[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On]

photogrid_1480225269408

 

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 3

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

*Hyojin POV*

 

“Kalian mau dengar cerita seram?”

 

Aku mendengus, agak kesal dan heran karena ketua masih mempertahankan acara konyol ini. Kami dikumpulkan ditengah lapangan, diminta duduk mengelilingi api unggun lantas dipaksa mendengarkan cerita seram yang dia dapat dari blog horror kesukaannya. Hahaha, masih sama seperti tiga tahun yang lalu ketika aku masih menjadi mahasiswa baru di jurusan psikologi…

 

BAHKAN CERITANYA JUGA SAMA!.

 

“Grrrr, apa dia tidak bisa menceritakan kisah lainnya?… ugh, aku sampai mual mendengar cerita ini.” Keluhku, bertopang dagu seraya menatap sinis kearah pria bertubuh gempal yang sudah seenaknya memborgolku dengan Park Chanyeol ini!.

 

“Kenapa? Ce-ceritanya terlalu menakutan ya?… tidak kan?”

 

Huft, aku hampir lupa kalau Rae Mi sedang duduk disampingku, merangkul lengan kananku yang bebas dari borgol dengan muka pucat. Kasihan, disaat ada pria bertubuh seperti raksasa sedang menceritakan kisah seram yang dia benci, disampingnya malah duduk sosok manusia berwajah kejam dengan seringai kakunya itu. Aku bahkan masih tidak percaya kalau Yongguk juga takut pada hantu.

 

“Rae Mi-ah!” aku sedikit meninggikan suara supaya Yongguk juga bisa mendengar suaraku, senyumku mengembang ketika Rae Mi menoleh.

 

“Ke-kenapa?”

 

“Kau tahu, saat kita bercerita atau mendengar cerita soal hantu… maka, ‘mereka’ pun akan datang dan mendengarkannya bersama kita…”

 

Berhasil!, tubuh Rae Mi menegang dan cengkramannya pada lenganku semakin kuat. Aku berusaha menahan senyuman sampai pipiku kaku seperti wajah Yongguk saat ini.

 

Sunbae-nim!”

 

Aku terkejut dan sempat terjungkal kebelakang. Apa-apaan Park Chanyeol ini? buat apa dia sampai berteriak segala sambil mengacungkan tangan?. Huh, seperti anak SD yang menjawab antusias saat diberi pertanyaan oleh gurunya!, benar-benar kekanakan, bagaimana bisa Rae Mi pernah jatuh cinta pada pria seperti ini? heol!.

 

‘Sadar diri. Kau juga sedang jatuh cinta padanya!’

 

Kata hati sialan!.

 

“Eoh, Kenapa Chanyeol-ah?”

 

Chanyeol tersenyum dulu sebelum menjawab, “Hyojin bilang punya cerita yang lebih seram!”

 

Hahahaha! Dia bilang aku punya cerita -tunggu dulu!. BARUSAN DIA BILANG APA?!.

 

“Wah, wah, wah, Lee Hyojin sudah lebih hebat dari aku ya?”

 

Sial! Sial! Sial!, sekarang ketua Jang akan lebih marah lagi padaku. Si telinga lebar ini mau balas dendam karena tangannya ya? Dia ingin aku mati ditangan master taekwondo yang baru kembali dari cuti wamil ya?!.

 

“Baiklah, kalau kau punya cerita seram YANG LEBIH BAIK DARIKU kau bisa maju sekarang dan biarkan junior-juniormu mendengarkannya.”

 

Aku berdecak sebal seraya menatap Chanyeol tajam, yang ditatap malah tidak peduli seraya tersenyum puas karena sudah mengerjaiku. Karena tak kunjung memenuhi panggilan ketua Jang, dia menggerakan tangan kirinya, seolah mempersilahkanku agar segera maju. Tapi mungkin karena kesakitan, dia ganti mencoba menggunakan tangan kanannya untuk mendorongku kedepan dan akhirnya dia sadar lalu mendelik kearahku.

 

TANGAN KITA SEDANG DIBORGOL, DASAR PARK IDIOT!.

 

“Kau ini bodoh atau punya gangguan mental sih?”

