[ONESHOT] ONCE IN A LIFETIME — IRISH’s Story

irish-once-in-a-lifetime

|   ONCE IN A LIFETIME   |

|   Reen (Kyungrin) x Minseok (Xiumin)   |

|   special guest HyeKim OC’s Hyerim & Luhan   |

|  Historical x Mystery  |  Oneshot  |  Teen  |  by IRISH  |

— how was our life before and after? —

Dedicated for my beloved dopple-ganger anneandreas

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Kyungrin-ssi?”

Si gadis yang namanya baru saja disebut lantas mendongak, tatapannya tertuju pada seorang pria yang baru saja menyebut namanya.

“Ah, ya. Maaf, Xiumin-ssi.” Reen lantas berucap, sadar bahwa ia baru saja melamun ketika tengah mendampingi seorang seonbi—pelajar—yang baru tiba di Pyongyang.

“Tidak apa-apa. Apa gerangan yang kau pikirkan sedari tadi?” Xiumin bertanya, senyum ramah ia selipkan saat berucap.

“Tidak, tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan satu-dua hal yang tidak begitu penting. Sampai dimana kita tadi bicara?” Kyungrin berucap.

Ya, keduanya sekarang tengah berjalan di tengah jalan setapak menuju pasar Pyongyang. Teriknya matahari bahkan tidak mengganggu keinginan dua pemuda-pemudi itu untuk menemui seorang penjual buku terkenal yang karyanya tengah diinginkan Xiumin.

Ah, ya. Tadi Kyungrin katakan jika ia cukup beruntung karena dipilih untuk mendampingi seonbi tersebut selama ia ada di Pyongyang. Xiumin sendiri, adalah seorang pelajar yang datang dari Nanjing untuk mempelajari budaya yang ada di Pyongyang. Sementara Kyungrin sendiri adalah satu dari belasan seonbi cerdas yang ada di desanya.

“Kita tengah bicara tentang buku yang aku inginkan.” Xiumin berucap, mengingatkan Kyungrin tentang topik pembicaraan yang tadi sempat ia abaikan karena melamun.

“Ah, benar. Seonbi pasti sangat ingin tahu seperti apa sosok Jjang Ok yang banyak dibicarakan di Nanjing.” Kyungrin berkata, ia ingat bagaimana Xiumin kemarin bercerita tentang penulis dari Pyongyang yang menyebut dirinya sebagai Jjang Ok.

Setahu Kyungrin, Jjang Ok adalah seorang penulis yang membuka mata dan pikiran orang-orang di Pyongyang tentang kerasnya kehidupan. Hampir semua karya yang Jjang Ok tulis berisi tentang kisah-kisah pembunuhan misterius yang tidak pernah diselesaikan di Pyongyang.

Memang, terdengar mengerikan ketika orang-orang tahu Jjang Ok menulis cerita itu berdasarkan data-data yang ia dapatkan dari petugas keamanan di Pyongyang. Tapi toh, banyak orang yang membaca novel buatannya.

Dan juga, Kyungrin sejak tadi tidak bisa berhenti membatin kagum. Lantaran mengetahui bagaimana luasnya pengetahuan yang Xiumin miliki. Pria berusia pertengahan dua puluh itu bahkan bisa dengan lancar berbicara dengannya, dan ya, Kyungrin akui dia mengagumi pria berwajah manis itu.

“Berapa lama seonbi akan menetap di Pyongyang?” tanya Kyungrin kemudian, alih-alih terus membicarakan tentang buku, ia justru berusaha mencari bahan pembicaraan lain yang lebih menyenangkan.

“Dua atau tiga hari lagi, kurasa. Kau tahu sendiri, pembunuhan misterius terus terjadi selama beberapa tahun terakhir di Pyongyang, dan kami diperintahkan untuk tidak terlalu lama ada di sini. Hmm, bukankah kami sudah singgah di sini selama lebih dari dua belas hari?” Xiumin menjelaskan.

Kyungrin sendiri hanya mengangguk-angguk setuju. Sejujurnya, dia juga merasa was-was jika harus berkeliling Pyongyang di malam hari. Itulah mengapa ia memilih untuk menemani Xiumin di siang hari seperti ini.

