[EXOFFI FACEBOOK] Moonlight (Chapter 4)

Title : Moonlight

Author : loudia3424

Cast : Park Chanyeol, Im Nayeon, Kim Jongin

OC : Tiffany Hwang & Member EXO, others.

Genre : General

Annyeonghaseyo *bow* , author bawa fanfic absurb lagi nih hahahaa.. Author masih setia sama PCY jadi ya cast nya dia lagi dia lagi *plis jangan bosen ya* hehe.. Author nulis fanfic ini terinspirasi dari salah satu web drama dan author bikin versi EXO nya, jadi kalo pas kalian baca agak mirip jangan bully author >,<

Oiya, author juga masih baru dalam menulis fanfic, so mian kalo kata-katanya kurang dapet feelnya or banyak typo ^o^)v

Happy Reading!

-chapter 4-

oOoOOoOo

 

Entah kau menyukai seseorang atau tidak. Itu saja. Mungkin itulah kalimat yang selalu ia pikirkan berulang-ulang kali. Untuk kesekian kalinya ia menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Nayeon menunggu Kim Jongin karena mereka akan segera menemui Xiumin PD-nim untuk proyek besar mereka. Xiumin PD-nim adalah produser yang profesional dan sangat berpengalaman. Itulah alasan mereka untuk mengajak Xiumin PD-nim agar bergabung dengan tim mereka.

Ini adalah pertarungan antara Tim A dan Tim B. Akan hanya ada satu tim yang akan menyelesaikan proyek ini. Ketua Direksi Kim Junmyeon memang ingin menguji kedua tim tersebut agar proyek-proyek iklan lainnya dapat dibagi sesuai dengan kemampuan masing-masing tim. Terlebih lagi Tim B memiliki ketua tim yang tak kalah baik dengan ketua Tim A.

 

“Park Chanyeol Timjangnim adalah orang yang….tidak terlalu fleksibel. Dia justru jarang sekali mendengar nasehat orang lain, bukan begitu?” Nayeon ketawa canggung saat Xiumin PD berkata demikian. Memang ada benarnya, namun akhir-akhir ini Nayeon melihat hal yang berbeda dari ketua Tim A tersebut. “Orang tersebut benar-benar tidak berperasaan. Dia hanya mau melakukan segalanya dengan caranya sendiri.” Lanjut Xiumin PD.

 

Kim Jongin tersenyum sambil mengangguk pelan menanggapi pernyatan Xiumin PD tersebut. “Itu benar. Saya pikir kita memiliki pandangan filosofi yang sama tentang sebuah iklan.” Ucap Kim Jongin yang mendapat tepuk tangan dari Xiumin PD.

 

“Itu benar! Sebuah filosofi.” Jawab Xiumin PD sambil meraih tangan Kim Jongin dengan semangat. Yap, tim B berhasil mendapatkan seorang Xiumin PD yang hebat dan dipastikan bergabung dengan tim B.

 

Suasana di dalam lift begitu canggung, hanya ada mereka berdua. Nayeon menekan tombol 1. Namun Jongin membatalkannya dan kemudian menekan tombol B1. “Mobilku ada diparkiran.” Ucapnya. “Aku naik bus saja.” Balas Nayeon singkat sambil kembali menekan tombol 1 dengan kasar.

 

“Hentikan omong kosongmu.” Ucap Jongin yang kembali menekan tombol B1.

 

“Apa itu perintah? Kalau itu perintah Timjangnim agar pekerjaanku lebih baik….maka aku tak punya pilihan.” Jongin menatap tajam Nayeon dan kemudian memukul tombol emergency dengan sekali pukulan keras sehingga lift berhenti ditengah jalan. Jongin rasanya sudah muak dengan keadaan antara dirinya dan Nayeon yang menjadi orang asing satu sama lain.

 

“Kau sudah gila?!!” Bentak Nayeon.

 

“Ya. Aku memang sudah gila. Aku gila gara-gara kau. Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?” Kim Jongin menatap Nayeon dengan meninggikan suaranya.

 

“Memangnya aku kenapa? Aku tidak nyaman satu mobil denganmu, jadi aku lebih baik naik bus saja. Terus kenapa?”

