[Sequel Untold Love] The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend

cafe-laura-dining-room

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Do Kyungsoo, Kim Jisoo (OC), and Byun Baekhyun | PG 13 | Series

Previous:

Untold LoveUntold Love: I Hate YouUntold Love: I Can’t Handle It – Untold Love: I’m Sorry – Untold Love: Love Birds

“It strange how my heart races.” When I Was… When You Where, Chen ft Krystal

-oOo-

Dua tahun telah berlalu sejak pernyataan cinta itu. Hidup mereka berlanjut. Kini Kyungsoo menjadi seorang art director di sebuah agensi periklanan paling bergengsi seantero Seoul. Sedangkan Jisoo sibuk mengawali karirnya sebagai junior editor di salah satu majalah wanita. Selama ini hubungan mereka terjalin sempurna. Kyungsoo ada untuk Jisoo, begitu pula sebaliknya. Dari luar, semua bisa melihat betapa bahagianya mereka. Seakan tiada satu alasan pun yang dapat memisahkan. Bila cerita ini tak dikisahkan, maka tidak ada yang mengira bahwa ikatan mereka mulai merapuh.

“Sudah tiga kali, kau membatalkan kencan kita,” ucap Jisoo. Gadis itu mengenakan gaun biru muda berpotongan selutut dan tas kecil tersampir di bahu. Parasnya tampak sedikit dewasa sebab dia sengaja merias diri dengan gincu merah. Jisoo berdandan habis-habisan karena hari ini memang jadwalnya berkencan bersama Kyungsoo. Ia bahkan telah mempersiapkan daftar kegiatan yang akan mereka lakukan.

Nyatanya, Kyungsoo malah membatalkan agenda mereka. Padahal Jisoo sudah berada di kafe dekat kantor kekasihnya. Rasanya Jisoo ingin menangis, tapi berusaha ditahanmengingat usianya sekarang menginjak 23 tahun. Lantas Jisoo pun berusaha memaklumi, gadis itu menghela napas beberapa kali agar bisa mengendalikan diri.

“Baiklah, tidak apa-apa. Toh, bukan salahmu kalau ada rapat mendadak. Lagi pula aku belum berangkat,” sahut Jisoo, saat Kyungsoo memohon pengertiannya. Dia menyelipkan sebuah dusta agar Kyungsoo tidak merasa bersalah. “Kyungsoo, jika rapatmu selesai, cepat pulang,” imbuh Jisoo sebelum sambungan terputus.

Jisoo menggigit bibir. Netranya mengawasi kue dan ice americano yang sengaja dia pesan untuk Kyungsoo. Pandangannya beralih menuju pintu masuk gedung tempat Kyungsoo bekerja yang terlihat jelas dari jendela kafe. Ia sempat menunggu setengah jam di sana, berharap Kyungsoo tiba-tiba lari keluar dan berusaha menghampirinya seperti dulu.

Ya, serupa waktu yang lalu.

Rasanya, Jisoo hampir lupa terakhir kali Kyungsoo memprioritaskannya, mencemaskannya, dan menyayanginya. Hati kecil Jisoo menyatakan bahwa Kyungsoo bukan lagi sosok pemuda yang tidak mampu hidup tanpanya.

Kyungsoo berubah.

Walaupun Jisoo enggan menyatakan secara gamblang, gadis itu memahami perangai Kyungsoo yang seakan bosan terhadapnya. Kyungsoo selalu mengeluh lelah jika mereka bertemu. Kyungsoo tanpa segan menunjukkan rasa tidak nyamannya beberapa hari lalu karena Jisoo tiba-tiba muncul di apartemennya. Ditambah lagi, Kyungsoo kerap sekali membatalkan janji mereka tanpa alasan yang jelas.

Bibir Jisoo memberengut. Jari telunjuknya lantas menarik ujung bibir agar parasnya membentuk senyum tipis lagi. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri.

Selang beberapa menit dia berdiri dari tempat duduk. Jisoo menyadari langit mulai gelap. Seberapa lama pun dia menunggu gadis itu hanya mendapatkan ketidak hadiran Kyungsoo.

Jisoo mengayunkan tungkai, sembari benaknya tetap melamun. Ia baru sadar sepenuhnya ketika menabrak tubuh lain yang sedang membawa karton kopi di pintu keluar kafe.

“Maaf, aku tidak sengaja,” sesal Jisoo sembari menunduk menyesal sewaktu melihat kopi yang berceceran akibat ulahnya.

“Kim Jisoo,” timpal sebuah vokal yang familiar di telinga Jisoo.

