CASE 41-D — [Case 01 pt. B] — IRISH’s Story

irish-case-41-d

|   CASE 41-D   |

|   Case 01 — Trust (b)   |

|  Baekhyun x Aeyoung  |

|  Fantasy x Friendship x Romance x School-life x Sci-Fi  |

|  Chapterred  |  Teen (in some condition will change into R)  |

|  by IRISH  |

—  because a love case doesn’t come with a time but the progress

|  standart disclaimer applied  |

| previous case: Case 01 pt. A |

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

♫ ♪ ♫ ♪

In Baekhyun’s Eyes…

“Apa kau sedang mengalami krisis rasa percaya, Baekhyun?”

“Krisis rasa percaya?” aku menatap Aeyoung saat ia baru saja kudengar mengutarakan pertanyaan tidak masuk akal itu.

“Ya, sedari tadi kau menatap Jooeun seolah ia sedang melakukan hal yang salah. Kau juga sudah menanyakan hal yang sama padaku sebanyak lima kali.” Aeyoung mengangguk yakin, dipandanginya aku dengan tatapan menyelidik, seolah apa yang sekarang dilakukannya tidak terlihat lebih mencurigakan di mataku.

“Memangnya apa yang kutanyakan?” aku berucap.

“Kau sudah lupa? Kau sejak tadi bertanya ‘apa calon kakak iparmu akhir-akhir ini sulit dihubungi oleh kakakmu?’ seolah aku tahu apa yang Yixing dan Jooeun lakukan.”

“Kenapa kau menyebut ‘Jooeun’ padanya? Dia kakakmu, bukan?” ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan. Seperti biasanya, usahaku tentu berhasil. Terbukti dengan bagaimana kulihat Aeyoung sekarang mengangkat bahu acuh.

“Ya, dia memang kakakku. Tapi dia juga tidak pernah menyebutku ‘adik’ jadi untuk apa aku memanggilnya ‘kakak’?” Aeyoung balik bertanya, aku tahu bagi Aeyoung kesopanan adalah sebuah timbal-balik. Jadi saat ia merasa kakaknya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘adik’ ia merasa bahwa ia juga tidak seharusnya memanggil ‘kakak’ pada saudarinya.

“Baiklah, terserah kau saja. Tapi mengapa kita sekarang berdiam di dalam mobil Jooeun noona sementara dia sibuk dengan ponselnya di luar sana?” akhirnya aku menguarkan protes.

Dengan paksaan, Aeyoung tadi membawaku masuk ke dalam mobil Jooeun—yang hari ini akan mengadakan sebuah acara makan malam keluarga—dan herannya, Aeyoung justru membawaku.

Apa ia pikir aku semacam partner bayarannya atau apa?

“Kita harus menunggu Jooeun selesai dengan kesibukannya menelepon Yixing dulu.” tutur Aeyoung menjelaskan apa yang sekarang saudarinya lakukan.

Diam-diam, aku memperhatikan kegiatan Jooeun di luar sana. Ia mengetuk-ngetukkan ujung heelsnya di tanah dengan tidak sabar, sementara handphone masih menempel di telinganya. Kerutan yang ada di antara kedua alisnya jelas jadi tanda bahwa ia tengah resah.

Belum lagi, bibirnya terkatup membentuk kurva kaku yang tidak bersahabat. Sekon kemudian, ia memutar bola matanya dan lantas memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku mantel yang ia kenakan. Langkahnya kemudian ia bawa mendekati mobil. Ia gagal menghubungi pria yang diakuinya sebagai calon pasangan hidup itu, tentu saja.

“Kurasa Yixing hyung tidak akan ikut makan malam.” aku berbisik pada Aeyoung, sontak tatapannya membulat terkejut.

“Tidak mungkin, Yixing sudah janji akan datang malam ini. Dia selalu saja menghindar setiap kali ada acara makan malam.” komentar Aeyoung, ia sudah akan membuka bibir untuk kembali bicara ketika kami sama-sama menyadari Jooeun sudah berdiri di sebelah pintu.

“Kita akan makan malam tanpa Yixing.” Jooeun berucap ketika ia masuk ke dalam mobil. Sekilas, Aeyoung melirikku terkejut, ia nanti mungkin akan mempertanyakan bagaimana aku bisa tahu.

“Dia tidak ikut lagi?” tanya Aeyoung sarat akan nada kecewa.

