[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy – (Chapter 8)

my strong daddy#8(1).jpg

 

[EXOFFI FREELANCE] MY STRONG DADDY#8 – (CHAPTERED)

TITTLE          : MY STRONG DADDY#8

Author                        : Angestita

Length             : Chaptered

Genre              : Family, romance dan drama

Main cast        : Sehun (EXO) – Leo William Recipon (Ulzzang Kid) – Kim Na Na (OC)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sang idola. Cerita ini murni dari pemikiranku dan bukan hasil dari mencontoh karya orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan nama, tempat maupun alur cerita itu mutlak ketidak sengajaan. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karya ini. Semoga kalian dapat menikmatinya.

Sumarry          : Na Na tidak tahu bahwa ucapannya waktu itu mengubah jalan hidupnya. Lalu apakah ini kebahagian yang dia cari? Apakah ini pernikahan yang dia inginkan?

Sehun masih termenung seorang diri di lorong rumah sakit itu. Matanya yang lelah tampaknya enggan terpejam. Masih setiap menerawang jauh berlari dengan angannya. Ini sudah malam hari dan Sehun belum terpejam barang satu menit pun. Pria itu masih berfikir dalam kebisuannya tentang ucapan Na Na tadi.

Otak cerdasnya menyetujui saja permintaan yang ditawarkan Na Na. Namun hati nuraninya tak sejalan. Sedari tadi hatinya memberontak pikirannya. Menentang keinginannya untuk menikahi Na Na. Padahal Sehun membutuhkan pernikahan ini agar Leo dapat segera memiliki ibu. Tapi namanya batin tak selalu sekata. Hatinya berkata keras, bahwa pernikahan bukan hanya persetujuan antara keinginan namun lebih ke hati. Untuk saat ini mungkin hati keduanya belum sempurna bersatu. Tetapi apabila waktu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal lebih jauh. Apakah itu tidak berubah?

Sehun menghela nafas, sepertinya kali ini dia belum bisa menerima tawaran Na Na. Untuk masalah putranya, Sehun yakin ada jalan keluar yang lebih logis lagi yang dapat dia pilih. Leo harus dapat menerima kenyataan bahwa ibunya sudah tidak ada. Dan Sehun harus lebih bekerja keras lagi untuk membuat putranya yakin bahwa tanpa ibunya kehidupan Leo tetap akan baik-baik saja.

Di telefonnya Na Na malam itu juga, dia ingin membuat janji dengan wanita cantik itu di kantin rumah sakit sepulang Na Na kerja. Na Na menyetujuinya karena dia beralasan akan mengunjungi Leo lagi. Sehun merasa kian tak enak dengan kebaikan yang Na Na tawarkan. Namun hatinya tidak lantas setuju untuk segera menikahi Na Na. Rasa takut gagal dalam pernikahan masih tergiang dalam ingatannya. Dia takut jatuh dan terluka lagi. Dia takut menyesal.

Siang itu, Sehun dan Na Na bertemu. Na Na tampak terlihat sangat cantik dalam balutan dress hijau muda yang cocok dengan kulit putihnya. Sehun sempat terpesona dengan tampilan wanita itu. Tanpa sadar senyum kecil mampu tersungging di bibirnya yang tipis.

Mereka memulainya dengan mengobrol hal-hal ringan tentang cuaca, jalanan hingga pekerjaan. Sehun menikmati waktu yang dia habiskan dengan Na Na. Tapi dia tak lantas lupa dengan tujuan awalnya.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Ujar Sehun dengan nada serius. “Aku berterimakasih kepada kamu telah membantu banyak keluarga kami. Aku yakin jika kamu tidak datang Leo tidak akan sebaik sekarang. Walaupun kondisinya belum pulih. Leo sayang denganmu dan aku bisa lihat kamu sayang Leo. Tetapi untuk masalah yang kamu tawarkan, aku fikir aku belum bisa.” Sehun menjeda panjang ucapannya untuk mengamati perubahan wajah Na Na.

Wanita itu terlihat berkaca-kaca namun ada senyum manis di bibirnya. “Maaf…” imbuh Sehun dengan suara tulus. “Ini salahku melamarmu tanpa perkenalan dengan baik. Aku minta maaf sudah menyakitimu sedalam ini. Aku minta maaf… aku mohon kamu mau maafkan aku.”

Na Na tersenyum tipis, “Aku tahu… tidak mudah untukmu membuat keputusan. Aku menghargai usahamu. Aku fikir kamu tidak salah dan aku juga. Bukan kita yang salah tapi mungkin waktu yang tidak memberikan kesempatan dengan baik.” Ujar wanita cantik itu.

