[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 5)

Poster Promise (약속).jpg

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Chaptered

Rating        : PG 17+

Main Cast    : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast. Cast akan bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Sudah pernah saya kirim ke https://exofanfiction.wordpress.com/

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 5 – (Tender Girl)

Seperti permintaan sunbaenimnya Saera pergi menggantikannya sebagai pemateri seminar di Inha University. Sampai disana, Saera meras kebingungan mencari tempat diadakannya seminar. “Pabbo, kenapa aku tidak bertanya tempatnya dimana. Kampus ini sangat luas”. Dia berniat menelfon sunbaenya. Belum sempat diangkat Saera melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dia tidak jadi menghubungi sunbaenya, dia memanggil orang tersebut.

“Oh Sehun”, kata Saera.

Merasa ada yang memanggilnya, Sehun segera menoleh. “Ow, Saera noona”. Sehun mendekati Saera. “Untuk apa noona kemari?”.

“Aku ada seminar disini. Apa kau tahu tempatnya?”.

“Setahuku dokter Kim yang akan mengisi acaranya”.

“Aku yang menggantikannya, dia harus menghadiri pemakaman neneknya”.

“Ah, arraseo. Ikutlah denganku, akan kutunjukan tempatnya”.

Mereka segera menuju tempat diadakannya seminar. “Jadi kau kuliah disini?”, tanya Saera.

“Emh, bukankah aku sudah pernah bilang”, kata Sehun.

“Entahlah, aku lupa”.

“Tentu saja, kau kan memang pelupa”.

“Ya, ya terserah apa katamu”.

“Kita sudah sampai”.

“Ini tempatnya?”.

Sehun mengganguk. Tempat itu adalah aula di fakultas kedokteran. Ruangan itu sudah terlihat ramai dengan mahasiswa yang akan mengikuti seminar. Sehun juga mengantarnya pada Dosen yang bertanggung jawab dengan seminar tersebut.

Annyeong haseyo, Professor Jo, ini dokter Han”, kata Sehun pada orang yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang.

Professor Jo menoleh. “Dokter Han. Tapi kami mengundang dokter Kim bukan dokter Han”, kata Professor Jo.

“Anda bisa menanyakan sendiri padanya, Professor. Saya permisi dulu”, Sehun membungkuk hormat sebelum dia meninggalkan Saera.

Annyeong haseyo, Han Saera imnida”, kata Saera sambil membungkukkan badannya.

“Kenapa anda yang datang? Mana dokter Kim?”, tanya Prof Jo.

Joseonghamnida. Beliau harus menghandiri pemakaman neneknya, karena itu saya diminta untuk menggantikannya”, kata Saera.

“Seharusnya dia menghubungiku kalau memang ada masalah”.

“Sepertinya dia tidak sempat menghubungi anda, saat memintaku dia terlihat begitu bingung”.

“Ow, baiklah kalau begitu. Mari ikut saya. Sebentar lagi acara akan dimulai”.

Ne”.

Saera segera mengikuti Prof Jo ke tempat seminar. Disana para mahasiswa sudah memnuhi ruangan. Acara segera dimulai. Acara pertama adalah pembukaan yang dilanjutkan dengan acara inti yakni seminar yang diisi olehnya. Saera cukup bagus dalam menyampaikan materinya.

Entah itu karena materinya atau karena wajah cantik Saera, para mahasiswa terlihat sangat menikmati materi yang disampaikannya. Mereka juga tak segan bertanya materi yang tak dimengertinya. Saera menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan penanyanya. Hingga tak terasa mereka telah menepuh waktu selama 2 jam. Itu berarti Saera harus mengakhirinya.

Suara tepuk tangan terdengar setelah Saera mengucapkan salam perpisahan. Setelah meninggalkan tempat seminar Saera berniat langsung pulang, namun ia ditahan oleh prof Jo.

“Dokter Han, tunggu”.

Ne. Ada apa prof Jo”.

“Anda mau kemana?”.

“Pulang. Bukankah acaranya sudah selesai?”.

“Iya, acara memang sudah selesai. Tapi masih ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan pada anda. Bisakah anda ikut saya”.

Ne”.

