Silence(d) – CHENFFI Birthday

cqcapmjumaa-lnw

Silence(d)

© LDS, 2016

EXO Chen (Kim Jongdae) x f(x) Krystal (Jung Soojung)

Slice of Life – slight!Fluff – Oneshot (2K+ words) – Teen and Up

an entry for ChenFFI Birthday Project, prompt: Loner

.

“Kadang, tanpa kusadari, aku berpikir tentang dirimu yang dingin. Aneh sekali bagaimana jantungku terpacu.” (EXO Chen & f(x) Krystal – When I Was, When U Were …)

.

Jongdae si kakak kelas berandal memang punya banyak sisi, tetapi wajah yang sekarang ia tampakkan tidak pernah Soojung lihat sebelumnya.

***

©CHEN FANFICTION INDONESIA

Di luar bus turun hujan. Bunyinya monoton, makanya Jongdae tidak terlalu tertarik mendengar orkestra tetes tirta. Baginya, hujan itu berisik, tetapi kosong isi; tidak ada apa pun yang dibawa hujan selain fluida bening, bukan? Coba ada hujan sirup. Atau hujan kopi. Sekarang ngopi sedang tren, kalau ada hujan kopi orang tak perlu repot-repot pergi ke kafe dan membayar mahal buat segelas seduhan hitam.

Seram, sih, andai hujan khayalan Jongdae betulan ditumpahkan dari langit oleh Tuhan. Lebih baik hujan tetap menjadi dirinya yang sekarang biar Jongdae tidak repot-repot mencari perumpamaan baru tentang para pencemoohnya di sekolah. Ya, mereka berisik dan kosong isi persis hujan ini. Jongdae bisa mengerti jika dirinya diejek saat sedang beraksi sebagai berandal sekolah, tetapi di luar itu? Ketika dirinya sedang disiplin? Atau sedang jadi tukang minder? Atau bahkan ketika ia sedang diam dan dingin?

Punya sepuluh wajah yang kontras warnanya memang tak mudah sebab tidak semua wajah disukai orang. Yang ada, noda di satu wajah akan mencoreng wajah-wajah lainnya.

Beruntung, Jongdae sudah lumayan terbiasa. Sahabatnya di sekolah, seorang gadis eksotis bernama Azula, lumayan memahami dirinya dan sekian banyak wajahnya, serta tidak keberatan membantu Jongdae dalam mode apa pun selama tidak merugikan orang lain. Karena Azula pula, lambat laun, Jongdae mampu menerima kondisi kebanyakan wajah ini dengan lapang hati, malah kadang ia menertawakan bagaimana dunia berubah tatkala wajahnya berganti. Mereka serupa rakyat jelata di bawah kaki raja kalau Jongdae jadi penguasa, kemudian beralih jadi raja kalau Jongdae mulai merendahkan diri, lantas berubah lagi macam pecinta (terutama para wanita) bila sisi malaikat Jongdae mengemuka, selanjutnya kembali mengerut saat Jongdae memimpin suatu pekerjaan dengan tangan besi yang nihil toleransi. Dari semua robekan jiwa Jongdae itu, sisi bekunya merupakan yang paling jarang dilirik. Tentu saja, sisi itu juga punya kelebihan.

Kelebihan dalam mendengar. Menyimak.

Kecuali sedang mendengarkan lagu melalui earphone, Jongdae ‘si es balok’ dapat mendengar orang-orang berkerisik, kebanyakan tentang sikapnya yang berubah-ubah, tetapi tidak pernah termasuk yang beku ini. Bagusnya, yang Jongdae dengar bukan hanya sebatas itu: tangisan siswa berkacamata yang baru dipukuli di kamar mandi, umpatan guru yang tidak dihormati murid, keluhan seorang gadis tentang pacarnya yang tidak pengertian … suara-suara super samar ini tidak akan sampai ke rungu Jongdae jika ia tidak diam dan menyimak baik-baik.

