[Vignette] Putri Musim Gugur

Putri Musim Gugur.jpg

-Putri Musim Gugur-

Reen | Minseok | Other

Vignette | AU | Hurt | Romance | Sad | Teen

.by l18hee

.

-anggap saja nasi kuah padang spesial buat tanggal 14 Desember-

.

(this is not comedy, suwer deh)

.

“Kukira kau tidak akan pernah datang.”

Entah kapan terakhir kali Reen mendengar suara itu. Degub kepalang kacaunya muncul, hingga ujung jarinya ingin terus bergetar. Ia menarik napas panjang dengan diam-diam, menyiapkan hati untuk segala visi yang akan menerpa irisnya. Dan saat ia membalikkan tubuh pelahan, gambaran nyata itu ada di sana.

Senyum Kim Minseok masih sialan manisya.

Lelaki itu mengambil beberapa langkah mendekat, sementara Reen diam di tempat. Alunan bariton kembali menguar, menghinggap indah di pendengaran sang gadis, “Kau terlihat baik-baik saja.” Mati-matian Reen menahan tangannya agar tidak gemetar lagi. Ia menatap lurus pada manik Minseok, lantas menyuguh senyum tipisnya, “Sama denganmu, Kim Minseok.”

Mendadak Minseok membuang senyum yang awalnya ia pasang. Betapa sebuah panggilan remeh bisa menendang kewarasannya untuk bersikap biasa sekarang. Hanya beberapa detik ia diam, selanjutnya lelaki ini kembali menggores lengkung kurva kebanggaannya.

“Suatu kehormatan wanita sepertimu mengunjungi galeri biasa seperti ini,” Minseok sedikit membungkuk, “Sebagai pemilik, saya akan menemani Anda berkeliling.”

Tidak peduli pada Minseok yang merubah bahasanya menjadi formal, Reen tetap mengangkat dagunya dalam diam. Ketika dibimbing Minseok menyusuri setiap gores lukisan atau karya tangan yang ada di sana, ia hanya melayang pandang.

“Lukisan atau karya tangan di sini akan diganti setiap dua minggu sekali. Untuk menarik pengunjung, tentu saja. Biasanya beberapa pengunjung yang tertarik dengan salah satu karya akan menghubungi pihak galeri untuk melakukan negosiasi.” Langkah Minseok berhenti di salah satu lukisan, membauat Reen mengikutinya, “Yang paling favorit minggu ini. Terlihat seperti perpaduan antara dua dan tiga dimensi, kan? Sebenarnya ini lukisan biasa, tidak timbul sama sekali.”

Dengan teliti Reen mengamati lukisan di depannya. Sebuah penggambaran dari gol dalam pertandingan sepak bola; satu penendang bola, kiper, bola yang masuk ke gawang, dan beberapa pemain lain yang berjaga. Hanya saja, ada gambaran yang seolah timbul di lukisan, yaitu pada bagian gawang dan bolanya. Intinya bola dan gawang yang menahannya layaknya menggunakan metode tiga dimensi, dan untuk sisanya terlihat seperti lukisan biasa. Oh, Reen bahkan ingin mengulurkan tangannya untuk memeriksa apakah itu benar-benar timbul atau tidak.

“Anda ingin memegangnya?” pertanyaan Minseok kali ini menarik Reen menyuguh lirikan kesal, “Berhenti menggunakan bahasa formal.” Kekeh Minseok menguar di uadara, hanya sebentar, “Oke, mari kita ulangi,”─dia berdeham─“Kau ingin memegangnya … Reen?”

Ada yang menggelitik dalam perut Reen ketika namanya meluncur dari bibir si lelaki. Dia memeluk lengannya sendiri dan kembali fokus pada lukisan, setengah mati menyembunyikan senyum. Namun sepersekian detik kemudian kembali melirik Minseok, “Apa boleh?” Ia tak perlu persetujuan lagi, sebenarnya. Tapi bukannya mengulurkan tangan untuk memastikan lukisan di depannya tersebut sepenuhnya adalah lukisan biasa, Reen malah berjalan menuju ke samping lukisan. Memicingkan mata seraya memastikan tak ada yang timbul di kanvas itu. “Serius, ini keren sekali.”

“Baru pertama kali melihatnya?” Ada senyum mengejek di sana. Lantas Reen berdecih sok sebal, “Mau mengejekku yang tidak pernah suka mengunjungi galeri?”