Saera mengikuti prof Jo. Dia diajak ke ruang dosen. Selain meminta file materi dan nomor ponsel, prof Jo juga mengenalkannya pada rektor dari kampus tersebut. Saera membungkuk hormat dengan rektor tersebut sambil memperkenalkan dirinya.

“Han Saera imnida”.

“Saya melihat seminar anda tadi, sangat mengagumkan. Anda terlihat masih muda, berapa usia anda?”.

“Itu terlalu berlebihan. Saya hanya menyampaikan sesuai pengetahuan saya. Saya berusia 28 tahun”.

“Kenapa dokter Kim meminta anda yang menggantikannya, apa anda kekasihnya?”.

Animnida. Kami bekerja di rumah sakit yang sama, dia adalah senior saya. Dan juga dia sudah memiliki kekasih”.

“Ah, jadi begitu”.

Ponsel Saera tiba-tiba saja berbunyi. Saera meminta waktu untuk menganggkat panggilan tersebut.

Yeobseyo”.

“…..”.

Mwo? Baiklah, aku akan segera kesana”.

Saera menutup sambungan telfonnya. Saera segera pamit, karena ada masalah di tempat ia bekerja. Dengan terpaksa rektor kampus tersebut memberi izin setelah mendengar alasannya. Setelah berpamitan Saera segera meninggalkan kampus itu.

***

Dari arah luar terdengar pintu ruangannya diketuk. Chanyeol segera mempersilahkan masuk. Masuklah sekretaris pribadinya, Do Kyungsoo. Kyungsoo membungkuk hormat pada Chanyeol.

“Apa kau sudah tahu dimana wanita itu dirawat?”, tanya Chanyeol.

Joseonghamnida sajangnim, saya belum menemukannya. Saya sudah memeriksa seluruh rumah sakit di Seoul, tapi tidak ada pasien yang bernana Han Jiwon. Mungkin saja gadis itu yang menyuruh petugas rumah sakit menyembunyikan identitasnya. Sekali lagi maafkan saya sajangnim”, kata Kyungsoo.

“Iya, aku paham. Terima kasih Kyungsoo”.

Ne. Saya permisi dulu”, Kyungsoo membungkukan badannya sebelum meninggalkan ruang Chanyeol.

Chanyeol hanya bisa mendesah pasrah setelah kepergian Kyungsoo. “Dimana lagi aku harus mencarinya”.

“Apa aku harus bertanya langsung pada Elena? Tidak, tidak. Dia belum tahu hal ini”. Chanyeol berfikir sejenak. Dia berfikir seseorang yang mungkin dekat dengan keluarga Han itu. “Kenapa aku tidak bertanya Jongdae, bukankah dia teman SMAnya. Mungkin saja dia tahu sesuatu. Semoga saja”. Chanyeol membuang nafasnya.

“Baiklah Park Chanyeol, selesaikan dulu pekerjaanmu. Baru setelah itu menemui Jongdae”.

Sesuai keputusannya Chanyeol menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Karena memang pada dasarnya dia sudah tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia segera merapikan semua berkasnya dan menelfon sekretaris perusahaannya jika berkas yang diperiksanya sudah selesai. Setelahnya dia pergi menemui sahabatnya, Kim Jongdae.

Tak butuh waktu lama, Chanyeol telah sampai di tempat Jongdae. Dia segera menuju ruangan Jongdae. Sampai di depan ruangan Jongdae, dia dipersilahkan masuk oleh sekretarisnya. Chanyeol segera memasuki ruangan Jongdae. Namja itu tengah sibuk dengan berkas-berkas perusahannnya. Chanyeolpun mendekatinya.

“Ini sudah jam pulang kantor tuan Kim, kenapa kau masih sibuk dengan berkas-berkasmu”. Perkataan Chanyeol berhasil mengalihkan perhatian Jongdae.

“Ini berkas yang harus ku selesaikan hari ini. Besok akan ku bawa saat aku berangkat ke Okinawa untuk kerjasamaku dengan Giant Hotel. Apa yang membawamu kemari tuan Park?”. Jongdae menghentikan aktivitasnya.

Sementara Chanyeol memilih duduk di kursi depan meja kerja Jongdae. “Aku ingin bertanya sesuatu padamu?”.

“Kau mau tanya apa?”.

“Kau mengenal Elena bukan?”.