 

“Kenapa kau membuat… Kenapa kau membuat semuanya menjadi tidak nyaman?” Jongin yang kali ini merendahkan suaranya sembari menatap dalam mata Nayeon.

 

“Kalau tidak terjadi apa-apa, kenapa kau… kenapa kau putuskan? Tidak ada yang berubah. Saat kita putus, kau tidak memberiku alasan apapun. Aku tidak mengerti kenapa kau ingin putus?” Suara Nayeon semakin parau dan seperti adanya menyesakkan tenggorokannya. “Itu kenapa aku merasa tidak nyaman denganmu!!” Lanjutnya dengan nada yang lebih tinggi dari ucapan Kim Jongin tadi.

 

“Dan juga, bagaimana bisa aku melawan rekan kerjaku sendiri? Walaupun kita bersaing, keberhasilan kita ini bukan hal yang luar biasa bagiku.”

 

“Kau berpihak pada siapa? Jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan kerjaan, bisa?”

 

“Ah, jadi kau bisa membedakan masalah pribadi dan kerjaan? Kau sungguh hebat, Kim Jongin Timjangnim. Kau pasti sangat bangga.” Nayeon menghela napasnya perlahan dan menekan kembali tombol lift agar turun ke lantai 1. Jongin yang masih menatap Nayeon seolah kehabisan kata-kata dengan perdebatan mereka ini. Sungguh, gadis itu sangat keras kepala.

 

“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar kau tenang?” Ucap Jongin cukup lirih.

 

“Kau seharusnya tak pernah datang kesini.” Nayeon melangkahkan kakinya keluar saat pintu lift terbuka. Nayeon meninggalkan Jongin yang masih berdiri disana.

 

“Sebegitunya kau membenciku?” Jongin berlari berusaha meraih tangan Nayeon sebelum ia benar-benar menjauh.“Benci.” Nayeon menepis kasar tangan Jongin dan kemudian pergi.

 

****

 

“Sunbae, kau sedang apa?” Baekhyun yang tiba-tiba muncul membuat Nayeon terkejut dan menjatuhkan beberapa berkas dari tangannya. Baekhyun hendak membantu mengambilkan kertas-kertas tersebut, namun di tepis oleh Nayeon.

 

“Apa kau lupa kalau kita sedang bersaing? Jangan menyentuh kertas-kertasku. Aku tidak ingin informasi tim-ku bocor karenamu. Pergi sana.” Ucap Nayeon sambil mulai mengumpulkan kertas-kertasnya.

 

“Sunbae, itu hanya urusan pekerjaan. Lagipula kau akan tetap mendapat gaji yang sama apapun yang terjadi. Kau melukai perasaanku, Sunbae. Bahkan kita makan sup kimchi bersama.” Rengek Baekhyun. Nayeon berdiri setelah semua kertasnya beres.

 

“Kau menyukaiku?”

 

Baekhyun tersenyum lebar sehingga matanya terlihat begitu sipit. “Kau sudah tahu itu, Sunbae. Kenapa kau tanyakan lagi?”

 

“Tapi aku tidak. Kau hanya hoobae-ku. Kau begitu imut dan juga ramah. Tapi bagiku kau tidak menarik. Jadi hentikanlah.” Baekhyun menghela napasnya dan berjalan mendekati Nayeon. Menatap matanya dengan tatapan serius. “Aku akan membuatmu tertarik, Sunbae.” Nayeon terkekeh tidak percaya. Hoobae-nya ternyata memiliki rasa pantang menyerah.

 

Ditengah obrolan mereka, dari sisi yang berlawanan masing-masing ketua tim menatap mereka curiga. Kedekatan anggota tim itu sangat berbahaya. Sangat rawan bocornya informasi dan strategi masing-masing tim. Dengan kecepatan yang sama Park Chanyeol dan Kim Jongin menarik kedua orang itu agar menjauh satu sama lain.

 

Namun, apa hasilnya? Park Chanyeol justru menarik tangan Nayeon sedangkan Kim Jongin menarik keras baju Baekhyun. Untuk beberapa detik, mereka saling memandang. “Sana.” Jongin menepuk punggung Baekhyun agar pergi ke sisi Chanyeol. Begitu juga dengan Chanyeol melepaskan genggaman tangan Nayeon.

