Xing Boarden [Chapter 8] – morschek96

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-17

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [prolog][1][2][3][4][5][6][7][password]

Credit BabyChanie @ArtZone 

“I want to hide you inside my embrace“

***

Hari minggu biasanya keadaan sekolah sepi dan tenang, namun tidak untuk kali ini. Separuh dari siswa mengeluhkan rasa takut yang mereka rasakan, dan pihak sekolah sangat panik serta meminta mereka untuk berkumpul di aula.

Ceramah Kepsek Son Kwanghee sangat tidak membantu, namun Bapa Chen berhasil membuat kegiatan misa doa bersama menjadi sedikit lebih menarik dan menenangkan para siswa, membuat pagi hari ini lebih bersemangat.

Sekarang di cafetaria, ruang makan besar seperti yang ada di Hogwards dalam serial film Harry Potter, Minji duduk bersama kedua temannya yakni Sora dan Adachi Mei. Mereka berdua bukan seorang teman yang diharapkan Minji –seperti teman temannya dulu-, tapi kedua gadis itu bersikap baik padanya, jadi mengapa tidak.

Junghwa terlihat sedang duduk di deretan meja depan untuk staff. Kira-kira berjarak 6 meter dari tempat Minji. Junghwa duduk diapit Luhan dan guru Matematika Suho saem. Kim Suho sedikit lebih menarik dimata Minji. Pria itu hangat dan ramah, mempunyai sifat yang mirip dengan Wang Jackson, sang kekasih.

Lelaki pertama yang menjadi pacarnya. Dan sialnya pacarnya itu tak bisa melakukan apa-apa ketika Minji dikirim kesini. Tak seperti saat ia di tempat rehabilitasi Seoul, Jackson selalu dapat mengeluarkannya dari sana. Entah mendapat bantuan dari mana, tapi Jackson lelaki yang cerdik.

Minji tersenyum saat Sora memberikannya kue lebih. Dan tak sengaja tatapannya bertemu dengan si lelaki pendiam nan misterius, Oh Sehun. Lelaki itu duduk seorang diri dengan jarak yang cukup jauh dari anak laki-laki lainnya. Sempat Minji berpikir apakah Sehun anak yang anti-sosial.

Dasar anak aneh.

Minji meminum air putih dari gelasnya saat ia melihat sang kakak keluar dari cafetaria menuju toilet. Lalu dengan sengaja Minji menumpahkan sup ayam miliknya ke pakaiannya sendiri.

“Akhh!” Mungkin acting ini berlebihan, tapi Minji perlu untuk menyusul kakaknya ke toilet.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Mei pelan.

“Aku tak apa, aku akan ke toilet sebentar.” Ucap Minji lalu beranjak pergi.

Koridor menuju toilet terlihat sepi, dan Minji mempercepat langkahnya. Pintu-pintu bilik kamar mandi tertutup dan Minji tidak tahu dimana kakaknya berada, untuk itu Minji membersihkan kemeja dan menyalakan keran air. Menggosok-gosok noda kaldu ayam itu dari kemejanya.

Dalam beberapa detik, pintu bilik kedua terbuka dan Junghwa keluar. Pandangan mereka bertemu di cermin.

“Aku melihat eonni masuk kesini.” Ucap Minji bahkan sebelum Junghwa bertanya. “Apa eonni sudah beritahu eomma untuk mengeluarkanku setelah adanya kejadian kemarin?”

“Belum.”

“Astaga Junghwa!” amarah Minji meledak, ia mengumpat sembari menggosok-gosok noda yang mulai memudar.

“Tenanglah.” Junghwa menyalakan keran air hingga menyebabkan bunyi yang lebih berisik dari sebelumnya, menghindari kemungkinan jika ada yang menguntit mereka. “Tidak ada yang diizinkan keluar-masuk saat ini. Keadaan sangat tidak mendukung Minji-ya.”

Minji membuang napas kasar. Ia tak tahu berapa lama lagi ia bisa tinggal disini tanpa menjadi gila, “Pasti ada jalan keluar.”

“Aku sedang mengusahakannya.”

“Well, berusahalah lebih cepat.” Mengambil tissue, Minji mulai mengeringkan kemejanya. “Kami hanya diberikan kesempatan menelpon orang tua untuk memberi tahu bahwa kami “baik-baik saja“.” Minji memberi tanda kutip pada kata baik-baik saja. “Sekolah ini bertindak egois, seolah benar-benar tak menginginkan kami keluar.”

“Jadi kau menelpon eomma?”

“Tentu saja tidak, eonni. Percuma saja, eomma tidak akan mengeluarkanku dari sini. Saat aku menolak untuk menelpon orang tua, Dr. Song kembali menceramahiku. Dia juga mengatakan bahwa aku punya sifat cepat marah dan aku telah terlibat perkelahian.”

