The Falling Leaves (Chapter 3) – Shaekiran

The Falling Leaves Chapter.jpg

The Falling Leaves

A Fanfiction By Shaekiran

Main Cast

Chanyeol [EXO], Wendy [RV], [SNSD]

Other Cast

Baekhyun, Sehun, Kyungsoo [EXO], V [BTS]

Genres Romance, Drama, Hurt, Sad (?)

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer:

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | [NOW] Chapter  |

“Memangnya apa yang salah dengan aku mencintaimu?.”

-Chapter 3-

Lelaki itu menyukai daun jatuh. Baginya angin yang berhembus dan menerpa helai demi helai kecoklatan hingga menyatu dengan tanah itu menyenangkan, bahkan sangat. Dia menyukainya. Senantiasa ia selalu menunggu musim gugur menunjukkan eksistensinya dengan memenuhi kota dengan dedaunan tua. Namun sekarang ia benci itu. Tumpukan duan itu sudah menjadi saksi rapuhnya ia selama bertahun-tahun.

Demi segala Dewa-Dewi Yunani yang berparas rupawan nan gagah dan sakti. Kenapa sampai sekarang ia belum bisa beranjak dari kenangan menyedihkan itu? Sudah sekian tahun, namun si lelaki masih bisa mengingat tiap kata yang meluncur manis dari bibir gadisnya – ralat, bibir mantan gadisnya. Hatinya seakan terlalu nyaman di rasa sakit itu, enggan menepi ntahpun pergi dari sana.

Sebut saja ia bodoh, karena termakan hatinya sendiri. Harusnya ia membiarkan neuron otaknya yang bekerja, sehingga hidupnya sedikit memikirkan logika dan berjalan wajar semestinya. Bukannya membiarkan hati yang memerintah dengan semua kelemah-lembutan tak kasat mata yang justru semakin memperkeruh hidupnya.

“Chanyeol-ah?”, seorang gadis mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah seorang lelaki yang nampak melamun. Matanya memandang kosong, hingga membuat gadis bernama Im Yoona yang baru saja duduk di depan Chanyeol itu tak tahan dan mulai menegur Chanyeol.

“Ah, kau rupanya noona. Maaf aku melamun.”, jawab Chanyeol cepat setelah separuh nyawanya kembali ke bumi. Ditatapnya Yoona yang baru saja duduk berhadapan dengannya. Sedikit melirik, Chanyeol memperhatikan jam dinding beberapa meter di belakang Yoona. Rupanya sudah sejam lebih ia menunggu gadis itu.

“Ah, maaf Chanyeol-ah. Padahal aku yang memintamu menunggu sebentar, tapi kau malah harus menunggu selama ini. Kau tidak sibuk ‘kan?”, reaksi Yoona setelah mendapati Chanyeol melirik angka yang ada di jam. Chanyeol tersenyum kikuk. Memang, seharusnya sekarang dia sudah ada di rumah lamanya bersama sang ibu. Lalu kenapa dia malah mendekam berjam-jam di tempat yang penuh kilatan blitz kamera ini?

Gwenchana noona. Kau ‘kan sedang bekerja, jadi aku maklum saja kalau artis dan model sepertimu butuh waktu yang lama untuk ditunggu.”, Chanyeol tertawa sebentar, sebelum akhirnya tawanya berhenti karena salah seorang staff mengantarkan 2 buah cangkir kopi panas yang asapnya pun masih mengepul ke atas. Chanyeol ragu, namun akhirnya ia memperhatikan Yoona yang sedang tersenyum sambil mengucapkan terimakasih dengan nada hangat. “ Cantik.”, gumamnya tanpa sadar.

“Hei, apa kau baru saja memujiku Chanyeol?”, Chanyeol tak habis pikir. Kenapa mulutnya bisa mengguman sebegitu enaknya tanpa berpikir kalau Yoona mungkin saja bisa mendengar? Dengan malu-malu kucing dan pipi semerah kepiting rebus, lelaki Park itu tersenyum kikuk.

“Maaf, sepertinya mulutku masih saja suka bicara sendiri. Tapi harus kuakui, kau memang cantik noona.”, katam Chanyeol akhirnya membernanikan diri, tak pelak membuat Yoona kini mengulum senyum untuk kesekian kalinya sambil mengucapkan terimakasih. Dan efek senyum Yoona dari jarak sedekat ini terbukti berakibat fatal bagi Chanyeol, jantungnya mulai memacu tak karuan.

