[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 23)

draft.jpg

 

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer
2016 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Find my another story – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 22]

-23-

 

Matahari sama sekali belum nampak di kaki horizon timur. Jangankan matahari, fajar pun belum menyingsing memulai pagi. Namun Irene merasakan pintu kamar asramanya telah dibuka lebar. Jam weker di atas nakas masih teronggok tak berdering. Sebuah suara khas Kepala Asrama membangunkannya. Gadis itu lantas terperanjat –takut-takut telah membuat kesalahan. Dia mengucek mata, menatap wanita paruh baya di samping ranjangnya dengan bingung.

“Berkemaslah. Kau akan pulang bersama ayahmu.” Ucapnya. Irene termangu kebingungan. Dia berpikir bahwa itu masih bagian dalam mimpinya.

“Ayo, Irene. Ayahmu menunggu.”

“Eh? Apakah ini serius? Bukan mimpi?”

Wanita itu terkekeh ringan, “Astaga, Irene. Ini serius. Kau akan mendengar penjelasannya di kantorku bersama Kepala Sekolah. Sekarang cepatlah kemasi barang-barangmu. Tuan Bae sudah datang satu jam yang lalu.”

Respon Irene masih sama, tak bergeming sama sekali. Mulutnya sedikit terbuka. Butuh beberapa detik hingga akhirnya dia percaya bahwa itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Dia pun bergerak dari tempat tidur, segera mengemasi semua barang miliknya.

Tak sampai 30 menit, Irene sudah siap bersama semua barang bawaannya. Matahari mungkin masih merangkak naik menuju langit, namun wajah Irene sudah secerah pagi. Apapun alasannya dia pergi dari tempat itu, dia tak peduli. Yang terpenting adalah ayahnya akan membawanya pulang.

“Irene?” sebuah sahutan parau terdengar di belakangnya tepat ketika Irene baru melangkah menuju pintu. Dia pun menoleh, membalas tatapan bingung teman sekamarnya.

“Kau mau kemana?” tanyanya lagi sembari mengucek mata.

Irene tersenyum, “Aku akan pulang. Ayah sudah menjemputku.”

“Pulang?”

Gadis itu mengangguk mantap, “sampai jumpa, kawan. Terima kasih sudah berbagi kamar denganku.”

Tanpa menghiraukan temannya yang kini masih tertegun, dia segera keluar dari sana. Turun menuju lantai 1 –kantor Kepala Asrama.

Di ruangan itu sudah ada Kepala Sekolah, Tuan Bae, dan Kepala Asrama. Irene masuk dengan hati-hati, menatap satu-persatu orang-orang yang berada di sana. Lantas Kepala Sekolah menjelaskan situasinya bahwa nilai-nilai Irene tidak cukup memuaskan bagi ayahnya. Irene juga sudah tercatat membuat banyak sekali pelanggaran dalam waktu setengah semester saja. Dan itu membuat Tuan Bae cukup khawatir jika anaknya tidak akan memenuhi syarat untuk melanjutkan pendidikan di Amerika nanti. Jadi terpaksa, dia menarik Irene kembali dan membiarkan anaknya memilih apa yang dia inginkan.

Namun tentu saja, tidak murah harganya. Sang ayah memberi peringatan untuk yang terakhir kalinya, ketika keduanya sudah di dalam mobil dalam perjalanan menuju Seoul.

“Kau boleh lakukan apa yang kau ingin lakukan selama satu tahun masa akhir sekolahmu. Dengan 2 syarat; raih nilai terbaik. Dan turuti apa keputusanku setelah kau lulus nanti.”

Seketika saat mendengarnya, Irene menjadi bimbang. Apakah jika seandainya dia tidak berhasil mendapat hasil terbaik di sekolah asrama, akan membuat dia tetap di Korea dan bisa memilih Universitas yang bisa dia masuki? Atau akan tetap sama saja dengan keinganan awal ayahnya? Tapi, baiklah. Untuk saat ini, Irene tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dia harus menghadapi masa akhir sekolahnya bersama Sehun dan Kai. Bukankah sesederhana itu saja yang dia inginkan?

“Setuju?” sahut ayahnya kembali memastikan.

Irene mengangguk. “Ayah bisa mempercayaiku kali ini.”

XxxX

 

Dengan status naik kelas yang Irene dapatkan di sekolah asrama itu, cukup membuatnya untuk tidak usah mencemaskan soal semacam itu. Irene kini berada di kelas 3-2, tepat di samping kelas Sehun dan Kai.

Hari pertama terasa menyenangkan bagi Irene. Dia seperti mendapatkan semangat terbesar. Untuk pertama kalinya, dia mengambil alih satu kursi terdepan. Duduk dengan tegak dan wajah cerah. Dia siap belajar. Lulus dengan hasil terbaik ataupun terburuk, dia tidak punya pilihan. Keputusan ayahnya akan tetap sama. Tapi satu hal terbesit dalam benaknya malam tadi, datang ke negeri orang tanpa ilmu apapun yang dia bekal, akan membuatnya lebih menderita. Jadi sudah diputuskan, Sehun akan menjadi saingan terberatnya.

Penjuru sekolah heboh, hari itu. Beberapa anggota klub dance yang akan segera lengser, menyambut Irene dengan ramah. Sementara sisanya, seperti biasa. Sinis. Terutama Junmyeon dan teman-teman yang dulu pernah se-osis bersamanya. Sekembalinya Sehun sudah cukup membuat Junmyeon dan pemburu peringkat mulai menyiapkan kuda-kuda kembali, tetap berharap akan menggeser posisi Sehun meski di tahun terakhir. Namun jika bicara soal popularitas, Oh Sehun sudah berada di bawah. Selain karena ada junior-junior baru yang tak kalah mempesona. Namun juga karena skandal yang menimpanya dan Irene di akhir semester lalu, membuat banyak sekali orang kehilangan feel terhadap Sehun. Meskipun banyak yang percaya mereka tidak melakukan hal-hal yang aneh. Tapi itu tetap saja tidak pantas, bukan? Beberapa orang bahkan masih ada saja yang menganggap Sehun bukan laki-laki sepolos kelihatannya.

