Xing Boarden [Chapter 7] – morschek96

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-17

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

PRE : [prolog][1][2][3][4][5][6][password]

Credit BabyChanie @ArtZone 

“I feel something is rising, it’s uncontrollable.“

***

Junghwa berdiri di dekat jendela sambil mengeringkan rambut dengan sebuah handuk tebal, ia melihat awan buram berarak di atas pegunungan. Meski malam setenang kematian, pagi ini salju kembali datang dengan serangan dahsyat. Pegunungan itu tidak mungkin dilewati. Setidaknya untuk hari ini, mereka akan terjebak disini tanpa dukungan dari penegak hukum.

Terjebak dengan seorang pembunuh yang bebas berkeliaran. Deru angin sama menakutkannya seperti tawa setan.

Setelah mengalami mimpi buruk, Junghwa tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya dipenuhi bayangan kematian. Mimpi tentang ayahnya terbaring dalam genangan darah.

Sementara ketakutannya bahwa seseorang masuk ke dalam kamarnya atau berkeliaran di koridor. Sepertinya imajinasi mengerikan yang nyata terus menerus terbayang.

Bahkan Luhan.

Mulai sekarang Junghwa harus menganggap Luhan sebagai sekutu daripada musuh. Kisah sedih diantara mereka sudah lama berakhir, mereka berdua harus menghadapi masalah ini sekarang bersama.

Mengganti pakaiannya dengan yang lebih resmi, Junghwa hendak pergi ke cafetaria untuk mendapatkan sarapan.

..

..

..

Sedangkan disisi lain, Minji menatap tajam langsung ke arah Junghwa, yang mana melakukan langkah yang tidak cukup cerdas. Bagaimana bisa ketika ia bekerja disini, ia juga harus mencoba untuk mengeluarkan Minji. Minji menggingit chicken nugget sekali lagi, lalu minum segelas air putih.

Saat murid-murid berbaris untuk meletakkan piring kotor, Kepsek Son Kwanghee berdiri di podium dan memberi ceramah tentang kerumahtanggaan, menjabarkan tugas-tugas per kelas. Lalu dengan mengejutkan, ia memanggil Minji, Adachi Mei, dan seorang anak TA bernama Lay. Meminta mereka untuk saling menjabat tangan untuk ‘memecahkan tembok kesalahpahaman’ yang membuat mereka bertengkar beberapa hari lalu.

Junghwa yang melihat kejadian itu hanya pura-pura tidak terlalu peduli, ia tak ingin membuka penyamarannya. Meski dalam jarak yang tidak jauh, Junghwa tidak dapat mendengar apa yang diucapkan Minji, Mei, dan Lay diantara mereka. Namun melihat bagaimana rahang Minji mengeras bukanlah tanda yang baik menyangkut maaf-memaafkan.

.

.

***

Pasti ada undang-undang menyangkut perlakuan tidak manusiawi seperti ini, pikir Minji. Tidakkah menyekop kotoran kuda termasuk kategori hukuman kejam dan tidak normal? Pasti ada UU tentang tenaga kerja anak dibawah umur di dalam buku-buku tertentu.

Berdiri di dalam kandang kuda berwarna cokelat terang, meletakkan setumpuk jerami baru di ujung ruangan. Meski cuaca sangat dingin, Minji mulai berkeringat. Membersihkan istal bersama Mei dan Lay adalah yang terburuk.

Ia berharap Junghwa punya sebuah rencana untuk mengeluarkannya dari sini. Tapi sepertinya rencana yang lemah. Bergabung sebagai staf pengajar dan bertanya kesana kemari, juga meminta Minji untuk ‘bersabar’. Jujur saja, Junghwa bukan orang yang ahli dalam bidang seperti ini.

Setelah selesai, mereka bergerak menuju lapangan untuk menyekop salju. Hukuman ini sangat keterlaluan, pikir Minji. Sekolah ini memiliki mesin pengeruk salju, tapi malah menggunakan tenaga manual mereka bertiga.

Meskipun Minji memakai sarung tangan, ia masih merasakan panas karena gesekan berkali-kali dengan sekop sialan ini. Apalagi dengan si petugas kedisiplinan Kris saem yang terlihat beberapa kali lewat, mengawasi mereka, Minji tidak berani mengeluh.

“Ini sangat tidak adil!” Mei mengumpat pelan.

“Aku tahu.” Bisik Minji.

“Oh diamlah kalian berdua, sialan! Ini bisa jadi lebih buruk.” Lay melemparkan sebongkah salju ke belakang tubuhnya. Berdiri tegak, keringat membasahi wajahnya.

