[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife -(Chapter 9)

Poster secret wife1(1).jpg

Tittle            : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre          : Romance, Friendship, Marriage Life

Length         : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

 

Disclaimer         : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note      : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

 

Chapter 9 (Honesty)

 

 

 

San Fracisco, California – USA

In Alissa’s house, at 06.45 a.m.

 

Mrs Maria berjalan dengan hati-hati menuju dapurnya. Dia mendengar suara ribut di disana. Siapa yang sepagi ini membuat keributan, mungkinkah seorang pencuri? Karena memang Mr Jeremy tak mungkin melakukannya, dan anak perempuannya. Mungkinkan itu Alissa, tapi dia masih di Korea, pikirnya. Dia membawa sapu, untuk berjaga siapa tahu itu benar-benar seorang pencuri. Namun dia termangu, tatkala melihat seorang gadis dengan rambut yang diikat asal dan celemek yang terpasang di tubuh rampingnya tengah memasak. Ya, anak perempuannya telah kembali. Mrs Maria bernafas lega melihatnya, dia berjalan mendekati sang putri. Putrinya yang sadar dengan kehadiran ibunya segera menyapanya.

Morning, Mom”, sapa gadis itu.

Morning too, darling. When are you arrive?”, tanya Mrs Maria.

Last night”, gadis itu kembali dengan kegiatannya.

Mrs Maria bermaksud mendekati putrinya, namun putrinya justru yang mendekatinya. Dia segera mencium pipi kakan dan pipi kiri Mrs Maria.

Shit down please, Mom. I makes breakfast for you”, kata sang gadis itu lagi sambil menarik salah satu kursi untuk Mrs Maria. Dengan terpaksa Mrs Maria mengikuti keinginan putrinya.

Dari arah lain datanglah Mr Jeremy yang sudah rapi dengan busana kantornya. Dia berjalan ke arah Mrs Maria. Junghae yang menyadari kehadiran ayah angkatnya, menyapanya.

Morning, Dad. Apa tidurmu nyenyak semalam?”.

“Alissa”, kata Mr Jeremy sedikit kaget. “Of Course. When are you arrive?”, Mr Jeremy kembali bertanya.

Last night”, gadis itu juga mencium pipi kana dan pipi kiri ayahnya. Dia juga menarik kursi sebari memberi isyarat pada ayahnya untuk duduk. Dengan senang hati Mr Jeremy duduk di kursi yang dipilihkan putrinya.

Junghae terlihat sudah selesai dengan masakannya. Dia beralih memberikan masakannya pada orang tua angkatnya. “Fried rice kimchi for my parents”, Junghae meletakkan tiga piring nasi goreng ke meja.

Fried rice”, kata Mr Jeremy dan Mrs Maria bersamaan.

Yes”, Junghae menata piring-piring itu di depan orang tuanya.

“Sejak kapan kau suka dengan nasi?”, tanya Mrs Maria yang penasaran. Pasalnya, sejak Junghae menjadi putri angkatnya, dia tak pernah suka makan nasi. Entah apa sebabnya, karena memang gadis itu tak pernah mengatakannya. Setiap kali dia ditanya, dia selalu bilang jika dia tinggal di Amerika, jadi untuk apa makan nasi. Memang benar, makanan pokok mereka adalah daging.

“Entahlah! Mungkin sejak aku kembali ke Korea”, Junghae terlihat asal menjawab. Dia kembali mengambil tiga gelas susu dan menaruhnya disamping piring yang tadi ditatanya. Junghae menarik salah satu kursi dan mendudukinya.

“Jadi siapa yang akan memimpin doa?”, tanya Junghae sebelum mulai makan.

“Biar Dady saja”, Mr Jeremy menawarkan diri. Mereka semua menyatukan tangan dan mengangkatnya di depan dada untuk berdoa bersama. “Tuhan, terima kasih untuk nikmat yang Kau berikan hari ini. Semoga apa yang kita makan pagi ini mendapat berkah dariMu. Amin”.

“Amin”, kata Junghae dan ibunya serentak. Mereka tersenyum setelahnya dan mulai memakan makanannya. Mereka sangat menikmati makanannya. Bahkan Mr Jeremy mengangguk-anggukan kepalanya tatkala merasakan betapa lezatnya masakan putrinya.

Satu hal yang selalu Junghae suka dari apa yang orang tua angkatnya ajarkan adalah berdoa sebelum makan. Karena dengan begitu, mereka akan mensyukuri dan mengingat nikmat Tuhan yang diberikan pada mereka.

