[EXOFFI FREELANCE] Romance Phobia (Last Chapter)

romance-phobia-cover

Romance Phobia

Author

RedShirayuki

Main Cast

Im Nayeon x Byun Baekhyun

Length

Multichapter

Genre: School life, Romance, Funny, Familyship, etc.

Rating: Teen

Ini ff murni pemikiran author.  Jika ada kesamaan tokoh, cerita, dan lainnya itu mungkin tidak sengaja. Jangan ada yang menjadi plagiat kalau mau Negara kita maju, okeh? Maaf soalnya banyak typo sana-sini. Oke langsung aja yuks!

LAST CHAPTER

Author’s side

“Silahkan, Kang Juliet.”

“Kau benar-benar ingin mati, ya?” Juliet menatap Nayeon dengan mata nyalang, namun tatapan mengerikannya itu dibalas dengan decihan pelan dari Nayeon.

“Sebelum kau membunuhku lebih baik kau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.”

“Aku tidak butuh penjelasan da–”

“Diam atau kau akan menyesal?!” Juliet menahan dirinya, lalu mendengarkan penjelasan dari Nayeon yang sebenarnya dia juga penasaran akan itu.

Flashback on

Nayeon hanya duduk disana, di sebuah bangku taman dengan cahaya lampu remang-remangnya. Jaehyun menyuruhnya menunggu disini.  Jika saja Jaehyun tidak mengetahui penyakit sialnya, mana mungkin dia mau duduk sendirian disini. Entah apa yang ingin Jaehyun bicarakan kepada Nayeon , Nayeon juga tidak tahu.

“Kau menunggu lama?” Nayeon menoleh ke sumber suara, di dapatinya Jaehyun dengan keringat penuh dikeningnya.

“Kau baru selesai lari marathon, ya? Keringatmu bisa menjadi persedian minum dua bulan.” Ucap Nayeon dengan senyum renyah di wajahnya.

“Maaf Nayeon-ah, tapi ini sangat mendesak.” Jaehyun duduk di tempat kosong di samping Nayeon.

“Jika kau tahu mendesak, kenapa kau tidak datang lebih awal? Aku sudah menunggu selama satu setengah jam disini.” Nayeon berucap agaknya dia sedikit sebal.

“Hehehe, maaf, ada yang harus kukerjakan terlebih dahulu tadi.”  Jaehyun hanya tertawa garing dan dibalas dengan kerutan di dahi Nayeon.

“Jadi kau ingin aku membantumu apa?” Nayeon melipat kedua tangannya di depan dadanya. Usianya yang sudah menginjak 13 tahun itu tidak membuat keimutannya bekurang.

“Begini, besok saat jam istirahat pertama aku ingin kau datang ke atas atap sekolah. Ada yang harus kita lakukan disana.” Jaehyun berucap dengan serius.

“Apa yang akan kita lakukan? Jika kau mengajakku berbuat dosa aku tidak mau.” Nayeon menolak dengan tegas.

“Tenang saja nona Im, aku tidak akan membuatmu masuk neraka.” Ucap Jaehyun dengan nada bercanda, namun Nayeon tidak tahu bahwa dibalik nada canda Jaehyun tersimpan sebuah luka gores yang dalam.

“Ah iya satu lagi, jika besok aku tiba-tiba menembakmu di tengah lapangan pada saat jam istirahat pertama tolong acuhkan saja.” Pinta Jaehyun sungguh-sungguh.

“Baiklah, siap komandan!”

Keesokkan harinya sekolah memang gempar, akibat pernyataan cinta Jaehyun kepada Nayeon yang menjadi tontonan live bagi seluruh penduduk sekolah. Namun seperti permintaan Jaehyun, Nayeon mengacuhkan pernyataannya.

Jam istirahat kedua, Nayeon bergegas menuju atap sekolah. Dia tidak ingin mengecewakan Jaehyun yang telah menjadi teman pertamanya di kelas barunya.

“Jaehyun-ah, aku sudah datang!” Nayeon mengedarkan pandangannya, dia bisa melihat Jaehyun tengah berdiri tenang di pinggir pembatas atap.

“Jadi apa yang akan kita lakukan?” Nayeon segera berdiri di samping Jaehyun.

Dahi Nayeon berkerut, wajah Jaehyun yang jenaka hilang entah kemana membuat Nayeon benar-benar heran.

“Nayeon-ah, berdirilah di depan tembok itu.” Tanpa aba-aba apa-apa lagi, Nayeon segera menuju ke tempat yang ditunjuk Jaehyun, meski hatinya dongkol Jaehyun berbuat seenaknya.

“Nayeon-ah, kau adalah orang yang pertama yang mengetahui hal ini.” Nayeon hanya mengangguk tak mengerti, Jaehyun begitu berbeda dari biasanya.

“Aku menderita Leukimia, kata dokter aku tidak punya harapan lagi. Aku hanya tinggal menunggu waktu saja. Kau tahu, perkataan dokter itu sangat menyakitkan.” Jaehyun tertawa miris, Nayeon mulai sedikit mengerti arah pembicaraan ini, namun dia diam saja. Membiarkan Jaehyun mengeluarkan seluruh isi hatinya. Bukankah ini terlalu berat bagi anak kelas 2 SMP?

“Tadi teman masa kecilku, sekaligus gadis yang sangat aku sayangi menyatakan perasaanya padaku. Namun aku menolaknya dan mengatakan bahwa aku akan menembakmu hari ini agar dia membenciku.”

Perlahan-lahan Jaehyun naik ke atas pembatas itu, hati Nayeon mulai ragu.

“Jangan kemari, sebelum aku selesai cerita Nayeon-ah.” Nayeon menahan langkahnya, gerak-gerik Jaehyun cukup mencurigakan.

