WINGS – NEW YEAR EDITION — IRISH’s Story

altairish-wings-1-5

—  WINGS —

— Kai x Irene —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2016 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Episode II ]  —  [ Clicked: New Year Edition ]

[1]

Tiap pergantian tahun perlu diabadikan dan dirayakan, begitu kata orang-orang. Tapi sebenarnya, Kai tidak pernah benar-benar berpikir begitu. Malam dingin di penghujung tahun ini jelas membuat Kai lebih suka menggulung diri di balik selimut tebal dan tidur. Meski sebenarnya, butiran salju yang terus turun dari langit—seolah ingin menutupi permukaan bumi dengan eksistensinya—adalah pemandangan yang luar biasa indah.

Sekali lagi, Kai tak suka menghabiskan waktu di tengah dinginnya malam. Tapi sayang, Chanyeol justru tidak berpikir seperti itu. Terbukti dengan bagaimana keduanya sekarang justru terjebak di tengah keramaian kota Seoul.

Sejujurnya, Chanyeol adalah oknum yang memaksa Kai untuk ikut merayakan tahun baru di luar rumah. Seperti biasa, Kai memberikan penolakan keras pada awalnya, tapi akhirnya toh Kai pikir menolak ajakan Chanyeol tak akan menghasilkan apapun. Selain menghabiskan tenaga karena berdebat tanpa henti, tentunya.

“Kita bisa beli snack dulu sebelum ke Olympic Park?” sebuah tanya Chanyeol utarakan saat Kai lebih memilih untuk terus bungkam dan berharap waktu cepat berlalu sehingga ia bisa lepas dari belenggu membosankan ini.

“Untuk apa?”

“Aku tidak ingin mengantri untuk mendapatkan snack di sana, Kai. Ingat, ini malam tahun baru dan banyak orang akan berkumpul di Olympic Park.” Chanyeol menjelaskan dengan nada diplomatis.

Keduanya, kini tengah berada di dalam mobil—mobil milik Kai, lebih tepatnya. Chanyeol beralasan jika naik transportasi umum hanya akan membuat mereka tidak leluasa dan tentu akan memperlambat waktu. Lagipula sayang sekali jika Lamborghini Sesto Elemento milik Kai menganggur dan hanya dijadikan pajangan, bukan?

“Kenapa juga kau memaksaku untuk datang kesana? Sudah kukatakan aku lebih suka di apertemen.” balas Kai dengan sedikit nada sengit.

Sungguh, terkadang Kai menyesal mempunyai sahabat seperti Chanyeol.

Hey, Kyungsoo bilang tempat yang paling bagus untuk melihat perayaan kembang api adalah di Olympic Park.” Kai memutar bola mata saat mendengar alasan Chanyeol sekarang.

Klasik, selama ini Chanyeol sering mengatas namakan Kyungsoo—pemuda asal Seoul yang tampaknya sering menghabiskan waktu dengan berkeliling kota dan travelling—demi keinginan pribadinya.

“Lalu kau mempercayainya begitu saja?” Kai menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berganti merah, menatap sahabatnya sekilas untuk meminta jawaban.

“Ya. Memangnya kau tidak?” Chanyeol bertanya dengan polos—kelewat polos—dan Kai akhirnya hanya mampu memasang ekspresi kesal saat mendengar jawabannya.

Hey, tidak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tahu aku tidak pernah bermain keluar rumah. Hitung-hitung ini jadi liburan kita sebelum kembali ke Claris.” Kai hanya mengangguk sebagai balasan, tak mengindahkan perkataan Chanyeol sedikit pun dan kembali menatap lurus kedepan.

“Kau tidak menghubungi Irene?” kembali, Chanyeol membuka percakapan.

Kali ini subjeknya adalah Irene—gadis yang selama beberapa waktu terakhir seringkali mengekorinya—dan tanpa sadar, Kai yakin pendengarannya sudah jadi lebih sensitif dalam menangkap kata ‘Irene’. Terbukti dengan bagaimana sikapnya sekarang—melirik Chanyeol dengan ekspresi serius.

“Apa maksudmu?” tanya Kai membuat tatapan Chanyeol membulat.

Hey, ayolah, aku tidak bodoh. Sesuatu terjadi di antara kalian dan aku tidak bisa lagi memberi label ‘teman biasa’ untukmu dan Irene. Hubungan kalian lebih dari sekedar teman, Bung.”

Mendengar penuturan Chanyeol, Kai tanpa sadar mengulum senyum samar. Memang, siapa pun yang melihat kelakarnya bersama Irene tidak akan berpikir jika hubungan mereka hanya sekedar teman.

Diam-diam, timbul juga niat Kai untuk menggoda lawan bicaranya.

“Bukannya kemarin kau menuduhku sebagai kekasih dari Momo?” pertanyaan Kai kini membuat tatapan Chanyeol membulat terkejut.

“Benar. Wah, apa kau seorang player, Kai? Mengapa kau mempermainkan dua wanita cantik seperti itu?” tanya Chanyeol, menatap Kai seolah sahabatnya itu adalah seorang pelaku kriminal mengerikan.

Melihat reaksi berlebihan yang Chanyeol berikan, Kai hanya terkekeh pelan.

“Aku dan Irene hanya teman.” sahutnya membuat Chanyeol berdecak.

“Tidak mungkin, melihat bagaimana kau bersikap seperti ini, sudah pasti kau tak hanya menganggapnya teman.” Chanyeol berkeras.

