[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 1)

picsart_12-08-12-36-23

 

Kupu-Kupu Malang (Chapter 1)

 

[Oh Sehun and Oc]

[ Romance, Drama, School-life, Comedy?]

[ PG.13]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Sudah diPosting di wordpress pribadi]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

 [Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

.

.

“Oh Sehun!! Ayo ke kantin!!!” Ajak Baekhyun yang kini tengah berdiri di depan pintu masuk kelas. Ayolah, saat ini perutnya sudah keroncongan mendambakan makanan ataupun minuman. Tapi si raja kulkas garis miring gunung es garis miring Sehun, hanya menoleh sekilas dan tidak segera menjawabnya.

Kesal karena menunggu jawaban Sehun yang tidak kunjung datang, Baekhyun menghampiri tempat kediaman Sehun.

“Hey!! Kau ini sebenarnya ingin ke kantin atau tidak sih?”

Baekhyun berujar kesal sembari berkacak pinggang persis seperti rentenir penagih hutang. Sementara itu, objek yang sedari tadi membuat Baekhyun kesal menatap malas padanya.

“Mengapa kau terus mengulang pertanyaan yang sama? Aku kan sudah bilang tidak ingin ke kantin.” Sehun menjawabnya dengan nada santai bahkan terkesan inosen.

“Apa?!! Hei!! Aku tidak mendengarmu berbicara itu sebelumnya. Kau dari tadi hanya diam!!”

Baekhyun semakin mengap-mengap mendengar jawaban Sehun. Kata-katanya itu tidak seberapa, tapi nada yang diucapkannya itu loh yang membuat Baekhyun ingin menghantamkan kepala Sehun ke tembok.

“Aku mengucapkannya kok. Kau saja yang tidak mendengar.”

Oke Baekhyun. Tarik nafas yang panjang… lalu keluarkan. Oh Sehun ini kurang kasih sayang, jadi Baekhyun harus memahaminya, jangan sampai terbawa emosi karena masalah sepele. Sehun menyebalkan, itu adalah sifat yang tidak bisa dipisahkan. Sifat itu sudah melekat sejak Sehun masih menjadi embrio.

“Kapan dan di mana kau mengucapkannya, Sehun?” Ujar Baekhyun dengan suara yang begitu lembut.

“Hmmm…  Sepertinya tadi dan pertama kali kau tanya. Kalau yang pertama aku mengucapkannya dalam hati, mungkin itu yang membuatmu tidak mendengar.”

Sehun menjawabnya acuh tak acuh tidak mempedulikan manusia yang bertanya tadi menatap datar dan jengah padanya. Baekhyun sudah menduga jawaban Sehun akan seperti itu, dia pun menyentil dahi Sehun.

Yang disentil hanya meringis sembari menyeringai karena berhasil mengerjai teman seperjuangannya.

“Hey aku serius, br*ngs*k!!”

“Aku juga serius cantik!!”

Mata Baekhhyun melotot. Ia paling anti jika ada yang memanggilnya cantik_meskipun kenyataan tidak dapat dipungkiri_ karena ia merasa cowok tulen. Jika ia cantik, mana mungkin para siswi sekolah ini berteriak histeris meminta untuk jadi pacarnya. Oh atau perlukah ia tunjukan ABSnya? Baekhyun hanya bisa berrolling eyes.

“Sudahlah lupakan!! Geser sana, aku ingin duduk.”

Sehun menurut, ia duduk di kursi sebelah sehingga Baekhyun kini duduk di kursi miliknya.

“Bekal dari rumah lagi?” Tanya Baekhyun saat Sehun mengeluarkan sebuah kotak makanan dari dalam tasnya.

“Hm. Seperti biasa.”

“Aku minta.”

Sehun memutar bola matanya malas. Sehun tahu arti meminta versi Baekhyun, maksud meminta di sini adalah menukar bekal Sehun dengan makanan yang lebih mahal bahkan ditukar dengan uang. Mengapa demikian? Ketika Baekhyun dan Sehun makan sekotak berdua, Baekhyun adalah orang yang paling banyak memakan, sehingga ia merasa bersalah kemudian jadilah Baekhyun menggantinya.

“Terserah…”

Sehun kemudian membuka kotak bekalnya. Aroma makanan khas rumahan tercium oleh keduanya membuat  mereka meneguk ludah kasar.

