Little Christmas (Series) – For Life – Shaekiran

sehun-for life.jpg

For Life

A Christmas special fiction written by Shaekiran

Sehun x Irene

With Romance, angst, friendship and campus life story

Vignette long in T Rated

Disclaimer

Shaekiran’s little chirstmas project with EXO. Standard disclaimer applied. Please enjoy and Merry Christmas!

“It will be endless.” 

©2016 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

 

 

Derit langkah sepatu ketsku nampak memenuhi koridor kampus. Aku memutar cukup jauh dari ruang kelas bahasa yang tadi menjadi jam pertama dalam jadwal kuliahku pagi ini menuju kelas seni. Yah, cukup terburu-buru meski sebenarnya aku tidak masuk kelas seni. Lagipula bagaimana mungkin mahasiswa sastra Inggris masuk kelas seni ‘kan?

“Oh Sehun-ssi?” netraku kupaksakan menoleh ke samping. Kulihat Kyungsoo, senior di jurusan yang sama denganku sudah berdiri dengan tatapan bertanya, mungkin karena kini ia melihatku tengah nangkring di depan kelas seni yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan jurusan kami.

“Ah, sunbae. Selamat pagi,” sapaku yang kembali membuat lelaki setahun lebih tua dariku itu menyerngit hingga kedua alisnya menyatu.

“Apa yang kau lakukan di depan kelas seni?” tanyanya akhirnya sesuai kecurigaanku beberapa menit lalu. Mendengarnya aku hanya tersenyum tipis.

“Hanya sedang menunggu seseorang sunbae,” jawabku ringan dan seniorku itu nampak manggut-manggut mengerti. “Kalau begitu aku duluan,” ucapnya akhirnya sambil berlalu pergi dan kubalas dengan senyum terkulum tipis. Kami tidak begitu dekat dan kurasa konservasi kami barusan hanya sekedar basa-basi karena ia kebetulan melihatku.

“Oh iya Sehun,” aku yang sudah kembali sibuk mengintip kelas seni lantas menolehkan kepala lagi, menatap Kyungsoo yang kini lagi-lagi sudah ada di depan mataku.

“Kau akan pergi ke pesta natal malam nanti ‘kan?” lirihnya dengan nada sarat bertanya. Aku cukup terdiam beberapa saat, lantas kuanggukan kepalaku ringan sebagai jawaban beberapa detik kemudian.

“Tentu sunbae. Aku pasti datang nanti malam. Natal jurusan di tahun pertamaku tentu tidak boleh dilewatkan ‘kan?” kelakarku dan Kyungsoo nampak setuju.

“Baiklah, nanti malam di café depan kampus. Pukul 8 malam. Jangan sampai terlambat Sehun-ssi,” jelas Kyungsoo lagi dan lagi-lagi juga aku menganguk mengiyakan. Cukup wajar Kyungsoo sunbae seperti ini karena setauku ia adalah salah satu panitia natal jurusan sastra Inggris.

Selesai dengan informasinya, sunbae bermarga Do itu lantas pergi menjauh, katanya ingin pergi ke perpustakaan mencari buku referensi terbaru untuk tugasnya dan aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Toh, kurasa itu hanya sekedar alasan agar ia bisa pamit pergi.

 

 

Selepas kepergian sunbae-ku yang berwajah cukup kaku itu, atensiku kembali teralih ke kelas seni yang masih berlangsung. Kulirik jam yang bertengger di pergelangan tangan kiriku. “5 menit lagi,” gumamku setelah sadar berapa waktu yang kubutuhkan hingga bel berbunyi dan pintu di depanku ini terbuka. Dan tepat 5 menit kemudian, pintu itu benar-benar terbuka, menampakkan wajah-wajah senior yang ada 3 tingkat diatasku namun dari jurusan yang berbeda.

