Little Christmas (Series) – What I Want For Christmas – Shaekiran

 

img_20161228_010358

What I Want For Christmas

A Christmas special fiction written by Shaekiran

Baekhyun x Yeri

In Romance, fluff, AU, work and campus life story

Vignette long with T Rated

Disclaimer

Shaekiran’s little chirstmas project with EXO. Standard disclaimer applied. Please enjoy and Merry Christmas!

Previous Series

For Life |Falling For You | [Now Playing] What I Want For Christmas |

“Cause you’re the one.”

©2016 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

 

Salju nampak turun tipis, menemani malam natalku untuk kesekian kalinya. Tak menunggu lama, ditemani sebuah mantel cokelat dan sepatu kets sederhana, kulangkahkan kakiku menuju sebuah tempat yang sudah kujanjikan bersamanya – café tempat pertama kali kami bertemu dulu.

Duduk berdiam di tempat biasanya ia duduk ternyata menyenangkan, sungguh. Dari kursi sudut ini aku bisa melirik jendela, menatap siapa saja yang keluar masuk café dengan leluasa. Hei, setidaknya itu bisa mengusir kebosanan sembari menunggunya bung, dan yang paling menyenangkan adalah saat melihat sosoknya kini memasuki café.

“Ah, oppa. Maaf, aku terlambat. Jalanan sedikit macet dan sekolahku usai lebih lama hari ini,” kekehnya yang kemudian duduk tepat di depanku. Gadisku yang sedari tadi kutunggu.

Gwenchana, aku juga baru datang,” bohongku meski aku sudah ada disini sejak setengah jam yang lalu, setidaknya itu bisa membuat gadis ini senang karena tidak tau aku sudah lama menunggunya. Ia orang yang sering tidak enakan omong-omong.

“Aku jadi tau kenapa kau dulu sering duduk disini sambil menguntilku,” ucapku memulai konservasi dan ia nampak terkekeh.

“Memangnya kenapa? Toh tidak ada larangan murid SMP memandangi pekerja paruh waktu di café ‘kan?” katanya membela diri dengan wajah tersipu-sipu. Oh, apakah aku sudah bilang kalau dari meja ini kita bisa melihat langsung ke arah meja kasir tanpa ketahuan?

“Pantas saja kau sering merengek minta duduk disini, bahkan kalau ada yang sudah menempatinya kau pasti akan menunggu sambil melotot hingga yang duduk disini risih dan memilih pindah,” candaku dan ia mulai mengerucutkan bibirnya.

“Itu salahmu sendiri karena membuatku jatuh hati oppa, kau tau anak SMP kadang bertindak di luar batas karena mereka belum tau malu,” jawabnya dan aku mulai terkekeh lagi.

“Berarti baguslah karena aku tidak bekerja paruh waktu lagi disini, kalau tidak bisa-bisa kau menghabiskan semua waktu belajarmu hanya untuk memandangku,” ucapku membanggakan diri dan ia nampak menatapku sok jengah-aku tau ia bercanda menatapku seperti itu. Omong-omong ekspresinya lucu sekali, membuat senyumku selalu mengembang tanpa diminta.

“Percaya diri sekali. Justru aku akan sering nongkrong disini untuk mencari siapa tau ada pelayan café lain yang lebih tampan darimu oppa,” katanya sambil menjulurkan lidah dan tanganku tak tahan untuk tidak mencubit pipinya gemas.

“Oh ya? Jadi kau ingin mencari pelayan café yang lebih muda begitu?” tanyaku penuh selidik, meski sebenarnya hanya setengah bercanda.

“Yap, benar sekali. Siapa tau aku bisa menemukan oppa SMA keren , yang bekerja paruh waktu ‘kan?” kelakarnya dan aku mulai memasang wajah cemberut.

“Jadi kau menyesal jatuh cinta pada seorang mahasiswa tahun ketiga saat SMP?” kataku sok sarkas dan ia nampak tertawa kecil.

“Hei, aku jatuh cinta pada mahasiswa tahun ketiga saat kelas 1 SMA, kau lupa kalau aku sudah SMA sekarang, hmm?” belanya sambil menunjukkan kemeja di dalam mantelnya yang bertuliskan SMA Hannyoung.