“Tapi, aku ingin meminta kita berteman baik. Maksudku, aku ingin kita berkenalan terlebih dahulu, saling mengenal satu sama lain. Aku suka kamu berada di hidupku. Aku suka mengahabiskan waktu denganmu. Aku harap kamu berkenan untuk menerimaku sebagai temanmu.” Pinta Sehun tulus.

Na Na memandang ragu Sehun, ada jeda lama sebelum wanita cantik itu mengangguk setuju. “Baiklah, mari kita berteman dengan baik.” Jawab Na Na pelan.

Empat bulan kemudian

Kim Na Na terlihat tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya. Wanita itu segera berlari menuju garasi tanpa perlu terlebih dahulu mematikan lampu. Dia sudah terlambat untuk melakukan itu. Setelah memastikan rumahnya terkunci rapat. Wanita itu segera menyetir mobilnya ke luar rumah. Jalanan Seoul pagi itu terlihat lenggang, tidak banyak orang yang keluar di pagi bersalju seperti itu kecuali dia tentunya. Na Na sudah membuat janji untuk menjemput seseorang di bandara. Tetapi tampaknya dia harus terlambat.

Sebelum menuju bandara, Na Na terlebih dahulu membelokkan mobilnya ke sebuah komplek perumahan elite. Dia berhenti disebuah rumah kaca yang sudah sangat sering dia kunjungi. Ya, ini adalah rumah Sehun. Na Na tampaknya tak perlu lama menunggu. Leo sudah terlebih dahulu keluar rumah dengan di gendong oleh bibi Jung –pembantu rumah Oh Sehun.

“Terimakasih bibi Jung. Kami pergi dulu.” Ucap Na Na sembari melambaikan tangan kepada wanita ramah itu. Leo terlihat bahagia duduk disebelah Na Na. Kim Na Na yang melihat tingkah manis putranya hanya mampu tertawa kecil. Selama perjalanan mereka terjebak obrolan asyik. Tanpa sadar mobilnya sudah terparkir rapi di bandara.

Na Na menggandeng tangan Leo saat memasuki bandara. Leo sekarang sudah menolak untuk di gendong. Katanya dia tidak ingin menyusahkan dirinya ataupun Sehun. Sekarang Leo sudah berubah, walau sifat kekanak-kanakannya masih mendominasi tetapi dia tidak serewel sebelumnya. Leo lebih mudah diatur. Dia juga tidak mempermasalahkan apabila Sehun terpaksa harus meninggalkan dia bekerja selama tiga hari keluar negeri. Walau anak itu harus disogok dengan banyak mainan dan jajan.

Na Na kini tidak terlalu repot merawat Leo, malahan sekarang dia belajar banyak dari anak itu. Ini sudah empat bulan dari kejadian itu, sekarang Na Na dan Sehun semakin dekat. Mereka juga sesekali menghabiskan waktu berdua entah itu untuk jogging, kebaktian atau hal lainnya. Dan Na Na tidak mempermasalahkan status diantara mereka berdua. Yang penting kedua-duanya sama nyaman. Malah yang terkesan sangat memaksa adalah kedua orang tua Sehun. Kedua duanya selalu saja membuat moment-moment romantis untuk Sehun dan Na Na walau berakhir gagal.

Mengingat itu senyum Na Na selalu terbit, dia merasa disayangi berada di keluarga Sehun walau sekali lagi belum ada hubungan yang pasti yang Sehun berikan kepadanya. Tetapi Na Na merasa cukup. Tanpa sadar Na Na dan Leo sudah tiba di tempat tunggu. Banyak orang yang datang untuk menjemput saudara ataupun tamu mereka. Na Na memilih tempat yang paling ujung agar Sehun dapat langsung menemukannya.

Mereka tidak perlu lama menunggu, sepuluh menit kemudian Sehun sudah datang bersama penumpang lainnya. Pria itu tersenyum hangat kearah keduanya ketika matanya menatap Na Na dan Leo. Senyum yang mampu membuat banyak orang mencair detik itu juga. Kedatangan Sehun menarik banyak perhatian orang disekitarnya, apalagi ketika Leo berteriak nyaring memanggil papanya.

Anak tunggal Oh Sehun itu segera menghambur kepelukan Sehun. Terlihat sekali bahwa Leo sangat merindukan ayahnya. Sehun senang bukan main melihat putranya. Rasa rindu itu mendadak lolos dari hatinya. Selama tiga hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyaman karena tidak bisa mendengar langsung suara Leo.