Kali ini, di antara sekian banyak orang yang mendumel akibat kebasahan atau hawa lembab, Jongdae mendengar sesuatu yang terkesan seperti langkah seorang gadis. Si gadis baru naik bus setelah semua penumpang sebelumnya duduk dan ia melambatkan langkah beberapa jauh dari Jongdae, entah karena apa. Bunyi langkahnya tidak terdengar lagi hingga bus melaju.

Jongdae menengok ke belakang. Gadis itu kaget dan memalingkan muka segera, tidak berani menentang mata Jongdae. Jemari tangan gadis itu mengerat pada pegangan di atas kepalanya, menstabilkan posisi selagi bus berjalan. Seragam si gadis agak basah—pasti dia berlari di bawah gerimis dari sekolah untuk bisa sampai halte, tanpa payung—dan sesekali gadis itu mengalihkan pandang ke luar jendela. Derasnya hujan menjadi satu-satunya alasan si gadis menggigit bibir gelisah, dapat Jongdae pastikan.

“Hoi, kamu.”

***

“Hoi, kamu.”

Uh, mati aku.

Kalau saja bukan Kim Jongdae yang melayangkan sapaan datar ini, Jung Soojung tidak akan merasa kematiannya begitu dekat. Walaupun kematian di sini maksudnya tentu tidak secara harfiah, mendekati musuh bebuyutan Komisi Kedisiplinan ini jelas akan jadi bencana. Secepat itukah dia membuat masalah dengan senior pada tahun pertamanya? Terus … harus ya senior yang dia hadapi adalah penjahat kelas kakap dua tahun di atasnya? Ayolah, Soojung baru jadi siswa SMA selama satu bulan! Dia punya daya apa? Gadis itu pun memejam erat, wajahnya masih belum berani menghadap Jongdae, dan dalam hatinya mulai terapal bermacam doa penolak berandal.

“Kamu, anak kelas satu, mau duduk?”

Astaga, Soojung dapat membayangkan lanjutan dari pertanyaan ini. Mau duduk? Tapi tak ada tempat, kau memang cewek malang! Ini versi satu alias versi senior tukang ejek. Versi duanya yang mesum: Mau duduk? Ke pangkuanku sini, lebih empuk buat bokongmu ketimbang kursi. Versi ketiga atau dikenal juga sebagai ‘mode pemerasan’: Mau duduk? Serahkan dompetmu dan isinya, baru aku mau turun. Tidak mau? Sayang, harus pakai cara paksa!

Selama ini, Soojung setia menjadi pihak yang menyaksikan berbagai versi Si Nakal Jongdae di sekolah. Ia tak pernah menyangka akan diperlakukan dalam salah satu mode tersebut—atau tiga-tiganya?—dalam bus ini, sebentar lagi.

Harus bagaimana sekarang? Diam saja jelas tidak aman. Mau pura-pura tidak dengar, pasti dia marah karena diabaikan …. Kalau dia melakukan sesuatu padaku, bagaimana aku melindungi di—

Kekhawatiran-kekhawatiran yang berkecamuk dalam benak Soojung seketika teredam begitu ia merasakan kehangatan meliputi genggamannya pada pegangan di langit-langit bus. Ia perlahan membuka mata dan nyaris kehilangan napas menyadari sang kakak kelas berdiri tepat di depannya. Hangat yang ia rasakan rupanya menjalar dari tangan Jongdae!

“Duduklah.”

“Tapi … anu … itu k-kursi Senior, kan? Hm … maksudku ….” Kau ngomong apa, sih, Jung Soojung?!, batin si gadis, malu pada diri sendiri yang gugup tanpa alasan. Reaksinya ini akan wajar jika lawan bicaranya adalah idola sekolah—Kim Myungsoo kapten tim basket atau Kim Seokjin dari klub sastra, misalnya—tetapi si muka kotak ini Kim Jongdae! Satu-satunya yang sama darinya dengan para idola sekolah dalam bayangan Soojung tadi hanya marganya! Sifat? Heh, jauh!

“Duduklah, sebelum ditempati orang.”