 

Dia tak menjawabku, cuma bisa merutuki diri sendiri. Padahal dia yang minta untuk menyembunyikan borgol ini, merelakan dirinya kedinginan dengan melepas jaket dan menggunakannya sebagai penutup ditangan kami. Sekarang dia yang membunuh dirinya sendiri. Bagus, bagus… mari mengheningkan cipta bersama-sama atas meninggalnya otak Park Chanyeol.

 

*Author POV*

 

“Aku mau ke toilet.” Ucap Chanyeol ketus, berjalan menuju toilet dengan langkah cepat tapi pergerakan Hyojin menghentikan langkahnya sementara.

 

“Tapi aku mau ke dapur umum!”

 

“Yak!, kamar mandi lebih penting!. Aku harus buang air kecil!”

 

Hyojin mendengus, menatap langit sebagai ganti wajah Chanyeol. Dia begitu marah sampai tak mau melihat langsung pada pria tinggi yang tengah berhadapan dengannya.

 

“Dan aku harus makan, kalau aku tidak makan aku bisa kelaparan, lalu jika aku kelaparan aku bisa mati… KAU MAU AKU MATI KARENA LAPAR?!”

 

“Wah, sudah gila ya?!” umpat Chanyeol kesal, “Kau bisa menunda makan tapi tidak boleh menunda untuk buang air kecil… KAU MAU AKU KANDUNG KEMIHKU PECAH?!”

 

“Yak! yak! yak!, mau sampai kapan kalian bertengkar seperti itu?!”

 

Jong In yang tak tahan dengan pertikaian antara Chanyeol-Hyojin pun memutuskan bersuara setelah lama berdiam diri dan cuma bertindak sebagai penonton. Pria itu berdecak sebal lantas mengeluarkan ponsel untuk bermain game, sekedar pengusir bosan karena tak bisa tidur.

 

Sama seperti Jong In, Sehun pun tak bisa terlelap dimalam pertama perkemahan musim panas kali ini. Bukan karena tak terbiasa tidur ditenda yang pengap dan banyak nyamuknya, melainkan karena pertengkaran dua orang yang ia kenal itu bisa terdengar sampai radius seratus meter, tempat tendanya berdiri. Dan daripada tersiksa sendiri, Sehun mengajak Himchan, Jun Hong, Yongguk dan Rae Mi untuk turut menyaksikan adegan drama komedi menyebalkan antara sepasang muda-mudi yang masih belum jelas hubungannya itu.

 

“Hooaam~ Hyojin-ah… bisa tidak sudahi saja berkelahinya?” tanya Rae Mi dengan mata tertutup, kantuknya menyerang tapi Sehun tak akan mengizinkan siapapun diantara mereka berdelapan untuk tidur duluan. Tidak sebelum Hyojin dan Chanyeol bisa tenang.

 

“Hyojin -ah tidak, Hyojin noona… bisa tidak kau kesampingkan emosimu dahulu?” Jun Hong yang sudah menghabiskan lima kaleng kopi pun angkat bicara. Bahkan memanggil Hyojin dengan sebutan ‘noona’ yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

 

“Benar, benar!” timpal Himchan, “Biarkan Chanyeol ke toilet dulu baru setelahnya dia akan mengantarmu ke dapur umum!”

 

Chanyeol menggelengkan kepalanya tanda tak setuju atas ide dari Himchan. “Kenapa juga aku harus mengantarnya ke dapur umum?!”

 

Himchan berdecak sebelum berteriak, “KARENA TANGAN KALIAN DI BORGOL, BODOH!” lantas mendapat amukan dari mahasiswa lain yang terganggu olehnya.

 

“Yak! cepat ke toilet, lalu dapur, dan kembali lagi kesini agar kami bisa melihat perkelahian kalian sampai mati!” rutuk Yongguk tak sabaran.

 

“Wah, jadi sekarang kalian semua berpihak pada Park Chanyeol ini ya?” Hyojin mendelik tak percaya, “Aku merasa dikhianati!”

