Under Moonlight – CHENFFI Birthday

under-moonlight-poster

Under Moonlight

Written by AirlyAeri/AirlyAi © 20161127

Starring by Kim Jongdae [EXO’s Chen] & Wang Byul [OC]

Genre : Collage!AU, Romance, Adult | Rating : PG17+ | Length : Oneshot (2,4K+ words)

Airly just has this plot. Thank you.

***

Histrionic

Byul memang tidak ingin jatuh cinta dengan siapapun, tetapi pengecualian untuk Kim Jongdae.

.

©CHEN FANFICTION INDONESIA

“Kenapa tidak sampanye saja, atau kenapa kau tidak pergi ke luar dan menikmati soju di kios pinggir jalan? Wine memiliki efek yang kuat, Byul.”

“Berisik, Jo.”

Wang Byul mendesis kesal lantaran Jordan—teman minum sekaligus bartender idamannya mulai cerewet panjang lebar selama ia sibuk meneguk wine dalam gelasnya, membiarkan aroma fermentasi anggur menguasai diri gadis itu. Ini sudah gelas wine kesembilan yang Byul teguk, dan nyatanya gadis itu masih duduk tegak meski kepalanya mulai terasa berat.

“Kau ‘kan sudah terbiasa dicampakkan Brian, kenapa sampai jadi frustasi akut begini? Biasanya juga kau kembali melanjutkan hidup dan sibuk kuliah lagi.”

“Hentikan, Jo. Aku mau melupakan bajingan itu.”

Byul meneguk wine-nya lagi tanpa ampun. Ia sudah tidak peduli dengan kondisi kelab malam yang semakin ramai pengunjung seiring larutnya malam. Jordan juga sudah menghentikan mulutnya untuk bercerewet lagi, jadi lelaki bertato itu memilih sibuk melayani para pelanggannya yang sudah ramai berdatangan dan siap menikmati alkohol.

“Kalau kau sudah mabuk, aku akan mencarikan taksi untukmu dan membelikanmu bacchus* di minimarket.”

Itu adalah ucapan terakhir Jordan sebelum ia kembali bekerja. Lagi pula Byul juga tidak begitu peduli, kalaupun ia akhirnya harus tertidur di sini seperti orang gila juga tak masalah. Inti kata, sekarang otak gadis itu sedang dipertanyakan tingkat kewarasannya.

Arlojinya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi suasana malah menjadi semakin meriah diisi oleh para pencari hiburan. Alunan musik yang dimainkan DJ juga semakin keras, diiringi lampu disko yang berkedip-kedip menambah suasana riang kelab malam tersebut.

Akhirnya, sepasang heels milik Byul melangkah turun menuju lantai dansa yang sudah sesak. Sisa kesadarannya masih muncul setengah, jadi ia tetap bisa melihat bagaimana ramainya suasana kelab malam ini. Ia melihat semuanya sibuk tertawa dan menari tanpa peduli waktu yang terus berputar sampai berkeringat.

Baru saja tubuh Byul bergerak santai menari mengikuti iringan musik sebelum tiba-tiba rasanya seperti menabrak seseorang.

“Maaf.” Byul berucap lirih.

“Hai, Byul!”

Byul mengerutkan keningnya sebelum menoleh. Kali ini maniknya tak berkedip menatap sosok yang tengah mengulas senyum untuknya setelah berhasil memanggil namanya. Sosok yang awalnya ia pikir tidak nyata.

“Jongdae?”

“Kita bertemu lagi!”

Byul mengangguk seraya kembali menari. Diam-diam pikirannya menerawang mencoba mengingat sebentar. Kim Jongdae, mahasiswa yang sempat ia temui di jam mata kuliah umum kemarin. Ah, ingatannya ternyata masih sangat bagus.

“Kau selalu ke sini?” tanya Jongdae, yang sukses membuyarkan lamunan Byul.

“Tidak juga,” balas Byul. “Hanya sesekali setiap akhir pekan. Bagaimana denganmu?”

“Aku sering ke sini,” sahut Jongdae. “Mau kutraktir?”

“Chen Kim!”

Kali ini, Byul melihat Jongdae menoleh ke sumber suara. Pertanyaan seketika muncul di benak Byul saat mendengar sebuah nama yang terdengar asing. Chen Kim?

Hi, dear!”

I should go home right now. Thanks for tonight, Chen!”

Mata Byul bahkan nyaris keluar dari tempatnya saat melihat wanita itu mencium bibir Jongdae dengan panas sebelum melenggang pergi.

