[EXOFFI FREELANCE] A Little of Childhood (Kai Version)

20161217161657

JiYeol Park’s Present

A Little Of Childhood (Kai Version)

Kai, Other’s || School!, Fluff, Childhood! || Oneshoot || PG

Don’t Try to Plagiat! This Fanfic pure from my mind, dude.

“Semua bocah memiliki pikiran sederhana. Tapi apakah benar sesederhana itu?”

— JiYeol Park—

Bocah itu menangis. Tapi tidak benar benar menangis, dia hanya menangis dalam imajinasinya. Biar bagaimanapun dia selalu mengingat perkataan ayahnya yang menyinggung soal anak laki laki yang tidak seharusnya menangis didepan banyak orang, dia harus kuat meskipun dia sungguh ingin menangis saat ini.

Dia sendirian meskipun disekelilingnya dipenuhi oleh bocah bocah yang sebaya dengannya.

Jongin; Bocah itu, dia tidak tahu mengapa temannya temannya menjauhi dirinya. Secerdas apapun jongin dikelas, dia masih belum mengerti dengan masalah yang satu ini. Sering kali ia menjawab pertanyaan pertanyaan ibu guru dikelas dan diberi pujian oleh ibu guru, namun ia selalu mendapati tatapan teman temannya berbeda dari tatapan yang diberikan oleh ibu guru untuknya. Atau saat ia membawa banyak permen maupun makanan ringan dari rumah, teman temannya memang selalu menerima semua makanan itu dengan senang hati namun setelahnya mereka kembali menjauhi jongin seakan akan dirinya hanyalah sebuah permen loli yang setelah habis gula gulanya maka puntungnya akan dibuang ketempat sampah atau kesembarang tempat. Iya, dia puntung plastik itu. Jongin selalu berusaha untuk berpikir positif seperti yang sering ayahnya katakan. Mungkin dirinya masih kurang menyenangkan? Entahlah, bocah itu tidak terlalu sering berbicara akrab dengan teman temannya sehingga ia tidak tahu sampai mana tingkat menyenangkan dirinya dimata mereka.

Bocah itu memakan lagi makan siangnya, sendirian diruang kelas memang tidak buruk. Meskipun sendirian ia masih bisa melihat anak anak lain bermain ditaman luar kelas lewat jendela berhias origami origami burung warna warni disampingnya, hari ini para guru rapat atau apalah itu jongin tidak mengerti tapi itulah penyebab kenapa anak anak hanya berada diluar sejak tadi. Singkatnya ibu guru hanya masuk sebentar tadi pagi untuk melihat daftar hadir kemudian kembali lagi keruang guru, membiarkan anak anak pergi ketaman untuk bermain sepuas hati mereka.

Setelah selesai menghabiskan sandwich miliknya, bocah itu memasukkan kembali kotak makan siang berwarna biru muda tersebut kedalam tas berbentuk pororo miliknya. Jongin menyukai pororo dan krong lebih dari apapun. Bahkan jika seseorang memberikannya coklat batang terenak didunia, bocah itu akan tetap memilih kedua karakter kartun favoritnya tersebut. Tapi mungkin jongin akan mengambil setengah dari coklat tersebut untuk mencicipinya, dia juga suka coklat tapi tidak sebesar ia menyukai pororo dan krong.

Bocah itu berjalan kearah pintu keluar, tak lupa mengambil jaket tebal berwarna biru mudanya. Ia ingin bermain diluar sebentar, dan udara dingin diluar ternyata tak menyurutkan niat alamiah anak anaknya untuk bermain.

Disudut taman, dekat kumpulan bunga mawar yang menguncup kedinginan ada satu ayunan yang kosong. Ia ingin duduk disana dan memperhatikan teman teman sebayanya bermain, jongin tidak berniat untuk bermain hari ini karna kata ibu badannya agak hangat sehingga ia tidak boleh terlalu lelah.

“Itu punyaku!”

Baru saja jongin ingin menduduki si ayunan, suara cempreng seorang bocah perempuan sudah menginterupsi kegiatannya. Jongin diam ditempatnya menatap bocah perempuan berkuncir dua dengan pipi tembam itu tanpa berkedip, bocah perempuan bermantel pink pastel itu hanya menatap jongin dengan tatapan tidak suka nan polos dengan kedua iris bulatnya. Jongin tidak pernah melihat gadis kecil itu sebelum ini, atau hanya dia saja yang kurang memperhatikan jumlah murid disekolahnya.

“Aku menemukan ayunan ini lebih dulu.” Kilah jongin tidak setuju.