“Apa ada masalah disini?” suara derap kaki mendekat, disusul dengan sosoknya yang tinggi. Kris berdiri di belakang mereka, salju menutupi bagian bahu jaketnya.

“Aku baik-baik saja,” kata Lay, ia menyekop salju dengan semangat. “Hanya gadis-gadis itu, mereka tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan berat.” Meletakkan bongkahan salju kedalam gerobak kecil, Lay berjalan ke tepi lapangan untuk meletakkannya. Disusul dengan Kris saem yang meninggalkan tempat tersebut setelah dirasa memang tak ada masalah.

“Dia memang menyebalkan. Begitulah anak TA, mereka semua besar kepala.” Mei melempar tatapan mencemoh pada Lay yang kini menyekop salju di sisi lain lapangan, tak ingin berdekatan dengan mereka. “Mengira mereka pantas diperlakukan berbeda. Dan— mereka cukup aneh, kau tahu. Seolah mereka adalah bagian dari sebuah klub rahasia atau sesuatu lain.”

“Itu bukan rahasia kalau kau saja mengetahuinya.” Ujar Minji sedikit mengingat perkataan Yuju beberapa waktu lalu, sebelum ia meninggal.

“Maksudku bukan hanya jadi seorang TA. Kurasa sesuatu yang lain, sesuatu yang— lebih besar. Tapi, tidak semua anak TA mencurigakan sih.” Adachi Mei mengerutkan dahi, matanya menyipit. Ia tidak main-main dengan perkataannya. “Kau tahu kasus Jung Eunji? Gadis yang menghilang sebelum hari Chuseok, dia pernah mengatakan ada sesuatu yang terjadi, seperti sebuah kelompok pemujaan atau sesuatu klub yang lain.”

“Sebuah kelompok pemujaan para anak TA?” Minji nyaris tertawa.

“Hei aku serius, karena itu dia menghilang.” Kata Mei, ia bertumpu pada sekopnya. “Mungkin karena ia tahu terlalu banyak.”

“Jadi— mereka adalah kelompok pemujaan yang berbahaya?”

Mei menyeka keringat pada keningnya, ia mulai menyekop lagi, “Aku tahu kedengarannya gila, tapi bukan berarti tidak mungkin. Maksudku, apa yang menurutmu sebenarnya terjadi pada Yuju dan Xiumin sunbae?”

“Aku tidak tahu, tapi aku kira bukan anak TA yang menyerang mereka. Kau tahu, Xiumin sunbae juga bagian dari anak-anak TA gila itu.”

“Aku tahu kedengarannya tidak mungkin, tapi kurasa— ada sesuatu yang sedang terjadi di sini.” Mei melihat kilas ke gedung olah raga, tempat dimana Yuju dan Xiumin dibunuh. Dan seketika tubuhnya merinding, Mei tidak bisa hanya untuk membayangkan penyerangan itu. “Dan kau tahu, hukuman ini—“ Mei menggantungkan kalimatnya, membenahi sarung tangan. “Ini bukan hukuman yang sebenarnya. Tapi perlakuan psikologis. Keahlian Kwanghee sanjangnim.”

“Apa maksudmu?”

“Kita disuruh membersihkan kandang kuda, yang letaknya tepat di sebelah gedung olah raga tempat kejadian itu berlangsung. Dan menyekop salju di lapangan, tempat dimana kita melakukan kegiatan olah raga. Tidakkah kau mengerti?”

“Jadi?” Ujar Minji, masih mencoba memahami perkataan Mei.

“Coba pikirkan sendiri, ini bukan sebuah kebetulan. Sekolah ini memang aneh, tak sedikit pula staf disini yang memiliki masa lalu kelam. Kau tahu Kris sanjangnim? Ayahnya adalah mantan seorang mafia besar di China, Kris saem bahkan pernah dipenjara karena ketahuan menyelundupkan Heroin.”

“Jadi maksudmu— beberapa staf juga mencurigakan?”

“Ah entahlah…” Mei membuang napas kasar. “Hal-hal ini membuatku gila.” Sambil menyeringai dan mengerutkan dahi, Mei mulai menyekop ke sisi lain lapangan.

Minji meraih sekopnya, saat Lay berjalan mendekat untuk mengambil gerobak yang lain. Wajah lelaki itu memerah karena kedinginan. “Aku benci kepala sekolah tua itu,” ucap Lay saat meraih gagang gerobak kecil, “Kuharap bajingan itu mati.” Ucapnya kesal.

.

.