“Apa aku bisa?”

Reen memutar mata, sedang Minseok yang sudah selesai terkekeh kecil memutuskan melanjutkan langkahnya. “Sebenarnya, ada satu lukisan yang tidak pernah diganti di sini.”

“Kenapa?” Reen yang sudah mengimbangi langkah Minseok melontar tanya. Ujung gaunnya sedikit berkibar berkat pergerakan cepatnya barusan. Untuk sesaat keanggunannya sedikit menipis, berganti dengan sikap kekanakan. Bagian yang paling Minseok suka adalah ia melihat apa yang ada dalam diri sang gadis dulu, dua tahun lalu. Ah, tahu-tahu saja ia merasa rindunya makin menggebu.

“Kenapa?” Pengulangan tanya ini menarik Minseok sadar bahwa ada hal yang belum sempat ia jawab. Kedua tangannya disembunyikan di saku celana, “Itu lukisan terakhir yang dapat dibuat pelukisnya. Anggap saja sebagai kenangan yang coba dibekukan, agar sewaktu-waktu perasaan dalam lukisan itu dapat dirasakan kembali jika si pelukis merasa rindu.” Mereka terus menyusuri beberapa lukisan, baik dua atau tiga dimensi.

Setelah menyilakan anak rambut ke belakang telinga, Reen mengangguk pelan, “Sepertinya pelukis itu punya hubungan dekat denganmu.” Untuk jawaban pertama-tama Minseok mengedik bahu, “Ya, mungkin.” Lelaki ini menggores senyum setelah mengembus napas panjangnya, “Kau sungguhan baik-baik saja?”

Reen mengumpat dalam hati ketika sebuah ngilu mendorong dadanya. Ia berhasil tak mengubah ekspresinya semula, “Tentu saja. Um, bagaimana dengamu?”

“Tidak baik sama sekali,” senyum Minseok berubah miris, “Bahkan tidak bertemu denganmu bukan jalan yang bagus untuk penyembuhan hatiku. Sebaliknya, aku malah makin tersiksa.”

“Kau berlebihan.” Reen menyedekapkan tangannya lebih erat, seolah mencoba bersembunyi, “Buktinya, galeri ini makin terkenal.” Jika dilogika, apabila Minseok merasa dirinya tersiksa, mana bisa lelaki itu membangun galerinya dari nol sendirian? Reen super sangsi sekarang. “Niatku kemari hanya untuk berkunjung, bukan membahas hal tak penting.” Dia bohong, seratus persen. Nyatanya cengkraman rindunya akan sosok Minseok-lah yang mampu membuat dirinya berdiri di sini.

“Bisa kau belokkan niatmu sekarang?”

“Maksudmu?” Jujur memang, Reen sama sekali tak mengerti. Mereka masih melangkah alih-alih untuk berhenti dan menyelesaikan konversasi. Lihat saja bagaimana Minseok berucap dengan santainya, “Niatmu, bisa kau geser? Ubah menjadi untuk bertemu dengan orang yang masih mencintaimu, misalnya.” Kekehan yang ia suguh mau tak mau memancing kesal dalam diri Reen, “Jangan bercanda.”

Mendadak langkah Minseok berhenti, Reen melakukan hal yang sama. Gadis itu masih memandang Minseok sebagai aksi menyuarakan amarahnya. Tapi yang dipandangi hanya berlegak begitu santai, “Nah, ini lukisannya. Judulnya …”

“… Putri Musim Gugur.”

Dan saat manik Reen beralih untuk menatap karya yang dimaksud, seluruh atmosfer seakan berubah. Ada gores ngilu yang tak tertahan mendobrak hatinya. Jarinya bergetar lagi sementara tangannya berhenti disedekapkan. Rahang bawahnya seperti akan bergerak dan mengucapkan sesuatu, tapi tak sanggup.

Di sana, di depan matanya, sebuah lukisan besar terpampang. Ukurannya sekitar 2 x 1,5 meter. Lukisan dua dimensi yang menguarakan aura kelembutan, kasih sayang. Sebuah gambaran pepohonan, satu bangku yang terlihat reyot, dan jalanan penuh daun-daun coklat yang berguguran. Ah, satu lagi yang paling penting. Seorang gadis dengan gaun kuning selutut, pita di rambutnya menyuguh warna lain; putih. Terlihat merentangkan tangan dengan surai yang sedikit terbang. Oh, bahkan sepatu tanpa hak-nya dilukis dengan sempurna. Senyum lebarnya begitu hidup, asal kau tahu saja.