“Wow,” gumam Byul setelah beberapa saat. “Dia pacarmu?”

“Bukan,” ungkap Jongdae enteng sambil menoleh ke arah Byul. “Aku tidak terlalu mengenalnya, omong-omong.”

“Lalu, Chen Kim?”

“Itu panggilanku di sini. Bagaimana? Aku terkenal, ‘kan?”

Dahi Byul berkerut, berusaha mencerna apa yang terjadi. “Kalau wanita tadi bukan pacarmu, lalu siapa?”

“Hanya segelintir wanita yang jatuh cinta padaku dalam sekejap mata,” jawab Jongdae. “Aku suka semua jenis wanita karena wanita itu perhatian. Aku juga suka padamu.”

Bullshit, pikir Byul sambil tertawa kecil dan mendecih. Tapi karena hari ini ia tidak ingin pusing, jadi ia biarkan saja dan tetap menari mengikuti alunan musik iringan sang DJ.

“Omong-omong kau cantik malam ini,” cetus Jongdae.

Byul menoleh kembali ke arah Jongdae lantaran suara musiknya begitu keras sampai sulit mendengar. “Apa?”

Satu hal yang rasanya membuat jantung Byul mendadak berhenti, kala telinganya terasa hangat oleh deru napas dan sesuatu yang lembab tepat mengenai daun telinganya. Bisikan seduktif lelaki itu langsung membuat si gadis cepat tersadar. “Kau cantik.”

Buk!

“Auw!”

Byul langsung meringis kesakitan saat tak sengaja punggungnya terbentur oleh tubuh manusia yang lain. Rasanya gadis itu ingin memaki-maki orang itu. Bagaimana kalau ia terjerembab jatuh? Untung saja sekarang―eh, sebentar.

Byul mendongak, kali ini memandangi Jongdae yang mengulas senyum untuknya. Jemari si gadis tanpa sadar mencengkeram erat lengan kekar lelaki itu, begitupun Jongdae yang refleks memegangi pinggang Byul demi menangkap sang gadis yang nyaris terjatuh. Byul juga baru sadar bila penampilan lelaki yang ia lihat di jam mata kuliah umum kemarin berbeda dengan sekarang. Kali ini Jongdae hanya memakai kaus putih yang dilapisi oleh jaket kulit berwarna hitam, sementara rambutnya tampak basah oleh keringat.

Tanpa sadar, manik mata si gadis bergerak turun menelusuri manik hitam Jongdae, alisnya, hidungnya, lalu bibirnya….

“Kalau kau menatapku begitu, persentase kemungkinan untuk jatuh cinta padaku sekitar sembilan puluh persen.”

Sontak Byul menjauh dari pelukan Jongdae begitu mendengar ocehan lelaki yang begitu percaya diri itu. Ya ampun, tadi ia melihat apa? Kepalanya mendadak jadi terasa pusing, lebih baik ia segera pulang.

“Aku harus pulang,” ungkap Byul.

“Tidak mau menerima traktiranku? Ini masih belum larut, kalau kau mau tahu,” balas Jongdae.

“Kalau kau mengantarkanku pulang, aku akan mentraktirmu wine. Di flatku masih ada satu.”

“Kau sudah biasa mendatangkan lelaki ke rumahmu, ya?”

“Apa itu masalah bagimu?”

Jongdae terkekeh mendengar balasan terakhir Byul, jadi ia mengalah dan malah menengadahkan tangannya pada si gadis. “Aku terima tawaranmu. Ayo.”

***

Rasanya kepala Byul jadi makin pening kala selama perjalanan menuju flat, pun jaraknya mendadak terasa seperti beratus-ratus kilometer jauhnya. Sialan, ia baru sadar aroma parfum milik Jongdae begitu memabukkan sampai tidak bisa hilang dari bulu hidungnya. Padahal ia sendiri juga tanpa sadar mencium aroma wine dari bibir Jongdae.

Sekarang sudah pukul setengah dua pagi, jadi gadis itu tidak khawatir akan dilihat orang saat ia mengajak Jongdae ke sini. Lagi pula, memang ia melakukan apa?

“Kau tidak punya pacar?”

Byul menoleh ke arah Jongdae sebentar saat ia sibuk berjingkat kecil untuk mengambil botol wine di rak dapurnya. Tadi gadis itu berjalan cepat-cepat menuju flat ketika sampai, takut-takut Jongdae mendengar deru detak jantungnya yang terasa tak wajar.

“Baru kemarin putus akibat dicampakkan,” jawab Byul sambil kembali fokus.

