[Ficlet] Stupid in Love | by L.Kyo

stupid-in-love

Stupid in Love | Author: L.Kyo | Artwoker: Nixaem@Poster Channel | Cast: Choi Aleen (OC/YOU), Kim Jongdae (EXO) | Genre: Litte Sad | Rating: PG-15 | Lenght: Ficlet | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

—oOo—

H A P P Y R E A D I N G

Bagaimana jikalau kau merasakan perasaan bahagia melambung tinggi, merasa kau terbang sampai langit ke-7, merasa tubuhmu terasa ringan dan pikiran masa lalu lenyap saat itu juga. Dan bagaimana pula jikalau kau merasakan remuk dan ada sebuah benda ber ton-ton yang menghancur seluruh ragamu. Bagaimana jika dua perasaan itu terjadi dalam satu waktu?

 

Ini mungkin bukan pertama tapi ia tak bisa menyembunyikan lagi. Jika saja masih ada pasokan untuk bersabar, lapang dada dan entah apa itu, bisa di pastikan ia bisa melupakan pria brengsek itu dengan mudah. Ia bodoh, ia tak seharusnya memulai basa-basi kampungan yang ia lontarkan.

 

‘Apakah itu keponakan barumu?’

 

Sederet kata pembuka membuat Aleen ingin menampar dirinya sendiri. Karena sederet kata pembuka itu, ia seharusnya tak akan memulai percakapan singkat di SNS.

 

‘Benar. Dia putri anak kedua dari Hyungku. Apa kabarmu Choi?’

 

Mungkin tanggapan itu membuat Aleen melambung tinggi. Lama tak pernah mengobrol dengan Jongdae, lama tak pernah melihat tiap lekuk wajah lelaki itu. Ia rindu, rindu teramat hingga ia gila. Hilang kendali sampai banyak pria yang ia tolak. Bagai cinta buta yang sudah tertutup akan semua wajah indah dari Kim Jongdae.

 

Balasan itu mungkin membuat Aleen mudah rapuh. Aleen tahu jika ia terlalu berharap lebih pada Jongdae. Seharusnya ia membuang jauh-jauh perasaan itu. “Kau sedang apa?” Suara Jongdae membuat Aleen segera menyembunyikan ponselnya. Mereka di kampus yang sama. Dan entah Dewi Fortuna merencanakan apa untuk mempertemukan mereka.

 

 

“Hmm?” Pikiran Aleen seraya blank. Sungguh, ia tak seharusnya bodoh seperti ini. Lelaki itu menyunggingkan senyum, membentuk bibirnya yang lucu dan pipi khasnya yang membuat Aleen harus menundukkan kepalanya sesegera mungkin. ”Kau tidak ada kelas?” Alhasil Aleen wajib memberikan pertanyaan pembuka.

 

Justru saat ini, ia sibuk mengambil laptop pada ranselnya. Bukan membuat laporan justru untuk mengalihkan pembicaraan. Gila bukan jika mereka berbicara dengan saling memandang satu sama lain? “Kelasku nanti sore. Kau akan mengerjakan laporan?” Jongdae menggeserkan duduknya, bermaksud mendekati Aleen.

 

Namun memang dasar gadis yang tak bisa move on, perlakuan sederhana saja sudah membuatnya gugup setengah mati. Aleen hanya berdehem, meletakkan kacamatanya dengan benar seolah ia sedang fokus kali ini. “Apa kau tak merasa nyaman?” Jongdae paham, bahkan ia memandang tiap jari jemari Aleen yang sama sekali tak bergerak.

 

“Kenapa aku tak merasa nyaman? Aku hanya sedang memikirkan rangkaian kata-kata dari laporanku. Akhir-akhir ini tugas dari Professor Jung membuatku frustasi. Kau tahu kan mata kuliahnya pada semester ini benar-benar tidak main? Dia benar-benar akan memberikan nilai F jika tidak tepat waktu mengerjakan laporannya?”. Aleen mengutak-atik laptopnya dengan mouse. Berulang kali.

 

Jongdae paham itu. Lelaki itu menghela nafasnya dan menutup matanya sejenak. “Itu benar. Tapi apa boleh buat, kita hanya mahasiswa yang harus menjalankan kewajiban. Aku sudah selesai mengerjakan materi itu. Aku bisa membantumu”. Jongdae menggeserkan laptop Aleen dihadapannya. Namun Aleen segera menariknya kembali. “Tung … tunggu! Membantuku? Tidak! Aku bisa. Kau pasti pusing dengan tugas ini. Tidak! Aku akan mengerjakannya”.

 

Aleen segera menutup microsoft word nya yang sebenarnya kosong. Mouse nya segera mengarah ke data D dan membuka tugas yang sebenarnya. Tapi, tetap saja pandangannya tak lekat dari Kim Jongdae. Lelaki itu menatap kedepan, dengan senyum manisnya bahkan ia tak tahu jika Aleen sempat terpesona beberapa saat. “Bagaimana hubunganmu dengan Wendy?” Dan pertanyaan nista yang dilontarkan Aleen muncul begitu saja.