Baiklah. Soojung pasti bermimpi. Mana mungkin seseorang sekasar Jongdae menawarinya duduk dan berubah jadi pangeran bersinar yang menyelamatkan Soojung dari kaki pegal? Ini betul-betul Jongdae si perusak; senior-senior pembimbing Soojung waktu orientasi dulu saja membuat materi khusus tentang bagaimana cara menghindari Jongdae serta masalah yang dibawanya!

Kendati demikian, tatapan serius Jongdae dan repetisi perintah yang menunjukkan kesungguhannya memaksa Soojung melepaskan pegangan, lalu duduk di tempat yang semula Jongdae duduki.

***

Hujan belum berhenti turun, bunyinya gaduh sekali dan bertambah mengerikan bagi penumpang bus yang tidak bawa payung. Anak kelas satu yang duduk menggantikan Jongdae tampak murung. Mudah ditebak mengapa.

“Payungmu?”

Si gadis kontan menengadah, lagi-lagi terlihat terkejut, sebelum menggeleng lemah.

“S-saya lupa membawanya, Senior ….”

Jongdae juga tidak bawa. Atau setidaknya merasa tidak pernah mempersiapkan. Dia pasti akan kebasahan pulangnya nanti. Lalu pusing. Demam seharian. Bersin-bersin. Akhirnya beringus. Gadis itu juga pasti akan berakhir sama.

Tapi Jongdae ingat kebiasaan ibunya yang tanpa izin memasukkan barang dalam tasnya, barang-barang yang menurut sang ibu akan Jongdae butuhkan. Iseng Jongdae mengecek ransel, langsung ke bagian saku depan, kantung dalam sebelah kiri. Tuh, kan. Sesuai dugaan, ada payung lipat hitam menyembul dari sana.

Sejenak Jongdae menimbang-nimbang.

Tidak. Konsep damsel in distress—gadis dalam kesulitan dan pria penolongnya yang perkasa—tidak berlaku di sini. Meminjamkan payung pada satu siswi mustahil menghentikan gunjingan satu sekolah padanya dan menukar pandangan-pandangan merendahkan dengan label pahlawan. Berharap si anak kelas satu menyebarkan setitik kebaikan pada dirinya agar para pencemoohnya bungkam? Itu angkuh. Kekanakan. Bodoh. Ujungnya, menolong si anak kelas satu tidak akan membawa keuntungan apa-apa buat Jongdae.

Bus akan tiba di perhentian selanjutnya lima menit lagi. Hujan sudah tidak terlalu ganas, tetapi badan tetap akan basah kuyup bila melangkah pulang tanpa perlindungan. Si anak kelas satu mendesah berat, bus melambat, dan Jongdae mengulurkan payungnya.

Masa bodoh dengan ejekan mereka yang tidak melihat ini.

“Butuh?”

***

“Butuh?”

Eh?

Soojung tercengang, untuk kali kedua. Setelah ditawari duduk, sekarang dipinjami payung? Ini gila. Jongdae yang ditatap Soojung sekarang … apa benar orang yang kemarin memalak seorang teman sekelas Soojung? Yang membuat sekelompok anak kelas dua tidak dapat tempat di kantin akibat tergusur? Yang menanam lebam di wajah ketua Komisi Kedisiplinan?

“Jawab.”

“I-iya, butuh ….”

Refleks Soojung jelek sekali, ia tahu. Cuma karena ditegasi sedikit, ia gagap dan mengatakan sesuatu yang tak semestinya. Pikirkan, bagaimana kelak Soojung akan mengembalikan payung itu? Di sekolah, saat preman legendaris ini sedang bekerja? Lucu. Bisa-bisa dompet Soojung dikuras atau, lebih buruk, ia sendiri yang ‘diperas’, kalau kalian paham maksudnya. Jongdae itu pemuda yang hormonnya sedang tinggi, lho.

“Kalau butuh, ambil.”

“B-Begini, Senior … hm …. Payungnya kan punya Senior, kalau kupinjam, Senior sendiri …?”

