[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster (Chapter 1)

the-headmaster

 

THE HEADMASTER #1

 

Tittle                : The Headmaster#1

Author             : Angestita

Length             : Chaptered

Main cast         : Oh Se Hun (EXO) – Baek Su Min (OC)

Support cast    : Kim Jong In (EXO)-Irene (RV)

Genre              : Romance – AU – Drama – School life

Rated              : Teenager, Romance and Drama

Disclaimer       : FF ini murni dari hasil pemikiran saya. Apabila ada kesamaan tokoh dan alur cerita itu mutlak unsure ketidak sengajaan. Saya tidak mencontoh karya orang lain dan saya harap anda dapat melakukan hal yang sama. Terimakasih atas waktu yang anda luangkan untuk membaca karya ini. Saya berharap anda berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih.

Sumary           : Hidup Sehun nyaris sempurna, memiliki pekerjaan tetap, tunangan cantik dan kehidupan yang mewah. Lalu apakah yang terjadi jika ada orang yang menginginkan posisinya? Mampukah Sehun bertahan dengan cobaan itu?

Author’s note  : Sistem sekolah yang ada dalam cerita ini saya sesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Saya tidak begitu memahami sistem sekolah di Korea Selatan. Semoga anda tidak mempermasalahkan ini. Terimakasih atas perhatiannya.

Sehun memandangi wanita cantik itu dengan tatapan penuh penilaian. Mata sipitnya yang bersembunyi di balik lensa kacamata mencoba mencuri kekurangan penampilan wanita itu. Kemudian pria dengan hidung mancung itu menyunggingkan senyum tipis nan samar –ketika dia berhasil menemukan sebuah kekurangan. Sedari tadi wanita itu sama sekali tidak tersenyum lebar seperti layaknya orang yang pertama kali datang ke tempat kerja barunya. Senyum wanita itu –menurut Sehun- ialah senyum tanggung. Memberi kesan ramah namun tetap harus berjaga-jaga. Entah mengapa Sehun lebih senang yang seperti itu, terlihat lebih murni tanpa paksaan.

Seseorang yang berada di sisi kanannya berkata pelan, “Jadi anda baru lulus dari SNU tahun ini?” menurut Sehun itu bukan pertanyaan yang penting, lagipula jika wanita yang usianya lebih muda dua tahun darinya ini dari lulusan manapun dan tahun berapapun jika berkompeten dia pasti akan menerima sebagai pegawainya.

Su Min. Begitu lah orang-orang memanggil namanya. Wanita bermarga Baek itu mengangguk dengan yakin. “Sepertinya kita beruntung memperkerjakan anda di sini. Guru muda pasti akan membantu mendongkrak semangat belajar anak-anak karena mereka lebih kreatif dan inovatif.” Guru bernama Park Shin Hye itu melanjutkan perkataannya santai. Dia yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan pasti lebih paham dengan kondisi itu.

“Guru Baek Su Min, ngomong-ngomong apakah anda masih sendiri?” seseorang bertanya dari arah samping wanita itu duduk. Suaranya nyaring membuat semua orang menoleh ke arahnya. Seorang wanita dengan rambut bergelombang berwarna coklat susu yang di ikat rapi kebelakang menatap Su Min antusias. Dia adalah salah satu guru seni di sekolah itu. Wanita itu bernama Son Seung-Wan. Masih muda, hanya selisih satu tahun lebih tua dari Su Min.

Sehun mendengus pelan, menatap asing ke arah anak buahnya itu. Sementara guru yang lainnya menunggu dalam diam jawaban Su Min. Su Min menggeleng tegas, “Saya masih sendiri.” Jawabnya dengan intonasi terkendali sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan itu.

