[EXOFFI FREELANCE] Baby, Don’t Cry

images-2.jpeg

Title    : Baby, Don’t cry

Author    : Whitecreamy

Cast    : Oh Sehun, Park Jung Yeon ( OC )

Genre    : AU, sad , romance, marriage life

Rating    : G

Length    : Oneshoot

Disclaimer    : I only own the story

♥♥♥

Baby don’t cry tonight after the darkness passes

Baby don’t cry tonight it’ll become as if it never happened

Baby don’t cry cry my love will protect you

♥♥♥

Sehun berjalan menyusuri koridor UGD Rumah Sakit Seoul dengan langkah yang tergesa-gesa. Sesekali ia melihat ke arah kiri dan kanan mencari sosok wanitanya. Hingga akhirnya, Ia melihat seorang gadis berusia kurang lebih 12 tahun berdiri di ujung jalan koridor. Sehun lantas mempercepat langkahnya. Kurang beberapa langkah lagi Ia mencapai tempat dimana gadis berusia kurang lebih 12 tahun itu berdiri menunggu dengan cemas, seorang wanita muda  keluar dari salah satu ruangan di sisi kiri koridor. Begitu keluar, wanita tersebut langsung memeluk gadis itu. Tak lama kemudian Sehun bisa mendengar suara tangis pecah.

“ Jung-ie, apa yang terjadi?” tanya Sehun kepada wanita yang tengah memeluk si gadis tadi. Pertanyaan Sehun tak lantas segera dijawab wanita itu. Membuat Sehun semakin merasa cemas.

“ Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Sehun mengulangi pertanyaannya. Ia memegang kedua pundak wanita itu.

“ Ibu meninggal.” Jawab wanita itu dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Seluruh sususan saraf  Sehun langsung terasa lemas. Sepertinya baru tadi pagi aku bicara dengan ibu bahkan tadi pagi ibu juga tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Tak disangka Ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya, ucap Sehun di dalam hati. Ia memandangi kedua perempuan itu bergantian. Sepasang kakak adik. Park Jung Yeon dan Park Jung Ah. Dua perempuan itu kini resmi menjadi yatim piatu.

Tangis kesedihan masih terdengar. Park Jung Ah begitu ringan untuk mengekspresikan kesedihannya. Berbeda dengan sang kakak, yang bahkan tidak satu tetes pun air mata yang mengalir di pipinya. Wanita itu tidak menangis seperti adiknya. Tapi meskipun begitu, Sehun tahu bahwa hati wanitanya itu kini tak kalah sedih dengan sang adik. Seorang anak pasti akan sedih bila orang yang dicintainya pergi. Pergi bukan untuk hitungan hari,bulan, ataupun tahun. Kepergian yang tidak bisa dihitung dengan waktu.

Sehun lantas menarik kakak adik itu masuk ke dalam rengkuhannya. Dalam situasi seperti ini, tak ada kata yang mampu menyembuhkan luka. Maka, Sehun memilih diam. Memeluk erat kedua wanita itu. Hanya itu yang baisa Ia lakukan saat ini.

♥♥♥

Nyonya Han-ibu dari Jung Yeon dan Jung Ah- telah lama mengidap diabetes dan juga hipertensi. Sejak sang suami meninggal beliau kerap keluar masuk rumah sakit. Satu tahun terakhir menjadi tahun-tahun yang berat bagi Nyonya Han. Lalu sore tadi adalah kali terakhir Nyonya Han masuk rumah sakit , juga terakhir kali nya beliau menghembuskan nafasnya. Tuhan telah memanggilnya.

Orang-orang kemudian berdatangan ke rumah duka untuk mengucapkan bela sungkawa. Tampak Sehun disana menyalami beberapa tamu yang datang dan pergi silih berganti. Sesekali Ia melihat ke arah Jung Yeon dan Jung Ah yang duduk tidak jauh dari peti mati. Jung Ah masih menangis dan Jung Yeon yang tetap menampilkan wajah sendu tanpa air mata.

Ekspresi itulah yang membuat Sehun sangat khawatir. Sehun sangat mengenal sosok Jung Yeon dengan baik. Luar dalam tidak ada yang luput dari Sehun. Bagi wanita itu tangisan adalah bentuk dari kelemahan dan dia tidak ingin menjadi gadis yang lemah. Dia adalah wanita kuat. Begitulah pedoman hidupnya. Tiga tahun mengarungi kehidupan bersama, Sehun hampir tidak pernah mendapati wanita itu menangis. Bahkan jika mereka sedang bertengkar yang kemudian membuat Sehun lepas kontrol. Wanita itu tidak menangis sama sekali. Tidak menunjukkan sedikitpun airmata kesedihan atau sakit hati.