***

Menghangatkan bagian belakang kakinya di api, Luhan kembali menyesap segelas cappuccino ditangannya.ia memikirkan pembunuhan Yuju. Ia mencoba menemukan sedikit celah, namun rasanya sulit sekali. Menghubungkan antara pembunuhan Yuju dan menghilangnya Jung Eunji, tapi entah bagaimana ia sedikit yakin kedua kejadian itu berkaitan.

“Xiumin telah meninggal, ia tidak berhasil melewati masa kritisnya.”

Itu yang diucapkan pihak Rumah Sakit Seoul saat Sheriff Donghae datang untuk meminta keterangan terakhir tentang si korban pembunuhan, Xiumin. Kini satu-satunya saksi dan korban mereka yang masih hidup telah tiada, akhirnya tidak ada pernyataan, tidak ada dugaan kuat siapa pembunuhnya. Luhan memijat pelipisnya.

Luhan tahu dihari itu Yuju memakai topi Minji. Ia tahu bahwa Yuju ‘meminjam’ topi itu, dan seandainya ada kamera yang merekam atau ada seseorang yang meliatnya, pasti ada yang menghentikan gadis itu. Namun sayangnya topi itu tertinggal di ruang penyimpanan di dekat tubuh mereka, dan Lee Minji harus disangkutpautkan.

Sekarang Luhan berpikir bahwa ada orang ketiga disana. Seseorang yang dengan alasan apapun telah membunuh Yuju dan menghantam kepala belakang Xiumin setelah kedua anak itu bercinta. Lalu entah bagaimana, menggantung Yuju sebagai semacam bentuk pernyataan.

Supaya terlihat seperti bunuh diri?

Atau untuk efek teatrikal?

Akan jauh lebih mudah untuk meninggalkan saja tubuh itu di lantai atau memasukkannya ke lemari baseball, alih-alih membuat simpul, mengikatnya di ventilasi udara, dan mengangkat tubuh gadis itu.

Kecuali yang diinginkan pembunuh itu, semacam penyiksaan memuakkan.

..

..

..

Malam kembali tiba, Junghwa baru saja keluar dari kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia mengambil sweater tebal berwarna pastel dan mengenakannya. Hendak menghampiri tempat tidur ketika ia menangkap sesuatu di lantai dekat pintu.

Perlahan Junghwa menghampirinya. Secarik kertas putih tergeletak di lantai. Junghwa mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada disana.

‘TOLONG AKU!’

Pesan penuh ketakutan yang ditulis dengan tangan gemetar, tinta hitam tercoret tak rapi.

“Apa-apaan ini?” Junghwa nyaris berteriak. Apa ini semacam lelucon? Atau permainan yang dilakukan murid-murid kepada guru baru? Tapi tidak. Mereka tidak akan bermain-main dalam situasi menegangkan seperti ini.

Kertas itu diselipkan melalui celah bawah pintu. Siapa yang mengirimnya?

Apa itu Minji? Tapi tidak, Minji akan lebih memilih untuk bertatap muka langsung dan memintanya dengan nada tinggi daripada melakukan hal ‘pemalu’ seperti ini.

Junghwa memasukkan kertas tersebut kedalam kantung sweaternya. Keluar kamar, menguncinya dari luar, dan menuruni tangga asrama staff.

Ia berada di koridor dan tidak melihat siapapun.

Untuk sekarang, tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang meninggalkan pesan tersebut dan apakah permohonan itu serius atau hanya semacam permainan.

Mengencangkan sweaternya, Junghwa meneruskan langkahnya berjalan keluar. Angin berhembus kearahnya saat ia membuka pintu kayu tersebut. Tidak ada suasana hangat, apalagi angin dingin yang menurunkan suhu mendekati titik beku, dan kabut kematian seorang murid yang digantung mati.

#Kreett

“Apa itu?” Jantung Junghwa nyaris melompat. Ia mendengar suara decitan dari beberapa bangku kayu tua yang berada disamping asrama. “Ada orang disini?” Junghwa mundur beberapa langkah ke belakang.

“Mencariku?” Luhan keluar dari semak-semak dan tanaman pendek yang tak ia ketahui namanya. Sedikit humor, namun tak cukup menyenangkan bagi Junghwa.

“Kau— apa yang kau lakukan disini?” umpat Junghwa kesal.

“Aku barusaja dari gedung olah raga.”

“Apa? Malam–malam begini?” Junghwa melangkah mendekat kearah Luhan. “Apa kau menemukan petunjuk lain?”

“Hanya melihat-liat, kupikir jika aku melihat tempat kejadian itu berlangsung— aku akan sedikit lebih bisa menebak bagaimana proses pembunuhan mereka. Para detektif telah membersihkan TKP dan menghapus goresan-goresan darah di lantai.”

“Mereka sudah menyerah?”