“Sayang, bukankah dia terlihat berbeda?”, tanya Mrs Maria pada Mr Jeremy disela-sela makannya.

Mr Jeremy memperhatikan putrinya sebentar, ya Junghae menoleh setelah mendengar perkataan ibunya. “Yes, dia memang terlihat berbeda”, jawab Mr Jeremy.

What yours say, mom? Anything strange from me?”, Junghae yang tak paham dengan ucapan ibunya melayangkan pertanyaanya.

No, not strange. But, kau terlihat lebih cantik dari sebelumnya”, jawab Mrs Maria.

Of course. Benar apa yang dikatakan ibumu, darling”, Mr Jeremy ikut mendukung istrinya.

Junghae justru tertawa melihatnya. “Mom, Dad, aku tak paham dengan maksud kalian! Tapi yang pasti, kalian memang selalu bilang jika aku cantik”, jawab Junghae. Dia kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Bukan itu maksudku, darling. Kau terlihat berbeda, berbeda dari sebelumnya. Auramu terlihat berbeda dari sebelumnya”, Mrs Maria kembali memperjelas pernyataanya. “Apa kau sudah menikah?”, lanjut Mrs Maria.

Untuk beberapa detik Junghae membeku ditempatnya. Itu pertanyaan teraneh yang pernah dia dengar dari ibunya. Namun detik kemudian dia sadar apa yang ditanyakan ibunya. Apa memang sangat terlihat jika dia sudah menikah. Dia tersenyum sebelum menjawabnya, “Kenapa Momy bertanya seperti itu?”, dia justru balik bertanya.

“Jawab saja, kau memang terlihat seperti pengantin baru”, Mrs Maria kembali berucap.

Junghae hanya bisa menelan susah salivanya. Dia bingung harus menjawab apa pada ibunya. Ya, dia memang paling tak bisa menyimpan rahasia pada ibunya. Pernah suatu ketika dia menyimpan rahasia dari ibunya itu, namun selalu saja ibunya tahu apa yang disimpannya.

“Bagaimana kau sampai berfikir seperti itu sayang, jika dia memang menikah dia pasti akan memberitahu kita. Dan juga dia ke Korea untuk membantu kakaknya, bukan untuk menikah”, Mr Jeremi ikut membuka suara.

“Ya, kau benar sayang. Mungkin aku saja yang terlalu paranoid”, ucap Mrs Maria.

Junghae dapat bernafas lega setelahnya. Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka.

 

 

Junghae kini tengah membereskan ruangannya, ruangan yang selalu dia pakai untuk membuat karya-karyanya. Dia membuka semua kain yang menutupi benda-bendanya. Ruang itu tak terlalu berdebu, karena memang belum lama dia meninggalkan ruangannya. Dia juga menata barang-barang yang baru dibelinya, di tempat yang sekiranya mudah untuk ia ambil.

Setelah sekitar 30 menit, Junghae selesai. Dia duduk disalah satu kursinya, dia terlihat lelah setelah beres-beres. Dari arah lain datanglah ibunya membawakan segelas jus kesukaannya. “Are you thirst?”, tanya ibunya yang kini sudah berdiri di sampingnya. Junghae mengagguk. Ibunya segera memberikan segelas jus yang dipegangnya.

Thank you Mom”, kata Junghae. Dia segera meminum jus itu. Dia memang terlihat kehausan, terbukti dengan habisnya jus yang dibawakan ibunya. Dia memberikan gelasnya kembali pada ibunya. Mrs Maria bermaksud pergi setelah menerima gelasnya, namun suara putrinya mencegahnya. “Mom, apa Mrs Wilson sudah mengurum pesananku?”.

“Aku menaruhnya di lemari itu”, kata Mrs Maria sambil menunjuk lemari yang dimaksud.

Okay”, Junghae segera berlalu menuju lemari yang dimaksud ibunya. Ibunya juga berlalu meninggalkan putrinya. Sebuah kotak besarlah yang dilihat Junghae pertama kali saat membuka lemari. Junghae membukanya dengan hati-hati. Dia memeriksa semua isi kotak tersebut, tepat seperti yang dia inginkan. Ya, itu adalah kain-kain yang ia pesan. “Kau memang selalu bisa diandalkan Mrs Wilson”.

