Jongdae’s Product – CHENFFI Birthday

irish-jongdaes-product

|   Jongdae’s Product   |

|  Jongdae & Minseok  |

| Comedy x School-life | Ficlet | General |

| story by IRISH |

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

©CHEN FANFICTION INDONESIA

In Author’s Eyes…

“Heh, Minseok!”

“Apa?”

“Aku jual minuman super, kau mau beli? Kalau kau mencoba ini aku jamin kau akan hafal semua isi buku matematika dalam sekali baca!”

Harusnya, Jongdae bersyukur pada Tuhan karena ia sudah diberi seorang teman akrab bernama Kim Minseok. Bisa dibilang, Minseok—yang terhitung dua tahun lebih tua daripada Jongdae karena tidak naik kelas dua kali—adalah pribadi yang cukup sabar menghadapi orang-orang seperti Jongdae.

Duh, orang-orang, jangankan dalam bentuk majemuk, bagi Minseok ‘orang’ sejenis Jongdae hanya ada satu. Ya, Kim Jongdae lah satu-satunya yang bertingkah aneh seperti itu.

“Tidak, terima kasih.” Minseok menolak, tidak mau menjadi korban ‘minuman super’ yang Jongdae ciptakan dengan tangannya sendiri—hasil dari mencampur beberapa jenis minuman yang entah resepnya ia dapatkan darimana—dan berujung masuk ruang gawat darurat rumah sakit karena keracunan.

“Aku beri diskon tiga puluh persen, bagaimana?”

Minseok, menatap Jongdae dari balik frame kacamata bulat miliknya, tadinya Minseok ingin jadi anak rajin yang sibuk menyalin catatan teman—catatan itu milik Jongdae, lebih tepatnya—tapi kemudian Jongdae sibuk mempromosikan minuman super miliknya.

“Tujuh puluh persen.” Minseok berucap, sebagai seorang yang dua tahun lebih tua dari Jongdae—dan harusnya sekarang sibuk dengan persiapan ujian nasional untuk masuk ke sekolah menengah atas jika saja dia ada di kelas yang benar—tentu Minseok tidak kehabisan akal.

“Apa? Tujuh puluh? Tidak, terima kasih.” giliran Jongdae yang menolak. Pemuda itu sekarang sibuk memelintir ujung rambutnya—sengaja ia panjangkan di sebelah kanan saja—yang selama ini terselip di balik daun telinga, sementara Minseok hanya geleng-geleng pasrah melihat tingkah Jongdae.

“Bagaimana kalau minuman super yang satu ini? Aku membuatnya tujuh hari enam malam, serius. Kalau yang ini kuberi diskon tujuh puluh persen.” tidak kehabisan akal, Jongdae lagi-lagi mengeluarkan produk super miliknya yang lain.

Minseok sendiri kadang heran, bagaimana bisa setiap hari selalu saja ada murid yang mau membeli minuman super racikan tangan seorang Kim Jongdae. Padahal, dari nama-nama dan kegunaannya saja sudah begitu mencurigakan.

Ada, yang Jongdae beri nama sebagai ramuan super pemandangan indah, gunanya untuk membuat para murid laki-laki yang meminumnya bisa melihat tubuh-tubuh murid perempuan menjadi lebih seksi. Memangnya masuk akal, ya?

Ada lagi yang Jongdae beri nama sebagai jelly penumbuh keberanian, fungsinya agak sedikit melenceng dari namanya. Bukannya membuat keberanian dalam sisi positif, menurut Jongdae jelly ini justru menumbuhkan keberanian di sisi ‘itu’ yang duh, membuat Minseok—yang notabene berstatus sebagai seorang yang dua tahun lebih tua—saja bisa bergidik ngeri.

Yang paling parah, produk-produk aneh yang Jongdae jual dengan mengatas namakan label pelajaran. Kalau sudah begini, semua pelajaran dari Matematika sampai Sejarah akan Jongdae sebutkan dalam racikan ajaibnya.

“Yang diskon tujuh puluh persen fungsinya apa?” tanya Minseok, pura-pura saja menaruh perhatian pada salesman versi Jongdae yang sekarang sedang ia hadapi. Pikir Minseok, mungkin Jongdae sedang pubertas. Tapi, pubertas versi Jongdae tidak diluapkan lewat menonton video mesum atau mengintip gadis-gadis berganti pakaian, melainkan menjual produk-produk aneh seperti ini.

Hal paling menggelikan dari produk ciptaan Jongdae adalah labelnya. Entah, Jongdae membuat label itu di mana, tapi setiap botol ramuan ajaib miliknya pasti memiliki stiker bergambar Jongdae tengah tersenyum lebar diikuti sebuah tangan dengan jempol super besar.

Jangan lupa nama merk yang Jongdae gunakan. Namanya ‘Dae Corporation’ begitu, norak sekali menurut Minseok tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada murid di kelas yang mau berbaik hati meminjamkan buku catatan dan tugas setiap hari, sih.

