Little Christmas (Series) – Falling For You – Shaekiran

IMG_20161226_165254.jpg

Falling For You

A Christmas special fiction written by Shaekiran

Kyungsoo x Joy

In Romance, angst, friendship and campus life story

Oneshot long with T Rated

Disclaimer

Shaekiran’s little chirstmas project with EXO. Standard disclaimer applied. Please enjoy and Merry Christmas!

Previous Series

For Life | [Now Playing] Falling For You |

“My feelings for you.”

©2016 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

 

Kutatap pantulanku di cermin. Ah, kerah mantelku sedikit kurang rapi, jadi kini tanganku bergerak merapikan mantel coklat tebal yang kupilih untuk kupakai ke pesta natal. Nah, selesai. “Kyungsoo, kau siap ke pestal natal,” batinku sambil merapikan poni sedikit, kemudian keluar dari kamarku di lantai 2.

Dengan langkah cepat kuturuni tangga rumahku, lalu ku salam eomma yang tengah duduk di atas sofa, menikmati drama kesukaannya. “Eomma, aku pergi dulu, ada pesta natal jurusan,” pamitku dan eomma langsung mengangguk setuju.

“Pergilah, sesekali kau memang perlu ke luar. Eomma lihat kerjamu hanya di kamar saja dengan semua kamus itu,” kelakar eomma dan aku hanya tertawa ringan. Ibuku memang aneh. Disaat aku rajin belajar dan jarang keluyuran dia malah protes, bukankah jika sebaliknya baru eomma bisa protes?

Selesai dengan eomma yang katanya tengah menunggu ayah pulang kerja –percayalah mereka akan melewatkan makan malam romantis layaknya candle light dinner karena aku tidak di rumah- segera kulangkahkan kakiku ke rak sepatu, memilih salah satu sport kemudian memakainya dengan cepat. Kulirik jamku, masih pukul 6 sore, tersisa dua jam lagi sebelum acara dimulai. Setidaknya aku masih punya cukup banyak waktu merapikan dekorasi natal.

“Ah, oppa!” pekikan seorang gadis kini mengusik runguku yang baru saja keluar dai rumah dan mengunci gerbang dari luar. Kutatap gadis tinggi dengan seragam SMA yang kini berlarian kecil ke arahku. Ayolah, apa tidak ada sehari saja tanpa gadis kuncir kuda satu ini?

Wae?” tanyaku tak bersemangat, dan ia tanpa seijinku sudah mengamit lenganku sok mesra.

Oppa mau kemana?” tanyanya dengan nada ringan. Kutebak ia baru saja pulang sekolah dan kebetulan melihatku tadi. Cih, seharusnya aku keluar 5 menit lebih lama agar aku tidak berpapasan dengan tetanggaku satu ini.

“Pesta natal jurusan. Oppa aslimu memangnya tidak ke pesta natal , eoh? Dia ‘kan kakak tingkat jurusanku,” terangku sambil berusaha melepaskan tangan gadis yang melekat kuat ini dan sialnya tidak bisa. Tenaganya terlalu kuat, sungguh.

“Maksudmu Chanyeol oppa? Aish, sepertinya dia akan pergi,” ucapnya lagi sambil menekuk bibirnya ke bawah, sok sedih kalau kataku.

“Ah, tidak seru. Kenapa aku malah menghabiskan malam natal sendirian di rumah? Ini sama sekali tidak menyenangkan,” kelakarnya lagi dan aku hanya menatapnya datar. Omong-omong nama gadis ini Sooyoung, lengkapnya Park Sooyoung. Tapi dia sering dipanggil Joy karena kepribadiannya yang kelewat ceria, sama seperti saudara laki-lakinya yang sering dipanggil Happy Virus. Kakak beradik ini memang terlampau bahagia hidupnya.

“Siswi kelas 3 SMA memang ditakdirkan belajar untuk ujian di malam natal, percayalah,” kataku sambil melepaskan tangannya yang kebetulan lengah dan binggo! Akhirnya terlepas.

Aish! Oppa!” teriakknya kesal karena aku baru saja berlari, tepatnya melarikan diri dari gadis yang tengah mengejarku itu. Sungguh, tidak sia-sia dia dianugerahi tinggi badan seperti itu, langkahnya cepat sekali untuk ukuran seorang gadis. Sialan.