“Lalu kau tidak mau mencoba untuk jatuh cinta denganku?” tanya Jongdae lagi.

Tanpa sadar Byul berdecih. Mulutnya komat-kamit bergumam seraya mengumpat mengapa rak dapurnya begitu tinggi. “Kenapa harus?”

“Aku bisa membuatmu jatuh cinta.”

Baru saja Byul hendak menyentuh botol wine-nya kala tahu tangan kokoh itu telah lebih dulu meraihnya, membuat gadis itu refleks berbalik. Jantung gadis itu nyaris berhenti berdetak saat mengetahui ternyata Jongdae sudah berada di belakangnya.

“Ayo taruhan,” cetus Jongdae seraya menuangkan cairan pekat fermantasi tersebut ke dalam sepasang gelas tinggi yang ia pegang. Lalu, menyerahkan salah satu gelasnya pada Byul yang kini menoleh ke arah lain.

“Taruhan apa?” tanya Byul seraya menerima gelas dengan enggan. Aroma seduktif milik Jongdae kembali menguar dan menyapa indra penciumannya. Bahkan sekarang jauh lebih pekat dari yang dibayangkan akibat ditambah dengan aroma pekat wine yang menenangkan.

Jongdae menenguk wine dari gelasnya, kemudian sambil memandang gadis di hadapannya ia berujar, “Kita bisa jatuh cinta.”

Byul mulai berani memandang wajah Jongdae lekat sebelum manik abu-abunya bergerak turun ke arah bibir pria itu yang memerah. Tetesan sisa cairan wine masih tertinggal di sana.

Nah. Sepertinya Byul mulai dipertanyakan tingkat kewarasannya kalau melihat bibir Jongdae yang terlihat seksi begitu.

“Lakukan saja.”

Tepat saat itu pula, Jongdae langsung menaruh gelas wine-nya dan melumat bibir Byul. Diikuti Byul yang tanpa sadar telah menaruh gelasnya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Jongdae seraya memejamkan kedua matanya. Entah bagaimana, mereka merasa bibir mereka pas untuk saling bertautan.

Rupanya tautan Jongdae semakin menjadi dan memilih menekan tubuh Byul untuk berbenturan dengan dinding, diikuti dengan sepasang kaki Byul yang segera mengaitkan di tubuh lelaki itu agar terkunci posisinya.

Tak lama, Byul menarik bibirnya seraya terengah-engah, membuat Jongdae mengerang kecewa. “Ada apa?”

“Ini menyebalkan,” desis Byul. “Aku tidak nyaman berciuman dengan posisi begini.”

“Ya sudah, di mana kamarmu?”

“Di pintu dekat ruang tengah.”

“Kita lakukan di sana.”

“Aku malas jalan.”

Jongdae mengulas senyum miring pada Byul sebelum kedua tangan kokohnya merengkuh punggung gadis itu dan mengangkatnya, sementara Byul masih mengalungkan kedua tangannya seraya menenggelamkan kepalanya di tengkuk Jongdae. Aroma parfum bercampur wine pada tubuh Jongdae membuat Byul mabuk segalanya.

Jongdae meraih daun pintu kamar Byul dengan susah payah dan langsung membanting keras pintu dengan kakinya begitu masuk. Ia meletakkan tubuh Byul di atas ranjang queen size milik gadis itu, sementara Byul langsung memindahkan tangannya untuk menutupi wajahnya yang memerah.

“Jongdae…,” gumam Byul dengan nada lirih.

“Aku baru tahu ternyata kau itu semacam wine.”

Jongdae mulai bergerak turun ke ranjang dan merangkak kecil agar ia dapat melihat wajah Byul dengan jelas. Tangan kokohnya perlahan mengusap helaian rambut Byul yang mulai berantakan, membuat Byul refleks membuka kedua matanya dan agak terkejut melihat lelaki itu. Posisi tubuhnya sudah jelas bahwa Jongdae yang berkuasa atas Byul.

“Wang Byul.”

“Apa?”

Byul bahkan dapat mencium aroma wine dari deru napas Jongdae yang kentara dekatnya. Lagi, ia terbayang bibir Jongdae yang melumat bibirnya dan meninggalkan rasa manis di sana. Sementara itu, Jongdae menatap lekat sepasang manik abu yang berpendar-pendar ke arahnya.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Menurutmu?”