Junghae mengambil beberapa lembar kain. “Saatnya membuatmu menjadi indah”, Junghae berkata pada kain yang dipegangnya. Dia menaruhnya di meja, menacari alat pengukur, untuk memotong kain tersebut. Namun, belum sempat ia mengukurnya dia teringat sesuatu. “Aish, kenapa ku bisa lupa”. Dia mengambil ponsel yang tergelatk manis di sampingnya. Mencari sebuah nomor ponsel, dan menghubunginya. Cukup lama dia menunggu seseorang untuk mengangkatnya.

Junghae tersenyum senang saat panggilannya telah terjawab. “Yeobseyo, oppa”.

Ne”.

Oppa, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?”, raut wajah Junghae terlihat khawatir. Bagaimana tidak, dia meninggalkannya dalam keadaan sakit. Seharusnya dia berada disamping namja itu sekarang, bukannya malah pergi ke Amerika.

Emh, gwenchana. Aku sudah lebih baik sekarang, kau tak perlu khawatir”.

“Syukurlah!”, Junghae menghela nafas lega. Dia merasa bebannya sedikit berkurang mendengar penjelasan sang namja. “Apa kau benar-benar tak memanggil dokter?”, Junghae kembali melayangkan pertanyaannya.

“Untuk apa? Lagipula aku sudah lebih baik, bahkan hanya dengan memakan bubur buatanmu”. Oh God. Bahkan namja itu kini terlihat seperti seorang perayu. Mungkin virus milik Baekhyun sudah menular padanya.

Dan lihat, Junghae kini tengah merona mendengarnya. “Oppa ada-ada saja”, Junghae terlihat malu mengatakannya. Ya, harus diakui Junghae mungkin mulai menyukai namja itu. Dan sepertinya namja itu juga mulai nyaman dengan Junghae. Mereka sama-sama sedang terluka, dan takdir mempertemukan mereka disaat yang tepat. Saat dimana mereka saling membutuhkan seseorang untuk mengobati luka yang mereka derita.

Namja itu justru tertawa. “Kau sedang apa?”, tanyanya setelah meredakan tawanya.

“Memotong kain. Tapi tiba-tiba aku teringat padamu, karena itu aku menelfonmu”, jelas Junghae kemudian. “Bagaimana denganmu oppa, kau sedang apa sekarang?”, lanjutnya.

“Aku baru selesai mandi. Aku bahkan di Busan sekarang”.

Ye~”, Junghae terlihat kaget mendengarnya. “Bagaimana bisa oppa pergi kesana? Apa oppa benar-benar sudah baikan?”, nada bicara Junghae kini terdengar khawatir. Bahkan raut wajahnya juga, dia benar-benar mengkhawatirkan namja yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.

“Sudah ku bilang aku sudah lebih baik, Junghae. Jangan khawatir! Dan lagi, eomma menemaniku setelah kepergianmu. Jadi aku benar-benar sudah baikan”.

“Tapi tetap saja oppa, seharusnya oppa masih harus beristirahat, ini bahkan baru sehari. Bagaimana bisa oppa bilang sudah baikan?”, kata Junghae yang masih terlihat khawatir.

Jinjayo! Aku sungguh sudah baikan Junghae. Sebenarnya, ada sedikit masalah dengan proyekku disini, karena itu aku segera datang kemari setelah sekretaris Kim menghubungiku”, namja itu terus berusaha meyakinkan Junghae. Dia tak ingin membuatnya khawatir. Dia tahu jika Junghae benar-benar mencemaskannya, oh dia seharusnya berterima kasih. Tapi entah mengapa dia juga juga khawatir jika gadis itu terus mencemaskannya. Pasti akan sulit melakukan pekerjaannya jika gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya terus memikirkanya.

Junghae terlihat menghela nafasnya. Percuma saja membantahnya, dia tak bisa melihat namja itu, jadi dia harus benar-benar percaya pada ucapannya. “Baiklah, jika memang oppa benar-benar sudah baikan, aku percaya”, nada bicara Junghae kini sudah terdengar biasa, tak ada nada kekhawatiran. “Apa oppa sudah makan?”, lanjutnya kemudian.

Eoh, aku bahkan menghabiska dua mangkuk nasi tadi”, namja itu tertawa setelah mengatakannya. Itu menjadi terdengar seperti dia sedang bercanda.

“Baguslah! Setidaknya selera makan oppa sudah membaik. Ah, bukankah sekarang seharusnya waktunya tidur?”.

“Iya, ini sudah jam sebelas malam sekarang”.

Oppa istirahatlah, bagaimanapun juga oppa harus tetap menjaga kesehatan oppa. Bagaimana bisa hotel berjalan baik jika CEOnya sakit”.

