Little Christmas (Series) – Twenty Four – Shaekiran

2

Twenty Four

A Christmas special fiction written by Shaekiran

Kai x Seulgi

In Romance, AU and campus life story

Vignette long with PG-17 Rated

Disclaimer

Shaekiran’s little chirstmas project with EXO. Standard disclaimer applied. Please enjoy and Merry Christmas!

Previous Series

For Life |Falling For You | What I Want For Christmas | [Now Playing] Twenty Four |

“Your ice eyes take my breath away.”

©2016 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

Hiruk-pikuk di café ini lumayan juga. Awalnya kupikir natal jurusan di tahun pertamaku tak akan cukup berkesan, namun sepertinya dugaanku salah. Pesta ini cukup meriah dan banyak gadis-gadis cantik. Well, yang kucari saat pesta sebenarnya bukan bir dan segala macam merk minuman atau santap pangan. Sebagai lelaki normal yang pubernya masih berlangsung, gadis tentunya menjadi alasan no.1 kenapa aku mau datang ke pesta semacan ini.

“Kau kan jomblo ngenes hyung, yang kerjanya hanya belajar dikamar,” kataku mengejek pada Kyungsoo, sepupuku yang kebetulan satu jurusan denganku. Hanya saja ia berada 1 tingkat di atasku karena umur kami terpaut setahun. Kyungsoo nampak memutar matanya malas, sudah kuduga ia akan tersinggung ketika ku ejek seperti itu. Memangnya siapa suruh ia lebih suka buku daripada gadis? Lama-lama kupikir puber orang satu ini terlambat.

Ya! Dasar kau-“

Bye hyung, aku ingin cari pasangan dulu,” potongku cepat sebelum Kyungsoo hyung menyelesaikan kalimatnya. Bisa gawat kalau ia sudah mulai mengomel, dia sebelas duabelas dengan ibuku kalau soal itu. Lantas kugerakkan langkahku cepat menjauhi Kyungsoo yang hanya menatapku malas. Yah, melarikan diri sepertinya lebih baik daripada aku berakhir diceramahi semalaman karena sudah mengejek statusnya.

“Hai,” sapaku pada beberapa gadis sejurusanku setelah kulihat jarakku dan Kyungsoo sudah cukup jauh. Saatnya mencari bangsa bung!

“Hai, mau duduk disini Kai?”, tawar kumpulan gadis itu ramah. Sudah kubilang kan, aku ini tampan dan banyak gadis yang bisa ku pincut dengan mudah.

 

 

“Kai,” sebuah suara yang kini memanggil namaku perlahan membuatku mendongakkan kepala yang sedari tadi tertunduk. Kutatap gadis yang baru saja menyapaku, siapa namanya? Kang Seulgi kah?

“Ya Seulgi-ssi?” kataku dan gadis di depanku itu nampak geleng-geleng kepala.

Ya! Aku ini Choi Sulli!” katanya agak kesal dan aku baru tersadar kalau dia memang Sulli dan bukannya Seulgi. Sial, sepertinya aku mabuk sampai salah mengenali temanku sendiri.

“Jadi bagaimana? Kau berhasil mendekati sepupuku?” tanyaku setelah pikiranku mulai agak waras.

“Sepupumu cukup menarik, tapi dia baru saja pamit pulang setelah mendapat telfon,” katanya agak kesal kemudian duduk disebelahku. Oh, sudahkah aku bilang kalau aku berbaik hati menyuruh Sulli mendekati Kyungsoo agar hyung-ku itu tidak terlalu kesepian di pesta natal ini?

“Dan kau, cepat kelarkan mabukmu itu bodoh,” ucap Sulli lagi sambil mendorong bahuku pelan. Kutatap ia memicing.

“Kau bahkan gila mengira aku ini Seulgi, kalau kau memang tertarik dengan gadis es itu bilang padaku, jangan pengecut Kai!” katanya lagi sambil memangku kedua tangannya di dada. Aku menatap Sulli yang mengoceh sedari tadi dengan bingung. Tertarik dengan Seulgi katanya?

“Siapa bilang aku tertarik dengan es berjalan itu,” kataku mengelak dan anehnya si Sulli teman SMA ku ini tersenyum miring.

“Aku sudah lama mengenalmu dan aku berani bertaruh kau menyukai Seulgi, invers-mu itu.” Katanya percaya diri dan aku hanya memutar mataku malas.

“Benarkah? Tapi sepertinya kau salah,” kelakarku dan Sulli nampak kesal. Ia masih bersikukuh dengan pendapatnya.

“Mau bertaruh?” tanya kemudian dan aku yang suka tantangan langsung mengangguk iya.

“Kalau kau memang tidak menyukai Seulgi, sekarang coba temui dan gombali dia, buat kau sebrengsek mungkin di depannya,” jelas Sulli menggebu-gebu. Aku menatap gadis aneh ini remeh. Hanya begitu saja? Tentu saja mudah bagiku.