Reen tengah merasakan wajahnya memanas, beriring dengan genangan air di pelupuk matanya ketika Minseok angkat bicara, “Putri Musim Gugur ini bagaikan suguhan oksigen bagi si pelukis. Walau ini lukisan terakhir yang dapat ia buat, setidaknya curahan rasa sayangnya dapat terperangkap dan tetap ada.”

Satu bulir air mata sudah menggores pipi kanan Reen, genggamannya mengerat.

“Putri dalam lukisan itu, sekarang sudah tidak pernah tersenyum selebar dulu.” Minseok lagi-lagi menyuguh senyum miris, “Tapi dia tetap berbohong mengaku bahwa ia baik-baik saja, lucunya.”

Kali ini lebih banyak air mata yang tak dapat Reen tahan, namun ia masih menahan isaknya dengan tidak berbicara.

“Nama putri tercantik bagi sang pelukis itu … Do Kyung Rin.” Ada hela napas yang Minseok lepas, “Sekarang si pelukis yang tak bisa lagi melukis, hanya dapat menggumamkan nama putri hatinya itu dengan nama lain─” Ia menoleh untuk menatap gadis di sampingnya, “─Reen Do. Putri Musim Gugur. Si pelukis gila ini kepalang merindukanmu.”

Reen menundukkan kepala dan menggigit bibirnya. Rasanya benar-benar seperti dipeluk oleh sulur berduri dengan sangat erat. Sayat-sayat yang ada lantas di siram dengan garam begitu saja. “Kenapa…” ia menarik napas agar tak terisak keras, “Kenapa kau berhenti melukis?”

Sakit yang selama ini Minseok tahan membuat air matanya menggenang, namun ia tersenyum kala Reen mau menengadah untuk menatapnya. Dengan semua tulus yang ia punya, lantas Minseok mengeluarkan jawaban dari hatinya.

“Bagaimana bisa seorang pelukis melukis dengan baik jika imaji terindahnya menghilang?”

Kini Reen mengusap wajahnya. Masa bodoh dengan make-up, nanti dia bisa membubuhinya lagi di kamar kecil. Gadis ini menarik napas, “Lalu sekarang bagaimana?”

Tahu persis apa yang Reen maksud, Minseok malah ikut menyingkirkan air mata yang masih  mengalir di pipi sang gadis, “Ayo pergi ke Madrid. Aku punya satu rumah di pedesaan sana. Menghabiskan waktu dengan udara segar sampai tua, apa itu terlalu klasik?” Akhirnya Reen terkekeh, “Tipikal Kim Minseok sekali.” Minseok yang kepalang rindu melihat gores senyum tulus gadis itu juga melakukan kekeh yang sama.

“Besok pesawatnya berangkat pukul satu. Aku akan menunggu.” Perlahan Minseok menjauhkan tangannya setelah mengusap sayang pipi Reen. “Aku akan membawa lukisan ini, jadi berhentilah menangis.”

“Aku sudah berhenti dari tadi.” Reen mencibir terang-terangan. Kala ia akan melontar kata lagi, sebuah suara lain menginterupsi.

“Sayang, aku mencarimu.”

Oh, Suho Kim.

“Kau menangis?” Bergegas Suho melangkah mendekat. Dengan cepat Reen menyuguh senyumnya, “Aku terharu dengan cerita dari pelukis lukisan ini.” Tidak berbohong, tentu saja. Reen hanya berusaha tak mengatakan keseluruhan cerita pada lelaki yang sebentar lagi berniat menyematkan cincin pertunangan di jarinya.

“Ah, kukira apa.” Suho membuat matanya tinggal segaris dengan senyum yang ia lepas, “Apa harusnya kita berkeliling bersama saja?” Ah, mari lihat betapa ada sayang yang terpancar dari sana.

“Tidak. Aku sudah selesai, antar aku pulang saja,” suaranya begitu halus saat menolak, Reen lantas mengambil lengan Suho dan mulai melangkahkan kaki. Meninggalkan Minseok yang dengan santainya tersenyum lebar tanpa beban.

Reen tahu apa yang ia lakukan mungkin saja bagi beberapa orang tidak benar. Tapi, ayolah, siapa yang akan menyalahkan rasa sayang?