“Tunggu, kita berbincang seperti ini tanpa tentu arah. Bukankah lucu Chanyeol? Aku masih saja suka berbicara tanpa memberi salam terlebih dahulu.”, Yoona lagi-lagi mengulum senyum tanpa berpikir efek yang mungkin ditumbulkan bagi lelaki yang 2 tahun lebih muda darinya itu.

“Jadi, bagaimana kabarmu Yeol-ah? Apa kau baik-baik saja?”, tanya Yoona akhirnya. Chanyeol terdiam. Kabarnya? Dia baik-baik saja. karirnya berjalan cukup mulus. Sekarang ia berada di semester terakhir perkuliahannya dan jika semuanya lancar, tahun depan mungkin ia akan wisuda. Pacar? Ia tidak butuh itu. Keluarganya masih harmonis dan keuangan keluarga mereka pun masih di atas rata-rata. Lalu kabar apa yang kiranya ditanyakan si gadis sekarang? Kabar hatinya setelah ditinggal pergi ‘kah?

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”, jawab Park Chanyeol setelah beberapa detik terpaku dalam diam. Gadis di depannya tersenyum setuju.

“Yah, kau patut baik-baik saja kan? Aku bahkan mendengar karirmu yang semakin menanjak. Cita-citamu sebentar lagi akan tercapai. Sebagai seorang pembalap professional, kau benar-benar kelihatan hebat.” Chanyeol terkikik geli saat mendengar kalimat Yoona barusan, namun ia hanya tertawa kecil sembari melontarkan beberapa candaan lama yang mungkin hanya mereka berdua yang tau. Saling memuji dan tertawa setelah sekian lama tak bertatap muka. Bukankah itu wajar? Kepura-puraan Chanyeol benar-benar membuat Yoona percaya.

Andai saja Yoona tau kabar Chanyeol yang sebenarnya. Ia tidak sungguh benar-benar baik-baik saja. Setidaknya, hati lelaki Park itu tidak pernah baik-baik saja sejak daun pinus gugur di halaman sekolah mereka di Busan dulu. Sejak Yoona pamit pergi dari hatinya meski Chanyeol tak pernah setuju gadisnya itu pergi.

“Kenapa kau lama sekali, eoh? Eomma pikir kau akan datang secepat kau mengemudi di jalanan sehingga eomma sudah memanaskan makanan, tapi ternyata setelah sup itu dingin pun kau tidak kunjung datang. Apa terjadi sesuatu yang buruk?”

Chanyeol menatap layar handphone-nya masam. 12 panggilan tak terjawab dan sebuah pesan-semuanya dari sang ibu yang memang dijanjikan Chanyeol untuk segera ditemuinya. Ia menghela nafas, kemudian mulai mengetikkan beberapa patah kata.

“Maaf eomma, sepertinya aku datang sedikit terlambat. Tiba-tiba ada urusan penting. Eomma tidur saja duluan, aku akan memanaskan supnya sendiri nanti. Semuanya baik-baik saja.”

Chanyeol menghela nafas, kemudian mengantongi benda persegi pannjang itu kembali kedalam saku celana jeans-nya. Lelaki itu lantas menyentuh gagang cangkir kopi yang kini sudah dingin, efek ia yang tak pernah menyentuhnya sama sekali sejak tadi. Kopi itu masih penuh, sementara diliriknya milik Yoona sudah habis setengah. Dengan langkah cepat Chanyeol akhirnya menyesap kopinya sendiri.

“Pahit.”, komentarnya pertama kali sejak larutan hitam itu menyentuh lidahnya. Chanyeol terkekeh. Padahal dulunya ia sangat suka kopi hitam yang beraroma tajam dengan rasa pahit tanpa gula, namun kenapa sekarang ia sedikit membenci kopi di tangannya ini? Mungkinkah karena ia takut hidupnya semakin pahit karena menyukai secangkir kopi hitam?

“Kupikir kau masih suka kopi hitam, ternyata aku salah. Sepertinya kau sudah banyak berubah Chanyeol.”, perkataan Yoona yang baru saja duduk kembali setelah pamit pergi ke toilet itu lantas menyadarkan Chanyeol untuk segera meletakkan kembali kopinya, kemudian menatap paras Yoona tanpa cela milik gadis model papan atas Korea itu.