Ne, gomawo Junghae-ya. Kau juga harus menjaga kesehatanmu, jangan lupa makan”.

Ne, jaljayo oppa. Nice dreams”.

Ne”.

Junghae kini terlihat begitu bahagia. Dia menjadi tenang mendengar namja itu sudah baikan. Tak ada lagi beban dalam hatinya. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia tak sadar jika sedari tadi sepasang mata tengah memperhatikannya. Ya, ibunya mendengarkan semua yang ia bicarakan. Dia memutuskan kembali melihat putrinya setelah meletakkan gelasnya. Ibunya kini berjalan mendekatinya.

Who is his, darling?”.

Junghae terlihat kaget mendengarnya. Bagaimana bisa ibunya bertanya seperti itu, apa ibunya mendengarkan semuanya. Bagaimana ini, apa yang harus ia katakan pada ibunya. Junghae justru terdiam, dia tak tahu harus beralasan apa dihadapan ibunya. Karena memang dia tak pandai menyimpan rahasia pada ibunya itu. “Mom, sejak kapan kau ada disini?”, Junghae mencoba mengalihkan perhatian.

“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan darling. Siapa laki-laki itu? Kau terlihat senang saat berbicara padanya. Apa dia kekasihmu?”, ibunya kembali memeberikan pertanyaannya.

“Jadi Momy mendengar semuanya?”, Junghae kini justru balik bertanya.

Ibunya menggangguk. “Yes, semuanya”.

Raut wajah Junghae kini terlihat bingung. Apa yang harus dilakukanya? Apa sebaiknya dia jujur saja? Itulah yang terlintas dalam fikirannya. Ya, mungkin dia memang harus jujur pada ibu angkatnya itu.

“Siapa dia, darling?”, ibunya kembali bertanya karena Junghae tak kunjung menjawab. “Benarkan dia kekasihmu?”.

Mom~”, nada bicara Junghae terdengar sedikit manja. Dia menghela nafas sebelum mengatakannya. “Mungkin memang seperti itu”.

“Jadi benar jika putri Momy yang cantik ini sudah memiliki kekasih. Siapa namanya, darling? Apa itu Mickle?”, tebak ibunya. “Kurasa bukan, kau tak mungkin susah-susah berbicara bahasa Korea dengan orang itu. Bukan begitu!”, Mrs Maria kembali berkata bahkan sebelum Junghae sempat menjawabnya.

Junghae mengangguk. “Itu memang bukan Mickle, Mom”.

“Jadi siapa dia sebenarnya?”, tanya ibunya kembali, dia terlihat begitu penasaran.

Mom, aku ingin jujur sesuatu”, nada bicara Junghae terlihat serius.

“Apa, darling? Katakanlah!”.

“Sebenarnya aku sudah menikah”, Junghae kini menatap lekat ibunya. Dia ingin sekali melihat reaksi ibunya saat ia berkata jujur untuknya. Semoga ini tak akan menjadi masalah yang serius.

Ada raut sedikit terkejut di wajah ibunya. Namun itu hanya sebentar, karena setelahnya dia tersenyum. Senyum tulus yang pernah dilihat Junghae. “Benarkan apa tebakanku. Dengan laki-laki tadi?”.

Yes”, Junghae berkata sambil mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang harus Momy ketahui. Bisakah Momy menyimpan ini!”.

“Maksudmu apa, darling?”, ibunya terlihat bingung.

Junghae kemudian menceritakan semuanya dari awal. Dari pertemuan mereka, hingga alasan mereka menikah dan pernikahan yang harus mereka rahasiakan. Ibunya begitu setia mendengarkanya. Dia tersenyum kala ada sesuatu yang lucu dari cerita putrinya.

“Apa kau bahagia, darling?”, tanya ibunya diakhir cerita Junghae

“Tentu. Dia begitu baik, Mom”, Junghae tulus saat mengatakannya. Ya, setidaknya dia memang bahagia dengan pernikahannya meski itu hanya pernikahan rahasia.

“Baiklah, hanya kita yang tahu. Momy janji!”, ibunya akhirnya setuju untuk menjaga rahsia pernikahannya.

Thank you, Mom”, Junghae sangat senang mendengarnya. Begitu senangnya hingga dia terlalu erat memeluk ibunya.

“Sama-sama, darling. Terima kasih juga karena kau sudah hadir di tengah-tengah kami”.

