Xing Boarden [Chapter 6] – morschek96

xingb-morschek96

Xing Boarden by. morschek96

Dark-Crime, Romance, Mystery || PG-16

Lee Junghwa & Lu Han

Lee Minji, EXO members and etc.

Credit BabyChanie @ArtZone 

PRE : [prolog][1][2][3][4][5] –  [password]

“keep looking at me, don’t leave me“

***

Di dalam aula, Junghwa duduk bersama semua jajaran staf Xing Boarden, dan kepala sekolah Son Kwanghee yang telah kembali dari pekerjaannya di luar kota. Ia duduk diapit oleh si petugas keamanan Kris dan si staf Tata Usaha Minyoung.

“Selamat pagi semuanya. Saya tahu ini adalah saat yang sulit bagi kita semua.” Ujar Kepsek Kwanghee berdiri tegak dalam balutan setelan hitam rapi, “Yang telah terjadi di sini sangatlah buruk. Setelah sarapan ini, kita akan mulai penjagaan dan mengadakan misa doa di aula, jadi bawalah buku doa kalian, lilin, dan semangat yang kuat.” Ujarnya dengan bangga, seolah telah berkampanye di depan rakyatnya. “Dan tolong ketahuilah bawa kami sedang melakukan langkah pencegahan demi keselamatan kalian. Disini ada deputi, detektif, dan bahkan Sherif Donghae sendiri.”

Bahkan setelah semua ceramah itu, ruangan tetap hening. Junghwa merasa orang-orang di kampus tetap merasa tidak aman, terlepas dari kehadiran para petinggi hukum.

“Sekarang, saya ingin semua murid tahu bahwa para konselor siap membantu kalian kapan saja. Jika ada yang ingin kalian bicarakan, silahkan langsung menemuiku atau Dr. Song. Dan selanjutnya, saya akan memperkenalkan anggota baru staf pengajar kita, Lee Junghwa songsaenim, yang akan bergabung dengan Xing Boarden dimana dia akan mengajar Bahasa Inggris.” Kepsek Kwanghee memberi isyarat kepada Junghwa lewat anggukan kepalanya. Sontak Junghwa mengerti dan langsung berdiri dari kursinya, mengucap kata salam dan membungkukkan badannya.

Saat melakukan itu, tak sengaja Junghwa melihat Minji duduk diantara teman-teman kelasnya. Wajah adiknya tertekuk muram dan terlihat lebih diam dibandingkan anak lain di sebelahnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat melihat adiknya. Hati Junghwa hancur, tapi ia tidak boleh mengenali Minji.

Saat makanan dihidangkan, suara dentingan piring dan sendok beradu dengan bisikan pelan para murid dan staf. Junghwa tersenyum kepada Kris yang memberinya sepiring daging dan nasi merah.

Luhan, diam-diam mengawasi Junghwa sedari tadi. Lelaki itu duduk di paling ujung meja, bersebelahan dengan Suho.

..

..

Saat selesai sarapan, Junghwa menangkap gerak-gerik adiknya, seolah mencoba bemberitahu Junghwa untuk mengikutinya. Junghwa tak dapat berbicara, namun mengangguk pelan, tanda mengerti.

Tak beberapa lama setelah Minji keluar dari aula, Junghwa segera menyusul kemana arah adiknya pergi. Segera setelah berada di luar, Junghwa menghembuskan napas berat. Tangannya mengebas, takut ketahuan. Ia bukan seorang pembohong yang hebat, dan melakukan hal semacam ini sangatlah membahayakan.

Kebingungan, Junghwa melihat sekitar hingga menemukan seorang gadis memakai jaket biru tua yang ia yakin itu adalah Minji. Bersembunyi dibalik semak dan pohon oak tua di belakang bangunan cafeteria.

“Astaga!” Junghwa sedikit melompat ke belakang saat tiba-tiba Minji berbalik cepat menatap dirinya, “Apa yang kau lakukan?”

“Kita harus bicara.” Bisik Minji pelan. “Katakan bagaimana bisa dengan bekerja disini kau bisa mengeluarkanku?!” Mata cokelat gelap Minji memancarkan kemarahan dibawah tudung jaketnya.

“Aku sudah memberitahumu.” Ucap Junghwa singkat. Ia terlalu shock mendengar Minji memanggilnya tanpa embel-embel ‘eonni’. Mungkin keadaan anak itu yang sedang tertekan, mengingat apa yang telah menimpa dirinya di tempat ini.

“Teman sekamarku telah meninggal,” bibir bawah Minji bergetar saat mengucapkan kalimat itu, “Mereka menduga seseorang disini membunuhnya.”

“Aku tahu, tapi— kita tidak bisa pergi begitu saja. Ingat, bahkan seorang hakim yang merekomendasikan untuk mengirimmu kesini.”

