M I R A G E — Joongie

mirage

M I R A G E

Storyline by Joongie © 2016

Oh Sehun || OC’s Park Cheong Yi || Angst, Historical, Romance || Oneshot || PG – 15

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. No plagiarismcreate your own story and publish—and don’t be silent reader, please.

.

.

.

Apa yang salah pada diri ini….

Purnama di Hanyang[1] barangkali lelah mengumpatku, lantaran pertanyaan yang sama kubisikkan berulang. Kepada rembulan si peneduh dan penerang kegelitaan malam, kubagi kegelisahan hati yang meradang. Mereka bilang kesunyian memberimu jawaban apabila jiwamu berangsur tenang. Itu sebabnya kupandang candra di langit sana, walau sadar ia tak punya telinga untuk mendengar, maupun mulut untuk menjawab.

Hanya saja… bertingkah konyol kadang menghiburku.

Napasku beruap asap putih lepas kudesahkan keras-keras. Sekujur tubuhku rasanya sakit. Bahkan untuk bernapas, paru-paru ini bagai enggan. Sebaris nama yang meracuni akalku kini tertancap kian dalam. Semakin keras kucoba untuk mengenyahkannya, perasaan yang bagaikan pedang itu justru patah. Berubah jadi serpihan-serpihan kecil. Larut dalam darahku, mengoyak diriku dari dalam, dan bersarang menggores jantung.

Rasanya jiwaku menuntut mati pada raga yang masih tetap tegap.

Even when you’re so close that I can touch you ♫
I still can’t bear to call out to you ♫

Entah dengan melayang atau berjalan, kutemukan badanku telah terbaring di futon[2]. Kelam. Tanpa pendaran lilin yang telah padam dan menyisakan aroma tajam lemak hangus. Baguslah, biar raut mukaku tiada siapapun dapat menerkanya. Bahkan diriku pun tidak. Kepungan patron hitam bagai membutakan penglihatan, membuatku nyaman ditelannya.

Begitu senyapnya hingga suara angin yang mengetuk pintu sampai ke pendengaran.

Seandainya aku terlahir tanpa diberkahi penglihatan, aku yakin gelapnya hari yang tiada bisa kubedakan siang dan malamnya akan terasa lebih indah, karena berlangsung selamanya. Sebab begitu seberkas cahaya menusuk retinaku, paras ayunya menyusul muncul seterang baskara.

—000—

Just looking at you, just longing for you ♫
It’s so hard, so hard, just for once ♫

Naeuri[3]! Bangunlah, Anda harus segera bersiap! Ah, Naeuri… ayolah, bangun!”

Suara nyaring yang menerjang kuping itu berakhir mencelangkan mataku. Dengan enggan kulirik si empunya suara, Ho Jin, pelayan pribadiku telah bersimpuh sambil memandangku dengan raut prihatin. Rupanya aku masih terjaga di dunia, senandikaku.

“Ho Jin–ah, kenapa aku harus bangun?”

Aigoo, berapa banyak arak yang Anda minum semalam? Kalau Anda mabuk, cepatlah sadar sebelum jadi masalah,” katanya, berdecak dan menggeleng-geleng seraya memaksaku bangkit. “Ini hari penting bagi seluruh rakyat negeri ini. Termasuk Anda.”

Penting katanya?

Ingin rasanya aku mengumpat, namun yang bisa kulakukan cuma memijat-mijat pelipis dan tertawa pahit. Untuk membuat orang sepertiku serasa berjalan pada kematiannya sendiri, bagi mereka itu penting. Tapi… memangnya apa yang bisa kulakukan sewaktu orang-orang berkata semua ini kehendak langit. Mencoba berteriak di antara seribu suara lantang, hanya akan terdengar seperti gumaman lebah.

Siapa yang akan mendengar? Bukan, tapi siapa yang akan mengerti?