 

 

 

***

 

 

 

Junghae kini tengah berdiri di depan pintu sebuah rumah yang terlihat begitu megah. Dia menunggu pemilik rumah membukakan pintu untuknya setelah dia beberapa kali menekan tombol bel rumah tersebut. Tak lama setelahnya, suara pintu itu terbuka. Nampaklah seorang wanita paruh baya yang mungkin berbeda tipis denga umur ibunya. Wanita itu tersenyum ramah melihat Junghae.

Morning, Mrs Wisley”, sapa Junghae.

Morning Alissa. Hei, kenapa kau masih memanggilku dengan nama itu”, protesnya.

“Karena aku memang sudah terbiasa dengan nama itu. Haruskan aku menggantinya dengan Mrs Oh”, kata Junghae.

“Bukankah memang harusnya seperti itu”.

“Baiklah! Aku akan mengulanginya. Morning Mrs Oh”, Junghae berkata dengan nada yang ia buat semanis mungkin.

Wanita itu tertawa mendengarnya. “Kau ini. Ayo masuk”, aja wanita itu.

Junghae mengikuti wanita itu. Dia dipersilahkan duduk. Namun Junghae tak menghiraukannya, dia malah sibuk bertanya hal lain. “Kenapa sepi sekali, bukankah ini hari minggu, seharusnya mereka semua ada di rumah!”.

“Seharusnya kau tahu dimana mereka. Kau mau minum apa?”, wanita itu menjawab juga memberikan pertanyaan kembali.

“Ah, ya aku tahu. Merka ada dibelakang?”.

Wanita itu menggangguk. “Sebenarnya kau ingin bertemu siapa? Mic, atau Jenny?”.

“Dua-duanya, dan juga Mr oh tentunya”.

Wanita itu tersenyum kembali mendengar ucapan Junghae. “Kau bisa kesana. Kau belum menjawab pertanyaanku, kau mau minum apa?”.

“Apapun asal bukan alkohol”, Junghae berlalu meninggalkan wanita itu. Ini memang bukan pertama kalinya dia datang ke rumah itu. Karena itu dia terlihat sangat menghafal setiap inchi rumah itu, karena memang dia sering datang. Dia tersenyum saat melihat seorang laki-laki yang ia kenal dengan sebutan Mickle tengah bertengkar dengan seorang gadis yang biasa ia panggil dengan sebutan Jenny. Nama aslinya adalah Jennifer Wisley, namun saat ibunya menikah dengan Mrs Oh yang tak lain adalah ayah dari seorang Mickle, dia menggantinya menjadi Jennifer Oh. Kalian bisa menyebutnya adik tiri dari seorang Mickle, dan Sehun adalah nama Korea laki-laki itu.

Junghae melihat Mr Oh tengah sibuk memandikan anjingnya. Dia beralih menemui Mr Oh, karena tak ingin mengganggu acara dua orang yang tengah berdebat itu. “Morning Mr Oh”, sapanya.

Morning too Alissa. Bagaimana kabarmu? Ini sudah lama sejak kau pergi ke Korea. Apa kau akan menetap disini, atau kau hanya berkunjung kesini?”, laki-laki itu kembali sibuk mengusap bulu anjingnya dengan sampho.

“Seperti yang kau lihat Mr Oh, I’m fine. Aku hanya berkunjung kemari”, Junghae ikut berjongkok melihat Mr Oh yang tengah memandikan anjingnya. Dari arah lain datanglah seekor anjing yang memang dekat dengannya. Anjing itu mengusap-usapkan kepalanya pada kaki Junghae. “Snopy”, Junghae yang tau nama anjing itu segera mengambilnya. Diusapnya anjing itu diarea kepalanya. “Hei, kau semakin manis saja”, itu adalah kata-kata untuk anjing tersebut. “Apa kau sudah memandikannya Mr Oh?”, dia beralih bertanya pada Mr Oh.

“Belum. Sebenarnya Jennifer yang akan memandikannya, tapi kau lihat sendirikan bagaimana sibuknya mereka kalau bertemu”, yang dimaksud mereka oleh Mr Oh adalah kedua anaknya. Ya, mereka memang sering berdebat saat bertemu meski itu hanya untuk masalah kecil. Mereka bahkan tak sadar jika kini Junghae tengah berada diantara mereka.

Junghae mengangguk membenarkan pernyataan Mr Oh. ‘Biar aku saja yang memandikannya”, tawar Junghae.

“Tentu, silahkan”.