 

Lima orang yang sedang berkumpul itu berdecak seraya menggerutu tak karuan karena Hyojin tak segera melakukan apa yang mereka pinta, malah emosi sendiri padahal niat mereka cuma ingin segera tidur tenang tanpa perlu mendengar teriakan dua orang yang tangannya diborgol itu. Apalagi tingkah Sehun yang cuma diam seraya menatap Chanyeol-Hyojin dengan tajam membuat mereka makin tak nyaman.

 

“Arrrgh terserah! Aku tak bisa menahannya lagi!”

 

Tanpa menunggu persetujuan Hyojin Chanyeol segera pergi ke toilet, membiarkan Hyojin berjalan tertatih-tatih menyamakan langkahnya dengan pria itu. Ia berhenti sejenak ketika sudah sampai didepan toilet umum, membiarkan Hyojin mengumpat sesukanya sementara dia berfikir, toilet mana yang harus dia masuki bersama seorang gadis?!.

 

“Aku bahkan tak tahu apa kesalahanku sampai harus dihukum bersama gadis aneh ini!” gumam Chanyeol pada diri sendiri.

 

“Yak! aku dengar itu.” Sayangnya Hyojin bisa mendengarnya dengan jelas. “Kau mau masuk ke toilet pria?. Tak masalah!, pergi saja.”

 

“Lalu kau?”

 

“Yang mau buang air kecil kan kau, bukan aku.”

 

“Kau mau masuk ke toilet pria?. Aku tahu kalau sekarang sudah malam dan jarang ada yang pergi ke toilet… tapi coba bayangkan apa pendapat mahasiswa yang mendapatimu berada disana!”

 

Hyojin mendengarkan ‘ceramah’ Chanyeol dengan setengah hati, menoleh ke kanan sambil memainkan daun telinganya tak peduli. “Jadi kau mau masuk ke toilet wanita?”

 

Chanyeol terdiam, tak bisa menolak atau mengiyakan pertanyaan Hyojin. Dia tak mau mempermalukan diri sendiri, tapi tak ingin Hyojin merasa tak nyaman pula.

 

“Ya ampun… lama sekali berfikirnya. Ayo!”

 

Kali ini giliran Hyojin yang menarik Chanyeol menuju toilet pria, mengabaikan pandangan dari beberapa wanita yang baru keluar dari toilet sebelah, bahkan masih bisa menyapa rekan panitia yang sedang buang air kecil. Hyojin berhenti pada salah satu bilik yang kosong, mempersilahkan Chanyeol masuk dan membiarkan dirinya menunggu tepat diluar bilik dengan pintu yang tidak menutup sempurna karena terhalang borgol.

 

“Jangan mengintip, oke?”

 

“Kau anggap aku perempuan macam apa?!”

 

Chanyeol tersenyum mengejek di dalam bilik kamar mandi, “Memangnya kau itu perempuan huh?. Dengar ya, tidak ada wanita yang dengan entengnya masuk ke toilet pria bahkan menyapa orang-orang di dalamnya.” Ejek Chanyeol setelah mengosongkan isi dari kandung kemih yang sedari tadi ia bicarakan.

 

“Benar, aku tak pantas dianggap sebagai wanita.”

 

Nada bicara Hyojin yang berubah membuat Chanyeol merasa bersalah, menganggap bahwa gadis itu pasti sudah salah paham dengan candaannya tadi. Pria itu berbalik dan hendak keluar dari bilik untuk menjelaskan tapi borgol yang tiba-tiba terlepas dan pintu yang menutup dengan sempurna mampu menghentikan kegiatan Chanyeol.

 

“Hyojin-”

 

“Akan aku pastikan Sehun dan Jong In tak mengganggumu dengan gurauan tak bermutu mereka lagi.”

 

“Lee Hyojin-”

 

“Dan aku akan bilang pada ketua panitia agar tak menghubung-hubungkanmu denganku lagi. Karena… kau tahu Park Chanyeol, kita memang tak ada hubungan apapun bukan?”

 

Chanyeol membuka pintu bilik dengan kasar dan terkejut melihat mata Hyojin yang mulai berkaca-kaca. Hyojin pun ikut terkejut lantas segera berlari keluar tanpa menunggu Chanyeol mencegahnya atau meneriakkan namanya agar berhenti.

 

“Kenapa sensitif sekali sih?!” kesal Chanyeol, mengacak rambutnya sebal lalu turut keluar setelah mencuci tangannya.