Namun apalah arti kepopuleran bagi Sehun? Dia sama sekali tidak peduli meskipun harus dipandang ketus oelah orang-orang. Dia hanya ingin lulus dengan nilai terbaik. Cukup. Lantas kali ini datang juga Irene, membuat banyak orang mendengus kesal. Irene si pengganggu, Irene si biang onar, Irene si tidak tau malu, dan lain sebagainya, kembali terdengar dari mulut-mulut busuk yang sejak dulu selalu merasa terganggu dengan keberadaan gadis itu.

Jam istirahat pertama, Irene segera melangkah keluar dari kelasnya. Alih-alih menghampiri Sehun dan Kai. Dia lebih tertarik pergi ke perpustakaan sambil membawa satu buku paket miliknya dan buku catatan, untuk mencari bahan materi tugas pertama yang dia dapatkan di tahun ajaran baru. Gadis itu sempat melirik lewat pintu kelas Sehun, lantas tersenyum lebar kala tatapan mereka bertemu tanpa sengaja.

XxxX

 

Lima belas menit berada di sana, mata Irene begitu fokus pada setiap baris kalimat dalam buku. Sesekali tangannya bergerak, manandai poin-poin penting yang akan berguna untuk tugasnya. Dan sejak 10 menit berlalu pun, dengan santai Irene berusaha tak menghiraukan 2 makhluk yang tengah memasang wajah bingung di depannya.

Sekali lagi Irene melirik, mendapati Sehun sedang menopang dagunya dengan tatapan teduh. Sementara Kai melipat kedua tangannya dengan tatapan tak percaya.

Satu menit kemudian berlalu lagi, Irene pun menghela nafas. Dia meletakkan marker pen hijaunya di atas lembaran buku lantas tersenyum tipis membalas tatapan kedua temannya.

“Kau belum menyapaku sama sekali, Bae Irene.” Celetuk Kai sinis.

Irene membalas dengan cengirannya. “Hai, Kim Kai! Kau pasti merindukanku, benar?”

Sehun mengedipkan mata beberapa kali, tidak begitu tertarik dengan percakapan yang dimulai Irene. Kai kemudian mendengus, memutar bola mata. Satu detik kemudian, kedua tangannya sudah gemas menarik kedua pipi Irene dengan kencang.

“Dasar kau biang kerok.”

Ya!” Irene segera menepis tangan Kai dengan kasar, lalu mengusap-usap kedua pipinya dan merenggut. “Aku bukan biang kerok lagi, tau!”

Tanpa disadari siapapun, Sehun tersenyum beberapa detik. “Jangan bilang, kau akan menyaingiku, kali ini?”

Irene menyengir lagi dengan lebar, “Yup! Aku akan menyaingimu, Sehun.”

Sontak jawaban percaya diri Irene membuat Kai tertawa. “Pantas saja tidak biasanya kau tiba-tiba datang ke sini sendirian tanpa ajakan siapapun. Bukankah itu sangat ajaib?”

“Hey, lagipula jika kita berkeliaran sekarang, semua orang pasti akan membicarakan kita dengan rusuh.” Irene mengedikkan bahunya, menopang dagu kemudian terkekeh pelan.

“Kau tidak akan pergi lagi, kan?” Sehun tiba-tiba bersuara. Tatapannya masih teduh namun penuh harap. Irene menoleh, membalas tatapannya sejenak. Kemudian tersenyum.

“Jadi, setelah lulus kau akan mendaftar di universitas apa?”

Senyuman Irene nyaris saja luntur ketika mendengar pertanyaan yang satu itu. Namun dia lantas menggelengkan kepala pelan, masih bertahan dengan sunggingan termanisnya.

XxxX

 

Tahun ajaran baru benar-benar harus menjadi hari yang baru bagi Seulgi. Tiga minggu berlalu, semua mulai berjalan dengan lancar. Mengenai orang-orang yang dulu sering mengganggunya hanya berkurang sedikit. Namun keberuntungan pertama di awal tahun kelas 2 adalah, Seulgi mendapatkan kelas yang sama dengan Wendy –teman satu klubnya di klub dance. Semenjak hari pertama di tahun ajaran baru, Seulgi selalu menghindari Kai –seperti tahun lalu. Namun kali ini alasannya berbeda, dia bukannya takut para penggemar Kai akan meradang. Melainkan dirinya masih tidak bisa lupa perkataan Wendy soal nafas buatan. Dia malu. Tidak ingin bertemu Kai, atau wajahnya akan bersemu merah tiba-tiba. Oh, ini terdengar gila. Tetapi Wendy bilang, Seulgi mungkin sudah jatuh cinta pada seniornya itu.

Gadis itu melangkah santai menuju kantin sendirian –Wendy harus melakukan sesuatu dengan Miss Luna si guru killer di ruang guru. Semester lalu, dia sama sekali tidak pernah datang ke kantin, selalu saja membawa bekal makan siang dari rumah. Tapi selama 3 minggu ini, tidak ada yang terjadi di kantin. Semua baik-baik saja, itulah keberuntungan keduanya di tahun ajaran baru. Meskipun masih ada beberapa orang yang senang memandanginya dengan sinis.

Seulgi ikut mengantri untuk mengambil nampan berisi menu makan siang untuk siswa. Pandangannya sesekali melirik menelusuri penjuru kantin, memastikan bahwa Kai tidak ada di sana. Akhir-akhir ini, seniornya itu jarang terlihat di kantin. Dan itulah keberuntungan ketiganya di tahun ajaran baru.