Jongdae terkekeh pelan sebelum tubuhnya mulai bergerak turun menghimpit tubuh Byul, membiarkan bibirnya kembali melumat bibir si gadis dengan lembut. Mendesak lidahnya masuk ke dalam demi mengecap rasa manis yang bercampur dengan aroma wine yang memabukkan. Sementara Byul memejamkan matanya seraya memainkan helaian rambut Jongdae disela ciuman.

Byul mulai mengerang kala bibir Jongdae mulai bergerak turun dan mencium tiap sudut tengkuk dan lehernya.

“Jongdae….”

“Hmm?”

Jongdae mengangkat wajahnya dan memandang Byul yang berusaha membuka kedua matanya. Padahal tangan lelaki itu baru saja berhasil melepaskan tiga kancing kemeja yang dikenakan si gadis, sehingga terlihatlah bra merahnya.

“Ini salah…,” gumam Byul.

“Kenapa?”

Jongdae mulai bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk, diikuti oleh Byul yang kini berusaha memasangkan kembali kancing kemejanya.

“Aku tidak ahli begini,” ungkap Byul. “Tapi aku suka sekali menciummu.”

Jongdae mengangkat alis kanannya kala menatap gadis itu, jadi Byul yang merangkak mendekati si lelaki seraya mengalungkan kedua lengannya kembali di leher Jongdae. “Kau suka perhatian, ‘kan? Kemari, aku akan menciummu.”

“Heh, yang benar saja.”

“Bibirku ini seksi tahu. Lagi pula, kau tidak sadar ya kalau aku ini ahli dalam berciuman? Lihat, lihat bibirku.”

Byul mulai asyik memanyun-manyunkan bibirnya di depan wajah Jongdae, membuat lelaki itu terkikik geli dan kembali memegang pinggang ramping si gadis seraya berkata, “Kau benar-benar mabuk dengan wine sebelumnya, ya?”

Si gadis mendengus, tahu kalau Jongdae sekarang bisa mencium aroma wine dari mulutnya. “Aku ini ahli dalam minum juga, satu botol wine bukan apa-apa.”

Jongdae tertawa renyah. Kemudian ia mengubah posisinya menjadi kaki yang diluruskan ke depan, diikuti dengan Byul yang refleks segera duduk di pangkuan paha pria itu dengan sepasang kaki yang kembali mengunci posisi Jongdae. Lengan Byul bahkan masih bertengger di leher si pria.

“Mau coba denganku? Aku juga memabukan,” tawar Jongdae lengkap dengan nada menggoda.

Byul memincingkan kedua matanya, sok berpikir padahal ia jelas tahu apa yang ia inginkan. “Silakan.”

Setelah itu, Jongdae dan Byul kembali tenggelam dalam kecupan dan lumatan dalam kamar si gadis. Membiarkan bibir mereka kembali saling bertaut, saling melumat, saling memagut, dan saling menyesap rasa manis bibir dari wine yang mereka teguk sebelumnya. Pun membiarkan cahaya rembulan menyusup masuk menerangi gelapnya ruangan tersebut bersamaan dengan suara desah yang tanpa sadar lolos begitu saja.

***

“Sekarang aku tahu mengapa namamu Byul.”

Byul memandang Jongdae yang kini berbaring di sisi kirinya seraya menatap maniknya lekat. Ini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, pun kepala gadis itu semakin berat setelah berpesta wine dengan Jongdae sedari tadi.

“Kenapa?” tanya Byul dengan nada ingin tahu.

Sementara, Jongdae memandang bola mata abu-abu Byul lekat seraya mengelus helaian rambut si pemilik manik. “Abu-abu yang terpancar di bola matamu berpendar-pendar cantik, seperti bintang cerah bersinar di langit malam.”

“Wah, bualanmu makin menjadi, Tuan.”

“Aku serius.”

Lalu, keduanya tertawa lepas. Setelah reda, Jongdae sengaja merapatkan tubuhnya ke arah Byul dan Byul menyambutnya dengan senang hati. Jadi, tangan mungil sang gadis berhasil merengkuh tubuh kekar Jongdae dan membiarkan hidungnya mencium aroma tubuh si pria Kim. Di sisi lain, Jongdae sudah memejamkan matanya menikmati aroma wangi rambut Byul seraya memeluk tubuh ringkihnya.

“Aku tak ingin ini berakhir, benar-benar tak ingin berakhir….”

Samar-samar, Byul mendengar gumaman Jongdae, membuat gadis itu mengusap punggung Jongdae dan mengeratkan pelukannya, Dalam benaknya, Byul juga sadar bahwa begitu matahari terbit maka semuanya juga akan berakhir.

