[ONESHOT] LA DOULEUR EXQUISE — IRISH’s Story

irish-la-douleur-exquise

|   LA DOULEUR EXQUISE   |

|   Reen x Arin   |

|   Kim Minseok   |

|   special guest l18hee OC’s Runa   |

|  Horror x Melodrama x Sistership  |  Oneshot  |  Teen  |  by IRISH  |

— everyone has someone who always followed them —

Dedicated for my beloved dopple-ganger anneandreas

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Putus lagi?”

Entah, sudah berapa kali Reen mendengar pertanyaan serupa hari ini. Berkat saudari kembarnya—Arin—agaknya seisi gedung apertemen kecil yang ia tempati bersama Arin sudah tahu kabar berakhirnya hubungan antara Reen dan kekasihnya, Woohyun.

“Ya, begitulah. Mungkin kami belum berjodoh,” komentar Reen sekenanya. Dia tidak ingin mengumpati keapesannya karena memiliki kekasih seperti Woohyun—yang notabene merupakan pria super pencemburu dan tidak akan segan-segan mengucap kata ‘putus’ jika ia merasa disakiti oleh pasangannya.

“Hmm, ya, mungkin benar juga. Tapi Arin mengoarkan kabar tidak jelas kemana-mana.” mendengar perkataan itu, Reen akhirnya memutar bola mata sebal. Duh, mulut Arin sepertinya perlu diselotip.

“Adikku memang sering bicara melantur. Kali ini, dia bicara apa lagi?” tanya Reen, penasaran juga tentang apa topik utama ‘penyebab putusnya Reen’ yang kali ini Arin sebarkan.

Pasalnya, bukan sekali dua kali Arin menyebar aib seperti ini. Setiap kali jalinan kasih yang Reen berusaha bangun dengan pasangannya kandas, Arin pasti jadi orang pertama yang menyebarkan berita putus itu ke penjuru apertemen.

Rasa-rasanya, Reen pikir seisi kota Seoul akan tahu kalau dia baru saja putus, berkat Arin tentu saja. Alasan-alasan konyol yang Arin gunakan juga herannya bisa terdengar masuk akal di telinga orang-orang yang mendengarkan kabar burung tersebut.

Entah, Arin yang berbakat untuk jadi biang gosip, atau orang-orang yang terlampau bodoh karena mempercayai alasan konyol tersebut.

“Ah, Reen putus dengan kekasihnya karena ketahuan berselingkuh.”

“Kau tidak tahu? Bukan kekasihnya yang memutuskan hubungan, tapi Reen. Memangnya, siapa di dunia ini yang suka berpacaran dengan pria lebih muda? Cih, selera Reen soal pria memang aneh.”

“Mereka putus karena Reen terlalu pendiam. Mungkin, kekasihnya merasa bosan dan akhirnya berselingkuh dengan gadis lain yang lebih agresif. Untung saja kekasih Reen tidak bertemu denganku, kalau tidak dia pasti jatuh hati pada adik kekasihnya ini.”

“Reen bilang kekasihnya tidak modal, membelikan handphone saja dia tidak mau, apalagi membelikan rumah untuk Reen yang akan jadi calon istrinya. Mungkin memang lebih baik mereka putus saja.”

Yah, Reen masih ingat benar beberapa alasan konyol yang sempat di dengarnya keluar dari bibir Arin ketika gadis yang berwajah sama persis dengannya itu tengah sibuk berkoar kesana-kemari tentang hubungan saudarinya yang hancur.

Heran juga, setahu Reen saudara kembar akan saling mendukung dan membantu. Tapi Arin justru melakukan hal yang sebaliknya. Bukan salah Reen memang, mungkin kesalahannya ada pada ayah dan ibu mereka. Kenapa? Tentu saja karena di keluarga Do, Arin lah yang kelakuannya paling luar biasa.

Reen ingat kata ibu mereka dulu, Arin sangat bandel sampai-sampai dia jadi satu-satunya anak yang berulang kali terjatuh—plus, dengan melukai kepalanya—saat kecil. Jadi, pikir Reen mungkin otak Arin sudah tidak seimbang lagi. Makanya gadis itu sering bertingkah abnormal.

“Dia bilang seseorang mengikutimu.” lamunan Reen seketika buyar ketika mendengar kalimat tidak masuk akal itu dari bibir Runa—penghuni kamar di lantai dua yang sedari tadi diajaknya bicara.

“Mengikutiku?” ulang Reen tidak mengerti.

“Ya, kau tahu kan Arin selalu mengumbar-umbar tentang bagaimana dia bisa melihat hal-hal aneh seperti hantu dan sebagainya. Meski tidak pernah benar-benar terbukti—kuakui, beberapa di antaranya terbukti tapi terlihat sebagai kebetulan—tapi kali ini Arin kelihatannya yakin sekali.” Runa menjelaskan.

“Dia yakin tentang apa? Lagipula, memangnya ucapan Arin pernah terbukti?” Reen separuh mencemooh.

Hey, jangan begitu. Dia pernah benar tentang ucapannya, beberapa kali. Dulu Arin katakan kalau pria sombong yang tinggal di lantai tiga itu jatuh hati padaku, dan lihat? Sekarang aku jadi kekasih si pria sombong bernama Oh Sehun itu.

“Lalu, dia juga pernah memperingatkanku tentang gadis bernama Krystal yang ingin merebut Sehun dariku. Dan lihat? Aku sudah bertengkar duluan dengan Krystal sebelum dia berusaha merebut Sehun. Mungkin Arin benar-benar punya sixth sense seperti yang dia katakan.”

Reen memasang raut datar saat mendengarkan penuturan Runa yang terdengar seolah membenarkan tindakan Arin untuk mengumbar masalah pribadi Reen ke semua orang yang dikenalnya.

Masih untung Reen pribadi yang sabar, dia tidak mungkin marah-marah atau mengusir Arin—lebih parah, menendang gadis itu keluar dari apertemen dengan gaya dramatis seperti di drama-drama—tapi dia juga tidak mungkin diam saja.

“Dan dia katakan seseorang mengikutiku? Atas dasar apa? Dan apa hubungannya dengan kemampuan—yang tidak terbukti—Arin itu?”

Runa terkekeh kecil. “Arin katakan ada arwah pria yang mengikutimu.” sontak, bulu kuduk Reen meremang mendengar perkataan Runa barusan. Bukan, perasaan merindingnya bukan hanya karena angin secara kebetulan bertiup dari jendela di ujung koridor lantai dua, tapi karena Reen tiba-tiba saja merasa takut.

“Apa maksudmu?” tanya Reen meminta penjelasan lebih pada Runa.

“Aku tidak tahu, Arin hanya mengatakan kalau ada arwah pria yang mengikutimu, dia tertarik padamu sehingga pria manapun yang berusaha dekat denganmu akan diganggu supaya hubungan kalian tidak berjalan dengan lancar. Itu saja. Memangnya Arin tidak pernah mengatakan apapun?”

Sebagai jawaban, Reen justru menggeleng pelan. Sungguh, Arin memang sering membicarakan tentang alasan-alasan bodoh yang ia umbar-umbarkan pada orang-orang. Tapi kali ini, Arin tidak bicara sepatah kata pun.