 

***

 

“Bodoh! kenapa aku malah bicara tak karuan sih?!”

 

Hyojin mengacak rambutnya, lantas duduk menyandar pada tembok samping toilet yang sepi. Gadis itu memeluk lutunya sendiri, menunduk dalam sampai lehernya terasa sakit.

 

“Kau dengar tadi? Suaranya terdengar dari bilik kamar mandiku loh!”

 

“Iya, wah, ternyata Hyojin gadis yang semacam itu!”

 

Hyojin mendongak begitu mendengar ada suara lain selain desahan nafasnya yang belum teratur sejak berlari meninggalkan Chanyeol.

 

“Maksudmu?”

 

“Yah, dia harus merendahkan harga dirinya seperti itu demi seorang pria!”

 

Ia mendapati tiga orang mahasiswi yang sedang merokok tak jauh darinya, sedang membicarakan Hyojin tanpa sadar bahwa sang ‘tokoh utama’ tengah berada didekat mereka.

 

“Hahahaha… bukankah itu keterlaluan?. Dia kan cuma mengungkapkan perasaannya saja setelah diperlakukan tak adil oleh Chanyeol sunbae.”

 

“Cuma? Setelah kata-katanya minggu lalu kepada kita?. Kau tidak ingat bagaimana gadis itu memaki kita karena sudah mendekati Oh Sehun?”

 

“Benar! Dia pantas mendapatkannya!”

 

Hening. Mereka berhenti menghisap rokoknya, bahkan sempat berhenti bernafas saat Hyojin sudah berdiri didepan mereka dengan senyuman miring, menatap sinis tiga gadis berpakaian minim itu seraya memasukkan kedua tangan dalam saku jaketnya.

 

“L-L-Lee Hyojin?”

 

Hyojin menyeringai, “Tidak. Kalian yang pantas mendapatkan makian dariku.” Ucapnya dingin.

 

“Wah! Lihat siapa yang berbicara, gadis tengik yang baru saja ditolak oleh Chanyeol sunbae!”

 

Tangan Hyojin terkepal dibalik saku jaketnya. Tak ingin terpancing oleh tiga gadis murahan yang sudah merayu sahabatnya, Sehun, juga menghina dirinya.

 

“Kau dan kami, apa bedanya?. Hanya karena kau tak merokok dan minum minuman keras, bukan berarti kau berbeda dengan wanita yang kau anggap murahan seperti kami!” salah seorang gadis mendekati Hyojin, tanpa aba-aba menarik rambutnya lalu dua lainnya ikut membantu menghajar Hyojin dengan keroyokan, tanpa membiarkan korbannya membalas atau bahkan mengelak dari serangan mereka.

 

Meski dalam keadaan terdesak, Hyojin tak mau diam dan pasrah. Gadis itu tetap berusaha membalas pukulan bertubi-tubi dari tiga gadis berbau asap rokok itu. meski rambutnya kesakitan dan mulai rontok karena dijambak, atau punggungnya yang sakit karena ditendang habis-habisan, Hyojin masih berupaya untuk mengalahkan tiga orang sekaligus. Sebisa mungkin ia keluarkan suaranya dengan lantang, berteriak meminta tolong pada siapapun yang mendengarnya, bukan menunjukkan kelemahan, tapi strateginya agar tidak dicap sebagai pelaku.

 

“Kenapa? Sudah menyerah? Kenapa tidak sekalian kau memohon pada kami untuk diampuni?”

 

Hyojin tersenyum meremehkan, “Aku? Menyerah?. Hahaha… langkahi dulu mayat Kim Jong In baru bilang aku menyerah!” ujarnya kemudian melancarkan aksi tendangannya, tak peduli siapa yang kena, yang penting ada yang tumbang dari tiga wanita jahat itu.

 

Sementara itu Jong In bersin dengan keras tanpa alasan yang jelas sampai ludahnya mengenai muka Sehun yang masih sebal karena tidurnya terganggu.

 

“Ah, maaf, maaf…” kata Jong In sambil membersihkan wajah Sehun, “Kenapa Hyojin dan Chanyeol belum kembali ya?”

 

“Bukankah itu Chanyeol?”