“Entahlah, dalam badai beberapa hari ini pihak polisi kesulitan untuk datang ke Xing Boarden. Sekolah ini dibangun di lokasi terpencil Korea Selatan.” Luhan terkekeh sebentar, membayangkan kalimatnya sendiri. “Tidakkah banyak hal yang tidak masuk akal di sekolah ini? Dan— aku juga mulai beranggapan bahwa kejadian ini berhubungan dengan kasus menghilangnya Jung Eunji.”

Junghwa menganggukkan kepalanya mengerti, “Dan tambahkan pesan tidak jelas ini kedalam hal-hal tidak masuk akal itu.” Junghwa mengeluarkan secarik kertas yang ditemukannya di kamar tadi.

Luhan membaca sebentar pesan tersebut dan mengerutkan dahi, “Dari Minji?”

“Entahlah, tapi kurasa tidak. Minji bukan tipe orang yang suka bertele-tele seperti ini.”

“Kau keberatan jika kertas ini kusimpan?” tanya Luhan.

“Tentu, tapi untuk apa?”

“Semua barang sekecil apapun bisa menjadi sebuah bukti disaat seperti ini. Dan— sebenarnya aku polisi yang menyamar ditempat ini.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu? Darimana?” Luhan memelankan suaranya.

“Sudahlah itu tidak penting. Jadi— coba ceritakan tentang kepala sekolah Kwanghee.”

Luhan memundurkan tubuhnya, bersandar tembok. “Yah, dia orang yang selalu menjaga wibawanya. Menganggap bahwa sekolah anak-anak nakal ini adalah surga baginya, dan hal narsis lain.”

“Dan— siapa anak lelaki itu?”

Luhan menghadap Junghwa, menaikkan alisnya tidak mengerti. “Anak lelaki?” Tanya Luhan.

“Anak lelaki tinggi berkulit putih yang selalu berbicara denganmu.”

Seketika Luhan tertawa, membayangkan gambaran lelaki itu dalam kepalanya, “Namanya Oh Sehun, dia sekelas dengan adikmu.”

“Benarkah? Apa hubungan kalian?”

“Tidak ada.” Luhan kembali tersenyum. “Tapi— dia bilang sendiri bahwa dia menyukaiku.”

“Mwoya!?” ucap Junghwa nyaris berteriak.

“Entahlah, lucu bukan?” Luhan kembali tertawa.

“M-menyukaimu? Sebagai kakak atau—“

“Sudah kubilang aku tidak tahu. Sehun anak yang lucu, entah dia menyukaiku dalam arti seperti apa, tapi aku tidak melarangnya. Itu akan terkesan sangat jahat.”

Junghwa menatap lurus kearah Luhan, matanya melotot. Apakah hal-hal tidak masuk akal di kepalanya ini benar-benar terjadi.

“Ya.. apa yang kau lihat?” Luhan mendorong dahi Junghwa. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku ini masih lelaki normal asal kau tahu.”

 

Junghwa terdiam, mencoba memahami situasi. “Hmm… Apa kau keberatan jika aku memintamu menemaniku ke gedung olah raga lagi?”

“Sekarang?” Tanya Luhan.

Junghwa mengangguk mantap. “Aku ingin tahu sendiri tempat kejadiannya seperti apa.”

Memasuki gedung olah raga saat Luhan membuka kunci utama. Junghwa melihat sekitar, pintu ini di kunci saat malam, pasti orang-orang itu masuk melewati jendela. Mengingat Jendela yang dipasang bisa dibuka lewat depan maupun belakang.

Luhan menyalakan lampu gedung lebar tersebut, lalu berjalan menuju ruang penyimpanan. Beberapa barang sudah dibereskan, namun Junghwa masih dapat melihat bekas-bekas noda darah di lantai yang berwarna kecokelatan. Junghwa mulai membayangkan bagaimana tubuh-tubuh itu tergeletak di lantai dan bersimbah darah, membuatnya mual.

“Ketika Xiumin ditemukan— kudengar ia mendapatkan luka di kepala.”

“Memang benar.”

“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?” Junghwa kini memperhatikan ventilasi udara yang terdapat sebuah tali panjang yang telah terkena noda darah. Kembali membayangkan tubuh telanjang Yuju yang berayun tak bernyawa, kepala Junghwa terasa pening.

Luhan berdiri di sebelah Junghwa, menghembuskan napasnya. “Kedua anak itu ditemukan disini. Menurut apa yang kutemukan di hari itu— mereka kelihatannya telah selesai bercinta.”