Sehun khawatir dan juga takut. Bila ternyata wanita itu terlalu banyak memendam kesedihan, menanggung beban sendirian,dan tidak ingin membaginya. Sehun takut bila kemudian semua hal yang Ia sembunyikan di hatinya itu akan membebaninya kemudian menjadi depresi lalu jatuh sakit. Tidak. Sehun tidak ingin itu terjadi.

♥♥♥

Ini sudah hari kesepuluh sejak ibu meninggal. Itu artinya sudah sepuluh hari pula. Sehun menjalani kehidupannya tanpa Jung Yeon. Tidak ada yang membangunkannya saat pagi tiba, tidak ada morning kiss, tidak ada sarapan special, tidak ada pijatan special saat ia letih, dan juga tidak ada malam romantic yang dipenuhi kehangatan seperti biasanya. Baru sepuluh hari tapi Sehun sudah merasa sepuluh tahun lamanya hidup tanpa Jung Yeon.

Wanita nya itu mengatakan ingin tinggal dirumah ibu nya dulu. Ia ingin menemani Jung Ah hingga gadis itu tenang. Awalnya Sehun ingin tinggal disana juga tapi Jung Yeon justru melarangnya. Alasannya karena rumah ibunya terlalu jauh dari kantor Sehun. Sehun ingin sekali memaksa tinggal. Namun sekali lagi ini buka waktu yang tepat untuk memaksakan kehendak. Lebih baik menurut saja.

Siang itu, Sehun baru saja selesai meeting dengan manager pemasaran. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam laci meja kerjanya. Ia terkejut saat mendapati ada banyak panggilan tidak terjawab dari Jung Ah. Tanpa banyak berpikir, Sehun langsung menelpon balik adik iparnya tersebut. Tak lama kemudian Sehun telah berada di dalam mobilnya. Dengan tidak sabar Ia mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit Seoul.

♥♥♥

“ Sekali lagi ya, kumohon.” Bujuk Sehun sembari mengulurkan sendok berisi bubur kepada Jung Yeon yang kini duduk diatas ranjang rumah sakit.

Ya, disinilah Sehun sekarang. Di salah satu ruangan di Rumah Sakit Seoul. Jung Yeon pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan kalau asam lambungnya naik. Itu dikarenakan tidak ada asupan nutrisi yang masuk ke tubuh Jung Yeon. Selain itu wanita Sehun itu juga terlalu lelah dan kurang tidur.

“ Bagaimana kalau makan kue beras super pedas? Kau menyukainya kan?”

Sehun bukannya tidak tahu kalau makanan pedas adalah salah satu makanan yang harus dihindari oleh penderita asam lambung. Ia hanya sedang berusaha membujuk Jung Yeon dengan hal-hal yang disukainya. Salah satunya adalah makanan. Usaha itu gagal karena Jung Yeon menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, kau harus menghabiskan bubur ini.” Sehun hendak menyuapi Jung Yeon lagi, tapi wanita itu tetap menolak.

“ Wae?”

“ Makanannya tidak enak, Hun.”

“ Lalu, kau ingin makan apa? Aku akan membelikannya untuk mu.”

“ Aku tidak ingin makan. Aku tidak lapar.”

Jujur saja, sikap Jung Yeon itu membuat emosi Sehun naik turun. Membujuk anak-anak untuk makan sepertinya jauh lebih mudah daripada membujuk Jung Yeon. Sehun ingin marah, tapi akalnya masih sehat. Jadi dia tidak akan melakukan tindakan bodoh itu. Ia akan bersabar.

“ Baiklah, kalau kau tidak ingin makan. Tapi, kau harus minum obat mu.”