“Jadi kau baru jatuh cinta setelah aku menyatakan perasaanku begitu? Padahal dulu kupikir saat SMP kau sudah klepek-klepek padaku sehingga aku berbaik hati memintamu menjadi kekasihku,” lanjutku dan ia nampak menggeleng pelan.

“Aku memang jatuh cinta saat SMP, tapi pada seorang mahasiswa tingkat 2. Waktu SMA aku jatuh cinta lagi pada mahasiswa tingkat 3. Kau tau oppa? Aku jatuh cinta berulang-ulang,” jelasnya sambil mengulum senyum, membuatku mulai bertanya-tanya.

Ya! Buat apa jatuh cinta berulang-ulang? Apa kau tidak sakit terus-terusan jatuh hati seperti itu?” tanyaku dan ia nampak tertawa ringan.

Gwenchana, toh aku jatuh di hati yang sama,” jawabnya dan aku mulai tersenyum tipis. Sungguh, ia benar-benar pandai bicara. Gadisku yang lebih pandai menggombal daripadaku.

 

 

Omong-omong, apa aku sudah mengenalkan gadis ini pada kalian? Ah, sepertinya belum.

Perkenalkan, namanya Kim Yerim, biasa kupanggil Yeri dengan nada manja. Sekarang ia duduk di bangku kelas 1 SMA sementara aku sendiri Byun Baekhyun, seorang mahasiswa tahun ketiga. Kalian tau kan betapa jauhnya jarak usia kami?

Kami bertemu saat aku bekerja paruh waktu setahun yang lalu. Waktu itu adalah seorang siswi SMP yang kebetulan menghabiskan waktunya di café ini karena membolos les di salah satu bimbel terkenal di dekat sekolahnya. Aku tau karena ia menceritakannya sendiri saat kami sudah resmi sebagai sepasang kekasih setelah ia rutin datang ke café ini selama 3 bulan penuh. Yang melayani pesanannya waktu itu adalah aku yang kebetulan sedang shift sore, dan kalian tau apa yang ia pesan?

“Bisa aku pesan senyum manis dan waktu oppa untuk berkenalan? Sepertinya itu lebih menggiurkan dari semua kopi dan kue disini,” ucap Yeri dengan senyum mengembang dan mata yang menatap tepat ke bola mataku tanpa ragu. 

Sungguh, aku yang sudah mahasiswa pun belum pernah menemukan gadis seperti Yeri yang benar-benar berterus terang dan langsung tanpa basa-basi. Bahkan aku tidak percaya bahwa ia masih murid SMP karena gayanya yang sudah seperti top playgirl kampusku saja. Jadi waktu itu aku menjawabnya begini, berhubung aku ini anak jurusan sastra-meski sastra Inggris sih– jadi aku sedikit bersilat kata.

 

“Benarkah? Sepertinya itu bisa diatur nona, tapi agakya kau harus bersabar karena banyak sekali antrian untuk pesanan itu. Kami takut kau kehabisan stok untuk hari ini,” jawabku sambil mengedipkan mata dan ia nampak terkekeh. 

“Baiklah, jadi kalau aku datang besoknya lagi, apa aku tidak kehabisan stok tuan?” tanya baliknya dengan berani dan tentu saja aku tidak mau kalah bersilat lidah. Begini-begini nilaiku termasuk golongan top di kelas bahasa dan sastra.

“Hmm, sepertinya mungkin. Tapi agaknya besokpun kami masih kehabisan stok. Ottokhe? Karena menu ini sangat laris jadi sepertinya kau harus bersabar sedikit,” jawabku dan ia nampak mengangguk mengerti. 

“Gwenchana. Aku akan datang lagi besok, besoknya, dan besok-besoknya lagi kalau perlu. Aku benar-benar ingin pesan menu yang satu itu. Bolehkan?” katanya tanpa ragu dan aku hanya menganggguk setuju, sebenarnya setengah percaya seorang murid SMP benar-benar datang hanya untuk berkenalan denganku.

“Tentu, kalau nona tidak keberatan,” jawabku dan Yeri langsung mengulum senyumnya sumringah.