“Kau memang terlibat.” Junghwa berbicara pelan namun menusuk, ia juga tak percaya jika adiknya lah yang telah berbuat perkelahian kemarin.

“Itu bukan salahku! Astaga eonni, si brengsek Lay itu yang memulai. Dan sekarang aku terjebak dalam tugas membersihkan kandang kuda dan menyekop salju di akhir pekan.”

“Jadi belajarlah dari pengalaman, jangan buat masalah lagi. Bersikaplah cerdas Minji, buktikan kalau IQ tinggimu itu berguna. Dan jangan tinggalkan pesan ceroboh untukku lagi. Jika kau tertangkap, kita berdua akan ketahuan.”

“Apa yang eonni bicarakan?”

“Pesan di bawah pintu tadi malam.”

“Persetan, apa kau gila!?” tanya Minji. “Pesan apa?”

“Kukira itu kau… seseorang… meninggalkan pesan untukku.” Ucap Junghwa kesal.

“Siapa?”

“Apa aku akan tanya jika aku tahu?”

Minji mulai menautkan tangannya takut, ia tidak suka bercanda disaat menegangkan seperti ini. “Apa isi pesan itu?”

“Tolong aku.” Ucap Junghwa menatap cermin, memperhatikan bayangan mereka berdua.

“Hanya itu?”

“Ya.”

.

.

***

Junghwa mengakhiri kelasnya dan murid-murid keluar dari ruang kelas. Entah mengapa Junghwa mulai menyayangi murid-muridnya. Ia bahkan tidak percaya bagaimana remaja-remaja polos itu melakukan kejahatan sehingga dimasukkan ke sekolah ini.

Mereka anak-anak baik jika di didik dengan benar. Saat memasukkan buku-buku dan penanya ke dalam tas, seseorang berjalan mendekat. Seorang TA bername tag Kang Jira berdiri di sebelah Junghwa.

“Aku ditugaskan untuk menjadi asisten Lee saem mulai saat ini.” Ucapnya.

Junghwa menoleh, “Benarkah? Pihak tata usaha belum memberitahuku.”

“Go Minyoung saem akan memberitahu nanti, aku disuruh untuk menemui Lee Junghwa saem langsung hari ini. Jadi— apa yang bisa kubantu untuk pelajaran di kelasmu besok?”

“Entahlah, aku belum memikirkannya. Mengajar bersama seorang assistant.” Junghwa terkekeh disusul Kang Jira, “Tapi, anak-anak nampaknya tak terlalu bersemangat saat pelajaran mengingat kejadian-kejadian tak menyenangkan baru-baru ini.”

“Mungkin kita bisa menerapkan system pelajaran yang berbeda.”

Junghwa mengangguk setuju, “Aku juga berpikir seperti itu. Bagaimana kalau menonton film Bahasa Inggris dan meminta pendapat mereka setelah menonton film tersebut, dan pendapatnya harus ditulis menggunakan Bahasa Inggris.”

“Cukup inovatif. “ Jira tersenyum.

“Dan— apa film yang sedang digemari sekarang?”

“Entahlah, tapi coba cari saja di internet.”

“Tunggu— kau bisa mengakses internet?” tanya Junghwa kaget.

“Tentu. Aku seorang TA.” Ujar Jira enteng. “Kami bisa menggunakan internet kapan saja kalau kami membutuhkan.”

“Benarkah?”

“Ya, di lab computer. Kuharap kami juga dapat menggunakan ponsel ataupun laptop, tapi hal itu sangatlah tidak mungkin.”

“Bahkan untuk TA?”

“Ya, anda tahu itu dilarang, Lee Junghwa saem.”

Junghwa mencoba untuk mendesak Jira, “Kupikir ada cara lain untuk menggunakan internet selain di lab.”

“Bagaimana?” Tanya Jira, tatapannya mengatakan kalau ia sedang menilai Junghwa.

“Oh ayolah, aku juga pernah seusiamu. Pasti ada cara lain dan kesempatan untuk menyelundupkan USB, alat modem yang dipasang di laptop, bahkan ponsel.” Junghwa mencoba bertanya lagi saat Jira hanya terdiam tak menanggapi kalimatnya. “Pasti ada pasar gelap untuk barang semacam itu.” Ia mengingat perkataan Minji beberapa waktu lalu, mencoba membuktikannya.

“Aku tidak tahu tentang itu.” Ujar Jira ragu-ragu, tapi kilau matanya menunjukkan bahwa gadis itu berbohong.

“Well… yah, mungkin aku yang salah tentang itu.” Junghwa tidak percaya pada Jira namun ia memutuskan untuk tidak memaksa. Tidak sekarang. “Eum.. jika kau bisa membantuku untuk mengumpulkan beberapa film dari internet aku akan berterima kasih.”