“Sooyoung-ah,” aku menatapnya dengan pandangan memelas. Hanya 5 menit dan ia sudah bisa mengejar plus mengamitku lagi.

“Aku ingin pergi. Lihat, bisa-bisa aku terlambat kalau kau terus mengamitku seperti ini,” ucapku memelas sambil menunjuk jam yang ntah bagaimana sudah menunjukkan pukul setengah 7. Astaga, jadi sudah setengah jam aku terjebak dengan gadis hiperaktif ini?

“Aku ikut,” kutatap Sooyong setajam yang aku bisa, pernyataan laknat apa yang baru saja gadis ini ucapkan, eoh?

“Sooyoung-ah, ini pesta natal jurusan jadi kau tau kan kalau yang datang hanya mahasiswa jurusanku? Kalau kau memang mau datang tunggu saja tahun depan, arraseo? Belajar yang rajin, masuk universitas, lalu ikut pesta natal,” terangku setengah hati namun Sooyoung bukannya merasa kesal malah tersenyum lebar.

“Bukannya bisa kalau kau bilang aku ini pacarmu, eoh? Chanyeol oppa sering bilang teman-temannya membawa pacar ke pesta natal dan membuatnya meringis karena dia jomblo,” ia tertawa ringan, membuatku kini semakin membulatkan mata.

“Apa katamu tadi?” tanyaku sekali lagi, berharap kalau aku hanya salah dengar.

“Bilang aku ini pacarmu,”

Ya!” tanpa sadar aku memekik kesal. Sooyoung bukannya merasa bersalah namun malah terkikik. Dasar kelewat ceria.

Wae? Lagipula oppa kan tidak punya pacar, jadi sah-sah saja ‘kan kalau aku jadi pacar oppa?” ringannya ucapan gadis Park ini membuatku dengan segera melepas amitan tangannya, lalu mundur beberapa langkah.

Stop!” teriakku saat Sooyoung berusaha mendekat maju beberapa langkah. Kaget, Sooyoung langsung berhenti beberapa langkah di depanku. Lantas kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel.

“Park Sooyoung, apa kau ini sedang melamarku?” tanyaku dan biadabnya gadis ini malah menganguk mengiyakan.

“Tentu saja, bukannya oppa sudah tau kalau aku memang sudah menyukaimu dari dulu?” ucap Sooyoung sambil tersenyum pasti.

 

“Saranghae oppa! Mau jadi pacarku?”

“Mwo?! Aish, jangan bercanda!”

 

Ya, aku ingat. Sooyoung sudah bilang menyukaiku sejak 3 tahun lalu, sejak ia masih curut dan baru masuk SMA. Kupikir itu hanya karena ia labil dan baru beranjak remaja, jadi kubilang saja itu bukan perasaan cinta karena memang ia menganggapku laki-laki, tapi karena ia menganggapku oppa-nya seperti Chanyeol hyung. Tapi rupanya gadis satu ini tidak pernah menyerah.

“Sooyoung-ah, jangan bercanda,” jawabku kali ini, sama seperti sebelum-sebelumnya dan Sooyoung nampak mengerucutkan bibir. Kutebak ia akan mengucapkan kalimat ini ‘Sudah kubilang aku tidak bercanda!’

Oppa! Sudah kubilang aku tidak bercanda! Aku ini serius!” sudah kubilang ‘kan kalo aku hafal semua kalimat gadis ini sakin seringnya aku menolaknya dengan alasan yang sama.

“Terserah, tapi yang pasti aku tidak akan pernah menerimamu,” ucapku sarkatis. Lagian, siapa pula yang mau dengan gadis yang tumbuh besar seperti adikmu sendiri? Orangtua Sooyoung dan Chanyeol hyung bekerja di luar negeri, jadi sejak kecil mereka berdua sudah sering menginap di rumahku dan tumbuh besar bersama. Mereka berdua sudah seperti saudaraku, apa Sooyoung tidak mengerti juga?

Oppa….” aku masih mendengar rengekan gadis itu, namun aku hanya tersenyum tipis setipis-tipisnya kemudian pergi tanpa pamit. Sial, gara-gara Sooyoung aku kehilangan 45 menit yang berharga.