“Ah, itu tempat tinggal Jjang Ok.” akhirnya Kyungrin terdengar bersuara.

Keduanya—tanpa konversasi berarti—akhirnya melangkah menuju sebuah persinggahan kecil di ujung pasar. Tampak, sebuah tirai dari susunan cangkang kerang kecil menyambut mereka sebagai pintu masuk.

“Permisi…” Kyungrin berkata, dengan sedikit penasaran ia mengintip dari tirai tersebut, sebelum dilihatnya seorang gadis berpenutup wajah muncul.

“Kalian mencari Tuan Jjang Ok?” tanya gadis itu.

“Y-Ya, maaf karena aku sedikit sembrono. Apa Tuan Jjang Ok ada?” Kyungrin bertanya, sekaligus meminta maaf jika saja sikapnya tadi terkesan kurang sopan.

“Tidak apa-apa. Kalian bisa menunggu di dalam karena Tuan Jjang Ok sedang dalam perjalanan dari bukit. Kalau tidak keberatan, aku akan menyiapkan teh hijau dari Hanyang selagi menunggu.”

Tentu Kyungrin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Baiklah, terima kasih.” tutur Kyungrin, memberi sebuah isyarat pada Xiumin untuk masuk lebih dulu—mengingat bahwa Xiumin adalah seorang tamu di sini—sebelum Kyungrin kemudian mengikutinya.

“Boleh aku melihat-lihat sebentar? Aku sangat mengagumi Tuan Jjang Ok dan karya-karyanya.” Xiumin berucap kala dipandanginya deretan novel-novel yang ada di dalam persinggahan kecil tersebut.

“Tentu saja. Seonbi bisa membaca beberapa novel tersebut sembari menunggu. Aku akan menyiapkan teh hangat di meja.” gadis berpenutup wajah itu berkata.

Sejujurnya, Kyungrin sama tertariknya pada hal buku. Tapi bisa dibilang, Kyungrin sudah membaca semua novel buatan Jjang Ok jadi ia tidak begitu tertarik untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku, saat ini.

Alih-alih membiarkan dirinya bosan hanya dengan suguhan teh hijau—yang sebenarnya tidak begitu Kyungrin sukai—dan melihat bagaimana Xiumin telah disibukkan dengan novel-novel, akhirnya Kyungrin memilih untuk berdiri di dekat tirai kerang yang ada di depan, menatap aktivitas orang-orang di luar sana.

“Lama tidak bertemu, Kyungrin-ah.” sontak Kyungrin menoleh saat didengarnya suara gadis tadi menyebut namanya dengan cara yang begitu familiar.

“Hyerim?” Kyungrin menatap terkejut. Gadis yang tadi menyambutnya kini telah melepaskan penutup wajah yang membuat Kyungrin tidak mengenali wajahnya. Sementara ia tersenyum kecil.

“Tiga tahun? Atau empat tahun? Sudah sangat lama sejak kita berpisah di Hanyang.” tutur gadis itu—Kim Hyerim.

“Ya, benar. Sudah empat tahun lamanya. Aku benar-benar tidak percaya kau ada di Pyongyang. Sejak kapan kau menetap di sini?” tanya Kyungrin. Gadis itu sekarang sebenarnya tengah berada di dalam euforia.

Hyerim adalah temannya sejak kecil saat mereka sama-sama tumbuh di Hanyang. Sayang, keluarga Kyungrin memutuskan untuk pindah ke Pyongyang saat Kyungrin di terima sebagai pelajar di Pyongyang. Memang, ia dan Hyerim mengambil ujian yang sama, tapi hanya Kyungrin yang lolos dan akhirnya kedua sahabat itu terpaksa berpisah.

“Kau jadi sangat cantik sekarang, Hyerim-ah.” Kyungrin berkata, ingin ia merangkul teman dekatnya itu, tapi diam-diam sebersit perasaan Kyungrin memperingati, jika Hyerim yang dikenalnya telah berubah.

Setidaknya, dulu Hyerim adalah gadis periang yang tidak bisa diam. Sekarang, Hyerim bahkan hanya memamerkan senyum kecil saja. Dia bahkan jadi lebih pendiam daripada Kyungrin.

“Aku bertemu dengan Lu Han beberapa bulan setelah kau pergi ke Pyongyang.” Hyerim berkelakar.