“Akan ku kerjakan secepatnya Saem.”

“Terima kasih Jira, kau bisa kembali.”

Kang Jira membungkukkan badannya dan pergi dari ruang kelas, meninggalkan Junghwa sendiri.

Jadi— kenapa Junghwa tidak mempercayai assistant barunya sendiri? Karena Minji? Karena adiknya mengatakan bahwa TA adalah bagian dari kelompok pemujaan?

Konyol sekali bukan.

Siapa tahu anak yang keras kepala seperti Minji, adalah tour guide nya selama di Xing Boarden. Pertama, Minji belum tinggal lama di sekolah ini dan dia telah mengetahui cara berpikir pihak sekolah. Membuktikan bahwa pihak sekolah menyembunyikan kebenaran dan lain-lain. Minji memang anak yang cerdas dan cepat memahami situasi.

Junghwa keluar dari kelas, memperhatikan langit yang masih tertutupi kabut tipis. Ia bertanya-tanya apakah Luhan juga mengetahui sesuatu tentang perkumpulan pemujaan itu.

..

..

..

Luhan berada di kantornya, ia mencium asap rokok saat melihat Yunho berjalan mendekatinya. Polisi itu terlihat sangat kacau, ia terlihat sangat tersiksa di tempat ini. Dan parahnya Yunho tidak bisa keluar dari sekolah sampai badainya reda.

“Kau punya waktu sebentar?”

“Ya sebentar.”

Selain sheriff Donghae, Yunho adalah salah satu orang yang mengetahui jati diri aslinya, bahwa Luhan juga seorang polisi namun menyamar di tempat ini.

“Kudengar Xiumin tidak selamat.”

“Yeah.” Jawab Luhan lemas, ia juga sempat berharap bahwa Xiumin, orang yang terkait dengan kejadian akan selamat.

“Aku punya keponakan seusianya, dan membayangkan hal itu terjadi pada keponakanku— ah sudahlah.”

“Yeah sulit diterima. Anak brengsek yang malang. Dia dibunuh ketika selesai bercinta.”

“Kau bisa tidur di kamarku jika kau mau Yunho-ssi. Apa kau betah tidur di kamar satpam yang sempit itu?”

“Tak apa, lagipula ini sudah bagian dari pekerjaanku.”

 

***

Didalam kamar, Junghwa memikirkan kembali tuduhan-tuduhan yang diutarakan adiknya.

Namun— Minji bukanlah suatu patokan untuk memandang realitas.

Ia ingat bagaimana ayahnya mendiskripsikan sosok Minji, saat beliau masih hidup.

Kau tahu nak, adikmu tidak seperti anak polos seusianya. Jika Minji menemukan sebuah bom di dalam sebuah kolam, maka yang akan ia lakukan adalah menjatuhkan diri ke kolam lalu berteriak minta tolong. Bukan menjauhinya.

Sikap ayah Junghwa kepada anak tirinya, yakni Minji, merupakan masalah yang cukup mengganggu dalam keluarga mereka. Junghwa tahu, ayahnya selalu membelanya karena ia tidak terlalu menyayangi Minji. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

Anak tiri atau bukan, Minji tetap adiknya.

Untuk saat ini, Junghwa tidak tahu harus percaya kepada siapa. Namun Junghwa tetap memutuskan untuk mengikuti isi undang-undang, bahwa semua tersangka tidak bersalah sampai benar-benar terbukti.

Memandang sekilas ke jendela, Junghwa melihat gedung administrasi dimana staff-staff Tata Usaha dan orang-orang penting Xing Boarden berada. Dan disanalah semua dokumen disimpan. Well, mungkin tidak semua. Karena sebagian pasti disimpan di ruangan kerja pribadi Son Kwanghee.

Bisakah Junghwa melakukan itu? Menyelinap dan membongkar laci atau computer. Pada dasarnya Junghwa tak seberani itu, namun ia harus berusaha mengeluarkan Minji.

Sebelum ada lagi yang terluka, ia harus membuat rencana.

Hari mulai gelap. Saat menyalakan lampu kamar, Junghwa berpikir kapan badai ini akan berakhir dan sekolah tidak terisolasi seperti ini, kembali membuka akses ke dunia luar. Seolah takdir bersekongkol melawan mereka untuk meninggalkan sekolah. Angin behembus, seakan bersiul menertawakan semua orang yang terperangkap di Xing Boarden.

Namun sekarang, sepertinya Junghwa terlalu lapar untuk melakukan misi-misinya tadi. Ia berjalan keluar hendak membeli beberapa cokelat dan se-cup ramyeon untuknya sendiri.

Junghwa berbelok dan nyaris bertabrakan dengan Nana. Gadis yang selalu mengikuti Sohee dan Yuju saat gadis itu masih hidup.