 

Hari terus berlanjut. Dan apa kalian tau? Yeri benar-benar datang besoknya, besoknya lagi, dan besok-besoknya lagi di meja yang sama. Bahkan temanku sesama pekerja paruh waktu sering bilang kalau gadis itu juga datang disaat aku tidak punya shift bekerja dan selalu meninggalkan pesan di sticky note seperti ini.

 

“Apa stok senyum dan waktu berkenalan dengan mahasiswa pelayan café itu sudah ada besok?”

 

Awalnya temanku itu heran dan bingung, jadi esoknya saat aku sudah punya shift kerja ia langsung bertanya padaku.

 

“Ada seorang gadis SMP yang menitip pesan seperti ini pada mahasiswa pelayan café. Apa itu kau?” tanyanya penasaran.

 

Awalnya aku juga menyerngit bingung. Memang hanya ada satu mahasiswa yang bekerja paruh waktu di café ini dan itu adalah aku, jadi kubaca pesan itu perlahan dengan pikiran menebak-nebak siapa gerangan gadis yang ia maksud.

 

“Apa stok senyum dan waktu berkenalan dengan mahasiswa pelayan café itu sudah ada besok?”

 

Setelah membaca kalimat tanya itu, aku terkekeh sambil menahan senyum. Gadis itu benar-beanr serius rupanya. Namun aku tidak langsung mengalah, aku ingin menggodanya lebih lama lagi. Jadi kubiarkan sticky note itu tanpa jawaban.

Esoknya Yeri datang lagi di jam yang sama dan duduk di bangku yang sama dengan senyum yang terus terkulum seperti biasanya. Sudah sebulan lebih gadis itu datang seperti ini. Dan lucunya, ia selalu meninggalkan sticky note dengan isi yang sama di meja setiap kali ia pulang tanpa kapok meski tidak pernah ada jawaban dariku.

Akhirnya setelah sebulan lebih bermain kucing-kucingan dengan gadis SMP blak-blakan yang membuatku kelimpungan sakin banyaknya sticky note dengan isi yang sama di laci kamarku –aku membawanya semua sticky note-nya pulang dan menyimpannya-, sore itu kutinggalkan sebuah sticky note kuning sebagai jawaban di meja biasanya ia duduk.

 

“Stok menunya ada sore ini. Apa kau ingin memesannya nona?”

 

Jadi, saat ia datang dan duduk di mejanya, kulihat senyum terlalu bahagia bersarang di bibirnya. Tak menunggu waktu lagi, aku datang kemudian menyerahkan buku menu padanya.

 

“Aku pesan senyum manis dan waktu berkenalan dengan oppa, “ katanya cepat tanpa melirik buku menu yang kuletakkan di depannya. 

“Baiklah, namaku Byun Baekhyun, mahasiswa tingkat 2 di Univeristas Seoul jurusan Sastra Inggris,” aku tersenyum, kemudian mengulurkan tanganku ke arahnya.

“Harga menunya adalah senyum balik dan waktu berkenalan dari nona penyabar ini, apa kau ingin membayarnya secara cash nona?” lirihku dan ia langsung tersenyum –tepatnya terkekeh geli- sambil menjabat tanganku.

“Kim Yerim, siswi kelas 3 SMP Hannyong. Senang berkenalan dengan oppa setelah sekian lama,” ucapnya sumringah dengan bahagia yang tidak ditutup-tutupi. Sungguh, ia gadis yang sangat berani dan polos sekaligus, gadis bertekat kuat yang sangat langka.

 

Dan seperti itulah aku mengenal Yeri yang tanpa sadar sudah mengukir namanya di relung hatiku.

 

 

Duduk bersama Yeri di meja yang dulu menjadi tempat melekatnya sticky note dengan kalimat yang sama selama berbulan-bulan itu kini menjadi cara kami berdua menghabiskan malam natal bersama-sama. Ditemani pasta serta beberapa desert dan cappuccino panas sebagai pelengkap kami mulai berbincang, melepas rindu setelah beberapa hari kami tidak bertatap muka karena kesibukan kami masing-masing. Yeri dengan UAS dan berbagai bimbelnya, dan aku dengan jadwal kuliah yang semakin padat dan tugas yang semakin menumpuk.

