[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 3)

cats

 

Superplayboy

#3 [The Hero]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Kim Hyein. Byun Baekhyun. Park Chanyeol. Other cast.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

Fanfic ini juga pernah dipublish di sini bersama fanfic saya yang lainnya.

.

.

.

.

 

Siang ini matahari tiba-tiba terasa sangat panas, parahnya lagi ini musim panas. Sepertinya ini akan menjadi hari terpanas dimusim ini. Semua kipas angin maupun pendingin ruangan menyala besar-besaran, membuat pemerintah pusat harus memadamkan listrik di seluruh Kota demi upaya penghematan.

Jam kosong melanda hampir seluruh kelas sekarang. Kebanyakan guru memilih diam di kantor dan mendinginkan diri. Akan sia-sia juga Mereka jika mengajar, Para Siswa mungkin juga akan sibuk mendinginkan diri Mereka. Mengabaikan penuturan Guru dengan kipasan dari buku-buku Mereka.

Jongin dan Sehun sibuk bermain entah apa, beberapa kali Mereka tertawa keras ketika Sehun atau Jongin menjitak satu sama lain. Chanyeol berkutat dengan komik tebalnya yang baru Ia beli dua hari yang lalu sambil menunggu Baekhyun yang sedang pergi ke toilet untuk membasuh wajah diri.  Sedangkan yang lain kebanyakan berusaha menciptakan angin sejuk dengan mengipasi diri Mereka masing-masing.

“HEIII!”Baekhyun tiba-tiba muncul dari pintu dan menggebrak benda itu dengan keras sambil berteriak. Membuat para penghuni kelas tanpa guru itu menoleh padanya. Pasti ada-ada saja yang akan dikatakan tukang gosip ini tiap masuk kelas.

“Itu… si murid baru…” ucap lelaki mungil itu memegang lututnya dengan nafas terengah. Sepertinya Ia baru saja berlari ke kelas. mendengar kata ‘murid baru’ Jongin memasang telinganya lebar-lebar. entrah mengapa ia tertarik mendengaranya.

“Ada apa,Baek?”Chanyeol meletakkan komiknya lalu menghampiri Baekhyun. Mengelus punggungnya serta menyuruh Baekhyun mengambil dan mengeluarkan nafasnya secara teratur.

“Si murid baru terjebak di toilet…” kalimat yang baru saja keluar dari mulut kotaknya itu berhasil membuat gaduh seisi kelas. Jongin terdiam mencerna tiap kata-kata yang diucapkan Baekhyun. Gadis baru itu terjebak di toilet?Jongin bangkit dengan cepat, lalu melangkah meninggalkan kelas.

“Hei, Jongin! Mau kemana kau!” Baekhyun masih mengontrol nafasnya dengan tangan bertumpu pada lutut, lelaki mungil itu berteriak keras pada Jongin yang berlari menuju arah toilet.

“lalu bagaimana keadaannya, Baek?”

“Aku tidak tau pasti, yang jelas… dia sudah diselamatkan oleh Kyungsoo dan Suho-hyung tadi, Yeol”

~

“Kyungsoo-sunbae dan Suho-sunbae yang mengeluarkannya dari toilet!” berita terkuncinya murid baru itu hampir menggemparkan seluruh sekolah, begitu pula kelas Hye In. Gadis itu terlihat syok dengan tangan yang meremas kasar lembar soal matematika yang di berikan Hwang-saem­sebelum pria paruh baya itu meninggalkan kelas karena kepanasan.

“K-kyungsoo? Menyelamatkannya?” Hye In berucap pelan. Gadis itu penggemar nomer satu lelaki kecil bernama Do Kyungsoo yang sekelas dengan kakaknya, kini Ia mengumpat dalam hati, bukannya Kyungsoo menyukaiku? Dia bahkan memberiku bunga dua minggu yang lalu.gadis itu bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet dengan cepat seperti siswa lainya.

~

Kerumunan siswa terlihat dekat toilet, Jongin sampai di sana. Menerobos para kerumunan dan menengok ke arah pintu toilet. Lelaki itu terheran-heran saat melihat pintu yang katanya terkunci itu terbuka dengan lebar. Matanya mengitari para kerumunan mencoba mencari wajah familiar yang bisa Ia lontari pertanyaan yang menggebu di otaknya. Dan benar saja, matanya menangkap sesosok Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya dengan tangan kanan yang mengelus lengan kirinya.