“Apa lagi yang Anda tunggu? Cepatlah bangun dan bersiap,” desak Ho Jin, meluluh lantakkan kabut tebal yang mengerubungi anganku. Ho Jin kemudian berdiri, meraih seragamku yang tersampir di dinding sambil tersenyum cerah. “Orang seperti Anda tidak boleh terlambat.”

Aku Oh Sehun, putra sulung dari Pejabat Tinggi yang bekerja di Departemen Kehakiman dan beruntung jadi Kepala Pengawal Istana, karena ditunjuk langsung oleh Raja. Sedangkan ibuku adalah adik kandung dari Perdana Menteri. Itu sebabnya keluargaku cukup terpandang di Hanyang. Bukan semata berdasarkan peta kekuasaan keluarga kami, melainkan kearifan kami dalam berpolitik.

Orang-orang mungkin berpikir bila aku lahir dengan diberkahi keberuntungan dari langit. Namun, bagiku terlahir dalam keluarga ini bagai buah simalakama. Kekuasaan dan rasa hormat yang kudapatkan tidak menjamin hatiku merasa tenteram. Kalau boleh serakah, maka aku berharap terlahir di istana sebagai keturunan Raja dan mendapatkan apa yang sebenarnya kuinginkan selama ini.

Hati seorang wanita yang ditakdirkan menjadi milik Raja.

—000—

Orabeoni[4]!” serunya begitu melihatku muncul dari balik tubuh Dayang Han yang berisi. Aku bisa melihat binar bahagia yang terpancar dari manik bundarnya yang berkilat-kilat.

Usai Dayang Han meninggalkan kami berdua, segera saja aku duduk bersila di depan meja baca yang membatasi kami. Park Cheong Yi masih menyorotku dengan senyum tak berkesudahan miliknya, seolah memamerkan betapa riang hatinya. Dan diriku yang kasihan ini hanya menghela napas tanpa bersuara, lalu mengulas senyum setipis mungkin.

Sudah, cukup. Hentikan senyummu, itu sungguh menyakiti hatiku.

Seandainya segala sesuatu tak dikekang aturan penguasa, bibirku barangkali bisa bersuara sesuka hati. Menyanyikan segunung kalimat yang tersangkut di kerongkongan. Tapi, mengingat seragam yang menunjukkan status dan posisiku rasanya amat lancang. Bagaimana bisa seekor ikan kecil meminta bangau agar berhenti bermain air di sungai, sementara sungai itu bukan miliknya?

“Kenapa baru berkunjung sekarang? Memangnya tidak rindu denganku?” cecar Cheong Yi sambil memberengut hingga bibir merah jambunya meruncing.

Bahkan hari ini dia terlihat berjuta kali lebih cantik, jeogori[5] merah muda dengan motif naga itu sangat pantas melekat di tubuhnya. Begitu pun binyeo[6] yang terpasang di sanggulnya, sekarang jadi berwarna emas dengan ukiran naga. Itu karena Park Cheong Yi adalah seorang Putri Mahkota yang telah tinggal di istana sejak berusia lima belas tahun.

Kenyataan lainnya, Cheong Yi adalah putri dari Perdana Menteri yang tak lain adalah pamanku sendiri, yang berarti dia adik sepupuku. Dan hari ini Putra Mahkota akan naik takhta menggantikan mendiang Raja sebelumnya. Beberapa jam dari sekarang, Cheong Yi juga akan menjadi Ratu.

Wanita yang diam-diam aku cintai, adalah sepupuku sendiri yang merupakan calon Ratu dari negeri ini.

Orabeoni, kenapa tidak menjawab?”

Sempat-sempatnya aku melamun. Buru-buru kugelengkan kepala, lalu memandang ke dalam matanya yang sehitam aswad. “Maafkan saya, Yang Mulia. Akhir-akhir ini saya sedikit sibuk membereskan kekacauan yang dibuat mahasiswa Sungkyunkwan. Saya tidak tahu kalau itu akan mengganggu pikiran Anda.”