Bahkan, selama beberapa tahun mereka tinggal bersama, Arin tak pernah bicara apapun. meski sering bicara tentang hantu yang Arin katakan ada di apertemen mereka, tapi Arin tak pernah bicara tentang sosok apapun yang mengikuti Reen.

“Dia tidak pernah memberitahuku.” Reen akhirnya berucap, ada sebersit perasaan kecewa yang melingkupi batin Reen ketika dia tahu Arin telah menyembunyikan sesuatu di belakangnya.

“Kalau begitu tanyakan saja.” Runa berucap enteng, seolah perkara ‘diikuti oleh hantu’ yang kali ini menjadi alasan putusnya Reen bukanlah hal yang rumit seperti yang ada di dalam pikiran Reen sekarang.

“Hmm, akan kutanyakan nanti.” jawab Reen asal, “Aku kembali ke kamar dulu,” sambung Reen sebelum ia melangkah meninggalkan Runa yang hanya menatap tidak mengerti. Tentu gadis itu merasa heran karena atmosfir bersahabat yang sejak tadi Reen bawa tiba-tiba saja berubah dingin.

Dengan langkah berat, Reen membawa dirinya masuk ke dalam lift. Tentu saja ia sendirian, dan ya, memang Reen seringkali sendirian. Tapi kali ini gadis itu justru merasa was-was. Di dalam lift, Reen menatap sekelilingnya dengan pandang waspada.

Tatapan Reen berhenti pada kaca yang mengelilingi dinding lift. Sebelumnya, ia tak pernah merasa khawatir jika sesuatu tiba-tiba saja muncul di kaca itu—sesuatu yang mungkin dikatakan Arin mengikutinya—tapi kali ini Reen merasa takut.

Lekas, gadis itu merapatkan tubuh ke pintu lift, jemarinya bahkan sudah stand by di dekat tombol bergambar lonceng yang bisa langsung ia tekan begitu terjadi sesuatu yang tidak ia duga di dalam sana.

Ingatan Reen segera menari-nari, membayangkan bagaimana jika saja lampu di dalam lift mati, kemudian saat menyala, di depannya sudah muncul sosok dengan wajah mengerikan yang tiba-tiba saja mencekik Reen.

Hih!” sontak Reen menggerakkan bahunya dengan risih, tapi sekarang kekhawatiran lain mencekamnya. Bagaimana jika tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk bahunya?

Lengan Reen—yang tadinya sudah bersiap di dekat tombol darurat lift—kini berpindah ke kedua bahunya. Bukannya merasa tenang, ia justru semakin dibuat takut pada kemungkinan lain jika tangan misterius itu nantinya justru mencekal kedua tangannya.

Ugh, Arin sialan.” sempat Reen mengumpat, menyalahkan kemampuan tidak masuk akal kembarannya sebagai alasan yang membuatnya sekarang merasa takut tanpa penyebab yang jelas.

“Hantu itu tidak ada, Reen. Jangan percaya bualan yang Arin ceritakan. Dia terlalu banyak mendapat cerita horor dari ibu. Benar. Benar sekali. Itulah mengapa aku tidak pernah suka mendengar cerita pengantar tidur yang ibu berikan. Lihat akibatnya? Arin jadi tukang berimajinasi nomor satu di kota Seoul.”

Reen akhirnya berceloteh sendiri, alih-alih mengurangi rasa takut dengan menaruh tangan di dekat tombol darurat, ia justru mengalihkan pikirannya dengan menyalahkan Arin, lagi.

Ugh, kenapa lantai empat lama sekali?” kini Reen mengumpat pada lift, sadar jika ia sudah menghabiskan lebih dari satu menit di dalam lift tapi belum ada bunyi ‘TING’ familiar yang menandakan bahwa ia sudah tiba di lantai yang ia tu—

“Astaga, bodohnya kau… Reen.” gadis itu menghembuskan nafas kesal sekarang.

Tolong, ingatkan Reen kalau ia sejak tadi belum menekan angka manapun sebagai tujuannya. Bukan salah lift yang tidak kunjung berbunyi, nyatanya sejak tadi benda itu masih bergeming.

Perlahan, jemari Reen bergerak menekan angka empat, hembusan nafasnya mulai terdengar teratur ketika mendengar deru halus mesin lift yang bekerja. Tidak sampai lima belas detik, bunyi ‘TING’ yang Reen dambakan akhirnya terdengar.

“Oh, Tuhan…” helaan nafas terdengar lolos dari bibir Reen ketika cahaya minimal menyambutnya begitu ia sampai di lantai empat.

Agaknya, Reen selama ini sudah mengabaikan fakta bahwa ia tinggal di apertemen berlantai empat belas dengan penerangan super minimalis dan harga sewa setinggi langit. Buktinya, baru sekarang Reen mengeluhkan cahaya remang yang tiap petang ia sambut dengan biasa saja.

Ini semua karena Arin, tentu saja. Sekarang, Reen kan jadi membayangkan hal-hal aneh tiba-tiba saja muncul di koridor. Belum lagi, kamarnya dan Arin berada paling ujung. Sungguh banyak langkah yang harus Reen ambil untuk sampai ke peristirahatannya.

“Do Arin, lihat saja kau nanti.” Reen mengomel pelan, sementara langkahnya ia bawa melintasi koridor kosong tersebut. Sempat, ia menoleh ke kanan dan kiri, juga ke belakang, bahkan ke atas, untuk sekedar memastikan kalau ia benar-benar sendirian.

Diam-diam, Reen jadi menghitung jumlah langkah yang ia ambil, sempat beberapa kali ia terhenti, lantaran merasakan desir dingin angin yang meniup permukaan kulitnya, tapi sekali lagi Reen melempar pandang ke arah jendela di ujung koridor, menanamkan alasan ‘jendela’ sebagai penyebab angin tersebut terasa menusuk kulitnya.

“Tiga puluh empat,” Reen menggumam, kini ia sudah sampai di depan pintu kayu yang jadi pembatasnya dengan keberadaan Arin di dalam sana.

Tanpa sadar, Reen sempat membalik tubuh, dipandanginya kamar di seberang tempatnya selama ini tinggal. Setahu Reen, kamar di depannya ini selalu kosong. Karena alasan yang tidak jelas, penghuni kamar itu hanya bertahan sekitar dua atau tiga hari—maksimal, seminggu—sebelum akhirnya hengkang.

Apa mungkin sosok yang Arin bicarakan itu ada di kamar ini?

Mengabaikan keinginannya untuk mencari tahu lebih banyak lagi, Reen akhirnya menggeleng kuat-kuat. Memperingati dirinya tentang bagaimana bahayanya jika ia dengan sembrono mencoba masuk ke kamar kosong tersebut dan berakhir terjebak di dalamnya dan menghadapi hal-hal mengerikan.

Ugh, tentu Reen tidak ingin hal-hal berbau ‘mengerikan’ terjadi padanya. Hello, dia seorang Reen, yang dikenal sebagai pribadi tak banyak bicara, penyabar, dan super baik hati. Membayangkan semut dibunuh saja dia tidak tega, apalagi membayangkan hal horor. Reen tidak seperti Arin yang menyukai hal-hal berbau kekerasan, berdarah-darah, sadisme, belum lagi Arin agaknya kesulitan mengontrol emosinya.