“Lu Han?” tanya Kyungrin tidak mengerti.

“Ah, ya. Lu Han adalah nama Tuan Jjang Ok.” jelas Hyerim.

Kyungrin hanya mengangguk-angguk pelan. Setidaknya, impiannya dan Hyerim untuk pergi ke Pyongyang sama-sama terwujud. Meski dengan cara yang berbeda.

“Apa kau juga—”

“—Kesedihan. Aku melihat kesedihan memenuhi ruangan ini.”

Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar memotong ucapan Kyungrin. Lantas, Kyungrin dan Hyerim sama-sama memutar tubuh, menatap seorang pria yang berdiri di luar tirai.

“Ah, Tuan. Anda pulang.” Hyerim berkata.

“Jjang Ok-ssi?” Kyungrin berucap tanpa sadar. Meski ia selalu membaca semua buku karya Jjang Ok, tapi sebenarnya ia sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan penulis legendaris itu.

“Apa kau sudah menikah?” pertanyaan itu diutarakan oleh pria yang baru saja datang, sementara tatapannya tertuju pada Kyungrin.

“Maaf?” Kyungrin menatap tidak mengerti.

“Kau tidak akan pernah menikah, agassi. Jiwamu terlalu banyak membawa kesedihan.” pria itu berkata, sementara ia melangkah masuk dan melewati Kyungrin yang masih berdiri tidak mengerti.

“Apa… maksudnya?” tanya Kyungrin. Ia bahkan tidak mengenal pria itu secara langsung. Dan tentu saja, ucapan pria itu terasa menyinggung perasaannya. Lagipula, siapa yang tidak akan merasa tersinggung ketika dikatakan tidak akan pernah menikah?

“Jiwamu membawa kesedihan, dan kesedihan itu akan jadi penghalang hubungan apapun yang kau miliki. Bahkan di kehidupan selanjutnya, kesedihan itu akan terus mengikutimu.”

“Memangnya, aku salah apa?”

Kyungrin kini tidak mengerti, mengapa ia tiba-tiba saja dikatakan sebagai seorang yang membawa kesedihan. Belum lagi, sekarang Kyungrin pikir jika dia akan terus membawa penderitaan padahal Kyungrin pikir kehidupannya sudah cukup baik.

“Tidak, kau tidak salah tentu saja. Ya, memangnya ada manusia yang pernah merasa dirinya bersalah? Hanya saja, kematian akan jadi pilihan di setiap awal menuju kebahagiaanmu. Karena kau membawa kesedihan, kupikir kematian mengincar orang-orang yang ada di dekatmu. Berharap saja kau akan dilahirkan dengan keadaan lebih baik di kehidupan berikutnya.”

Kyungrin baru saja akan menyahut ketika dirasakannya lengan Hyerim menahannya. Gadis bermarga Kim itu menggeleng-geleng pelan, tanpa sadar membuat Kyungrin bungkam juga.

“Lu Han, apa kau ingin teh? Aku akan menyiapkannya untukmu.” Hyerim kemudian berkata, usaha untuk mengubah topik utama pembicaraan mereka tentu saja.

“Ya, baiklah.” Lu Han menyahut, sementara ia sekarang duduk di meja kecil yang ada di ujung deretan buku miliknya. Kyungrin sendiri masih berdiri mematung di tempat yang sama.

“Berhati-hatilah, agassi. Perasaan yang kau miliki mungkin bisa membunuh orang lain. Kupikir, masing-masing orang punya kutukan yang akan mereka bawa sampai kehidupan berikutnya. Dan kematian, adalah kutukan yang kau bawa.”

“Dan bagaimana kau bisa tahu?” Kyungrin bertanya dengan nada menantang.

Lu Han, menatap sejenak sebelum ia menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Mudah saja untuk tahu. Berani bertaruh denganku? Pria yang sekarang datang bersamamu, juga akan mati dalam waktu dekat. Hidupmu akan terus seperti itu, agassi. Mungkin juga, pria yang bersamamu memang selalu ditakdirkan mati muda.”

Lu Han mengakhiri perkataannya dengan sebuah tawa ringan, sementara Kyungrin sendiri berdiri mematung. Kekhawatiran sekarang mendominasi batinnya. Sungguh, ia tidak mengerti alasan Lu Han tiba-tiba saja berkata sebanyak—dan selancang—itu padanya.

