2ND GRADE [Chapter 06] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 06]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Baekhyun | [CLC] Seunghee

[EXO] Chanyeol | [BTS] Jungkook | [Red Velvet] Wendy | [EXO] Chen | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team] | Chapter 3 [Hey, You!] | Chapter 4 [Emotion] | Chapter 5 [End of the Day]

.

Now Playing ► Chapter 6 [Welcome Back, Friends]

Lantas tali yang hampir putus itu mulai dijahit kembali.

.

.

Hari ini hari presentasi.

Hari. Presentasi.

Pengalaman presentasi sebelumnya dirasa Runa sedikit tidak berguna (padahal di beberapa bagian justru kebalikannya), karena suasananya sekarang berbeda. Sebelum memulai presentasi pun tatapan meremehkan dari beberapa pasang mata di kelas mulai menjatuhkan mental. Siapa sangka, semuanya gara-gara sematan nama Dream Team saja.

Seunghee yang paling terlihat siap. Jungkook? Jangan ditanya, siap tidak siap mukanya sama tak acuhnya. Runa sangsi lelaki itu sudah membaca salinan materi. Semoga saja tidak terjadi hal buruk nanti.

“…yang selanjutnya akan Kwon Runa jelaskan.” Potongan kalimat terakhir dari Seunghee yang baru selesai menyelesaikan jatah poinnya menarik Runa untuk tersadar. Runa mengambil waktu tiga detik sebelum akhirnya membuka mulut.

“Jadi sebenarnya, permasalahan yang seringkali diributkan itu sebagian besar diciptakan oleh warganegara sendiri. Misalnya, aturan dibuat untuk menertibkan keadaan. Beberapa yang melanggar secara terang-terangan, menolak hukum yang dijatuhkan. Menganggap pihak atas telah lebih dahulu bermain di belakang.”

Runa menunjuk salah satu bagian di slide selanjutnya, “Kita bandingkan saja. Sebelah kanan adalah peninjauan dari tingkat keteraturan salah satu negara berkembang. Sebelah kiri sendiri kami ambil dari salah satu negara maju. Faktor pendukung yang menyebabkan keteraturan lebih mudah diterapkan salah satunya adalah pada lingkup kepribadian warganegara. Hal tersebut membuktikan bahwa….” Runa terus melontarkan pemikiran yang bersumber dari jatah poin yang harus ia sampaikan. Kendati sebagian besar siswa tak menaruh atensi, dia tetap melanjutkan. Sebenarnya kesal juga sudah belajar sungguh-sungguh, tapi giliran menyampaikan justru cenderung tidak didengar. Sebegitu susahnya memerhatikan penjelasan orang di depan? Ah, sudahlah. Diminta tenang dan tidak saling melontar bisik saja sudah susah.

Ketika Runa sudah menuntaskan jatahnya, ia melirik Jungkook. Oh, sialan. Sudah ia duga Jungkook sama sekali tak berniat membuka suara. Padahal presentasi mereka sudah hampir mendekati ujung.

Satu-satunya yang membuat Runa ingin tersenyum lebar adalah kecepatan berpikir Seunghee. Gadis surai legam itu langsung mengambil alih di detik ke enam setelah Runa selesai. Menjelaskan kesimpulan dan beberapa penutup yang jelas saja sudah ia hafal. Untungnya ia sudah berjaga-jaga membaca ulang jatah Jungkook pagi ini.

Runa kira semuanya akan berakhir baik-baik saja. Namun ia belajar, harusnya tidak perlu berekspektasi secara berlebihan. Buktinya di sesi pertanyaan, semuanya kembali ke titik mengesalkan.

“Aku ingin bertanya pada Jeon Jungkook.”

Habis sudah.

“Apa perbaikan kepribadian warganegara yang menurut Anda sudah dilakukan pemerintah kita? Apa pemerintah punya dana tersendiri untuk melakukannya?”

Seunghee berusaha menyela, “Seperti yang sudah kami─”

“Aku bertanya pada Jeon Jungkook.” Hebat. Cha Yulbi sungguh tahu cara membuat Dream Team kembali pada pengartian sebuah tim gagal.