 

“Wendy?” Senyum yang awalnya merekah kini tampak dahinya yang mulai mengerut. “Yah, seperti pasangan seperti pada umumnya”. Aleen tersenyum sesaat, seakan sedikit kecewa dengan jawaban sang pria. Tak ada kah ada jawaban keraguan, perasaan tidak enak karena menceritakan cinta baru pada mantan pacarnya?

 

Sungguh tidak masuk akal, Jongdae sepertinya benar-benar membuang perasaannya pada Aleen. Dan sepertinya Aleen tak boleh berharap terlalu tinggi lagi. “Kau tahu, masa lalu itu memang membuat kita untuk tetap kuat di masa depan, menjadi penyangga saat kita akan goyah, dimana kita punya sebuah pikiran untuk tak melakukan hal kesalahan di masa lalu, tapi …”

 

Aleen memberikan jeda, mengatur dadanya yang sedikit sesak. “Apakah suatu dosa jika kita susah untuk melupakannya? Apakah sebuah dosa pula jika orang yang terlibat dimasa lalu untuk tidak bahagia dimasa sekarang? Apa aku kejam? Bukankah itu perasaan alami yang dirasakan tiap orang?”

 

Lelaki itu terdiam, menatap bola mata Aleen bergantian, seakan ia bisa mengaca raut wajahnya pada bola mata hitam gadis itu. Yah, gadis itu ingin menangis, tampak air matanya yang berair disana. “Apa yang kau katakan itu sebuah cinta?” Jantung Aleen seperti berhenti berdegup. Sepertinya Jongdae menjadi perasa kali ini. Sepertinya ia sudah mengatakan hal yang tidak-tidak.

 

“Aku mengerti. Itu bukan hal suatu dosa, itu alami”. Jongdae menatap pepohonan yang seakan berkedip menutupi cahaya matahari siang kala itu.

 

‘ Jika itu katamu adalah alami, berhentilah untuk mengenalku. Apa lebih baik kau pura-pura tak mengenalku dae?’

 

Hati kecil Aleen merintih, kepalanya menunduk seolah tak tahan untuk menatap tegap.

 

“Cinta itu anugerah, tapi jangan buat cinta itu menjadikanmu bodoh”. Seperti sebuah petir menghancurkan jantung Aleen. Kau tahu? Bagaimana perasaanmu jika orang yang mengatakan itu adalah mantan kekasihmu? Bukankah Aleen seperti orang yang benar-benar menyedihkan?

 

“Iya, bodoh. Sampai aku tidak bisa melupakanmu”. Aleen menutup laptopnya dan berdiri setelah mengatakan hal sensitif menurut Aleen. Benar dia bodoh,bodoh karena sudah mengubah cinta menjadi kebodohan yang menganggu pikirannya. Ia tidak tahu apa yang dikatakan Jongdae benar atau tidak, yang pasti ia sedikit tidak setuju dengan pernyataan itu.

 

“Definisi cinta bodoh yang aku ketahui adalah, patah hati kemudian bunuh diri atau menyakiti pacar barunya dan membunuhnya. Kau bilang jangan buat cinta itu menjadikanku bodoh. Aku tidak bodoh. Apa melupakan seseorang adalah sebuah dosa? Kau bilang itu adalah alami? Apa kau mengejekmu karena kau sudah melupakanku lebih cepat?” Tangis Aleen pecah.

 

“Jangan salah paham”. Jongdae panik. Aleen memang mantan kekasihnya tapi memang kesalahannya karena membuatnya terus mengingat masa lalu. “Maafkan aku jika aku mengatakan hal yang salah. Bukan itu yang aku maksud”. Jongdae mencoba menenangkan.

 

“Kau pernah mendengar pepatah lebih baik dicintai daripada mencintai, kan?” Ucap Aleen sembari menyembunyikan tangisnya. “Sepertinya aku menyesal mencintaimu. Ini benar-benar menyakitkan. Jika kau tidak tahu perasaanku, sebaiknya kau tutup mulut. Berhenti untuk menguruiku”.

 

Langkah Aleen melebar seiring tubuh mungilnya hilang di belokan. Jongdae terdiam, menatap gadis itu perlahan pergi. “Cinta itu bodoh, sampai aku mengataan hal bodoh agar kau cepat melupakanku Leen”. Nafas berat Jongdae kentara bersamaan pepohonan di atasnya meniup lembut surai hitamnya. Sepertinya inilah cara terbai menurut Jongdae.

 

-FIN-

Hallo L.Kyo here. Lama tak bersua di EXOFFI. L.Kyo rindu teramat rindu >///< Apa kabar alian? Lagi semi – hiatus, sudah kerja. Jadi tolong maklumi saya guys~

See U next FF yak~ Thankseu~

Iklan

4 pemikiran pada “[Ficlet] Stupid in Love | by L.Kyo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s