Sehun kemudian mengambil dua butir obat yang telah perawat siapkan tadi. Ia memberikan Jung Yeon obat itu juga sekaligus segelas air putih. Dalam sekali teguk dua butir obat itu telah masuk ke tubuh Jung Yeon. Wanita itu lantas menarik selimut, kemudian berbaring membelakangi Sehun. Laki-laki jangkung itu mendesah frustasi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sofa di sudut ruangan dimana Jung Ah tertidur pulas. Sehun beranjak dari kursinya, bergerak mendekati adik iparnya tersebut. Ia memperbaiki letak selimut Jung Ah. Kemudian Ia melangkah masuk ke kamar mandi dan tak lama kemudian Ia telah keluar. Ia mendapati Jung Yeon masih dalam posisi yang sama.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk naik ke atas ranjang. Menelusup ke dalam selimut dan berbaring memeluk istrinya itu dari belakang. Sesungguhnya, Sehun paling tidak suka jika Jung Yeon tidur membelakanginya seperti ini. Tapi, sepertinya kali ini adalah pengecualian.

Sehun memjamkan matanya. Mencoba untuk tidur. Barangkali besok pagi keadaan telah membaik. Namun, usaha Sehun untuk tidur gagal. Matanya sama sekali tidak mengantuk. Sehun akhirnya membuka matanya kembali. Dengan jari-jarinya ia merapikan rambut Jung Yeon. Dari belakang, Sehun menikmati wajah cantik istrinya tersebut. Saat Jung Yeon sedih seperti ini, Sehun merasa telah gagal sebagai seorang suami yang berjanji akan membahagiakan istrinya.

Tiba-tiba Jung Yeon bergerak. Membuat Sehun sedikit terkejut. Jung Yeon mengubah posisi tidurnya menghadap Sehun. Bahkan wanita itu kini melingkarkan tangannya ke punggung Sehun. Sehun pun membalas pelukan itu dengan sebuah pelukan yang tak kalah erat. Ia kemudian merasakan bahwa istrinya tersebut semakin bergerak masuk ke dalam dekapannya.

“Hun…” meskipun lirih tapi Sehun bisa mendengarnya.

“Hm?”

“Apakah ibu baik-baik saja saat ini?”

Lagi-lagi Sehun mengeratkan pelukannya. Ia menghela nafas sambil mengelus punggung Jung Yeon.

“Tentu ibu baik-baik saja. Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang. Ia juga mungkin sedang tersenyum saat ini.”

“Mengapa ibu tersenyum?”

“Karena Tuhan telah mengambil semua rasa sakit yang ibu rasakan selama ini.”

“Jadi ibu sudah tidak sakit lagi sekarang?”

“Hem. Ibu telah damai bersama Tuhan.”

Sehun mengeratkan lagi pelukannya. Begitu pula Jung Yeon yang semakin masuk ke dekapan Sehun. Wanita itu benar-benar membutuhkan sandaran saat ini. Dan Sehun lah satu-satu nya yang Ia miliki saat ini.

“Hun…”

“Ya?”

“Apa aku boleh menangis?”

Sehun menghela nafas dalam-dalam kemudian baru menjawab,

“Tentu saja kau boleh menangis.”

Sehun bisa merasakan tetesan air mata pertama Jung Yeon yang membasahi kemeja nya. Jung yeon nya begitu rapuh saat ini.

“Menangislah sepuasmu. Jangan menahannya…lepaskan semua beban mu dan bagilah beban itu bersama ku, sayang. Bukankah kita telah berjanji dihadapan Tuhan bahwa kita akan selalu berbagi kebahagiaan juga kesedihan?”

Tak ada sepatah kata yang terucap setelah itu. Dalam dekapannya, Sehun membiarkan istrinya itu menumpahkan semua air mata kesedihan yang telah tertahan selama sepuluh hari ini. Untuk pertama kalinya, Sehun mendengar suara tangis istrinya setelah 2 tahun berumah tangga. Lega, sehun merasa sangat lega bisa mendengar tangisan Jung Yeon. Rasa khawatir itu perlahan luntur.

Jung Yeon terus menangis. Menumpahkan segala kesedihan atas perginya sang ibunda tercinta. Sehun tak peduli bahwa kini kemeja nya sangat basah akibat tangisan Jung Yeon. Sesekali Sehun mengelus punggung Jung Yeon dan mengecupi puncak kepala istrinya. Semoga skinship kecil ini bisa membantu meringankan beban istrinya. Juga menegaskan bahwa Sehun akan selalu ada untuk Jung Yeon. Apapun keadannya. Entah bahagia atau sedih.

“Aku mencintaimu.” Bisik sehun di telinga Jung Yeon.

END

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Baby, Don’t Cry

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s