Kesal pada sikap keras kepala Chanyeol, Kai akhirnya mendengus pelan sementara ia sekuat tenaga berusaha menahan tawa.

“Itu memang kenyataannya, bodoh.”

Kini, Chanyeol lah yang memasang ekspresi kesal.

“Kenapa kau selalu mengelak?” tanya Chanyeol dengan nada tidak terima.

Yang ditanya, malah tak mendengarkan Chanyeol—yang memasang ekspresi kesal—karena pertanyaannya tak dijawab sedari tadi. Tapi ia sadar, sekeras apapun ia memaksa Kai untuk menjelaskan hubungannya dengan Irene, lelaki itu tak akan mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya, Chanyeol menarik nafas panjang dan menatap sahabatnya itu.

“Baiklah, jika kau memang tidak mau memberitahuku sama sekali. Tapi sebagai teman yang baik, bukankah sudah sepantasnya kau memberinya sesuatu? Umm, dalam rangka tahun baru, misalnya.”

“Kado, maksudmu?” tanya Kai, tampaknya pemuda Kim ini agak kurang mengerti mengenai apa yang Chanyeol tengah berusaha sampaikan sekarang.

Melihat bagaimana sikap Kai—yang di matanya terlihat benar-benar tidak paham mengenai ucapannya barusan—Chanyeol kembali menarik nafas panjang. Sepertinya berlama-lama mengobrol dengan Kai bisa membuatnya naik pitam.

“Iya, kado. Seperti sepatu, atau misalkan baju? Perempuan akan senang jika menerima hadiah dari seorang lelaki, apalagi temannya sendiri. Kau lihat disana? Dua orang wanita yang sedang melihat etalase dan membelakangi kita?” Chanyeol menunjuk ke arah luar jendela mobil yang diikuti oleh tatapan Kai.

“Belikan saja sesuatu seperti yang digunakan wanita bertubuh mungil itu. Kau lihat kan? Wanita yang memakai mantel merah marun dan syal hitam serta topi abu-abu itu? Aku rasa Irene akan pas dan menyukai baju-baju seperti itu. Wanita yang disebelahnya terlalu tinggi jadi aku rasa itu bukan seperti tubuh Irene kan?”

Sejenak, Kai tertegun. Dipandanginya tubuh wanita mungil itu sementara benaknya berusaha memasukkan visualisasi Irene dalam balutan pakaian tersebut. Cantik, seperti itu kesimpulan yang Kai dapatkan dalam benaknya.

“Kau yakin?” Kai bertanya, sekedar untuk mengawasi bagaimana ekspresi Chanyeol atas pertanyaannya sementara ia kembali menjalankan mobilnya.

Chanyeol sendiri, menatap tidak percaya. Benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Kai jadi terlihat begitu bodoh saat bicara tentang wanita.

“Wah, Kai. Kau benar-benar tidak tahu soal wanita rupanya.”

“Apakah itu penting?” Kai mengedikkan bahunya acuh.

Sadar jika usahanya sia-sia, Chanyeol menggeleng-geleng pasrah, lebih memilih untuk diam dan menatap pemandangan dari dalam mobil. Diam-diam, Chanyeol mengutuk dirinya sendiri karena sudah membuang tenaganya untuk mengobrol dengan Kai yang sama sekali tidak menaruh perhatian sedikitpun terhadap pembicaraan mereka tadi. Sedangkan Kai hanya tersenyum geli melihat sikap sahabatnya yang kesal karenanya.

Mobil mereka melaju membelah jalanan kota Seoul, Chanyeol sepertinya sudah malas untuk berbicara dengan Kai sehingga ia benar-benar tidak bersuara sekarang. Kai di sisi lain masih fokus dalam menyetir meskipun pikirannnya melayang jauh memikirkan seseorang.

Kai bisa saja berbohong pada Chanyeol tentang hubungan dan perasaannya terhadap Irene tapi saat Kai melamun seperti ini. Pikirannya pasti akan memikirkan gadis bermarga Bae tersebut.

Masih begitu lekat dalam ingatan Kai bagaimana satu bulan yang lalu, ia terus diganggu oleh gadis itu. Gadis yang setiap hari mempertanyakan pertanyaan yang sama padanya, gadis yang setiap hari memanggil namanya.

Mulut Kai mungkin bisa berucap jika ia tak memiliki perasaan terhadap Irene. Tapi untuk hatinya. Siapa yang tahu?

Hey, Kai. Jangan lupa, beli snack dulu sebelum sampai disana.”

Segera, Kai tersadar dari lamunannya.

“Hmm? Ya, baiklah.”

~

Sepertinya, sebuah kesalahan Kai lakukan ketika ia meremehkan saran Chanyeol yang memilih Olympic Park sebagai tempat terbaik untuk menghabiskan malam tahun baru. Menurut Chanyeol—yang didapatkan pemuda Park itu dari Kyungsoo—Olympic Park akan ramai malam ini.

Tapi nyatanya, pemandangan di hadapan Kai sekarang tidak bisa sekedar digambarkan dengan kata ramai. Kai yakin jika ia dapat terbang dan melihat ke bawah, ia akan melihat orang-orang di sini bagai kerumunan semut.