“Kudengar mereka ditemukan dalam keadaan mati telanjang.” Ujar Junghwa, Luhan mengangguk. “Jadi mereka diserang saat mereka sedang berhubungan seks… atau setelahnya?”

“Yah, itu yang dikatakan detektif.”

“Jadi— seseorang masuk saat mereka sedang berhubungan, lalu memukul dan menendangnya, lalu menggantung Yuju seperti itu?”

Menebak setiap kemungkinan. Junghwa sadar bahwa ia bukanlah seorang detektif handal, namun ia merasa benar-benar ada yang ganjal di sekolah ini.

“Tidak ditemukan senjata. Luka kepala belakang Xiumin diduga karena telah dipukul oleh benda yang keras dan tajam. Entah itu batu, atau bongkahan apapun. Tapi polisi belum menemukan batu tersebut, sampai badai belum berhenti— mereka tidak akan bisa menemukannya.”

“Tidak ditemukan bukti lain selain topi milik adikku?”

Luhan menggeleng. “Kurasa batu yang digunakan telah dilempar ke sungai belakang sekolah yang dalamnya mencapai 12 meter. Akan sangat sulit untuk mencarinya disaat seperti ini.”

Lucu, mengobrol dengan topic semacam ini bersama Luhan seolah tak ada masalah apapun diantara mereka. Junghwa tetap merasakan kenyamanan itu ketika berada didekat Luhan.

“Sebenarnya, orang seperti apa yang telah melakukan hal mengerikan ini.” Junghwa bertanya pada diri sendiri, berharap mengetahui jawabannya.

“Seseorang yang sangat terganggu jiwanya.” Luhan melihat keluar jendela, salju kembali turun. “Seseorang yang ada di sekolah ini.”

***

Saat angin berhembus menerpa tubuh tegapnya, sang pemimpin keluar dari tempat persembunyian. Ia mendengar bahwa Lee Junghwa diterima di sekolah ini dengan sangat tiba-tiba. Mengapa para staff Tata Usaha melakukan itu? Untuk membuat image sekolah terlihat lebih baik semenjak kejadian-kejadian itu? Atau apa.

Lee Junghwa cukup cantik dimatanya. Tinggi dan menarik. Dengan tangannya yang mengepal, sang pemimpin mencoba mengenyahkan bayangan tubuh telanjang Junghwa yang belum pernah dilihatnya. Tapi iblis didalam dirinya nampak terlalu menguasai nafsu seksual sang pemimpin.

Junghwa bukanlah satu-satunya wanita yang memenuhi pikirannya dan menyebabkan seprai tempat tidurnya basah oleh keringat dan kusut.

Di sekolah ini banyak targetnya. Membayangkan wanita-wanita itu memeluk tubuhnya, mencumbuinya satu per satu. Dan seketika ia mengingat Jung Eunji.

Sang pemimpin sontak membuka mata.

Iblis dalam bentuk malaikat.

Dia telah bertindak bodoh. Sangat bodoh.

Demi seorang wanita. Sebuah kesalahan klasik.

Dengan kecerdikan gadis itu, ia membiarkan Eunji melihat siapa dirinya sebenarnya. Dan memanfaatkan itu— sebelum gadis itu kabur.

Ia takkan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Entah itu Lee Junghwa atau siapapun. Sang pemimpin memejamkan matanya, memusatkan pikiran pada pekerjaan yang akan segera dilakukannya sebentar lagi.

.

.

-TBC-

Author note :

Chapter 7 is up guys..!! ^^

Wah senengnya aku masih bisa lanjutin cerita ini, karena jujur kemarin itu sempet mau males-males ngetiknya huehehe…

Jadi semangatin author terus ya biar bisa lanjutin FF ini sampe akhir. Sampe tuntas.

Yang pengen Luhan-Junghwa moment sudah mulai ada yaa.. bertahap guys, sabar😀 juga mungkin ada dr kalian yg kangen HunHan😥 hmm aku juga sih (sedih kan) baper nih.. itu tuh bayangin ajah yg bagian Sehun edisi cadel bilang suka ke Luhan, “Aku menyukaimu Luhan thaem.”

Wkwkwkwk.. ahaha thudah thudah😀😀

INSTAGRAM: lovanita

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96 (tapi jarang dibuka wkwk)

 

Regard.

-morschek96

https://morschek96ff.wordpress.com

24 thoughts on “Xing Boarden [Chapter 7] – morschek96

  1. sang pemimpin nya itu si kepsek nya bukan sih??
    aiuuaa thi thehun,, huhuu iya nih kangenn sehun ama luhan wkwk~
    auh pengen cepet liat moment junghwa sama luhan nihh^^^^
    cuus next chapter>>

  2. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 10] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 9] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s