 

 

Aish, kenapa begini? Baekhyun sunbae tidak datang kah? Padahal malam ini aku berencana mendekatinya,” ucap seorang gadis pada temannya, mendengarnya aku hanya terkekeh ringan.

“Iya, kudengar dia pergi kencan dengan pacarnya, menyebalkan,” kata yang seorang lagi.

“Oh, kudengar pacar Baekhyun sunbae masih SMA,” satu lagi gadis berbeda ikut bicara. Sekarang ada 3 gadis yang berosip ria tepat di belakangku, membuatku tidak bisa minum dengan tenang.

“Mana Chanyeol sunbae juga langsung pamit pergi padahal acaranya belum dimulai, benar-benar tidak asik,” gadis yang pertama lagi-lagi menggerutu, membuatku semakin terkekeh.

“Oh, apa Chanyeol sunbae sudah punya pacar? Kupikir ia pergi karena ingin kencan dengan pacarnya,” apa mereka harus menggosip terang-terangan seperti itu?

“Pasti punya. Wajah setampan dan humoris seperti dia pasti laku keras,” sungguh, mereka tidak tau saja kalau Chanyeol hyung itu jomblo akut.

“Apa pacaran dengan sunbae memang sedang tren sekarang?” kutatap seseorang yang agaknya baru saja berbicara padaku, ah, ternyata si kkamjong.

“Kau sudah datang?” tanyaku basa-basi dan sepupu yang kebetulan jadi adik tingkatku itu dengan seenak udelnya langsung duduk di sebelahku yang memang kosong.

“Apa pacaran dengan sunbae memang sedang tren sekarang?” ia mengulang pertanyaannya, membuatku risih saja.

Wae? Kau juga ingin menggaet salah satu noona begitu?” kelakarku karena Kai memang kukenal cukup playboy dan tidak pandang usia.

“Tidak, aku hanya bertanya apa ada yang mendekatimu karena kau juga termasuk sunbae disini,” dan kalimat Kai sukses membuatku tersedak juice yang baru saja kuteguk.

“Ah, sepertinya tidak ada, kau kan jomblo ngenes hyung, yang kerjanya hanya belajar dikamar,” sungguh, aku ingin menyumpal mulut si tan ini sekarang juga!

Ya! Dasar kau-“

Bye hyung, aku ingin cari pasangan dulu,” dan kini Kai menghilang setelah puas menghinaku. Dia tidak tau saja kalau ada gadis yang terobsesi dan terus mengejar-ngejarku!

Kesal dengan Kai, aku lantas meneguk juice-ku lagi. kalau saja dia bukan sepupuku, pasti sudah ku tempeleng kepalanya tadi.

Anyeonghaseyo sunbae-nim,” kutatap hoobae yang baru saja menyapaku, dan apa aku tidak salah lihat? Itu Sulli, hoobae tingkat pertama yang terkenal di kalangan senior karena wajah cantiknya.

“Ah, anyeonghaseyo,” sapaku balik cukup gugup sambil meletakkan juice orange-ku. Ada angin hujan apa tiba-tiba ada adik kelas cantik menyapaku, padahal seingatku aku tidak cukup populer.

Sunbae, apa aku bisa duduk disini?” dan tentu saja aku mengganguk mengiyakan. Harus kuakui, Sulli cantik dan kelihatan dewasa. Dia sangat anggun dan cukup sexy. Hei, aku juga pria bung, dan aku normal meski kerjaku hanya membaca buku. Aku tau daya tarik wanita.

Sunbae, sebenarnya aku ingin mengaku sesuatu pada sunbae, itupun kalau sunbae tidak keberatan,” Sulli memasukkan anak rambutnya ke telinga sambil menggigit bibir dengan wajah tersipu-sipu, apa bisa kubilang ia tengah malu-malu?

“Ah, katakan saja,” jawabku mulai gugup. Astaga, otakku mulai berpikir lain-lain sekarang. Dari gerak-geriknya sih kupikir Sulli menyukaiku, sungguh. Aku tidak berbohong. Dia benar-benar kelihatan tersipu sekarang.