Begitu banyak orang yang datang kemari. Kai yakin, tujuan mereka bukan hanya sekedar untuk merayakan tahun baru. Tak hanya sekali dua kali Kai melihat beberapa keluarga besar hilir mudik di hadapannya. Agaknya, tempat ini tak hanya menjadi perayaan tahun baru tapi juga jadi ajang kumpul keluarga.

Ia juga melihat puluhan muda-mudi seusiaan dengannya, yang datang seperti dirinya dan Chanyeol, ataupun pasangan-pasangan kekasih yang menghabiskan malam tahun baru mereka di sini.

Saat berjalan dari tempat parkir menuju kemari juga Kai tak sengaja melihat beberapa foodtruck sudah terjajar rapih yang menyediakan berbagai menu mulai dari minuman, makanan, es krim, bahkan sampai pernak-pernik untuk merayakan tahun baru.

Kai tersenyum samar, sekarang ia tahu mengapa Chanyeol memaksa untuk membeli beberapa snack dan minuman sebelum datang kemari. Foodtruck yang ada disini sudah penuh bahkan sebelum penghujung acara tahun baru. Mobil-mobil besar itu dipenuhi oleh keluarga yang membawa anak kecil dan juga sekumpulan remaja.

Omong-omong soal Chanyeol, lelaki itu kini berjalan disamping Kai—mencari tempat duduk—dengan mulut penuh makanan. Yang lebih parah adalah ia sama sekali tak mengizinkan Kai berbicara disaat ia sedang berbicara.

Tolong ingatkan Kai kalau sedari tadi ia sudah mengabaikan semua perkataan Chanyeol lantaran terlalu serius memperhatikan keadaan di sekitarnya. Dan sekarang,

“Bisakah kau habiskan dulu makananmu lalu berbicara?” Kai akhirnya berucap.

“Biarkan saja. Anggap saja ini sebagai pembalasan karena kau sangat menyebalkan di mobil.” balas Chanyeol tak mau kalah, agaknya ia masih menyimpan kekesalan karena sikap Kai tadi.

Kai menggeleng tak percaya saat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. Enggan mencari kalimat lain untuk menyahuti ucapan pemuda itu meski sebenarnya dia merasa dongkol juga. Lagipula, Chanyeol sekarang sudah fokus mencari tempat duduk untuk mereka berdua.

Tanpa sadar, Kai lagi-lagi memperhatikan sekitarnya. Meski ia tengah berdiri di tengah-tengah keramaian, tapi tidak ada hal menarik yang mampu membuat Kai menaruh perhatian. Entah, karena ia memang tipe yang acuh pada hal-hal di sekitarnya, atau si gadis Bae lebih mendominasi benaknya.

Hey Kai, bukankah itu wanita yang kita lihat di jalan tadi? Lihat, dua orang yang sedang duduk membelakangi kita.” perkataan Chanyeol segera membuat Kai melemparkan pandang ke arah yang ditunjuk Chanyeol sekarang.

Alis Kai terangkat saat sadar jika ucapan Chanyeol benar adanya. Bisa Kai lihat atensi Chanyeol sekarang agaknya tengah tertuju pada dua wanita yang duduk membelakangi mereka. Salah satunya, tengah sibuk membenarkan syal hitam yang ia kenakan sementara satu lagi menatap temannya dengan senyum di wajah.

Well, Kai memang benar dua wanita itu adalah wanita yang tadi sempat Chanyeol umpamakan untuk membicarakan soal hadiah untuk Irene. Tapi apa masalahnya sekarang?

“Lalu?”

“Ayo, kita duduk di bangku yang ada di belakangnya saja. Kupikir dari tempat duduk itu kita bisa melihat ke langit dan menikmati kembang apinya nanti.” tanpa menunggu persetujuan Kai, Chanyeol segera melangkah ke arah kursi panjang kosong yang ada di belakang dua wanita tadi.

Tentu, sebenarnya Kai merasa tidak nyaman karena harus duduk di dekat wanita—apalagi wanita itu tadi sempat jadi subjek pembicaraannya dengan Chanyeol—tapi berhubung kursi mereka saling memunggungi, Kai jadi tak punya alasan untuk mengelak. Lagipula, meski dia ingin menolak ajakan Chanyeol, pemuda Park itu sudah lebih dulu menghempaskan tubuh di kursi tersebut.

Akhirnya, Kai berjalan santai menghampiri Chanyeol yang dengan santai meminum air mineralnya. Awalnya Kai pikir kedua wanita itu akan terusik dengan kegaduhan yang Chanyeol buat karena duduk dengan kasar, tapi sepertinya suara tak akan ada orang yang saling memperhatikan sikap satu sama lain di tengah keramaian seperti ini..

“Bisakah kau tidak terburu-buru?” Kai mendudukkan tubuhnya di sebelah Chanyeol, melirik sekilas ke belakang karena nyatanya dia duduk membelakangi wanita bermantel merah marun yang tadi Chanyeol bicarakan di mobil.

Hey, ini hampir tengah malam. Kau lihat, satu menit menuju tengah malam. Aku harus mendapatkan tempat yang bagus untuk melihat kembang api.”

Tidak menunggu respon Kai, Chanyeol lekas membetulkan posisi duduknya dan mengeluarkan handphone dari saku mantel yang ia kenakan. Agaknya pemuda Park itu sudah bersiap untuk mengabadikan momen pergantian tahun baru.