Meski aku tidak mengenal keluarga kecil Aeyoung dengan baik, tapi setidaknya aku tahu benar Aeyoung tidak begitu dekat dengan saudara-saudaranya. Ia dianggap tidak mengikuti garis keluarganya yang rata-rata menjadi entertainer. Kebalikannya, Aeyoung justru lebih menutup diri dari orang lain.

“Ya, aku tidak bisa menghubunginya. Mungkin ia sedang sibuk.” komentar Jooeun seadanya. Ia kemudian memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil.

Baiklah, karena percobaan pertamaku pada Aeyoung mengalami kegagalan—karena ia mengatakan bahwa rasa percaya tidak memerlukan bukti apapun dan hanya mengandalkan apa yang hatinya katakan—maka Jooeun adalah sasaranku selanjutnya.

Seperti yang pernah kukatakan, bagi manusia, kepercayaan adalah sebuah kata yang tak bisa dideskripsikan bagaimana bentuknya, tapi dapat mereka rasakan ketika kepercayaan itu hancur.

Satu pertanyaanku untuk penelitian ini adalah, apa yang mendasari seorang manusia bisa mempercayai orang lain, dan mengapa mereka mempertahankan kepercayaan itu meski tahu orang lain telah mengingkari kepercayaan yang mereka berikan.

“Apa Yixing hyung sering menghindar dari acara makan malam?” tanyaku kemudian. Jooeun melirikku dari spion depan mobil, dan menggumam pelan sebagai jawaban.

“Ya, hampir selalu. Ia akan berkata kalau ia bisa datang, tapi di hari acara itu dia justru menghilang. Selalu seperti itu.” ucap Jooeun, mengingat seringnya aku dibawa paksa oleh Aeyoung dalam acara keluarganya, sekarang keluarga Lee seolah menganggapku sebagia bagian dari keluarga mereka juga.

“Bukankah itu artinya dia membohongimu?” tanyaku lagi.

“Aku tahu. Dia juga sering berbohong dalam beberapa hal kecil lainnya yang tak lagi bisa kuingat dengan baik, Baekhyun. Tapi begitulah Yixing, pada akhirnya ia akan mengakui kebohongannya. Seperti sekarang, besok dia pasti muncul di restaurant dengan permohonan maaf yang sama seperti yang lalu.”

“Dan noona memaafkannya begitu saja?”

“Tentu, aku bisa apa lagi? Dia bersalah, dan mengaku bersalah, lalu meminta maaf. Bukankah ia sudah melakukan hal yang seharusnya?” Jooeun balik bertanya padaku. Tak ada kemarahan dalam penuturannya, tidak ada emosi membengkak yang sewajarnya ada pada manusia ketika mereka merasa dikecewakan.

“Apa noona tidak marah padanya?” Jooeun mendesah pelan mendengar pertanyaanku. Kurasakan sedikit nyeri mendadak saat kusadari Aeyoung baru saja menyikutku dengan cukup keras dan menatapku dengan pandangan aneh.

Apa aku salah bicara? Apa aku melukai Jooeun karena perkataanku?

“Aku sangat marah. Begitu marahnya sampai aku tak lagi bisa mengungkapkan kemarahanku. Dulu, saat ia mengingkari janji seperti saat ini aku sering marah padanya dan pada akhirnya kami akan saling mengabaikan. Tapi dua tahun terakhir, sudah tidak lagi. Aku sudah lelah memarahi Yixing, dan dia juga pasti lelah mendengar kemarahanku.”

“Tapi kau tetap percaya padanya, noona. Buktinya, kau berusaha menghubunginya meski tahu ia akan membohongimu lagi.” aku mengimbuhi.

“Aku percaya suatu hari Yixing akan berubah.”

Nah, keluar juga kata percaya yang sejak tadi aku tunggu-tunggu.

“Mengapa noona percaya? Tadi, noona katakan Yixing hyung selalu berbohong jika sudah bicara tentang acara makan malam. Dan juga—”

“—Umm, Baekhyun. Kurasa kau—”

“—Jangan memotong pembicaraan, Lee Aeyoung. Bukankah Eomma mengajarkanmu tentang sopan santun?” Jooeun menginterupsi usaha Aeyoung saat ia akan menghentikanku dari penelitian.

“Maaf.” Aeyoung berucap singkat. Dan tentu saja, aku tidak perlu berkata apapun lagi untuk mengembalikan Jooeun pada topik utama pembicaraan kami.