“Anu sunbae, aku ingin bilang kalau aku me-“

Drttttt

Suara Kim Bum Soo mengalun merdu, kulirik handphone-ku yang kini berdering di saku mantel, lantas langsung kutatap benda persegi panjang itu, ‘si bocah’ tertulis jelas disana. Astaga, apa tidak bisa Sooyoung tidak menggangguku? Langsung saja kugeser layarnya ke tanda merah, mematikan panggilan Sooyoung.

“Silahkan lanjutkan Sulli-ssi. Ini tidak cukup penting,” kataku dan gadis cantik di depanku itu nampak tersenyum senang.

“Jadi sunbae, aku-“

Drttttt

Sial, haruskah sekarang kau menelfon Sooyoung?

“Sepertinya itu penting sunbae, angkat saja,” pinta Sulli, dan aku dengan setengah hati beranjak dari kursi kemudian meninggalkan gadis itu ke sudut ruangan, tempat yang cukup sepi agar aku bisa memarahi Sooyoung.

 

 

Ya Park Sooyoung! Tidak bisakah kau tidak menggangguku sekali saja?!” teriakku langsung setelah menggeser layar handphone-ku ke tanda hijau, menerima panggilan Sooyoung.

“Anu, ini bukan Park Soyoung yang anda maksud,” aku terdiam begitu mendengar suara asing yang menjawab panggilan Soyoung, sialnya itu suara laki-laki.

Jinja? Siapa ini? Dimana Park Sooyoung?” tanyaku mulai khawatir dan lelaki di seberang sana nampak menghela nafas.

“Sebenarnya dia mabuk dan-“

“Saranghae oppa, jeongmal saranghae~” mataku membulat ketika kini ku dengar suara Sooyoung dengan ucapannya yang paling kubenci, apa gadis ini benar-benar mabuk?

Ya Park Sooyoung, sudah berapa kali kubilang jangan bercanda!” balasku kesal dan kekehan kecil kudengar sebagai balasan.

“Ah, benar juga. Maaf oppa, aku hanya bercanda kok, ” aku terdiam, bercanda katanya?

Brughh!

Ya! Sooyoung-ah!” pekikku khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi sekarang?

“Maaf, tapi sepertinya ia benar-benar mabuk. Ia baru saja tertidur di meja. Apa kau bisa menjemputnya? Kami ingin tutup sebentar lagi,” aku memijit pelipisku yang mulai pening. Ternyata Sooyoung benar-benar mabuk. Kulirik jam tanganku, sudah hapir pukul 10 malam.

“ Baiklah, tolong kirim alamatnya,” kurapatkan mantelku kemudian menemui Sulli yang nampak cukup kaget karena aku pamit pulang duluan. Persetan dengan gadis cantik dan seksi itu, yang ada di pikiranku hanya Sooyoung, si bocah nakal yang kini membuat jantung berdegup tidak tenang.

 

 

Sudah 10 menit aku sampai di kedai tenda tempat Sooyoung minum soju secara illegal. Kupandangi gadis yang kini tertidur di meja dengan wajah memerah itu. Ayolah, ia masih SMA dan ia sudah berani mabuk? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Apa yang akan dikatakan orangtuanya kalau tau? Dan kenapa pemilik kedai ini malah menelfonku diantara banyak kontak gadis satu itu, huh?

“Ini handphone gadis itu,” ucap si pria yang menelfonku tadi yang ternyata adalah seorang ahjussi dan aku menerima ponsel Sooyoung dengan cepat.

“Apa kau si ‘bibir petak’ itu, huh?” tanya ahjussi itu tiba-tiba, membuatku menatapnya dengan tajam.

“Apa maksud ahjussi?” tanyaku tak terima. Enak saja ia menyebut-nyebut fisik.

Anii, hanya kalau saja kau memang si bibir petak yang gadis itu maksud, kau harus membaca isi note handphone-nya,” tawa ahjussi itu pecah, membuatku semakin membulatkan mata bingung.

Ya! Kenapa ahjussi mengotak-atik handphone seorang gadis, eoh?” tanya balikku marah dan ahjussi itu hanya terkekeh ringan.

“Gadis itu yang menunjukkannya saat mabuk. Jangan salah paham, tapi ia benar-benar menunjukkannya padaku sambil menangis, ia bilang si bibir petak ini benar-benar jahat dan hal-hal lain semacam itu,” aku hanya terdiam, enggan menjawab ahjussi itu lagi. Lantas diletakkannya sebuah botol soju penuh ke atas meja dimana Sooyoung tertidur.