Kai terkekeh pelan melihat sikap sahabatnya itu. Beberapa hal kecil yang dilakukan Chanyeol mungkin dapat membuatnya jengkel, namun beberapa hal lain yang dilakukannya justru bisa membuat Kai tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu. Kai pun ikut membetulkan posisi duduknya, ingin memposisikan diri senyaman mungkin untuk melihat kembang api.

Lagi-lagi, berada di tengah keramaian sungguh membuat Kai terperangah, ia tidak pernah tahu jika pergi keluar dari apartemen atau setidaknya sedikit berjalan-jalan bisa membuatnya menemukan hal-hal yang sangat menyenangkan.

Kini, sepasang kekasih yang sedang duduk di seberang mereka menjadi perhatian Kai sekarang. Mereka tertawa bersama meski terkadang si perempuan bertingkah lucu dan menyebalkan yang membuat si lelaki membuat macam-macam ekspresi untuk membalasnya. Namun pada akhirnya mereka kembali akur dan tertawa bersama.

Diam-diam, Kai kembali dengan ingatannya tentang Irene. Tentang bagaimana gadis itu yang selalu memanggilnya saat menemukannya, Kai tersenyum, sekarang ia tahu bahwa tingkah laku seseorang yang sering menyapanya setiap hari itu sudah tak terdengar selama beberapa hari ini.

Kai menggeleng kecil, mengabaikan ingatan itu yang membuatnya semakin ingat dengan suara Bae Irene, oh atau mungkin keberadaan Bae Irene itu yang ia rindukan?

“3!”

“2!”

“1!”

“Selamat tahun baru!”

Kai mendongakkan kepalanya ke langit, memandang ke arah kembang api cantik yang sekarang mewarnai langit malam kota Seoul, menandakan bahwa tahun sudah berganti. Belum lagi, suara terompet terdengar begitu bising dan memenuhi rungu Kai hingga pemuda itu sejenak merasa jika dirinya sendirian di tempat ini.

Indah. Itu satu kata yang Kai bisa deskripsikan sekarang setelah melihat kembang api di langit yang menaunginya. Kai rasa, nanti ia akan berterima kasih kepada Chanyeol karena telah mengajaknya ke tempat ini dan menyaksikan pertunjukkan kembang api.

Kembali, dipandanginya langit yang masih riuh dengan kembang api itu sementara ia tersenyum samar.

“Irene, apa kau melihat ini? Indah bukan? Aku harap kau bisa berada disini dan melihat kembang api yang indah ini. Apa kabarmu, Irene? Aku harap kau baik-baik saja dan tidak bertindak bodoh. Sampai bertemu nanti, Irene. Selamat Tahun Baru.”

~

[2]

Ugh! Selalu saja, membatalkan janji seenaknya!”

Alis Irene terangkat saat mendengar saudari angkatnya—Seo Joohyun yang kerap disapa Seohyun—berucap. Seingat Irene, kemarin Seohyun sudah ada janji dengan kekasihnya untuk keluar di malam tahun baru ini. Tapi melihat bagaimana ekspresi kusut dipasang Seohyun sekarang, bisa Irene simpulkan kalau rencana yang kemarin disusun itu sudah pasti gagal total.

Alih-alih ikut campur dan angkat bicara atau berkomentar yang kemungkinan besar justru akan membuat Seohyun semakin kesal dan dongkol, Irene akhirnya lebih memilih untuk fokus pada ponselnya.

Jangan pikir Irene sekarang sedang sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang dikenalnya. Dia justru tengah melakukan hal yang cukup tidak penting. Ponselnya ia pegang dengan posisi horizontal sementara kedua ibu jarinya menari-nari dengan lincah di atas layar. Ya, Irene tengah menguji kecepatan ibu jarinya dengan menekan layar dan memainkan tuts piano yang ada di layar ponsel.

“Irene, ada rencana keluar malam ini?” segera Irene menekan tombol pause di layar ponselnya ketika suara Seohyun terdengar.

“Tidak ada, aku akan keluar saat suara kembang api terdengar nanti.” jawab Irene. Mengingat ia tak pernah keluar saat malam tahun baru, agaknya rutinitas monoton seperti ini sudah jadi hal yang wajar bagi Irene.

“Aku sudah membeli dua tiket travel ke Olympic Park. Si bodoh yang disebut kekasihku itu tidak bisa datang malam ini, apa kau tertarik ikut denganku?” tawar Seohyun, memamerkan dua buah tiket yang ada di tangannya.

Sejenak, Irene tampak menimbang-nimbang. Sekon kemudian ia mengangguk, pikirnya menghabiskan waktu di luar rumah akan sedikit memberinya kesenangan berbeda tahun ini.

“Yes, kalau begitu lekaslah berganti pakaian. Ini sudah jam tujuh dan setengah jam lagi travelnya akan berangkat.” Seohyun mencicit kecil, kekesalannya sekarang sudah terkikis karena sudah menemukan rekan alternatif untuk rencananya.

Memang, Irene tahu benar bagaimana Seohyun selalu mengutarakan keinginannya untuk menghabiskan malam tahun baru di Olympic Park karena festival kembang api di sana selalu dikatakan paling megah seantero kota Seoul.

Dan kali ini, Irene rasa ia tidak perlu menolak tawaran dari saudarinya itu.

“Baiklah.”

~

Irene pikir, waktu terkadang berputar terlalu cepat. Karena saat ia pikir ia baru menghabiskan waktu selama beberapa saat, nyatanya berjam-jam sudah terlewati. Seperti yang terjadi sekarang, contohnya.