“Kau penuh dengan rasa ingin tahu, Baekhyun. Kupikir, kau pasti tidak ingin menjadi seorang pria seperti Yixing, bukankah begitu?” tanya Jooeun kujawab dengan senyum kecil.

“Ya… seperti itulah. Aku tak ingin melihat orang lain kecewa karena kebohonganku, noona. Apa noona pernah bicara pada Yixing hyung tentang hal ini juga?”

“Tidak pernah,” ia menggeleng, “aku tak ingin membicarakan hal ini pada Yixing. Bagiku, sudah cukup aku memberitahunya tentang acara makan malam, dan datang atau tidaknya Yixing, aku hanya bisa berharap. Kukatakan padamu bahwa aku percaya pada Yixing, bukan? Itulah alasanku tidak marah padanya.”

“Karena noona percaya padanya?”

“Ya. Yixing pasti punya alasan untuk tidak menghadiri setiap acara makan malam. Dan aku akan menunggu sampai ia mengatakan padaku sendiri alasan itu. Aku percaya pada Yixing ia menghindari makan malam bukan karena ia tak ingin menghabiskan waktu denganku tapi karena alasan lain.”

“Mengapa… begitu?” aku menyernyit, alasan Jooeun menaruh kepercayaan justru lebih membuatku tidak mengerti.

“Bukankah noona akan semakin terluka pada akhirnya jika Yixing hyung tidak mengatakan apapun dan terus berbohong? Mengapa noona terus percaya padanya?” lagi-lagi aku bertanya.

Tidak ada jawaban. Jooeun sendiri hanya menghela nafas panjang, sementara di sebelahku, Aeyoung tertunduk dalam-dalam. Aku mengerti jika Aeyoung sebenarnya pasti punya keingin tahuan yang sama denganku, tapi ia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya.

“Karena jika aku tidak percaya padanya, ia juga tidak akan bisa percaya padaku, Baekhyun. Jika aku marah pada Yixing karena ia membohongiku, aku yakin diriku akan lebih terluka karena menyesal telah melukainya dengan kalimat kemarahanku. Setiap orang pasti punya alasan untuk berbohong, dan Yixing pasti punya alasan sendiri.”

“Jadi… noona pikir noona akan lebih terluka jika marah padanya?”

“Ya, jika kami terus bertengkar karena tidak mempercayai satu sama lain, maka kami tidak akan bertahan selama ini, Baekhyun. Yixing percaya padaku, dan aku seharusnya percaya pada Yixing juga. Jika suatu hari kuputuskan untuk tidak mempercayainya, saat itu perasaanku pada Yixing pasti telah berubah.”

Kali ini aku terdiam. Rasa percaya bagi Jooeun bukanlah sebuah kewajiban melainkan ikatan. Meski ia mengatakannya seolah kepercayaan itu ia bangun untuk tidak melukai diri maupun pasangannya, tapi sebenarnya yang ia lakukan adalah mengikat diri dengan rasa percaya itu sendiri.

Ia percaya pada kekasihnya karena tak ingin terluka akibat amarah yang ia luapkan sendiri ketika tak ada rasa percaya yang ia berikan pada kekasihnya. Sementara bagi Aeyoung, kepercayaan adalah sebuah timbal-balik yang ia berikan agar dirinya juga mendapatkan kepercayaan yang sama dari orang lain.

Apa seperti itu makna kepercayaan bagi manusia?

Sebuah siklus untuk mengurangi pikiran dan dugaan negatif mereka pada orang lain agar pada akhirnya mereka tidak merasa terluka dengan lebih cepat? Apa itu juga alasan bagi makhluk sepertiku yang tidak bisa mempercayai orang lain? Karena pada dasarnya kami tak memiliki perasaan yang terancam untuk terluka sehingga kami merasa tak harus mempercayai orang lain dan tidak juga berharap orang lain percaya pada kami?

“Kita sudah sampai, ayo turun, anak-anak.”

Kusadari, mobil Jooeun telah terparkir di pelataran sebuah restaurant. Ia sendiri kemudian meraih tas kecil yang ada di kursi penumpang sebelum ia turun dari mobil.

“Apa yang kau pikirkan? Ayo turun, Baekhyun.” kudengar Aeyoung berucap.