“Eoh, wae? Kau penasaran dengan yeoja itu?”.

“Sedikit. Ceritakan semua yang kau ketahui tentang keluarganya”.

“Sebenarnya apa yang membuatmu ingin tahu tentang yeoja itu?”.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Jongdae”.

“Baiklah, jika itu alasanmu. Aku mengenalnya saat kami memasuki sekolah menengah atas. Aku tidak tahu banyak tentang keluarganya. Yang aku tahu dia adalah anak seorang jaksa yang cukup terkenal bernama Han Moonjae”.

“Apa dia memiliki saudara kembar?”.

Ne, kau benar”.

“Apa kau sangat dekat dengannya?”.

“Bisa dibilang begitu”.

“Kau menyukainya?”.

Ani, bukan dia tapi saudara kembarnya”.

Chanyeol mengangguk paham. “Jadi gadis yang menghianatimu itu adalah saudara kembarnya?”.

“Darimana kau tahu?”.

“Elena”.

“Ah, itu memang benar”.

“Apa kau tahu kalau ibunya kecelakaan?”.

“Aku sudah lama tidak berhubungan dengannya semenjak aku pergi ke Amerika”.

Chanyeol berfikir sejenak. Dia merasa jika dia telah salah bertanya pada Jongdae.

“Sebenarnya apa yang ingin kau pastikan darinya?”, tanya Jongdae dan itu membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.

“Dia mengingatkanku dengan teman kecilku. Aku hanya ingin memastikan, apa itu benar dia atau bukan. Maaf sudah mengganggumu, aku pergi dulu”. Chanyeol pergi meninggalkan Jongdae. Saat akan membuka pintu Jongdae mengucapkan sesuatu, itu membuatnya menghentikan langkahnya.

“Kau bisa bertanya pada Byun Baekhyun. Dia sudah mengenal Saera sejak kecil”, kata Jongdae.

Chanyeol ingat dengan orang itu. Dia lalu tersenyum. “Terima kasih sobat”. Membuka pintu dan meninggalkan ruangan tersebut. Sepanjang perjalannya, dia menelfon seseorang. Entah siapa orang itu, karena setelah menyuruhnya mencari tahu tentang Byun Baekhyun, Chanyeol menutup telfonnya.

***

Hari ini Saera sudah mulai masuk kerja di Empire Night Club. Setelah menangani pasiennya, dia menyempatkan diri mengunjungi ibunya sebelum berangkat bekerja. Dia tidak suka membawa mobil pribadinya, dia lebih suka naik taksi. Sampai di depan Empire Nigh Club, dia bertemu Sehun. Sehun juga baru turun dari taksi.

“Saera noona”, Sehun berjalan mendekati Saera.

Saera tersenyum melihat orang yang memanggilnya. “Kau baru sampai?”, tanyanya.

Ne. Tadi seminarmu bagus sekali noona”.

Jinjja! Itu biasa saja, Sehun. Aku hanya menyampaikan apa yang sudah aku ketahui”.

“Tapi itu benar-benar bagus. Kau bahkan bisa menguasai suasana seminarnya”.

“Bukankah seharusnya memang begitu!”.

“Ya, kau benar noona”.

Mereka berdua sama-sama tertawa. “Sebaiknya kita segera masuk”, kata Elena. Sehun menyetujuinya, mereka segera masuk ke gedung. Sehun menuju ruang ganti karyawan, sedang Saera menuju ruang rias. Sampai di ruang rias dia disambut oleh Wendy.

“Lama tidak bertemu Elena, kau sudah sembuh? Sajangnim bilang kau sakit setelah kau melayani tuan Park. Apa dia begitu kasar, sampai kau jatuh sakit?”, kata Wendy sambil terus memoles wajahnya dengan bedak.

“Memangnya sudah berapa hari aku tidak masuk?”, bukannya menjawab pertanyaan Wendy, Saera malah bertanya padanya.

Yak, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau malah balik bertanya”.

“Jawab saja pertanyaanku”. Saera kemudian duduk di sebelah Wendy.

“Sudah sekitar 5 hari”, Wendy menghentikan aktifitasnya, lalu menatap Saera. “Apa pewaris S&C itu yang membuatmu sakit?”.