Sementara itu Na Na masih sibuk dengan perasaan terpesonanya semenjak Sehun melangkah mendekatinya. Ini bukan kali pertama Sehun berpakian seperti itu selama mereka kenal. Namun entah mengapa dimata Na Na, Sehun selalu mampu mencuri banyak perhatian. Gaya dia, cara dia, senyum dia, suara dia bahkan hal-hal kecil lainnya mampu membuat kenangan manis dalam benak wanita itu. Entah sekalipun Sehun melintas diantara banyak orang, untuk Na Na pria itu sudah punya gaya tarik yang luar biasa. Dan Na Na tidak tahu mengapa demikian.

sehun love2(1).jpg

Sehun menyetir mobil dengan kecepatan sedang, disampingnya Na Na duduk dengan dengan diam. Mereka baru saja dari rumah orang tua Sehun. Sehabis dari bandara, mereka mengunjungi kediaman kedua orang tua Sehun atas permintaan Leo. Disana anak tunggal Oh Sehun menghabiskan waktunya bersama anak anjing peliharaan Nyonya Oh. Ibunda Sehun seperti biasa memaksa mereka untuk melanjutkan hubungan ketahap berikutnya. Baik Sehun dan Na Na hanya mampu tersenyum kecil.

Mereka sedang menuju kediaman Na Na yang ada di districk yang berbeda. Sehun menolak tawaran papanya agar Na Na menginap di rumah mereka. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin ada kejadian yang tidak-tidak. Papa dan ibunya sangat berambisi membuat mereka menikah. Padahal Sehun sudah memikirkannya masak-masak.

Mobil putih itu berhenti tepat di sebuah rumah dengan pagar yang membatasi halamannya dengan jalanan. Sehun tidak lantas membukakan pintu untuk Na Na. Dia ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu kepada Na Na. Sesuatu yang penting dia sampaikan.

Kim Na Na terlihat bingung melihat tingkah Sehun yang mendadak serius, “Sehun?” tanya Na Na dengan bingung.

Pria itu membalasnya dengan tatapan yang lebih lunak, “Aku ingin membicarakan hal penting.” Ujarnya pelan namun terdengar penuh keyakinan. Na Na mengangguk paham dan sedikit memiringkan tubuhnya kea rah Sehun.

“Kim Na Na, aku ingin membicarakan ini. Sebelum aku berangkat ke Jepang, aku mengunjungi makam kedua orang tuamu. Aku meminta restu mereka. Maka malam ini aku ingin mengatakannya untuk meminta persetujuan darimu. Maukah kamu menikah denganku?” tanyanya Sehun yakin, tegas dan lembut. Na Na terlihat tampak limbung ketika mendengar suara itu sebelum kemudian air mata menetesi pipinya.

Sehun tersenyum lembut, tangannya bergerak untuk mengusap air mata itu. Sehun merengkuh Na Na kedalam pelukannya ketika Na Na terisak, pria itu mengusap lembut punggung ringkih wanita itu. Setelah isakan itu terhenti Sehun melepaskan pelukannya dan menatap Na Na dalam.

“Mari kita membangun keluarga baik-baik, aku memang belum mencintaimu tetapi aku bisa janjikan aku akan mencintaimu…”

Na Na memandang mata Sehun lama, mencoba mencari kebohongan dan keraguan dari mata itu. Namun yang Na Na lihat adalah ketulusan. Ketulusan yang mampu menguatkan batinnya untuk mengangguk. “Aku menerimamu Sehun.”

Sehun tersenyum lebar, segera dia mengambil sebuah kotak dari saku jaketnya. Di depan wanita itu dia membuka kotak perhiasan yang sudah dia siapkan sedari kemarin. Sebuah cincin dengan bentuk seperti mahkota dengan batu permata kecil mengiasi setiap bagian ujungnya. Terlihat sederhana namun indah.

GYOnqipAlo(1).png

Sehun memakaikannya ke jari manis milik Na Na setelah itu mengecup kening calon istrinya dengan lembut. “Terimakasih Na Na… terimakasih.” Bisiknya lembut penuh kejujuran.

TBC

Iklan

18 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy – (Chapter 8)

  1. Andai itu aku yg dilamar sehun, pingsan sudah diriku.
    Tapi kak, walau ff ini lumayan bagus tapi konfliknya kurang nendang, atau emang sengaja dibikin kayak gini??#maaf atau krn aku sering bacanya yg konflik berat
    tapi secara personality ini udah bagus.
    ditunggu update selanjutnya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s