“Aeyoung-ah,” aku berkata saat melihat Aeyoung bergerak hendak membuka pintu. Perkataanku tentu membuat usaha Aeyoung terhenti, ia menatapku dengan pandang bertanya.

“Ada apa?”

“Apa kau juga mempercayaiku karena alasan yang sama seperti Jooeun noona?”

Aeyoung terdiam sebentar, sebelum ia lantas tersenyum.

“Apa krisis kepercayaanmu sudah berakhir? Sudah kukatakan, aku percaya padamu karena kurasa kau bukan seorang yang bisa berbohong.” ia berucap.

“Apa kau juga… berpikir jika kau tidak percaya padaku, maka aku juga tida bisa percaya padamu?” tanyaku lagi.

Aeyoung mengangguk pelan. “Ya. Bukankah memang seperti itu? Kalau aku tidak percaya padamu, bagaimana kau akan bisa percaya padaku? Yang ada, kita justru akan saling membohongi dan menyembunyikan kebenaran, bukankah begitu?”

Ya, Aeyoung benar. Sebenarnya, sejak awal penelitianku sudah berhasil. Aeyoung bukannya memberi alasan tidak masuk akal terhadap penelitian yang kulakukan. Tapi ia memberiku jawaban universal.

Bahwa kepercayaan pada dasarnya berawal dari perasaan.

Manusia tidak ingin perasaannya dilukai. Saat mereka percaya pada orang lain, mereka berharap orang lain juga percaya pada mereka sehingga pada akhirnya mereka tidak akan dilukai.

Seperti Aeyoung yang percaya padaku karena ia pikir aku bukan seorang pembohong, ia pikir sampai akhir aku tak akan berbohong padanya dan tidak akan melukai perasaannya.

Begitu juga Jooeun, ia terus percaya pada Yixing meski tahu ia telah dibohongi berulang kali. Ia tidak ingin menyadari bagaimana perasaannya telah terluka karena pria itu, sehingga Jooeun memilih untuk tetap mempercayainya.

Percaya, adalah sebuah usaha yang manusia lakukan untuk menghindari perasaannya dari rasa terluka dan kecewa.

Itulah kesimpulan dari penelitianku kali ini.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Ada yang sependapat sama Baekhyun tentang konsep ‘percaya’ yang dia simpulkan di sini? WKWK. Aku pribadi enggak tahu mau setuju atau enggak sama Baekhyun. Berhubung dibohongi berulang kali sama orang itu udah pernah aku lakuin tapi ogebnya aku masih juga bisa percaya sama mereka, dan aku juga pernah dipercaya sama orang-orang yang aku percaya jadi… mungkinkah kesimpulan yang Baekhyun ambil dari penelitiannya kali ini bener?

Atau dari kalian ada yang punya konsep lain tentang perasaan dalam pemikiran manusia? LOLOLOL. Serius, ini masalah ‘percaya’ sesungguhnya begitu ambigu dan enggak bisa dicari titik terangnya. Tanya aja sama Baekhyun gimana bisa dia narik kesimpulan semacem itu dari meneliti dua orang.

Anyway, kira-kira apa lagi yang bakal Baekhyun teliti di kasus selanjutnya? Tunggu aja Case 02, okay? XD XD dan juga, apa rencana minggu malam kalian?

TEMUKAN JODOH KALIAN (?) DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [4]

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

Iklan

18 pemikiran pada “CASE 41-D — [Case 01 pt. B] — IRISH’s Story

  1. halo kak irish..hyun kembali lagi🙋ini hyun komen nya loncat loncat😀😀Hm…hyun jadi penasaran😮😮gimana ya bentuknya si bacon kalau jadi alien?😂😂hyun yakin pasti aneh tapi tetep ganteng juga😃😃itu kok si aeyoung nggak dekat aja sama saudaranya😁😁malahan si bacon yang dekat sama saudara aeyoung😀😀terus si bacon banyak nanya kok nggak dimarahin sih😄😄orang ganteng mah bebas😂😂😂
    kak irish jangan kapok kapok ya sama komentar hyun yabg gaje dan banyak cuap cuap ini😍😍😍

    • alhamdulillah ini komen loncatnya beneran /kemudian ditendang/ wkwkwkwk XD tolong jangan bayangin gimana dia pas alien verse karena pasti akan sangat ngguilani…. KWKWKWKWKWKWKWKWKWKWK makasih udah mampir :^*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s