Alarm dalam diri jongin mengatakan bahwa ayunan itu berhak ia mainkan karna ia memang menemukan ayunan itu lebih dulu, bukan si gadis kecil berpipi tembam dengan raut tidak suka itu.

“Tapi aku melihatnya lebih dulu darimu!” Gadis itu terlihat keras kepala dimata jongin, dia bahkan tidak merubah raut wajahnya.

“Pokoknya ini milikku!”

Gadis yang memiliki postur sedikiiiiittt lebih tinggi dari jongin itu menarik tubuh jongin untuk sedikit menyingkir dari si ayunan sehingga ia yang kini duduk diayunan. Jongin tentu tidak terima sehingga ia membalas apa yang bocah perempuan itu lakukan padanya beberapa saat lalu, sehingga kini gadis kecil itu telah berdiri menghadapnya. Membiarkan ayunan itu berayunan lemah tanpa ada yang mendudukinya.

“Ayunan itu punyaku!” Ucap jongin tak terima.

“Punyaku!”

“Punyaku!”

“Aku lebih dulu menemukannya!”

“Aku lebih dulu melihatnya!”

“Punyaku!”

“Punyaku!”

Dan ditengah permainan saling berteriak ‘Punyaku!’ itu si gadis kecil berpipi tembam menginjak kaki kiri jongin dengan kesal dan cukup menyakitkan untuk ukuran seorang gadis kecil sepertinya, gadis itu curang. Dan sekarang mata jongin mulai berair dan siap untuk menumpahkan semua cairan yang tertampung dimatanya, tapi sebelum jongin benar benar menangis gadis kecil itu sudah lebih dulu menangis dengan suara cemprengnya.

“Huaaa! Joon oppaaaa!” Gadis itu menangis sembari terus mamanggil manggil nama orang bernama ‘Joon oppa’.

Jongin ikut menangis karna kakinya sakit akibat injakkan kaki bocah perempuan tadi.

Sesaat berselang datang dua orang bocah laki laki berpostur lebih tinggi sejengkal dari jongin dengan raut yang berusaha mereka buat sesangar mungkin, walau nyatanya mereka hanya anak anak berusia enam tahun yang menggemaskan. Tapi raut sok sangar itu mampu membuat jongin diam.

Dalam hati jongin sudah memperkirakan bahwa kedua bocah laki laki tersebut berasal dari kelas nol besar, yang berarti lebih tua darinya.

“Yyak bocah, kau apakan adikku?” Tanya bocah bermantel coklat dengan gambar teddy bear kecil di dada kirinya.

Bocah itu tidak sadar bahwa dia juga masih bocah, dasar anak anak!

“Hiks… Aku ingin main ayunan tapi dia malah…Hiks! menginjak kakiku.” Jongin menunjuk gadis kecil yang masih menangis dihadapannya dengan polos.

“Kau membuatnya menangis, tahu.” Si bocah bermantel hitam satunya ikut menimbrung menyudutkan jongin.

“Aku melihat ayunan itu lebih dulu joon oppa kris oppa.” Gadis kecil itu merengek.

“Kau lebih baik pergi sebelum kami memanggil ibu guru dan mengadukan bahwa kau sudah membuat adikku menangis.” Ucap si mantel coklat dengan nada mengusir yang kental.

Dan jongin hanya pasrah saat ia perlahan harus berjalan menjauh dari ayunan.

Satu pelajaran yang tak sengaja didapat jongin hari ini. Jangan pernah membuat seorang gadis menangis karna urusannya akan panjang dan sulit, terlebih jika gadis kecil itu memiliki dua orang kakak laki laki yang galak dari kelas nol besar. Jongin tidak mau lagi bertemu dengan gadis itu, sungguh.

**

Sore hari, saat jongin tengah asik bersepeda disekitar kawasan kompleks perumahannya seorang diri.

Dia berusaha keras untuk tidak melewati sebuah rumah besar yang katanya memiliki anjing penjaga yang galak, namun sebuah suara tangisan kecil khas anak anak yang berasal dari tikungan samping rumah besar tersebut menyita perhatian jongin.

Perlahan namun pasti bocah itu mengayuh pedal sepedanya semakin dekat dengan asal suara. Dan ia segera menemukan seorang bocah perempuan dengan sweater berwarna peach tengah menangis didekat semak tanaman bunga jarum. Mungkin karna ingatan jongin yang terlalu tajam untuk anak seumurannya, ia sedikit banyak seperti mengenal suara tangisan bocah perempuan tersebut.

“Hai.” Panggil jongin, bocah perempuan itu masih bergeming dan hanya menunduk kearah bawah sehingga rambut sepanjang bahunya menghalangi jongin untuk mengenali bocah itu.