Tidak hanya aromanya yang mebuat tergoda, makanan yang tersusun rapi dibanjur dengan saus yang mengkilat juga semakin membuat perut keduanya berdentum minta diisi.

Tangan Baekhyun tanpa sadar sudah terangkat dan  menyentuh makanan itu jika saja tidak ditepis oleh Sehun. Orang yang ditepis mengeluarkan cengirannya merasa malu.

“Tanganmu kotor. Pakai ini.”

Sehun menyerahkan sumpit yang langsung diterima oleh Baekhyun.

Mereka berdua menikmati makanan yang tengah berada di mulut masing-masing.

“Wah, Sehun_” Baekhyun menjeda kalimatnya kala makanan itu tertelan ke dalam kerongkongannya. “_Kau seharusnya membawa dua bekal. Satu untukmu dan satu untukku. Tenang saja, aku akan membayarnya kok. Lumayan untukmu, bukan?”

Sehun hanya memberikan dehaman pendek. Ia tidak peduli dengan kalimat yang dilontarkan Baekhyun.

“Woah… hah… hah… noonhamu hemang jagho mahak. Akkhu_”

“Makan saja jangan banyak omong!!”

Perkataan Baekhyun terpotong oleh desisan ular_ maksudnya desisan Sehun. Baekhyun langsung bungkam, tidak bertanya lagi, tapi mulutnya tetap memakan bekal yang dibawa Sehun.

Saat ini adalah waktu istirahat di sekolah Sehun. Penduduk di kelas hanya tersisa mereka berdua saja karena yang lainnya pergi keluar entah kemana. Yang pasti mereka bukan pergi ke bulan.

Sehun tidak merasa malu membawa kotak bekal meskipun ia tengah duduk di bangku kelas tiga SMA. Bahkan ia kerap kali berjualan makanan, aksesoris dan lainnya di sekolah ini. Toh untuk apa ia malu? Ia bukan mencuri atau melakukan tindakan yang merugikan.

Sehun berterima kasih pada tuhan karena telah menciptakan wajah yang lumayan tampan untuk dirinya sehingga para gadis tetap menyukainya. Mungkin sikapnya ini bisa dibilang matrialis karena memanfaatkan wajahnya untuk berjualan. Lagipula… Ayolah, gadis mana yang tidak ingin membeli jika pedagangnya seperti Sehun?

 

*****

 

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Sehun dan kawan-kawannya telah melangkahkan kakinya menuju gerbang. Tentunya hal itu tidak luput dari pandangan para gadis yang berteriak histeris, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mereka mengerubungi komplotan Sehun dan mengekori mereka selama Sehun dan kawan-kawannya tidak merasa risih_ Itu anggapan para gadis.

Seorang gadis tiba-tiba saja menyerobot masuk dan menggelayut di lengan Sehun. Gadis itu adalah Sena. Gadis yang beruntung karena memiliki pertalian saudara dengan Sehun. Para gadis menatap iri dan sinis pada Sena. Tapi Sena jauh lebih sinis dan galak dibanding dengan para gadis itu.

“Sehun oppa, ayo pulang…”

Sena berujar riang dengan menampilkan sebuah senyuman yang manis, tapi Sehun hanya menjawab seadanya dengan sebuah dehaman. Jika urusannya sudah seperti ini, para kawan Sehun tidak bisa menolong dari nenek sihir yang satu ini. Selain bisa membahayakan keadaan Sehun, gadis ini sangat sulit didiamkan jika sudah menangis.

Sehun dengan terpaksa pulang bersama lagi_sebenarnya tiap hari_ dengan Sena. Akhir kata, Sehun hanya bisa berpamitan pada kawan-kawannya.

“Hati- hati Sehun…”

Ringisan Sehun membuat para kawan-kawannya menyeringai. Sehun, Sehun, malang nian nasibmu.

Kedua bersaudara itu pun pergi menjauhi kawan-kawan Sehun mengingat rumah mereka tidak sejalur. Sehun hanya bisa menahan sabarnya.