Ia dan Seohyun seharusnya sekarang tengah duduk di bus travel, menikmati keramaian di jalanan, tapi kesibukannya berkeliling Myeongdong justru membuat dua saudara itu tertinggal bus travel.

Konyol, memang. Sempat Irene pikir pihak travel sudah melakukan hal sembrono dan tidak masuk akal lantaran meninggalkannya. Memang mereka tidak merasa ada penumpang yang tertinggal atau apa?

Tapi dipikir-pikir lagi, Irene dan Seohyun agaknya juga keterlaluan. Mereka diberi waktu tiga puluh menit untuk berkeliling Myeongdong tapi Seohyun dan Irene justru menghabiskan hampir tiga jam di sana.

Akhirnya, di sinilah keduanya sekarang, berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi pejalan kaki, membelah dinginnya malam dengan pakaian hangat yang tidak begitu memadai.

“Harusnya tadi kita memakai dua mantel.” Irene akhirnya membuka konversasi.

“Hmm, siapa yang tahu kalau kita akan ditinggalkan bus?” Seohyun berucap, sekon kemudian gadis itu terkekeh geli. Dan tindakannya tentu saja membuat Irene menatap tidak mengerti.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Irene.

“Kau tidak berpikir yang terjadi pada kita ini lucu? Bayangkan. Kita ditinggalkan oleh bus. Wah, besok aku harus mengadukan komplain ke perusahaan.” Seohyun menggeleng-geleng tak percaya.

Kejadian tentang bagaimana dia dan Irene kembali ke tempat parkir mobil dan tak menemukan bus travel mereka tadi diam-diam terulang kembali dalam benak Seohyun.

Tanpa sadar, Irene tertawa geli juga. Lantaran menyadari kalau yang terjadi padanya juga Seohyun memang tergolong konyol dan tidak masuk akal. Untung saja, masih ada bus yang bekerja di malam tahun baru. Sehingga dia dan Seohyun tidak harus berjalan kaki dari Myeongdong ke Olympic Park.

Keduanya kini terhenti di komplek pertokoan. Sebagai wanita, baik Irene maupun Seohyun tentu sama-sama tidak bisa menolak insting ‘wanita’ yang seringkali menggoda netra tiap kali mereka melakukan perjalanan.

Seperti sekarang, contohnya. Irene dan Seohyun sama-sama terpana pada salah satu toko pakaian yang keindahan dekorasinya bisa terlihat dari jendela kaca yang ada di depan toko.

“Wah, lihat dress itu, cantik sekali ya?” Irene berkomentar, tatapannya tertuju pada sebuah dress sebatas lutus berwarna peach dengan hiasan berbentuk bunga mawar kecil berwarna hitam di bagian bawahnya. Tentu, Irene bisa membayangkan bagaimana penampilannya jika ia mengenakan dress itu.

“Kupikir dress itu tidak akan muat untuk kita berdua.” sontak komentar Seohyun membuat Irene gigit bibir. Benar juga, Irene jelas melihat bagaimana kecilnya tubuh manekin yang sekarang mengenakan dress cantik tersebut.

Tak salah lagi, Irene mungkin harus menghilangkan beberapa kilo bobot tubuhnya jika ia ingin mengenakan dress berukuran kecil tersebut.

“Kurasa, dress itu untuk anak-anak.” Irene lagi-lagi berkata, hal yang kemudian disetujui Seohyun dengan begitu mudahnya.

Mungkin, keduanya sama-sama menolak argumen yang tercipta di benak mereka lantaran merasa sedikit ‘terlalu besar’ untuk sebuah dress. Sampailah keduanya pada simpulan bahwa dress tersebut lah yang terlalu kecil hingga tidak pantas untuk mereka kenakan.

“Benar, itu dress untuk anak sekolah. Ayo, kita harus naik bus satu kali lagi untuk sampai ke Olympic Park. Kupikir kita bisa menemukan bus travel kita nanti di sana. Menghabiskan uang untuk naik bus juga terasa mengesalkan.” Seohyun berucap, tatapannya sekarang ia arahkan pada sebuah halte di seberang jalan.

Deru sebuah mobil sempat merenggut atensi dua orang itu. Sebab keduanya merasa sedikit terkejut lantaran mendengar seseorang mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang di tengah jalanan sepi.

“Pengemudi gila, apa dia mau mencari korban tabrak lari di malam tahun baru?” Seohyun menyeletuk kesal. Irene sendiri mengangguk-angguk mengiyakan. Irene akui jantungnya sempat berencana melompat dari persinggahannya akibat suara gas mobil barusan.

“Sudah, ayo ke halte.” ajak Irene kemudian.

Dua gadis itu kemudian merajut langkah, menyeberangi jalanan kosong sambil sesekali melihat ke kiri dan kanan, khawatir jika ada pengemudi sembrono lainnya yang mungkin tiba-tiba saja muncul.

Sesampainya di halte, Irene sempat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sebelum ia menghela nafas panjang.

“Semoga kita tidak terlambat untuk festival kembang apinya.”

~

“Seohyun, ayo cepat!”

Pekikan tanpa sadar keluar dari bibir Irene saat ia sadar bahwa keramaian di Olympic Park sungguh tidak main-main. Kalau saja ia tidak memegang Seohyun erat, mungkin keduanya sudah terpisah dan beberapa menit kemudian akan saling mencari sebelum akhirnya sama-sama menjadi orang hilang.