Orabeoni….”

Lirihan dalam suara lembut itu membuat bahuku bergidik. Cheong Yi… wajahnya bak diselimuti awan mendung. Dia memandangku dengan cara yang berbeda. Lalu kudengar ia mengembuskan napas pelan sewaktu netra kami berserobok.

Apa mungkin aku salah bicara?

“Sampai kapan kau akan bicara formal begitu? Aku ini tetap adikmu, kan? Aku lebih suka kalau kau memanggil namaku seperti biasa. Panggil saja ‘Cheong Yi–ya’, mengerti?” dikte Cheong Yi sambil mendengus sebal.

“Ah, baiklah… Cheong Yi–ya,” ucapku seperti berbisik agar tak sampai terdengar oleh pelayan dan dayang yang berjaga di luar.

Jujur, rakung dan lidahku bak disusupi duri saat menyebut nama itu. Agaknya terasa lebih mudah bagiku untuk memanggilnya “Ratu” dan mengingatkan diri bahwa seorang hamba tak semestinya berangan menggapai langit.

Kembalilah senyum ceria itu di wajah Cheong Yi yang makin membuatku tertohok. Jantungku berpacu liar dan setiap debarnya menghunuskan belati yang telah lama tertancap di sana jadi semakin dalam. Dosa apa yang telah kulakukan di kehidupan sebelumnya sampai kualami cinta yang sepelik ini?

Kecantikan dan kesantunannya kian hari mendidikku jadi tamak, lantaran mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa jadi milikku. Bahkan jikalau dia bukanlah seorang yang akan menjadi ibu dari bangsa ini di masa depan, langit pun sepertinya masih akan menentangnya dengan pertalian darah di antara kami.

“Kalau begitu sebaiknya aku pergi. Bukankah sebentar lagi upacara akan dimulai? Kau harus bersiap dan berdandan secantik mungkin,” kataku buru-buru bangkit. Aku takut bila sesuatu yang berkecamuk dalam dada ini bisa meracuni akal sehatku dan membuatku melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan seorang hamba.

Only you, I really want to, I want to ♫
If only I can erase you, I could forget you ♫

—000—

Putra Mahkota Lee Yoon dan Putri Mahkota Cheong Yi berjalan beriringan, serentak memberi hormat pada para Tetua beserta Ibu Suri. Sementara pemain musik tak hentinya memeriahkan suasana dengan suara musik yang gempita. Usai melakukan berbagai prosesi, pasangan itu berbalik menghadap seluruh Menteri dan Pejabat Pemerintahan yang bersujud.

“Selamat atas penobatan Anda! Semoga Anda selalu sejahtera!” seru semua orang bersamaan sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti formasi gelombang. Termasuk aku salah seorang dari mereka yang harus menyerukannya dengan suara tercekat dan bibir bergetar.

Air yang sudah menggenang di sudut mataku, kini bergantian lolos. Harapanku benar-benar pupus, karena menginginkan wanita Raja adalah sebuah pengkhianatan besar. Tangisku pecah lantaran sakitnya berada pada skala tertinggi. Kepala Pengawal Istana sepertiku tak akan pernah mungkin setara dengan posisi Raja, bahkan bersesumbar untuk menggulingkannya pun hanya akan jadi cemoohan.

Bagai dirajam rasanya sewaktu kutatap Raja dan Ratu yang berbalas senyum, saling memandang dan mengumbar cinta. Aku seorang ahli pedang yang menguasai ilmu bela diri tingkat tinggi. Dipukul, dipanah, ditujah pun rasanya tak sesakit ini. Terkadang aku tidak mengerti bagaimana bisa perasaan sakit yang bahkan tidak mengucurkan darah mampu membuatku menderita sebanyak ini, sampai rasanya ingin kutarik keluar saja jiwaku.