“Apa Shandy tidak datang?”, Saera mengalihkan pembicaraan.

“Dia belum datang. Yak, kenapa kau malah megalihkan pembicaraan, Elena”.

Dari arah lain Shandy datang lalu memeluk mereka berdua. “Maaf teman-teman aku terlambat”, katanya.

“Yak, lepaskan Shandy. Kau mau membunuhku”, protes Elena, karena Shandy memeluk lehernya dengan erat.

Mian, mian”. Shandy melepaskan pelukannya. “Elena, kau sudah sembuh?”, lanjut Shandy.

“Seperti yang kau lihat”.

“Kau sakit setelah melayani pewaris S&C. Apa dia yang membuatmu sakit”, kata Shandy.

“Aku sudah bertanya beberapa kali dia tidak menjawa, Shandy. Jadi percuma saka kau bertanya padanya”, kata Wendy sedikit kesal. Dia lalu melanjutkan aktifitasnya.

“Kau marah?”, tanya Elena.

“Menurutmu?”, kata Wendy.

“Bukannya aku tidak mau menjawab, aku hanya belum menjawabnya”, kata Elena.

“Ow ayolah, kalian jangan bertengkar”, kata Shandy.

“Siapa yang bertengkar”, kata Wendy. “Jadi kenapa kau sakit? Apa memang karena namja itu”, lanjut Wendy.

Aniyo, aku hanya terlalu banyak minum alkohol saat itu”, kata Elena.

“Astaga, pantas saja”, kata Wendy.

“Jadi kau sakit bukan karena Park Chanyeol?”, tanya Shandy.

“Tentu saja bukan. Bagaimana kau berfikir sampai kesitu, kau pikir dia itu virus penyakit”, kata Elena.

“Kami hanya hanya menebak, benarkan Wendy!”, kata Shandy.

Eoh”, jawab Wendy dengan singkat.

Shandy melepas jasnya, lalu duduk disebelah Elena. Dia mulai merias wajahnya. Wendy sudah selesai dengan riasannya. Sedang Elena masih terdiam, entah apa yang dia lamukan.

“Kenapa kau belum bersiap-siap juga Elena? Apa yang sedang kau pikirkan?”, kata Wendy menyadarkannya.

“Bukan apa-apa”, bohongnya. Ya, Elena tengah berbohong pada temannya. Dia sebenarnya sedang memikirkan keadaaan ibunya.

Tiba-tiba brak, pintu ruagan itu dibuka secara keras. Mereka bertiga segera menoleh ke arah pintu. Tampaklah dua orang pengawal Kim Dongman, dengan membopong seorang namja dengan wajah bengkak, seperti habis dipukuli. Yang diikuti Kim Dongman dibelakangnya.

Sajangnim, siapa dia? Kenapa dengan wajahnya?”, tanya Wendy.

“Dia akan menjadi anak buah baruku. Dan kenapa kalian masih disini!”, kata Kim Dongman.

“Kami baru akan pergi”, kata Shandy.

“Pergilah! Elena kau tetap disini, obati lukanya”, kata Kim Dongman.

Ne”, jawab mereka serentak. Wendy dan Shandy segera meninggalkan ruangan itu.

“Kenapa harus dengan cara seperti ini ahjussi. Apa salah namja ini, lihatlah wajahnya sampai bengkak seperti ini”, Elena segera merebut namja tersebut, lalu mendudukannya di kursi.

“Itu bukan urusanmu, Elena. Yang kau harus lalukan sekarang hanyalah mengobati lukanya. Dan pastikan dia mau menjadi anak buahku. Kau tidak perlu bekerja hari ini”, kata Kim Dongman. Dia lalu meninggalkan ruangan itu yang diikuti kedua anak buahnya.

Arraseo”, kata Elena. Dia segera mengambil kotak P3K di lemari ruangan itu. Elena duduk di depan namja tersebut, membuka kotak P3K, dan menatap wajah namja tersebut sebelum mengobati lukanya.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Elena.

“Apa aku terlihat baik-baik saja?”, kata namja tersebut.

“Kau terlihat sangat kacau”.

“Kenapa kau bertanya, jika kau sudah tahu”.