Namun sebuah kesialan tiba-tiba terjadi. Satu hal yang kembali terulang layaknya deja vu. Beberapa orang siswi berjalan di belakangnya kemudian menabrak pundak Seulgi dengan keras, membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan nampan ke lantai. Menimbulkan suara gaduh khas alumunium yang terbanting. Sontak, penghuni kantin yang riuh segera menoleh ke arah sumber suara. Suasana kantin pun nyaris sepi, persis seperti suasana yang pernah Seulgi alami. Ingatan itu kembali menyesaki benaknya. Dia diam di tempat, membalas tatapan orang-orang di hadapannya dengan dingin.

Lima orang sunbae kini berdiri tegap di hadapannya, dengan wajah-wajah meledek dan senyum miring yang memuakkan. Seisi dada Seulgi kini berisi kecemasan yang hebat. Namun ekspresinya sama sekali tidak memancarkan hal itu, selain raut yang dingin juga datar, seolah dia tengah menantang semua lawannya.

“Apakah aku sudah membuat masalah denganmu, sunbae-nim?” ucap Seulgi dingin.

Salah satu di antara mereka berdecih, “kau sudah menjadi masalah sejak pertama kali berada disini. Jika kau pikir ini soal Kai, kau salah. Aku tidak peduli padanya. Aku hanya muak melihatmu, bocah sombong.”

Seulgi sudah membuka mulut, hendak memberi balasan yang tak kalah pahit. Namun seseorang menyahut dari belakangnya.

“Siapa yang kau sebut sombong?”

Seulgi menoleh ke arah sumber suara, kini Irene sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Tidak salah lagi, Kai dan Sehun juga di sana, bergabung berdiri di dekatnya dengan santai.

“Kau sedang membicarakan dirimu sendiri, nek lampir?” lanjut Irene lagi sembari tersenyum miring.

Ya! Tidak usah menjadi pahlawan kesiangan. Ini urusanku dengannya.”

Irene tertawa lebar, “Mulai hari ini, urusan Seulgi juga adalah urusanku. Kau mau apa, hah?”

“Bolehkah kami bergabung? Ini akan menjadi urusan kami juga.” Sahut Kai masih santai.

Seulgi termangu menatap ketiga sunbaenya. Terlebih lagi, Irene. Dia mendengar kabar kedatangannya pagi ini. Namun baru benar-benar bertemu dengannya. Tiba-tiba hatinya terasa hangat, alih-alih menolak pertolongan, kali ini dia amat bersyukur mereka datang tepat waktu.

“Oh ayolah, aku sungguh tidak punya urusan dengan pembuat onar mesum seperti kalian.”

“Apa kau bilang!” Irene maju satu langkah, menarik kerah baju lawannya. Sementara Sehun dan Kai masih diam tak bergerak, tidak tertarik sama sekali untuk memisahkan. Itu akan menjadi pemandangan langka.

“Aku tidak perlu mengulang kalimatku, jalang. Kau harus sadar diri.”

Entah dorongan dari mana, kaki Sehun segera melangkah mendekat. Tangannya menarik lengan Irene untuk turun ketika dia menghadap lawannya, “Apa kau tau apa yang baru saja kau katakan? Mulut sampahmu itu membuat kau jadi tampak rendah dan tak berkelas.” Katanya tegas disertai dengan ekspresi yang dingin dan tajam.

YAA!!” sebuah suara nyaring berseru kencang dari dekat mereka. Semua orang menoleh, mendapati Krystal sudah melangkah cepat ke arah mereka dengan ekspresi galaknya.

Gadis itu segera mengambil alih posisi Sehun sambil melipat kedua tangan di dadanya. “Ini juga menjadi urusanku karena kau dan teman-temanmu sudah mempermalukan imej senior tertinggi sekolah ini.”

Lawan bicara Krystal memutar bola matanya dengan jengah. “Tidak bisakah orang-orang tidak usah mencampuri urusan orang lain, oh?!”

“Pergi dari hadapanku jika kau memang masih merasa pantas di anggap sebagai senior.”

Perempuan itu lantas menggerutu, mendengus kesal kemudian pergi dari sana setelah mendelik galak pada Krystal.

“Ugh, kau seperti malaikat.” Suara Irene terdengar bergurau dari belakang. Krystal segera berbalik, menghambur memeluk Irene dengan gemas.

“Irene! Aku mencarimu sejak pagi, bodoh!” gadis itu melepaskan pelukannya, “Sekolah ini rasanya sepi sekali tanpa kabar-kabar perbuatan onarmu.”

Irene yang semula tersenyum bangga, tiba-tiba merenggut. “Cih. Kau meledekku, oh?”

Krystal lantas tertawa.

“Maaf, ibu-ibu. Ini kantin, bukan acara reuni.” Cibir Kai datar. Yang hanya di sambut dengan delikan Krystal dan Irene.

“Ng..” Seulgi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Terima kasih banyak, sunbae-nim.” Gadis itu membungkukkan tubuhnya di hadapan para seniornya. Mereka tersenyum.

“Tidak masalah, Seulgi. Sudah kukatakan hal seperti ini akan menjadi urusan kita.” Balas Kai.

“Duh, jangan sok manis. Aku muak melihatnya.” Celetuk Krystal meledek, namun dia kemudian tersenyum pada juniornya itu dengan ramah. “Senior memang tidak seharusnya berbuat hal konyol seperti tadi.”

Fakta bahwa Seulgi masih memiliki orang-orang yang begitu baik hati, dan berhasil menjadi teman Krystal yang dulu pernah menjadi salah satu pengganggunya, adalah keberuntungan lainnya di tahun ajaran baru bagi Seulgi. Hatinya menghangat, dia tau mungkin detik ini wajahnya sudah secerah mentari pagi. Bibirnya tak bisa lagi ditahan untuk tersenyum seramah mungkin.