Pertanyaan mudah yang sudah tersirat dalam materi presentasi ini begitu saja dibuat gampang oleh Jungkook dengan satu kalimat: “Tidak tahu.”

Rasanya Runa ingin mencekik si lelaki sekarang juga.

Sebuah senyum lebar Yulbi tunjukkan. “Baik, aku sudah dapat jawaban. Aku puas.” Beberapa murid melontar cerca dalam nada pelan. Namun ekspresi mereka sudah menjelaskan semua.

Hari ini hari presentasi.

Hari ini Dream Team gagal mengubah artian nama tim sesungguhnya.

.

 

.

 

.

“Serius aku ingin mencekikmu!”

Jungkook memutar mata, kelihatan malas. “Kalian membawaku kemari hanya untuk itu?”

Sontak Seunghee memijit kening. “Aku bahkan memberimu jatah presentasi paling sedikit. Tapi kau diam saja,” dia bercacak pinggang. “Pertanyaan yang tadi bahkan semua ada di salinan materi yang Runa beri untukmu. Memangnya kau tidak baca?” Sebuah tepuk tangan keras harusnya ia bagikan untuk Jungkook yang berhasil menjawab enam pertanyaan dengan jawaban yang sama: Tidak tahu. Lelaki gila.

“Bukankah sudah kubilang aku ini sibuk?”

“Memangnya sesibuk apa, sih?! Presiden saja bukan, sudah tiap hari sibuk!” Runa meninggikan nadanya. Yang seharusnya tak ia lakukan karena hanya memperburuk suasana. “Kau ini niat sekolah tidak, ha?! Kami juga kena imbasnya, tahu! Setidaknya jawab seadanya tadi!”

“Tidak tahu itu menurutku sudah seadanya.”

“Gunakan otakmu sedikit! Memangnya bertahun-tahun sekolah kau tidak bisa mengarang?” Runa mencak-mencak. Mukanya sudah merah. Seunghee yang masih bisa mengontrol emosi terpaksa menyela, “Biarkan aku bicara dengannya. Kau ke kelas duluan saja.” Sebuah tepukan di pundak sedikit menyurutkan emosi Runa. Tapi gadis itu masih sempat menunjuk Jungkook dengan jari telunjuknya, “Hari ini aku sangat-sangat membencimu!” Dan ia pun bergegas pergi, bergegas menuju koridor sekolah yang mulai sepi. Meninggalkan Seunghee yang masih menyusun kata, setidaknya ia harap Jungkook mau mendengarkaannya.

Oh, Runa lupa bilang, sekolah sudah bubar beberapa menit yang lalu.

“Me-nge-sal-kan!” Setiap potongan kata sarat akan emosi. Runa merasakan wajahnya memanas. Pokoknya dia sebal hari ini jadi bahan ejekan yang lebih parah ketimbang sebelumnya. Pokonya dia tidak suka Yulbi yang memulai semua tadi. Pokoknya dia tidak mau ingat lagi raut wajah guru saat mencatat nilai.

“Runa!”

Saat menoleh, Runa mendapati Baekhyun dengan ransel di pundak menuju ke arahnya. Perasaannya makin campir aduk.

“Aku mencarimu. Nih, tasmu.”

Melihat ransel yang Baekhyun sodorkan, Runa memicingkan mata. Dia merebut ransel dengan cepat, “Kenapa kau seperti ini, Baek?!”

Tadinya Baekhyun akan membahas perihal nama panggilan yang dulu menjadi tren di geng SMP mereka─yang baru saja Runa lontar setelah sekian lama. Namun raut muka Runa sama sekali tidak menunjukkan sedang ingin diajak tertawa.

“Eh, itu, kukira ….”

“Tidak perlu berteman dengan orang jahat sepertiku!” Runa lumayan akan menyesali tingkat emosinya yang malah muncul di depan Baekhyun. Lihat saja mata berairnya. Oh, astaga, apa harus emosinya meledak sekarang? “Aku bahkan berpura tidak kenal padamu. Aku bahkan tidak pernah menyapamu lagi. Aku bahkan berkata kasar padamu. Aku buruk, Baekhyun.”