“Sehun-ah,” seorang gadis dengan tinggi semampai dan rambut cokelat yang digerai begitu saja nampak melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum manis, yang kubalas dengan senyum sama manisnya pula. Ia menggunakan sweater turtle neck putih yang dibalut coat panjang bewarna coklat dan sepatu boot berwarna merah maroon. Nampak sangat cantik meski hampir tak ada kulitnya yang terkekspos. Salah satu alasan kenapa aku begitu menyukainya sejak dulu.

“Maaf, pasti kau sudah menunggu lama,” lirih Irene setelah sampai di depanku. Aku menggeleng perlahan sementara gadis itu hanya tertawa kecil dengan tingkahku yang katanya selalu kekanak-kanakan.

Kajja, bukankah katamu ada yang mau kau bicarakan padaku?” ia berucap lagi, membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Sial, kenapa jantungku ini tidak bisa berkompromi sama sekali?

“Hmmm…jangan disini noona, tak enak,” jawabku setengah gugup dan Irene nampak mengiyakan.

“Mau ke kantin kampus?” tawar Irene akhirnya dan aku tentu saja mengangguk mengiyakan. Setidaknya aku masih bisa merangkai kata sembari berjalan menuju kantin yang letakkan cukup jauh dari kelas seni ini.

 

 

“Jadi apa yang mau kau bicarakan Sehun?” tanya Irene to the point, membuatku kini mulai mati kutu.

Kalau boleh jujur Irene sebenarnya adalah tetanggaku, ia teman sepermainanku dan ia sudah seperti kakakku sendiri. Ia sering menjadi sunbae-ku di sekolah dan tak jarang ia menjadi pamong MOS-ku. Sialnya, sakin dekatnya aku dengan Irene noona sejak kecil, perlahan-lahan rasa nyaman di hatiku itu mulai berubah menjadi tidak semestinya. Rasa ini sudah kutahan semampuku, namun toh aku tak sanggup jika berbohong tentang isi hatiku lagi.

Kalian tau maksudku kan? Aku mencintai Irene. Aku menyukainya sebagai seorang gadis dan bukannya sebagai seorang noona. Sialnya, aku baru sadar dengan isi hatiku sendiri saat aku sudah masuk universitas. Untung saja aku dan Irene ada di universitas yang sama meski beda jurusan, kalau tidak sudah dipastikan aku pasti akan merana setiap hari karena tidak bisa melihat wajah cantik Irene. Dan kali ini, aku ingin mengakui perasaanku itu pada Irene.

Noona sebenarnya aku-“

“Ah, maaf Sehun,” aku menatap Irene yang kini mengangkat telfonnya yang baru saja berdering. Aku tersenyum perlahan, membiarkan Irene menyelesaikan panggilan telfonnya terlebih dulu. Setelah 3 menit menunggu, akhirnya Irene selesai dengan ponsel pintarnya itu.

“Maaf Sehun, sepertinya aku harus pergi,” ucap Irene dengan nada menyesal. Mataku terbelalak kaget bukan main, namun kusembunyikan dengan usaha senyum terpaksa.

“Pasti urusan mendesak ya noona?” tanyaku seperti orang bodoh dan Irene nampak hanya tersenyum kecil mengiyakan. Sedikit helaan nafas ku hembuskan sebelum akhirnya aku mempersilahkan Irene pergi. Gagal sudah rencanaku kali ini.

“Mmm, Sehun,” Irene nampak menggantung kalimat sembari berdiri dari posisi duduknya, membuatku langsung mendongak semangat.

“Kalau kau memang ingin bicara denganku, datang saja ke rumahku nanti sore. Setuju?” ntah karena melihat reaksiku yang agak kesal, Irene noona nampak memberikan penawaran padaku. Mendengar itu aku tersenyum, tentu saja setuju dengan tawaran Irene barusan.

 

 

Terkutuklah lemari pakaianku yang isinya hanya kaos oblong dan kemeja lusuh. Jika tau akan seperti ini, harusnya aku menuruti saran eomma untuk mengisi lemari dengan beberapa pakaian baru sehingga aku tidak perlu kocar-kacir memilih pakaian seperti ini. Bahkan saudara laki-lakiku yang tumben-tumbennya pulang dari Seoul menatapku penuh curiga.