Untungnya, mobil bus segera datang sehingga hal itu menyebabkan sedikit kelegaan di hati Sehun. Lagi-lagi keberuntungan menghampiri Sehun. Bus yang ditumpangi mereka penuh, tapi untungnya sepasang bangku tersisa, pas untuk dirinya dan juga Sena. Lalu seorang wanita masuk pada halte yang tidak jauh dari halte sekolah mereka. Kesempatan emas yang langsung dimanfaatkan Sehun. Ia lebih memilih berdiri dan membiarkan wanita itu duduk dengan Sena.

Sehun tersenyum manis dan juga dibalas senyuman manis juga oleh Sena. Sehun menyeringai dalam hati, ia tahu bahwa senyum yang mereka lontarkan adalah senyuman palsu. Siapa juga yang ingin membagi senyum dengan junior of nenek sihir ini? Lagipula Sena juga tersenyum pastiya bukan karena tulus, tapi karena ia menjaga imagenya. Hal yang sia-sia dilakukan mengingat Sehun sudah tahu sikap busuk yang terpendam didalam tubuh gadis itu.

 

*****

 

“Kami pulang…”

Suara  Sehun menggema di dalam rumah ketika dia membuka pintu. Sehun melepaskan sepatunya begitu pula dengan Sena yang berada di belakangnya.

“Oh… Sehun? Sena? Kalian sudah datang? ”

Kakak Sehun muncul di ujung ruangan dengan pakaian rapi. Ia menghampiri Sehun dan Sena yang sudah melepaskan sepatunya di dekat pintu masuk.

Tangannya meraih tas Sena_yang diberikan dengan senang hati oleh Sena_  untuk diletakkan di kamarnya dan juga tas Sehun pun begitu.

“Cuci kaki dan langsung mandi, arrachi? Kalau ingin makan, sudah ada di dapur. Kakak sebentar lagi berangkat kerja.”

Ne, onni. Omma di mana?”

Kakak Sehun hanya tersenyum ketika Sena bertanya sembari berjalan tanpa menatapnya. Sehun tentu hatinya sudah meraung-raung ingin mencakar wajah Sena.

“Bibi dengan paman menghadiri undangan…”

Sena membalas perkataan kakak Sehun dengan seadanya. Setelah dirasanya Sena tidak bertanya lagi, kakak Sehun berjalan menaiki tangga untuk menyimpan tas Sena dan juga Sehun.

Sementara itu Sehun mengikuti langkah kaki kakaknya. Ia merasa senang berada di dekat kakaknya. Bahkan, perasaan ingin mencakar Sena telah sirna ketika ia melihat wajah kakaknya. Intinya, kakaknya membuat Sehun tenang layaknya sebuah obat bius.

“Sehun, sampai kapan kau akan terus mengikuti noona, hm?”

Sehun menyeringai mendengar pertanyaan kakaknya tatkala kakaknya itu tengah membuka pintu Sena tanpa menengok sekalipun padanya.

“Entah,” Sehun hanya mengangkat bahu acuh sembari bersandar di pintu kamar Sena. Ia merasa enggan jika masuk ke dalam ruangan ini.

Indera pendengaran Sehun menangkap helaan napas dari kakaknya.

Netra Sehun dan kakaknya saling bertemu tatkala kakaknya itu selesai menempatkan tas Sena dan membalikan tubuhnya menghadap Sehun.

“Cepat mandi Sehun. Bau badanmu sudah busuk. Ouh, bahkan baunya tercium dari sini.” Ujar kakak Sehun sembari mengibaskan tangannya di depan hidungnya. Perkataannya tidak bisa membohongi bibirnya yang selalu tersenyum hangat. Akting kakaknya sungguh buruk. Sehun sedikit menatap jengah kakaknya.

“Ey… noona. Walaupun aku bau para gadis tetap menyukaiku.”

Sehun bukannya narsis, tapi menurutnya itu adalah sebuah fakta. Fakta yang telah terbukti tatkala ia usai bermain basket, para gadis mengerumuninya untuk memberikan handuk dan botol mineral tanpa terlihat risih oleh bau badannya. Padahal, bisa Sehun pastikan bau badannya benar-benar bau mengingat keringat yang mengalir deras di sekujur tubuhnya. Atau mungkin, hidung para gadis itu tersumbat oleh pesonanya?

Kakak Sehun mencibir akan kenarsisan Sehun yang mulai kambuh. Ia berjalan ke arah Sehun  lalu menjawil telinganya. Sehun tidak menduga kakaknya akan memelintir telinganya.