Awalnya bukan ini yang akan Runa utarakan. Namun begitu melihat wajah Baekhyun, semua hal yang pernah mereka lakukan bersama bergantian terlihat layaknya rol film. Dengan rasa terluka dan penuh sesal yang menyerang secara bersamaan. Semua ingatan datang, tak tersaring hingga semua menabrak benak tanpa halangan.

Sementara itu Baekhyun bingung sendiri saat Runa mulai menangis. Sesungguhnya lelaki itu tahu jika Runa sudah sampai di puncak emosi.

“Aku hanya ingin menjauh dari masa lalu sebelum aku di SMA. Di mana semua orang tau jika ayah dan ibuku baik-baik saja. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan mengesalkan yang membuat hatiku sakit. Dulu aku ingin memulai SMA dengan identitas baru. Identitas yang tak memaksaku mengenang semua perihal keluarga, karena semua cuma tahu aku sudah terbiasa dan akan baik-baik saja. Aku tidak mau ditanyai.”

Pada akhirnya Baekhyun mendapat jawaban yang selama ini ia pertanyakan.

“Aku egois, Baekhyun. Kenapa, sih, tidak marah saja? Benci sekalian kalau perlu.” Menutup mata dengan satu lengan, Runa masih sibuk terisak. Jika dia sadar sekarang, pasti malunya meluap berlebihan.

“Kau memang sangat egois.” Akhirnya Baekhyun bersuara. “Mau bagaimanapun kau memilih jalan; menjauhi masa lalu atau menggandengnya erat, sama saja. Kita akan sama-sama terluka. Kau tahu sendiri pertemanan kita tidak sedangkal itu.” Kecewa jelas saja. Marah apalagi. Tapi Baekhyun justru menghela napas panjang. “Pertemanan kita tidak sedangkal itu,” dia mengulang. “Jadi cukup minta maaf dan aku yakin marahku lama-lama akan hilang.”

Semakin terisak saja Runa mendengarnya. Dia ingin langsung mengucap maaf, tapi yang keluar hanya suara sesenggukan. Baekhyun masih seperti dulu. Dan itu semakin membuat si gadis merasa bersalah telah bersikap egois.

Baekhyun diam saja. Tahu persis bahwa Runa hanya butuh waktu mengeluarkan kekesalannya. Untuk beberapa saat ia memandang Runa, hingga kala mengedar pandang, sosok Chanyeol menyambah retina.

Dengan cepat Baekhyun memberi kode agar Chanyeol mendekat. Dia menunjuk Runa dan mengatakan nangis-nih tanpa suara. Bukannya khawatir, Chanyeol justru menahan tawa. Dia sudah mendengar berapa penggal dialog antara Runa dan Baekhyun tadi. Lumayan bersyukur gadisnya sudah baikan dengan karib lama.

Runa sendiri masih mengeluarkan tangisnya beberapa lama. Dipikirnya sudah terlanjur, jadi sekalian saja. Daripada nanti dia melanjutkan menangis di jalanan. Kan, tidak keren.

“Sudah lama tidak menangis, ya?” Sebuah telapak tangan besar mendarat di kepalanya. Dari bariton familier ini, Runa langsung menggumam nama Chanyeol dalam hati.

“Hati-hati ingusmu berceceran.” Coba dengar nada mengejek yang Baekhyun pakai. Pasti terasa menyebalkannya.

“Hari ini langsung pulang, kan? Ayo,” Chanyeol menyampirkan tangannya di pundak sang gadis yang tengah mengusap wajah. Runa menutupi mulut dan hidung dengan tangan agar wajah jelek menangisnya tersamarkan.