Tidak bisa Reen hitung lagi, berapa kali dia ingin menjebloskan saudari kembarnya itu ke rumah sakit jiwa tiap kali Arin bicara tentang keinginannya mencincang-cincang, menyayat-nyayat, sampai menusuk-nusuk, mantan kekasih—belum jadi kekasih resmi, sih—Reen karena sudah membuatnya menangis.

Belum lagi, seluruh penghuni kebun binatang akan ikut dalam daftar absensi bibir Arin jika ia sudah terlampau kesal. Heran, seingat Reen saat jaman sekolah Arin tidak pernah hafal nama-nama hewan. Tapi sekarang ia justru sangat ekspert dalam hal seperti itu. Arin bahkan menjadi penemu nama-nama hewan yang Reen tidak ketahui.

“Aku pulang.” Reen berucap saat membuka pintu, helaan nafas kesal sempat ia selipkan karena sadar Arin tidak mengunci pintu—salah satu kebiasaan buruk saudarinya itu—sementara ia tengah berbaring di tempat tidur dengan headphone yang terpasang di telinga.

Sudah bisa Reen tebak, Arin pasti menyetel musik dengan volume 100 sekarang.

Hey!” Reen berteriak, dilemparnya tas bahu yang ia bawa ke tempat tidur, membuat Reen terlonjak dari posisinya sekarang dan refleks melepaskan headphone yang terpasang.

“Oh, Reen! Kau pulang!” Arin mencicit, ia tersenyum lebar pada Reen, dan anehnya, kali ini Reen menyadari kalau Arin sempat melempar lirikan ke sebelah Reen—seolah ada sesuatu di sana—dan ya, Reen bertanya-tanya sejak kapan Arin punya kebiasaan menyambutnya sambil melirik seperti itu.

“Kau terlambat setengah jam. Kenapa?” tanya Arin, melempar asal ponsel di tangannya ke bantal sebelum ia turun dari tempat tidur dan melangkah mendekati Reen.

“Berkat kau, tentu saja. Apa kau menagih ucapan terima kasih dariku?” Reen berucap, gadis itu kini duduk di salah satu kursi kayu yang ada di dekat pintu, bergerak melepaskan sepatu yang ia kenakan sementara Arin berdiri di hadapannya.

“Kenapa? Orang-orang bertanya padamu tentang bison berkepala koala itu?” tanya Arin membuat Reen memejamkan mata sejenak.

Sudahkah Reen katakan kalau Arin sekarang ekspert dalam hal mengkombinasikan hewan-hewan? Mungkin, Reen pikir Arin cocok bekerja di kebun binatang karena dia akan hafal semua hewan, termasuk hewan langka atau mutan.

“Bison berkepala koala ada di daftar hewan barumu?” timpal Reen sekenanya, heran sekali mengapa Arin bisa membayangkan bagaimana seekor bison berukuran besar bisa memiliki kepala koala yang menggemaskan. Reen saja tidak bisa membayangkannya.

“Ya, aku menemukannya pagi tadi saat mendengar kabar kau putus dengannya.” sahut Arin, menghempaskan tubuh di lantai dengan santai, sementara Reen sekarang sibuk melepaskan kaus kakinya.

“Memangnya siapa yang mengikutiku? Kudengar dari Runa kalau kali ini kau bilang aku diikuti oleh seseorang.” ucap Reen, mengabaikan keinginannya untuk meminta Arin menggambarkan tentang bison berkepala koala dan akhirnya mengembalikan topik pembicaraan mereka ke arah yang benar.

“Ah, itu.” sempat Arin terhenti—hal yang sontak membuat Reen melirik Arin dan sadar jika saudarinya tengah menatap ke arah lain—sebelum ia melanjutkan. “Aku hanya sekedar bicara, seperti biasanya.”

Reen menaruh curiga, tentu saja. Selama ini mungkin dia terlalu cuek pada gelagat aneh Arin sehingga baru sekarang dia merasa curiga pada tiap lirikan mata yang Arin lakukan saat bicara dengannya.

“Runa mengatakannya seolah-olah aku tidak laku karena diikuti hantu.” komentar Reen singkat membuat Arin tertawa cukup keras.

“Haha! Runa bicara begitu? Ah, dasar Runa. Dia hanya tidak terima karena sudah kuramalkan akan berkencan dengan Sehun.” timpal Arin santai, seolah tidak sadar jika Reen tengah berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin darinya.

“Tenang saja, bison berkepala koala itu tidak akan bisa mendekatimu lagi.” ucap Arin kemudian, menepuk-nepuk lutut Reen sebelum ia berdiri dan membenarkan kuciran rambutnya.

“Kenapa? Apa seorang hantu benar-benar mengikutiku?” pertanyaan Reen sekarang membuat Arin berbalik. Gadis berwajah serupa dengannya itu kini menyernyit bingung, menatap Reen tak mengerti dari dua frame bulat kacamatanya.

“Kupikir kau tidak percaya hantu, Reen. Kenapa denganmu? Apa Runa menakut-nakutimu atau semacamnya?” Arin malah balik bertanya. Sekarang, Reen merasa seolah dirinya adalah seorang freak yang merasa ketakutan karena alasan yang tidak jelas.

Reen akhirnya menyerah, ia melangkah ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuh di sana. Mengabaikan peluh yang membasahi tubuhnya—mengingat ia masih mengenakan mantel tebal di dalam ruangan berpenghangat—ia menatap langit-langit kamar sembari melanjutkan konversasi dengan Arin.

“Kau tahu sendiri, Arin-ah. Semua kencanku selalu gagal. Aku merasa seperti seorang gadis yang terkena kutukan atau semacamnya. Kau pernah menemui orang yang mengalami kasus sepertiku? Pasti tidak, kan? Kau saja punya hubungan yang awet dengan kekasihmu.”

Di ujung ruangan, Arin berdiri dan menatap ragu. Bibirnya kini mengerucut, tampak seolah ingin bicara tapi ia tidak tega.

“Jangan begitu, kau mungkin hanya kurang beruntung. Siapa yang tahu kalau sebenarnya jodohmu sudah dekat?” komentar Arin sebelum ia lekas mengalihkan pandang.

Sebenarnya, ucapan Arin tidak sepenuhnya berbohong. Selama ini, seorang Arin tahu jika seorang pemuda memang mengikuti Reen kemana pun. Sayang, keadaan pemuda itu sangatlah mengerikan sampai-sampai Arin sendiri seringkali merasa ngilu dan ngeri.

Itu juga alasan yang membuat Arin tidak sampai hati untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Reen. Mungkin kembarannya itu akan ketakutan setengah mati jika tahu ia selalu diikuti oleh pemuda berwajah hancur dan tubuh penuh luka menganga serta darah berbau busuk yang menyengat.

Arin bisa melihatnya, tentu saja. Sudah beberapa tahun terakhir Arin mengatakan pada semua orang kalau ia bisa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa lihat. Tapi tak ada yang percaya.