“Aku harus membuat Juliet membenciku, dia tidak boleh terus menyayangi aku.” Jaehyun menunduk dalam.

“Kenapa Jaehyun-ah? Kalian ‘kan saling menyayangi, bukankah kalian harus bersama?” Nayeon mulai menanggapi kalimat-kalimat Jaehyun.

“Aku ingin itu terjadi, tapi penyakit ini menentangku. Dia ingin aku mati!” Nayeon tersentak, ini jam istirahat apa tidak ada yang melihat Jaehyun berdiri di tempat berbahaya seperti itu?

“Jaehyun-ah, kau pasti bisa sembuh.” Nayeon berucap lembut, namun dibalas seringaian dari Jaehyun.

“Tidak, itu tidak mungkin. Jadi, karena kau adalah temanku aku ingin kau melihat aku melompat da– Argh!!”

“Jung Jaehyun!!!” Nayeon segera berlari kesana, Jaehyun tergenlincir. Lekas dilihat Nayeon  ke bawah, disana ada tubuh Jaehyun yang tergeletak dengan mengenaskan dipenuhi darah merah kentalnya. Kaki Nayeon bergetar hebat, bahkan dia bisa merasakan bahwa sesuatu telah membasahi kakinya. Dia bahkan pipis di celana sakin takutnya. Jaehyun mati di depan matanya sendiri.

“Jung Jaehyun….” Ucap Nayeon dengan getir, ketakutan mulai memenuhi dirinya.

“Im Nayeon, apa yang kau lakukan disini?” Nayeon menatap kosong ke arah gurunya yang menatapnya penuh kaget.

“Ssaem, Jung Jaehyun tergelincir dan..”

“Iya, aku tahu kau tidak salah. Jadi tenanglah.”

“Jung Jaehyun..”

Flashback off

“Aku tidak melakukan apapun kepada Jung Jaehyun, dia hanya meminta pertolongan padaku. Tapi dia tergelincir saat itu, aku berdiri jauh dari dia!” Bentak Nayeon sesanggupnya, sekarang dia tahu siapa Juliet yang dimaksud Jung Jaehyun.

Juliet itu adalah gadis ini, gadis yang tengah menatapnya nyalang dan penuh kebencian.

“Apakah itu semua benar?” Juliet melemahkan cengkramannya di leher Nayeon, membuat Nayeon akhirnya bisa sedikit menghirup oksigen dengan tenang.

“Kang Juliet, jika aku melakukan sesuatu pada Jaehyun seperti yang selama ini kau asumsikan, aku tidak akan berdiri disini. Aku juga bakal melompat dari tempat yang sama. Aku juga sudah melakukan hal itu tapi saat itu eonnieku mengatakan padaku bahwa hidup itu berharga.” Nayeon berucap lembut, seakan dia bukanlah Nayeon yang tadi.

“Aku tahu, rasa bencimu padaku sangat sulit untuk dihilangkan tapi satu hal yang harus kau camkan adalah kenyataan bahwa sebenarnya Jaehyun itu mencintaimu bukan mencintaiku. Dia hanya tidak mau kau terpuruk karena kematiannya. Dia tidak mau kau terus-terusan mengingatnya. Dia ingin kau bahagia menikmati hidupmu meski tanpanya.” Juliet perlahan menjauhkan tangannya dari leher Nayeon, tubuhnya ambruk dan segera dia terisak. Nayeon memeluknya, berusaha mendamaikan perasaan gadis itu.

“Jaehyun adalah teman pertamaku di kelas saat itu, dia adalah sosok yang sangat baik. Tapi Tuhan menginginkan Jaehyun untuk kembali ke sisinya dengan cara memberinya sebuah penyakit namun Jaehyun tidak terima hal itu. Aku tahu tujuannya saat itu, dia ingin lompat dari tempat itu tapi dia malah tergelincir.”  Nayeon menepuk-nepuk pelan pundak Juliet.

“Maafkan aku, Im Nayeon. Selama ini aku bersikap kasar padamu. Aku seharusnya mengerti bahwa kau juga menyimpan kenyataan yang sangat pahit. Aku malah memanfaatkan penyakitmu sebagai senjataku, tapi nyatanya kau bukanlah yang salah. Tapi ini adalah kesalahanku yang tidak mau menerima kenyataan bahwa Jaehyun telah tiada.” Nayeon tersenyum tipis, direngkuhnya tubuh Juliet dengan penuh kasih sayang.

“Aku juga minta maaf karena aku belum sempat menceritakannya semuanya padamu. Karena sejujurnya, aku tidak mengenal Juliet yang dimaksud oleh Jaehyun.”

Nayeon membantu Juliet berdiri, mereka berjalan bersama menuju pintu atap sekolah itu setelah mereka mengambil tas mereka masing-masing.

“Nayeon-ah?!” Langkah kedua gadis itu tehenti, ketika sosok Baekhyun muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka.

“Kau?” Nayeon mengubah tatapan lembutnya menjadi tatapan tak suka karena kemunculan Baekhyun.

“Kau baik-baik saja?” Nafas Baekhyun nampak terengah-engah, namun Nayeon acuh tak acuh dengan hal tersebut.

“Menjauh dariku.” Nayeon mendorong tubuh Baekhyun agar menjauh darinya.

“Nayeon-ah, aku harus memberitahu sesuatu padamu!” Nayeon hanya tersenyum tipis, namun senyuman itu adalah sebuah senyuman yang sebenarnya berarti terluka.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Baekhyun-ssi. Kau dan aku sudah selesai, anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain.” Ucapan itu begitu menyakitkan, seakan sebuah silet tengah mengiris hati Baekhyun.