Untung saja, Irene adalah seorang yang tidak ingin mengambil resiko. Jadi sejak tadi ia mencengkram erat lengan pakaian Seohyun seolah saudarinya itu berusia tujuh tahun dan tidak boleh lepas dari pengawasannya.

Mengabaikan dinginnya udara dan sekaligus melupakan keinginan keduanya untuk menemukan bus travel mereka tadi—seperti yang Irene juga Seohyun rencanakan—keduanya justru terpana pada keramaian yang sekarang ada di depan mata.

Tentu, pemandangan semacam ini bukan hal baru bagi Seohyun yang notabene bekerja sebagai public figure dan sering berhadapan dengan keramaian. Tapi bagi Irene yang lebih banyak menghabiskan waktu sendiri? Keramaian semacam ini tentu jadi sebuah pemandangan langka baginya.

“Kenapa kau melamun? Memikirkan siapa, huh?” sempat Seohyun bertanya ketika keduanya memutuskan untuk duduk di depan monumen utama yang ada di Olympic Park saat dilihatnya Irene menatap langit malam dengan tatapan kosong.

Kini, Seohyun melempar pandang penuh tanya, sementara di bibirnya terukir senyum jahil yang begitu ingin tahu.

“Tidak ada, aku hanya memikirkan teman-temanku.” Irene menyahut, senyum tipis tersungging di wajahnya saat ia kemudian membenarkan posisi syal hitamnya, ingin mengurangi dingin yang nampaknya mulai tertarik untuk menerpa kulit.

Tentu, Irene tidak mungkin menceritakan pada Seohyun tentang apa yang ia pikirkan sekarang. Meski sebenarnya, apa yang Irene pikirkan adalah sesuatu yang wajar dan masuk akal.

Ya, jangan tanya apa yang Irene pikirkan ketika ia melihat keindahan langka semacam ini. Mau tak mau, ia sebenarnya memikirkan Kai, sebersit bayangan pemuda berkelakar dingin itu mencubit ingatan Irene ketika ia sempat melupakan eksistensi Kai lantaran terlalu senang dengan waktu yang ia habiskan bersama Seohyun sejak tadi.

Kini, melihat pemandangan semacam ini justru membuat Irene teringat pada sosok Kai. Tidak ada hubungannya dengan Kai, memang, Irene tahu itu. Tapi mau tak mau pikirannya justru bertingkah berbeda dengan keinginannya sekarang.

Irene rindu eksistensi pemuda Kim itu.

“Lihat, kembang api!” pekikan Seohyun menyadarkan Irene dari lamunannya, sekon kemudian bertubi-tubi suara bising masuk ke dalam rungu Irene.

Hal berikutnya yang Irene sadari adalah langit yang sekarang telah dipenuhi oleh warna-warni indah memanjakan mata. Senyum tanpa sadar ikut muncul di wajah Irene saat netranya berfokus pada pemandangan indah tersebut.

Kurang lebih lima belas menit Irene habiskan dengan menatap puluhan kembang api yang menghiasi langit kota Seoul. Meski Irene tahu, keramaian dan keindahan lain juga menyapa langit Seoul dari tempat lain, tapi Olympic Park tentu punya keindahan yang berbeda.

“Ah, andai dia ada di sini dan kami bisa melihat pemandangan indah ini bersama.” tanpa sadar Irene menggumam saat festival kembang api tersebut berakhir.

Diam-diam, bayangannya tentang bagaimana indahnya pergantian tahun jika saja ia bisa mengetahui bagaimana ekspresi Kai ketika melihat keindahan yang sekarang dilihatnya entah mengapa membuat Irene mau tak mau berharap lebih pada keajaiban.

“Apa? Kau bicara tentang sia—aw!” Seohyun mengaduh saat seseorang dirasanya menyikut bahunya.

Sekon kemudian, Irene melempar pandang ke arah Seohyun yang memasang ekspresi super kesal.

“Kenapa denganmu?” tanya Irene.

“Tidak ada. kupikir salah seorang dari mereka menyenggolku barusan. Tapi tidak ada yang meminta maaf, dasar bocah Seoul.” Seohyun mengomel, lirikan tajam ia tujukan pada dua orang pemuda yang baru saja beranjak dari kursi yang ada di belakangnya.

Irene, tanpa sadar melemparkan pandang ke arah yang dipandang Seohyun. Meski ia pada akhirnya tidak menemukan sosok yang dimaksud Seohyun lantaran banyaknya orang yang hilir mudik di sana.

“Sudahlah, mungkin dia tidak sengaja menyenggolmu.” Irene berusaha menengahi kekesalan yang dialami saudarinya ini.

Seohyun, akhirnya menghembuskan nafas kesal. Percuma juga merasa kesal pada orang-orang yang bahkan tidak ditemukannya lagi sekarang, bukan?

“Benar juga. Omong-omong, kau tadi bicara tentang siapa?”

Pertanyaan Seohyun kini membuat Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Oh, tentu dia tidak bisa bercerita tentang Kai begitu saja sekarang. Irene tidak bisa bayangkan bagaimana ekspresi ayah dan ibunya jika tahu bahwa satu-satunya orang yang dekat dengan Irene di Claris adalah seorang pria.