“Jodoh itu tidak ada, kurasa.” komentar Reen, gadis itu memejamkan matanya, ingatannya tentang bagaimana Woohyun meninggalkannya di restaurant tempat mereka berjanji untuk bertemu sekarang terulang dengan begitu jelas.

Rasa malu yang ia bawa tidak sebanding dengan sakit hati yang ia tanggung. Kasus Woohyun memang bukan yang pertama, dan karena bukan yang pertama lah rasa sakit itu sekarang tertimbun begitu padat di lubuk hati Reen.

Sudah hampir empat tahun ia mengalami hal serupa. Usianya sudah tinggi, tidak bisa lagi dikatakan remaja, dan tidak mungkin ia terus mengalami hubungan putus-pacaran-putus-pacaran dengan banyak pria.

Desas-desus soal Reen yang dikatakan sebagai gadis tidak baik juga sudah berulang kali terdengar dan menambah luka di hati gadis pendiam itu. Tapi Reen juga tidak tahu alasannya.

Ia benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang dibuatnya sampai harus mendapatkan karma seperti ini. Seingat Reen, ia tak pernah menyakiti hati pria manapun.

“Jodoh itu ada, sungguh. Kita bahkan tidak tahu kalau perkataan orang-orang itu benar. Ada orang yang berjodoh sampai mati.” ucap Arin ringan, ia kini menyibukkan diri dengan mencuci piring-piring kotor—ulahnya sendiri—di wastafel agar netranya tidak berfokus pada pemandangan di tempat tidur.

Dari sudut mata, bisa Arin lihat bagaimana pria dengan keadaan mengerikan itu duduk di tepi tempat tidur, menatap Reen iba seolah meminta maaf, tapi tak ingin melepaskan si gadis juga.

Arin tidak tahu dengan pasti apa yang sudah terjadi pada Reen, tapi arwah pria yang selama ini mengikuti Reen jelas membuat Arin tahu kalau ada orang-orang yang masih mengejar jodoh mereka bahkan setelah mereka mati.

Pria itu, contohnya.

“Kau bicara seolah pernah melihat orang yang berjodoh sampai mati saja.” sahut Reen singkat. Arin hanya menjawab dengan senyum kecil. Ya, Reen tentu tidak tahu. Jika saja Reen tahu mungkin sekarang dia tidak akan berbaring dengan santai seperti itu, bukan?

“Katanya, setiap orang punya seseorang yang mengikutinya. Kau mungkin tidak percaya hantu, tapi aku percaya. Dan aku tidak tahu mengapa, tapi aku yakin semua orang punya setidaknya satu arwah yang mengikutinya.”

“Kenapa? Kenapa mereka harus diikuti?”

“Aku tidak tahu, Reen. Mungkin arwah itu merasa tertarik padanya, atau orang itu punya kesalahan pada si arwah. Kadang juga arwah itu hanya iseng dan menjahili saja, tapi mereka benar-benar ada, Reen.”

Terdengar helaan nafas panjang dari Reen sekarang.

“Apa maksudmu kau dan aku juga diikuti?” tanya Reen membuat aktivitas Arin terhenti. Gadis itu jelas melihat sepasang tangan mungil di sebelah lengannya, milik seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang selama ini selalu mengikuti Arin dan mengajak gadis itu bermain-main.

“Kalau kuberitahu, kau pasti menelepon rumah sakit jiwa.” sahut Arin kemudian.

Terdengar suara pergerakan kecil, pasti Reen bangkit dari tempat tidur.

“Kau benar-benar bisa melihat hantu? Seperti yang dulu kau katakan?” suara Reen sekarang terdengar dekat.

Arin menghembuskan nafas panjang sebagai jawaban.

“Kau tidak pernah percaya. Kenapa sekarang menanyakannya?” Arin malah balik bertanya. Ia letakkan piring di tangannya di wastafel, sebelum ia berbalik dan menatap Reen—juga pria yang berdiri tepat di belakang Reen dengan tidak nyaman.

“Jadi kau tidak hanya berbohong?” Reen mendesak.

“Ya, ya. Aku bisa melihat hantu. Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, tapi kau bilang aku terlalu banyak menonton film horor dan terlalu sering mendengar cerita horor dari ibu.” Arin berucap kesal.

Semuanya berawal ketika Arin terbaring koma setelah menjadi korban kecelakan kereta bawah tanah beberapa tahun lalu. Setelah pulih dari kecelakaan tersebut, Arin mulai melihat hal-hal aneh tapi Reen tidak peduli. Pada awalnya, ia memang merasa begitu ketakutan karena terus melihat hantu di sekitarnya. Tapi sekarang, Arin justru sudah terbiasa.

Melihat hantu kini jadi sebuah inspirasi baginya—mengingat Arin bekerja sebagai seorang penulis komik horor—dan membuatnya berterima kasih pada hantu-hantu itu.

“Jadi, aku benar-benar diikuti hantu?” lagi-lagi Reen bertanya.

Menyerah, Arin akhirnya menghembuskan nafas panjang. Dipandanginya sejenak pria yang sekarang menatap Arin dengan pandang mengerikan—seolah memperingatkan si gadis agar tidak memberitahukan apapun pada Reen—sebelum Arin akhirnya menatap saudarinya.

“Lupakan saja, kau hanya akan insomnia kalau aku ceritakan.”

Arin memilih untuk menyudahi pembicaraan mereka, alih-alih menceritakan secara langsung pada Reen tentang sosok yang mengikuti Reen itu, ia malah memilih bungkam.

Ugh, kau menyebalkan.” gerutu Reen sembari melangkah meninggalkan Arin.

Kini, Reen bergerak melepaskan mantelnya. Arin tahu, arwah pria itu selalu pergi saat Reen berada dalam waktu-waktu dimana ia membutuhkan privasi. Misalnya sekarang, saat berganti pakaian. Arwah pria itu pasti pergi tidak tahu kemana.

Diam-diam, Arin sebenarnya juga merasa takut dan khawatir. Ia ingin memberitahu saudarinya tapi takut sesuatu yang buruk justru terjadi jika ia bicara. Pria yang mengikuti Reen tidak terlihat seperti arwah yang baik—dalam pandangan Arin.

Mengingat bagaimana pria itu seringkali menatap Reen penuh kebencian, Arin pikir Reen mungkin pernah berbuat salah pada pria itu semasa hidupnya. Tapi Arin yakin, Reen bukanlah seseorang yang bisa berbuat jahat.

“Omong-omong, Reen.”

“Ada apa?”

“Dulu kau pernah bicara tentang teman chatting di situs online yang kau sukai itu. Hmm, siapa namanya… Kim Minseok? Ya, benar. Kim Minseok. Apa kabarnya temanmu itu?”

Pertanyaan Arin sekarang membuat Reen membeku. Dipandanginya Arin—yang sudah kembali mencuci piring—dengan tatapan nanar. Sekon kemudian, Reen terduduk di tepi tempat tidur dan menahan tangis sementara Arin masih bertahan dengan kegiatannya.

Arin tahu, Reen pasti mengingat sesuatu, dan Arin tak boleh bersikap seolah ia tahu. Reen sudah mengganti atasannya dengan kaos—untungnya—saat Arin melihat bagaimana sosok pria itu lagi-lagi muncul di sana.