Junghae meletakan tasnya di meja dekat denganya. Dia kemudian melipat lengan kemejanya sesiku dan mengikat asal rambutnya. Dia mulai sibuk menyiramkan air pada anjing tersebut lalu membasuhnya dengan sampo. Dia cukup pandai dalam hal ini, karena sebelumnya Mr Oh pernah mengajarkannya.

Dari arah rumah datanglah Mrs Oh yang membawa senampan minuman untuk mereka. Sepertinya itu jus jeruk, dari warna dan juga tekstur yang terlihat. “Apa kalian tidak lelah berdebat terus? Apa kalian tak malu dengan Alissa?”, Mrs Oh berkata pada kedua anaknya. Tanpa memperdulikan reaksi mereka berdua Mrs Oh beralih meletakan nampannya di meja.

“Alissa”, kata mereka serentak. Mereka terlihat begitu kaget, lalu menoleh mencari keberadaan Junghae. “Hei, sejak kapan dia kemari?”, kata Jennifer kemudian. Sehun sudah beralih mendekati Junghae.

“Sejak kapan kau sampai disini Alice?”, tanya Sehun yang kini sudah berdiri di samping Junghae. Dia kemudian ikut berjongkon di samping Junghae.

“Dia bahkan sudah sejak tadi, kalian saja yang terlalu sibuk”, sela Mr Oh. Junghae hanya tersenyum menanggapinya.

“Kau bahkan tak menghubungiku jika kau kembali kemari. Jika kau menghubungiku, aku bisa menjemputmu di bandara. Dasar, lalu kau anggap aku ini sebagai apa?”, Sehun kini mengacak-acak rambut Junghae.

“Berhentilah bersikap seolah kau benar-benar kekasihnya. Itu membuat perutku mual, Mic”, itu suara Jennifer yang entah kapan sudah berdiri di samping Sehun.

Mereka semua tertawa mendengar penuturan Jennifer. Tapi meskipun sebenarnya Sehun hanyalah kekasih pura-pura Junghae, namun sikapnya berbeda. Bisa dibilang jika dia benar-benar seperti kekasih sungguhan. Mulai dari seringnya menelfon, makan bersama, menonton film bersama, bahkan berlibur bersama.

 

 

Keluarga Oh dan juga Junghae kini tengah duduk santai di halaman belakang rumahnya. Dengan ditemani jus jeruk dan juga bebarpa camilan. Ya, setelah selesai memandikan semua anjing yang mereka miliki, mereka memilih mengobrol ringan.

“Jadi sebenarnya apa yang membawamu kemari, Alissa”, tanya Mr Oh.

“Sebenarnya aku ingin meminta bantuan Jennifer. Aku akan mengadakan fashion show malam tahun baru nanti. Jadi aku ingin memintanya menjadi salah satu modelnya”, jelas Junghae. Ya, Jennifer memang salah satu model yang selalu membantu Junghae dalam memperkenalkan karya-karyanya. Dia mengenalnya jauh sebelum Mr Oh menikah dengan ibunya, karena itu dia terbiasa memanggil nyonya Oh dengan sebutan Mrs Wisley.

“Hei, kau bercanda. Sejak kapan kau menjadi gadis yang terburu-buru. Biasanya kau menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum hari H-nya. Tapi sekarang, ini bahkan tinggal tiga minggu Alice. Kau yakin benar-benar akan mengadakannya”, Sehun kini menyela.

“Mic benar Alissa. Bukankah ini terlalu terburu-buru”, kata Jennifer yang setuju dengan pendapat Sehun.

“Ya, sebenarnya aku memang tak bernacana untuk mengadakannya di tahun baru. Aku inginnya di musim semi nanti. Tapi mau bagaimana lagi, ini permintaan Mr Wu”, jelas Junghae lagi. Dia kembali meminum jus jeruk yang disediakan Mrs Oh.

“Kris Wu! Aish, kau memang tak pernah bisa menolak permintaannya”, Sehun yang paha dengan Junghae kembali membuka suara. Dia juga kembali meminum minumannya. Mereka semua kini terdiam untuk beberapa saat.

“Hei, apa kalian tak lihat. Bukankah Alissa terlihat berbeda!”, kata Mrs Oh memecah keheningan mereka. Mereka semua kini menatap Junghae.

Junghae yang merasa diawasi mereka semua membuak suara, “Maksud anda apa Mrs Oh. Apa aku terlihat aneh?”.

“Tidak, hanya auramu berbeda Alissa. Kau jauh lebih cantik dari sebelumnya”, Mrs Oh kembali berucap.

“Ya, dia memang berbeda dari sebelumnya”, Mr Oh setuju dengan pendapat istrinya.