“Tidak ada yang tidak pernah berubah noona. Sama sepertiku, akupun pasti berubah juga.”, lantang Chanyeol akhirnya. Yoona tentu saja mengangguk setuju. Tak ada yang abadi di dunia ini, semuanya pasti akan berubah ‘kan?

“Nampaknya kau semakin pandai bersilat lidah Chanyeol. Apa guru Kim mengajarkan sastra dengan baik sehingga kau tidak membenci pelajaran bahasa lagi?”, kelakar Yoona akhirnya, sedikit menggoda Chanyeol yang dulu sering mengaku membenci sastra dan lebih memilih membolos atau tidur di kelas.

“Yah, bukan karena guru Kim. Aku masih sama malasnya saat guru satu itu masuk. Hanya saja aku bertambah dewasa mungkin?”, canda Chanyeol. Sedikit rasa gugupnya perlahan-lahan menghilang, digantikan perasaan nyaman yang dulu sering ia rasakan saat berbincang dengan Yoona.

“Dewasa? Kau kelihatan masih seperti anak-anak Yeol. Seperti donsaeng.”, jawab Yoona yang tanpa sadar membuat raut wajah ceria Chanyeol perlahan tergantikan raut wajah serius dengan mata sayu.

“Benarkah? Kupikir karena kita dulunya sedekat nadi makanya noona menganggapku seperti donsaeng.”, lanjut Chanyeol yang disambut anggukan cepat dari Yoona dan tawa kecil yang lolos dari bibir mungil gadis itu.

“Dulu kita sedekat nadi, tapi sekarang kita sejauh matahari. Seperti itukan noona?”, tawa Yoona terhenti, tergantikan dengan wajah kaget dan mata membelo. Ditatapnya Chanyeol yang kini tersenyum setipis benang.

“Selamat atas pertunanganmu noona. Aku turut senang meski aku tau kabarmu hanya dari acara entertainment di televisi. Aku harap kau bahagia dengan pilihanmu. Oh iya, bukankah di wawancara itu kalian juga mengatakan akan segera menikah? Kuharap itu cepat terjadi dan aku dengan senang hati pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Seperti bulan dan bintang yang tak pernah berpisah, aku hanya akan menatap kalian dari kejauhan, seperti manusia yang memandangi indahnya malam.”

Chanyeol mengakhiri kalimatnya dalam satu helaan nafas. Nampak raut wajah Yoona yang semakin kaget dan kebingungan sementara Chanyeol tetap setia dengan senyum manisnya. Chanyeol lantas berdiri, kemudian menyodorkan tangannya berpamitan pada Yoona.

“Maaf noona, sepertinya aku harus pulang sekarang. Senang mengenang masa lalu lagi denganmu.”, pamit Chanyeol yang hanya bisa dibalas satu anggukan penuh ragu dari Yoona. Tak ambil pusing, Chanyeol lantas merajut langkahnya keluar dari toko bunga itu. Dengan cepat ia pergi dari hadapan Yoona, mengeluarkan semua emosi yang dia tahan sedari tadi.

“Kau kelihatan begitu bahagia, sementara aku disini sama sengsaranya seperti punguk merindukan bulan. Kau sudah terlalu jauh, namun taukah kau kalau hanya ragaku yang bersikap sok tegar melepas sementara hatiku masih enggan untuk berpindah?”

Derap langkah Chanyeol di tengah sepinya malam menemani lelaki itu. Bintang nampak bersinar cerah, bertolak belakang dengan Chanyeol yang masih sama suramnya.

Yoona memandangi kepergian Chanyeol dalam diam. Dibalik bahu lebar itu ia yakin masih ada kesedihan mendalam yang terpendam. Yoona sangat yakin itu. Ia bukanlah gadis bodoh yang bisa tertipu begitu saja dengan ucapan Chanyeol, lagipula kalimat lelaki itu barusan cukup membuatnya sadar kalau Chanyeol belum berpindah hati. Bukannya ia terlalu percaya diri, namun memang hatinya berkata kalau Chanyeol masih menaruh rasa yang sama seperti sekian tahun lalu hingga sekarang.

