[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy – (Chapter 7)

my Strong Daddy #7.jpg

TITTLE          : MY STRONG DADDY#7

Author              : Angestita

Length             : Chaptered

Genre              : Family, romance dan drama

Main cast        : Sehun (EXO) – Leo William Recipon (Ulzzang Kid) – Kim Na Na (OC)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sang idola. Cerita ini murni dari pemikiranku dan bukan hasil dari mencontoh karya orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan nama, tempat maupun alur cerita itu mutlak ketidak sengajaan. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karya ini. Semoga kalian dapat menikmatinya.

Summarry       : Seharusnya Sehun marah ketika Na Na mengajukan tawaran itu. Tetapi hatinya mengatakan hal lain. Sehingga dia memutuskan untuk tetap tenggelam dalam kamuflase yang dibuat olehnya sendiri.

Sehun tersenyum tipis memandang seseorang yang sudah menunggunya di salah satu meja paling pojok café itu. Langkahnya pelan namun pasti menghampirinya yang tampak terlihat sibuk dengan lamunannya. Dari dekat terlihat bahwa wanita itu tampaknya tidak baik-baik saja. Sehun sedikit tersentil perasaannya mengingat apa tujuan mereka bertemu di tempat ini.

Pria itu menarik kursi dihadapan Na Na dengan pelan, mencoba untuk tidak mengusik lamunannya. Tetapi Na Na tampaknya sudah sadar, dia tersenyum tipis ke arahnya. Senyum yang menurut Sehun sengaja dipaksakan. Sehun tidak tahu apa yang harus dia tanyakan tetapi pria itu memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu.

Setelah dia selesai dengan pesanannya netranya kembali focus ke arah wanita di hadapannya. Wanita cantik yang sore itu mengenakan kemeja putih polos dengan rok selutut berwarna soft blue. Terlihat manis dan cantik. Rambutnya yang biasanya di gerai sengaja diikat menjadi satu sehingga leher jenjangnya terlihat menawan.

Sehun mencoba focus dengan apa yang akan dia bahas. Pria itu berdehem lembut untuk menarik perhatian wanita itu. “Maaf aku terlambat datang…” ucapnya sopan.

Wanita itu tersenyum lembut dan menggeleng pelan, “Tidak pak… saya sengaja datang lebih awal.” Balas Na Na terdengar kaku dan canggung. Sehun mendengus geli dalam hati ketika mendengar sapaan yang dipakai oleh wanita itu untuknya.

“Mari kita memulai pembicaraan ini dengan tidak memanggil namaku dengan pak. Aku fikir aku masih muda untuk dipanggil pak.” Sehun berkata dengan tenang dan intonasi yang jelas. Terlihat sekali bahwa dia orang yang tidak suka main-main.

Na Na memandang ragu ke arah pria di depannya. Otaknya berfikir dengan cepat apa yang seharusnya dia lakukan saat itu. Dengan pelan dia mengangguk, setuju dengan permintaan Sehun. “Lalu aku harus memanggil kamu apa?” tanyanya polos.

Sehun tersenyum tipis, “Menurutmu panggilan apa yang tepat untuk seseorang yang statusnya menjadi calon suamimu.” Nadanya terdengar lunak ketika mengatakan ini. Netranya memandang tajam ke arah Na Na seolah ingin mengamati perubahan expresi wanita itu.

Na Na teresiap pelan dengan apa yang diucapkan oleh Sehun. Pipinya merona merah, dan jantungnya mulai berdebar pelan. Dia kehilang kata-kata. “Ka-ka-kak?” tanyanya ragu.

Sehun terkekeh pelan, “Aku ingin menjadi suamimu bukan kakakmu.” Tandasnya singkat.

Wanita itu mendengus pelan, mengapa Sehun selalu menyebalkan dan manis dengan tingkahnya. Mengapa pria itu selalu mampu menarik perhatiannya segenting apapun masalah yang dia hadapi? Na Na kini yang berdehem halus mencoba menetralkan debaran jantungnya. “Jadi aku harus memanggil kamu apa?” kini dia balik bertanya. Matanya menatap Sehun ragu

Pria itu tersenyum simpul, “Sayang, honey, love, dear atau panggilan lainnya.” jawabnya singkat.

Na Na merasakan pipinya merona ketika membayangan apa yang akan terjadi jika dia memanggil Sehun dengan nama itu. Akan sangat alay ‘kan? “Kita bukan sepasang kekasih.” Bantahnya pelan tanpa maksud apapun.

“Jadi kamu ingin bermain-main dengan pernikahan ini?” tanya Sehun dengan nada datar, tetapi seolah menunggu menerkam mangsanya.

Na Na mendadak salah tingkah, “Maksudku, kita ingin menikah bukan karena cinta. Kita hanya menikah karena kebutuhan. Kamu butuh menikahi aku karena Leo butuh ibu dan aku memang ingin menikah.”