Jisoo langsung menengadah, menjumpai siapa yang memanggil. Ia sontak terkejut, ketika mendapati sosok yang berada di hadapannya. “Byun Baekhyun, hai!” pekik Jisoo. Gadis itu mengambil saputangan yang berada di tas. Ia berusaha membersihkan kemeja Baekhyun yang terkena percikan kopi. “Baekhyun, maaf aku benar-benar tidak tahu

Tidak apa-apa, Jisoo,” sela Baekhyun. Pria yang sempat menjadi cinta pertama Jisoo itu pun menyentuh jari-jari Jisoo yang berusaha membersihkan kemejanya. “Apa kabar?” tanyanya.

“Baik, bagaimana denganmu?”

Baekhyun menyunginggkan bibir ramah. “Baik juga. Kau masih terlihat cantik seperti dulu,” ujarnya, langsung saja membuat pipi Jisoo merona. Baekhyun melanjutkan ucapannya sebelum Jisoo sempat menimpali. “Sepertinya kita memblokir jalan. Bagaimana jika mengobrol sebentar? Aku harap kau sedang tidak ada janji.”

Jisoo mengangguk kemudian mengikuti Baekhyun yang memilih tempat tedekat dari lokasi mereka bertabrakan.

Baekhyun memesankan coffee latte dan kue cokelat kesukaan Jisoo. Gadis itu sempat terkesan bagaimana Baekhyun masih mengingat hal-hal yang Jisoo sukai. Padahal semenjak pria itu melanjutkan kuliah keluar negeri lima tahun lalu, mereka tidak berhubungan sama sekali.

“Aku sudah mengira akan bertemu denganmu,” kata Baekhyun memulai perbincangan. “Tiga bulan ini, aku berkerja di departemen yang sama dengan Kyungsoo. Mungkin ini kebetulan yang menarik, tetapi mengesankan. Aku tahu, apabila diriku menemukan Kyungsoo pasti kau juga berada di sekitarnya,” jelasnya.

“Ini seperti opera sabun,” timpal Jisoo sambil menegak minumannya. Maniknya menatap lekat Baekhyun. Pemuda itu tidak banyak berubah, kecuali pakaiannya yang terkesan lebih resmi daripada lima tahun sebelumnya. Surai dan pupilnya tetap sepekat arang. Parasnya menunjukkan keceriaan, itu aspek yang membuat Jisoo jatuh hati setengah mati pada Baekhyun.

“Well, biasanya karakter utama bertemu secara kebetulan, kemudian jatuh cinta.”

Jisoo hanya menanggapi melalui senyum tipis. Paling tidak ada satu hal yang dapat menghapus kesedihannya, meskipun sekilas.

“Dan Jisoo, apa boleh aku bertanya satu hal padamu?”

Jisoo melejitkan bahu, “Silahkan, tanya saja.”

“Apa kau sudah menikah?” ujar Baekhyun, parasnya berubah serius.

Jisoo menggeleng.

“Bagus,” gumam Baekhyun.

“Bagus?” ulang Jisoo.

“Aku tadinya khawatir akan dipukuli pria lain, apabila besok mengajakmu makan siang,” kelakar Baekhyun, ekspresinya jenaka. “Jadi, bagaiaman jika besok kita makan siang bersama?” tanya Baekhyun, ia melihat jam tangan sekilas.

Jisoo berpikir sejenak. “Baiklah,” balasnya.

Baekhyun mengangsurkan tisu dan pena ke arah Jisoo. “Nomor ponselmu,” kata pria itu, tak lupa tersenyum. Bertepatan dengan Jisoo yang selesai menulis, ponsel Baekhyun berdering. Pria itu mendengus, sewaktu mencuri pandang ke arah layar ponsel dan mengetahui siapa yang memanggil. “Rupanya ketidak hadiranku sudah disadari. Aku harus kembali ke kantor. Maaf

Tidak apa-apa, Baekhyun. Aku juga akan pulang,” potong Jisoo.

“Aku akan mencarikanmu taksi,” ucapnya.

Jisoo menuruti Baekhyun. “Oke.”

Mereka berjalan ke depan kafe yang langsung bersisihan dengan jalan raya. Baekhyun menghentikan taksi untuk Jisoo, sekaligus membantu si gadis naik ke kendaraan itu.

“Kim Jisoo, aku sangat senang kita bisa bertemu lagi, sampai jumpa,” kata Baekhyun saat menutup pintu taksi.

“Sampai jumpa, Byun Baekhyun,” balas gadis itu. Ia melambai ke arah Baekhyun.

Pertemuan yang tidak lebih dari dua puluh menit itu seharusnya tak berarti apa-apa bagi Jisoo. Namun, kenapa hatinya merasa janggal?

-oOo-

Untuk membaca cerita mereka yang lainnya, silahkan klik Track List. Terima kasih sudah membaca :).

Iklan

2 pemikiran pada “[Sequel Untold Love] The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s