“A-a-aw…. Noona. Kenapa telingaku dipelintir? Aku kan tidak berbuat salah…”

Sebenarnya sih, rasanya tidak menyakitkan. Kakaknya itu hanya menyentuh dan menariknya pelan, Sehun hanya mencoba untuk mendramatisir.

“Narsismu itu harus dihilangkan, Hun. Dan lagipula, noona kan menyuruhmu mandi. Ayo cepat!”

“Aish, shireo!”

Jawaban dari Sehun mengakibatkan telinganya sendiri harus menanggung siksa karena kakaknya itu menyeretnya sampai ke kamar mandi.

 

*****

 

Jam sembilan malam. Sehun masih belum tidur, ia tengah membaca-baca buku untuk mengusir rasa bosan dan kantuknya karena ia menunggu kakaknya yang belum pulang.

Kini sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu menunggu Sang kakak. Jika bibinya bertanya mengapa ia belum tidur, maka ia dengan mudah menjawab bahwa ia sedang belajar. Ia tidak berbohong mengenai belajar. Ia memang belajar, belajar sembari menunggu kakaknya pulang sehingga tidak ada waktu bagi bibinya untuk memarahi kakaknya.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka sehingga membuat Sehun reflek menengokkan kepalanya ke pintu. Ternyata yang masuk adalah kakaknya.

“Belum tidur?”

Sehun mengangguk. Kakaknya melepaskan jaket dan menyampirkannya di gantungan sementara tangan yang satu lagi  menjinjing sebuah paper bag.

“Kebetulan sekali, noona membawa sesuatu untukmu.”

Sehun tidak beranjak dari tempat tidurnya karena Sang kakak menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Kakak Sehun menyingkirkan kaki Sehun yang memang saat itu sedang berselonjor. Tangannya menyerahkan paper bag tadi ke Sehun.

Sehun menerimanya dengan wajah yang penasaran. Ia mengeluarkan isinya dan netranya melihat sebuah buku yang lumayan tebal.

Sehun mengernyit dan menatap bingung pada kakaknya. Dan kakaknya mengerti arti tatapan itu.

“Itu buku kumpulan soal-soal. Lumayan untuk berlatih bukan?”

Sebenarnya bukan itu maksud Sehun.  Ia tentunya sudah tahu bahwa buku ini adalah kumpulan soal-soal karena judulnya tercetak di sampul. Ayolah, anak sd sekalipun bisa tahu dengan membacanya.

“Bukan itu. Bagaimana noona mendapatkannya?”

“Oh itu. Noona mendapatkannya di toko buku.”

Ah, benar-benar kakaknya ini. Dia kan bertanya ‘bagaimana’ bukannya ‘di mana’. Sehun menghela napasnya pelan. Ia mengerti mengapa kakaknya menjawab seperti itu, kakaknya tidak ingin Sehun tahu. Mungkin ada alasan tertentu kakaknya itu menyimpan jawaban yang sebenarnya.

“Baiklah aku mengerti. Noona tidak ingin menjawabnya, kan?”

Kakak Sehun hanya  tersenyum kecil.

“Oh, ya. Aku juga mempunyai sesuatu untuk noona,” Sehun membuka laci nakas di samping kasurnya. Ia kemudian mengambil sebuah kado dan memberikannya pada Sang kakak.

“Ini apa?” tanya kakak Sehun seraya memandangi kado dengan dahi berkerut, seakan ia berusaha kuat menebak isinya.

“Kado untukmu, noona. Selamat hari ibu.”

“Ya?” mata kakak Sehun membulat lucu. Dan tak lama setelah itu bibirnya mengeluarkan tawa kecil.

“Sehun-ah… seharusnya kado ini untuk bibi saja. Bibi kan selama ini telah merawat kita,” ujar kakak Sehun masih dengan tawa kecilnya. Ia tak habis pikir dengan adiknya ini. Kado untuknya? Dia bahkan belum mempunyai anak. Ah tidak, menikah saja belum.

“Terserah noona.” Ketus Sehun. Ia segera kembali ke posisi awalnya, membaca buku dan menghiraukan kakaknya.