Mereka bahkan baru pertama kali ini bertemu, dan bukankah seharusnya Lu Han menjaga kesopanannya? Meski dia adalah seorang yang dipandang terhormat, bukan berarti dia bisa bicara seenaknya, bukan?

“Tidak ada orang yang terlahir di dunia hanya untuk membawa kesedihan, Tuan.” akhirnya Kyungrin berkata. Lu Han, hanya menjawabnya dengan sebuah senyum samar.

“Kita lihat saja siapa yang benar di antara kita.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jangan pedulikan ucapan Lu Han. Terkadang, dia percaya kalau dia bisa melihat masa depan seseorang.” Hyerim berucap, ketika ditemukannya Kyungrin terus menatap Lu Han dengan penuh kecurigaan setelah terlibat konversasi cukup serius bersama pria itu.

“Aku tidak tahu jika dia sangat menyebalkan.” Kyungrin berkomentar. Diam-diam diperhatikannya bagaimana sekarang Lu Han dan Xiumin bicara dengan begitu akrab.

Ternyata, keduanya sama-sama berasal dari Nanjing, sehingga tidaklah sulit bagi dua orang itu untuk akrab seperti saat ini. Kyungrin sendiri, memilih untuk tidak ambil pusing tentang ucapan Lu Han tadi.

“Apa ucapannya pernah terbukti?” tanya Kyungrin was-was.

Hyerim tersenyum kecil dan menggeleng. “Tidak pernah, sudah kubilang jangan kau pikirkan ucapannya. Dia seringkali seperti itu karena dia adalah seorang penulis. Banyak masalah yang ada di pikirannya sampai ia tidak bisa menunjukkan ekspresi berguraunya padamu.”

“Bergurau?” Kyungrin ingin tertawa mencibir sekarang. Bagaimana bisa perkataan kejam seperti tadi dikatakan Hyerim sebagai gurauan? Di telinga Kyungrin, Lu Han terdengar seolah sedang mengutuk Kyungrin sampai ke kehidupan gadis itu selanjutnya.

“Dia bahkan bicara seolah tahu aku akan jadi apa di kehidupanku selanjutnya.” komentar Kyungrin mendengar perkataan tenang Hyerim tadi.

“Jangan khawatir. Kau dan seonbi itu akan baik-baik saja.”

Kyungrin mengangguk kecil. “Ya, ya. Aku tidak lagi khawatir. Oh ya, kau sudah dengar tentang seorang seonbi yang menghilang itu?” tanya Kyungrin kemudian.

“Siapa—oh, Baekhyun seonbi?” Hyerim berucap.

“Hmm. Kudengar ini sudah hari ke-lima puluh sejak ia menghilang. Apa menurutmu Lu Han akan menulis cerita tentang hilangnya Baekhyun juga?” Kyungrin bertanya iseng.

Ia ingat, bagaimana seorang pelajar menghilang saat tengah bertugas malam, beberapa waktu lalu. Dan diam-diam Kyungrin tergelitik untuk tahu bagaimana reaksi seorang penulis novel misteri tentang kasus ini.

“Menurutmu bagaimana? Begitu penjaga kerajaan menyatakan hilangnya Baekhyun seonbi sebagai kasus tidak terselesaikan, sudah pasti esok harinya novel milik Jjang Ok sudah ada setidaknya lima buah.” tutur Hyerim.

Kyungrin mengangguk-angguk paham. Ia tahu benar kebiasaan Jjang Ok yang selalu mengejutkan orang-orang dengan novel yang tiba-tiba saja muncul. Heran, bagaimana bisa ia menulis beberapa buah buku dalam waktu semalam menggunakan kasus pembunuhan misterius.

“Benar juga, kalau begitu aku hanya perlu menunggu sepuluh hari lagi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

‘Temui aku di penginapan, malam nanti sebelum kapal datang.’

Kyungrin sibuk mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja. Pikirannya sedari tadi melayang pada sederet kalimat yang ditemukannya ada di atas kertas, di meja yang sama. Tidak perlu Kyungrin bermain tebak-tebakan untuk tahu siapa pengirim surat itu. Sudah jelas, Xiumin orangnya.

