Little Sister — Joongie

ls

Little Sister

Storyline by Joongie © 2014

Park Chanyeol || Kim Go Eun as Park Cho Hee || Horror, Riddle, Thriller || PG – 17

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. No plagiarismcreate your own story and publish—and don’t be silent reader, please.

Jang Jae In (Feat.NaShow) – Auditory Hallucination ♫

.

Surya menyala garang, terik menyengat ubun-ubun di penghujung musim panas. Di sisa-sisa liburan singkat, kuajak dia bersenang-senang menghirup udara kebebasan yang disuguhkan alam. Adikku tersayang, Park Cho Hee, menatap sambil bergelayut antusias di lenganku bagai anjing kecil yang menggoyang-goyangkan ekornya kegirangan. Kurasa sebagai kakak sudah kewajibanku menyenangkan hatinya, selama mungkin… selagi aku bisa.

Walau si cantik berpipi tembam itu tidak benar-benar punya ikatan darah denganku, tetapi dia satu-satunya harta kesayanganku di dunia ini usai peristiwa nahas merenggut orangtua kami. Mereka dibunuh secara brutal, dimutilasi lalu disembunyikan dalam tong berisi carian asam klorida—dengan tujuan menghilangkan jejak. Penelusuran polisi mengungkapkan, keduanya tewas lantaran berupaya melindungi adikku.

Terbata dan terisak, Cho Hee mengisahkan kejadian mengerikan yang membuatnya trauma dan gemetaran hebat. Benar saja, setelah polisi datang dan menggeledah TKP yang disebutkan, potongan tubuh orangtua kami yang nyaris tak berbentuk dikikis cairan asam segera ditemukan. Jantungku mengentak, syok sampai air mata hanya berani menggumpal di pelupuk. Sementara adikku yang malang melalui harinya dalam renung, tatapannya kosong dan wajahnya pucat.

Dik, aku tak suka muram hinggap di wajahmu. Adalah beban bagiku melihatnya.

Bagiku tanggung jawab seakan dilontarkan kepadaku, mengurus dan menjaga Cho Hee yang menjadikanku tempat bergantung. Juga memastikan tiada gurat kepedihan yang lancang menoreh paras ayunya. Apa pun akan kusanggupi semata demi bahagianya; jalan-jalan, belanja, makan dan segala hal yang mungkin berada dalam daftar keinginannya.

Oppa, coba lihat awannya!” seru Cho Hee, menunjuk-nunjuk bentangan langit luas seraya berlonjak kecil. “Itu kelihatan seperti wajah yang tersenyum pada kita, kan?”

Selalu saja, gadis kecilku ini memang punya daya imajinasi tinggi terhadap segala sesuatu. Kuulas senyum sewaktu merangkul lembut pundaknya. “Benarkah? Kalau begitu coba lihat awan yang di atas gedung sana. Menurutku itu mirip badut jelek dengan perut besar.”

“Joker?” Cho Hee memiringkan kepala, keningnya berkerut seakan berpikir keras.

Aku mengangguk pelan dan berdeham membenarkan, namun air muka Cho Hee berubah mendung ketika ia berkata, “Joker jahat… dia badut jahat.”

Suara serak dan mata basahnya membuatku tertegun, agaknya pembicaraan ini perlu buru-buru dialihkan sebelum tangisnya meledak. “Bagaimana kalau kita ke taman seberang? Ayo petik bunga favoritmu sebelum penjaganya datang.”

Siasatku berhasil, keceriaan kembali bermukim di wajahnya. Dia berlarian tak sabaran, menyeretku agar bergegas mendampinginya. Adikku tahu persis letak rerumpunan mawar putih itu berada, sehingga ia langsung berjongkok sambil menunjuk setangkai bunga yang baru mekar—isyarat bagiku lekas memetiknya.