Nayeon dan Juliet melanjutkan langkahnya. Juliet yang memandang peristiwa tadi tak tahan untuk bungkam dan akhirnya dia memutuskan untuk angkat bicara.

“Ada apa dengan kalian?” Juliet melirik sekilas Nayeon yang sepertinya tengah sibuk dengan pikirannya.

Nayeon hanya menggeleng, menatap fokus anak tangga yang sekarang tengah mereka pijak. Jujur dia sangat senang dengan sikap Baekhyun yang ternyata masih mengkhawatirkannya. Tapi Nayeon bisa mengatasi semuanya sendirian. Dia bisa menaklukkan sosok Juliet yang penuh dendam tapi kenapa dia nampaknya tidak bisa menaklukkan hatinya?

“Juliet-ssi, kau bisa pulang sendiri ‘kan? Aku sepertinya harus ke ruang UKS, leherku terasa sangat nyeri.” Nayeon berusaha tersenyum canda, meski dari tadi dia berusaha agar dirinya tidak larut dalam kesedihan.

“Ah.. maafkan aku ya, Nayeon-ssi, apa aku mestinya menemanimu ke ruang UKS tapi aku ingin berkunjung ke suatu tempat.” Juliet menggenggam pergelangan tangan Nayeon.

Gwenchana, aku bisa melakukannya sendiri. Kalau begitu sampai jumpa besok.” Nayeon melambaikan tangannya singkat, kemudian berjalan perlahan menuju ruang UKS.

Juliet pergi dengan senyum tipis, dia menyadari kalau sebenarnya Nayeon adalah sosok yang sangat baik.

Memang benar leher Nayeon terasa nyeri, dia yakin ada luka memar disana mengingat bagaimana kuatnya Juliet mencekiknya tadi. Dia lekas membuka pintu ruang UKS, sepi yang dia temukan. Dia lupa kalau saat ini sudah lebih satu jam dari jam pulang sekolah, sudah pasti semua guru dan semua murid telah pulang.

Nayeon memutuskan untuk mencari salep luka ke tempat obat-obatan. Memang dia sedikit takut karena suasana sepi yang dia rasakan. Namun rasa nyeri dilehernya mengalahkan semua itu.

“Apa yang kau lakukan, Nayeon-ssi?”

Brukk!

Nayeon menjatuhkan kotak obat yang dia pegang tadi, dia benar-benar kaget dengan suara yang didengarnya barusan.

“Astaga.. apa aku benar-benar menakutkan sampai kau kaget seperti itu?” Pria itu mengambil kotak obat yang terjatuh tersebut.

“Ma-maaf, aku kira disini tidak ada orang lagi.” Nayeon yang sedikit gemetar, membuat pria itu merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, lagipula ini salahku.”

Hikss..”

Pria itu hendak berlalu setelah memberikan kotak obat pada Nayeon namun langkahnya terhenti. Dia sontak menoleh, didapatinya gadis itu tengah menangis sekarang.

“E-eeh? Kenapa kau menangis? Apa ini karena aku?” Pria itu gelagapan, rasa bersalah mulai mengerubungi dirinya.

Hikss.. siapa-yang-menangis-hikss..?” Nayeon menyeka air mata dipipinya, membuat pria itu semakin merasa bersalah.

Grep!

Nayeon tersentak, pria itu memeluknya. Mendekap tubuhnya dengan hangat. Jika mengingat siapa sosok yang tengah memeluknya ini, Nayeon ingin melepas pelukan ini. Namun saat ini dia benar-benar membutuhkan kehangatan seperti ini. Dia membutuhkan seseorang yang mampu mengambil sedikit rasa sedihnya. Rasa sedih yang timbul akibat sikapnya yang berusaha menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Dia masih mencintai Baekhyun, kenyataan itu selalu membuatnya ingin lenyap dan pergi menjauh dari sosok Baekhyun.

^^

Dua kantong plastik snack itu dibawa Momo dengan semangat. Senyumnya tak kunjung luntur sedari tadi. Dengan cepat dia melangkah menaiki tangga itu.

“TEMAN-TEMAN AKU MEMBAWA SNACK UNTUK KITA!” Seru Momo semangat. Namun balasannya yang muncul hanya sebuah suasana krik-krik yang membuat dia menelan ludahnya jengkel.

Momo mendengus sebal, dilemparnya dua kantongan plastik tadi secara sembarang. Dia sebal, tak ada seorangpun disini membuat dia ingin menendang semua yang berada di depan matanya.

Tapi Momo mengurungkan niatnya, ditariknya nafasnya perlahan lalu dengan langkah gontai dia mendekati tasnya yang tergeletak manis disana.

“Ayo sayang, kita pulang.” Ucapnya lemah.

^^

Nayeon’s side

Ini kedua kalinya. Kedua kalinya aku bepelukan dengannya. Kim Taeyong, orang yang paling aku benci namun selalu dia yang muncul ketika aku tengah menangis. Aku benci aku yang sekarang. Aku benci mengapa aku membuang-buang air mataku hanya untuk sosok Byun Baekhyun. Aku benci mengingat semua kenanganku dengannya!

“Ini, minumlah.” Aku menerima sebuah botol minuman isotonic yang disodorkan pria itu padaku.

“Terimakasih.” Ucapku singkat. Sejujurnya aku tidak akan meminumnya tapi yah.. sekedar menghargai kebaikannya aku menerimanya.

“Kau sudah merasa lebih tenang?” Aku hanya membalas pertanyaannya dengan anggukan. Dia hanya ikut mengangguk, lalu memalingkan pandangannya ke arah lemari obat disana.

