For Yoo Lee – Shin Tama production

fyl-copy

For Yoo Lee

Oh Sehun/Kang Yoo Lee (OC)

Romance/Ficlet

PG – 15

Disclaimer ‘buah hasil melamun di siang bolong author Shin’

Masih terlalu pagi bagi pria itu duduk di depan jendela kamarnya. Mentari pun belum beranjak dari persinggahannya saat itu. Cahaya biru kehijauan yang tersisa dilangit.

 

Sehun cemas akan gadis itu, membuatnya susah tidur tadi malam dan bangun lebih awal di ke esokan harinya. Mata sipit Sehun tak lengah dari jendela sebuah rumah yang berada tepat didepan kediamannya. Tempat gadis itu berada. Entah sedang apa dia sekarang. Sehun belum tau karena tirai jendela dan pintu rumah itu masih tertutup rapat. Semoga Yoo Lee sudah merasa baikan pagi ini mengingat gadis itu menangis sesegukan sepanjang malam  dan menghabiskan semua persediaan bir milik Sehun hingga tetes terakhir. Kala itu Sehun hanya menggelengkan kepalanya, Yoo Lee adalah wanita tapi kekuatan minumnya mengalahkan pria.

Perlahan matahari muncul, berhasil memeluk bumi pada pukul Tujuh tepat. Pria itu masih tetap disana. Sampai akhirnya Sehun menangkap siluet gadis itu dibalik tirai jendela kamarnya. Siluet gadis itu mendekat ke arah jendela, lalu membukanya. Menampakkan sosok gadis yang selalu Sehun impikan disetiap tidurnya. Bergegas Sehun beringsut dari tepi jendela sebelum Yoo Lee menangkap basah dirinya.

 

Aneh memang, pria itu menunggu Yoo Lee muncul tapi Sehun kalang kabut pergi ketika gadis itu menampakkan dirinya. Seakan tak peduli dengan ke anehan yang ia lakukan, sehun tetap melakukannya. Sehun menjangkau ponselnya yang tergeletak di meja belajarnya. Membuka kontak yang ada dimenu ‘kontak yang sering dihubungi’, Yoo Lee.

 

Yeoboseyo?”

Ne, Yeoboseyo.”

“Kau sudah bangun?” Tanya Sehun berbasa-basi, padahal dia jelas tahu jawabannya.

“Eoh, baru saja. Ada apa pagi-pagi begini menelfonku?”

“Aku dengar ramalan cuaca hari ini diTV, mereka bilang cuacanya cerah. Mau jalan-jalan?”

“Kurasa tidak untuk hari ini, mataku masih bengkak. Mian, Sehun-ah…”

Keurokkhuna,,,kalau begitu kau istirahat saja untuk pekan ini, dan kompres matamu dengan air es agar cepat membaik. Bye…”

 

Sehun memutus sambungan telfon mereka setelah gadis itu membalas salamnya. Suaranya masih serak. Jelas dia butuh istirahat. Sempat terbesit dibenaknya, kenapa ia jatuh cinta? Padahal sudah Sehun lihat betapa tersakitinya Yoo Lee karena cinta.

 

Gadis itu begitu mencintai Kim Roger, pria blasteran Korea-England. Tapi pria bule itu malah menghapus ketulusan Yoo Lee dengan berkencan dengan gadis lain dibelakang Yoo Lee yang malang. Sangat pahit cinta yang berakhir seperti itu. Walaupun begitu, Sehun tidak gentar untuk mewujudkan cintanya. Tanpa berfikir dengan cara naas yang  bagaimana cinta itu akan berakhir.

 

Wah, reporter itu seperti penyihir. Dia bersungguh-sungguh dengan ucapanya. Matahari sangat terik sepanjang hari, sampai sore haripun cahayanya belum redup. Lihat, bunga Azalea  milik Sehun tampak layu. “eoh, anak-anak appa yang malang, kalian pasti haus. Lihat, appa bawakan minuman segar.” Ucapnya kepada sekumpulan bunga Azalea yang mengakar di  depan halaman rumahnya.

 

Sehun mencuri pandang ke halaman rumah keluarga Kang. Kedua bangku itu kosong. Apakah bengkak dimatanya itu sangat parah? Tanya Sehun dibenaknya yang tidak mendapati Yoo Lee dan Ayahnya bermain catur disana seperti biasa mereka lakukan setiap sore.

 

Seunit mobil berwarna silver berhenti di depan rumah Yoo Lee. Sehun kenal mobil itu, mobil Roger yang setahun terakhir ini kerap kali singgah di pelataran rumah Yoo Lee. Tapi itu sebelum mereka putus. Bukankah Sekarang mereka sudah putus? Untuk apa si brengsek Roger itu datang ke rumah Yoo Lee lagi? Hati Sehun bergejolak. Ia rasa darahnya mulai mendidih.