Dalam sekali raihan berhasil kujangkau bunga di pucuk batang, lantas kuserahkan dengan berbangga hati. Cho Hee tampak girang, mencium sekuntum mawar kesukaannya sambil sesekali memelintir batangnya. Ayahlah yang menanamnya, katanya sebagai wujud syukur atas kelahiran seorang putri di keluarga kami.

“Wanginya mengingatkanku pada Ayah apalagi kalau Oppa yang memetiknya,” ujar Cho Hee sembari mengibas-ngibaskan mawar di wajahku.

“Sudah kubilang, kan? Apa pun akan kulakukan, karena aku sangat menyayangimu,” sahutku sambil mengacak gemas rambut Cho Hee. Dia memandangku dengan cara yang berbeda, kemudian tersenyum getir. Sejenak perasaan nyeri tak terdefinisi mendera dadaku, melihatnya seolah-olah bergembira dalam semu.

“Dia bicara dengan siapa, sih? Sudah gila, ya?”

Telingaku masih cukup tangkas menangkap gunjingan orang-orang yang berlalu-lalang dan menyorotku dengan aneh, seolah-olah aku bukan makhluk bumi. Perasaan risih itu pula yang menuntunku menghampiri mereka, memperkenalkan adikku yang cantik dan tak bercela.

“Kenapa kalian dari tadi berbisik terus? Kenalkan ini adikku, Park Cho Hee,” sapaku, menengok kepada Cho Hee yang menunduk santun pada mereka. “Apa iya kalian tidak melihatnya yang semanis ini?”

“Orang ini kenapa, sih? Jelas-jelas tidak ada siapapun di sampingnya. Sudahlah, tinggalkan saja si Sinting ini daripada kita ikut tidak waras,” ajak si Bibi berbadan bongsor sambil menyeret putrinya buru-buru meninggalkanku dan Cho Hee.

“HAHAHA!”

Tawaku pecah menyaksikan perlakuan konyol mereka setiap kali kukenalkan pada Cho Hee. Mereka selalu saja berpura-pura, mengenyahkan adikku dari pandangan mereka dengan akting menggelikan. Bahkan tak jarang mereka berubah arogan, memperlakukanku dengan kasar dan membentakku bagai binatang jalan.

“Chanyeol–ssi!”

Suara lengking yang familier itu menggugahku berotasi, lalu mendapati Perawat Park terengah-engah dan sedikit terbungkuk sambil mencengkeram lutut. Dia memasok udara ke paru-parunya dengan cepat juga menyeka gumpalan peluhnya sebelum menghampiriku.

“Aku sudah mencari Anda ke mana-mana, rupanya Anda di sini. Ini sudah waktunya minum obat dan istirahat. Tolonglah jangan buat aku panik begini,” pungkasnya seraya menggandeng erat lenganku.

“Aku ‘kan cuma jalan-jalan dengan Cho Hee,” sahutku, menunjuk Cho Hee yang mencengkeram lenganku yang lain seakan tak mengizinkan Perawat Park memboyongku. “Lihat, kan? Adikku jadi cemburu karena kau menggandengku seerat itu.”

Perawat Park memandang setangkai mawar yang tergeletak di tanah dengan canggung. Kemudian kudengar dia menghela keras ketika menatapku lekat-lekat. “Baiklah, aku paham Anda sedang bersama adik Anda. Bagaimana kalau ajak saja Cho Hee pulang bersama-sama?”

“Ya sudah, ayo pulang… Cho Hee,” ajakku sembari mengulurkan tangan yang langsung dijabat Cho Hee sewaktu mengikuti dari belakang.

888

Sabtu, 29 Juni 2013.

Redaksi Seoul News melaporkan telah terjadi pembunuhan berantai terhadap sebuah keluarga. Dua di antaranya adalah pasangan suami-istri yang ditemukan telah terpotong-potong dan disembunyikan di tong berisi cairan asam klorida. Jenazah ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh yang nyaris hancur tak teridentifikasi.