Melihat hal itu membuat kakak Sehun beranjak dari ranjang adiknya dan beralih berbaring di ranjang miliknya sendiri yang tidak terlalu jauh dari Sehun. Selimutnya ia tarik sampai ke dagu, posisi tubuhnya miring menghadap Sehun yang masih membaca buku. Guling yang berada di sampingnya ia peluk sementara netranya memerhatikan Sehun yang berada di seberang. Mungkinkah Sehun marah? Tapi karena apa? ia tidak berbuat salah, kan?

Kakak Sehun memutuskan untuk mengalihkan topik. Sebenarnya ia memiliki satu pertanyaan yang hinggap di pikirannya. Otaknya sedang meragu untuk menanyakan sebuah perihal itu pada adiknya. Sudah berulang-ulang otaknya maju mundur agar menyampaikan informasi dari pusat otak ke pita suaranya.

Akhirnya, meskipun ia ragu, ia memutuskan untuk memberanikan diri untuk bertanya.

“Sehun…”

Sehun menjawabnya dengan dehaman tapi fokusnya tetap berada di buku.

“Sehun…”

“Apa?”

Lagi-lagi Sehun menjawabnya dengan tatapan fokus pada buku yang ia baca.

“Sehun…”

Sehun menghela napasnya kemudian menutup pelan buku yang ia baca. Fokusnya sekarang berada pada Sang kakak.

“Ada apa noonaku yang paling cantik, hm?”

Jawaban Sehun membuat kakaknya tertawa kecil. Ia berhasil menarik seluruh atensi Sehun. Adiknya itu kemungkinan besar sedang menahan emosi. Kakak yang paling cantik? Tentu saja dia yang paling cantik karena Sehun kan hanya mempunyai satu kakak, yaitu dia sendiri.

Noona ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Kening Sehun mengernyit mendengar penuturan yang tidak biasa dilakukan oleh kakaknya itu.

“Apa? Tanyakan saja.”

Meskipun sedikit ragu, kakak Sehun memantapkan hatinya untuk bertanya.

“Sehun, bagaimana rasanya jatuh cinta?”

Untuk kesekian kalinya Sehun mengernyit, lama-lama keningnya mungkin akan menampilkan sebuah kerutan. Mengapa kakaknya menanyakan hal itu? Ah, mungkin kakaknya tengah jatuh hati pada seseorang.

“Aku tidak tahu,”

Tatapan heran dari kakaknya diterima oleh Sehun ketika ia menjawab sembari mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Sungguh? Noona kira Sehun sudah pernah jatuh cinta dan berpacaran.”

Sehun menggeleng.

“Tidak. Aku tidak pernah, noona-ya.”

“Kalau begitu, menurut pandanganmu, jatuh cinta itu seperti apa?”

Sehun mulai terlihat berpikir serius dengan punggung yang ditegakkan dalam duduk silanya.

“Hm, mungkin seperti perasaan Cinderella? Snow white? Bella? Atau mungkin Ariel si putri duyung?” jawab Sehun asal.

“Benarkah? Tapi, mengapa Sehun mengandaikannya dengan cerita dongeng?”

“Itu cinta menurut pandanganku, noona. Cinta seperti itu hanya ada dalam dongeng.”

“Ey, kau ini menyebalkan Sehun. Masa jatuh cinta saja tidak pernah? Jangan-jangan kau ini punya kelainan hati, ya?”

Sehun menampilkan wajah datarnya.

Noona, dengarkan aku. Jatuh cinta itu tidak ada hubungannya dengan hati. Jika aku mempunyai kelainan hati, efeknya bukan seperti itu, tapi efeknya akan menimbulkan penyakit seperti liver ataupun hepatitis.”

Kakak Sehun sedikit mengerucutkan bibirnya karena menerima sebuah materi pelajaran dari Sehun. Padahalkan maksudnya bukan seperti itu.

Ne, saem. Saya mengerti.”

Ujung bibir Sehun naik sebelah mendengar ucapan kakaknya.

Noona mengapa tiba-tiba menanyakan itu?”

Kakak Sehun menggeleng pelan.

“Tak apa. Hanya ingin bertanya saja.”

Sehun tentunya tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

“Sungguh? Bukan karena noona sedang jatuh cinta?”

“Tidak, Sehun. Noona hanya sekedar bertanya saja. Tidak ada maksud yang tersembunyi.”