Nana menangis, ia bersandar tembok dan perlahan badannya merosot. Gadis itu luluh dalam tangisan yang memilukan. Ia menangis memeluk tasnya.

Junghwa berjongkok, “Ada apa?” Junghwa memegang bahu gadis itu, menegakkan wajahnya, “Nana-ssi?”

“Tidak apa-apa saem.”

“Kau yakin? Kau bisa meminta bantuan kalau kau perlu sesuatu.”

“Tidak… ani— tinggalkan aku.”

“Tapi—“

“Aku bilang aku baik-baik saja. Kau kira kau bisa membantuku? Tidak. Tidak ada yang bisa.” Nana berdiri, hendak berlari pergi namun dengan gerakan gelisah ia terjatuh kembali. Isi tasnya yang terbuka berjatuhan keluar, berserakan di lantai.

Junghwa mencoba untuk membantunya, Nana mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya kembali dengan cepat. “Gwencanayo?” Tanya Junghwa.

Nana tidak menjawab hanya kembali sesenggukan karena menahan tangis. Buku, kaca mata, bolpoin, dompet dan tissue telah ia masukkan dengan cepat.

“Astaga, kau baik-baik saja?”

Suara berat seorang pria mengejutkan keduanya. Chanyeol, lelaki tinggi itu menghampiri Nana, dan membungkuk kepada Junghwa.

“Aku akan mengantarmu ke asrama.” Chanyeol mencoba membantu, ia menyerahkan bolpoin dan secarik kertas bertuliskan ‘BARRY’ yang terjatuh dari tasnya kepada Nana. Namun gadis itu berbalik tak mau menerimanya.

Tak mau ambil pusing, Chanyeol merangkul gadis itu dan mengantarnya menuju asrama.

Untuk sesaat, Junghwa menduga bahwa ini karena Kim Kai. Lelaki tampan berbadan tegap itu yang sedang ditangisi Nana. Kenapa? Patah hati? Lelaki itu terlalu tampan untuk Nana, atau semacamnya.

Mungkin Nana sedang membutuhkan konselor Dr. Song atau bahkan Bapa Chen.

Di banyak kasus, anak remaja dikenal mengalami perubahan emosi yang ekstrem, suatu saat naik, menit berikutnya turun.

Ia ingat isi kertas catatan Nana saat ia melihat secarik kertas yang dilemparkan Chanyeol beberapa waktu lalu.

BARRY

Junghwa jadi memikirkan pesan yang ditemukannya kemarin. Namun keduanya di tulis oleh tulisan tangan yang berbeda.

TOLONG AKU, pesan pertama yang berisi permohonan. Dan BARRY yang entah berarti apa, namun itu milik Nana. Apakah Nana yang menulis itu, atau ia hanya penerima?

Junghwa mungkin tidak akan pernah tahu, tapi tiga kata sederhana itu nyatanya mampu mengganggu pikirannya. Dan perasaan ketakutan Minji, perlahan juga dirasakan Junghwa.

.

.

-TBC-

Author note :

Anyyeong.. anyyeong.. anyyeong..

Udah pada nungguin updatenya? Kuharap iya yah^^

Tapi kalo adayg mulai bosen sama cerita ini pun gpp.. (v) aku ikhlas.. tapi karena aku yg udah post FF ini dari awal, aku juga punya tanggung jawab untuk nyelesaiin FF ini sampe akhir..

oke FF ini sedang mau mencapai puncak klimaksnya nih, ada yang bisa nebak pembunuhnya siapa? Atau sang pemimpin itu siapa? Ada? Ada?

Heheheh

Eittss.. tapi jangan buru-buru dulu dong. Baca terus lanjutannya yah, baca yg teliti. Jangan sampai kelewatan satu kata pun, karena apapun bisa jadi petunjuk.

Siipp..jangan lupa review, kirimkan komentar & like kalian, ok? Semakin banyak yg komen, semakin semangat juga updatenya.😀

INSTAGRAM: lovanita

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96 (tapi jarang dibuka wkwk)

 

Regard.

-morschek96

https://morschek96ff.wordpress.com

Iklan

35 pemikiran pada “Xing Boarden [Chapter 8] – morschek96

  1. Ping balik: Xing Boarden [Chapter 10] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Xing Boarden [Chapter 9] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  3. ini ff terbaik dari semua yg pernah kubaca, udah kayak baca novel aja hehe… kalo ff lain bahasanya masih kayak anak SMA yg abal abal nulis gitu… haha tapi ini keren…
    kak author jangan lama ya lanjutannya
    udah nggk sabar

  4. thor yg di chapter sebelumnya ak uda komen di blog pribadi kamu ya..
    oke lah ini keren banget bingung dah mau bilang apa lagi
    lanjut ya fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s