 

“Apa yang kalian lakukan disini?” Ketua Direksi Junmyeon berjalan mendekat melihat kedua tim ini yang saling berhadapan. Ketua Direksi Junmyeon khawatir kalau-kalau gedung perusahaannya akan runtuh akibat persaingan kedua tim tersebut. Tanpa sepatah katapun, kedua tim tersebut membungkukkan badannya pada Ketua Junmyeon dan kemudian pergi diikuti oleh Nayeon dan Baekhyun di belakang mereka.

 

****

 

Saat jam istirahat, Nayeon pergunakan untuk mencari makanan diluar. Ia merasa sangat sesak berada di dalam kantor akhir-akhir ini. Dimana permasalahannya dengan Kim Jongin dan juga persaingan antar tim yang sangat mengekangnnya. Terlebih lagi Tiffany berada di tim A dan ia di tim B. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar sendiri dengan naik bus.

 

Entah karena lelah dan tidak berkonsentrasi, Nayeon baru tersadar kalau ia naik bus yang salah. Bus berhenti disebuah halte dekat rest area di pinggiran kota Seoul. Ia turun dengan wajah kebingungan. Walau demikian menyelamatkan perutnya yang sudah kelaparan sedari tadi adalah tindakan yang harus diutamakan saat ini. Masalah kembali ke Seoul, mari kita pikirkan nanti.

 

Setelah menghabiskan makanannya, ia pergi menuju kasir. “Apa ada bus menuju Seoul jam segini?” Nayeon bertanya pada salah satu karyawan rumah makan tersebut sembari menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannnya tadi. Pelayan tersebut mengatakan bahwa bus menuju Seoul berangkat nanti malam sekitar pukul 9.

 

Bolehkah? Aku menangis? Gumam Nayeon menundukkan kepalanya. Ia melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Itu berarti ia sudah terlambat kembali ke kantor sekitar satu jam yang lalu. Nayeon duduk bangku dekat pohon rindang sembari menatap parkiran halte untuk menunggu bus yang akan berangkat ke Seoul.

 

Hampir dua jam ia masih duduk di bangku itu dengan perasaan yang bosan, takut dan juga khawatir. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

 

“Kenapa kau belum kembali ke kantor?” Suara berat yang khas terdengar dari ujung sambungan telepon.

 

“Kenapa? Apa anda ada urusan dengan saya, Park Timjangnim? Saya sekarang di tim B” Balas Nayeon menegakkan badannya.

 

“Apa?”

 

“Anda bilang, anda bukan Timjangnim saya lagi. Jadi anda tidak punya hak menyuruh saya lagi. Kenapa anda terus saja mengkritik saya terkait hal-hal kecil? Kita sedang berkompetisi, tidak seharusnya anda menelpon saya secara pribadi seperti ini! Anda tahu kalau teman saya semua di tim A!” Ucap Nayeon. Ia benar-benar merasa tidak memiliki teman terlebih lagi masalahnya dengan Jongin. Akhirnya ia benar-benar menangis sekarang.

 

“Kau sudah gila ya?”

 

“Benar. Saya sudah gila! Park Timjangnim adalah manusia yang tidak berperasaan, kejam dan mengerikan!” Bentak Nayeon ditengah-tengah ia menangis. Ucapannya diselingi sesenggukkan karena tangisannya.

 

Chanyeol tahu ini bukanlah Nayeon yang normal. Nayeon pasti sedang mengalami hal yang sulit karena keadaan ini. Sejujurnya Chanyeol ingin mengomelinya karena ia meninggalkan pekerjaannya disaat jam kerja. Namun, setelah mendengar ucapan Nayeon barusan, ia terdiam.

 

Nayeon masih menangis dan semakin keras. Ia masih menempelkan ponselnya ditelinga, Chanyeol tentu dengan jelas mendengar isakan tangis gadis itu dari seberang telepon walau ruang kerja cukup riuh.