Sehun memutuskan untuk tidak bertanya, ia hanya bisa mengiyakan, karena ia tahu jika ia bertanya lebih lanjut, bisa dipastikan jawabannya akan tetap sama. Ia kemudian menyimpan bukunya di meja belajarnya dan beranjak untuk tidur.

“Selamat tidur, noona.”

“Selamat tidur juga, Sehun.”

Sehun dan kakaknya pergi ke alam bawah sadarnya. Dan tanpa menyadari percakapan tadi adalah awal dari sebuah akhir.

.

.

.

.

.

Tbc

Iklan

12 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 1)

  1. ‘Awal dari sebuah akhir?’ huaaah apa ini? Yaakk diriku penasaran! Hei bibiknya bodoh y kenapa masi menyatukan sehun dgn kakanya dalam 1 kamar padahal sehun sdh cukup ehem besar!! Rasa penasaran ini masih berlanjutt~ next!

    • Kode itu say, kode…
      Ecieeeee yang penasaran bwuahahaha//tabok
      Eh, iya, ya? Kenapa masih disatuin? Sehun kan udah gede, takutnya dia khilaf sama noonanya. Kenapa? Ditanya tuh bibi!
      Bibi sehun : sehun yang maksa nak. Gak tau itu anak maksa pengin tetep satu kamar. Eh no, si sehun itu anti khilap, jadi saya gak khawatir walo mereka sekamar.

      Nano: sudah jelas nak?
      Btw terimakasih sudah meninggalkan jejaknya^^

  2. knpa aku jadi mikirnya ntar sehun suka sm noona’ny sndiri yaa kk..?? soalnya itu yg aku pengenin..
    .sbnernya aku juga pengen bgt nanya ttng “awal dari sebuah akhir” ugh ambigu bgt..apa gara” otak ku yg cetekk yaa kk jadii kagak bisa berasumsi sm kalimat itu wkwkwk.. tp berhubung banyak yg nanya yaudahh ga jadi ajaa hihihiii..
    aku suka bgt perhatian sehun ke kk’ny dan sebaliknya.. keliatan so sweet bgt

    • Sehun suka gak ya? Suka gak ya? Suka gak sih??*apaansih :v
      Wakkssss pikiranmu….. luar biasa 👍
      Itu emang kalimat ambigu, tapi semacem petunjuk juga sih… *kodekeras

      Awwwwwww terimakasih udah menyukai karakter sehun sama kakaknya. Terimakasih juga udah memberi apresiasi nya. See you next chap! *chap 2 udah publish loh

    • Sebenernya gak misteri kok, cuma pengen bikin reaader supaya penasaran doang :v
      Ahahaha, greget ya?

      Ah, terimakasih supportnya dan juga tetimakasih udah ninggalin jejak^^

    • Hayooo tebak maksudnya…. kkkkkkk kepo ya? Nanti juga kamu bakal tau kok/misterius ala ala detektif/ kemudian di tabok
      Nama kakaknya sehun sengaja di rahasiakan demi keamanan negara(?) Haha gak kok, bercanda. Hm, kira kira di chap tengah nama kakak sehun baru terungkap. Wkwkwk/ketawa jahat.
      Btw, terimakasih ya…^^

  3. Aku bacanya pas hari ibu 😀 😀
    LUCU YAAA KAMUNYA–ehh FiCNYA

    Untuk kedua kalinya aku baca ini, dan untuk prolognya, mf aku gk sempet baca (walaupun udah pernah baca) aku sibuk… sibukkk banget, gara-gara hpku yang sedang error ini. Semangat yaa buat projectnya, aku bisa beri semangat hanya melalui ketikan saja, untuk 2 minggu kedepan kita tak bisa pandang mata /bahasanya(?)/ dan sekarang pun aku tidak menghadiri acara bagi rapot di sekolah/hueekk-curhatlagi/ fighting*soso*hwaigting*semangat love U 💛💙💜💚❤💗💓💕💖💞💘

    • Wkkk pas banget hari ibu, aku emang sengaja lolololol
      Pft, dua kali. Iya gak apa, masih untung dibaca daripada enggak sama sekali :v
      Aduh tararengkyu wenwen… but, bahasamu -_- huuu yang holiday duluan sampe gak sekolah, benar-benar ente _-
      Well, sekali lagi, thanks for all… love u too😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s