“Mau kuantar pulang?” Aku hanya menaikkan sebelah alisku mendengar tawarannya, tapi ingatlah Im Nayeon, kau itu membencinya.

“Terimakasih, tapi aku bisa pulang sendiri.” Aku tersenyum terpaksa.

“Baiklah kalau begitu.” Ingin rasanya aku segera pergi dan meninggalkan suasana canggung ini, tapi mengingat bagaimana sunbae ini ikhlas membiarkan aku membasahi kemeja putihnya dengan ingus dan airmataku terpaksalah aku duduk disini sembari menyahuti perkataannya.

“Apakah kau menangis karena Baekhyun?” Aku mendengus, kenapa disaat aku sedang tidak mood mendengar nama itu pria ini harus mengucapkannya?

“Bukan urusanmu.” Jawabku cepat dengan nada cukup sinis, seperti aku yang biasa.

“Ah.. kau benar, tapi jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu apakah hal itu sekarang menjadi urusanku?”

Deg!

Apa katanya barusan?

^^

Author’s side

Baekhyun melempar satu-persatu batu yang dia kumpulkan tadi ke sungai itu. Dia mengumpamakan batu itu adalah kesedihannya, namun entah sudah berapa puluh batu yang dia lempar, rasa sedihnya tak kunjung berkurang.

“Apa mereka tahu aku sudah menghabiskan berapa won untuk itu semua?!” sebuah teriakan kekesalan yang tertangkap oleh telinga Baekhyun membuat Baekhyun menoleh sebal.

Tapi ketika dia sadar siapa yang tengah berteriak itu, dia memutar bola matanya jengah. Hirai Momo, dengan rambut pirang mencoloknya tengah berteriak kesal disana.

“Byun Baekhyun, kau yang paling sialan! Kenapa kau begitu jual mahal, huh? Kau hanya seorang pengecut! Kau itu pengecut! Kau bahkan tidak bisa melawan Taeyong yang juga si pengecut! Kalian semua brengsek!!”

YA!!”

^^

Nayeon menoleh perlahan ke arah Taeyong, apakah yang barusan itu sebuah pernyataan cinta?

“Aku mencintaimu, apakah itu salah?” Nayeon menelan ludahnya kasar, dia menggigit bibir bawahnya.

Sunbae.. kau bercanda ‘kan?”

“Tidak, aku tidak bercanda. Sebenarnya, ada yang ingin kuakui juga padamu.” Taeyong tersenyum miris. Entah apa yang tengah merasukinya dia tak tahu. Dia ingin mengungkapkan segalanya. Semua hal yang selama ini dia lakukan terhadap Baekhyun. Penyebab utama kenapa gadis yang dia cintai ini menangis.

Sunbae.. ini sudah terlalu sore, aku sebaiknya pulang.” Nayeon beranjak, berusaha menutupi rasa gugup yang sebenarnya tengah menyelimutinya.

“Aku mengancam Baekhyun.” Nayeon berhenti, kalimat Taeyong barusan cukup aneh baginya. Dia menoleh, mendapati wajah frustasi Tayeong disana.

“Aku mengancamnya, itu adalah alasan mengapa dia mengakhiri hubungan kalian. Tapi Baekhyun juga terlalu tolol karena dia mempercayai semua ancaman itu.” Nayeon terperangah, ini semua terlalu sulit dia percayai.

“Aku melakukan semua itu karena aku mencin–”

PLAK!

Taeyong mengusap pipi kanannya yang baru saja menerima tamparan keras dari tangah halus Nayeon.  Nayeon hanya menatap sinis pria itu sesaat lalu segera berlalu dari sana.

“Aku sudah mengira hal ini akan terjadi.” gumam Taeyong pelan.

^^

Baekhyun’s side

Aku baru saja ingin melabrak gadis yang baru saja secara terang-terangan menghinaku itu. Tapi seorang ahjumma mendahului aku.

Ya! Apa kau tidak bisa lihat banyak lansia yang tengah tidur sore disana?” Ucapan ahjumma itu membuatku terkikik. Wajah merah padam Momo yang tengah menahan malu membuat aku semakin tertawa.

Gomen–eh cheosongheyo.” Momo menunduk dalam, membuat ahjumma tadi akhirnya beranjak pergi.  Momo menaikkan badannya dan mata kami bertemu.

Dia  kaget karena melihatku, mulutnya berkomat-kamit seakan menggumamkan ‘astaga’  aku hanya tersenyum simpul ke arahnya. Lekas aku mengambil ranselku lalu beranjak pulang. Yah.. lumayanlah, keadaan gadis itu sedikit menghiburku. Meski aku begitu membencinya, tapi sepertinya dia sudah lebih membenciku lagi.

99% perkataannya benar. Aku memang pengecut, tapi akan kuakhiri permainan ini dan mengembalikan segalanya!

^^

Author’s side

Matahari sudah tenggelam. Kini langit malam telah muncul disertai beberapa bintang serta tak lupa sang rembulan. Baekhyun dengan posisi pe-we-nya berdiri menyender ke gerbang sebuah rumah yang aku yakini kalian ketahui siapa pemilik rumah itu.

Derap langkah kaki terdengar, Baekhyun mengubah posisinya. Kali ini dia menghadap ke arah gerbang berwarna putih setinggi satu setengah meter itu. Gerbang terbuka, sosok Taeyong dengan sedikit luka lecet diujung bibirnya membuat Baekhyun tersenyum simpul.

“Mau apa kau kema–”

Brugh!