 

“Jujur saja, siapa yang tahan dengan sifat anda itu, Park Timjangnim? Hanya saya yang tahan.” Lanjut Nayeon. Chanyeol masih terdiam mendengar ocehan Nayeon yang diselingi isakannya. Lima detik, sepuluh detik, Chanyeol masih diam. Nayeon tersadar apa yang barusan ia katakan. Kata-kata yang seharusnya ia pikirkan dahulu selama tiga detik sebelum mengucapkannya.

 

“Kau dimana?” Ucap Chanyeol. Nayeon mengusap airmatanya kasar. Apa ini? Ah, aku ingin meminta maaf tapi…. sepertinya tidak sekarang, batin Nayeon.

 

“Katakan. Kau dimana?”

 

“Kau tidak mau mengatakannya?” Lanjut Chanyeol. Nayeon menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tersesat entah dimana dan tidak bisa kembali ke Seoul. Dan juga, ia sangat kedinginan.

 

“Kali ini lupakan saja hal itu. Katakan padaku, kau dimana?” Suara Chanyeol begitu terdengar serius kali ini. Nayeon melihat sekeliling tempatnya saat ini.

 

“Di rest area. Sepertinya ini di Jukjeon.” Ucap Nayeon lirih. Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinganya. Menatap sekeliling ruang kerja, terutama orang-orang dari tim B yang tengah diskusi.

 

“Park Timjangnim? Halo?”

 

“Tetap disana.” Chanyeol langsung mematikan sambungan teleponnya dan meraih kasar jaket yang berada di kursi belakangnya. Dengan wajah serius ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja tersebut. Kim Jongin yang melihat Chanyeol pergi dengan terburu-buru memperhatikannya hingga ia lenyap dari ujung lorong. Pandangannya beralih ke meja kerja Nayeon yang tampak kosong dan menatap jam di tangan kirinya.

 

Kembali ke Nayeon, ia yang masih duduk menunggu sambil memeluk tasnya agar lebih hangat. Pikirannya tertuju ke satu orang, Park Chanyeol. Apa benar dia akan menjemputnya? Saat Nayeon sakit saja, ia tega menurunkannya di pinggir jalan.

 

“Saat dia menyuruhku tetap disini, apa dia akan menjemputku? Atau dia menyuruhku tetap disini sampai mati? Aku mulai bingung. Atau dia marah dan dia kemari menjemputku? Yang mana?” Batin Nayeon. Ia terus saja menatap jalan raya dihadapannya seolah menunggu seseorang, padahal ia tidak tahu benar apa maksud Park Chanyeol.

 

Setelah menunggu, sebuah mobil hitam menyinari wajah. Ia berdiri dan menunggu seseorang yang akan keluar dari mobil tersebut. Benar, namja yang keluar dari mobil tersebut adalah Park Chanyeol. Ia melangkahkan kakinya mendekati Nayeon yang masih berdiri didekat bangkunya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.

 

****

 

Nayeon terus saja menatap ke depan saat ia duduk disamping Chanyeol yang sibuk menyetir. Sesekali Chanyeol melirik ke arah Nayeon yang terlihat menahan kantuk di matanya. Beberapa kali Nayeon mengedip-ngedipkan matanya agar terbuka. Chanyeol hanya tersenyum melihatnya dan menurunkan kecepatan mobilnya agar guncangannya tidak begitu terasa.

 

FLASH BACK ON

 

=Maret, 2012=

 

“Annyeonghaseyo, Tiffany Hwang imnida.” Beberapa karyawan senior bertepuk tangan menyambut karyawan baru di tahun ini.

 

“Annyeonghaseyo, Im Nayeon imnida. Saya akan berusaha keras dan akan mematuhi perintah kalian, fighting!” Karyawan senior termasuk Park Chanyeol bertepuk tangan dan tersenyum saat melihat Nayeon.

 

“Oh, ini bagaimana? Aku tidak tahu.” Nayeon menatap beberapa proposal pengajuan iklan. Ia hendak bertanya kepada Tiffany yang berada di sampingnya, namun Tiffany sedang menelpon klien dan tampak sibuk. Nayeon mengurungkan niatnya untuk bertanya.