“Yoona-ya, siapa lelaki muda tadi?”, manager Yoona, seorang gadis berusia pertengahan 30 tahunan dengan perawakan cukup gempal kini bertanya. Yoona sedikit menggeleng, kemudian menatap managernya selama 2 tahun belakangan itu.

“Hanya seorang donsaeng eonni. Dia adik kelasku saat aku duduk di bangku SMA.”, jawab Yoona sekenanya sambil memasang senyum.

“Benarkah? Tapi sepertinya kau tidak perlu sering-sering bertemu dengannya Yoona-ya. Aku tidak mau kau terlibat skandal saat hari pernikahanmu semakin dekat. Itu akan menurunkan pamormu du dunia hiburan.”, lanjut managernya lagi. Yoona hanya tersenyum tipis.

“Tidak akan eonnie. Kami hanya kebetulan bertemu tadi. Lagipula, hubungan kami hanya sekedar donsaeng dan noona.”, jawabnya mantap tanpa sedikitpun keraguan, Yoona lantas berdiri, kemudian mulai menuju tempat pemotretan selanjutnya. Dia harus bekerja sekarang, bukannya tenggelam dalam masa lalu.

 

 

Ntah apa yang sudah dilakukan Yoona padanya, namun Chanyeol selalu kesulitan saat ia bertekad melupakan gadis yang akan segera menikah itu. Rasanya terlalu sakit saat ia ditinggal pergi, namun Chanyeol seakan keras hati dan terus berpihak pada Yoona. Jadi, setelah mendengar berita bahwa gadis itu akan melakukan pemotretan hingga besok harinya, maka Chanyeol pun kembali datang berkunjung. Sekedar bertukar salam sekalian membeli sebuket bunga tulip untuk ibunya.

“Kulihat kau sering kesini. Apa kau tinggal di Busan lagi?”, pertanyaan basa-basi Yoona di sela-sela waktu istirahatnya saat menemukan Chanyeol tengah memilih bunga tulip beraneka-ragam warna. Lelaki itu berusaha sekalem mungkin, usaha agar ia tidak terlihat terlalu antusias saat Yoona berbicara padanya.

“Aku sedang liburan noona.”, jawab Chanyeol singkat tanpa berniat melepas matanya pada kumpulan tulip yang berjejer di depan toko, hingga membuat Yoona merasa pamornya kini kalah oleh setangkai tulip kuning yang tengah dipegang Chanyeol.

“Sepertinya yang ini lebih bagus. Warnanya cocok dengan paras lembut Nyonya Park.”, ucap Yoona sambil menyodorkan setangkai tulip putih yang paling dekat dengannya pada Chanyeol. Lelaki bermarga Park itu nampak mendongakkan kepalanya, melirik tulip yang kini disodorkan Yoona sebelum akhirnya ia tersenyum tipis.

“Selera noona selalu bagus. Aku rasa eomma pasti senang.”, balas Chanyeol berterimakasih, kemudian mengambil bunga yang disodorkan gadis yang lebih tua darinya itu.

“Blitzz!”

Kilat kamera menyadarkan keduanya seketika. Dengan langkah cepat nan serentak, mereka berdua lantas menoleh ke kanan. Nampaklah disana fotografer Park tersenyum penuh arti.

“Fotonya sangat bagus Yoona-ya, kelihatan sempurna untuk image sampul majalah bulan depan.”, kata fotografer professional itu sambil mengangkat tinggi-tinggi kamaera DSLR nya. Chanyeol bernafas tertahan. Jadi fotografer itu mengambil fotonya dan Yoona?.

“Hei nak, apa kau mau jadi model kami?”, fotografer itu lantas mendekati Chanyeol yang nampak terkejut bukan main. Matanya sedikit membulat, menunjukkan ekspresi aneh yang memorable.

“Ah professor Park, jangan begitu. Ia sedang liburan dan tentunya sedang sibuk sekarang.”, sela Yoona halus. Sungguh, bukan ini yang ia mau. Ia tidak ingin menyakiti Chanyeol lebih dan lebih lagi.

“Tapi Yoona, model Nam Joo Hyuk mengeluh sakit perut pagi ini dan tidak bisa datang ke Busan. Foto ini harus segera dikirim ke redaksi nanti malam, memangnya siapa lagi yang lebih sempurna menggantikannya selain-“, fotografer itu memotong kalimatnya, ia tidak tau nama lelaki yang kini ingin digaetnya menjadi model pengganti itu.