Pedang yang sedari tadi kupegang ikut bergetar dijalari perasaan benci yang mengalir di setiap ujung saraf. Sekali saja, jika kuhunuskan dengan cepat maka Raja akan mati di tanganku. Aku akan mencabik jantungnya untuk membuatnya mengerti rasa sakit dan kecemburuan yang kutanggung selama ini saat melihatnya mencumbu Cheong Yi. Pria lemah yang bahkan masih sering bersembunyi di ketiak ibunya, bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang kucintai hanya karena dia memiliki darah kerajaan. KENAPA?!

“AAAAAAAA!”

Suara lesatan anak panah yang disusul dengan pekikan para Dayang seketika menghantamku kembali ke tanah yang kupijak. Serangannya meleset dan sekilas kulihat seorang lelaki berjubah hitam baru saja berlarian melompati genting istana. Suasana tak terkendali, ricuh dan panik sebab semua orang sibuk menyelamatkan diri. Cheong Yi! Orang yang pertama kali muncul di benakku adalah Ratu, karena panah itu tertancap hanya beberapa inci dari posisinya semula.

“Cepat lindungi Yang Mulia dan Ratu!” perintahku. Semua pengawal bergerak cepat mengelilingi Raja dan Ratu. Sementara beberapa orang kuperintahkan untuk mengejar sang pemanah dan mencarinya di seluruh penjuru istana.

Aku tidak bisa gegabah meninggalkan Ratu di bawah perlindungan anak buahku. Tak satu pun dari mereka yang mampu melindunginya sebaik diriku. Melihat seringai para Menteri di pihak Noron[7], firasatku berkata merekalah dalang di balik semua ini. Dan target utamanya adalah Ratu Park, di mana ini juga upaya mereka untuk menguatkan posisi Selir Jung bila sesuatu terjadi pada Ratu. Mengingat Raja yang selama ini lebih memihak Soron[8] melalui Ratu, ini bisa jadi kudeta oleh pihak Noron!

Tidak akan kubiarkan segores luka pun berbekas di kulit Cheong Yi.

“Yang Mulia, akan lebih baik bila Anda dan Ratu melarikan diri dari tempat ini. Kembalilah ke istana dan saya akan menempatkan beberapa penjaga di sana,” ujarku sambil membimbing mereka kembali ke istana melalui jalur khusus yang memang sudah dipersiapkan oleh mendiang Raja terdahulu.

Sepenuhnya aku sadar bila sikap pengecut begini tidak pantas dilakukan Kepala Pengawal Istana, karena seharusnya akulah orang yang ada di barisan paling depan untuk menghadapi musuh. Bukannya bertingkah seperti ingin ikut menyelamatkan diri dan meninggalkan anak buahku yang bisa saja terbunuh. Hanya saja ini bukan kondisi yang tepat, sebab lengah sedikit nyawa Cheong Yi bisa berada dalam bahaya.

Keadaan istana amatlah sepi saat kami tiba di sana, justru jadi mencurigakan. Biar bagaimanapun harusnya masih ada beberapa Dayang dan Kasim yang menunggu di kediaman Raja. Tapi, ini sungguh teramat janggal…

“RATU AWAS!”

Beruntung. Dalam satu sentakan yang cepat, aku berhasil memeluknya saat pemanah yang bersembunyi di balik pilar istana melesatkan anak panahnya lagi. Napasku yang semula tertahan bisa kulepaskan begitu melihat Cheong Yi meringkuk dalam pelukanku. Semua saraf tubuhku yang menegang pun rasanya ikut melemas, karena dibanjiri perasaan lega melihat wanita itu tak terluka.

Dan lagi, ini pertama kalinya. Seumur hidupku, ini pertama kalinya aku memeluk wanita yang kucintai. Tapi… kenapa tubuhku malah mendadak terasa berat begini? Kenapa pandanganku jadi tidak fokus? Kenapa Raja menatapku seperti itu? Apa dia akan menghukumku karena bersikap lancang pada Ratu?