 

Chanyeol berjalan mendekati Nayeon. Ia menunjuk salah satu proposal dengan pulpennya dan segera berjalan meninggalkannya. Nayeon bangkit dari kursinya dan mengucapkan terimakasih dengan suara yang keras karena Chanyeol sudah agak jauh darinya. Chanyeol menahan tawanya saat mendengar suara Nayeon.

 

=Agustus, 2012=

 

“Wuah, apa yang ia katakan padamu? Cincinnya begitu bagus.” Tanya Tiffany yang terus memperhatikan jari manis Nayeon.

 

Nayeon terkekeh. “ Ia mengatakan kalau ia menyukaiku dan memberikan ini.” Mereka berdua mengobrol begitu senang di meja kerja. Chanyeol yang melewati mereka hendak menuju meja kerjanya, melambatkan langkahnya dan melirik arah jari manis Nayeon. Chanyeol memalingkan pandangannya dengan wajahnya yang tanpa ekspresi itu dan duduk di kursinya. Ia mengepalkan tangannya.

 

Chanyeol berdiri dan membanting berkas di mejanya yang membuat karyawan diruang tersebut seketika menoleh kearah Chanyeol dan terdiam kaku.

 

“Nayeon, berkas proposal yang kemarin sudah kau analisis semua? Karyawan macam apa kau yang membuat storyboard dengan kalimat seperti ini?” Tanyanya dingin. Nayeon segera bangkit dari kursinya dan berdiri di hadapan Chanyeol.

 

“Hah???!!!” Chanyeol membentak Nayeon karena ia diam saja. Karyawan lain tak ada yang berani bergerak. Bahkan untuk bernafas pun mereka sangat berhati-hati. Nayeon mendongakkan kepalanya perlahan dan menatap Chanyeol dengan wajah yang takut.

 

“Apa kau lihat-lihat? Menunduk.” Lanjutnya. Ia menyobek dan meremas selembar kertas melemparkannya kelantai. Nayeon semakin menundukkan kepalanya. Chanyeol menatap karyawan lain, dan seketika mereka kembali ke posisi semula dan membalikkan badannya. Chanyeol kembali menatap Nayeon yang masih tertunduk sambil tersenyum puas karena merasa sudah balas dendam. Ah kertas yang ia buang tadi, itu hanya kertas kosong biasa. Chanyeol hanya ingin mengerjai Nayeon agar ia kira itu adalah berkas yang ia buat kemarin.

 

FLASH BACK OFF

 

Nayeon membuka matanya. Ia segera menegapkan badannya karena kursinya menjadi lurus kebelakang. Ia tertidur, didalam mobil Chanyeol. Namun ia merasakan kalau mobil itu terhenti dan… ia melihat Chanyeol juga tidur di kursinya. Bahkan ia meluruskan kursinya agar bisa lebih nyaman tidur.

 

“Kau sudah bangun?” tanya Chanyeol masih dalam posisi tidur memejamkan matanya.

 

“Kapan saya tidur?” Nayeon mencoba mengalihkan. Chanyeol menarik bahu Nayeon agar membaringkan badannya kembali.

 

“Harusnya kau tanya sudah berapa lama aku tidur?”

 

“Be..berapa lama saya tidur?”

 

“Satu setengah jam. Aku merasa sedang memberi tumpangan pada mayat hidup.” Nayeon melirik kearah Chanyeol yang lagi-lagi membuatnya merasa selalu bersalah.

 

“Karena proyek iklan besar itu, aku belum tidur. Berkatmu, aku bisa tidur sebentar.” Lanjutnya.

 

“Oh, benar.” Nayeon menyadari kalau saat ini tengah bersama ketua tim A. Mereka tengah bersaing bukan? Dengan cepat Nayeon membelakangi Chanyeol. Chanyeol melihatnya dengan wajah bingung.

 

“Kita seharusnya tidak berbicara seperti ini.” Lanjutnya. Namun hal itu justru membuat Chanyeol dengan leluasa menatap Nayeon walau hanya rambut dan punggungnya saja. Setidaknya ia tidak harus diam-diam melirik ke arah gadis itu.