“Cinta anak muda benar-benar aneh,” kelakarnya lalu beranjak pergi sementara aku hanya terdiam terpaku. Cinta?

Apa benar aku si bibir petak jahat yang Sooyoung maksud?

Penasaran, akhirnya kugerakkan jariku membuka handphone Sooyoung lalu membuka bagian note seperti kata ahjussi tadi, dan betapa kagetnya aku ketika mendapati banyak catatan semacam buku harian disitu.

 

241216
Lagi-lagi si bibir petak menolakku. Sungguh, memangnya apa kurangnya aku? Padahal aku tulus menyukainya. Apa dia tidak tau kalau aku baru saja menolak pernyataan cinta pangeran sekolahku karena terlanjur jatuh cinta pada mahasiswa kutu buku semacam dia?

 

Aku terkekeh, apa benar ini tulisan Sooyoung hari ini?

Lantas kugerakkan lagi jariku membuka catatan yang lainnya secara acak karena terlalu banyak catatan disitu.

 

231014

Hari ini aku mendapat handphone baru. Aku senang sekali jadi aku memamerkannya pada teman sekelasku. Anehnya banyak siswa laki-laki yang meminta nomorku dan aku memberikannya begitu saja. Dan lucunya banyak dari mereka memasukkan nomor handphone mereka juga ke kontakku. Masalahnya ada seseorang yang marah karena banyak sekali kontak murid laki-laki di hpku, katanya kau nampak seperti gadis murahan kalau begini, jadi kuhapus semua nomor laki-laki di hpku selain nomor ayah, oppa Chanyeol dan dia. Aku tidak mau dia marah. Aku menyukainya, jadi aku tidak mau ia marah.

 

 

Aku tertawa kecil. apa ia benar-benar menghapus semuanya?

 

“Oppa, masukkan nomor handphone-mu disini.” Kutatap Sooyoung yang baru saja menyodorkan handphone barunya, dan setengah hati kuambil dan kumasukkan nomorku disana.

“Ya! Kenapa banyak sekali nomor laki-laki disini, huh?” tanyaku tak suka dan Sooyoung hanya menggigit bibirnya sambil menggeleng-geleng ringan.

“Ah, tadi mereka memaksa memasukkan nomornya di handphone-ku. Memangnya kenapa oppa?” jawabnya polos dan emosiku naik begitu saja. Apa ia benar-benar tidak tau bagaimana siswa SMA sekarang ini? 

“Tidak kenapa-kenapa, hanya saja kau kelihatan murahan kalau begini, “ jawabku sambil menyerahkan handphone Sooyoung kemudian pergi begitu saja.

 

Penasaran, akhirnya kubuka bagian kontak Sooyoung dan betapa menganganya aku ketika hanya mendapati 4 kontak disana, ayahnya, ibunya, oppa-nya, dan ‘my feeling’? Siapa itu? Lantas kubuka kontak my feeling itu dan sialnya aku mendapati nomorku sendiri disana. Jadi benar-benar hanya ada nomorku selain nomor anggota keluarganya? Sial. Sedalam itukah Sooyoung-ah? Kenapa kau bisa menyukai orang membosankan seperti aku ini?

Malam itu kuhabiskan dengan mengotak-atik isi handphone Sooyoung ditemani sebotol soju dan pemandangan Sooyoung yang tertidur lelap. Puas membaca puluhan catatan yang ditiap harinya terselip kisahku, lantas kubuka bagian galeri. Sialnya, itu di password. Aku jadi ingat bagaimana semua gadis yang kukenal mem-private galeri mereka ntah kenapa. Jadi apa aku harus menebak password-nya Sooyoung?

Baiklah, pertama tanggal lahirnya.

Salah.

Hmmm, tanggal lahir orangtuanya? Anniversary pernikahan?

Salah juga.

Ulang tahun Chanyeol hyung?

Salah.

Kalau begitu, ulang tahunku?

Astaga. Apa aku tidak salah lihat? Galerinya terbuka karena tanggal lahirku? Heol!

Puas dengan rasa kaget, tanganku mulai bergerak membuka isi galeri Sooyoung. Banyak sekali foto di galeri gadis satu ini rupanya. Mana mungkin aku men-cek semuanya satu per satu dan- folder apa ini?