Kenapa….

Orabeoni, pa–panah di… pu–pung” ucap Cheong Yi terbata-bata dengan mata yang melotot sepenuhnya. “Pa–panahnya….”

Walau berbayang, masih bila kulihat wanita yang kucintai menangis kala menyusupkan jari-jarinya yang mungil ke balik lenganku. Dia memelukku erat, tersedu-sedu saat meraba panah yang tertancap di punggungku.

Panah sialan. Rupanya karena itu aku jadi seperti ini. Racun di matanya pastilah mulai menyebar di tubuhku. Biar bagaimanapun aku harus mencabutnya, namun terlanjur kusadari tanganku terlampau lemas untuk digerakkan. Maka dengan perlahan kubimbing tangan Cheong Yi untuk menarik panah dari punggungku. Rasanya pedih sampai aku perlu memejamkan mata dan menggigit bibir sewaktu ujung tajamnya yang menembus kulitku ditarik keluar. Setidaknya jadi terasa lega, karena tidak ada benda asing yang masuk ke tubuhku lagi dan aku bisa segera mengakhiri pelukan canggung ini.

Orabeoni!”

“Oh Yeongam[9]!”

Tanpa sempat kuperkirakan, aku telah tersungkur tanpa bisa merasakan apa pun begitu Cheong Yi melepas pelukannya. Racun sialan itu menyebar lebih cepat dari perkiraanku. Cheong Yi yang melihatku tumbang langsung berlutut, membaringkanku dalam pangkuannya. Raja dan beberapa anak buahku mengelilingiku dengan sorot khawatir.

“Yang Mulia, saya mohon tolong panggilkan tabib untuk Orabeoni!” pinta Cheong Yi yang mulai meraung dan menarik-narik jubah Raja lantaran panik akan kondisiku. “Sekarang! Cepat bawakan tabib!”

Lihatlah, dia bahkan berani menjerit kepada Raja, agar suaminya itu memerintahkan orang untuk menjemput tabib. Rasanya nyaris tidak bisa memercayai telinga dan mataku sendiri bila melihatnya begini. Di saat-saat seperti ini, aku baru bisa melihat sisi lain dari Park Cheong Yi yang sudah kukenal selama dua puluh delapan tahun hidupku.

Orabeoni, kau tidak boleh menutup matamu. Terus buka matamu, tabib akan segera datang dan mengobatimu. Orabeoni, kau dengar aku? Jawab aku, kumohon!”

Mataku mengerjap lemah, menyaksikan Cheong Yi bercucuran air mata. Mungkin tubuhku mati rasa, tapi hatiku tak pernah kehilangan rasa. Sekarang aku tahu apa yang paling tidak kusukai dari Cheong Yi. Aku benci melihatnya menangis, karena hanya akan membuat mata indahnya dipenuhi air. Aku ingin mengatakan semuanya, sayangnya lidahku terlalu kelu untuk digerakkan. Suaraku pun hilang entah ke mana. Maka aku hanya bisa mendengar dan melihat, tanpa bisa bicara ataupun menggerakkan seujung jari. Seperti purnama Hanyang.

Love, my love, my heartbreaking love ♫
I call and call out to you but my love is painful ♫

Belum pernah aku merasa selelah ini, sampai bernapas saja rasanya payah. Penat yang luar biasa datang bersama hawa dingin yang menjalari jangat, seolah sengaja membuai mataku untuk terpejam. Terlebih berbaring di pangkuan Cheong Yi amatlah nyaman. Pertanyaan konyol menguar di batinku. Apa seindah ini kehidupan seorang Raja yang bisa tidur di pangkuan Cheong Yi setiap kali dia ingin?

 Raja… tidakkah kau cemburu melihat permaisurimu menangisi dan memelukku seerat ini? Cih, bodoh.