“Seulgi, wajahmu memerah. Kau sakit?” sahut Irene polos.

Dan satu hal lain yang dia lupa, bahwa wajahnya merona kala tak sengaja bertatapan dengan Kai. Sungguh, itu sangat memalukan.

XxxX

 

Para senior anggota klub dance yang sudah menginjak akhir tahun masa sekolah, kini berdiri di hadapan ruangan klub saat jam latihan baru akan dimulai. Mereka berdiri dengan antusias, menghadap para juniornya juga anggota-anggota baru yang selesai di rekrut semenjak minggu lalu.

Pelatih Changmin sudah menyampaikan beberapa kalimat perpisahan, “Apakah ada yang ingin kalian sampaikan?”

Beberapa senior itu menoleh saling pandang, kemudian Kai pun berdehem. “Aku mewakili semua teman-temanku yang akan lengser, sangat-sangat berterima kasih kepada para pelatih yang sudah berbagi banyak pengalaman dan pengetahuan tentang dance, melatih kami dan mengembangkan bakat kami, membuka banyak hal-hal positif lewat hobi menyenangkan seperti ini. Sungguh pengalaman yang mengasyikkan. Untuk para junior, selamat bersenang-senang di klub ini. Jangan pernah berhenti mencoba, kalian harus yakin kalau kalian bisa melampaui batas kemampuan diri sendiri.”

“Dan jangan lupakan satu hal, belajar tetaplah no.1. Bukankah akan menjadi hal yang hebat jika kalian bisa berada di posisi terbaik di dalam belajar, juga di dalam klub. Hwaiting!” sambung Sehun dengan wajah datarnya, namun dua baris kalimat itu cukup untuk membuat seisi ruangan tersentuh. Siapa sangka orang sedingin Sehun akan peduli dan memberi wejangan seperti itu.

Tidak hanya mereka berdua, beberapa senior lainnya seperti Krystal juga menyampaikan dukungannya dan wejangannya kepada para anggota klub. Itu suasana yang hangat. Lebih dari cukup untuk membuat para junior mereka semakin antusias dan semangat.

Setelah selesai, para anggota yang sudah menjadi mantan anggota klub dance itu pun membubarkan diri. Irene yang berjalan paling belakang tersenyum lebar ke arah salah satu juniornya, “Seulgi-ah, hwaiting!

Gomawo.” Balas gadis itu membalas senyum Irene dengan yang tak kalah lebar.

XxxX

 

Yeouido Hangang Park cukup ramai sore itu, meskipun tidak seramai akhir pekan. Hari pertama yang menyenangkan bagi Irene membuatnya menarik Sehun dan Kai untuk mengunjungi salah satu taman besar di kota itu. Hanya ingin menghabiskan waktu bersama, sebelum mereka kembali disibukkan dengan materi-materi pelajaran yang menggunung untuk bahan ujian akhir.

Mulai dari menaiki bus bersama seperti semester lalu, wajah Irene tak henti-hentinya bersinar antusias. Membuat hati Sehun hangat, membuat sepi yang Kai rasa sirna. Sepanjang perjalanan, Kai menceritakan hal-hal tidak penting mengenai dirinya dengan Seulgi. Sementara Sehun hanya menjadi pendengar setia yang sama sekali tidak tertarik memberi respon.

Irene segera berlari, menyusuri jalanan setapak taman yang luas dan bersih. Kapan terakhir kali dia mengunjungi taman? Itu sudah dua tahun yang lalu. Hari dimana dia merasa sangat patah hati dengan kehidupan ini, ketika itu Irene menangis seharian di salah satu bangku taman yang menghadap sungai Han yang membentang megah. Hari ini tentu saja berbeda. Sehun dan Kai adalah kebahagiaan baginya. Tidak ada hal yang paling membuatnya merasa beruntung selain bersahabat dengan laki-laki yang sampai detik ini masih setia menarik hatinya. Membuatnya seperti jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada cinta pertama.

“Kau yakin?” tanya Kai memastikan saat Irene sudah siap menyewa salah satu sepeda dengan 3 pedal kayuh dan 3 kursi sekaligus. Gadis itu tersenyum lebar, nyaris menenggelamkan matanya. Mengangguk mantap.

“Kalau kita naik sendiri-sendiri, aku yakin kalian akan meninggalkanku nanti.”

“Bukan karena kau tidak bisa membawa sepeda, kan?” celetuk Kai masih ragu.

“Oh ayolah.” Irene memutar kedua bola matanya kemudian menyetujui tanpa menunggu kedua sahabatnya untuk menyewa sepeda pilihannya. Dia tertawa kecil, kemudian naik di kursi kedua setelah Sehun memegangi salah satu stangnya supaya tidak jatuh.

Kedua lelaki itu saling melempar tatapan, Sehun hanya mengedikkan bahu. Lantas Kai menghembuskan nafas sembari terkekeh.

“Baiklah. Kalau begitu aku yang akan memimpin.” Celotehnya berlagak sebagai seorang pemimpin, padahal hanya soal mengkayuh sepeda.

Sejak bosehan pertama mereka, hembusan angin mulai menerpa wajah. Menerbangkan setiap helaian anak rambut yang menjuntai. Kai dan Irene sama-sama berteriak, menikmati udara sore yang sejuk, juga matahari yang membias elok di sepanjang sungai Han. Sehun diam-diam tersenyum hangat, menikmati udara yang bersapaan dengan permukaan wajahnya. Menikmati ikatan rambut Irene yang bergoyang-goyang di depannya. Setiap kali gadis di hadapannya itu tertawa riang, Sehun merasakan hatinya begitu terisi penuh dengan sesuatu. Sebut saja itu kebahagiaan, dia tidak tau bagaimana menjelaskannya.