Keputusanku mengundurkan diri dari café ini pun sebenarnya karena aku sudah terlalu sibuk kuliah, hingga waktuku bertemu Yeri pun semakin berkurang. Namun aku tidak salah pilih, Yeri adalah gadis yang sangat perhatian dan maklum dengan jadwalku yang kian lama kian padat.

Oppa, kenapa dengan telingamu, huh? Kenapa merah sekali?” tanya Yeri tiba-tiba saat kami tengah menyantap pasta sebagai makan malam. Kusentuh telingaku dan ku arahkan ke kaca di belakangku. Yeri benar, telingaku memerah.

“Ah, gwenchana, sepertinya ada yang tengah membicarakanku sekarang,” terangku sambil tersenyum kecil, membuat Yeri menghentikan gerakan garpunya kemudian menatapku intens.

“Siapa?” tanyanya penasaran.

“Mungkin gadis-gadis kampusku. Kau tau, mungkin mereka sedang bergosip ria atau sedang bersedih ria karena salah satu face of the campus tidak hadir di pesta natal jurusan,” kekehku dan Yeri mulai nampak menatapku dengan pandangan setengah percaya.

“Hei, kau pikir aku bohong? Seharusnya kau berbangga hati karena punya kekasih yang punya banyak fans sepertiku ini,” lanjutku sambil menepuk-nepuk dada bangga dan Yeri langsung mengelus rambutku pelan.

“Terserahmu saja,” katanya, kemudian kembali menyibukkan diri dengan garpu dan pasta.

“Oh iya Yeri, kau ingin apa dariku sebagai kado natal besok?” tanyaku lagi dan Yeri nampak tersenyum penuh arti.

“Kau,” ucapnya singkat dan membuatku mulai bertanya-tanya.

“Aku?” ulangku sambil menunjuk diri sendiri dan Yeri langsung mengangguk.

What I want for Christmas is you oppa,” jawab Yeri dan senyumku langsung mengembang tanpa diminta. Gadis ini benar-benar membuatku semakin gila dan jatuh dalam pesonanya. Aku benar-benar tidak salah memilih jatuh di hatinya.

Saranghae,” ucapku kemudian sambil menghapus sisa saus pasta di bibirnya, dan gadisku itu langsung melakukan hal yang sama, menyentuh sudut bibirku. Bukankah kami benar-benar romantis?

Nado saranghae oppa,” balasnya lagi-lagi tersenyum.

Ya, yang kuinginkan untuk natal besok dan hari-hari selanjutnya hanya Yeri, menghabiskan waktuku sebanyak mungkin dengannya dan bercanda ria sepuasnya hanya dengan dia. Memangnya siapa yang peduli jarak usia kami yang cukup jauh? Toh kami saling mencinta dan itu sudah cukup membuat kami bahagia. Saranghae.

 

 

-FIN-

 

 

Next : Twenty Four – Kai x Seulgi

 

 

 

Merry Christmas!

Yuks, siapa yang gemes pengen ngemut Baekhyun ama Yeri? :3

9 thoughts on “Little Christmas (Series) – What I Want For Christmas – Shaekiran

  1. Ping-balik: Little Christmas (Series) – Winter Heat – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: Little Christmas (Series) – Twenty Four – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Aww… Aku sukaaa bangeet..
    Semua serinya Little Christmas-nya.
    Aku tunggu yang Twenty Four y.
    Anyway, ini judulnya diambil dari lagu-lagu di Winter Special Album yang release kemaren yy?
    (Y) Trus berkarya yy. Kalo bisa ada versi pdfny, *kebanyakan request* 🙂
    Neomu gamsahaeseubnida.

    • Duduh, syukur deh kalo chingu suka series abal-abal ini,wkwk,😂
      Iyaps, judulnya dari winter album exo yg baru,😆
      Versi pdf maksudnya apa nih chingu?😂
      Dan btw itu twenty four udah muncul ke permukaan /dibalang/😂
      Thanks for reading, dibaca yaw next seriesnya. Cintakuh padamuh.😍

    • Jangankan kamu chingu, eki yg ngetik aja terkikik-senyum gaje tengah malam pas ngetik ini,😳😂
      Ini emansipasi wanita chingu, ada saatnya wanita yg ngegombal/dibalang/😂
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next seriesnya kaiseul,😉
      Cintakuh padamuh..❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s