“Kau ada kencan?” tanyanya polos sambil mengotak-atik channel televisi dan aku dengan cepat menggeleng. Lebih baik tidak mengakui kalau aku akan menemui Irene sebelum hyung jahilku itu mulai mengejekku nanti.

Akhirnya setelah hampir setengah jam memilih pakaian, pilihanku jatuh pada sweater cream dan celana jeans hitam polos. Tak lupa kusampirankan mantel hitam tebalku sebagai penghalang dingin. Setelah kurasa penampilanku cukup rapi dan tampan–aku mengotak-atik gaya rambutku selama kurang lebih sejam dan pilihanku jatuh pada gaya rambutku yang biasanya. Bukankah kurang kerjaan?- lantas aku pamit pada ibu dan hyung-ku dengan dalih pergi ke pesta natal jurusan sambil menyembunyikan setangkai mawar merah dalam mantelku. Setengahnya aku tidak berbohong, karena rencananya setelah dari rumah Irene aku akan segera pergi ke pesta natal yang diingatkan Kyungsoo tadi pagi.

“Kau pasti bisa Oh Sehun!” batinku menyemangati diri sendiri sambil mengeluarkan mawar yang tadi kusembunyikan. Setelah kurasa bentuk mawar itu masih aman dan tetap wangi, lantas aku mulai merajut langkah menuju rumah Irene yang hanya berbeda beberapa blok dari rumahku. Bukankah sudah kubilang kalau kami ini tetangga?

Jantungku semakin tidak karuan setelah melihat rumah Irene yang hanya tinggal beberapa langkah. Sungguh, ingin rasanya aku kabur saja namun setengah hatiku menolak rencana pengecut itu. “Tidak Sehun, kau pasti bisa!“ ulangku sekali lagi dalam hati kemudian mulai merajut langkah lagi ke depan gerbang rumah Irene. Sesampainya di depan gerbang, tanganku seharusnya menekan bel, namun lagi-lagi organ tubuhku itu serasa sulit digerakkan sakin gugupnya.

“Sehun-ah, kau sudah datang rupanya,” suara seorang gadis yang sangat kukenal lantas membuat atensiku langsung teralih. Dengan gerak cepat kusembunyikan mawar merah tadi ke belakang punggungku sakin gugupnya. Lantas Irene membuka gerbang rumahnya perlahan, kemudian menutupnya lagi setelah ia berdiri di luar gerbang- tepat di depanku.

Irene menatapku penuh tanda tanya . Kali ini ia menggunakan mantel hitam elegan yang menutup tubuh hingga batas lututnya, sementara tungkainya kulihat hanya berlapis stocking hitam yang dipadukan high heels hitam pula setinggi 7 senti. Rambutnya yang sedikit bergelombang di bagian bawah dibiarkan terurai alami. Sangat cantik.

“Jadi apa yang mau kau bicarakan, huh?” tanyanya kemudian sambil bersender ke gerbang rumahnya sendiri. Jantungku mulai berpacu di atas normal untuk kesekian kalinya. Lantas kutatap wajah flawless Irene yang hanya berbalut make up tipis.

Noona sebenarnya aku-“

Ah, sepertinya ia sudah datang,” gumaman Irene seketika menghentikan kalimat yang tadinya sudah siap meluncur dari bibirku. Kuikuti arah pandang Irene ke sebuah mobil Mercedes benz hitam yang baru saja terparkir beberapa meter dari depan rumahnya.

“Siapa?” tanyaku seperti orang bodoh dan Irene nampak tersipu malu.

“Pacarku,” dan saat itu juga aku tertohok.

“Rencananya kami akan menghabiskan malam natal dengan kencan romantis malam ini,” kelakar Irene yang membuatku seketika mencelos. Jadi Irene berdandan seperti ini karena ia ingin pergi berkencan? Hei, sejak kapan ia punya pacar?