Gumpalan darah segar tersedak keluar dari mulutku ketika tenggorokanku terasa terbakar. Terus berlanjut dengan muntahan-muntahan kecil yang menyemburkan darah, menjadikan hanbok Cheong Yi yang cantik jadi merah dan berbau anyir. Ah… sialan, keadaan ini menjijikkan dan tidak pantas untuk seorang Ratu.

Orabeoni!”

Benarkah hidupku yang menyedihkan akan berakhir begini? Di bawah sorot mata orang-orang yang mengasihani hidupku? Dasar Pecundang. Di saat-saat terakhir pun aku tak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang menyesak di dadaku selama ini. Oh Sehun, apa di masa lalu kau adalah seorang pengkhianat besar?

Apa dengan mati seperti ini takdirku di kehidupan mendatang akan lebih baik? Purnama Hanyang, masihkah kau enggan menjawab pertanyaanku kali ini?

Orabeoni… kumohon jangan pejamkan matamu,” mohon Cheong Yi yang tubuhnya sudah gemetaran. Dia menghujaniku dengan air mata. Terasa hangat, namun semakin menyakitiku. Tidak bisakah aku melihat senyumannya? Setidaknya untuk terakhir kali.

Dan si bodoh ini hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Mataku turut memanas, air mata mulai merebak dan mengaburkan pandanganku. Untuk pertama kalinya, aku begitu takut berpisah dengannya. Barangkali di langit sana ada yang sedang menertawaiku. Aku si sombong yang selalu berharap mati, sekarang mengerti betapa menakutkannya kematian. Semua hal yang pernah terjadi di hidupku satu per satu muncul bagai kilas balik dan hanya ada satu wajah yang kupandang sepanjang perjalanan hidupku yang singkat ini.

Park Cheong Yi. Satu-satunya yang tidak bisa kumiliki, meskipun wanita itu selalu ada di depan mataku. Dia tidak pernah beranjak, hanya saja aku yang tak pernah berani menerima tangan yang selalu terulur ke arahku. Bahkan untuk sekali. Aku sungguh menyesal telah melewati tahun-tahun di hidupku bersamamu sebagai seorang pecundang.

I love you to death ♫
I love you like crazy ♫

Aku benar-benar takut mati. Aku takut bila di kehidupanku yang mendatang aku tidak bisa bertemu dengannya. Atau bagaimana bila kami bertemu tapi tak saling mengenal? Aku terlalu takut tak bisa melihatnya untuk waktu yang lama… benar-benar bodoh.

Runtuh. Semuanya tak tertahankan. Perasaanku meledak dan tumpah bersama air mata yang menjelma jadi sungai duka di pipiku. Aku menangis tanpa suara dalam pelukan Cheong Yi yang semakin kuat. Tangan kecilnya membelai lembut wajahku, kemudian menyeka titik-titik air yang bergulir dari mataku. Belum pernah kulihat ia menangis sesedih ini. Bahunya berguncang keras dan sekujur tubuhnya gemetar. Wajah yang basah itu seperti berkata kepadaku, bahwa air matanya akan cukup untuk mengaliri sungai bermusim-musim.

Orabeoni, kumohon bertahanlah. Aku akan melakukan apa pun untukmu asal kau mau bertahan untukku. Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini. Untuk semua yang kaulakukan selama ini, seluruh hidupku bahkan tidak akan cukup untuk membayarnya. Aku akan melakukan apa pun, jadi bertahanlah….”

Aku ragu kau akan mampu mengabulkan permintaanku, Cheong Yi–ya.

Orabeoni, kumohon… aku mohon….”

Cheong Yi–ya, jangan menangis….

Semua ini akan dihitung sebagai dosa, Cheong Yi–ya. Menyaksikanmu menangis sekeras ini membuatku merasa tak pantas dan berdosa. Aku selalu merasa yakin bisa menjadi pria yang akan membahagiakanmu, tapi sekarang saja… kau sudah melara hati karenaku.

