terukir pada ranum merah Chanyeol, selagi pemuda itu menatap gadisnya lembut.

“Shin Gaeun. Aku berterima kasih atas semua yang kita lalui. Kau adalah teman terbaikku, sahabatku yang paling menakjubkan, gadis yang paling kusayangi. Kau hadir di setiap suka dan dukaku, membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna. Terima kasih mau membagi keseharianmu denganku, mau hadir di hidupku. Kau bagaikan hadiah natal terbaik yang pernah ada di hidupku.”

Gaeun menelan ludah, cukup terkesan dengan untaian frasa yang disampaikan Chanyeol. Heol, sejak kapan pemuda itu menjadi super romantis?

“Mungkin aku tidaklah sempurna di matamu. Mungkin aku masih punya banyak kesalahan, bahkan mungkin masih banyak pria yang lebih baik dan lebih pantas menemanimu. Tetapi, Gaeun-ah, aku tak dapat hidup tanpamu. Jadi ….”

Pemuda garis Park itu menggamit sebelah tangan Gaeun.

“Maukah kau menjadi pendamping hidupku?”

Lagi-lagi manik Gaeun membelalak. Memorinya membawanya pada percakapan dua minggu yang lalu, saat keduanya sedang berjalan-jalan di hari pertama salju turun. Gaeun pikir soal lamaran di hari natal itu hanyalah senda gurau, namun siapa sangka ternyata Chanyeol benar-benar akan menepati ucapannya. Bahkan betul-betul dengan cincin berlian, walau kalau diusut lebih lanjut Gaeun sangsi akan keasliannya.

Berjuta perasaan yang tak dapat gadis itu deskripsikan secara jelas berkecamuk di dalam hatinya. Bahagia, terkejut, tak menyangka, senang, kaget, gembira, semuanya bercampur menjadi satu. Bermain-main dalam batinnya, membuat dadanya seakan mau meledak.

Sejatinya yang terjadi adalah macam di drama-drama Korea, di mana si gadis akan mengatakan “YA!”, lalu terjadi penyematan cincin, kemudian keduanya akan berpelukan erat-erat, bahagia. Bahkan orang-orang yang berkumpul di sekitar mereka akan ikut bertepuk tangan karena senang. Tetapi justru itulah masalahnya: orang-orang di sekitar. Gaeun bukanlah tipe gadis yang suka menjadi pusat perhatian. Ditatap oleh puluhan pasang mata adalah hal yang risih baginya.

Jadi, yang gadis itu lakukan adalah mengambil cincin dari kotak beludru, menyelipkannya di jari manis kiri, kemudian menggamit lengan Chanyeol dan menyeret pemuda itu pergi. Diabaikannya tatapan kecewa dari puluhan pasang mata yang perlahan-lahan membubarkan diri dari kerumunan. Biar saja, batin Gaeun. Memangnya proses melamar adalah tontonan publik?

Setelah berjalan beberapa langkah dari tempat adegan lamaran, Chanyeol menghentikan langkah, membuat langkah Gaeun ikut terhenti. Gaeun melemparkan tatapan ada apa? pada kekasihnya.

“Kau … maksudnya ini bagaimana, huh?” tanya Chanyeol balik. “Kau mau menerimaku atau tidak sebenarnya?”

Yah, well ….” Gaeun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. Pandangan matanya dialihkan dari Chanyeol. “Kurasa tak ada salahnya mencoba.”

Pemuda itu meletakkan kedua tangannya pada pundak Gaeun. Exciting. “Jinjja?!”

Gaeun menganggukkan kepala.

Chanyeol pun membawa gadisnya dalam dekapan, memeluknya erat-erat. Tak ada frasa yang tepat yang bisa mendeskripsikan suasana hatinya sekarang. Perasaan takut dan gugupnya hilang sudah, digantikan dengan rasa senang yang tak terkira. Kalau tak memikirkan tipikal Gaeun yang tenang, sudah ia ajak gadis itu untuk menari di bawah salju yang turun.

***

“Chanyeol-ah.”

“Hmm?”

“Mau bertemu orang tuaku? Mungkin merayakan natal bersama, sekaligus membicarakan tentang pernikahan kita? Hitung-hitung bertemu calon mertua.”

“Ah, nanti saja, Gaeun-ah. Aku takut mengganggu acara natal keluarga kalian.”

Tsk. Such a coward.”

Meski yang keluar dari bibir Gaeun adalah sebuah umpatan, tetapi gadis itu tak dapat menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak terangkat. Alhasil yang terjadi adalah sebuah senyum yang dikulum. Toh selama ini hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama, keduanya sudah saling mengenal satu sama lain, tak ada salahnya, kan, menjalin hubungan ke tingkat yang lebih serius?

 

-fin-

 

A/N

Ini fic sudah entahlah hwhwhwhw nggak jelas banget, niatnya bikin manis-manis gitu tapi makin dibaca makin geli sendiri #yasudahlah

Buat Kak Irene aka L.Kyo sang pemilik OC, maafkan kalau misalnya ini kubuat OCnya agak OOC yah hwhwhwhwhw ._. And, below this note is my li’l gift to you 😀 Hope you like it! ❤

Anyway, mind to review? 🙂

Processed with VSCO with a5 preset

Iklan

3 thoughts on “[VIGNETTE] Christmas with Gaeun

  1. Ini pasangan kok ucul. 1 gengsian, 1 gak tau malu wkwkwkwkw.

    Yang di lamar itu ya Allah, si chan kalo gak nanya keknya bingung diterima ato gaak akakakakakakak. Cihey aja deh yang ingin nikahh

    Bonus moodboardnya bagus kak cee dan btw happy new year ya kak ce, muah ❤

  2. Aigoo semuanya pada dilamar 😂😂😂 mau atulah /plak Suho malah ninggalin ane pas natal hiks huhu hiks 😭 /plak /curhatlu😂 jadi weh aku teh baper liat orang pada di lamar hahah 😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s