“Ya sudah. Aku juga mau pulang, nih. Sampai jumpa besok.” Baekhyun melambaikan tangan sekilas dan mengambil langkah. Tapi Runa segera menarik ransel lelaki itu. Kala Baekhyun menoleh untuk bertanya, Runa berucap, “Maaf ya, Baek.” Dia tahu itu belum cukup dan terlalu singkat jika dibandingkan dengan kesalahannya, tapi Runa janji akan minta maaf lagi besok. Dengan sekotak permen cokelat, mungkin.

Tak disangka, Baekhyun justru menunjukkan cengirannya. “Ciee… yang sedang menyesal.”

Lupakan perihal kotak permen cokelat. Runa rasa harusnya ia memilih jalan meminta maaf lewat pesan dari ponsel saja jika begini jadinya.

.

.

.

-0-

.

.

.

Wendy baru saja keluar dari kantor guru. Di tangannya terdapat beberapa lembar dokumen yang harus diisi beberapa murid yang ada dalam daftar. Baru saja beberapa meter menjauh dari pintu kantor, langkahnya dihentikan oleh eksistensi tiba-tiba Baekhyun.

“Mana formulirku?”

“Memangnya kau yakin pasti tembus seleksi?” Mencibir pelan adalah yang Wendy lakukan. Padahal dia tahu jika ada nama Baekhyun yang nangkring di daftar nama lolos seleksi lomba yang baru akan ia tempelkan di papan pengumuman.

“Nah, jika jawabanmu begitu, berarti aku lolos!” Tertawa seraya bertepuk tangan beberapa kali, Baekhyun langsung mencoba merebut tumpukan kertas di tangan Wendy. Tapi dengan cepat sang gadis mengelak, “Sabar. Biar aku tempelkan pengumuman ini dulu.”

Sama sekali tak keberatan, Baekhyun lantas mengikuti Wendy menuju papan pengumuman. Kala menemukan namanya di kertas yang Wendy tempelkan, Baekhyun tersenyum bangga. Si lelaki lalu menelusuri satu per satu nama yang tertera.

Artistic

Nama

Perwakilan Kelas
Byun Baekhyun Vokal Solo Pria 2-8
Wendy Son Vokal Solo Wanita 2-8
We In Melody Vokal Grup
Wen Junhui Film 2-3
Shannon Williams Film 2-2
Choi Hansol Film 2-5
Kwon Runa Desain Poster 2-8
Wave Grup Band

Baekhyun berhenti menggerakkan jarinya yang menunjuk deret nama yang masih panjang. Dia menaikkan telunjuknya lagi ke satu nama.

Kwon Runa Desain Poster 2-8

“WOH! SERIUS?”

Bahkan reaksinya lebih terkesan terkejut sekarang ketimbang saat melihat nama sendiri terpampang. “Runa lolos? Serius?”

Melihat Baekhyun yang seperti akan menempelkan matanya di depan kertas yang sudah terpampang, Wendy mencibir, “Dia kan memang ikut seleksi sebelum liburan kemarin. Masa kau yang temannya sejak dulu tidak tahu?”

“Waktu itu kami belum baikan─sebenarnya dia yang tidak mau baikan atau mungkin sejenis itu. Aku baru tahu ini. Wah, jadi 2-8 punya tiga nama.” Baekhyun manggut-manggut, “Lumayan, walau di kategori akademik di kelas tidak ada yang lolos seleksi―jelas didominasi anak 2-1 dan 2-2, setidaknya kita punya tiga perwakilan.” Gayanya sudah seperti juri saja.

“Lanjutkan saja acara komentarmu, aku harus bagikan ini dulu.” Malas mendengar celoteh panjang, Wendy mengambil langkah ke kelas terdekat. Bisa-bisa dia menjamur jika menunggu Baekhyun selsai mengomentari satu per satu siswa yang terpilih. Baekhyun cuek saja, dia melanjutkan gumam komentar sepihak yang sempat terputus. Dalam hati masih sedikit tak percaya Runa lolos seleksi.

Kembali ke Wendy. Gadis ini sudah memikirkan rute terefektif untuk membagikan formulir yang harus diisi. Yang paling jauh adalah kelasnya sendiri, jadi pas sekali. Sekalian kembali, kan?