“Bukankah dia memang selalu cantik”, Sehun kini ikut mengambil suara.

“Itu memang yang selalu kau katakan, Mic”, Jennifer juga ikut bersuara.

Junghae justru tersenyum menanggapinya. “Momy juga mengatakan hal yang sama sepertimu Mrs Oh. Apa yang berbeda, aku hanya merasa biasa saja”, Junghae kini meminum minumannya kembali.

“Kau terlihat seperti seorang pengantin baru”, kata Mrs Oh.

Dan itu berhasil membuat Junghae tersedak minumannya. “Uhuk, uhuk”.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Sehun yang terlihat khawatir dengan Junghae. Dia mengusap-usap punggung Junghae untuk meredakannya. Mereka memang duduk bersebelahan, jadi mudah saja bagi Sehun untuk membantu Junghae.

“Emh, aku baik-baik saja”, kata Junghae yang sudah baikan. “Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu Mrs Oh”, lanjutnya lagi.

“Karena memang pengantin baru yang memiliki aura sepertimu. Kebanyakan mereka akan terlihat berbeda”, jelas Mrs Oh kembali.

“Kau bercanda, Mom. Dia ke Koren bukan untuk menikah”, sela Jennifer.

“Siapa tahu saja?”, Mrs Oh kembali berkata.

“Kau ada-ada saja Mrs Oh. Aku ke sana untuk membantu kakakku, bukan untuk menikah”, jelas Junghae.

Tak ada orolan serius setelahnya, hanya ada obrolan ringan diantara mereka. Seputar bagaimana kabar masing-masing, dan juga bagaimana pengalaman Junghae di Korea.

 

 

 

***

 

 

 

Hyung, bagaimana menurutmu. Bukankah dia cantik?’, itulah pesan yang Sehun kirim pada Chanyeol. Dia juga menyertakan sebuah gambar, gadis yang terlihat dari belakang tengah memegang seekor anjing.

Chanyel yang mendapat pesan tersebut segera membalasnya. ‘Bagaimana aku tahu dia cantik atau tidak. Kau hanya memperlihatkan gambar punggungnya’.

Sehun tersenyum membaca balasan pesannya. ‘Aku memang sengaja. Dia bahkan terlihat cantik hanya dari punggungnya’, Sehun kembali membalas pesannya.

Chanyeol yang membaca pesan Sehun juga tersenyum. Chanyeol kembali memperhatikan gambar tersebut, harus diakui memang benar apa yang dikatakan adiknya. Gadis itu terlihat begitu menawan hanya dari belakang, bahkan hanya dengan rambut yang terlihat asal saat mengikatnya dan juga kemeja yang dilipat sesiku. ‘Siapa dia?’ balasnya kemudian.

‘Sepertinya aku mulai menyukainya, hyung. Kau tahu hari ini dia datang mengunjungi rumahku. Dan seperti biasa dia ikut memandikan anjing-anjing kesayangan Appa’, balas Sehun. Dia bahkan tak menjawab pertanyaan Chanyeol.

‘Jika kau memang menyukainya, kenapa tak kau katakan saja. Bukankah itu lebih baik, daripada menyimpan perasaan. Siapa tahu dia juga menyukaimu. Tapi, siapa dia?’, Chanyeol kembali membalas pesan Sehun.

‘Kau memang benar, hyung. Tapi dia tak pernah menganggapku sebagai namja, dia hanya menganggapku sebagai seorang kakak. Dan kau tak mengenalinya? Seharusnya kau tahu siapa dia!”, balas Sehun lagi.

Chanyeol kembali memperhatikan foto tersebut, karena Sehun bilang jika dia mengenalinya. Betapa terkejutnya dia, saat dia benar-benar mengenali gadis yang ada di foto tersebut. Adik kesayangannya mulai menyukai gadisnya. Ya, gadisnya. Gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya. Chanyeol termenung beberapa saat. Cukup lama hingga membuat Sehun kembali mengiriminya pesan.

‘Dia Junghae, hyung’, itu adalah balasan Sehun.

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Hai, chapter 9 is up. Bagaimana menurut kalian? Maaf ya baru biSa update. Dua minggu ini sibuk banget buat mengerjakan tugas kuliah. Aku sudah baca komen kalian semua, terima kasih ya. Jadi tambah semangat buat nulisnya. Tetap tinggalkan jejak kalian ya….

Salam hangat: DWI LESTARI …..