Hyung!

“Hei, Jongin”

“Ada apa dengan lenganmu?”

“Hanya terkilir mungkin?” Kyungsoo menjawab dengan kekehan kecil. Seorang siswa mendekat pada Kyungsoo lalu menepuk bahunya.

“Kau memang pahlawan, Kyung” Kyungsoo tesenyum kecil saat Luhan selesai dengan perkataannya.

“Pahlawan?”

“Jongin juga ada di sini rupanya… itu karena Kyungsoo yang mengeluarkan Gadis itu dari toilet” Luhan kembali menepuk bahu Kyungsoo. Membuat lelaki dengan senyuman bentuk hati itu tersipu dengan kepala yang ditundukkan.

“Kau melupakan Suho-hyung?” lelaki dengan tubuh yang lebih kecil dari Jongin itu menyahut lalu menyenggol lengan Luhan dengan siku kanannya. Luhan yang merasa salah perkataannya, hanya tersenyum kaku dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang kelihatan tidak gatal.

“Suho-hyung? Lalu di mana Dia sekarang?”

“Dia mengantarkan Lilian ke ruang kesehatan” kali ini Kyungsoo kembali berucap.

“Lilian?” Jongin menggumam pelan namun masih terdengar oleh Kyungsoo.

“Murid baru itu namanya Lilian, apa kau tidak tau?”

“Ah, aku tidak tau sama sekali… bagaimana lenganmu? Apa Kau juga perlu ke ruang kesehatan, Hyung?” Kyungsoo terlihat menggeleng pelan. Lalu mengucap kalau di baik-baik saja tanpa suara.

“Pergilah, Kyung. Lenganmu terlihat menyedihkan…” Luhan berucap lalu dibalas anggukan oleh Jongin sebagai tanda kalau Ia setuju dengan apa yang lelaki berwajah imut itu katakan sebelum Ia beranjak meninggalkan Jongin dan Kyungsoo setelahnya.

“Baiklah…” Jongin dan Kyungsoo baru berjalan beberapa langkah menjauhi kerumunan. Keduanya terhenti ketika Hye In tiba-tiba datang dengan wajah gelisah. Matanya menatap Jongin dan Kyungsoo bergantian. Jongin baru saja akan mengucap pertanyaan, gadis itu lebih duluan menyeret tangannya dan berlari meninggalkan Kyungsoo dengan tanda tanya besar di kepalanya.

Hyung! Kau bisa pergi ke ruang kesehatan sendirian ‘kan?” dengan badan sedikit berbalik ke belakang, Jongin berteriak pada Kyungsoo. Kemudian dilihatnya samar Kyungsoo yang mengangguk lalu melambaikan tangan-yang tidak terluka tentunya- sambil terkikik geli oleh kelakuan kakak beradik itu.

~

Jongin berdiri menyandar pada tembok koridor dekat laboratorium. Koridor sepi yang sangat jarang dilalui oleh siswa maupun guru, kecuali kalau memang ada jam yang memaksa untuk masuk ke ruangan penuh tabung-tabung kimia yang berbau sangat menyengat itu. Bahkan Jongin sempat menolak saat Hyein mengajaknya untuk berhenti di sana dan langsung mendorong bahu Jongin untuk menempel pada dinding.

“Kau ini kenapa, huh?”

“Apa benar Do Kyungsoo yang menyelamatkan Lilian?” belum sempatHye In menjawab apa yang Jongin tanyakan, gadis itu malah memajukan tubuhnya dan memasang wajah. Semoga itu tidak benar. Jongin mengangguk. Hye In mendengus sambil mengacak rambutnya kasar. Dihentakkan kakinya berulangkali di lantai lalu kembali menatap Jongin.

“Kau tau apa yang kurasakan?” Hye In menarik dasi kakaknya dengan kuat. Jongin memekik kecil lalu menghentakkan tangan Hye In yang menarik dasinya. Lelaki hitam itu mengelus leher malangnya yang hampir tercekik.

“Kau mau membunuhku?!”

“Aku akan membunuh Do Kyungsoo beserta jiwa pahlawannya itu!” Hye In meninjukan kepalan tangannya ke telapak tangan yang masih terbuka. Gadis itu tiba-tiba bergetar, tubuhnya terdiam kaku lalu menoleh lambat pada Jongin.