 

Jong In menoleh pada arah yang dilihat Himchan. Chanyeol berjalan sendirian, dengan tangan kiri yang masih dibalut perban dan borgol yang melingkar ditangan kanannya. Masih sama seperti tadi, bedanya tak ada Hyojin disamping Chanyeol.

 

“Eoh? Borgolnya sudah lepas?”

 

Chanyeol mengangguk dan duduk disamping Himchan, “Aku juga tidak tahu bagaimana. Tiba-tiba saja terlepas, kurasa Hyojin menggunakan kekuatannya untuk melepas ini.” Ia mengangkat borgol yang bergelantungan ditangannya.

 

“Kalau aku bisa melepas bagianku, maka aku tak perlu repot dengan benda ini la-”

 

“Dimana Hyojin?”

 

Chanyeol menatap Yongguk yang barusan bertanya padanya, “Entah. Setelah borgol ini lepas, dia bicara tak jelas lalu pergi. Kukira dia sudah kembali…”

 

Jong In bersandar pada Sehun yang sudah lebih baik dari sebelumnya, setidaknya pria tampan itu sudah tak menatap siapapun dengan pandangan tajamnya.

 

“Mungkin dia sedang bersenang-senang di dapur umum. Kau tahu kan, gadis itu hobi makan.”

 

Yongguk berdiri, membiarkan kepala Rae Mi yang bersandar di bahunya jatuh dan terantuk pinggiran kursi. Beruntung gadis itu tertidur lelap dan tak menghiraukannya.

 

“Mau kemana kau?” tanya Jong In.

 

“Menjemput Hyojin, aku punya firasat buruk.” Jawab Yongguk lantas pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

 

Chanyeol terus memperhatikan pria itu, mengangkat sebelah alisnya heran serta mencibir.

 

“Firasat buruk apanya?. Paling-paling dia cuma mau berduaan dengan Hyojin.”

 

“Kalau kau sebegitu khawatirnya, mengapa tidak menyusul sekalian?”

 

Chanyeol mendengus perkataan Himchan yang bahkan diucapkan tanpa melihat kearahnya, sibuk menyelimuti Jun Hong yang tertidur disampingnya. “Untuk apa aku khawatir…” pandangannya beralih pada Rae Mi yang merubah posisi tidurnya. Chanyeol diam dan memperhatikan gadis itu dalam diam, lantas meraih jaket Sehun yang tergeletak ditanah. Ia sampirkan jaket itu pada tubuh Rae Mi, mencegah udara dingin yang mengganggu tidur lelapnya.

 

“Mimpi indah… Kang Rae Mi.”

 

***

 

Hyojin menghirup oksigen sebanyak mungkin sampai memenuhi paru-parunya, membiarkan nafasnya terengah karena lelah. Tiga gadis itu mengerang kesakitan, terkapar ditanah dengan luka yang tak sebanding dengan tubuh Hyojin yang sudah babak belur. Hyojin mengusap bibirnya, meludah ketika darah yang berbau anyir hampir tertelan olehnya.

 

“Ini masih belum cukup…” ujarnya dengan suara sedikit bergetar, “…jika tak ada hukum yang mengatur soal pembunuhan, aku sudah melempar potongan tubuh kalian kedalam kloset agar bercampur dengan kotoran-kotoran itu!”

 

“Apa-apaan ini?!”

 

Ketua Jang datang bersama lima orang pria yang merupakan bawahan pria gempat itu. Mengenali suara berat tersebut, tiga gadis itu berusaha bangun sambil menangis ketakutan, bersikap sebagai korban dari keganasan Lee Hyojin yang terkenal melakukan apapun saat marah.

 

Sunbae…”

 

Pria-pria itu segera menghampiri tiga gadis yang terluka itu, sementara ketua Jang mendekati Hyojin, bertanya tentang keadaannya dan apa yang telah terjadi.

 

“Mereka-”

 

“Ka-kami mendapati Hyojin merokok disini, karena itu kami menegurnya. Mungkin karena mabuk dia malah menyerang kami lalu… lalu… hiks…”

 

Hyojin mendengus tak percaya, menatap marah pada tiga gadis itu. Mereka yang sudah menghinanya, lalu mengeroyoknya sampai babak belur, dan sekarang apa? Mereka malah menuduh bahwa Hyojin yang bersalah.