Taeyong tersungkur ke tanah. Tapi tak sampai disitu saja, Baekhyun mengeluarkan semuanya. Menjatuhi pria Lee itu dengan pukulan-pukulan mautnya. Membalas semua perbuatannya, menjauhkan istilah pengecut dari dirinya. Masa bodoh dengan peribahasa ‘jika anjing menggigit kita maka kita tidak akan membalas menggigitnya’.  Kini luka lebam sudah memenuhi wajah tampan Lee Taeyong.  Baekhyun mengangkat tubuh Taeyong dan menatap nyalang pria itu.

“Apa aku juga perlu menambahkan ancaman seperti jauhi Nayeon jika kau tidak ingin sepupu pirangmu itu kenapa-kenapa?” Baekhyun menyeringai, namun dibalas dengan senyum tipis dari Taeyong.

“Cih. Sepertinya kali ini aku harus mengibarkan bendera putih karena aku menyerah.”

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, tapi itu bukan berarti dia puas.

“Aku sudah mengatakan semuanya pada Nayeon. Dan hari ini dia juga sudah menolakku tadi lengkap dengan sebuah tamparan keras di pipi kananku.”

Baekhyun membelalakkan matanya. Jadi Nayeon sudah tahu segalanya?

“Terimakasih karena sudah sempat meninggalkan Nayeon untukku, tapi untuk sekarang dan sampai seterusnya.. jangan pernah meninggalkannya lagi.” Taeyong tersenyum tipis.

“Sama-sama.” Dengan satu pukulan Baekhyun menjatuhkan sunbaenya yang terkenal dengan keganasannya tersebut.

Tanpa menoleh lagi kearah sosok yang kini terbaring lemah di aspal tersebut Baekhyun segera kembali ke rumahnya.

Kini pikiran Baekhyun dipenuhi dengan sebuah pertanyaan.

Apakah Nayeon akan menerimanya kembali?

^^

Nayeon mengetuk-ngetukkan pulpen ditangannya ke dahinya. Dia menghayal, diabaikannya setumpuk pr matematika yang akan dikumpul esok hari. Perkataan Tayeong tadi memenuhi pikirannya. Apakah benar Baekhyun mengakhiri hubungan mereka karena ancaman Taeyong? Jadi sebenarnya Baekhyun saat mencintainya?

“Ah.. molla!” ucap Nayeon pasrah, ini benar-benar menganggu pikirannya.

Dimatikannya lampu belajarnya lalu dia hempaskan tubuhnya ke kasurnya.

“Aku benar-benar bingung..”

^^

“Ya Tuhan, kau baru berkelahi ya?” Taeyong hanya memutar bola matanya malas. Momo yang ditanggapi seperti itu hanya bisa menekuk wajahnya kesal.

“Memangnya aku kelihatan baru saja nge-rap?” Taeyong berdesis sebal, Momo hanya mendecih lalu segera melangkah ke kamarnya.

“Lusa, aku kembali ke Jepang. Kau tidak masalah ‘kan?” Momo menghentikan langkahnya sejenak, menatap sepupu yang paling dekat dengannya selama ini.

“Hm.. silahkan. Jangan kembali ke sini lagi, kau hanya menjadi parasit di rumah ini.” Taeyong berucap sinis, Momo hanya mengedikkan bahunya. Malas menanggapi perkataan sok sarkatis sepupunya itu.

Taeyong beranjak dari posisinya. Disusul dengan hal yang sama oleh Momo.

Kenapa aku dulu bisa suka padanya? Cih. Cinta pertamaku yang menjijikkan!” Batin Momo sebal.

^^

Kelas begitu damai. Nayeon, Baekhyun, Juliet, serta Momo nampak biasa saja. Tapi dibalik sikap yang biasa itu Baekhyun tengah memikirkan cara untuk memulai percakapan dengan Nayeon. Nayeon juga sibuk dengan pikirannya yang dipenuhi dengan nama Baekhyun. Begitu juga dengan Momo dan Juliet mereka masing-masing juga memikirkan sesuatu.

Na-ssaem menyadari bahwa Baekhyun tengah melamun disaat salah satu teman sekelasnya tengah membaca sebuah teks.

“Baekhyun-ssi lanjutkan bacaannya dengan posisi berdiri.” Baekhyun tersentak, ditatapnya sekilas teman-temannya yang tengah menoleh ke arahnya. Lantas dia berdiri, lalu menghembuskan nafas perlahan.

Namaku Byun Baekhyun. Pada hari pertama masuk sekolah, aku jatuh cinta pada seorang gadis yang mengidap phobia aneh. Aku membantunya menyembuhkan phobianya itu dan untung saja kami berhasil menyembuhkan phobia itu. Setelah itu, aku dan dia berkencan. Namun berbagai permasalahan melanda hubungan kami. Aku diancam oleh seorang pria untuk menjauhi gadis itu jika ingin adikku selamat. Bodohnya, aku percaya-percaya saja pada ancaman itu. Aku mengakhiri hubunganku dengannya melalui cara yang salah.  Aku menyakitinya, membuatnya merasa terpuruk dan akhirnya dia membenciku. Tapi, aku masih sangat menyayanginya. Aku ingin hubungan kami kembali membaik, aku ingin dia kembali bersamaku. Melupakan semua masalah itu dan memulai cerita yang baru. Maka dari itu, apakah kau mau memaafkanku Nayeon-ah?”

Semua ternganga. Bahkan Na-ssaem kehabisan kata-kata, begitu pula dengan Nayeon. Wajahnya memerah karena malu sekaligus kaget dan terharu. Semua mata kini menatapnya penuh iri. Tapi pipinya semakin memanas. Tanpa aba-aba, Nayeon berlari keluar kelas. Dia berlari secepat mungkin dan kemudian disusul oleh Baekhyun.

Na-ssaem dan para penghuni kelas lainnya menjadi canggung satu sama lain. Adegan pengakuan barusan membuat mereka ikut merona.