Ia juga tahu, malam ini Xiumin akan kembali ke Nanjing, dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Mengabaikan keinginannya untuk berdiam di asrama, akhirnya Kyungrin memutuskan untuk menemui Xiumin.

Tentu saja ia penasaran tentang maksud dari surat yang pria itu tulis.

Tidak sampai sepuluh menit berlalu sejak Kyungrin tadi masih menimbang-nimbang tindakannya di asrama. Kini, gadis itu sudah berdiri di depan sebuah pintu kayu, dengan lentera yang masih menyala di dalam sana, bisa Kyungrin lihat bagaimana Xiumin duduk di depan meja.

“Ada keperluan apa kau datang ke sini malam hari?” seorang penjaga di depan pintu bertanya pada Kyungrin.

“Ah, Xiumin seonbi mengirimkan sebuah surat padaku. Ia katakan jika ia ingin bertemu malam ini.” Kyungrin menjelaskan, ia tunjukkan kertas yang ditemukannya di meja.

Penjaga itu, melihat sekilas ke arah surat yang ada di tangan Kyungrin sebelum mereka mengetuk pintu yang jadi satu-satunya pembatas antara Kyungrin dan Xiumin sekarang.

“Tuan, Do Kyungrin dari Pyongyang ingin bertemu dengan Tuan.”

Tidak ada jawaban. Bisa Kyungrin lihat Xiumin masih duduk dengan posisi yang sama, tapi ia tidak memberi respon berupa jawaban, atau gerakan apapun. Diam-diam Kyungrin menyernyit bingung, tidak mungkin Xiumin tertidur, karena kapal yang akan membawanya kembali ke Nanjing akan segera tiba.

“Tuan?” terdengar suara penjaga kembali memanggil Xiumin.

Sama-sama merasa curiga, Kyungrin dan dua penjaga di depan pintu akhirnya saling melempar pandang sebelum salah seorang di antara mereka bergerak membuka pintu kayu tersebut.

Sekon selanjutnya, Kyungrin ambruk ke lantai.

“X-Xiumin…” gadis itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Tuan!”

“Tuan!!”

Kyungrin gemetar ketakutan. Jelas dilihatnya bagaimana Xiumin duduk dengan mata terpejam dan darah yang mengotori pakaian bernuansa violet miliknya. Darah itu keluar dari mulutnya sementara tangan kanannya ada di atas meja, menggenggam sebuah sendok kayu.

“Tidak… Tidak mungkin…”

Kyungrin menggeleng keras-keras, berusaha menyadarkan dirinya sekaligus mempercayai apa yang sekarang menyambut pandangannya. Memang, benar-benar Xiumin yang sekarang tengah didatangi oleh dua penjaga tersebut dengan kepanikan.

Teriakan-teriakan juga terdengar mendominasi, sementara suasana sepi yang tadinya melingkupi kini berubah menjadi keramaian mengerikan yang tidak Kyungrin inginkan.

“…Berani bertaruh denganku? Pria yang sekarang datang bersamamu, juga akan mati dalam waktu dekat…”

Ucapan Lu Han kini terngiang di pendengaran Kyungrin. Tapi sekuat tenaga ia berusaha menghapus kemungkinan terburuk yang baru saja pikirannya tuduhkan pada pemiliknya.

Kyungrin tidak ada hubungannya dengan kematian Xiumin. Ia bahkan tidak terlibat dalam kedekatan khusus apapun dengan pria itu.

“Ini bukan salahku… Ini bukan salahku.”

Tanpa Kyungrin tahu, dua orang kini memperhatikannya dalam diam di kegelapan. Keduanya, mengenakan tudung hitam dengan senyum di wajah salah satunya.

“Aku tidak menyesal karena sudah datang ke sini, kita benar-benar disuguhi tontonan menarik.” ucap salah satunya.

Satu orang lagi, menatap ke arah Kyungrin dengan pandangan iba sebelum ia menghembuskan nafas panjang sembari menatap lawan bicaranya.

“Kita kembali sekarang, Lu Han?” tanyanya.

“Ya, tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu enam puluh hari lagi sampai novel baruku beredar di pasar. Jarang sekali menemukan kematian seseorang dari Nanjing bukan?” pria bernama Lu Han itu berkata.