“Lalu apa hadiahnya?” tanyaku dan Sulli nampak tersenyum penuh arti.

“Kalau kau bisa mencium bibir Seulgi, terserah kau mau melakukan apa padaku. Aku bahkan rela mendesah di bawahmu kalau kau bisa menciumnya tanpa ditampar,” kata Sulli yakin sementara kini mataku membulat sempurna. Apa Sulli serius dengan ucapannya barusan?

“Baiklah, kalau begitu siapkan desahan terbaikmu nona Choi, karena aku akan segera mendaptkan si es itu,”

 

 

Kuitari pandanganku ke sekeliling sudut, barulah setelah benar-benar fokus akhirnya aku menemukan keberadaan Seulgi yang sedang menjadi bahan taruhanku dengan Sulli. Gadis es itu tengah duduk sendirian di sudut café sambil memandang jalan raya lewat kaca transparan di sebelahnya. Jadi tanpa babibu lagi, segera kurajut langkahku mendekati Seulgi.

“Hai,” sapaku sambil duduk di sebelahnya, mengikis jarak sebanyak mungkin agar posisiku benar-benar dekat dengan Seulgi. Sementara ia kini menatapku risih. Tentu saja, bicarapun tak pernah tapi kini aku sok dekat dengannya.

“Kenapa kau disini?” tanyanya sambil menggeser posisi duduknya menjauh. Ia benar-benar risih agaknya dengan kehadiranku. Oh, sudahkan aku memperkenalkan siapa Seulgi ini? Ia adalah si jenius sastra Inggris, peraih ip cum laude hampir sempurna dan gadis terdingin yang pernah kutemui. Aku tidak pernah mengincarnya, namun tantangan Sulli kini membuatku harus mengganggu Seulgi yang malang.

“Tidak ada, hanya ingin duduk saja. Memangnya tidak boleh?” jawabku dan Seulgi hanya memutar matanya malas, enggan menjawabku lagi. Gadis yang benar-benar irit bicara rupanya.

Hmm, Seulgi-ssi, nomor absentmu berapa?” tanyaku akhirnya seperti orang bodoh, sial, agaknya pikiranku mulai kacau sekarang. Kenapa pula aku membicarakan absent?

“24, memangnya kenapa?” tanyanya dan aku hanya tersenyum sumringah seakan mendapat jackpot.

“24? Ah, pantas saja selama 24 jam sehari aku selalu membayangkanmu,” ucapku sambil mengedipkan sebelah mata, sementara kutatap Seulgi menatapku super datar. Ayolah, ia tidak tersipu sama sekali. Apa gombalanku terlalu receh?

Ani, sepertinya Prof.Kim salah memberi nomor absent padamu,” lanjutku lagi dan Seulgi nampak menatapku tak peduli. Tiba-tiba ia berdiri, berniat pergi menjauh dariku.

Grep!

“Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara,” kataku sambil menahan pergelangan tangan Seulgi yang nampaknya sudah gondok dengan sikapku. Biarlah, ini demi taruhan.

“Kenapa lagi?” tanyanya dan aku hanya tersnyum tipis, lantas aku berdiri, kemudian mencium permukaan tangan Seulgi yang membuat gadis itu terhenyak kaget bukan main.

“Karena kau selalu nomor 1 di mataku,” kekehku sambil melepas bibirku dari permukaan tangannya, kemudian tersenyum penuh arti. Sial, kenapa ia malah terlihat cantik setelah dilihat dari jarak sedekat ini?

“Kai-ssi, tolong lepaskan tangan-“

Cup!

Dengan cepat kutempelkan bibir tebalku di atas bibir penuh Seulgi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, membuat gadis Kang ini kaget bukan main. Astaga, apa kau gila Kai? Kenapa bibir gadis ini malah memabukkanmu? Awalnya aku hanya ingin menempelkan bibir saja dan selesai, namun rasa manis karena sentuhan bibirku dan bibirnya seakan membuatku menuntut lebih hingga kini bibirku melumat nafsu atas gadis itu. Ayolah, kenapa ia tidak membalas lumatanku? Atau kenapa ia tidak membuka mulutnya saja agar lidahku bisa masuk ke dalam?

Seulgi menolakku, tepatnya ia marah dengan perlakuan yang sedang kuperbuat sekarang. Ia meronta sedari tadi, memukul-mukul punggungku dan bahkan mendesak agar aku melepaskannya. Namun tenaganya harus kalah dengan tenaga laki-laki sepertiku.

Brughh!

Kini bahkan punggungnya sudah membentur dinding café, namun aku sama sekali belum puas mencicipi bibir Seulgi yang diam-diam ternyata sangat memabukkan.

Beberapa menit kemudian aku melepaskan tautanku dengan Seulgi, mulai mencari-cari nafas karena sedari tadi aku sudah kehabisan oksigen.