Aku mencintaimu, Park Cheong Yi. Kuharap hatimu bisa mendengar suara hatiku, karena kita begitu dekat. Setidaknya aku mensyukuri satu hal, untuk tidak berkhianat pada bangsa ini karena merebut wanita Raja. Aku akan menelan semuanya kembali dan menguburnya bersama jasadku.

Bila aku mati sebagai pengkhianat, kau mungkin akan menjalani kehidupan yang sulit sebagai Ratu dari negeri ini. Aku tidak ingin meninggalkanmu dengan penghinaan yang harus kautanggung untuk tinggal di sisi pria yang kaucintai. Lagi pula merebutmu dari sisi Raja, seperti melakukan dosa besar… karena itu berarti aku memisahkan seorang wanita dari cintanya.

Kupikir cintaku padamu tidak lebih besar daripada cintamu pada Yang Mulia Lee Yoon, karena hampir separuh hidupku kuhabiskan dengan mendengar sanjunganmu tentangnya. Cheong Yi–ya, kuharap kau akan tersenyum untuk membuat semua ini menjadi baik-baik saja….

Love, my love, my heartbreaking love ♫
I call and call out to you but my love is painful ♫
So I can only protect you even if I die ♫
Smile for me because I will be okay, please ♫

 

 

—Fin—

Glosarium :

[1] Seoul pada era Joseon

[2] Tempat tidur lipat

[3] Tuan

[4] Kakak/Panggilan “Oppa” pada zaman Joseon

[5] Bagian atas hanbok

[6] Tusuk konde

[7] Salah satu faksi politik di era Joseon

[8] Faksi pesaing politik Noron

[9] Panggilan lebih hormat untuk “Tuan”

 

Okay, ditunggu kritik, saran, ataupun reviewnya chingudeul, jangan biasakan jadi silent reader ya😀

18 thoughts on “M I R A G E — Joongie

  1. keren banget..
    aku suka pas bca di suguhi kata kata sangat puitis 😀
    Aku suka sekalii
    betapa menderita nya kamu hun tapi pengorbanan nya wajib di acungi jempol lho
    sayang sad ending…

  2. Ini nyesek, hiks. Gak bisa berkata-kata, maunya mewek aja. Kenapa jiwa melankolis ini jadi makin melo?😭
    Ceritanya Bagus, alurnya gak cepat gak lambat, dan diksinya patut diacungi jempol. Puitis.😍
    Mangat buat sehun, nanti pasti Purnama hanyang ngejawab kok/plakk/

    • Karena terpancing tulisan melo di cuaca galau kali 😄
      Thank you hihi, aku senang bisa dinilai dari segi alur juga >< ❤
      Purnama Hanyang ngejawabnya pas Sehun dah terbang ke langit X'D

    • Hihi thank you ❤
      Sebetulnya aku sempat salah menempatkan angka" di glosary tapi udah dibenarin jiakaka fyi 😄
      Iya sejak awal Sehun sudah tau cintanya itu sulit makin sulit lagi pas Cheong Yi jadi Ratu T.T

  3. Please jadiin ff chapter. Sumpah aku nangis bacanya, kerasa banget nyeseknya jadi Sehun. Kayaknya keren klo jadi ff chapter, diceritain dari awal gimana Cheong Yi sama Sehun dulu, gimana Cheong Yi bisa nikah sama Lee Yoon, terus sebenernya aku juga penasaran Cheong Yi ada perasaan gak buat Sehun? Atau ya cuma nganggep kakak. Meakipun sepupuan yakan siapa tau Cheong Yi juga tanpa dia sadari ada perasaan sama Sehun. Pokoknya ini harus banget jadi ff chapter.

    • Hikiki thank you senang feelnya bisa sampai ❤
      Jadi kalau dibikin chapter semacam flashback awal mula hubungan mereka gitu ya? :3
      Apa gpp semua ceritanya berlatar Joseon, ngga mau maju ke era modern aja? 😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s