 

“Benarkah itu Hyojin?” ketua Jang bertanya, memastikan apakah cerita dari tiga gadis itu benar atau Hyojin punya versinya sendiri. Tapi lima pria lainnya sudah terlanjur menganggap Hyojin yang urakan itu sebagai pelakunya, percaya pada kenyataan yang diputarbalikan. Mereka ikut menyalahkan Hyojin, tanpa menyadari gadis-gadis yang mereka bela tengah tersenyum puas.

 

Ketua Jang mengambil putung rokok yang tercecer ditanah, melirik Hyojin lalu mempertanyakan lagi apakah itu miliknya.

 

“Bukan.”

 

“Bohong! Pasti kau merokok kan?. Lee Hyojin, kami tahu kalau kau tidak normal, tapi apa kau harus tega menyakiti gadis yang lebih lemah darimu?!”

 

Hyojin mendecih, mencibir tuduhan dari salah seorang panitia.

 

“Ya, aku tidak normal. Aku tidak normal sampai orang-orang menganggapku idiot karena tak bisa meminum soju segelas pun!, aku tidak normal karena ketika menghisap asap rokok pun aku langsung muntah!” dia tertawa miris, “Benar, aku yang menghajar mereka, aku yang membuat mereka terluka seperti itu sampai tubuhku sendiri babak belur seperti ini! kalian puas?!”

 

Ketua Jang terdiam, tak perlu meneruskan pertanyaannya lagi, dia sudah paham bahwa Hyojin tak bersalah. Tapi tidak dengan lima pria lainnya.

 

“Si-siapa yang akan mempercayai ucapan gadis gila sepertimu, huh?!”

 

“Aku.”

 

Kedatangan Yongguk mengejutkan siapapun yang sedang berkumpul disana.

 

“Aku percaya ucapan gadis gila ini. Apa kita perlu melakukan voting untuk menentukan siapa yang bersalah?. Atau perlu kuhubungi kantor ayahku dan menjadi pengacara untuk gadis gila ini?”

 

“Tak perlu.” Jawab ketua Jang santai, ia membuang putung rokok itu dan menginjaknya kuat sampai bercampur dengan tanah. “Cukup kau bawa gadis gila itu ke pos kesehatan untuk diboati luka-lukanya. Pastikan dia berada pada pos terpisah dari tiga gadis bermasalah itu.”

 

Lima panitia itu serta gadis-gadis yang dimaksud kaget setelah mendengar perkataan ketua Jang. Pria gempal itu sendiri pergi setelah mencatat nama tiga gadis yang sudah merokok dan berkelahi dengan Hyojin tersebut.

 

***

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Hyojin tersenyum, “Senangnya mendengar itu dari mulut Bang Yongguk~” tertawa pelan, mengabaikan lukanya yang terasa perih ketika angin dingin menerpa kulitnya.

 

“Heh! Aku bertanya begitu karena kau adalah asset bisnis grup Jaeguk.”

 

“Sialan!, aku bukan cucu Lee Dae Ryeong keparat itu lagi, semua warisannya akan jatuh pada Rae Mi jadi dia yang akan menanggung beban itu sekarang.”

 

Yongguk menghembuskan nafas berat, menatap langit yang tak berbintang.

 

“Darah lebih kental dari air. Kau tak bisa menghapus hubungan keluarga hanya karena kau ingin.” Sorot matanya berubah menjadi sendu, “Setidaknya itu yang aku harapkan selama ini.”

 

Hyojin tersenyum miris menanggapinya. Ia tahu maksud Yongguk, tapi tak bisa mengatakan apapun untuk menasehatinya, sama seperti dulu saat Yongguk sangat membenci keluarga ayahnya dan tak terima atas perlakuan ibunya yang ia anggap sudah membuangnya itu. Dia sudah tak bisa menceramahi pria itu lagi karena posisi Hyojin pun tak lebih baik dari keadaan Yongguk.