Aigoo, anak ini.  Apa kau tidak tahu sopan santun, setidaknya kau harus bertanya lebih dulu meskipun pada dasarnya kau sudah tahu, agar kau tidak terkesan sok tahu”, Elena mulai membersihkan wajah namja tersebut sebelum mengobatinya.

Namja itu hanya diam mendengar perkataan Elena. Dia hanya pasrah dengan apa yang Elena lakukan padanya. “Siapa namamu?”, tanya Elena lagi.

“Kim Jongin”, jawab namja itu singkat. “Akh”, namja itu terlihat kesakitan saat Elena mengoles lukanya dengan antiseptik.

“Sakit ya, mianhaeyo”, Elena lalu mengobatinya dengan hati-hati.

Setelah itu, tidak ada percakapan antara mereka. Karena memang tidak ada yang perlu untuk dibicarakan. Namja itu merasa masih asing dengan Elena, sedang Elena sibuk mengobati luka namja tersebut. Mereka tidak sadar jika sepasang mata mengawasi mereka dari balik pintu yang setengah terbuka.

Seorang namja dengan tinggi sekitar 181 cm, tengah berdiri di depan pintu ruang rias. Namja itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia tengah sibuk mengawasi dua orang yang berada dalam ruangan tersebut. Dia teringat dengan kejadian yang pernah menimpanya dulu.

Flash back

Dua orang namja dengan balutan jas lengkap keluar dari mobil Lexus hitam yang baru berhenti di depan Empire Night Club. Salah satu dari mereka membukakan pintu untuk sang majikan, sedang satunya lagi membopong seorang namja muda dengan wajah penuh luka. Tampaknya namja muda tersebut baru saja dipukuli.

Sang majikan berjalan mendahului mereka memasuki gedung tersebut. Mereka mengikuti kemanapun sang majikan melangkahkan kaki. Sang majikan memasuki salah satu kamar di gedung tersebut. Dia menyuruh mereka mendudukan namja muda tersebut di atas ranjang kamar itu. “Panggil Elena kemari”, kata sang majikan.

Ne”, kata salah satu dari mereka. Dia membungkukkan badannya sebelum meninggalkan kamar tersebut. Tak lama setelah itu, dia datang bersama seorang gadis dengan pakaian mini yang super ketat, hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

“Ada apa ahjussi?”, kata sang gadis.

Sang majikan berdiri dan berjalan mendekati sang gadis. “Obati lukanya”, kata sang majikan. “Anak buahku tak sengaja melukai perutnya”, bisik sang majikan pada gadis tersebut. Sang majikan segera meninggalkan kamar tersebut, yang diikuti kedua anak buahnya.

Sang gadis membuang nafas kesal. Dia mengambil kotak P3K di meja kamar itu, lalu mendekati namja tersebut. “Astaga, bagaimana mungkin dia memukuli anak orang seperti ini. Aku tahu dia kasar, dan aku baru tahu kalau ternyata dia juga kejam”, gadis itu duduk disebelah sang namja.

“Siapa namamu?”, tanya gadis itu pada sang namja.

“Oh Sehun”, jawab sang namja.

“Nama yang indah. Bagaimana bisa kau mendapat luka seperti ini”, kata gadis itu sambil membersihkan wajah namja itu.

Namja itu hanya diam. Dia belum mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih merasa asing dengan gadis itu. Dan yang dilakukannya hanyalah memandang gadis asing yang tengah mengobati luka di wajahnya.

Gadis itu sudah selesai mengobati luka di wajah namja tersebut. Kini dia akan mengobati luka di perut namja itu. “Buka kemejamu”, kata gadis itu setelah memasang plester di kening sang namja.

“Apa?”, tanya sang namja kaget.

“Buka kemejamu. Jangan malu, tidak ada siapapun disini, hanya aku dan kamu”, kata sang gadis.

Shireoyo. Apa kau gila?”.

Yak, apa maksudmu?”.

“Kenapa kau menyuruhku membuka kemeja, apa yang akan kau lakukan?”.

Aigoo, anak ini. Apa lagi, seharusnya kau tahu”.

“Tidak, tidak. Jangan paksa aku untuk melakukan itu”, namja itu bangkit dari duduknya.

“Melakukan apa maksudmu? Aku hanya mau mengobati lukamu. Ahjussi bilang dia melukai perutmu, bagaimana bisa aku mengobatimu jika kau tidak membuka kemejamu”.