Lawan bicaranya, Hyerim, hanya tersenyum samar.

“Tapi mengapa Kyungrin?” tanyanya.

Lu Han kini menatap tidak mengerti. “Bukankah kau menyimpan dendam padanya karena dia meninggalkanmu di Hanyang? Aku sudah membalaskan dendammu, Hyerim. Kau pikir dia akan hidup dengan baik setelah ini?”

Hyerim, hanya mengalihkan pandang saat mendengar ucapan Lu Han.

“Terima kasih.” ucapnya.

Lagi-lagi, Lu Han tersenyum.

“Aku bahkan tidak perlu punya kemampuan melihat masa depan untuk tahu jika temanmu itu akan terus hidup dalam kesedihan. Bahkan di kehidupan selanjutnya, atau kehidupan-kehidupannya yang lain, dia akan terus mengalami kejadian serupa.”

Mungkin, tidak akan ada yang pernah tahu jika Lu Han sebenarnya adalah dalang di balik semua pembunuhan yang terjadi di Pyongyang. Yang orang-orang tahu, dia adalah Jjang Ok, penulis legendaris yang selalu dihormati dalam sejarah.

Dan juga, siapa yang tahu jika ucapan Lu Han mungkin memang benar adanya?

— FIN —

IRISH’s Fingernotes:

YAAMPUN. Aku enggak tau ini ide eksekusinya berhasil atau enggak. Berhubung ngetiknya balapan di tengah-tengah kesibukan bulan Nopember yang sangat mencekik, jadi mungkin terburu-buru ya ini T.T

KANE MIANE KALO UMINNYA ENGGAK BANYAK NAMPANG. JANJI DEH NANTI DI CERITA SELANJUTNYA UMIN AGAK BAGUS DIKIT GITU PERANNYA. SEMOGA.

Ini kayaknya aku terlalu fokus buat menganiaya Reen (ini semua salah Kak Anne karena demen sad story T.T) dan jiwa aku sebenernya enggak ada mellow-mellownya.

DAN JUGA, AKU HARI INI MELANGGAR ATURAN SAKRAL KARENA APA? KARENA INI HARI ULANG TAHUNNYA KAK ANNE.

MASYA ALLAH KEMBAR JENJER AKU UDAH TAMBAH TUA SATU TAUN.

Enggak bisa dipercaya emang dengan posturnya yang terbilang imut-imut, kakak aku satu ini udah berkepala dua setengah… sesuatu sekali kan ya?

POKOKNYA, PIBESDEY KAK NE. ALL MY BEST WISHES FOR YOU.

p.s. ini eksekusi historical dOeLOeh ya Kak Ne 😄 😄

Sesuai keinginan, jamnya udah Kak Anne pilih sendiri semalem dan ya… jadi dua cerita akan menyusul sore nanti. WKWKWKWKWK.

p.p.s ELSPAGNOLIA DEDE GEMESKU, KUPINJEM LUHAN SAMA HYERIM YHA. INI HISTORICAL LOH, KAN KAMU JUGA NGIDAM HISTORICAL. YAH… MESKI DI SINI HYERIM-LUHAN PERANNYA AGAK-AGAK AMBIGOUS. LOOOOL.

Iklan

35 pemikiran pada “[ONESHOT] ONCE IN A LIFETIME — IRISH’s Story

  1. Duh irish gmn sih bs konstan nulis di tengah kesibukan…
    Btw hepi belated bday buat Kane juga huhuhu
    Dan utk ficnya sendiri menurutku sdh cukup keren kok eksekusinya, misterinya dpt walau endingnya sedikit tertebak, tapi yah enak aja dibaca gitu 😄
    Keep writing!