 

Meski sudah bertemu dengan orangtuanya, dia masih harus bersembunyi dari mata-mata kakeknya. Kadang Hyojin harus menginap ditempat lain agar Lee Dae Ryeong tak tahu bahwa Hyojin sudah bertemu dengan keluarganya lagi, membuatnya tak bisa seratus persen memiliki waktu bersama keluarganya.

 

“Empat tahun berlalu dan masih belum ada perubahan signifikan dari kehidupan kita.” Lirih Hyojin.

 

“Haaah~ suasana macam apa ini?. cha! Bagaimana kalau kita memainkan suatu game?”

 

“Game? What kind of game?”

 

“Kadang aku tidak suka saat kau mulai bicara dengan bahasa lain.”

 

Hyojin berdecak sebal, “Kau ini seperti Park -ah! Lupakan. Mau main permainan apa?”

 

“Truth or Dare…”

 

“Tidak mau!”

 

Hyojin berjalan mendahului Yongguk seraya memasang earphone ditelinganya untuk mendengarkan lagu. Tapi Yongguk segera mencegahnya dengan menarik benda tersebut dan menyimpannya disaku celana.

 

“Yak!”

 

“Dengarkan dulu, kali ini berbeda. Kau bisa tanyakan apapun padaku, dan aku jawab dengan sebuah kebohongan… bagaimana?”

 

“Oke. Kita mulai sekarang agar ini segera berakhir.”

 

Yongguk tersenyum puas. “Kau pasti terkejut dengan permainan ini.”

 

Hyojin balas tersenyum jahil ketika terlintas berbagai pertanyaan yang akan menyudutkan Yongguk.

 

“Apa ada gadis yang kau suka?”

 

“Tidak.”

 

Senyum Hyojin semakin lebar, jawaban Yongguk adalah kebohongan dan artinya ada gadis yang sedang dia sukai sekarang.

 

“Siapa gadis itu?”

 

“Jujur, aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Cari pertanyaan lain.”

 

Hyojin mengerucutkan bibirnya sebal, melihat itu Yongguk tertawa mengejek sambil mengacak rambutnya gemas.

 

“Oke, oke, selanjutnya… apa kau membenciku?”

 

Yongguk berhenti berjalan, membuat Hyojin ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu sibuk menerka jawaban Yongguk, berfikiran bahwa pria tersebut pasti sangat membencinya sampai tak bisa menjawab dengan tegas.

 

“Tidak. Aku menyukaimu, entah sejak kapan tapi perasaan itu tumbuh semakin dalam… sampai aku menyadarinya bahwa aku menyukaimu, ah tidak… aku mencintaimu.”

 

“Yo-Yongguk-ah…” mata Hyojin berkedip beberapa kali karena kaget, “Kau pasti… sangat membenciku ya?”

 

Yongguk tak menjawabnya, ia biarkan Hyojin berjalan mendahuluinya sambil mengomel kesal karena menganggap jawaban Yongguk adalah sebaliknya, sesuai dengan permainan yang mereka mainkan dimana Yongguk sendiri yang membuat permainan modifikasi dari truth or dare tersebut.

 

“Pada akhirnya, sebesar apapun aku mencintaimu… Park Chanyeol adalah nama pertama yang kau ingat meskipun hanya ada kita berdua.”

 

 

 

~To Be Continue~

 

 

Annyeong readers-deul~

Apa kabar? Semoga baik-baik dan sehat-sehat saja. Sebenarnya author mau gak update dulu karena kondisi kesehatan yang memburuk huhhuhu~ kalian juga jangan sampai sakit di cuaca yang gak pasti ini yeth~~

Karena author bikin ceritanya pas lagi sakit, jadi mungkin ceritanya agak kurang pas gitu… jadi mohon kemakluman dari pembaca sekalian dan ditunggu kritik sarannya juga. Abis, udah lama gak nulis lagi setelah lama hiatus. Oh iya untuk memperjelas lagi. FF THE ONE PERSON IS YOU [RE : TURN ON] ini adalah LANJUTAN dari season 1 dan GANTINYA dari season 2 yang author anggap gagal. Jadi yang author tulis di season 2 gak ada hubungannya di chapter Re : Turn On ini.