Berakhir di tempat semula, sedikit peluh mulai membasahi dahi ketiganya terutama Irene yang selama berkeliling tidak henti-hentinya berteriak dan tertawa, membuat banyak pasang mata memperhatikan mereka.

Sementara Kai mengembalikan sepeda, memarkirkannya di tempat semula. Sehun memperhatikan Irene dengan lekat. Senyum riang itu masih menghiasi wajahnya, matanya membalas tatapan instens Sehun dengan hangat. Suara nafasnya sedikit menderu, namun itu tak membuat semangat Irene surut. Lantas Sehun tersenyum, begitu manis. Senyum yang amat Irene dambakan.

Tangan lelaki itu naik, membiarkan ujung lengan bajunya ia gunakan untuk mengusap keringat di dahi Irene. Membuat gadis itu membeku seketika. Kai diam di tempatnya, memperhatikan pemandangan itu dengan takjub. Sehun yang tengah tersenyum adalah sebuah keajaiban yang akhirnya bisa ia temui kembali. Namun dia kemudian berdecak gemas, kala menyadari kini kedua temannya itu tampak seperti sedang berada di dunia milik mereka sendiri. Dia pun mendekat.

Heol. Sekali lagi, aku hanya peran figuran disini.”

Mendengar suara Kai, membuat senyum Sehun luntur seketika. Pun dengan tangannya yang segera turun. Keduanya menoleh, membalas Kai dengan tatapan tak berdosa.

Ya! Aku melihatnya, jenius. Kau baru saja tersenyum.” Ledek Kai kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Sehun jadi kikuk. Bukan maksud dia tidak ingin tersenyum untuk Kai, hanya saja itu memang tidak bisa. Seolah senyumannya hanya tercipta untuk Irene.

Aish jinjja. Sepertinya hanya Irene yang bisa membuatmu tersenyum. Kalian benar-benar seperti sepas–“

Berhasil membaca kalimat apa yang akan Kai ucapkan selanjutnya, Irene segera berlari dari sana meninggalkan keduanya lalu berteriak dengan riang, “Yang datang paling terakhir, traktir es krim!”

Mendengar itu, Kai segera berlari, tidak mau membiarkan dirinya mentraktir kali ini. Lantas Sehun hanya tersenyum semakin lebar, bahkan nyaris saja tertawa. Langkah kakinya melaju dengan santai, sengaja membiarkan diri sebagai pen-traktir.

Sampai di sebuah mobil penjual es krim, Irene segera memesan ice cream cone 3 scoops dengan rasa vanila, stroberi dan matcha.

“Dasar gila.” Celetuk Kai dengan tawa meledek, “tolong 2 scoops rasa tiramisu.”

Sehun sampai di samping mereka ketika pesanan Kai siap. Lelaki itu menggelengkan kepala melihat kedua temannya seperti orang yang baru pertama kali menemukan es krim.

“Aku 1 saja rasa vanilla. Semua jadi berapa?”

XxxX

 

Sedikit lagi matahari tenggelam di kaki barat, semburat jingga yang megah menghiasi langit petang itu. Taman masih ramai dengan berpasang-pasang orang dewasa, atau keluarga-keluarga kecil bahagia. Setelah menikmati keindahan pemandangan taman, sungai Han dan kota Seoul sejauh mata memandang, Sehun membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput yang halus dan hijau. Satu tangannya menopang kepala, matanya fokus memandang langit. Kapan terakhir kali dia menyaksikan senja yang membias indah di atas sungai Han? Itu sudah lama sekali, dia nyaris tidak ingat. Yang pasti, langit sore itu tampak lebih indah di matanya sekarang.

Kai segera bergabung di samping Sehun, begitupun juga dengan Irene yang berbaring dengan arah berlawanan, agar posisi kepalanya tapat berada di tengah-tengah kedua lelaki itu. Matanya berbinar memandang langit yang semakin gelap. Mereka mungkin tidak bisa melihat bagaimana matahari tebenam. Tapi warna langit yang mulai gelap akan mewakilkan itu.

“Kuakui, berteman dengan cewek sinting sepertimu tidaklah terlalu buruk.” Sahut Kai santai. Gadis itu tak membalas, diam-diam masih tersenyum dengan hangat.

“Kupikir pada awalnya tidak akan pernah ada persahabatan di antara laki-laki dan perempuan di dunia ini. Tapi ternyata berteman dengan lawan jenis terkadang lebih menyenangkan.” Kai tertawa kecil.

“Jadi aku tidak cukup menyenangkan bagimu?” celetuk Sehun datar.

“Tidak.” Kai tertawa lagi dengan bebas. Diikuti dengan Irene.

“Sejauh ini persahabatan kita masih aman-aman saja. Aku senang dengan itu, mengingat banyak sekali diluar sana persahabatan hancur hanya karena sebuah ‘racun’ yang tumbuh.” Kali ini gadis itu menyahut.

“Ingat kasusku dengan Seulgi? Kau mungkin bisa menyebutnya sebagai salah satu ‘racun’ yang hampir menghancurkan pertemananku dengan Kai. Itu konyol.”

Kai tertawa malu, “Oh ayolah, tapi kupikir maksud Irene bukan itu.”

“Jangan sok tau, Kim Kai.” Ledek Irene santai.

“Pertemanan laki-laki dan perempuan itu kebanyakan hanya akan berakhir saling jatuh cinta, atau cinta bertepuk sebelah tangan. Apapun yang memulainya, persahabatan itu akan retak bahkan hancur.” Kai kemudian tersenyum penuh arti, “kau yakin persahabatan kita aman-aman saja, Bae Irene?”

“Kenapa kau bicara seperti itu, Kai? Aku tidak berpikir diantara kita sedang tumbuh sebuah ‘racun’.” Balas Sehun.

“A-ah. Kau benar-benar sok tau, Kai. Tidak ada yang akan terjadi di antara kita,” Irene menggigit bibir, “setidaknya itu yang aku harap.”