Entah mengapa hati kecil Sehun terusik dengan perkataan wanita itu, jadi dimatanya pernikahan mereka hanya sebatas itu saja? Kasihan sekali nasibnya. Sehun mendesah pelan, apa yang akan terjadi dengan pernikahannya nanti? “Jadi, jika kamu berniat bercerai kamu akan bercerai? Aku tidak tahu bahwa pikiranku picik sekali tentang sebuah pernikahan.” Balas Sehun tajam dan pedas.

Na Na tersentak di tempatnya duduk, ucapan Sehun membuatnya tertampar halus. Susah sekali dia menelan ludah. Sebelum dia memulai perkataannya. Sehun sudah mendahuluinya, pria itu berkata dengan pelan. “Untukku pernikahan adalah ikatan sacral yang abadi hingga mati. Walau aku fikir kita belum menemukan cinta di hati kita masing-masing aku ingin kita menikah bukan karena keterpaksaan namun karena keinginan hati. Jika kamu berfikir bahwa keinginanmu menikah hanya untuk kabur dari perasaan sedihmu sehabis dicampakkan oleh seorang pria lebih baik kita batalkan saja niat ingin menikah ini. Aku tidak ingin gagal untuk kedua kali.”

“Lagipula aku yakin jika kamu membuka hatimu untuk pria lainnya aku yakin kamu akan baik-baik saja nantinya. Orang yang patah hati tidak harus menikah untuk mengobati lukanya. Ada banyak cara lain.” Imbuh Sehun dengan intonasi yang tenang.

Sehun mengamati perubahan expresi wajah yang terlihat jelas dari wanita di hadapannya. Hatinya mendadak bergetar pelan melihat expresi putus asa yang tersirat dari matanya yang berkobar penuh emosi ke arahnya. Ada perasaan tak iklas yang kemudian timbul di ujung hatinya apabila pernikahan ini gagal.

“Jadi aku harap kamu dapat menyembuhkan hatimu terlebih dahulu agar dapat membuat keputusan yang tepat. Terimkasih atas waktumu sore ini. Maaf aku telah menganggu harimu dengan perkataan gilaku kemarin. Aku berharap setelah ini kita bisa berteman baik. Semoga bertemu lain waktu.” Sehun meletakkan beberapa lembar won di meja itu. Dia lantas pergi tanpa memandang Na Na yang masih terpaku di tempatnya duduk.

Di perjalanan pulang Sehun mendapat kejutan pahit dari ibunya. Leo menangis karena mengetahui bahwa Irene sudah tiada. Jadi, anak tunggalnya itu bertemu dengan Kim Jumyeon –mantan suami Irene- di mall saat Nyonya Oh mengajak cucunya jalan-jalan. Menurut cerita ibunya, saat itu Leo diajak bermain sebentar dengan pria itu dengan berat hati Nyonya Oh membiarkan. Tapi saat wanita itu menghampirinya setelah selesai membeli sepatu, dia melihat bahwa Leo sedang menangis. Saat dia bertanya kenapa Jumyeon menjelaskan bahwa dia mengatakan bahwa Irene sudah meninggal dan tidak akan datang lagi.

Sehun memukul setir dengan emosi mendengar penuturan ibunya. Dengan segera dia langsung pulang kerumah. Perasaannya campur aduk antara marah dan sedih. Saat itu bayangan Leo yang menangis sudah membuatnya jungkir balik apalagi kenyataan bahwa dia gagal menikah dengan Na Na. Sudah hancur semua harapan Sehun.

Sesampainya di rumah Sehun menemukan Leo yang digendong ibunya sembari memanggil nama Irene berulang kali. Pria itu segera mengambil alih tugas ibunya untuk menenangkan putranya. Hati Sehun mendadak hancur tak terbentuk ketika mendengar putranya menangis seperti itu. Dengan penuh kesabaran dia mencoba menenangkan anak kecilnya. Mengatakan kata-kata penuh janji berharap tangisan itu mau berhenti. Nyatanya usaha Sehun sia-sia.

Dan kejadian yang lalu terulang lagi… Leo sakit dan harus dibawa kerumah sakit. Sehun mendampingi putranya tanpa merasa letih sekalipun. Menenangkan hati kecil anak semata wayangnya. Tidak peduli bahwa saat itu hatinya jauh lebih sakit. Tak peduli bahwa dia juga butuh penglipur. Yang Sehun lakukan adalah bagaimana menenangkan Leo yang terus menangis dan membujuknya untuk makan.

Maka tiga hari itu cobaan berat untuknya, Leo tidak berhenti menangis kecuali saat ia kelelahan hingga jatuh tertidur. Leo tidak mau makan, dan apabila makan maka dia akan memuntahkannya lagi. Wajah anak itu semakin pucat setiap harinya diiringi suhu badan yang semakin tinggi. Leo terpaksa tidak masuk sekolah dan Sehun terpaksa bolos kerja. Bahkan Selama tiga hari itu Sehun tidak pulang kerumah.