“Kau masih ingat tentang Minseok, Arin-ah?” tanya Reen, suaranya bergetar menahan tangis. Arin tahu, sosok pria itu kini berpindah ke sebelahnya—menatap Arin seolah ia adalah sumber isakan Reen sekarang—tapi Arin tidak peduli.

Dia tidak bisa terus menerus membohongi Reen dan membiarkan saudarinya menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

“Hmm, kau sudah lama tidak membicarakannya. Dia—”

“—Dia sudah meninggal, Arin-ah. Apa aku tidak pernah cerita? Dia juga salah satu korban kecelakaan kereta bawah tanah yang empat tahun lalu—” ucapan Reen sontak terhenti, tatapan gadis itu membulat sempurna.

Diam-diam, Arin menahan senyum. Ya, sepertinya Reen sekarang sudah ingat.

“Apa dia Minseok?”

“Apa? Minseok apa?” Arin berlagak bodoh.

“Hantu yang mengikutiku. Apa dia Minseok, Arin-ah?” Arin kini selesai dengan kegiatan mencucinya, ia melepaskan sarung tangan karet merah muda yang membalut kedua tangannya sebelum berbalik menatap Reen—dan pria berpakaian serba gelap dengan keadaan mengerikan—yang berdiri di sebelahnya.

“Kalau iya, bagaimana?” tanya Arin membuat pria itu kini menatapnya.

“Jadi… hantu yang mengikutiku, adalah Minseok? Tidak mungkin. Aku bahkan belum bertemu dengan Minseok, Arin-ah. Aku tidak tahu seperti apa wajahnya karena dia—tidak, tunggu. Mungkinkah…” Reen memandang Arin dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca, sementara Arin hanya tersenyum kecil.

Ya, Arin memang tidak tahu apa yang membuat pria di sebelah Reen sekarang mati. Tidak juga tahu apa alasan yang membuatnya terus mengikuti Reen. Tapi Arin tahu nama pria itu—setidaknya karena pria itu tak pernah mau menjawab pertanyaan yang Arin utarakan, ia bisa bertanya pada hantu lain, bukan?

“Kami berjanji untuk bertemu hari itu. Tapi aku pergi dari restaurant sebelum jam  bertemu kami karena mendengar kabar tentangmu. Ponselnya juga tidak bisa kuhubungi selama beberapa hari. Dan saat ponselnya aktif, yang menjawab telepon adalah ibunya. Dan beliau mengatakan kalau Minseok menjadi korban kecelakaan kereta bawah tanah, sama sepertimu.”

Arin mendengarkan penuturan Reen dalam diam. Ia tahu pria itu sekarang menatap Reen dengan pandang bersalah. Ya, Arin juga tahu selama ini pria bernama Minseok itu pasti menatap Reen dengan kebencian karena melihat Reen bahagia bersama pria lain dan melupakan eksistensinya.

Satu hal yang tidak Arin ketahui, pria itu juga mengalami hal yang sama dengannya. Hanya saja, Arin lebih beruntung karena masih memiliki kesempatan untuk hidup, sementara pria itu tidak.

Sekarang, Arin mengerti apa yang terjadi pada Reen.

La douleur exquise, pernah Arin dengar ungkapan itu. Tentang rasa sakit menghancurkan hati yang dirasakan seseorang ketika ia menginginkan perhatian dari seseorang yang tak bisa dimilikinya.

Arin ingat, beberapa tahun lalu Reen mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada rekan chatting virtualnya itu—Kim Minseok—dan bahkan menjalin hubungan jarak jauh, mengingat Minseok tinggal di Tokyo sedangkan Reen ada di Seoul.

Kecelakaan hari itu, bukan sesuatu yang keduanya duga dan tidak juga menjadi jawaban atas hubungan mereka. Reen tidak tahu seperti apa wajah kekasihnya, hubungan mereka juga belum berakhir bahkan sampai detik ini.

Itulah alasan yang membuat Reen tak bisa menjalin hubungan kasih dengan pria manapun selama empat tahun terakhir. Karena ia masih menjalin kasih dengan sosok yang telah tiada.

“Apa hantu yang mengikutiku adalah Minseok, Arin-ah?” lagi-lagi Reen mengulang pertanyaan yang sama.

“Mungkin?” Arin mengangkat bahu, berpura-pura acuh, “Aku tidak tahu seperti apa wajah Minseok, sungguh.” Arin melanjutkan, tentu ia selama ini tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah pria bernama Minseok itu.

“Aku harus menemuinya.”

“Apa?” Arin menatap tak mengerti.

“Aku harus menemuinya, Arin-ah. Aku meninggalkan restaurant hari itu. Jika ucapanmu benar, pasti hari itu arwah Minseok juga menungguku di restaurant. Tapi aku tidak menemuinya. Jadi, aku harus menemuinya.”

Arin terperangah mendengar ucapan Reen sekarang. Ingin, gadis itu katakan kalau Reen tak perlu repot-repot pergi ke restaura yang ada di Namsan Tower karena Kim Minseok yang mereka bicarakan sekarang bahkan tengah menonton pembicaraan mereka.

“Kupikir kau tidak perlu—”

“—Apa Minseok ada di sini, sekarang?” ucapan Reen sekarang justru membuat Arin makin tergeragap. Bagaimana Reen bisa menebak dengan benar?

“Arin-ah? Kau tidak menjawabku sejak tadi. Apa hantu yang mengikutiku benar-benar Minseok? Dia ada di sini sekarang? Apa kau bisa bicara pada hantu juga?” desak Reen, gadis itu bangkit dari tempat tidur dan dengan tergopoh-gopoh menghampiri Arin.

“Jawab aku, apa dia di sini?”

Memang, reaksi Reen sekarang sungguh di luar dugaan Arin. Ia pikir, saudarinya itu akan gemetar ketakutan jika tahu ia diikuti oleh seorang hantu. Tapi yang terjadi justru malah sebaliknya.

“Ya,” jawab Arin akhirnya.

“Ya untuk yang mana?” tuntut Reen.

“Untuk semuanya, Reen-ssi. Ya, hantu yang mengikutimu adalah Kim Minseok. Dan ya, dia ada di sini. Ya juga, aku bisa bicara dengan hantu, tapi Kim Minseok tidak pernah mau bicara padaku. Jadi, kalau kau ingin membuat janji dengannya, katakan saja sekarang karena dia ada di belakangmu.”

Tatapan Reen sejenak membulat saat mendengar kalimat terakhir Arin. Tapi gadis itu kemudian membalik tubuh—hal yang membuat Arin menyernyit ngeri lantaran melihat bagaimana saudarinya berhadapan dengan keadaan Minseok yang mengerikan dalam jarak terlampau dekat.

“Minseok? Hey, Arin. Dia ada di mana?” Reen berbalik sejenak menatap Arin, sekarang Arin pikir jika sebenarnya kemampuan melihat hantu akan lebih berguna bagi Reen dibandingkan dirinya.

Reen tampaknya tipikal yang akan dengan senang hati bersahabat dengan para hantu, bukannya malah menghindari. Ya, Arin tidak tahu saja bagaimana tingkah konyol Reen tadi saat membayangkan hal-hal horor akan terjadi padanya.