  2. KAK IRISHHHHH /TEREAK SMP KEDENGERAN KE INDONESIA KHUSUSNYA SURABAYA/

    INI WHAY XIUMINNYA GIYOWO DI POSTER EH DIANYA KURANG NAMPAK. DUH REEN SINI AKU PEYUK KAMU EMANG LUHAN ITU KEJAM /WHAT/

    Kenapa… kenapaaaa… kenapa Luhan-Hyerim jadi kapel saiko? Xiumin diracun sianida segala dasar mereka ketularan jesika :”) kenapa gak sekalian Luhan-Hyerim cincang-cincang tubuh umin buat makanan ikan pari? /PLAK/ /KAN SAIKO PANTESAN/ MEREKA BERDUA YANG UNYU-UNYU HARUS JADI ZAIKO… GUDJOB KAK RISH GUDJOBBBB 😂😂😂 KALI-KALI KALO MINJEM MEREKA LAGI JAN SEPERTI INI KAK RISH TAPI KOK ANE MERASA INI AGAK SWIT PAIT BIKAUS LUHAN BERNIAT MEMBALASKAN DENDAM HYERIM /DIRAJAM KAK NE/ KALI-KALI JADIKAN HYERIM-LUHAN SEDIKIT NORMAL :””””

    Dan ya, ini FF historical dan jangan mengingatkan ane dengan ngidam historical ya Allah :”””’ kan ane jadi inget cari-cari referensi sampe mumet gak jelas bfftttt.

    Di sini ya…. Luhan emang songong wkwkwkwk. Kasian si Reen udah dapet omongan tajem terus jadi kenyataan padahal belum juga pacaran sama umin. Hyerim juga …. kalo situ kasian why coba why malah tetep cicing gak laporin kelakuan Luhan aja? Cinta buta neng? :”) pantes Luhan cepet lirisin novelnya wong dia ndiri yang ngebunuh, dia yg nulis, pas kasusnya kelar ya tinggal liris :””)) auk ak Luhan.

    Btw untuk kak ne @neurosistoexo met ultah lagi yaaaaa. Maafkan Hyerim-Luhan di sini :”)

    p.s : ane tadi belum baca eh liat komen udah disemprotin ane kejam :”)

  3. Dan aku ngakak parah dibagian ternyata si jang ok teh luhan wkwkwkwk.
    aku ngebayanginnya kok si jang ok ini lelaki tua buahahahahhaa..

    TAPI KENAPA MEREKA HARUS MEMBUNUH XIUMIN NOMU SARANGEEEEKKKK?????!!!!!
    ELSA MANA ELSAAA.. KAMOO KEZAAAAAAMMMM..!! *marah yang salah*

    Kenapah inih kurang romantis? Kenapa umin ga matinya pas malam pengantin kyungrin xiumin saja? *digampar ramerame

    BETEWE TEREMAKASEEEEEHHHHHH..
    KALO AKU TAU 3 ANGKA ITU BUAT NGEPOST MAH AKU BAKAL JAWAB 01 01 01 *ditabok
    AKUH MENUNGGUH 16 17 WAAAAAKKKK..
    DAN AKU SEKARANG LUPA 3 GENRE YANG KUPILIH KEMAREN APA AJA BHAAAAKKKKSSS
    EE ADA MERIT LAIFEU KAN YAAAH? EE ENDAK YAAAH?
    *brb buka wp admin *digampar
    GAK DING, AKU NDAKMO CURANG. NTI KUBACA AJAAAA
    SEKALE LAGEEH MAKASEEEEEHHHH MUMUMUMUMU

  4. Happy Birthday Anne 🙂 btw, ‘ber-kepala dua setengah’ itu jd spooky ya 😀
    Apa para petugas keamanan/tkh2 masyarakat/pjabat2 jmn itu di Pyeongyang ga da yg curiga sm nvl2 jjang ok?? lu han & hye rim ky couple psycho ya, kesian umin 😥 dy di racun kah? wah, ntar sore bkl ada new ff lg?? saya tggu ^.^

    • Makasiiiihhh..
      Iyah si iriseu mah gitu, kan agak serem gimana gitu ya palanya dua setengah :/
      Mungkin masyarakat sana terlalu menghormati si jang ok sampe sampe ga perna curiga sama dia.. 😦 kasian uminnya *lap ingus
      Iyaaah, katanya mah si iriseu bikin 3, aku juga nungguin.. wakwakwak

  5. HABEDE KAK NE, HUAAA, TERNYATA INI ULTAH KAK NE.😆🎉🎉🎉
    Pantes novelnya cepet selesai, wong luhan yg bunuh/plakk/😂
    Nunggu nanti sore yak kak irishhh..😆😆
    Elsa blm ngidam lo kak rish, dia masih 15 taun/plakk/😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s