“Park Chanyeol. Namaku Chanyeol.”, jelas Chanyeol akhirnya. Beberapa detik kemudian fotografer itu tertawa bahagia.

“Park Chanyeol si pembalap itu maksudmu? Yang memang F3?”, ia nampak bertanya pada Chanyeol yang kini mengantongi kedua tangannya setelah meletakkan tulip pilihannya ke dalam vas.

“Ya, Park Chanyeol yang itu.”, terang Chanyeol dengan bibir menukik naik, sedikit tersenyum karena kini namanya cukup dikenal.

“Itu lebih bagus lagi. Aku tidak tau kalau aslinya kau setampan ini. Kalau aku tau, aku sudah mengirim permintaan model padamu sejak dulu Chanyeol-ssi.”, puji fotografer Park. Chanyeol nampak terkekeh, sedikit tersanjung.

“Jadi, apa kau setuju?”, pertanyaan itu membuat Chanyeol lantas melirik reaksi Yoona. Wajar gadis itu sungguh datar tanpa ekspresi. Oh ayolah, Yoona benar-benar sulit ditebak dengan wajah datar seperti itu.

“Baiklah. Aku tidak usah jadi model, tapi jadi sukarelawan foto saja. Hitung-hitung membantu sunbae-ku saat SMA. Iya kan noona?”, dan Yoona hanya berakhir tertawa ringan sambil mengangguk kecil. Demi Tuhan, apa Chanyeol tidak bermimpi sekarang? Ia akan ada dalam satu frame dengan Yoona?

Malam menyambut kalbu . Chanyeol kini tengah menyeruput latte buatan ibunya sembari meringkuk di depan tv ruang tamu keluarganya. Netrnya berpusat ke depan benda elektronik itu meski nyatanya yang ada dalam pikiran Chanyeol bukanlah acara yang silih berganti sedari tadi, tapi Yoona dengan segala pose memikat dan jarak setipis benang yang ia miliki dengan Yoona beberapa jam yang lalu.

“Astaga! Kau tidak boleh seperti ini Park Chanyeol!”, batin Chanyeol pada dirinya sendiri. Namun bayangan saat ia merengkuh pinggang Yoona dan mendekatkan wajahnya ke pundak gadis itu sungguh membuatnya gila. Ia tidak bisa menghapus Yoona dari bayangannya. Pujian fotografer tentang ekspresi dan pose Chanyeol yang bagus kiranya karena Chanyeol terlalu menikmati peran sebagai sepasang kekasih dengan Yoona meski hanya dalam satu frame pemotretan.

“Jangan lupa matikan TV-nya sebelum kau tidur Yeol. Eomma akan tidur duluan.”, pamit ibu Chanyeol yang sedari tadi memang duduk di sebelah putranya. Sungguh, setelah merasa ibunya cukup jauh, Chanyeol langsung memekik tertahan. Demi Tuhan, ia menahan berteriak saat ia membayangkan dirinya dan Yoona sejak 2 jam lalu karena ibunya –nyonya Park- setia duduk disebelahnya dan meminta Chanyeol bercerita tentang lomba balap Chanyeol selama beberapa bulan belakangan. Untung saja jam sudah menunjukkan dini hari dan ibunya sudah tidur, kalau tidak Chanyeol pasti sudah dikatai sinting karena berteriak memecah malam.

Im Yoona, sebuah nama yang ingin ia kubur dalam-dalam, namun selalu terpatri dalam sanubari. Dan kini? Nampaknya ia mekar lagi hanya dalam sehari.

Siang esoknya, Chanyeol menahan diri untuk tidak kembali mengunjungi Yoona di toko bunga. Malahan siang itu ia sudah mandi dan berpakaian rapi serta menata rambutnya. Tidak lupa ia menggunakan baju dengan model terbaru dan bergaya sekeren mungkin. Hanya untuk kali ini Chanyeol berdandan selama 3 jam dan memakai parfum sebanyak mungkin hingga wanginya akan bertahan sampai minggu depan karena lelaki itu menumpahkan satu botol penuh ke badannya.