“Sudah-sudah, kalian belajar sendiri saja!” Perkataan Na-ssaem tidak mampu membuat para penghuni kelas kembali sadar.

^^

“Nayeon-ah!” Baekhyun mendekati Nayeon yang tengah duduk sambil menutupi wajahnya di atas atap sekolah.

“Jangan kemari!” sergah Nayeon cepat, tapi Baekhyun dengan cepat mendekati Nayeon tanpa keraguan.  Direngkuhnya tubuh gadis itu dengan erat.

“Maafkan aku, Nayeon-ah.” Baekhyun berbisik di dekat telinga Nayeon, membuat Nayeon semakin merona.

“Aku.. tidak mau memaafkanmu.” Ucapan Nayeon membuat Baekhyun tersenyum manis.

“Apakah kau yakin?” Baekhyun bertanya dengan nada santai, entah apa yang sudah dia rencanakan.

“Tidak! Maksudku iya! Tidak!” Nayeon malah linglung sendiri, membuat Baekhyun tersenyum jahil.

“Nayeon-ah, tadinya aku ingin membuatmu terharu dan menangis tapi kau malah membuat suasananya menjadi genre komedi.” Baekhyun melepas dekapannya dan menatap wajah Nayeon lembut.

“Ini tidak lucu!”

“Aku mencintaimu.”

Ya, aku bilang aku tidak mau memaafkanmu!”

“Pipimu merona lo~ kau yakin tidak mau memaafkanku?” Tanya Baekhyun penuh menggoda.

“Iya! Aku tidak mau memaafkanmu!” Nayeon memekik kesal, Baekhyun hanya tersenyum geli.

“Kau yakin, hm?”

Ishh… kenapa aku tidak bisa marah padamu, huh? Padahal aku ingin menamparmu tapi kenapa aku tidak bisa?!” Nayeon mengerutkan wajahnya.

“Kenapa, ya?” Baekhyun pura-pura berpikir.

Aishh… a-aku ishhh aku mencintaimu juga!” Nayeon berucap sebal, tanpa dia sadari darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya.

“Ahh.. jadi kau mencint–Nayeon-ah, kau mimisan!” Baekhyun yang tadinya tersenyum jahil berubah panik ketika darah itu terlihat olehnya.

“Apa?!”

“Cepat tutup hidungmu bodoh!”

“Byun, darahnya tidak mau berhenti.”

“Astaga.. kenapa kau bisa mimisan, eoh?”

“Aku gugup! Kau tidak peka, sih! Dasar pengecut!”

“Tutup mulutmu, aku bukan pengecut!”

“Kau bukan seorang pria sejati!”

“Kau cari masalah, ya?”

Baekhyun yang awalnya berniat mengecup bibir mungil milik Nayeon kini mengurungkan niatnya. Darah itu membuatnya kehilangan selera, lantas dibukanya kemejanya dan ditutupnya hidung gadis itu dengan itu.

“Kenapa kita bisa baikkan dengan begitu mudah?” Nayeon bertanya disela-sela aktivitas mengelap darahnya.

“Karena aku tampan.” Baekhyun menjawab cepat dan penuh dengan gaya percaya dirinya.

“Kau tampan? Lantas Lee Jong Suk itu apa? Super duper tampan? Ultra tampan?” Nayeon berucap tak terima.

“Hmm.. baiklah, apalah daya pria yang diskon tujuh puluh lima persen semacam aku ini.” Baekhyun tersenyum kecut, membuat Nayeon tertawa puas.

“Aku tidak suka barang diskon, karena barang diskon itu murahan.” Lanjut Nayeon yang lantas membuat Baekhyun tersenyum semakin kecut.

“Terserah kau saja, terserah apa katamu. Tapi ngomong-ngomong kita sudah baikkan ‘kan?”

“Menurutmu?” Nayeon tersenyum tipis.

“Kita belum sah baikkan.” Baekhyun menggeleng lemah, membuat Nayeon mengerutkan dahinya.

“Huh? Kenapa? Apa masih ada yang kau rahasiakan dariku?” Nayeon memajukan bibirnya.

“Kita sah baikkan setelah, cium?” Baekhyun tersenyum nakal, membuat Nayeon memutar bola matanya jengah.

“Syarat macam apa itu? Aku tidak mau!” Nayeon menolak cepat.

“Ya sudah kalau tidak mau, jangan salahkan aku jika nanti kau menye–”

Chu~

“Sudahkan?” Nayeon menggigit bibirnya karena malu.

“Masih kurang, sekali lagi.” Baekhyun memasang wajah memelas.

Ya! Aku tidak mau!” Nayeon beranjak menjauhi Baekhyun yang tiba-tiba saja berubah menjadi maniak cium.

“Nayeon-ah, sekali lagi!!”

“TIDAK  AKAN!”

Dan begitulah awal baru kisah cinta Nayeon dan Baekhyun. Pengorbanan darah Nayeon tidak sia-sia, akhirnya dia bisa mengetahui bagaimana rasanya mencintai, membenci, dan memaafkan orang lain. Tapi  menurut kalian, apa yang terjadi pada Taeyong dan Momo? Hmm.. aku rasa kalian lebih baik memikirkan sendiri akhir yang manis untuk mereka berdua. Jangan lupa dengan Juliet, ya!

FI

“Ehh jangan fin dulu!”

“Yeol, bukankah ini kejam? Bagaimana mungkin kisah ini tamat tanpa kehadiran kita?”

“Ini tidak bisa dipercaya! Yoona-ya, mana yang lebih tampan aku atau Baekhyun?”

“Tentu saja kau!”