Guru Seung Wan dan beberapa guru muda lainnya memekik senang seolah mendapat teman baru dengan nasib yang sama. Sehun menggelengkan kepala merasa ragu bahwa orang-orang tersebut adalah anak buahnya. “Guru olahraga kita juga menjomblo lama. Anda dapat berteman dekat dengannya. Sepertinya Ms. Su Min masuk ke dalam kriterianya.” Seseorang mengimbuhi itu dengan nada jenaka. Dia adalah guru Fisika kalau tidak salah namanya Kim Jumyeon. Wajahnya tampak berseri melirik ke arah seorang pria yang duduk sedikit kebelakang. Mendadak ruang guru riuh ramai menggoda mereka berdua.

Lalu apa yang di lakukan Sehun sebagai ketua rapat itu? Dia hanya bisa memijit dahinya. Ini seperti sebuah budaya di Seoul High School, apabila ada seorang karyawan baik guru maupun staff baru mereka akan mendapat sambutan sebuah olokan. Sehun sempat melirik expresi wajah Jong In dan Su Min yang tampaknya terlihat biasa-biasa saja. Datar dan cenderung dingin. Sehun berdehem cukup keras untuk menetralkan suasana di ruang rapat itu.

Setelah suasana kembali kondusif dia mulai berbicara, “Jadi ada pertanyaan lain yang berhubungan dengan pekerjaan Miss Su Min selama mengajar disini? Dari anda sendiri mungkin?” Sehun menatap mata tenang itu mencoba mencari getar kegugupan disana namun yang dia dapat adalah sinar  keteguhan.

“Tidak, saya sudah paham dengan sistem kerja saya.” Datar nada itu terlontar dari bibir tipis berwarna merah muda.

Sehun mengangguk, “Jadi, kita akhiri rapat sampai disini. Terimakasih atas perhatian kalian. Kalian dapat masuk ke kelas masing-masing sekarang.” Su Min dan guru lainnya segera membereskan buku catatan mereka dan memasukannya kedalam tas atau sekedar di masukkan ke dalam map. Sehun tidak bersuara lagi sebelum meninggalkan ruangan itu.

“Ms. Su Min, semoga sukses untuk hari pertama anda.” Guru Seung Wan menepuk pundaknya pelan sembari berujar ramah. Nadanya terdengar santai tanpa beban dan tulus membuat Su Min kembali tersenyum –senyum tipis.

“Terimakasih.” Setelah mengatakan itu guru seni berambut panjang itu segera meninggalkan tempat itu. Su Min segera pergi menuju ruang kelasnya yang berada di lantai tiga. Hari ini dia mendapat jatah mengajar di kelas X MIPA 1 kelas terbaik untuk kelas X di Seoul High School.  Hatinya mendadak bergetar tak nyaman ketika langkahnya semakin mendekat. Sedari tadi dia mencoba untung tenang tetapi ketika langkahnya kian mendekat dia ragu. Di bulatkan tekatnya sebelum membuka pintu itu. Dia yakin hari ini dia akan berhasil.

Su Min menghela nafas berat, matahari mulai terlihat di condong dan dia baru saja keluar dari kelas terakhirnya. Hari itu lumayan melelahkan dia mendapat jatah mengajar penuh di hari pertama wanita itu kerja. Wanita itu melirik jam tangan di pergelangan tangannya, benda mungil itu menunjukkan waktu pukul 14.35 tetapi kelas belum di bubarkan. Masih ada satu jam pelajaran lagi sebelum bell pulang berdentang.

Saat menuruni tangga wanita itu merasa kepalanya sedikit pusing sehingga ia menuruni tangga dengan sedikit hati-hati. Sepertinya ini akibat yang timbul karena dia hanya tidur dua jam tadi malam dan sepanjang hari itu dia tidak istirahat dengan cukup. Pada akhirnya dia memutuskan kembali ke kantornya. Ruangan itu berdampingan dengan labolatorium Biologi dan berada di depan lapangan Volly. Di jam seperti ini ruang guru sepertinya masih tampak sepi dari luar. Namun dugaannya keliru ternyata ada seseorang yang telah mendahului kedatangannya.