Hari itu hari ketiga Leo dirumah sakit, Sehun mendapat notice di ponselnya tepat setelah Leo tertidur. Pria itu membuka hpnya dengan malas, ada banyak pesan masuk namun yang paling membuatnya kaget adalah pesan dari Na Na.

Kim Na Na    : Maaf Sehun mengganggu waktumu, aku ingin bertanya kenapa Leo tidak berangkat sekolah tiga hari ini? Apa dia baik-baik saja. Aku harap kamu mau memberikan keterangan yang jelas kepada sekolah. Terimakasih.

Sehun mendesah pelan, saking sibuknya mengurus Leo dia hingga lupa mengizinkan putranya ke sekolah. Dengan segera dia membalas pesan singkat itu.

Oh Sehun      : Leo sakit di rumah sakit. Maaf baru mengabarimu, suratnya akan menyusul segera.

Dua menit kemudian sebuah pesan masuk kedalam ponselnya lagi.

Kim Na Na    : Leo dimana sekarang? Apa dia baik-baik saja?

Sehun mengetikkan alamat rumah sakit dan mengatakan kata-kata untuk menenangkan Na Na. Walau sebenarnya Sehun tidak ingin bertemu dengan Na Na terlebih dahulu, tapi dia tidak mau menolak niat tulus wanita itu.

Sehun dipanggil ke ruang dokter sepuluh menit kemudian. Sehingga terpaksa dia meninggalkan Leo yang tengah tidur di bangsalnya seorang diri. Lima belas menit setelah kepergian Sehun, Na Na datang dengan tas plastic kecil berisi makanan ringan. Dia sempat ragu masuk kedalam ruang inap Leo yang kosong tak ada orang. Namun netranya segera terpaku ke arah tubuh mungil anak didik kesayangannya yang terlihat layu.

Tidak tahu dorongan darimana air matanya menetes pelan melihat kondisi anak itu. Na Na cukup tahu diri untuk tidak terisak. Dia memilih duduk di salah satu sofa sembari membaca doa untuk Leo. Tak terasa satu jam berlalu dan Leo masih terlelap dengan tidurnya. Matanya memandang dengan jeli kitab yang sedang di bacanya. Tanpa sadar ada seseorang yang sudah masuk kedalam ruangan itu.

Sehun menegur Na Na dengan ragu, tapi wanita itu terlihat baik-baik saja. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengobrol di luar. Walau terasa canggung tetapi Sehun berusaha mengendalikan dirinya dan tampaknya Na Na sudah melupakan kejadian itu. Dia dengan baik hati, menawarkan bantuan untuk menjaga Leo.

“Aku akan hubungi kamu jika aku butuh bantuan.” Ucapnya pelan.

“Mengapa Leo bisa jatuh sakit?” tanya Na Na dengan sedikit takut.

Sehun sekilas menatap Na Na sebelum membuang pandangan matanya kea rah lain. Dan mulalilah cerita itu dari bibirnya hingga penuturan yang dokter sampaikan kepadanya tadi. Na Na adalah pendengar dan penghibur yang baik. Dengan sabar dia mengibur Sehun, menenangkan hatinya. Sore itu menjelang malam harinya, Na Na tetap di samping Sehun. Ikut merasakan susahnya menenangkan Leo. Ikut merasakan keputus asaan putra itu. Entah mengapa dorongan hatinya membuatnya mengatakan hal gila sebelum meninggalkan Sehun dibangsal putranya seorang diri.

“Aku tak tahu apa yang membuatku berubah secepat itu Sehun. Tapi aku merasa nyaman dan menyayangi Leo seperti anakku sendiri. Aku ikut merasakan rasa sakit itu. Walau ini tak mudah, tapi bisakah aku membantu Leo untuk melupakan rasa sakitnya? Membantumu untuk menjaganya? Kali ini tolong pikirkan niat tulusku.” Na Na tersenyum lembut nan tulus kearah Sehun ketika mengatakannya.

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy – (Chapter 7)”

  1. nana berubah fikiran lagi hwwwaaa dia keibuan banget …
    lope lope deh sama sehun wkwkkwk tak tau harus komentar apa wkwkkk
    keep writing

  2. Nana emang perempuan yang mulia.terima aj sih sehun,mungkin sekarang emg dy blm ada perasaan ,tapi nanti pasti ada…semua tuh butuh proses
    #ra #maapkloterlalulebai #piss :p

  3. aduuh agaknya sehun salah paham sama nana. nana bukannya gak mau nikah sma kamuu tapi dia itu merasaa….aiihh~~ *sotauu;)*
    okee kak next chapnya kutunggu. makin seru ini.
    hwaitiiiiiing kaaak!!!

  4. Wah makin seru aja ceritanya ni
    Udah tu sehun terima aja nana kasihan dong leo dia butuh kasih dari ibu juga
    Semoga dichapter selanjutnya mereka udah menikah
    Yg semangat thor fighting😊😊😊😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s