PLAKKK!

Tamparan telak itu mendarat manis di pipiku. Ya, Seulgi menamparku sangat-sangat keras hingga kini selain pipiku tangannya juga menyerngit kesakitan.

Brughhh.

Ia mendorongku yang sedang lengah di depannya hingga aku jatuh terduduk di lantai. Sialan, gadis ini kasar sekali. Namun tidak cukup seperti itu. Tak berselang lama kurasakan rasa dingin mengenai kulitku.

Byuur!

Seulgi menyiram wajahku dengan segelas air yang ntah darimana ia dapatkan, mungkin dari salah satu meja pelanggan di café ini.

“BRENGSEK!”, teriaknya kemudian berlalu pergi dari café dengan emosi membludak. Aku tertawa dalam hati sambil merapikan tatatan rambutku yang kini basah.

Ya Kim Kai, gwenchana?” tak berselang lama setelah kepergian Seulgi, Sulli datang menghampiriku.

Gwenchana?” tanyanya dan aku hanya terkekeh.

“Sepertinya aku mabuk,” kataku dan Sulli langsung marah-marah.

“Kau memang mabuk dari tadi bodoh! Padahal aku hanya bercanda tapi kau melakukannya dengan serius,” sesal Sullli sambil memandangi penampakanku yang cukup menyedihkan di matanya-mungkin.

Gwenchana,” kataku dan Sulli nampak cukup terkejut.

“Justru aku berterimakasih karena candaanmu aku bisa mengenal Seulgi,” kekehku dan kulihat bola mata Sulli yang semakin membulat bingung.

Lantas kupaksakan badanku berdiri. Masa bodoh meski kini semua orang menatapku dengan bermacam ekspresi antara jijik dan takjub dengan aksiku barusan. Sungguh, Seulgi benar-benar memabukkan dan membuatku candu. Bohong kalau kubilang aku tidak terpikat dengan si Kang itu sekarang. Bahkan jika Sulli tidak mengajak taruhan pun, kupastikan aku harus medapatkan gadis satu itu.

“Ya Kim Kai, mau kemana kau?” runguku masih jelas mendengar teriakan Sulli yang bingung karena tiba-tiba aku berlari keluar café, namun aku tidak mengindahkan teriakan gadis Choi itu. Malah kupercepat lagi langkahku dan terus berlari mengejar Seulgi yang pergi beberapa menit lalu. Ayolah, aku ingin gadis Kang itu sekarang.

Kuitari pandanganku ke sekeliling luar café saat badanku seutuhnya sudah ada di luar. Kemana gadis Kang itu pergi huh? Lantas karena tak meihat sosok Seulgi, aku dengan nekad dan feeling seadanya berlari kekanan, berharap kalau saja Seulgi tadi memang lewat jalan ini.

Dan sepertinya Tuhan ingin memberikan natal yang panas padaku karena kini aku menemukan sosok Seulgi. Ya, gadis Kang itu tengah berdiri di halte sambil melirik jam tangannya. Cih, dia mau pulang rupanya.

Ekhmm,” ku dehemkan suaraku tanpa takut saat kini jarakku dan Seulgi hanya bersisa 2 langkah. Kulihat gadis itu membulatkan matanya, lalu langsung memplototiku dingin.

“Mau apa kau? Belum puas ditampar?” katanya dengan nada tak suka dan mata dingin menusuk. Seulgi, bahkan tatapan esnya bisa membuat paru-paruku seakan berhenti bernnafas sakin terpakunya.

“Ya, aku belum puas ditampar oleh bibirmu,” jawabku seduktif dan kutatap mata nyalang Seulgi semakin menjadi-jadi. Ayolah, kupastikan ini jadi malam natal yang hangat Seulgi-ssi. Aku terlanjur mencintai bibirmu. Saranghae.

 

 

FIN

 

 

 

Next : Winter Heat – Chanyeol x Wendy

 

 

Shaekiran’s note

Percayalah, awalnya Shaekiran tidak ingin menciptakan Kai yang semacam ini, namun apa daya, Kai bawaannya pengen lari dari PG-15 mulu dan Eki bingung ngebuat image polos kayak series sebelumnya. Maaf, jadi biarlah Kai menjadi satu-satunya yang mikir malam natal itu harus panas/digampar/ -,-

7 tanggapan untuk “Little Christmas (Series) – Twenty Four – Shaekiran”

  1. Palung suka kalo karakter kai jadi bad boy kaya gini cocok banget.
    Dan yg paling bikin seneng cast cewe nya srulgi ^_^

    Sayang ceritanya kependekan thor ㅠㅠ
    Berharap bnget ada lanjutannya.
    Keren banget ceritanya. Jadi pnasaran kalo di lanjut kai bisa dapetin deulgi enga ya?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s