“Oh ya, kami baru jadian hari ini. Aih, senangnya. Aku jadi tidak perlu melewatkan malam natal sambil menjomblo lagi,” kekeh Irene lagi sambil memegangi pipinya sendiri, semakin tersipu malu.

“Ka-kapan?” tanyaku lagi seperti orang bodoh dan Irene nampak berpikir.

“Tadi pagi. Sebenarnya telfon yang kudapat saat ada di kantin bersamamu tadi adalah telfon darinya. Dan kau tau, saat kami bertemu di tempat janjian kami ia langsung berlutut dan menyatakan perasaannya di depan umum. Romantis dan keren sekali pokoknya!” terang Irene menggebu-gebu sementara aku mencelos. Jadi telfon itu adalah penentunya? Andai aku tidak membiarkan Irene pergi dan bersikukuh menyatakan perasaanku padanya tadi pagi, apa mungkin hasilnya akan berbeda?

“Kau cantik Bae Irene,” suara itu membuatku terhenyak. Lantas kutatap seorang lelaki bermantel hitam yang kini menyodorkan sebuket mawar merah ke arah Irene yang disambut senyum manis gadis yang menjadi tambatan hatiku itu. Tanpa sadar, kuremas pula setangkai mawar merah yang kusembunyikan di belakang punggungku itu. Jadi ini pacar gadisku? Orang yang sudah merebut Irene dariku?

“Oh iya Hun. Perkenalkan, dia pacarku, namanya Kim Suho,” ucap Irene dan lelaki bermana Suho itu nampak menyodorkan tangannya. Sadar akan sopan santun, lantas kubalas sodoran tangan Suho dan mulai menjabatnya.

“Nah Suho, dia ini Oh Sehun. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri,” penjelasan Irene tak pelak membuat hatiku semakin tergores. Kata adik itu agaknya semakin membuat luka menganga di hatiku.

“Senang berkenalanan denganmu Sehun-ssi,” lirih Suho dan aku hanya mengangguk singkat sambil melepas jabat tangan kami, enggan bersikap sok ramah dengan menanggapi senang berkenalan denganmu juga atau sejenisnya, toh nyatanya aku tidak senang dengan kehadirannya disini. Jadi untuk apa aku menambah dosa di malam natal ini dengan berpura-pura baik ‘kan?

“Jadi Irene, kita pergi sekarang?” tanya Suho sambil memeluk pinggang Irene. Ingin rasanya kupatahkan saja lengannya yang dengan lancang menyentuh Irene itu, namun sikap biasa Irene seakan tangan Suho yang melingkari pinggangya itu adalah hal yang wajar membuatku sadar diri. Aku bukan siapa-siapa di mata Irene dan aku berniat mematahkan lengan pacarnya? Yang ada hanya Irene akan membenciku.

“Hmm, Oh iya Hun. Apa yang ingin kau bicarakan padaku tadi?” kutatap mata bertanya Irene yang dipenuhi rasa penasaran, membuatku ingin berteriak saja kalau aku menyukainya sekarang juga dan menyuruhnya putus dengan Suho, namun ku urungkan niat di luar warasku itu.

“Bukan sesuatu yang penting. Aku hanya ingin mengucapkan selamat natal noona, tak lebih,” bohongku akhirnya dan Irene dengan cepat menepuk bahuku gemas.

Aish, kupikir kau mau bicara apa tadi,” katanya sambil setengah tertawa yang kubalas dengan kekehan yang sama meski setengah terpaksa.

“Kalau begitu selamat natal juga Oh Sehun. Salam untuk bibi dan hyung-mu,” ucap Irene dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

Tak lama kemudian Irene berlalu pergi dengan kekasih barunya , Kim Suho yang tampan dan kaya raya. Aku terkekeh sendiri mengingat bagaimana aku tersenyum sambil melambaikan tangan saat mobil yang dinaiki Irene dan Suho melaju meninggalkanku yang seperti orang bodoh di depan rumah Irene. Sebenarnya darimana aku bisa berakting bahagia seperti itu, huh? Seingatku tidak ada kelas akting yang pernah kuikuti dan di jurusanku sendiripun tidak ada kelas teater atau seni peran. Jadi, bagaimana kau bisa pura-pura bahagia seperti itu Oh Sehun?