Seseorang tengah menatap layar laptopnya dengan wajah serius. Su Min sedikit terkesiap memandang pria itu namun dia segera mentralkan ekspresi wajahnya. Ia berjalan dengan pelan ke meja kerjanya tanpa berniat melirik ke arah pria itu lagi. Dia meletakkan buku-bukunya di atas meja dan meraih botol air mineral yang sudah di sediakan lalu meminumnya. Berharap air mineral sedikit meredakan kepalanya yang mulai bertambah pusing. Namun sepertinya adalah hal yang sia-sia kepalanya tetap terasa seperti berputar pelan. Su Min merasa dia harus melakukan sesuatu seperti meminta obat pereda pusing di UKS. Masih ada satu jam pelajaran sebelum jam kerjanya habis dan dia harus bertahan selama itu.

Ia berdiri dari duduknya, hendak menuju UKS tetapi dia kemudian sadar tak mengetahui dimana letak UKS. Tubuhnya akan semakin terasa berputar jika dia paksakan mengelilingi lantai demi lantai untuk menemukan ruangan kesehatan itu. Hanya ada satu cara yaitu bertanya dengan seseorang. Dan sayangnya di ruangan itu hanya ada  satu orang yaitu… Kim Jong In. Guru olahraga ke banggaan sekolah.

Langkahnya meragu untuk menyambangi tempat Jong In duduk tetapi demi kebaikan dirinya wanita itu menepis sedikit rasa malunya. Jong In tidak bergerak ketika dia sudah ada di samping mejanya dia tak juga menyapanya. Su Min semakin ragu jika kedatangannya semakin tidak di anggap di tempat itu. Sekilas dia melirik layar laptop yang menampilkan daftar nilai anak. Jadi pria itu tengah memasukkan nilai siswanya ke dalam laptop sebelum menyerahkannya kepada kepala sekolah. Rajin sekali pria itu –gumam Su Min.

“Permisi, aku mau tanya dimana ruang UKS berada? Aku membutuhkan sesuatu disana.” Tanya Su Min pelan dan ramah.

Jong In tidak menoleh namun gerakan tangannya terhenti dan dengan datar dia menjawab, “Di lantai satu paling ujung kanan sebelah kelas XII MIPA 3.” Su Min terkesiap ketika mendengar jawaban tanpa ekpresi yang Jong In berikan.

Dia tersenyum tipis dan berkata, “Terimakasih.” Sebelum berlalu pergi. Dalam hati dia tidak ingin berhubungan lagi dengan pria itu apa pun yang terjadi.

UKS di Seoul High School benar-benar memenuhi standar kebersihan. Tempatnya bersih, tertata rapi dan wangi. Apalagi ruangannya yang luas dengan pencahayaan yang cukup. Setiap tempat tidurnya di batasi dengan selembar kain putih. Disana ada seorang perawat yang di tugaskan oleh Kepala Sekolah untuk membantu apabila ada siswa yang sakit. Kedatangannya ternyata di waktu yang sangat tepat. Wanita berambut indah itu tersenyum amat ramah ketika Su Min masuk.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya setelah Su Min medekati meja kerjanya.

“Apakah ada obat untuk migrain?” jawab Su Min pelan.

Wanita itu terlihat sedikit bingung, dia segera berdiri dan menarik bangku di depannya untuk Su Min. “Apakah kamu punya penyakit maag?” dia bertanya dengan nada serius. Su Min mengangguk. “Apakah kamu sudah makan?” tanya perawat itu lagi yang dibalas pasiennya dengan gelengan pelan.

Perawat itu menghela nafas pelan, “Sepertinya sakit kepalamu disebabkan oleh maag. Kamu ingin mengobati migrainnya atau maag. Kalau migrainnya hanya mengurangi rasa sakit.” Kini dia sudah beralih ke sebuah lemari kaca. Lemari itu ada di belakang meja kerjanya. Tingginya tak seberapa dan dari luar terlihat banyak obat tersimpan disana dengan  rapi.

“Bagaimana jika migrainnya terlebih dahulu. Saya masih ada urusan nanti.” Su Min menjawab kalem.