Yang ditanya bergeming. Manik cokelat gelapnya lurus pada Soojung, tidak ke lain-lain, mantap meminta si gadis membawa payung itu. Takut-takut, Soojung menerima payung dan menggenggamnya di atas pangkuan, kepalanya terus tertunduk, sementara Jongdae kembali memandang ke depan, kelihatannya tak acuh terhadap nasibnya tanpa payung. Oke, barangkali Jongdae ingin menantang diri buat menerjang hujan—anak lelaki umur segitu suka melakukan hal-hal tidak bermanfaat, kan?—tetapi tetap saja!

“Senior?”

“Ya?”

Aslinya, Soojung mau bilang ‘bawa saja payungnya’ atau ‘apa kau yakin, kalau kehujanan kau bisa sakit’—sesuatu yang intinya menyiratkan perhatian, namun gagal. Refleksnya tidak bosan-bosan berkhianat. Rencana awal Soojung setelah mengangkat wajah adalah menyerahkan payung pada Jongdae …

“Terima kasih banyak.”

… kini tinggal rencana saja.

Lidah Soojung seakan dikendalikan secara misterius oleh sepasang mata Jongdae. Bukan, bukan intimidasi, melainkan empati bebas egoisme yang terpancar di sana, sesuatu yang membuat Soojung terpana. Gampangnya, Jongdae memang tulus, rela berkorban demi adik kelas yang sedang kesusahan, atau lebih dramanya lagi, senior tampan berhati emas yang melindungi junior selagi dirinya berjalan di tengah rinai hujan.

Jijik.

Tapi ada beberapa bagian dari kalimat mendayu-dayu tadi yang sesuai kenyataan. Beberapa di antaranya: ‘senior’, ‘berhati emas’, dan oh, bagian ‘berjalan di tengah rinai hujan’ kemungkinan juga akan sungguh terjadi—kalau dia betulan lelaki, biasanya sih menerobos hujan lebih seru daripada menunggu. Oh ya, terus bagian ‘tampan’, itu pun benar.

Aneh bagaimana debar jantung Soojung enggan melambat dan anak matanya tak dapat bergeser ketika berbicara dengan Jongdae yang ini.

“Mau bilang sesuatu?”

Dan dia peka! Andai sikap menyenangkan Jongdae ini bertahan sampai besok ….

“Anu … Senior … besok ini pasti akan kukembalikan. Aku minta maaf karena merepotkan ….”

***

“Anu … Senior … besok ini pasti akan kukembalikan. Aku minta maaf karena merepotkan ….”

Hampir saja Jongdae mengiyakan. Ia baru ingat bahwa, bahkan detik ini pun, ia tidak dapat memastikan wajah baiknya bertahan lama, lalu wajah mana yang akan menggantikannya. Gadis itu boleh senang sekarang. Siapa tahu besok, anak kelas satu itu mengadu pada teman-temannya sambil menangis: aku baru dikasari Senior Jongdae, padahal aku cuma mau kembalikan payungnya!

Sialan, memang, kutukan sepuluh wajah ini. Berbuat baik salah, berbuat jahat apalagi.

Jongdae membuang napas.

Kapan terakhir kali aku berbuat baik pada orang lain tanpa mempertimbangkan terlalu banyak hal, ya?

Kapan?

Jongdae kira akan lebih baik kalau ‘terakhir kali’-nya itu hari ini. Sebuah ide melintasi benaknya, melegakannya, dan tanpa sadar, ia tersenyum.

“Bawa saja payungnya. Aku tidak tahu kapan akan baik lagi pada orang lain.”

Bagian terakhir kalimat itu merupakan aib besar, tetapi Jongdae merasa satu beban telah lepas dari dadanya. Besok, mungkin ia akan mengacau lagi, telinganya tidak akan cukup sensitif untuk menangkap teriakan kesakitan akibat bogem mentahnya, jeritan terkencang sekalipun, dan kata-kata setajam sembilunya akan kembali mengoyak perasaan banyak orang, gadis ini masuk hitungan.

Jadi, Jongdae merelakan payungnya dibawa pergi. Gadis itu tidak perlu melihat—mengingat—wajah lain Jongdae yang carut-marut, cukup wajahnya yang sekarang, wajah seorang senior yang meminjamkan payung hitam kala hujan mengancam.