 

 

Iklan

58 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife -(Chapter 9)

    • karena terbiasa bersama mungkin,
      tahu sendirikan jika cinta bisa tumbuh dari kebiasaan….

      terima kasih ya… 🙂

  1. Tidak, tidak boleh pokoknya Sehun tidak boleh suka sama Junghae. Junghaekan udah jadi istrinya Chanyeol
    Thor kapan nih mreka mau ngasih tau hubungan mreka ke keluarga masing2?
    Ditunggu next chapnya Thot. Fighting

    • iya nich, bang Sehun nggak boleh suka ma Junghae,
      biarlah dia sama aku saja #nunjuk Sehun…

      ditunggu saja ya… 🙂

  2. Aduh ka aku telat baca chapter ini. Makin rumit aja tapi geregetan. Aku tunggu chapter selanjutnya kaa 😁😁😁😁😁💪💪💪💪

  3. Aura junghae berbeda? Biasanya yang biasanya kalo aura kecantikannya nambah itu pas lagi hamil, apa junghae lagi hamil?
    Ahh sehun juga suka junghae? Terus junghee gimna? Udah sehun jadiin sama junghee… yang harus ngalah pada akhirnya tetep sehun, karena chanhae gak mungkin terpisahkan..

    • nggak hanya orang yang sedang hamil saja auranya berbeda,
      biasanya pengantin baru juga……

      ditunggu saja ya, nanti bakalan kejawab semua kok pertanyaannya…

      thanks banget… 🙂

    • iya, sedang diusahakan tidak lama…. tapi aku gak bisa janji…
      semoga saja lebih seru….. ditunggu saja ya…

      Thanks… 🙂

  4. Haduhh, Sehun udah beneran suka sama Junghae?? Bukannya dia masih suka sama Jungra?? Makin rumit aja yaa. Tapi gak papa kan ya toh juga Chanyeol sama Junghae udah saling sayang kan. Semoga ajah bisa diatasi deh masalah ini. Keep writing thor. 😊

    • iya, mungkin Sehun dah nyerah ma perasaannya….
      salahnya mbak Jungra sich, gak sadar-sadar jika abang Sehun beneran suka…..

      ya, semoga mereka berdua bisa ngatasin masalahnya…
      thanks ya… 🙂 🙂 🙂

    • Ya, cinta memang bisa tumbuh dari kebiasaan…
      karena memang mereka keseringan bersama jadinya ya… begitulah… ada rasa lebih…. #ini juga dari pengalaman, hihihi……..

      thanks ya…. 🙂

  5. kebiasaan nggak makan nasi… hemmmm mencurigakan .. hahahaha aura pengantin baru mang beda kaya’y ya..
    junghae udah ngaku sam mom’y.. kapan chanyeol oppa ngaku ke eomma’y..!! buruan ntar keburu sehun makan ati kebanyakan.. 😅😅😅
    nunggui ff ini berasa lama banget.. akhirnya release juga.. di tunggu lanjutan’y.. makin menarik..

    • iya, kan hidupnya orang Amerika… #lebay, abaikan…
      memang biasanya pengantin baru auranya berbeda, ini berdasarkan pengalaman, lihat temen-temenku yang baru menikah auranya mang beda gitu…
      Bang CY kan belum nemu timing yang pas…….
      lagian Bang Sehun gak makan hati kok, makannya nasi, hihihi….. #abaikan…

      Thanks ya, udah setia nunggu…….
      pokoknya ditunggu saja ya, nanti juga bakalan selesai…….. 🙂 🙂 🙂

  6. astagaah~~ sehun gaboleh suka sama junghaee, suka nya sama aku ajaaa wkwk *plakkk
    sumpeh hun jangann,, dia itu kakak ipar lo! makanya si junghae ama chanyeol tu buruan ngaku aja klo udh nikah>< huhuuhu T_T
    tapi ceritanya smakin membuat ku melting dewe. okaay semangqt kak buat next chapternyaaa^^
    화이팅 nee~^^

    • ya gak papa lah, toh dianya gak tahu….
      lagian siapa sich yang gak suka ma Junghae…. hihihi…

      iya, bang CY ma mbk JungHae kenapa gak ngaku-ngaku ya…..
      tapi Junghae kan dah mulai terbuka ma Ibu angkatnya….
      ditunggu saja di chapter selanjutnya…

      Thanks bingit ya… 🙂 🙂 🙂

    • Iya, hanya bisa segitu…
      itupun dah nyempet-nyempetin waktu…
      soalnya sibuk banget…

      Thanks ya… 🙂 🙂 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s