“Padahal seingatku, kita berdua adalah maincast dari cerita ini tapi kenapa kita tidak muncul di chapter terakhir, huh?”

Authornya masih labil saat itu. Dia sebenarnya masih bingung apa itu maincast dan apa itu minorcast.”

“Jadi kita berdua ini korban PHP?”

“Iya, bisa dibilang seperti itu. Tapi jangan marah pada author dia juga lelah.”

“Iya, aku dengar dia belakangan ini kurang belaiaian.”

“Hm, dia juga lelah. Apa kau tidak bisa baca bahwa akhir cerita ini agak menggantung?”

“Kita harus memberinya semangat!”

“Iya, ayo kita teriakan fighting untuknya.”

“Yeol, bukankah hari ini kita ada kencan?”

“Ah iya, aku lupa!”

“Kau melupakan kencan kita? Oke aku fix aku mengerti sekarang!”

“Yoona-ya!”

*suara lemparan panci, piring, mangkuk terdengar nyaring*

FIN

Catatan enggak penting:

I’m like TT, just like TT!

Ini bener-bener fin! Tapi serius aku juga rada gak ngeh sama endingnya tapi itulah Romance Phobia. Jujur, aku juga udah nge-blank pas mau ngelanjut ff ini. Tapi aku paksa ide-ide yang biasa aku bayangkan sebelum tidur buat keluar. Karena belakangan ini Ikatan Kimia, segala macam jenis jamur, dan sistem pertidaksamaan variabel -_______-  selalu menemani hari-hari sehingga aku jadi mogok buat memunculkan ide-ide yang biasanya meluncur gitu aja.

Maaf banget >//< aku udah hiatus kelamaan dan tanpa bilang-bilang, HIKS.

Dan beginilah akhirnya, aku juga yakin kalau kalian itu juga gak puas sama akhir kisahnya. Tapi serius, untuk membuat ending sebuah cerita itu benar-benar susaaah! Aku sampe gak nafsu makan berhari-hari karena pikiran aku terus ke RP. Semoga kalian itu gak kecewa yah.

Oke yang paling utama aku mau ngucapin terimakasih buat Tuhan Yang Maha Esa karena berkatnya aku bisa mengakhiri cerita ini dengan baik. Khusus juga buat para readers setia yang selalu menunggu ni ff buat comeback meski  dengan waktu yang lama. Aku sayang banget sama kalian karena kalian itu sesuatu buat aku ❤ THANKYOU BUAT KALIAN GUYS ><.

Thankyou juga buat mama yang udah tiap hari ngasih masukkan sama aku plus ngebuatin segelas susu tiap malam buat aku. Mama juga sempat panik karena tanggal 28 Oktober jam 11:15  malam (beda tipis sama judul lagu barunya Taeyon :”) aku mimisan. (pfffttttt.. ini udah siap semenjak akhir Oktober kemarin tapi .. pfftttt) Iya, aku akui bahwa ide cerita ini bermula waktu aku lagi mimisan. Dan mimisan itu udah enggak asing bagi aku karena tiap bulannya pasti mimisan -,-. /okecurhat/

Jadi aku takut ntar aku malah jadi curhat dan aku yakin kalian gak bakalan baca bagian curhatnya /plak/ so, aku pamit aja deh. Sekali lagi Thankyou buat semuanya. Buat yang udah ninggalin komen dari chapter pertama sampe terakhir makasih banget >< buat yang singgah aja juga makasih. MAKASIH, MAKASIH, MAKASIH karena ff gaje ini sempat masuk di bagian most visited ><  Meski akhinya gaje begini, tapi aku yakin kalian semua itu pada baik dan gak bakalan demo massa ke rumah aku ya ‘kan?

Jadi, sampai bertemu di ONE IN MILLIONS karena aku juga mengharapkan kehadiran kalian disanaaaaa!

Sampai jumpa!! ❤

My love is on fireee~

p.s: ada adegan yang aku ambil dari manga lo~ tebak deh yang mana :V

Iklan

52 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Romance Phobia (Last Chapter)

  1. Wahh akhirnya chapter 10 keluar! Aku suka banget sama ff Ini, salah satu ff favoritku.. aku suka ending Nya, nayeon dan baekhyun lucu 😂 Semoga langgeng hahaha! Terima kasih ya authorrr 😘😘😘

  2. huwaaa beneran udah ending);
    satu kata buat ff ini DAEBAK
    endingnya memuaskan ko
    yeay baekhyun sama nayeon balikan horeee/ tebar bunga

    tadinya aku sampe nangis loh pas baca bagian jaehyun meninggal hiks hiks
    ehh langsung dibikin senyum sama author pasa baca bagian baekhyun sama nayeon balikan(:
    mereka ko bisa manis gitu sih, ahh authornya ngasih gula kebanyakan nih(:

    momo sama teayong gimana yaa, chanyeol sama yoona banyak2 sabar aja deh hehe

    fighting kak
    keep writing :v
    di tunggu karyakarya baru nya

    • Iya, ini udah ending :” endingnya gaje kuadrat kan?
      Makasih sayang, kalo ini memuaskan 😍

      Kasihan Jaehyun ‘kan:” Iya dong mereka balikan, kan hepi ending 🙌 bukan mereka yang manis tapi aku 😆 /uhuk/

      Banyak sabar udah tahun 2017, hehe 🙆

      Makasih ya dear, aku tunggu juga kehadiran kamu di one in millions, hehe promosi 😂

  3. WAAAAAAAW WAW WAW WAW
    NONGOL NONGOL UDAH END NTAP, ENDINGNYA NGANU/? TAPI ENAK/?
    DAN ITU SI TAEYONG UDAH DITAMPAR NAYEON TRS DITONJOK BAEKHYUN, DITOLAK PULA MIRIS BANGET HIDUPMU NAK KU TERNGAKAK DI PART ITU. MAKANYA JADI ORANG JANGAN JAHAT JAHAT