“Harusnya aku minta bantuan Baekhyun tadi.” Bodohnya itu baru terpikirkan beberapa detik belakang. Tepatnya saat hampir semua formulir sudah dibagikan. Sekarang, di saat lelahnya sudah terasa bukankah sudah terlambat? Mana mau dia kembali ke tempat awal hanya untuk mengajak Baekhyun yang kemungkinan besar justru menyuguh alasan tak masuk akal untuk mengelak nantinya? Ah, lupakan saja.

Untungnya dia masih menyembunyikan keluhan hingga tersisa tiga formulir untuk siswa 2-8. Kala enam meter sebelum pintu kelas ia tapaki, sesosok lelaki jangkung terlihat keluar dari pintu tersebut. Merasa lelaki yang notabene beda kelas dengannya itu termasuk dalam kategori wajar, Wendy tidak sempat berpikir aneh. Baru saat ia sampai di kelas kerutannya lantas tercipta.

“Eh, Chen, tadi Chanyeol baru saja kemari, kan?”

Yang ditanya mengangkat kepala, berpikir sejenak sebelum mengangguk, “Sepertinya begitu. Aku tidak terlalu memerhatikan.” Wendy hampir lupa jika Chen akan tersita seluruh atensinya ketika berhadapan dengan komik keluaran terbaru. “Perasaan tidak ada Runa, deh.” Mendudukkan diri di samping si kekasih, sang gadis belum berniat menghentikan pembicaraan. Tidak tahunya Chen menoleh, “Lho, dia memang tidak menemui Runa. Kukira justru mereka sudah putus.”

“Siapa yang bilang?” Sebenarnya Wendy memang tak terlalu dekat dengan Runa. Tapi memakan gosip mentah-mentah memang bukan gayanya.

“Cha Yulbi, Han Nami, Yoon Yura. Seperti biasa.” Kedikan bahu yang Chen tunjukkan seakan ingin menutup pembicaraan mereka. Dia sedang ingin berkonsentrasi pada komiknya, omong-omong.

“Jadi siapa yang Chanyeol temui?”

Tak sabaran, Chen hanya menunjuk salah satu siswa dengan dagu dan lirikan matanya. Menciptakan gumaman pelan Wendy yang penuh makna, “Oh… dia.”

.

.

.

.to be continue

Hmmmmmmm… hayohloh Chanyeol nemuin siapa hayohloh :333

Dan akhirnya baikan juga si Runa sama Baek, agak egois juga sih Runanya pas dia mutusin buat bersikap masa bodoh sama Baek sebelumnya, tapi keknya dia udah tobat/lah?/

Terus… wow lagi-lagi ada event gitu ya, gak tau kenapa jadi inget SHTWSHTL/beda nid beda/ abaikan bagian ini :’)

Btw makasih banyak buat semua yang udah baca dan nyempetin buat ninggalin komen :* Aku apa sih tanpa kalian gengs 😉 Aku bakal belajar lebih baik lagi buat kedepannya biar fiksi ini makin baik, insyaAllah.

.salam manis; nida

Iklan

35 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 06] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 13] | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 11] | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 10] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 09] | EXO FanFiction Indonesia

  17. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 08] | EXO FanFiction Indonesia

  18. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 07] | EXO FanFiction Indonesia

  19. Lama diriku gk nongol di sini.. udah sampe.chapter 6 aja..
    Okelah aku tunggu runa ketemu ama sehun lagi aja deh.
    Aku tunghu next chapternya yaaa..

    • hai billa, seneng ih kamu mampir lagi :3
      hmm siapa cobaaa wkwk kayaknya nemuin aku deh/ditabok/ga
      ahaha tbc saat penting emang bikin gondok2 gimana gitu ya wkwk bakal update secepatnya insyaAllah 😉 makasih udah ngikutin :* ❤

    • mau first atau engga aku tetep seneng sal (manggil seenaknya/digampar) makasih lho udah mampir lagi ke sini lafyu pokoknya :*
      hayohloh gabole suudhon/plak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s