“Park Chanyeol, kau pasti bisa!”, ucapnya menyemangati diri sendiri di cermin, kemudian pamit pergi pada sang ibu. Tak menunggu lama, kini Chanyeol dan mobil sport merahnya sudah berpacu di jalan raya, membelah Busan di sore hari dengan langit yang mulai memerah.

Akhirnya lelaki bermarga Park itu sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah café minimalis di dekat arena SMA-nya dulu, tempat ia dan Yoona biasanya menghabiskan waktu bersama-sama. Ia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan Chanyeol sudah menyiapkan setangkai bunga mawar dibalik jaket branded yang tengah ia pakai.

Pukul 4 sore lebih 2 menit, Chanyeol sudah duduk di meja dekat jendela café, siap menunggu kedatangan Yoona sesuai janji mereka kemarin setelah pemotretan.

Waktu terus bergulir dengan cepat. Chanyeol masih melirik jamnya dengan setia. Sudah sejam, dan belum ada tanda-tanda kedatangan gadisnya. Merasa sedikit bosan, akhirnya ia memesan segelas latte panas. Tak lupa ia berlari keluar café dan menyebrang jalan menuju sebuah toko buku yang juga sering menjadi tempat persinggahannya dulu semasa SMA. Tentu saja, bersama seorang Im Yoona yang adalah penggemar sastra.

Anyeonghaseyo…”, penjaga toko nampak menggantung kalimatnya saat sadar siapa yang kini berkunjung ke tokonya. Kyungsoo nampak tersenyum manis.

“Kapan kau pulang kemari?”, tanya Kyungsoo to the point. Lelaki bertubuh semampai dengan bibir tebal itu nampak bertanya penasaran, sementara Chanyeol kini hanya tertawa ringan.

“2 atau 3 hari yang lalu. Aku tidak pulang Kyung, hanya liburan setelah satu semester panjang bergelut dengan professor botak.”, kelakar Chanyeol yang menimbulkan tawa Kyungsoo. Untung saja toko sedang sepi, sehingga Chanyeol dan Kyungsoo bisa berbincang dengan bebas.

“Jadi kau kemari ingin mencari apa? Buku sastra untuk pacarmu, eoh?”, selidik Kyungsoo penasaran. Memang, semua orang tau Chanyeol punya seorang pacar, namun tidak ada seorang pun yang tau bahwa seorang murid kelas 1 SMA menjalin kasih dengan seniornya sendiri yang ada 2 tingkat diatasnya, Im Yoona. Belum lagi gadis itu adalah sosok miss most wanted di SMA mereka dulu.

“Ah itu. Kami sudah putus sejak lama. Sekarang aku sendiri Kyungsoo-ya, jangan meledekku.”, ancam Chanyeol di ujung kalimatnya. Sungguh , ia sangat takut saat Kyungsoo memilih balas dendam dan meledeknya jomblo ngenes seperti yang Chanyeol lakukan pada lelaki bermarga Do itu dulu.

“Ah, aku turut berduka.”, cicit Kyungsoo setengah meledek. Namun Chanyeol tidak ambil pusing, malahan kini ia menyebutkan sebuah judul buku lama yang tengah ia cari.

“Apa novel ‘Daun Berguguran’ masih ada? Seingatku itu sempat tenar saat kita SMA dulu.”, tanya Chanyeol penuh harap. Omong-omong, Kyungsoo adalah bekas teman sebangku Chanyeol di masa sekolah dulu.

“Kau beruntung. Kami selalu punya stok buku lama.”, ucap Kyungsoo sebelum akhirnya ia berlalu dan mengelilingi toko buku kepunyaan ayahnya itu. Tak sampai 5 menit, kini Kyungsoo sudah kembali sambil membawa sebuah buku cukup tebal bersampul abu-abu dengan daun hitam putih sebagai cover.

“Terimakasih Kyung, kau selalu bisa diandalkan.”, pamit Chanyeol setelah membayar novel lama itu dan berlalu dari hadapan Kyungsoo karena kini beberapa murid sekolahan mulai berdatangan memenuhi toko.

“Apa tidak ada yang datang selagi aku pergi?”, tanya Chanyeol penasaran sesampainya ia kembali di café. Pelayan itu nampak menggeleng lemah.

“Tidak banyak pelanggan yang datang hari ini karena cuaca yang agaknya berembun kelabu Tuan. Tidak ada yang datang setelah kau pergi menyebrang keluar sana.”, jawabnya yakin dan Chanyeol percaya itu. Meski dia ada di toko buku Kyungsoo, toh sedari tadi ekor matanya tidak berhenti melirik ke dalam café di seberang jalan ini.