“Kau tau apa yang akan kulakukan padamu?”Hye In menatap Jongin lekat-lekat. Lelaki itu terlihat sedang berfikir sejenak lalu tersentak begitu ingat kalau mereka masih ada di sekolah sekarang.

“Kim Hye In! Kau gila! Kita masih di sekolah!” terlihat keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya, gadis itu mencengkram ujung roknya.

“Bisa-bisa ada yang melihatnya dan salah faham-”

“Tidak akan ada yang melihatnya! Ayolah!” Hye In bergerak gelisah, cengkraman pada ujung roknya makin kuat. Bisa dikira kalau rok itu sudah kusut sekarang. Jongin mendengus kasar dengan wajah yang dipalingkan. Namun dengan cepat gadis itu menangkupkan kedua tangannya di wajah Jongin dan menghapus jarak antara keduanya.

~

Kejadian murid baru yang terjebak di toilet dengan cepat menyebar ke seluruh sekolah. Para siswa riuh membicarakannya di setiap kelas. para guru pun tak jauh berbeda, semuanya sibuk mencari tahu penyebabnya. Mondar-mandir tak karuan. Beberapa siswa terlihat melongokkan kepalanya ke jendela ruang kesehatan, para siswa yang diracuni rasa penasaran tinggi tentang keadaan si murid baru.

Ya, gadis itu masih terbaring di atas ranjang kecil dengan mata yang masih terpejam. Selang infus melilit lengannya. Sedangkan di sekelilingnya ada dua orang laki-laki yang duduk menunggunya sadar. Kim Suho dan Do Kyungsoo-dua orang yang menyelamatkannya- masih setia duduk di kursi selama dua puluh menit sejak gadis itu di bawa ke ruang kesehatan.

Di luar terlihat seorang lelaki yang menerobos kerumunan para siswa penasaran dekat pintu ruang kesehatan yang  sengaja ditutup. Namun laki-laki pucat itu berhasil menerobos dan membuka paksa pintu kayu itu. menimbulkan suara keras yang membuat Suho dan Kyungsoo menoleh bersamaan. Oh Sehun di sana, berdiri dekat pintu yang baru saja ditutupnya kasar. Matanya mengawasi seluruh ruang, wajahnya yang tergesa-gesa berubah kecewa seketika.

“Bisa kau ketuk pintu terlebih dahulu?!” bentakan dengan suara kecil keluar dari mulut Kyungsoo, lelaki kecil itu membuat bagian putih di matanya terlihat sangat lebar sekarang. Suho mengangguk menyetujui ucapan Kyungsoo.

“Aku sedang mencari Jongin, apa dia tidak kemari?” Sehun mendekat ke arah keduanya. Matanya yang sipit itu sempat melirik wajah si gadis baru yang masih terlelap, lalu tersenyum getir. Tidak seharusnya Kau seperti ini, bodoh. Umpatnya dalam hati.

“Tidak sama sekali” Suho menggeleng, disusul Kyungsoo setelahnya.

“Lalu kenapa kau membiarkan ponselmu berdering seperti itu?” Kyungsoo menggidikkan kepalanya ke arah tangan kanan Sehun. Ponsel putih dengan gambar Rilakkumaitu sudah berdering sejak lelaki pucat itu berlari tergesa menuju ruang kesehatan dan dia terus saja mengabaikannya. Sehun ikut menatap ponselnya lalu menggeser layar ponsel itu sebentar, membuat benda itu diam lalu dimasukkannya ke dalam saku.

“Siapa itu? Kenapa dimatikan?” ucap Suho. Sehun menggeleng cepat.

“Ah, hanya seseorang yang tidak penting. Di mana Jongin?”

~

Ponsel itu perlahan Ia turunkan dari telinganya. Desahan kecewa terdengar setelahnya. Kopi di depannya masih mengepulkan uap dan Pria itu sama sekali tak berniat menyentuhnya. Di pandangnya gedung-gedung menjulang dari jendela tempatnya duduk sekarang.

“Apa tuan muda tidak menjawab lagi?” ucap seorang pelayan yang sedang berdiri di sampingnya dengan membawa nampan berisi teko kopi yang akan ia tuangkan kapan saja Tuannya itu mau.

“Kau sudah tau jawabannya” ucap pria itu menoleh pada sang pelayan disertai senyum kecut lalu meletakkan gelas kopi yang sebelumnya untukknya kembali ke nampan. Pria itu beranjak dari tempatnya lalu melangkah meraih jas abu-abu yang sebelumnya tergantung rapi dalam almari superbesar di sudut ruangan.