Namja itu memegang perutnya. Dia nampak kesakitan kala tak sengaja memegang perutnya yag terluka. Dia kemudian membuka kemejanya seperti perintah sang gadis dan duduk kembali. Gadis itu segera memeriksa luka sang namja.

“Berbaringlah, akan sulit mengobatinya jika kau duduk”, kata sang gadis. Namja itupun berbaring di tempat tidur. Gadis itu membersihkan lukanya dengan alkohol. Sang namja tampak kesakitan, “Akh”.

“Sakit, ya. Mianhaeyo”. Gadis itu lalu mengobatinya dengan hati-hati. Setelah memberinya antiseptik, dia membalutnya dengan perban. “Nah, sudah selesai”, kata sang gadis.

Gomapseumnida, noona”, namja itu segera duduk dan memakai kemejanya kembali.

Emh. Darimana kau tahu jika aku lebih tua darimu? Bukankah aku tidak menyebutkan umurku tadi”, gadis itu sibuk memasukkan peralatannya dalam kotak P3K.

“Hanya menebak”, kata sanga namja.

“Berapa umurmu?”.

“21 tahun”.

“Wah tebakanmu benar, kau 6 tahun lebih muda dariku”.

“Siapa namamu noona?”, tanya namja tersebut.

“Han Saera. Tapi disini aku dipanggil Elena, waeyo?”.

Aniyo, hanya ingin tahu. Sudah berapa lama kau bekerja disini?”.

“Dua tahun”.

“Kenapa kau bekerja di tempat ini?”.

“Apa aku perlu menjawabnya?”.

“Jika kau memang tidak ingin menjawabnya, tidak masalah”.

Gadis itu sudah selesai membereskan peralatannya. Dia lalu memandang sang namja. “Aku akan menjawabnya setelah kau menceritakan kenapa bisa Kim ahjussi memukulimu”.

Appaku memiliki hutang pada Kim ahjussi untuk pengobatan ibuku. Hari ini dia menagih hutangnya pada appaku. Ayahku belum bisa membayarnya, dan dia meyuruh anak buahnya memukuli appaku. Aku tidak tega melihatnya, karena itu aku mencoba menghentikan mereka. Tapi kemudian, justru aku yang dipukuli. Mereka membawaku sebagai jaminan hutang appaku pada Kim ahjussi. Bagaimana denganmu noona?”.

“Kita bernasib hampir sama Oh Sehun-ssi. Appaku menjualku untuk melunasi hutangnya pada Kim ahjussi”.

“Jadi, kau terpaksa bekerja disini?”.

Gadis itu mengangguk. Pintu kamar tersebut terbuka. Mereka menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Kim Dongman memasuki kamar tersebut. Melihat hal itu, gadis tersebut berjalan mendekatinya.

“Bagaiman lukanya Elena?”, tanya Kim Dongman.

“Tidak terlalu parah. Setidaknya kau harus memberinya istirahat selama seminggu, agar luka diperutnya cepat sembuh”.

“Selama itu”.

Eoh. Waeyo, kau keberatan ahjussi?”.

“Tentu saja”.

Ahjussi. Dia juga manusia. Setidaknya beri dia waktu, untuk menerima keadaannya sekarang”.

“Ah, kau benar. Kau memang yang terbaik Elena”.

“Aku pergi dulu. Istirahatlah Sehun”, kata gadis itu. Dia segera meninggalkan kamar itu. Tanpa memperdulikan Sehun yang masih menatapnya dengan tatapan penuh arti.

Flash back end

Namja itu tersenyum mengingat kejadian tersebut. “Kau memang masih baik seperti dulu, noona”. Namja itu meninggalkan tempatnya dan bersiap untuk bekerja.

— TBC —

Terima kasih buat yang setia menunggu ff ini. Dan terima kasih juga buat yang sudah memberi komen maupun sarannya. Semoga tetap suka dan gak bosen dengan ff ini.  Jangan lupa Like dan Komen. Terima kasih……

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 5)

    • iya, gak nyangka juga….
      sehun suka sama elena? mungkin saja!
      ditunggu saja di chapter selanjutnya!
      terma kasih ya…. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s