“Tidak, aku hanya bicara tentang teman satu kamarku.”

Untuk kali ini, mungkin ada baiknya bagi Irene jika dia berbohong tentang Kai.

~

~

~

a/n:

HAPPY NEW YEAR EVERYBADEH!

29 thoughts on “WINGS – NEW YEAR EDITION — IRISH’s Story

  1. Heol, mereka berada di tempat yang sama duduknya deketan gitu tapi sama sekali gak sadar, udah kayak sinetron indo nih, haha
    itu apa cerita mukanya irene ketutup mantelnya dia sampai2 baik kai maupun chanyeol gak bisa liat wajahnya dia?

  2. Keren. 👌
    Kerja sama yg apik, pas awal baca dan lihat castnya Kai-Irene tertarik, karena apa, jarang ada FF cast mereka, dan aku lebij suka couple yg jarang ada. 😂 Contoh FF One and Only Baekhyun-Yeri, aku jadi demen mereka, dan FF ini juga bikin aku demen sama KaiRene, kaya HerryPotternya, sekolah magis gitu, hahaha FF fantasi yg keren banget, tahu ngak ampe kebawa mimpi. 😥 Tahu ngak ampe teriak pas Kai nyelametin Irene, ampe dilempar bantal sama emak karena berisik. 😂 Tahu ngak aku nemu FFnya udah malem karena nyoba lihat apa One and Only udah di update eh nemu ini, ampe ngupek nyari2 cerita2 sebelumnya. Bacanya itu senyum2 sendiri ampe buat ibuku heran katamya kesambet apa, malam jumat lagi, alhasil pindah ke kamar, baca ampe ngak sadar subuh. 😂😂
    Typo ada, tapi dikit, dan ngak masalah ah yg penting ceritanya. Tahu ngak ampe aku ke kmar mandi bawa hp baca ff ini tengah malem, 😂. Tahu ngak mulu, Aku harap konflik nya ngak berat amet ya, hahaha coba ini dibuat filem keren wee, buktinya aku aja ampe bayangin loh. 😂
    Sejauh ini ceritanya keren, ada misteri yg aku tangkap(nangkap apa coba), Kenapa kai ke sekolah magis, kekuatan alami, begitupun Irene kenapa di kirim kesana. Pertanyaan ku mereka ngak pakai seragam kah? Wkwkwk

    Sumpah keren, bingung mau ngetik gimana lagi.Cocok kok mereka castnya. Momo adeknya Kai kan ya, marganya sama soalnya, nama koreanya. 😂 Chanyeol jadi moodmaker, 😂 irene pendiam tapi kalau didepan Kai cerewetnya minta ampun, moment mereka itu bikin fly ke langit 7, apa Taehyun bakal jadi orang ketiga, btw 2 minggu sekali ya update nya, huh bakal aku tunggu kok. 😂😂

    Sukses ya. 😂😂

    • Aku hea hunie kk, lupa password wp btw, semoga inget sama readersmu ini, salam kenal buat dedek AL ganteng. 👍👍 Aku suka banget, jarang FF Kai-Irene, terimakasihya 😂😂

      • DAN PART INI BIKIN BAPER TAHU, DARI AWAL ITU MEREKA SALING LIHAT WALAUPUN NGAK SECARA LANGSUNG, 3X WOII, MALL, JALAN DAN APA ITU DIBELAKANGNYA DOANK, AHH GREGET, SEMOGA MEREKA SATU KERETA LAGI. MAAF AKU NGEPAM. 😂

    • Woah, komen mu bikin diriku speechless. Seriusan, ini komen terpanjang selama Wings sudah mengudara 😶. Haha, terima kasih sudah suka couple KaiRene, sebenernya ada alasan pribadi Al pilih mereka berdua. Itu dikarenakan baca FF ‘You Are My Destiny’ karya Se Ryung, cast utamanya Baekhyun-Suzy, tapi ada KaiRene couple disana dan pas melakukan visualisasi adegan KaiRene di FF itu, Al ngerasa… Well, they are good together, jadilah Al membuat KaiRene couple disini 😂. Mungkin baca Wings juga membuat efek samping seperti senyum2 sendiri, bahkan teriak?😁😁😁 Al sendiri sebenernya takut untuk nulis bagian action atau bahkan semua adegannya, takutnya ga bisa se-irama sama tulisan Kak Irish yang nanti ngebuat feel pembaca jadi hilang😐. Film? Oalah😂😂😂, beberapa orang yang tahu storyline FF Wings ini bahkan ada ysng bilang dijadiin buku atau film atau seminimalnya Anime, haha, so you’re not the first but i’m still happy that you say this FF is good enough to be filmed 😳😳. Sebenernya misteri di FF ini masih banyak, mau yang melibatkan tokoh utama atau cuma support cast juga ada, so i’m sorry because the conflict here will be complicated😁. Yep mereka emang ga makr seragam, mereka kaya anak kuliahan😋. Untuk ngejawab siapa Momo mungkin emang pacarnya Kai? Ga ada yang ga mungkin dan lebih seru kalau dikau ikutin sendiri😗. Wkwk, mungkin disini momen romancenya KaiRene itu adult-romance, jadi ga kaya sweet momen anak sekolah(?). Yep, aku juga sama2 sudah membaca FF KaiRene ini, happy to see you happy😊. Gapapa kok ngespam, wkwk. Mereka itu mungkin akan dijadiin couple yang gemes dan cringe-worthy haha😂😂😂. Dan yeah, meskipun update 2 minggu sekali tetep ikutin ya, see you om ep 3 and thanks for reading this fantiction😉.