“Aku tahu ini konyol,” ungkap lelaki itu.

“Kita konyol,” ralat Byul.

Jongdae tertawa kecil, lalu kembali berkata, “Aku ingin mengatakan hal ini sebelum semuanya berakhir, Byul. Mungkin kau akan menjadi bagian kenangan yang paling indah di antara para wanita yang sering kutemui.”

“Oh ya?”

“Makanya, aku benar-benar tak ingin ini berakhir. Setidaknya aku tidak ingin melupakan malam ini saat dia datang.”

Byul mengernyit dahi lantaran tak mengerti, tetapi ia langsung teralihkan oleh lengan kokoh Jongdae yang melingkari punggungnya,

“Ayo tidur, Byul. Kepalaku sudah terasa berat. Selamat malam.”

“Jongdae―”

Byul terdiam membeku kala tiba-tiba Jongdae mengecup lama keningnya seraya memejamkan kedua matanya sebelum berhasil tertidur sungguhan. Gadis itu menatap Jongdae yang sudah terlelap, lalu mencium pipi Jongdae sebelum ikut tertidur.

Diam-diam, Byul juga berharap ini tidak akan pernah berakhir.

***

Byul membuka matanya dengan berat begitu mendengar suara kicauan burung. Sinar matahari telah menyusup masuk ke dalam kamarnya, membuatnya melenguh sejenak sebelum ia menyadari sesuatu. Tubuhnya kini terbalut dengan selimut, seingatnya ia tidak memakai selimut semalam. Tetapi, itu bukan apa-apa ketimbang saat gadis itu menoleh ke sisi kirinya dan mendapati kekosongan di sana.

Gadis itu mengusap sisi kirinya sebentar, lalu mengulas senyum. Kepalanya belum pulih benar lantaran efek wine semalam, tetapi otaknya masih terekam jelas mengingat apa yang terjadi.

“Jongdae….”

Tanpa sadar ia kembali membayangkan aroma pekat memabukkan milik Jongdae. Pun mengingat berbagai ciuman panas semalam, membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.

Ketika Byul menoleh ke sisi lain, sepasang matanya mendapati secangkir cairan yang berwarna cokelat tua—mirip dengan teh dengan aroma yang begitu asing tergeletak di meja nakasnya bersama dengan secarik kertas kecil.

Tisane, teh herbal asal Prancis ini setidaknya cocok untukmu agar segera pulih dari efek wine. Terima kasih atas semalam, Byul.  ―JD.’

Byul menaruh kertas tersebut dan gantian meraih cangkirnya. Tehnya sudah tak lagi mengepulkan asap panas, membuat gadis itu berspekulasi bahwa Jongdae sudah pergi beberapa waktu lalu sebelum ia terbangun.

Kini pikirannya mulai menerawang bersamaan dengan teh herbal yang ia sesap. Ia tahu betul bagaimana perasaannya mengenai si berengsek sialan itu, tetapi perjalanan waktu semalam bersama Kim Jongdae membuat hatinya tanpa sadar menghangat dan lupa akan segalanya.

Ia memang sedang tidak ingin jatuh cinta dengan siapapun, tetapi pengecualian untuk Kim Jongdae. Lelaki itu seperti bagian dari fantasi indahnya walau hanya semalam.

Byul tak berharap ingin bertemu dengan lelaki itu lagi, tetapi setidaknya izinkan ia untuk mengenangnya dalam bagian sudut hatinya. Barangkali gadis itu kembali bertemu sosok Chen dalam diri Kim Jongdae? Siapa tahu.

Bersamaan itu, tetesan terakhir cairan hangat dari cangkir telah meluncur mulus ke dalam kerongkongan si gadis. []

-fin.

*bacchus : minuman berenergi yang biasa diminum untuk menghilangkan mabuk.


Ampuni Airly karena bikin Kim Jongdae jadi begini dan tidak sesuai ekspektasi (dan ga nyambung sama judulnya serta promptnya). Maafkan bila tak sesuai permintaan kakak author yang minta lebih dari ini. (((lalu tenggelemin diri ke bak mandi)))

Btw, happy anniversary CHENFFI. Semoga makin-makin buat blognya, buat authornya, dan buat EXO Chen sendiri. Pun semoga jodoh Airly adalah Kim Jongdae /ga/. Aamiin.

Semoga suka. Sekian dan terima kasih!

-Airly.

One thought on “Under Moonlight – CHENFFI Birthday

  1. Ping-balik: SEPULUH WAJAH CHEN | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s