“Dia ada di depanmu persis, kakakku tersayang.” jawab Arin diikuti nada kesal.

“Ah, benarkah? Aku akan bicara padanya. Ugh, aku seharusnya tidak menangis. Sekarang aku pasti terlihat sangat jelek di hadapan Minseok.”

Arin memutar bola mata kesal. Coba saja Reen tahu bagaimana mengerikannya Minseok sekarang, dan bagaimana selama ini Reen sudah menunjukkan sisi yang lebih ‘jelek’ lagi daripada saat ini.

“Tenang saja, dia bahkan lebih mena—” ucapan Arin terhenti, pasalnya, kini gadis itu melihat bagaimana sosok Minseok perlahan berubah. Darah berbau busuk menyengat yang biasanya tercium oleh Arin sekarang lenyap.

Luka-luka menganga—bahkan sebuah potongan besi berkarat yang tertancap di perut Minseok—menghilang. Wajah hancur pria itu perlahan-lahan berubah. Seperti sikap Reen yang sekarang membersihkan wajahnya lantaran merasa terlihat jelek, Arin pikir arwah di hadapan Reen juga menginginkan hal yang sama.

Justru, Arin kini terperangah. Reen memang tidak melihat, tapi Arin bisa menceritakan—bahkan menggambar—bagaimana sosok Minseok terlihat sekarang.

Senyum kecil pria itu sunggingkan saat melihat Reen ada di hadapannya, berusaha bicara padanya. Kini hati Arin seolah dicubit, meski tahu jika sosok yang berdiri di depan Reen adalah hantu, tapi Arin melihat ketulusan dari senyum yang pria itu berikan pada Reen.

Pria itu pasti sejak lama ingin Reen bicara padanya seperti sekarang.

“Minseok-ssi? Aku… kupikir kita perlu bicara. Kau tahu, kita tidak jadi bertemu hari itu. Dan… menurut Arin sekarang kau adalah hantu. Tapi setahuku, arwah tidak pergi dengan tenang karena ada urusan yang belum mereka selesaikan.

“Kalau aku boleh percaya diri, apa mungkin… kau mengikutiku karena kita belum bertemu dan berkencan seperti yang dulu kita rencanakan? Jika memang benar, apa malam ini kau ada waktu?”

Alis Arin terangkat mendengar perkataan Reen. Jika ada waktu? Arin ingin terbahak rasanya mendengar Reen sempat bertanya seperti itu. Memangnya Reen pikir Minseok akan sibuk dengan rapat perhantuan atau apa?

“Arin! Dia menjawab apa?” Arin tersadar saat tatapan Reen bersarang padanya.

“Sudah kubilang, dia tidak mau bicara padaku dan tidak—oh, tumben sekali. Ada apa dengannya? Selama empat tahun ini dia mengabaikanku tapi sekarang dia bicara, dan mendengar suaranya membuatku merinding.” Arin menggumam tanpa sadar.

Baru saja, Minseok bicara padanya. Dan ya, tanpa bisa berbohong Arin merasa terkejut juga mendengar suara pria itu untuk pertama kalinya.

“Dia bilang apa?” Reen menuntut jawaban.

“Ya, dia bilang ya.” Arin menyahut ketus, dipandanginya sejenak Minseok, mendengarkan apa yang pria itu katakan sebelum ia menghela nafas panjang dan kembali bicara.

“Katanya dia akan menunggumu di meja yang ia pesan dulu, di Namsan. Dia juga memintamu untuk memakai pakaian yang hari itu kau pakai.” tutur Arin.

“Ah, benarkah? Jam berapa?” pertanyaan Reen sekarang membuat Arin memutar bola mata kesal.

Sebenarnya, bisa dikatakan mereka sedang mengalami hal horor, karena bicara pada hantu yang selama ini tidak pernah Reen akui ada, dan bahkan selalu mengganggu Arin. Tapi sekarang mereka bersikap konyol.

“Sungguh, akku sudah lelah menghadapi—ugh, jam delapan.” akhirnya Arin berkata, tatapan kesal gadis itu berubah lembut saat mendengar perkataan Minseok.

“Jam delapan? Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Arin akhirnya membalik tubuh, merasa tak nyaman karena mendengar ucapan Minseok yang membuatnya merasa tak sampai hati karena sering bersikap kasar dan mengusir pria itu kala Reen tidak sadar.

Reen sudah disibukkan dengan kegiatan bersiap-siapnya, seolah ia akan pergi berkencan padahal ia tidak akan menemui siapa-siapa. Arin sendiri tidak habis pikir, ia tidak tahu jika konversasinya dengan Reen tentang hantu akan berujung pada hal konyol seperti ini.

Mana Arin tahu kalau nyatanya Reen begitu bersemangat untuk bertemu dengan hantu yang selama ini mengikutinya? Mungkin juga, Reen tidak merasa takut karena hantu itu adalah orang yang dikenalnya. Diam-diam, Arin menyesal karena tidak menggambarkan bagaimana mengerikannya sosok Minseok.

“Kenapa mengikutiku? Reen akan segera mandi dan kau pasti tidak mau jadi hantu mesum yang mengintip saudariku mandi, bukan?” Arin berkata pelan, gadis itu mengelap satu persatu piring yang tadi dicucinya sementara dari sudut mata dilihatnya sosok mengerikan Minseok berdiri, menatapnya.

“Kenapa? Kau marah karena aku memberitahu Reen? Sampai-sampai berusaha menakutiku dengan wujud seperti itu. Memangnya sampai kapan kau berencana mengikuti Reen? Sudah kukatakan berulang kali kalau kau itu hantu, Reen manusia. Kalian tidak akan bisa bersama dan—”

“Terima kasih. Aku hanya akan menyelesaikan urusanku dengannya, seperti yang dulu seharusnya terjadi. Setelah itu aku akan pergi.”

Aktivitas Arin terhenti sejenak.

“Kau akan pergi?” tanyanya memastikan.

“Kau sendiri pernah berkata padaku, bahwa aku hanya seorang pria yang bergentayangan karena haus kasih sayang dan marah karena terlupakan. Karena sudah memberitahu Reen tentang keberadaanku, aku berterima kasih padamu.”

Minseok kemudian menghilang. Arin sendiri berdiri dalam diam. Dia tahu, tidak ada yang salah dengan cinta yang Minseok miliki untuk Reen. Tidak juga salah jika Reen selama ini telah melupakan cinta mereka yang tumbuh tanpa pernah terealisasi dalam sebuah pertemuan dan kenyataan.

Arin juga tidak bisa menyalahkan takdir, karena jika Arin menyalahkan takdir, bukankah ia juga menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi? Cinta mereka juga tidak salah, karena ya, cinta memang tak pernah salah.

Mungkin, Minseok dan Reen dipertemukan dalam kehidupan yang tidak tepat.