Perawat itu mengangguk mengerti, “Sebaiknya kamu makan terlebih dahulu sebelum meminum obat ini. Efeknya akan membuat perut perih jika kamu tidak makan.” Suster itu mengeluarkan sebuah pil yang masih terbungkus dengan rapi dan menyerahkan kepada Su Min. “Aku punya roti, jika kamu mau.” Tawarnya tulus.

Su Min tersenyum tipis dan mengangguk setuju. Wanita itu menerima uluran roti dari perawat itu dan memakannya segera. “Jadi kamu guru baru di sekolah ini?” tanyanya sembari mencatat disebuah buku. Su Min mengangguk. “Senang berkenalan denganmu, namaku  Park Soo Young.”

“Namaku Baek Su Min. Senang bisa berkenalan denganmu.” Jawab Su Min sekenanya.

Su Min menghabiskan satu jam untuk beristirahat di UKS sebelum dia kembali ke ruang guru. Di tempat itu banyak orang yang sudah datang, mereka terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk dengan laptop mereka dan ada yang tengah menyidak dua orang murid. Dari mereka semua, sepertinya Su Min sendiri yang tidak punya aktivitas penting.

Pada akhirnya Su Min memilih untuk duduk di kursinya dan membaca buku. Tetapi aktivitasnya harus tertunda saat guru Seunwan datang menghampirinya. Wanita cantik itu ternyata mengajaknya mengobrol. “Kamu tadi melihat Nona Irene?” tanyanya dengan suara berbisik.

Su Min mengerutkan alis, dia tidak bertemu dengan siapa-siapa tadi selain perawat. “Tidak. Memang siapa Nona Irene?” jawabnya dengan suara lirih.

Seunwan terlihat antusias ketika Su Min bertanya demikian. “Dia adalah pacar pak boss. Tunangan pak boss malah. Mereka baru bertunangan seminggu yang lalu. Kamu tahu mereka seperti pasangan Aurora dan Philip. Romantis sekali aku hingga dibuat iri dengannya.”

Su Min tidak tahu harus mengatakan apa, dia hanya mengangguk sembari berkata ‘oh’. Dalam diamnya mendengarkan Seunwan bercerita, otaknya berfikir tentang Sehun dan tunangannya. Terlebih bagaimana sikap Sehun yang dingin itu mendadak romantis apabila sudah bersama Irene. Apalagi ketika Seunwan menceritakan Sehun yang rela bolos kerja demi menemani pacarnya pergi ke boutique. Su Min sudah bisa membayangkan betapa sayangnya Sehun kepada Irene.

Ternyata diam-diam ada seseorang yang mendengar cerita mereka merdua. Seseorang yang tampak memandang layar laptopnya dengan pandangan menerawang dan senyum pahit. Seseorang yang bahkan tidak pernah tersenyum dengan manis untuk pertama kalinya kepada penghuni sekolah. Seseorang yang mengacuhkan Su Min tadi. Ya… dia adalah Kim Jongin.

TBC

“Hallo… ini FF berchapter keduaku yang aku kirim ke EXOFFI. Aku harap kalian dapat menerimanya dengan baik. Jangan lupa RCL ya. Terimakasih.”

sehun love.jpg

Ini Kepala Sekolah Seoul High School.

 

matematic-teac

Ini Guru Matematika Baek Su Min (OC)

 

iuIdlgGxJhDIR.png

Guru Olahraga-Kim Jongin

 

wendy-red-velvet.jpg

Ini Guru Seni Musik-Son Seung Wan

 

Park-Shin-Hye-2.jpg

Ini Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan-Park Shin Ye

 

joy-rv

Ini perawat SHS-Park Soo Young

 

suho .jpg

Guru Fisika-Kim Jum Yeon

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster (Chapter 1)

  1. enak banget sekolah disana. Guru2nya bikin betah apalagi pak kepala sekolahnya ughh wkwkwk

    wah kayanya jongin bakal jadi pemeran antagonisnya disini, dia suka ama irene ya? gapapa, rebut aja irene dari sehun biar sehun bisa ama sumin wkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s