 

Soal Myungsoo dan Jiyeon? Mereka masih dirahasiakan bakal ada atau nggak disini karena ceritanya juga masih dalam proses ongoing, beda kayak season 1 yang udah separuh author bikin sebelum di posting. Jadi tunggu aja kelanjutannya kalau penasaran sama dua cast astral itu kekeke~

 

Oh iya, author kasih penjelasan lagi yeth kalau bagian kamping musim panas ini merupakan ide dari pembaca yang pernah komentar soal idenya di season 1. Author lupa ID alias namanya jadi kalau ada yang merasa author mau bilang kalau ide kamu udah kepakek di Re : Turn On ini yeth~ makasih loh idenya kekekeke~

 

Okelah, kalau gitu RCL Juseyooooo~~~~

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On]”

  1. Kenapa chanyeol jadi perhatian sama raemi??? Lah bukannya khawatir sama hyojin jugaa. Kasian kan dia abis digebukin(?) gitu sana junior yang ga tau malu itu 😬 kurang bikin rasa bersalahnya chanyeol dah kak. Sepertinya seru dah pas yongguk ngungkapin perasaannya chanyeol denger gitu. Biar tau sebenernya dia masih ada rasa sama raemi apa udah punya rasa buat hyojin gitu. Yaa meskipun chanyeolnya emang kelewatan banget ga peka nya 😒
    Ngomong2 kata2 terakhir yongguk itu dalem loh kak –bagi aku–
    Btw ini ID baru aku ya kak setelah sebelumnya pake nama Chan hehe

  2. Akhirnyaaa update lagi
    Chanyeol sebenernya suka sama siapa sih ke Raemi iya, ke Hyojin kayaknya iya tapi kok jahat bangett

    Aku jadi kasian sama bang yongguk
    Hyojin sama yongguj aja lah kak daripada sama chanyeol yang gak jelas arah nya
    Baper sama kalimat terakhirnya yongguk 😢
    Lanjutt ya kak semangattt

  3. Ahahaha… akhirnya update jugaa
    Aduhh nungguin next chap’nya loh akunya
    Seneng udah dipublish dan bisa baca lagi deh
    Haduhh gemes sm chanyeol, pengennya nginjek” dia aja. Udah tau kalo’ hyojin mau nangis,, eeh malah ga dikejar *dasar!!* malah ngeliatin raemi tidur 😦
    Poor hyojin… kasian dikatain ga normal. Haduu sedih bacanyaa 😥
    Kok yongguk bohong sih.. tapi aslinya memang suka bener kan sama hyojin kan?
    Pliss dipanjangin lagi.. chap ini kurang panjang, biasanya kan panjang 🙂
    Gws authornya smga cpt sembuh 🙂 dan bisa nglnjutin ff ini
    Ditunggu next chapternyaa

  4. GWS ya author .. jaga kesehatan ya selamat atas kambek nya the one person is you .

    udahlahh aku gak suka kalau chanyeol merhatiin rae mi.
    saking sebelnya sma chanyeol rela hyojin sma yongguk
    malah aku mau banyakin moment hyojin-yongguk nya biarr chanyeol liatt gimana perasaan nya ya kalau s tiang listrik punya perasaan.
    terus agak bosen kelakuan chanjin selalu berantem melulu..

    aku harap suatu saat nanti sifat hyojin berubah gak se rusuh ini. bisa normal dan membuat perubahan gitu 🙂

  5. yah yongguk licik banget, pdhl jujur itu mah.hisss . .ntar hyojin salah paham lg..udh ditolak chanyeol dibenci pula sama yongguk…
    chanyeol jg msh sempet” nya merhatiin raemi… aku jadi mikir yaa dari season 1.. tiap kali hyojin lg kepepet gtu pasti yongguk yg nyelametin.. bukan chanyeol.. jg bukan duo sahabat hyojin.. taunya pasti telat..
    jadi bingung sma hubungan mreka” ini..

  6. akhir x ff yg pling aku tunggu* di next jga.. Cerita x tmbh seru, di next again ya thor dan klo bsa lebih panjang lagi cerita x biar tmbh seru 😉 ^^ and fighting buat author x.. Smga sehat selalu dan jgn lama* ff x di next oke.. Annyeong ^^

    2016-12-16 10:52 GMT+08.00, EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s