 

“Ada perlu apa lagi kau datang kesini?” Tanya Sehun seraya menghampiri Roger yang baru saja menginjakkan kakinya di aspal.

“Bukan urusanmu.” Jawab Roger ketus, yang memang dari awal tidak menyukai kedekatan Yoo Lee dan Sehun.

“Yoo Lee adalah temanku, tetanggaku dan dia sudah ku anggap saudaraku sendiri. Jelas ini urusanku juga.”

“Aku sudah membuat janji dengannya.”

“Omong kosong!”

BUGKKK…

 

Sehun melayangkan tinju ke wajah Roger. “Beraninya kau datang kemari setelah membuat Yoo Lee menangis.” Sehun berada dipuncak amarahnya. Roger tersungkur ke tanah. BUGKK… Tinju berikutnya menyusul. Seakan Sehun tak merelakan pria itu untuk bangkit.

 

“Hentikan!” Teriakan Yoo Lee menggagalkan tinju selanjutnya yang akan Sehun layangkan lagi.

“Sehun-ah berhenti main hakim sendiri.” cegah gadis itu lagi, yang tidak dapat diterima Sehun.

“Jika aku jadi kau, aku sudah tidak punya muka lagi untuk menemui Yoo Lee.” Kata Sehun seraya menyiapkan kepalan tangannya.

 

Rasanya belum puas jika pria itu belum enyah dari hadapannya. PLAKK…. Pipi Sehun terasa panas. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Yoo Lee barusan. Gadis itu menamparnya. Tapi kenapa? Kenapa aku? Hati Sehun bertanya-tanya.

 

“Aku sudah membuat janji temu dengannya. Kumohon jangan membuat keributan.” Yoo Lee angkat bicara.

 

***

 

“aw….isshh…” Sehun meringis ketika mengompres pipinya dengan kantung es batu. Ia melihat dirinya di cermin berukuran kecil yang ia genggam. Cetakan tangan gadis itu tertinggal dipipinya. Masih berbekas sangat merah. Ia baru menyadari betapa kuatnya tenaga Yoo Lee. Tapi bisa-bisanya dia menangis uring-uringan hanya karena pria berengsek itu. Ck…wanita aneh. Kenapa aku bisa sangat mencintainya. Gerutu sehun dalam pikirannya.

 

“entah seberapa sering aku meminta maaf padamu sampai aku malu untuk mengatakannya lagi.” Yoo Lee menghampiri Sehun yang sedang duduk balai bambu halaman belakang rumahnya. “minumlah, ini sebagai ganti birmu yang aku habiskan tadi malam.” Gadis itu meletakkan 2 krak bir di samping Sehun. “apa yang ingin kau dengar dariku?” tanya Yoo Lee yang sejak tadi merasa bicara sendiri karena pria itu masih saja diam sejak kedatangannya.

 

“kenapa kau menamparku? Dan apakah kau kembali padanya?” tanya Sehun masih dengan tangan mengompres pipinya. Sehun menangkap senyum ringan di wajah gadis itu. Apa maksudnya itu? Tidak terbaca. Gadis itu membuat Sehun cemas. Yoo Lee menarik napas panjang. Bersiap memulai jawaban atas pertanyaan yang Sehun ajukan.

 

“hanya dengan cara itu aku bisa menghentikanmu dan mencegah keributan yang akan mengundang massa. Jika itu terjadi, betapa malunya keluargaku dan keluargamu akibat keributan itu. Bukan berarti aku membelanya dan membencimu.” Papar Yoo Lee.

“Lalu?” Sehun tidak sabar akan jawaban berikutnya.

“dia datang untuk minta maaf dan dia juga menyesali perbuatannya. Kami putuskan untuk berpisah secara baik-baik.”

Sehun menyembunyikan senyuman kemenangannya.

“Terima kasih Sehun-ah kau telah peduli padaku. Lain kali jangan lakukan hal seperti tadi. Aku tau tujuanmu benar tapi caramu masih salah. Memukul orang sembarangan bisa disebut tindak pidana. Arra

Sehun mengangguk. “bolehkah aku bertanya? Aku takut tindakanku nanti akan menjadi salah dimatamu.”

“boleh, silakan. Apa yang ingin kau lakukan sehingga membuatmu takut?” jawab Yoo Lee disertai senyum yang menenangkan.

“Bagaimana caranya untuk mencintaimu?”

—Hening beberapa detik—

“Lakukan dengan caramu dan jangan ikuti perbuatan Roger kepadaku.”

 

Kini Sehun terang-terangan mengulum senyum dihadapan gadis itu. Ia menang. Cinta yang setia tak pernah kalah.

 

-The End-

One thought on “For Yoo Lee – Shin Tama production

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s