Perlahan, bocah perempuan itu mengangkat kepalanya menatap jongin sambil berkedip beberapa kali. Bekas bekas airmata masih memenuhi pipi tembamnya.

“Kenapa menangis?” Tanay jongin.

“Anjing mencuri barbie dariku…” Pelan gadis kecil itu.

Sekilas jongin melihat tubuh si anjing yang dimaksud gadis kecil itu tengah berlari menjauh dari mereka, kembali kedalam rumah majikannya. Dan jongin juga melihat boneka barbie yang sudah acak acakkan tergeletak diatas aspal hitam yang dingin, sudah rusak dan tidak mungkin lagi untuk diselamatkan. Gadis kecil itu juga masih menangis.

Merasa bingung akhirnya jongin mengambil sesuatu dari ransel biru mudah kecil dipunggungnya. Sebuah boneka berbentuk penguin berkacamata kuning besar ia keluarkan dari sana, ia segera menyodorkan si boneka pada gadis kecil itu.

“Dia memang tidak secantik barbiemu tapi dia selalu menemaniku saat ingin tidur, untukmu saja. Anggap itu untuk mengganti barbiemu.” Ucap jongin.

“Kalau kau ingin tidur bagaimana? dia kan selalu menemanimu setiap ingin tidur.” Ucap gadis itu dengan tatapan polosnya.

“Aku masih punya krong dirumah.” Balas jongin sembari tersenyum, akhirnya ia ingat siapa bocah perempuan itu. Dialah yang tadi siang membuat jongin menangis.

“Terimakasih.” Gadis kecil itu tersenyum menerima uluran boneka berbentuk penguin berkacamata dari jongin. Bentuknya tidak terlalu besar sehingga ia bisa dengan mudah memeluknya.

Mereka kebetulan tinggal diblok yang berdekatan sehingga jongin dengan baik hatinya mengantarkan gadis kecil yang masih sesegukkan itu kembali kerumahnya, bahkan jongin tidak tahu bahwa ia memiliki rumah yang berdekatan dengan gadis kecil itu. Ini membuktikan bahwa meskipun jongin itu cerdas ia masih kurang peka pada sekitar.

Lama berjalan akhirnya merwka sampai didepan sebuah rumah bercat abu abu yang besar, jadi sejak tadi jongin memilih untuk tidak mengayuh sepedanya dan hanya ikut berjalan kaki dengan tangannya yang menggeret si sepeda disamping tubuh.

“Ini rumahmu?” Tanya jongin.

“Hm. Mainlah kapan kapan, aku memiliki oppa yang baik dan dia pasti akan menyukaimu.” Polos gadis itu.

Jongin hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia ingat benar dengan kakak gadis itu yang galak padanya.

“Jiae-ya, oppa mencarimu dari tadi.” Fokus mereka segera teralih kearah ambang pagar rumah dimana ada bocah yang jongin kenali sebagai kakak si gadis kecil tengah berdiri sambil menatap mereka bergantian.

“Temanmu?” Tanya bocah bersweater coklat itu.

“Dia mengganti barbieku yang digigit anjing dengan penguin lucu ini, oppa.” Polos gadis iti lagi.

Dan bocah bersweater coklat itu berjalan mendekati mereka berdua dengan wajah cukup bersahabatnya, kemudian mengulurkan tangan pada jongin.

“Kenalkan, aku Kim Joonmyeon. Maaf tadi siang aku galak padamu.” Ucap bocah itu tersenyum. Jongin segera membalas uluran tangannya.

“Aku Kim Jongin, H-Hyung.” Jongin tahu bahwa bocah itu lebih tua darinya.

“Ayo kita berteman.” Ucap joonmyeon riang.

“Baiklah!” Sambut jongin tak kalah riang.

“Kim Jiae disini! ayo berteman denganku juga!”

Dan mereka tertawa bersama ditengah sore yang agak dingin itu. Well, siapa sangka hanya karna bantuan boneka pororo jongin bisa mendapatkan teman baru?

-FIN-

Lagi dalam masa penantian nilai jadi belum ada niat buat kirim FF lain selain Oneshoot.

Rencananya mau bikin series buat semua anggota EXO(Termasuk para alumni tercinta) jadi tunggu aja keputusan selanjutnya, pengennya siapa abis ini? Abis sehun maksudnya. Soalnya bagi saya Kai sama Sehun itu wajib lebih dulu, yang lain mah sunah aja gak papa wkwkwk. As always I’m never forget to asking you all for give me some comment, ok? love you all~ See you next time~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s