“Bukannya aku harus ke Tokyo sekarang? Siapkan mobil untukku.” pria itu tersenyum pada salah seorang pelayang wanita yang berdiri dekat pintu yang baru saja dilewatinya dengan senyuman kecil. Pelayan itu membungkuk sembilanpuluh derajat lalu membalas senyumannya.

“Baik, Tuan Oh”

~

Hye In masih awet dengan posisinya. Di remasnya seragam Jongin kuat-kuat. Keringat dingin masih setia menetes dari pelipisnya tanpa berniat mengering. Jongin hanya diam mengelus punggung adiknya lembut dengan mata yang sesekali melirik keadaan sekitar, memastikan kalau tidak ada seorangpun yang melihat Mereka dalam keadaan seperti itu

“Kyungsoo brengsek!” Hye In menggumam tak jelas. Remasan tangannya pada seragam Jongin ia lepas dan berpindah pada rambut hitam Jongin. Hye In meremasnya sambil sesekali menariknya membuat Jongin beberapakali terdengar meringis kesakitan. Mungkin beberapa helai rambutnya sudah tercabut dari kulit kepalanya sekarang karena Hye In menariknya terlalu kuat.

“Sudah cukup! Kim Hye In!” Jongin mencoba melepas Hye In dari dirinya, namun Hye In menolak dan kembali menarik Jongin. Sekarang di tariknya leher lelaki itu, membuat Jongin tak bisa menolak sama sekali dan hanya bisa mendengus sebal sambil kembali mengelus punggung Adiknya yang sempat terhenti sesaat tadi.

Disisi lain, suara derap langkah mendekat ke arah mereka. Langkah yang terdengar begitu nyaring di koridor sepi itu tak sedikitpun sampai di telinga Jongin maupun Hye In. langkah itu terdengar makin dekat lalu tiba-tiba berhenti begitu saja. Suara dentingan benda alumunium dengan lantai sekolah terdengar setelahnya.

Seseorang berdiri di sana. Di ujung koridor laboratorium.

~

Matanya tak henti menyipit memastikan apa yang Ia lihat di ujung koridor itu. Beberapa saat Ia berbalut rasa penasaran, sejenak kemudian Ia tersentak. Ponsel yang Ia keluarkan dari saku untuk menghubungi Jongin terjatuh seketika. Menimbulkan bunyi mendenting yang memenuhi koridor itu.

Jongin dan Hye In masih dalam posisi mereka masing-masing. Hye In masih sibuk mengumpat-dengan selipan nama Kyungsoo- sambil menarik rambut Jongin makin kuat. Jongin pula tetap menenangkan gadis itu sebisanya. Matanya pun tak henti mengawasi keadaan sekitar mereka. Pandangannya terhenti di ujung koridor. Ia terkejut luar biasa.

“Aku pernah bilang kalau kita melakukannya di sekolah, mungkin akan ada yang melihat dan salah faham” Jongin menggumam. Hye In terlihat mengacuhkannya.

“Tidak akan ada yang melihat kita! lagipula Siapa yang akan datang ke tempat seperti ini?” Hye In mengakhiri kalimatnya dengan tarikan kuat pada kepala Jongin. Jongin sendiri hanya diam, tangannya berhenti mengelus punggung Hye In. Hye In sempat terheran kenapa kakaknya tiba-tiba berhenti, namun Ia kembali mengacuhkannya dan memilih untuk melanjutkan apa yang Ia lakukan selama limabelas menit yang lalu.

“Bagaimana kalau ada yang melihat Kita…” Jongin menggantung kalimatnya. Memberikan keterkejutan luar biasa untuk Hye In yang barusaja mendengar penuturan kakaknya. Dijauhkannya tubuhnya dari Jongin lalu menatap lelaki yang sedang menatap tanpa berkedip ke arah ujung koridor. Hye In mengerutkan alisnya sambil mengikuti arah pandangan Jongin. Kali ini Ia benar-benar terkejut, matanya membulat sempurna.

“J-Jongin…”

“Ya, bagaimana kalau ada yang melihat kita?”

Oh Sehun berdiri tercengang di ujung koridor laboratorium.

.

.

.

.

.

.

TBC

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komentar kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s