Besok, pukul satu siang, di Bandara Incheon semuanya akan berakhir. Mungkin akan terdengar sedikit jahat, tapi semua akan bahagia dengan caranya sendiri.

Reen dengan gaun kuningnya, bersenandung bahagia di dapur rumah sederhana di desa kawasan Madrid.

Minseok dengan kuas lukis, duduk di ruang tengah untuk mulai menata gores kebahagiaannya kembali.

Dan …

Mungkin giliran Suho untuk menemukan Putri Musim Gugur yang lain.

.

.

.

.end

Ini sebenernya udah lebih dulu di post di blog pribadi, tepat tanggal 14 Desember kemarin ❤ Cuap-cuapnya masih sama persis sama yang di blog wkwk


IZINKAN AKU TREAK SAMBIL MUTERIN ALUN ALUN SEKARANG! INI WAEYOH ALURNYA GINI WAEYOH?/tampar diri sendiri bolak-balik/

Padahal kado ulang tahun lho ya, kenapa malah sad-sad-an gini astaga :’) Tapi dengan segala kekuatan yang ada dalam diri terpendam spiderman/nid/ gak, maksudnya dengan segala kebahagiaan yang ingin aku salurin kemana-mana, aku mau bilang

SELAMAT ULANG TAHUN YANG LAGI GALAWS ANTARA UMIN DAN JUNMEN okepiks ini kentara banget dari fiksinya ya? Waks xD

HAPPY BIRTHDAY TO YOU KAKNEAN SAYANG YANG CANTIK JELITA TIADA TARA DAN UDAH TAKEN SAMA KAKEWING /lalu si nida kyaaa kyaaa sendiri/plak

Semoga tambah cantik, semoga disehatkan selalu, semoga diberi umur yang berkah, semoga panjang umur, semoga selalu bahagia, semoga lancar kerjaannya, SEMOGA AKU CEPET DAPET PONAKAN, dan semoga-semoga yang lain-lain yang baik pokoknya. Berjalan hampir dua tahun, makasih banyak udah jadi yang pertama (eyaaaaaaak uhuk uhuk) di dunia perwodpressan (iya ini pasti dibahas lagi dan lagi, but, emang kudu dibahas bikos inilah awal kita kak /tepuk pundak/ /dibanting/). Walau kakak jauh di sana dan aku jauh di sini semoga kita tetep bisa komunikasi yah :* Ayo semangat buat kolab kita! Lalu ciptakan kolab-kolab yang lain bhak xD

Oke, ini aku keknya bisa-bisa nulis kebanyakan :’v Pokoknya Selamat Ulang Tahun Kaknean CIYE YANG MAKIN TUA/digilas/ lafyu~ lafyu~ lafyu~ mumumu :* sarangek pokoknya, nomu nomu sarangek haha xD

p.s: kak, maafkan aku hadiah ulang tahun malah menggandeng hurt

p.s.s: kak, kayaknya habis ini suho langsung ngadain sesi curhat sama juhyuk deh /nid/

p.s.s.s: kak, keknya suho tetep gak bisa nemu gadis musim gugurnya yang lain deh/nid……

.salam sayang dari pacar utama Sehun; nida

Iklan

2 pemikiran pada “[Vignette] Putri Musim Gugur

  1. apa krn umin udah ditinggal nkh sm anne jd nuansa bday ff2ny pd mellow & sad? kshn umin.. tp apa anne mule tergoda sm suholang?! wah.. len ada rival nih. kunantikan kolab xan, author2 kesayangan.. I wonder nanti calon ponakan dr anne klo baby boy apa bkl di ksh nm/nickname minseok/xiumin, hehe.. *atau suho a.k.a junmen?! saya sih seneng2 aja junmen ditinggalin reen. bye suholang~ annyeong..!! pasti dy mewek dah di altar, wkkk~ 😀

    • iyanih mereka mentangmentang aku uda kawin dibikin ff kok pada umin gabisa bersatu sama reen semua, pada kezam wkwkwk..
      gak sih anne gak tergoda sama suholang, anne cuma sayang umin *idungnya tambah panjang
      buahahahahha.. nanti kalo babyboy dikasih nickname junmin (junmyeon xiumin) /plak /gakgitune
      ihik ihik, soalnya kalo reen itu emang harus sama umin yah gabisa sama yang lain, siph *lempar suho *pungut lagi
      ini betewe aku ngerusuh lapak orang mulu wkwkwkw..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s