  3. kalian berdua ditempat yg sama.. tapi kalian gk sadar.. takdir macam apa yg mempermainkan kalian… //lirik AL & Irish/////////
    yaelah komentarku terlalu berlebihan… maapkan daku yg baru baca.. alasan biasa.. ekheemmm sibuk

  4. Uhh… Gemeshh sm mreka brdua!!! Itu udah deket banget loh, kan jdi kurang romantis. Udh segini aja cuap2 aku😊😊😊😊😊
    Moga WINGS tetap jaya slalu🎆🎇🎉🎊🎎😆😃😁

  5. Helllooooo
    Kai, Irene, buka dong mata lebar-lebar,
    pasang telinga baik-baik
    orang yang kalian pikiran pas ngeliat kembang api itu ada dibelakang kalian, DIBELAKANG
    astaga, please deh noleh dong
    pas balik eh, malah keburu hilang
    ~errr, gemes deh sama mereka berdua
    huuaaaa dasar malu-malu kucing dua-duanya

    • Wkwk mereka ini termasuk cringe-worthy ya?😂😂😂 Biasanya kan kalo orang sibuk sama pikiran masing-masing suka ga sadar sama keadaan sekitar mereka hehe. Thanks for reading and please wait for next episode😉

  6. IYA, TERUS AJA BEGITU ABNG SAMA MBAK, UDAH TAU BELAKANG-BELAKANGAN MASIH AJA GAK KETEMU, SEKETIKA INGIN NGUMPAT /DIBALANG/ 😂😂
    WANITA MENOLAK GENDUT, INTI DARI PERCAKAPAN IRENE SEOHYUN KE MANEKIN😂😂😂
    MUNGKIN GEGARA INI DITULIS COWOK JADI PERCAKAPAN CHAN KAI JADI AGAK NYATA GITU YAW, WKWK/DIBALANG/ SECARA COWOK YG PALING TAU SUDUT PANDANG COWOK😂😂
    INI KEPS EGEN, MIAN -,-
    HAPPY NEW YEAR!! 🎊🎆🎎🎉

    • Boleh kasih bocoran kagak?.-. Sebenernya Wings ep ini asli cerita nyata dari hidup Al, waktu taun baru 2014 Al pernah janjian sama seseorang terus ga ketemu sampe kembang api pada nyala. Pas ane tanyain dia dimana, ternyata posisi kita cuma kepisah sama motor yang diparkir dan kita ga sadar 😂😂😂 Wkwk, anyway, Thanks for reading😉

      • Astaga, itu 2014 berarti al masih umur hampir 14 taun udah janjian ketemuan ama cewek, mcmcm,😂😂
        Miris ye bg, kepisah motor doang gak ketemu di doi/digampar/😂
        Tapi keknya setiap epep ada yg dari kisah nyata author keknya, Wkwk, ane juga ada soalnya/ganyaki/😂
        Ditunggu next chapnya,🙌😁

  7. wawawawawaw. udh malem minggu, jomblo, baca ginian, makin kerasa aja yaa jomblo nyaa. duh sedih. merekaa saling memunggungi lhooo duh grget pengen jedorin kepala mereka berduuuaa. dan hepi nyu yeur buat ka irish sama ka altair. dan buat diri aku sendiri. suka sedih gada yg ngucapin 😥

    • Uluh uluh, sedih mu kayanya berkali2 lipat ha huhu :”. Tenang aja, baca Wings aja, jadi tenang hahaha😂 Thanks for reading anyway and yep KaiRene di hati hahaha 😉

  8. Padahal tinggal berbalik aja apa susahnya ~~ ampun deh gemes bangett😣😣
    Anyeonghaseyo IRISH eonni dan ALTAIR oppa dan semuanya maaf sebelumnya saya reader baru di ff ini dan baru baca chapter ini mohon kerja sama nya 😊😊 pas baca saya langsung suka ma ff ini kak IRISH dan kak ALTAIR semangat nulisnya ditunggu next partnya 💞

    • Kkk, kira2 kalo kami jadi mereka, kamu mau ngapain wkwk? Wkwk, lebih baik telat daripada engga sama sekali wkwk. Haha, kira2 kalo kamu masuk ke dunia WINGS, kamu mau punya kekuatan apa? Hihi. Siap, please look forward to Ep 3!!! And thanks for reading😉

  9. Aku kira kai sama irene akan ketemudi olympic park tapi tidak. Nggak apa-apa pokok nya aku udah senang banget kakak udah publish lagi. Ditunggu next chapter nya.

  10. Yaelah, dua manusia berbeda jenis itu gak nyadar apa mereka saling membelakangi -,-? Setidaknya aura tubuh masing-masing mereka kenal 😂😂😂
    HAPPY NEW YEAR KAK IRISH, BANG ALTAIR!!! Btw, apa wish 2017-nya? Tidak menjomblo-kah? 😂😂😂 /dihajar massa/

    • Mereka galau, sibuk dengan orang yang mereka pikirin sampe ga aware sama sekitar mereka 😂😋😂 buset, lebih baik Kak Rish dulu lah yang dapet jodoh. Ane mah belakangan wkwk. Thanks for reading anyway😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s