Pelayan tadi kemudian berlalu dengan membawa nampan cokelatnya dalam dekapan. Sesuai ucapannya, tidak banyak pelanggan yang datang sore itu. Chanyeol memilih masa bodoh, lantas ia membuka buku novel yang tadi dibelinya dan mulai membaca lembar pertama.

Tik…Tik…

Baru lembar pertama, namun secara perlahan hujan mulai turun rintik-rintik. Beberapa detik kemudian hujan turun semakin deras, hingga Chanyeol harus merapatkan jaketnya memanaskan diri dan menyesap Latte di atas meja sebelum asap mengepulnya digantikan rasa dingin.

Kenapa kebetulan sekali?”, pikir Chanyeol dalam hati saat beralih kembali ke novelnya. Di lembar pertama tertulis sebuah kata bercetak tebal. BAB I. HUJAN. Penasaran, Chanyeol akhirnya memilih tenggelam dalam buku sembari menunggu kedatangan Yoona.

Aish! Kenapa dia bodoh sekali? Seharusnya dia tetap menunggu.”, gumam Chanyeol sambil membaca kata demi kata yang tercetak di dalam buku yang ntah sejak kapan menjadi candu baginya itu, sedikit menyayangkan sikap tokoh utama pria bernama Zen yang tidak sabar menunggu kekasihnya datang.

“Maaf tuan, sebenarnya sebentar lagi kami akan segera tutup.”, sela pelayan wanita yang sudah kali ke-5 mengantarkan Latte ke meja Chanyeol itu takut-takut. Mendengarnya Chanyeol mengerjap pelan, kemudian membiarkan matanya lepas dari buku dan serta merta memandang keluar jendela kaca. Hei, bagaimana bisa Chanyeol tidak sadar kalau sore sudah berganti malam? Parahnya sekarang sudah hampir pukul sembilan.

Yoona tidak datang.

Chanyeol harus menelan kenyataan pahit itu untuk kesekiankalinya. Padahal kemarin gadis itu mengangguk dan mengatakan setuju untuk bertemu, namun sekarang ia malah ingkar janji dan membiarkan seorang Chanyeol sendirian menunggu selama berjam-jam.

Lelaki Park itu lantas masuk ke dalam mobilnya setelah membayar tagihan Latte serta menyesap tetes terakhir kopi favoritnya itu. Ingin ia melenggang pergi saja dengan mobilnya, namun ia mengingat karakter Zen yang dengan bodohnya pergi padahal beberapa menit kemudian gadisnya datang dengan nafas tersenggal-senggal karena berlari menuju café. Ntah termakan alur cerita atau memang sudah hilang arah, Chanyeol akhirnya memutuskan menunggu Yoona sebentar lagi dari dalam mobil sport-nya.

Sejam menunggu dalam diam, Chanyeol menyerah. Lelaki itu lantas menghidupkan mesin mobilnya. Dan baru beberapa detik, kuda-nya sudah berlari di jalanan malam Busan.

Chanyeol memarkirkan mobilnya di tepi toko bunga Yeoppo. Lantas ia keluar dan menentang angin malam, bersender ke badan mobilnya sendiri. Ayolah Yeol, kau pikir Yoona akan benar-benar datang?

Krieettt…

Chanyeol yang sudah setengah jam dalam posisi menyender ke badan mobil dan tubuh hampir membeku kedinginan lantas menyerngit saat pintu toko itu terbuka. Hatinya mengatakan bahwa itu Yoona, jadi ia segera melangkah cepat menuju pintu masuk toko.

Noona, aku sudah me-“

“Maaf Tuan, tapi toko kami sudah tutup sejak sejam yang lalu.” , ucap gadis yang kini jalannya terhalang oleh badan besar Chanyeol. Sadar kalau gadis yang keluar dari dalam toko bukan Yoona, Chanyeol hanya bisa menghela nafas. Lantas ia meminta maaf kemudian berjalan beberapa langkah ke samping agar si gadis dapat dengan mudah keluar.