“Yang ini ramuan pelancar ujian.” nah, ini baru lagi, Minseok diam-diam menahan senyum geli. Harusnya, Jongdae buat saja ramuan itu menjadi ramuan pelancar datang bulan atau sejenisnya, supaya gadis-gadis di sekolah mereka banyak yang membelinya. Kenapa namanya saja terdengar begitu aneh di telinga Minseok?

“Bisa digunakan di ujian apa saja?” tanya Minseok, berusaha mengulur waktu sementara tangannya kembali sibuk menyalin catatan.

“Semua ujian dijamin sukses!” Jongdae berkata cukup keras.

Minseok sendiri, hanya mengangguk-angguk pelan. Diskon tujuh puluh persen sebenarnya hanya alasan saja, supaya dia bisa dengan halus mengusir Jongdae dan tidak lagi mempromosikan produknya.

Lagipula, Minseok sudah kelewat bosan mendengar celotehan Jongdae mengenai keampuhan puluhan ramuan buatan tangannya itu. Jangankan menjamin keberhasilan minuman itu, menjamin kebersihan dan kenormalan proses pembuatannya saja Minseok tidak berani.

Sekarang, dia ditawari sebuah minuman yang katanya dibuat Jongdae selama tujuh hari enam malam. Minseok jadi teringat pelajaran Biologi tentang bakteri. Diam-diam dia bergidik membayangkan berapa ratus ribu bakteri yang ada di dalam produk kebanggaan sahabatnya itu.

“Bagaimana? Jadi beli, tidak?” tanya Jongdae, mengerling sebagai kode pada Minseok untuk segera mengeluarkan beberapa ribu won uangnya untuk mengusir Jongdae.

Minseok tentu tahu, kalau Jongdae tidak bisa diusir dengan beberapa ribu won saja. Dia baru akan pergi jika sudah melihat pembelinya meminum ramuan ciptaannya itu. Kadang, Minseok pikir Jongdae sengaja membuat campuran minuman-minuman aneh itu untuk meracuni teman-temannya, tapi setiap ditanya, dia selalu pintar bersilat lidah dan bermain kata yang pada intinya, Jongdae berjualan untuk membayar uang sekolah.

Akhirnya, Minseok berdeham diplomatis. Sudah dia putuskan kalau dia tidak akan jadi salah satu korban Jongdae. Setidaknya, ia bisa mencegah celotehan Jongdae untuk beberapa hari ke depan.

“Sebenarnya, aku tidak berminat dengan ramuan-ramuan ujian itu.” ucap Minseok memulai.

“Benarkah? Lalu kau mau apa? Ramuan cinta? Jelly pembangkit keberanian? Atau—”

“—Bertukar tubuh.” potong Minseok.

“Apa?”

“Kalau kau bisa membuat ramuan penukar jenis kelamin, aku akan dengan senang hati berdiri di antrian terdepan pembeliannya. Bayangkan, Jongdae, kalau kau berhasil membuat ramuan yang memungkinkan kita—para laki-laki—bisa bertukar tubuh dengan murid-murid perempuan… ah! Dunia ini akan begitu indah.”

Mendengar penjelasan Minseok, Jongdae seolah mendapat pencerahan di bisnisnya yang mulai kandas karena banyak memakan korban.

“Minseok, kau jenius!” Jongdae memekik, sementara Minseok tersenyum puas.

“Tapi ingat, Jongdae. Ramuan itu harus berfungsi, dan kau pasti bisa menjualnya dengan harga mahal. Lalu… kita akan jadi kaya!” Minseok lagi-lagi berkoar.

“Benar, kau benar! Ya Tuhan, Minseok aku cinta padamu!”

Jongdae lagi-lagi berteriak heboh. Kini ia mengabaikan satu tas penuh ramuannya karena ide yang baru saja Minseok cetuskan. Minseok sendiri memasang senyum puas, bertindak seolah menyemangati Jongdae padahal dalam hati dia tertawa.

Ya, bahkan tanpa memberi semangat apapun Minseok jelas tahu, kalau mereka lulus nanti, Jongdae tidak akan berhasil membuat ramuan tersebut.

Jongdae saja yang terlampau percaya diri.

— FIN —

a/n:

Pesan moral yang bisa diambil: Chen adalah anak alay tingkat dewa yang kesehariannya selalu nongkrong tepi jalan buat bilang om telolet om.

Iklan

7 pemikiran pada “Jongdae’s Product – CHENFFI Birthday

  1. Ping balik: SEPULUH WAJAH CHEN | EXO FanFiction Indonesia

  2. Kkkk~
    Jahat banget kak…
    Chenku di jadiin salesman.
    (Y) lucuu…
    Ditunggu karya yang lainnya yy…
    Kalo bisa ada pdfny.
    Neomu gamsahaeseubnida. *bow

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s