Lantas kugerakkan jariku menuju salah satu folder dengan judul ‘jangan dibuka kalau kau tidak mau mati’. Dasar bodoh. Justru orang semakin ingin membukanya kalau dia memberi nama foldernya seperti itu.

Tunggu, bukannya ini fotoku? Sungguh, ini kumpulan fotoku sedari kecil hingga sekarang. Bahkan ada fotoku saat bayi –dia mengoleksi foto naked-ku saat bayi? Dasar gadis byuntae!- hingga fotoku tadi sore. Pakaian yang ada di foto sama dengan pakaian yang kupakai sekarang dan aku yakin itu benar-benar tampak belakangku. Tidak hanya satu, ternyata kalau dilihat-lihat banyak fotoku yang hanya menampilkan punggung, tampak belakangku saat berjalan.

 

“Oppa, kapan aku bisa berjalan disebelahmu dan bukan hanya melihat punggumu, eoh? Aku suka melihat punggungmu, tapi lebih suka lagi melihat wajahmu dari samping sambil menggenggam tanganmu. Apa hanya aku yang jatuh hati disini?”

 

Isi catatan di foto itu cukup membuatku terhenyak hingga tanpa sadar aku sudah menghabiskan satu botol soju. Haruskah seperti ini? Sooyung ternyata sangat menyukaiku, begitu?

Ntah karena aku sendiri mulai mabuk, kututup handphone Sooyoung dan meletakkannya di atas meja. Tanpa sadar kini kugerakkan tanganku mengelus rambut gadis itu sambil tersenyum samar.  

Apa hanya aku yang jatuh hati disini?

Sial!

Sooyoung tidak tau saja kalau aku juga menyukainya sejak dulu, tanpa ia tunggu pun aku sudah jatuh terlebih dulu padanya. Bukan sebagai adik, tapi sebagai seorang gadis.

Aku menyukaimu Sooyoung, tapi aku hanya tidak berani saja, aku pengecut. Aku takut kau nantinya akan berubah. Cinta remaja itu bagai kapal yang terombang-ambing di tengah laut. Aku takut salah memulai dan kita nantinya salah mengakhiri. Jadi kupilih berdiam diri dan bersikap dingin layaknya kau sama sekali tidak menggetarkan hatiku, padahal setiap saat kinerja jantungku tak menentu di dekatmu. Asal kau tau, aku tidak ingin kehilangan sapaan oppa dengan nada manja darimu itu.

Saranghae,” aku menyerngit saat kini Sooyoung mulai mengguman dalam tidurnya. Senyumku langsung mengembang tanpa diminta.

Nado Sarangahae Park Sooyoung,” ah sialan, sepertinya aku benar-benar mabuk. Apa ada yang bisa menjemput kami berdua?

 

 

-FIN-

 

 

Next : Baekhyun x Yeri – What I Want for Christmas

 

  

Merru Christmas yeorobeunnn!!

Ada yang bisa jemput Kyungsoo ama Joy yang kobam bersama?/digorok/ XD

8 tanggapan untuk “Little Christmas (Series) – Falling For You – Shaekiran”

    1. Thanks chingu dah suka cerita astral ini, wkwk.😂
      Mungkin ada, tapi eki gak janji yaww, tunggu series yg lainnya kelar dulu,hehe,😂
      Thanks for reading chingu, baca series yg lain yaw, Cintakuh padamuh.. 😍

  1. nae naenae,hwa….. So sweeg banget si,haj kyungsoo selalu begitu deh,mximpan prasaan sendiri,hah lucu aj gitu kalo beneran ada yeoja y nyimpan no dihpnya cuma no keluarga dan org y pling disukainya aja,heh…….aku mau deh ngrjemput Kyungsoo skrng juga hihihi

    1. Iya, kyungsoo gak nau jujur, sok-sok dingin deh, kan ceweknya jadi galaj dikira ditolak/digampar /😂
      Mungkin aja ada gadis setipe joy chingu,tapi bisa dihitung jari/digampar/😂
      Yuk, monggo dijemput chingu, wkwk.😂
      Thanks for reading chingu, baca series yg lain yaw. Cintakuh padamuh. 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s