Suasana tiba-tiba hening seketika. Langit pun semakin membiru kemudian gelap. Lantas Kai tertawa dengan keras, nyaris terbahak-bahak. Tangannya memegangi perut. Sehun masih diam dan datar di tempatnya. Sementara Irene sudah mendengus memajukan bibirnya kemudian bangkit dari posisi. Jemarinya segera menyentil dahi Kai.

“Jangan memancing percakapan yang tidak-tidak. Atau aku akan menelanmu.” Gerutu Irene sengau. Lelaki itu ikut bangkit, meringis sebentar kemudian kembali tertawa sembari mengusap-usap dahinya.

Irene dapat memastikan bahwa Kai mungkin saat ini sudah berhasil membaca perasaannya yang bersemayam untuk Sehun. Dan dia tidak ingin Kai berbuat hal yang tidak dia inginkan. Persahabatan itu harus tetap berjalan normal dan baik, setidaknya sampai hari kelulusan datang. Setidaknya sampai hari terakhirnya berada di Seoul. Ya, hanya soal waktu hari kelulusan akan datang.

XxxX

 

Entah karena apa, dan untuk apa lebih jelasnya. Kai sengaja pergi sebentar meninggalkan halte bus yang nyaris sepi itu untuk membeli sebuah minuman. Dan sengaja membiarkan Sehun dan Irene berdua. Berdiri saling berhadapan. Jadwal bus Irene akan datang lebih dulu dari bus yang akan Sehun dan Kai naiki.

Irene memainkan kakinya sedikit, kedua tangannya meremas tali ransel dengan erat. Senyumnya mengembang begitu tulus di hadapan Sehun. Lantas jantungnya lagi-lagi berdegup lebih kencang dari biasanya ketika Sehun menaikkan kedua ujung bibirnya dengan tatapan teduh. Tersenyum, dengan begitu tulus.

“Irene,”

Oh?”

“Jika aku adalah seorang pangeran yang tidak bisa tersenyum. Kemudian raja mengadakan sayembara bagi siapapun yang bisa membuatku tersenyum, maka kau adalah pemenangnya.”

Irene tersenyum kaku, “sepertinya aku pernah mendengar kisah seperti itu.”

“Tentu saja kau pernah. Itu dongeng sebelum tidur. Siapapun pernah mendengarnya termasuk aku.” Tangan Sehun kemudian naik, menepuk puncak kepala Irene kemudian mengelusnya dengan lembut, membuat sekujur tubuh gadis itu membeku sekaligus bergetar. “Tapi aku bukanlah pangeran, aku bahkan tidak memiliki raja dan ratu sebagai orang tuaku. Jadi kau bukanlah pemenang sayembara yang akan aku nika–“ Sehun berhenti sebentar, berdehem pelan sambil menurunkan tangannya kemudian tersenyum kembali dengan hangat. “Kau sahabat terbaikku setelah Kai. Aku sangat berterima kasih dan ingin membalasmu dengan sesuatu yang bisa kujadikan hadiah terindah. Jika ada satu hal yang sangat kau inginkan, katakan saja padaku.”

Irene begitu tersentuh mendengar itu. Dia ingat betapa dinginnya Sehun ketika mereka pertama kali bertemu dan kenal. Hari ini bahkan dialah yang menjadi orang terhangat yang menyelusup ke dalam hatinya. “Ada satu hal yang sangat aku inginkan. Tapi kau tidak mungkin bisa mengabulkan itu, Sehun. Tidak akan pernah.”

We? Aku akan berusaha membuat permintaanmu terkabul. Katakan saja.”

Irene menggeleng, “Tidak, terima kasih. Hanya ayahku yang bisa mengabulkannya, tapi jika dia memang ingin menerima permintaanku. Yah, begini saja sudah cukup untukku, Sehun-ah. Tidak perlu memikirkan soal balasan. Aku senang melakukannya. Yang terpenting, sampai hari kelulusan nanti tetaplah berada di sampingku.”

“Kenapa harus sampai hari kelulusan? Aku dan Kai akan melakukannya sampai satu persatu masa depan kita tercapai.”

Gadis itu tersenyum lebar, mengangguk kaku. Siapapun mungkin tidak akan menyadari seberapa keras Irene menahan pelupuk matanya agar tidak basah. Entah karena terlalu bahagia, entah justru sebaliknya. Sungguh, dia ingin sekali menangis.

“Busmu, Irene.” Sehun segera menunjuk kebelakang Irene. Gadis itu menoleh, mengangguk sekali lagi lalu melambaikan tangannya pada Sehun.

“Terima kasih untuk hari ini.” Teriak Irene lalu berlari kecil menaiki anak tangga di pintu masuk bus. Bahkan sampai dia duduk di salah satu kursi di dalamnya, dia terus melambai ke arah Sehun yang berdiri dan tersenyum dengan tulus.

Hatinya berteriak, sanggupkah ia? Meninggalkan laki-laki penuh pesona itu? Meninggalkan segala kebahagiaan itu dan mengakhirinya dengan sesaat?