 

“Selama kau tutup mulut. Tidak akan ada yang tahu.” Chanyeol masih menatap Nayeon sambil terus tersenyum. Tiba-tiba Nayeon membalikkan badannya menatap Chanyeol.

 

DEG!

 

Dengan cepat Nayeon mengalihkan wajahnya dan mendudukkan tubuhnya. “Yang pasti… terimakasih sudah mengantarkan saya pulang.” ucap Nayeon sedikit menjadi gagap. Chanyeol hanya diam dan kembali menarik bahu Nayeon agar berbaring.

 

“Masih hujan.”

 

“Kau kemana, saat Ketua Direksi mengundang kita semua makan malam?” Lanjut Chanyeol. Namun Nayeon hanya diam saja. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia memiliki hubungan yang buruk dengan Kim Jongin kan? Yang mengetahui kalau Jongin adalah mantan kekasihnya hanyalah Tiffany.

 

“Baiklah, kalau tidak ingin menjawab. Kau…. kenapa kau menangis? Tadi..” Tanya Chanyeol lagi.

 

“Itu… tidak bisa saya katakan juga.”

 

“Kenapa?”

 

“Itu urusan pribadi. Timjang.. Timjangnim-”

 

“Kau memanggilku ahjussi.” Chanyeol melirik ke arah Nayeon. Lihat, wajah Chanyeol justru kali ini lebih mirip seperti anak kecil. “Anggap saja aku seperti ahjussi, jadi kau bisa katakan hal itu padaku.” Nayeon masih terlihat berpikir. Ia benar-benar tidak ingin hal ini menyebar dan semakin rumit.

 

Chanyeol memiringkan badannya kearah Nayeon. “Kalau begitu… katakan padaku. Anggap aku sebagai oppa.”

 

Sontak Nayeon terduduk dan menatap Chanyeol dengan ekspresi kaget. Bahkan ia berpegangan pada sabuk pengaman yang masih ia gunakan.

 

“Apa?!?” Nayeon memeluk erat sabuk pengamannya. Chanyeol mengusap kasar wajahnya dan ikut bangkit dari tidurnya. Nayeon tertawa melihat Chanyeol yang sepertinya ingin membuatnya nyaman namun gagal. Cara itu terlalu menakutkan.

 

“Yak!! Kau pikir aku suka mengatakannya?! Oppa?? Aku sungguh tidak suka.” Chanyeol mencoba menjaga imej-nya dengan berkacak pinggang.

“Saya pikir Timjangnim suka. Sepertinya Park Timjang maniak dipanggil seperti itu” Ucap Nayeon sambil menahan tawanya.

 

“Tidak!!!” Nayeon kembali tertawa yang justru membuat Chanyeol kesal.

 

“Sudahlah. Keluar sana. Pulang.” Ucap Chanyeol kemudian membuka pintu mobilnya dan mengambil payung di bagasi belakang. Ia membuka pintu mobil di sisi Nayeon. Ia membungkukkan badannya dan melepaskan sabuk pengaman Nayeon.

 

Park Chanyeol pasti sudah sinting-batin Nayeon yang masih melongo apa yang dilakukan Chanyeol barusan. Wajah mereka begitu dekat. Nayeon masih kaku karena Chanyeol menoleh kearahnya saat ini.

 

“Apa kau lihat-lihat? Menunduk.” Kemudian Chanyeol berdiri dan diikuti Nayeon yang keluar dari mobil. Chanyeol memayungi Nayeon hingga teras apartemennya.

 

Begitu sampai di teras apartemennya, Nayeon melihat bahwa sebagian bahu Chanyeol basah terkena hujan.

 

“Park Timjangnim….” Nayeon menunjuk bahu kirinya. Chanyeol hanya melihatnya sekilas dan menatap Nayeon yang terlihat sedih seperti itu akibat ulahnya.

 

Chanyeol mendekati Nayeon dan memegang kedua pipi gadis tersebut.

 

“Kenapa sangat sulit menatapmu langsung seperti ini…”

 

-TBC-

 

Adakah yang ikutan kesal sama Park Chanyeol disini? Atau malah sama Kim Jongin? Hahaha…. Tolong beri komentar ya temansss.. Kamsahamnida^^

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s