— FIN —

IRISH’s Fingernotes:

Awalnya, cerita ini mau aku buat PG-17 dengan cerita horor-thriller yang menggemaskan (menggemaskan buat aku) tapi terus aku inget kalau cerita ini aku dedikasiin buat Kak Anne yang notabene selalu nge-skip adegan thriller atau mengulak-alik perut. Karakter Reen di sini udah separonya Kak Anne, tapi aku enggak paham kalau Kak Anne berhadapan sama hantunya mantan kekasih bakal hepi atau enggak….. /kemudian ditampol/.

Jadi, daripada cerita aku beresiko buat enggak dibaca sepenuhnya dan diskip-skip terus aku jadi potek lantaran ceritanya diskip, lebih baik aku bikin ceritanya layak baca (layak baca bagi Kak Anne) gitu. Kan aku pengertian. Awalnya juga, cerita ini ngestuck di words ke 474, baru pas Runa nyempil jadi ada ide buat bikin Reen sebagai sosok susah laku gegara diikutin sama hantunya Mas Umin (yang sekarang tambah bening dan minta ditampol bibirnya pake bibir).

Oh iya, cerita ini continued loh. Dan karena Kak Anne udah milih tiga buah genre, jadi akan ada tiga buah cerita yang aku publish hari ini. Khusus hari ini doang, tiga cerita itu aku dedikasiin buat Kak Anne semua.

Kenapa?

BIKOS TUDEI IS KAK ANNE’S DEI.

YEP. YAAMPUN, KAKAK AKU TERCINTA, KEMBAR JENJER AKU TERSAYANG YANG ADA DI LAMPUNG YANG UDAH JADI WANITA SESUNGGUHNYA DAN SIAP MEMBERI AKU KEPONAKAN, DIA HARI INI GANTI UMUR JADI DUA PULUH LIMA TAHUN, KALIAN HARUS TAU DAN HARUS NOTIS BESDEYNYA KAK ANNE INI.

WHAY? KARENA DIA KAKAK AKOEH YANG TERPISAH LAUT DAN PULAU.

PIBESDEI KAK NE, SEMUA DOA YANG BAIK DEH BUAT KANE SOALNYA AKU ENGGAK BISA ABSEN DOA SATU-SATU.

p.s ka ne ini pertama kalinya loh aku bikin horor yang enggak ekstrim WKWKWKWK kak ne kudu buyar bacanya jangan boleh diskip ~~

p.p.s NIDUL KHEULA, KUPINJEM RUNA SEBAGAI TEMEN GOSIP DI SINI YHA

30 thoughts on “[ONESHOT] LA DOULEUR EXQUISE — IRISH’s Story

  1. gak rela juga sihh wajah strawberry minseok di gambarkan jadi hantu yg menyeramkan 😀 si awet muda punya senyum semani gula aren ,tapi terharu reen aku kasian sma reen
    sabar reen ^^

  2. Mas uminnya so sweet, ya walaupun mereka beda dunia. Tapi mereka jdi ga ka kencannya?? kebayang deh nanti Reen ngobrol sendiri direstoran..
    dan pas awal baca aku salfok ke woohyun^^hahahaahaa….
    POKOKNYA PIBESDEI KAK ANNE, salam kenal jga yah ka^^

  3. kak irish, ini cerita bikin aku terhura banget…. Tapi, btw… Sebenernya yang kaya gini beneran ada /bibiku, contohnya/ horor banget sih sebenernya… Apa lagi sampe gagal terus hubungannya/pan reen, kalo sampe tuwir kaga laku/di cekik umin//eh’ pib’day juga ya buat kak anne

    • 😄 buakakakkaakka katanya sih emang beneran ada /lirik sebelahku/ tapi enggak tau juga kalau beneran ngehalangin calon jodoh yang mau mendekat atau enggak 😄 wkwkwkwkwkk

  4. Kemarenan abis bc n komen ff’ny anne yg job’s goal, &.. br di 1st paragraph ff ni si woohyun muncul, jd sang mantan’ny reen, apa ntar di job’s goal jg mrk pcrn trus jd mantan?? Ga jd manten, hehe.. ku jg wondering siapa bronis yg di mksd arin a.k.a irish di sini. /L kah? Sang ob di byun electrics/
    Btw, scene yg ‘msk lift trus dah lama nggu tp blm nymp2 di destination floor’ tu, prnh bgt ngalamin’ny di previous office 😀 kurang aqua! Ga pokus ^.^ bukan’ny tombol lt.4 di dlm lift tu ga da/jarang ya?
    Ini typo ya? “Oh, Tuhan…” helaan nafas terdengar lolos dari bibir Reen ketika cahaya minimal menyambutnya begitu ia sampai di lantai empat.
    Agaknya, Reen selama ini sudah mengabaikan fakta bahwa ia tinggal di apertemen berlantai empat belas dengan penerangan super minimalis dan harga sewa setinggi langit. Buktinya, baru sekarang Reen mengeluhkan cahaya remang yang tiap petang ia sambut dengan biasa saja.
    Kepo sm arwah anak kcl yg sk ngikutin arin, siapakah gerangan? Wlw dah jd hantu tp umin te2p pny manner ya, ga mesum /salut/. Kisah yg sdkt mrp sm ff ni prnh dialamin slh sorg shbt saya jmn smk /lbh dr 1 decade lalu/ pny tmn chatting (sk tlp-an jg) tp ga tau wjh msng2, trus janjian kopdar di slh 1 mall /saya ikut nmenin/ tp mrk ga brhsl ktmuan. Bbrp wkt kmudian shbt saya tu minta di tmn-in mlayat, tmn chatting’ny itu meninggal, tp saya ga bs nmenin, shbt saya prg mlayat sndiri ke rmh tmn chatting’ny itu.
    “Arin-ah? Kau tidak menjawabku sejak tadi. Apa hantu yang mengikutiku benar-benar Minseok? Dia ada di sini sekarang? Apa kau bisa bicara pada hantu juga?” desak Reen, gadis itu bangkit dari tempat tidur dan dengan tergopoh-gopoh menghampiri Arin.
    –kata2 tergopoh-gopoh tu dah ky lansia ja 😀
    Such a heartbreaking pas scene reen ngomong ke umin >//< I cried. Bkl ky gmn tu mrk ngdate’ny? Knp arin ga diajak bwt jd penyampai lidah obrolan reen & umin.
    Anne kpikiran ja ttg hantu umin disini sm so2k umin yg dibunuh luhan di previous ff 😀

    • Buakakakka kak Nindy mampir juga di sini, serius kuterharu 😄 wkwkwkwkwkwkwk Woohyun sesekali jadi kameo cakep di sini 😄

      Yaampun iya di sana ada Myungsoo kenapa aku bisa lupa WKWKWKWKWKKW 😄 😄 😄

      Scene naik lift tapi ga mencet angka itu juga pernah kejadian di aku… kalau masalah tombol 4 ada enggaknya aku kurang tahu kak, serius, wkwkwkwkw karena enggak pernah main ke apertemen sih /RAKJEL DETECTED/

      Dan bagian itu kayaknya enggak typo….. atau aku kurang jelas ya ngetiknya? T.T

      Kak Nindy… plis… aku semacem udah dua kali menulis hal yang beneran ada di kehidupannya kakak, kujadi ngeri sendiri….. ya Lord, ada apa denganku? :”)

      BAGIAN DATINGNYA UDAH DIBACA KAN KAK? UDAH KAN UDAH KAN? 😄 😄

  5. Iya kok ini horor menggemaskan habis interaksi reen arin minseoknya kocak sih hahaha yg diajak ngomong siapa yg jawab siapa
    Tapi seperti biasa flownya enak dibaca 🙂
    Keep writing!