–To be continued–

Catatan (gak) penting:

Holla. Lama gak nge-draft duh. Ini pas aku mau kirim new chapter ini, aku gak mau ngecek kapan terakhir kali Draft update. Kok kayanya lama banget, ya? Hiks. Adakah sebulan? Pffftt. Ya gimana ya. Makin tinggi semester makin repot pula belajarnya wkwk. Aku inget aku gak update karena harus nyiapin UTS dari seminggu seebelumnya, abis itu UTS 2 minggu, dan gak cuma sampai disana, masuk kuliah langsung di hadapkan dengan berbagai kegiatan yang cukup menyibukkan. Gak sibuk-sibuk amat sih sebenernya, tapi capenya itu loh tjuy /curcol/plak/. Well, walaupun aku udah kesulitan fast-update, aku harap pembaca Draft masih setia baca dan nunggu hiks. Karena aku gak akan pernah membiarkan FF ini benar-benar terbengkalai. Pasti tamat, kok, PASTI! SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA WQWQ. /abaikan

Uhuk. Bacotan kali ini mungkin akan sedikit lebih panjang. Karena? Karena aku ingin mengingatkan sesuatu hal yang sangat penting dan gak main-main. Jadi, entah seminggu atau 2 minggu lalu aku lupa. Ada notif masuk ke wattpad, seorang pembaca draft yang sangat baik hati melaporkan sesuatu. Dia nemu satu akun yang mempublish FF DRAFT yang mengatas-namakan hasil karya dia. PFFTT. Ini bukan plagiat lagi. Ini sudah melanggar hak cipta! 100% meng-klaim bahwa Draft adalah milik dia. Dengan judul dan isi cerita yang sama, cuma beda poster doang. Tapi BERUNTUNGNYA, doi baru publish prolog-chapter 2, belum banyak yang baca dan komen, sih. Tapi lebih cepat ditegur lebih baik, kan? Makanya saat itu juga aku langsung menegurnya dengan baik-baik lewat pesan. Supaya doi menulis FFnya sendiri. HUFT. Aku kecewa. Aku menebak-nebak, apakah doi adalah salah satu kamen-siders setia DRAFT yang sampai chapter ini dia baca? Entahlah. Tapi ini sebagai pelajaran aja buat dia dan buat semua orang, kalau hasil yang bukan original karya kita tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat pasti akan ketauan dan ditegur, kesenangan itu hanya akan berlangsung sesaat. Beruntunglah belum banyak orang yang NGEUH kalo ente lagi mengklaim produk orang. Coba kalo udah terlanjur ‘basah kuyup’? Gak akan terbayang malunya kaya apa. So, hati-hati, ya! Berkarya itu emang susah, tapi bukan berarti gak bisa terus curi aja karya orang lain. Karya sederhana dengan hasil pas-pasan pun bukan masalah selama kita terus mau belajar, apa adanya, mau berkembang, DAN JUJUR. Xekian dan terima baekhyun.

Iklan

37 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 23)

  1. Akhirnyaaaa update juga ni epep, yaampun aku nungguin ampe lumutan thor:v
    Tapi maaf juga ya, komennya telat.
    Sumpah draft tuh ff favoritku bngt, kisah romancenya gak alay dan pasaran. Seneng bngt ngeliat sikap sehun ke irene, duhh duhh…
    Semangat ya thorr! Keep writing! Semangat juga untuk tugas kuliahnya.
    Untung aja si plagiat itu ketauan, semangat terus thorr!!

  2. Akhirnyaaaa update juga ni epep, yaampun aku nungguin ampe lumutan thor:v
    Tapi maaf juga ya, komennya telat.
    Sumpah draft tuh ff favoritku bngt, kisah romancenya gak alay dan pasaran. Seneng bngt ngeliat sikap sehun ke irene, duhh duhh…
    Semangat ya thorr! Keep writing! Semangat juga untuk tugas kuliahnya.
    Untung aja si plagiat itu ketauan, sabar dan semangat terus thorr!!

  3. Finally chapter ini di publish maygaaaatt eyke ampe bosen ngecekin terus wkwk.
    Tp terbayarkan dgn ceritanya. Ugh kapan kisah cinta eyke kaya hunrene *okeabaikan*
    Sehun skrg udh berani ya ngumbar senyum. Irene pake susuk apa nih😂 i think kai should ask irene what kind of susuk yg irene pake buat guna2 seulgi juga hhmmm *abaikan*

    Moga yg plagiat cepet sadar ya kalo itu ga baik. Terkenal karna hasil plagiat kan ga banget justru jd bumerang buat dia.
    Emg author skrg semester brp? Udh semester tua kah? Mangats thor dgn segala aktivitas kuliah moga ga stres stres amat haha.

    Ditunggu chapter selanjutnya oke thooorr cemungudh 🖖👋

  4. Next ya aku suka banget ff nya, apalagi cast nya hunrene
    Maaf silent rider hehehe oen dan baru komen sekarang
    Oenni hwaiting nulisnya & kuliahnya
    Yang ngaku2 itu jahat banget

  5. Wah akhirnya nih ff muncul juga wkwkkw, kangen sama sehun irene. Setelah menyerah cek blog ini buat cari draft chapter 23 dan sekarang udah di post. Duh parah ngaku ngaku tuh orang, malu kali ketauan gitu wkwkw pokoknya semangat kak! Next ya….

  6. Akhirnya ff yang aku tunggu”
    Tau ngga thor aku hampir tiap hari ngecek ni ff udah lanjut apa ngga
    karena tiap aku ngecek ngga ada hasilnya jadi aku nyerah buat ngecek lagi
    Terus iseng lagi buka ehh tau taunya udah di publish aku jadi kesel sendiri wkwk><
    ^^

  7. Wah chapter kali ini daebak! Hunren tambah so sweet deh Si Irene udah nyadar tinggal Si Sehun aja yang nyadar ama perasaannya, terus Si Kai ama Seulgi mulai gimana-gimana gitu… Si Krystal juga udah berteman sama Seulgi… yeay ceritanya tambah seru… untuk chapter selanjutnya ditunggu ya Thor!

  8. hua…. keren abis sudah lama aku menunggu ff ini dilanjutin akhirnya ….
    ngena banget feel nya euy… ff ngemesin .kapan sehun ngungkapin perasaannya???lalu gimana nasib mereka kalo abis lulus??
    banyak banget pertanyaan dalam otakku karna ngreget sama ni ff . thor kalo bisa updatenya dipercepat ya… please…..

  9. Akhirnya update juga thor udh nunggu lama ….
    Makin gemes deh sama irene & sehun ……
    Di tunggu kelanjutnya thorr jangan kelamaan yaaaa fighting!!!!!