Setelah kurasa mobil mereka cukup jauh, lantas ku keluarkan setangkai mawar yang sedari tadi kusembunyikan dibalik punggungku. Kutatap bunga yang kini remuk dan beberapa kelopaknya mulai rusak. Ku kulum senyum miringku, lalu kulemparkan mawar tadi ke tong sampah rumah Irene. Sama seperti bunga yang terbuang itu, perasaan yang bergejolak ini agaknya harus dibuang juga jika aku masih ingin bersama dengan Irene. Setidaknya dengan kepura-puraan itu aku masih bisa menikmati senyum manis Irene yang sudah seperti candu.

Tapi agaknya aku tak sanggup.

Lantas kubalik langkahku yang sudah sedikit jauh dari rumah Irene, kemudian mulai membongkar tong sampah gadis tadi. Tak butuh waktu lama karena kini setangkai mawar lusuh yang baru saja kubuang itu sudah ada lagi di genggamanku. Bibirku terkulum samar. “Dasar kau Sehun bodoh!” batinku, namun tetap saja kubawa pulang mawar remuk yang pinggiran kelopaknya sudah kotor itu.

Ya, kupungut karena kutau aku tak bisa membuang perasaanku sendiri. Rasa ini bagaikan tak berujung, merasuki jiwaku terlalu dalam dan sudah berakar terlalu kuat. Jadi kuputuskan tidak mengakhiri rasa ini, meski sakit namun tak apa. Sepanjang hidupku akan kupertahankan rasa gila ini, sungguh. Hanya kau Irene. Saranghae.

 

-FIN-

 

Next : Kyungsoo x Joy – Falling For You ♪

 

 

Merry christmas semuanyaa!!

Meski disini Sehun cintanya gak kesampaian, namun ada hikmah dari kisah Sehun kali ini, yaitu hidup berpengharapan. Jangan pernah takut berharap, karena Tuhan pasti mendengar anak-Nya yang percaya. Seperti Allah Bapa yang mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal dengan harapan setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Berpegang teguhlah pada pengharapan, karena lentera harapan itu adalah doa dan doa itu kudus.

Selamat Hari Kelahiran Yesus Kristus, Tuhan memberkati. Amin.

13 tanggapan untuk “Little Christmas (Series) – For Life – Shaekiran”

    1. Duduh, kesian yah si sehun, ganteng” kok patah hati/dibalang/😂
      Cieeh, hunrene shipper,😘😳
      Thanks for reading, baca seriss yg lainnya yawm Cintakuh padamuh.😍

    1. Selamat Natal juga chingu, moga damai Natal menerangi kita yakkk.🎉😆😆
      Iya, si sehun ngenes/dibalang/😂
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next seriesnya. Cintakuh padamuh.😍😍
      God Bless Us.😇

  1. nyesek ya jadi Sehun, dan..ya ampunnnn sebenernya gak rela Sehun gak jadi sama irene, bikin sequelnya please…..
    bikin irene tau kalo sehun suka sama dia, dan happy ending.

    sering sering ya bikin ff hunrene, suka dapet feelnya kalo cast nya mereka, lanjutin stuck on you nya juga please

    1. Iya, nyesek banget jadi dia, mau nembak gagal mulu/digampar/😂
      Sequelnya mungkin setelah series yg lain yaw chingu, tapi eki gak janji/ditabok/
      Hehe, di usahain makin banyak buat hunrene yaw chingu,😚
      Soynya masih otw, dalam waktu dekat ini update kok, doain yaww..😉😉
      Thanks for reading, baca series yg lain yaw chingu, Cintakuh padamuh. 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s