Gadis itu, Seungwan , lantas tersenyum pada lelaki berparas rupawan yang tadi menutup jalannya. Kini ia bisa berlalu dengan cepat dan kembali ke-

Tunggu, sepertinya ia mengenal laki-laki tadi.

Dengan ingatan demikian, Seungwan mundur beberapa langkah, kemudian menatap Chanyeol lekat-lekat.

Aggashi, apa yang kau-“

“Ah, aku ingat. Kau yang bersama Baekhyun waktu itu kan? Iyakan? Sudah kuduga, aku pasti tidak salah ingat!”, pekik Seungwan bersemangat hingga heboh sendiri, membuat Chanyeol lantas menatap gadis itu dengan pandangan bingung.

“Siapa kau?”, balas Chanyeol dengan nada bingung yang kentara. Seungwan lantas tersenyum semanis saat ia menyapa pelanggan di pom bensin.

“Seungwan. Namaku Son Seungwan. Salam kenal.”

 

[To Be Continued]

 

 

Curcol gaje -____-

Ini melankolis bagi eki, huhu…XD

Ada yang nunggu chapter 3 inikah?

 

 

32 tanggapan untuk “The Falling Leaves (Chapter 3) – Shaekiran”

    1. Akhirnya..😆😆
      Nyesek jadi cunyul, hikzz, jangan chingu, eki yg ngetik aja baperan/plakk/😂
      Thanks for reading chingu ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh.😍

  1. Cie Seungwan masih inget sama Chanyeol :v Cie Chanyeol kenalan sama Seungwan…
    Btw kok Dia ada disitu juga.. jodoh ni orang ketemu lg
    Cie foto bareng mantan ea, iyalah ekspresinya bagus, soalnya dia blm move on dari mantannya :v miris amat hidupnya dianya blm bisa move on eh mau ditinggal nikah sama mantan 😂😂
    Si Chanyeol korban novel ya ampe Nungguin di mobil gitu
    Ku terngakak di bagian “Kyungsoo adalah bekas teman sebangku Chanyeol di masa sekolah dulu.” Dikira Kyungsoo barang bisa jadi bekas gitu 😅

    Ku menunggu kok, hehe.
    Chap 4nya ditunggu ya.. luv Eki 😘

    1. Iya, disini ingatan seungwan topcer, inget ceye meski ketemu cuma bentar, nah coba di epep eki yg sebelah, cunyulnya ingat wendy nya nggak/plakk/ ini ngawur udah/😂
      Aciee yg kenalan, cuitt..cuityt/digampar..😂
      Hayoo kenapa dia disitu? Apa karena jodoh? Eh, jodoh cunyul kan eki/PLAKK/open your eyes eki!!😂
      Pantes Bagus yekan,.orang penghayatannya dari hati yg terdalem😂
      Sakit banget euii ditinggal mantan yg kawin sementara dia sendiri blm bisa mup on,.ku syedihh/plakk/😂😂
      Dia suka novel, baperan ama novel :3
      Bisa dunkzz, kan kyungsoo bekas/digorok kyuntong sebagai bini yg baik karena eki menistakan lakinya/plakk/😂
      Ditunggu yaw next chapnya,thanks for reading. Lupp yuu tooo kyuntongkuuhh..😍😍😘❤

    1. Hhh baru nyadar ternyata aku salah ketik kata “move on”. Huh efek terlalu rindu sma ff Eky nih./ciee mala rindu 😁/. Haduh gak sabar pngen tau gimana reaksinya bang chan.

      Aku akan tetap menunggu kok.

  2. ceye move on dong move on,hah kasinan si ceye udah sama Author eki aja deh 😉 😉 😉 ,hah trus tuh si yoona ga ngerasain ap y ky ceyw rasain juga ga ya….Kasian deh si ceyw

    wah ff ini come back lg,cuma souroundednya belum come back Author Eki

    ga pp aku tetep seneng kok asal Author eki meneruskan ffx kembali

    1. Ceye gagal mup on/plakk/😂
      Iya, sini sama eki aja deh ceye/plak/open your eyes eki!😂
      Yoona-ya, ati” ntar ente yg gagal mup on.😂
      Duduh, surroundednya masih otewe yak, kombeknya ntaran lagi.maapkeun diri ini nista dan lama update, huhu…😁
      Tetep diterusin kok, wkwk😳
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next chap dan epep eki lainnya.😉
      Cintakuh padamuh.❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s