    JULIET TOBAT NIE, makanya jan salah paham dulu wey. Jaehyun kok manis(?) Sih, kamu terlalu baik mas, makanya dipanggilnya cepet. Itu si Jaehyun niatnya bunuh diri tapi malah kepleset matinya gk elit nih :v, sebenernya mau ketawa tapi kasian 😂
    CIE YANG BAIKAN, ITU BAEKHYUN KOK MALU MALUIN BANGET SIH, UNTUNG GANTENG KAMU MAS 😥😥
    Taeyong sama Juliet aja sana sama” mantan pendosa 😂😂
    Kalo Momo mungkin blm saatnya ☺

    DITUNGGU FF LAINNYA QAQA/? 😘😘

    • Nganu, enak?:v mbak baru pulang dari planet mars ya?:v kata-katanya agak nganu nih😂😂😂

      Taeyong be like “kalian semua suci aku penuh dosa” 😂😂 silahkan tertawa di penderitaan orang lain, buakakak 😂😂 aku mah ngakak pisan membaca komen kamu mbak 😂😂😂 wkkw 😂😂

      Juliet tobat, akhir zaman telah dekat/?:v
      Jaehyun matinya gak elit? Suer deh kamu cocok jadi pelawak mbak 😂😂😂😂😂 /canda-canda/

      Orang tampan mah bebas 😋, ntar kalo Juliet sama Taeyong duo nyanyi lagu bad gimana nyok? Gak takut?:v

      Momo nistaaa 🔫😁😁

      Thankyouuu ya💙 kutunggu juga loh kehadirannya di ff yang chapter satunya otw coming, karena prolognya yang baru nongol, wkwk 😂😂

      Once again, thank youu 😍

  4. WAH WAH WAH!! *GULING GULING*
    WAH WAH WAH!! *GULING LAGI*

    lama tak jumpa, pasti dah lupa sm aku ya (?) kan ya .. tapi serius, ku, rindu padamu kak,serius,duarius kalo perlu XD

    AHHHH.. MASA DAH FIN .. MASA KU SEDIH … MASA.. MASA.. MASA.. KU HARUS BAGAIMANA INI (?) KALO KU KANGEN BAEK-NA GIMANA (?) TANGGUNG JAWAB LHO KAK XD

    canda kok canda wkwk

    oiya,itu jadwal mimisannya semoga berkurang ya,kalo perlu minta di cium byunbaek juga biar beneran sembuh 😂🔫

    sekian dariku,reader tercintamu, dengan kecup basah penuh cinta untukmu 💋💋

  5. Shiraaaaaaa…..😍😍
    Congrats! Ciehh, yg epepnya udah end..😎🎉
    Wkwk, akhirnya setelah sekian lama ini epep end juga setelah menjamur yekan (*meski ane tau endingnya sejak lama dikarenakan eki yg nista ini adalah pembaca beta/plakk/😂)
    Neng, ane rindu nih, wkwk. Meet up yak ntaran pas ane pulang, huhu. Ntar ane kemek” dah dengan uang tipis di kantong sesuai janji. Moga kita gak berakhir dengan nyuci piring/plakk/😂
    Opps, ini udah end berarti sekuelnya udah siaplah yaw, huhu.(*ditabok garem gegara Kasih spoiler /plakk/😂)
    Mangats juga one in millionnya, dan epep debut ente (re:paper hearts) mohon di end juga, kesian si sehun masih patah hati ama tiffany/plakk/ ini ngawur udah.😂
    Ditunggu karya” ente selanjutnya, dan jasa pembaca beta dan poster abal” masih open always kok sama sampeyan, Wkwk.😂
    Betwe shira sepertinya kita perlu mengeksekusi soy secepat mungkin, berhubung ntar libur dan lepi kita masing” dalam keadaan sehat, sebelum kita dibombardir readers soy. Mana janji entw nge revisi ulang chapter 7 kasar yg ane kirim eh?/plakk/😂😂
    Cintakuh padamuh..❤❤😘

  6. Kamvretooooooos!!!! Dakuh ngakak so hard bacanya!!!!
    Eh, btw, ini shira temennya eki kan? *sksd/kemudian di tabok/ lalu mimisan?
    Pft, aku mau ngakuin sesuatu untuk anda. Sebenernya ane baca ini fic hanya beberapa dan langsung ke bagian terakhir, agak mudeg mudeg gimana gitu. Dan juga komennya cuma di beberapa chap doang*gomenasai/alajepang
    Gak bisa bayangin si baek ninju si taeyeong yang tingginya di atas rata-rata, itu gimana nonjoknya?*maaf baek :v
    Dan…. di akhir cerita pun ane lagi lagi ngakak… good job!!!
    Astogeh najong, ternyata kamu dapet inspirasi dari true story?
    Gak apa apa endingnya gak ngeh, yang penting lawak :v
    Gws ya supaya gak mimisan lagi^^
    Keep writing and fighting!!

    • Wkwkwk, aku yang ngetik aja ngakak loh, wkwk 😂😂
      Iya temenan, tapi ldr-an, hikss 😢 kamu gak sksd kok, lah kita semua kan memang dekat:v we are one! /Ekhm/ hehe gwenchanlah:v yang penting singgah ‘kan?v: Aku aja gak ngerti sama ff ku sendiri :” hahaha 😁😁😁
      Iya, mimisan mah tiap bulan 😂 gak usah diheranin tapi jadi sumber inspirasi 😂😂
      Thankyouuu banget yaaa 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s