Ah, terlalu muluk. Jongdae lebih suka dilupakan, bahkan jika itu berarti kebaikannya ikut hilang tak berbekas.

Setidaknya, Jongdae yang beku menyukai hal tersebut.

***

“Bawa saja payungnya. Aku tidak tahu kapan akan baik lagi pada orang lain.”

Usai mencuci tangan-kaki dan ganti baju sepulang sekolah, Soojung berbaring telentang sembari merenungkan perkataan Jongdae. Rasanya karena kalimat itu, semua omongan buruk di kepala Soojung tentang Jongdae langsung musnah. Jujur, kalimat itu terdengar berbeda, terdengar menyayat, amat menyedihkan, dan senyum getir Jongdae ketika mengucapkannya tidak mudah dienyahkan.

Jiwa baik yang terperangkap dalam raga orang jahat, memang bisa?

Hih. Soojung jadi teringat film-film psikologi-thriller yang belakangan bermunculan. Sebuah jiwa yang dipenjara jiwa lain dalam satu tubuh … sumpah. Jongdae ya Jongdae. Tidak mungkin ada banyak Jongdae dalam satu fisik, bukan?

Namun, jika itu benar ….

Soojung menatap payung lipat yang kini tergantung di gantungan bajunya; ia sudah membuat benda itu lumayan kering sebelum masuk kamar. Payung lipat yang ia pinjam dari Jongdae ini adalah bukti bahwa, di luar dugaan orang-orang, Jongdae masih memiliki setitik kebaikan yang tertumpuk oleh rekam jejak sebagai siswa badung. Barangkali Jongdae hanya tak pandai mengungkapkan, atau pribadi badungnya di beberapa kesempatan lebih berkuasa.

Tentang sosok Jongdae yang baik di dalam bus, Soojung yakin akan menemuinya di lain hari.

***

Pasca peristiwa itu, Jongdae masih sering berulah dan membuat kelimpungan Komisi Kedisiplinan, sedangkan Soojung masih seorang junior yang dicekoki gosip-gosip, entah oleh sesama anak baru atau kakak kelas di klub.

Yang ganjil, setiap mereka berpapasan, Jongdae sejenak jinak, diam, dan matanya—duh, ya, mata yang melumpuhkan Soojung dalam bus waktu itu—memancarkan emosi yang Soojung terlalu malu menamainya.

Mirip rindu, tetapi tidak cukup intens untuk disebut demikian.

Dan benak Soojung yang ramai sejenak sunyi, hanya dialiri bunyi hujan deras serta deru bus.

TAMAT

.

bikin chen jadi senpai ganteng pendiem dan rada2 mellow ternyata susah. karena aku cringing terus ya Tuhan ya secringeworthy itu tulisan ini ga ngerti lagi ;-; mana ceweknya Soojung pula.ooc pula. ga ngerti ah -.-

anyways, happy birthday chen ffi, stay strong! moga aku bisa berkontribusi lebih banyak nantinya di sini ><

Iklan

3 pemikiran pada “Silence(d) – CHENFFI Birthday

  1. Ping balik: SEPULUH WAJAH CHEN | EXO FanFiction Indonesia

  2. Aaaaa aku shipper sejati Chenstal iniiiii *3* duuuh seneng bgt ada lagi yg mau milis ttg mereka haha
    Chen yg dingin cool bgt yaaaaa, tapi pen liat Chen yg berandal jugaaaak ahahahaha
    Thanks for writing this, sayang ya gak dipanjangin huwehehehe

  3. Kak, ini keren banget!😆
    Feel kakak kelas Badung yg gak pernah aku pikirin ada di jongdae sukses jadi nyata lewat ff kakak ini, pokoknya keren.😆
    Itu jongdae miris amat. Dia punya kepribadian gandakah? Karena jongdae bilang terperangkap dalam 10 wajah , jadinya macam kepribadian ganda gitu. Soojung enak banget bisa liat sisi baik si jongdae.😂
    Keep writing kak hwaiting!
    Dan juga HBD buat chenffi, moga makin Jaya ya!!🎉🎉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s