Ironisnya orang yang pertama kali mengetahui dan melaporkan kejadian ini adalah putra sulung dari korban yang meminta polisi untuk memastikan mayat orangtuanya yang berada di dalam tong di samping kediaman mereka. Beruntung saat kejadian itu terjadi PCY berada di luar kota untuk mengikuti seminar, sehingga bisa lolos dari maut.

Akan tetapi hingga saat ini PCH masih dinyatakan hilang setelah kejadian dan keberadaannya masih belum bisa ditemukan. Aparat kepolisian mengatakan bahwa kemungkinan besar korban PCH juga telah dibunuh secara sadis oleh pelaku yang diduga adalah seorang psikopat.

Pelaku yang memiliki nama asli Hwang Jong Min ini selalu berpenampilan seperti badut saat akan beraksi dan meninggalkan inisial dengan noda darah korban bertuliskan ‘JOKER’. Pelaku juga secara sadis mencuri organ dalam para korban untuk diperjualbelikan di pasar gelap. Pelaku pernah tercatat sebagai salah seorang pasien rumah sakit jiwa yang diketahui melarikan diri dari penanganan petugas. Pihak kepolisian telah berhasil mengetahui lokasi persembunyiannya dan akan segera membekuk pelaku agar bisa mengetahui di mana keberadaan korban PCH saat ini.

888

Dalam pekatnya malam kuikuti Cho Hee yang merengek mengusik tidurku. Wajahnya lain, tampak berang dengan mata yang memerah. Cengkeramannya di pergelangan tanganku sedingin es, dia memaksaku berlari menginjak kerikil yang menggores kaki di sepanjang jalan.

Tibalah kami di taman, dalam pencahayaan remang ditunjuknya sesuatu yang tertimbun semak di balik rimbunnya mawar. Kusibak perlahan sampai seonggok jasad membuatku terbeliak ngeri. Sekujur tubuhku lemas dan suaraku tercekat menemukan mayat yang nyaris membusuk serta mengeluarkan bau menyengat.

Jantungku bagai kehilangan detak ketika kusadari dia adikku, Park Cho Hee yang jasadnya hanya terlilit kain tanpa menggunakan busana. Wajahnya berkerut seperti menahan sakit yang teramat sangat sebelum ajal merenggutnya. Ada banyak luka menganga di badannya. Organ vitalnya pastilah dicuri dan melihat lebam pada area selangkangannya, bajingan itu pasti juga memerkosa Cho Hee.

KEPARAT!

Kepalaku rasanya berdentam-dentam, diledaki amarah dan sakitnya kehilangan. Air mata berduyun-duyun menghambur dari mataku, tiada bisa kuredam saat mendekap mayat adikku yang dibunuh dengan tidak manusiawi. Gadisku yang malang, kenapa harus berakhir begini? Apa yang akan kukatakan bila menghadap orangtuaku nanti?

Oppa….”

Samar masih bisa kudengar rintihannya memanggilku dan tepat di belakangku, Cho Hee yang lesi mendekapku. Terus berulang seolah dia memohon pertolongan. “Oppa….”

“Sabarlah adikku… akan kubalaskan dendammu dan membuatmu beristirahat dengan tenang. Bahkan jika aku gila… tetaplah dampingi aku….”

Fin

 

Chanyeol benar-benar gila atau Cho Hee itu memang han… XD

Simpulkanlah sendiri, ditunggu feedbacknya loh ❤

Iklan

3 pemikiran pada “Little Sister — Joongie

  1. Kok aku mudeng ya, udah mah sambil nahan eneg, karena gambaran pembunuhan macem gitu adalah yang paling menjijikan, haha menurutku itu yah. Ini mungkin dua-duanya bener.. Chanyeol gila, dan Chohee hantu. Sip dah gitu aja 😂😂

  2. Uhh pertama baca judulnya aku kira mengisahakan tentang kehidupan kakak beradik setelah kematian orangtuannya tapi saat aku baca lanjut kebawah kok ngeri banget ya… Apalagi kondisi matinya adik Chanyeol

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s