  6. Lanjut baca ff kak rish

    Udah diduga Arin beneran bisa liat hantu karena kecelakaan buakakakakka

    Tapi kok ane salfok sama si Arin yang karakternya begono ya? Kalo ketemu hantu mantan antara serem sama gimana gitu. Ya setidaknya si umin udah selesai urusannya sama Reen dan bisa balik ke tempat seharusnya. Syukurlah semoga Reen jadi sosok laku ya setelah ini /plak/

    Pas Arin bantuin Reen ngomong kok diri ini bukannya ngeri tapi ngakak. Kak rish tambahin genre komedi karena ane ngerasa ini komedi /plok/

    Udah ah ane cuss ke yang 1 lageehh

  7. BETAPA NISTANYA EKI KARENA BACA SEKUELNYA DULU BARU YG INI, WKWKW -_____-
    KAK IRISH TOBAT UNTUK SEMENTARA YAK, WKWK. 😄
    UMIN, DIRIMU SUNGGUH TRALALATRILILI. HANTU MANTAN MUNCUL, KALO EKI PASTI PINGSAN TUH/CEM ENTE PUNYA MANTAN AJA KI -____-
    AND EGEN KAK NE, PIBESDEHHH :*

  8. WAAAAAAAKKKKK..
    FIRST OF ALL SI @nidakhaanbar KUDU BACA INI EPEP JUGAAA.. INI THE FIRST KETIKA RUNA REEN ARIN BERADA DALAM SATU FRAME FF BHAAAAKKKSSS
    AKU SUKAK LIAT MEREKA TEMENAAANNN

    kok romantis sama hantunya kok romantiiissss…
    mungkinkah minseok yang ini reinkarnasiannya xiumin yg ditujah sama elsa dan luhan tadi ? *elsa lagi elsa lagi
    kasian banget di sana mati di sini mati /plak

    eummm.. aku ga ngebayangin misalnya itu beneran hantu mantan kekasih aku bakal gimana wkwkwkwkwkkw..
    DAN AKU BACANYA GAK DI SKIP SKIP KOOOOKKKK.. SOALNYA KAN INI HOORROOORR BUKAN THRILLEERRR..

    MARI AKU BAHASSS

    berakhirnya hubungan antara Reen dan kekasihnya, Woohyun.
    (( DAN AKU LANGSUNG NGAKAK DI PARAGRAF PERTAMA. WOOHYUN MANTANNYA REEN BHAAAKKKSS. KESANNYA INI BERASA KAYA JOB’S GOAL GITU YAAA. DI SANA KAN WOOHYUN SAMA REEN DEKET KAN YAAAH DI SINI UDAH MANTANAN AJAAAHHH. SPOILER BUKAN SPOILER BUKAN~ ))

    “Kau tidak tahu? Bukan kekasihnya yang memutuskan hubungan, tapi Reen. Memangnya, siapa di dunia ini yang suka berpacaran dengan pria lebih muda? Cih, selera Reen soal pria memang aneh.”
    (( PRIA LEBIH MUDA YANG MANAAAA??? ))

    Ugh, tentu Reen tidak ingin hal-hal berbau ‘mengerikan’ terjadi padanya. Hello, dia seorang Reen, yang dikenal sebagai pribadi tak banyak bicara, penyabar, dan super baik hati. Membayangkan semut dibunuh saja dia tidak tega, apalagi membayangkan hal horor. Reen tidak seperti Arin yang menyukai hal-hal berbau kekerasan, berdarah-darah, sadisme, belum lagi Arin agaknya kesulitan mengontrol emosinya.
    (( HELLOOOO ITU REEN KAYA MALAIKAT AMAT BHAAAKKKS. ITU FITNAH BHAAAKKKSSS. ))

    Bison kepala Koala = Woohyun ?
    BUAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHHAHA

    “Kau tahu sendiri, Arin-ah. Semua kencanku selalu gagal. Aku merasa seperti seorang gadis yang terkena kutukan atau semacamnya. Kau pernah menemui orang yang mengalami kasus sepertiku? Pasti tidak, kan? Kau saja punya hubungan yang awet dengan kekasihmu.”
    (( ENTAH MENGAPA AKU OTOMATIS MENGUMPAT “KAMVRET” PAS BACA PARAGRAF INI WKWKWKWKW ))

    TAPI IH TAPI MINSOKNYA SEDIH AMAT SIH TAPIH TAPIH. DIA SETIA BENER MASA SAMA REEN PADAHAL DIA UDAH MENINGGAL. HUKS HUKS HUKS HUKS CIYAN BENEEEERRR….

    NUNGGUIN YANG SATU LAGIIIIIIIII

    • KANE KUBARU BISA BALES /KEMUDIAN DITENDANG/ SETIDAKNYA AKU SUDAH BERUSAHA WKWKWKWKWKWK
      INI CERITANYA, aku enggak ada pandangan OC lain buat disempilin jadi kuanggep Runa pantes buat jadi cewek bigos… wkwkwkwkwkwkwkwkwk DAN AKU SENENG KARENA BAGIAN HORORNYA ENGGAK DISKIP, PUJI TUHAN!!!! KANE KUSUMPAHIN HAMIL YA? YA YA YA YA?
      DAN juga, aku bingung mau masukin siapa buat jadi mantannya Kane di sini, berhubung aku enggak bisa masukin si ‘ehem’ yang ada di cerita PKL di tengah hutan itu, ituloh kane yang boncengan icikiwir terus ada ular (atau buaya?) di tengah jalan wkwkwkwkwkwkwkkwk kapan epep komedi itu direalisasi? :”)
      PRIA LEBIH MUDANYA ITU SUNGJONG, JUSEYO, TOLONG, KANE, INGATLAH.
      Sebenernya efek malaikatnya berlebihan ya kane dibagian itu 😄 wkwkwk gapapa mumpung ulang tahun jadi kubikin serba baik yang ulang tahun wkwkwkwkwkwk 😄
      SEK SEK, ITU BISON KEPALA KOALA SO GIYOWO LOH WKWKWKWKWKWKWKWKKWKWKWKWKW NGAKAK SEKALI NGAKAK.
      NGAKAK JUGA SAMA BAGIAN REEN YANG GA LAKULAKU /KEMUDIAN DIJAMBAK/

      • wkwkwkwk.. ini pasti ngebalesnya nulis di word dulu wkwkwkkw..
        AMIIINNN sumpahin aku begitu tiap hariiii!!!
        KKN yg di Mesuji? Yg boncengan ketemu uler? Wkwkkwkw.. Tiap inget KKN tapi aku malah lebih salfok sama “Nanti tolong angkatin kolor gua ya.” sikamvret :v
        Sungjong itu kan…. Eummmhh,, itukan…. Eummm.. *purapuramati
        Iyaaahh itu sampe si anne aja jiji sendiri ngebayangin reen semalaikat itu wkwkwkwk..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s