  10. Aaahh.. akhrinya update juga ni…
    Udh lama banget lo thor..
    keunde, author juga punya urusan yg harus diselesaikan juga kn Gwenchana/
    asal author gk lupa untuk update cerita ini aja.
    Salam 🙂 😉

  11. sehun ah!!!!! seneng Sehun jadi hangat gitu, manis banget huaaaa
    dan paling seneng sama persahabatan mereka bertiga, apalagi pas scane baring berbaring (?) itu, serasa nonton drama :v

    nanti pisahnya jangan lama2 ya plissss
    next nya juga jangan lama2, seminggu 2kali kalo bisa

  12. dan akhirnya draft update kembali setelah raja api mulai menyerang wkwkwk
    seneng banget mereka bisa kembali lagi hahaha dan entah kenapa sedih pas baca kalo irene tetep harus pisah dari sehun huhuhu,autornim tetep semangat yaaaaaaaaaaaaaaa

  13. Iya lama hehe sekitar 2bln belom di-update2 hihi
    Memang faktor sibuk ya, Author. Dimaklumi kok ^^
    Kalau saya sih selalu nunggu ff karya2 nya Author. Apalagi yg Draft sama POL. Syukur kalau Author mau ngelanjutin smua ff ini sampe tamat.
    Kalau soal plagiat/jiplak kadang masih suka mikir, masih ada ya org2 kayak gitu. Tapi kalau buat pembaca setia Draft atau ff karya Author pasti tau kalau ff Draft punya Author.

    • Dua bulan ciusaan aduh 😂
      Hooh sibuk abiz wkwk tapi pasti diterusin semuanya sampe tamat, mending telat kan daripada gak sama sekali /ea/😆
      Tau nih tyar juga suka mikir ko bisa2nya sih ada org kaya gtu ga mikir apa dia pasti ketauan huh thanks yaa 😆💕

  14. Oh pantes lama apdetnya-.- Yep, Al setuju tentang hasil plagiat2 cem tai begitu… , bikin karya itu susah banget, jujur ae ya. Al bakal komen sebagai penggemar dan pembaca draft dari prolog sampe sekarang. Jadi maapkeun al ya ka tiar, baru berbacot ria sekarang 😂😂😂 nih ya untuk semua siders dan beberapa orang yang berniat memplagiat sebuah ff, kalian pernah ga sih mikir kalo mencuri itu gabaik? Gini ya, dalam kasus ka tiar dan DRAFT, plagiat itu bukan sebuah hal yang patut dicontoh, kenapa? Hey, kalian pikir bikin cerita itu semacam membalik sebuah telapak tangan? Hell no, itu susah guys. Kita harus cari dulu refrensi, kumpulin niat buat ngetik, belum lagi kalo niat ilang karena sibuk, pas udah selesai itu tuh lega. Dan kalian mau tau apa yang sangat membahagiakan pas udah publish ff? Baca komentar kalian, ini serius. Kadang sebuah komen dari kalian bisa bikin authornya senyum-senyum seharian, ini sebagai bukti kalo komen kalian itu sangat berarti buat author dan yah, ayolah komen sedikit apapun itu udah sebuah kebahagiaan buat para author. Jadi, komen lah meskipun itu cuma sedikit, karena author juga menghargai komentar kalian seperti kalian mengapresiasi karya-karya author.

    Terus sekarang, dalam kasus plagiat-plagiat… Gimana ya… Kalian tau kagak rasanya itu kayak kita udah bikin kue dan kita simpen dimeja, terus orang ngambil dan bilang punya dia…. Kesel kan?

    Now, Al balik sebagai pecinta draft… Maapkeun Al jadi curcol huhu:”(

    WELL, SEBAIKNYA IRENE GA JADI PINDAH, PLIS KARENA APA? SEHUN UDAH KESEMSEM CEM ITU, ANE GA RELA IRENE PINDAH PELIS….. TERLEBIH LAGI KAISEUL YANG LAGI JAUH-MENJAUH HUHU… RASANYA INGIN ANE KASIH LEM FOX BUAT MEREKA… DAN BISAKAH BIKIN MEREKA SEMACAM DOUBLE DATE SEBELUM IRENE PERGI? *MESKIPUN ANE GA RELA HUHU ANE AKAN SANGAT BERTERIMA KASIH AKAN HAL ITU. MUCH LOVE FROM ME TO YOU, SEMANGAT!! REALLY LOOK FORWARD TO NEXT CHAPTER!!!😎😎😎😎😎

    • AL ENTE SUKA BACA FF GINIAN JUGA ASTOGEEEHH 😭 SEJAK KAPAN 😳 wkwk
      Komen al pantes dapet award komen terpanjang selama draft berlangsung nih hiks terhura KAMU BENAR AL KAMU BENAAARR! Sumpah nih komenan ente bisa dijadiin postingan aja gak? Jengah ane dalam bulan yg sama nemu 2 plagiator 😂 /curcol pret/

      “Al pecinta draft” ciusan 😭
      REQUEST REQUEST DILARANG KERAS WKWKWKWKWKKK KEINGINANMU SUNGGUH TIDA BERFAEDAH 😂😂 tidak ada double date dlm kamus tyar tjuy, jan harap 😂 HUAHAHAHAHH
      Well, THANK U SO MUCH TYAR GATAU KAPAN UPDATE LAGI POKONYA TUNGGUIN AJA DEH 😭 semangat!! Parah gajelas bgt sih ane 😂😂

  15. Annyeonghaseyo 😀
    Ciee yang update. Hm sbulan lebih malah lu gk update.
    Gue suka sbenernya sma chapter ini. Tapi krang aja sama momentnya hunrene. Tpi gpp yg pnting lu update
    Gomawo. Dan gue tunggu knjutan POL diwattpad. Fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s