“Aku tahu, tapi orang-orang dibunuh!” Minji terlihat lebih gelisah. “Kukira kau akan membantuku.”

“Memang. Minjiya—

“Apa ada masalah?” suara Luhan menggelegar dibelakang mereka. Minji pun terlihat kaget dan mundur beberapa langkah dari Junghwa.

“Aku sedang menanganinya.” Ucap Junghwa. Ya Tuhan, ia tak ingin Minji melihatnya bersama Luhan. Bagaimana jika Minji mengingat lelaki ini.

“Tidak apa-apa. Aku mengajar di kelas Lee Minji, kami saling mengenal.” Ucap Luhan

“Semua baik-baik saja.” Ucap Minji berbohong.

“Kau yakin? Aku tahu kejadian ini sedikit membuatmu tertekan. Karena Yuju adalah teman sekamarmu dan banyak hal lain.” Sambung Luhan sekali lagi.

“Ya Luhan saem— aku tidak butuh ini. Aku sudah diinterogasi polisi dan mendapat konseling dari Dr. Song, jadi jangan lakukan ini lagi, oke?” Mata Minji memandang Junghwa dan Luhan yang berdiri sangat dekat, “Apa ini, tim etiket?”

“Ya.. dasar—“ Luhan berusaha mencela namun Minji sudah terlebih dulu berlari menuju asrama.

“Apa yang kau lakukan? Sekarang Minji sudah mengenalimu dan mengetahui rencana kita— kau pikir… kau pikir bisa membantu?” amarah Junghwa meledak, “Aku sedang berusaha mengendalikannya.”

“Kelihatannya tidak begitu.”

“Dia adikku.” Desis Junghwa.

“Tapi tidak di sini. Ingat, jika kau masih ingin melanjutkan permainan ini, lakukan dengan benar. Jangan bertindak gegabah. Aku mengerti jika Minji sedang ketakutan dan tak sabar untuk keluar. Tapi, tunggulah sebentar lagi.”

Oh Tuhan, ini benar-benar hari yang sulit.

Kepalanya berdenyut.

Berapa lama lagi ia harus menghadapi Luhan. Junghwa mengucek matanya frustasi. Namun ia sadar, apapun taktik yang dimainkannya, akan bijaksana jika melibatkan Luhan.

Lelaki itu pernah menjadi polisi. Dia pintar. Jadi, lebih baik bekerja sama dengan Luhan daripada melawannya.

“Yah, benar.”

Junghwa melihat dua orang murid dari tempat persembunyiannya, membawa buku dan lilin menuju ke aula. Dengan itu, mereka memutuskan untuk menyudahi pembicaraan.

.

.

***

Untuk sesaat, Minji memikirkan Bapa Chen, seorang pendeta yang mengurus gereja di dekat dermaga. Orang yang memimpin doa di aula tadi siang. Minji ingin bertanya padanya, dan mendapatkan saran. Bapa Chen sepertinya orang yang baik, tapi apa yang diketahuinya tentang orang itu?

Tidak ada.

Dan selain itu, ia yakin Bapa Chen tidak bisa membantu mengatasi masalahnya. Tak seorang pun bisa. Merenggangkan tubuh-tubuhnya yang kaku, Minji mulai mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.

#tok tok tok!

Minji membuka pintu dan menemukan si petugas asrama yakni Han Sooin, seorang wanita paruh baya berusia 40 tahunan dengan seorang gadis kurus yang Minji yakin bernama Yerin.

“Annyeong Minji-ssi,” sapa petugas Han sambil membawa sekantung keresek besar berisi barang-barang pribadi seperti pakaian, buku, dan alat tulis lainnya. Yerin yang berada disebelahnya hanya diam dengan wajah muram.

“Ne Han ajhumma?”

“Aku tidak mau kau sendirian, karena kau masih baru disini. Jadi, Yerin akan jadi teman sekamarmu yang baru. Kalian sudah saling mengenal kan?” ucap wanita itu.

Yerin memutar bola matanya, neck pillow berada di leher gadis itu. “Kenal itu subjektif.”

Petugas Han mengabaikan penolakan Yerin, “Ini hanya untuk sementara, paling satu atau dua bulan sampai masalah di sekolah kita selesai.”

Minji mulai tersulut emosi melihat sikap teman kamar barunya, “Yah, setidaknya aku tidak akan jadi pengasuh bayi.” Sindirnya.

“Ini tidak akan jadi semengerikan itu Minji-ssi.” Ucap petugas Han masih mencoba untuk tenang.

Yerin mulai berani melempar tatapan tajam ke arah Minji, “Dengar ini, jika tidak dipaksa pun aku tidak akan mau berdekatan denganmu anak baru. Apalagi setelah teman sekamarnya ditemukan tewas..!”

Minji masih bersikap tenang meskipun urat sarafnya telah menegang, “Kau kira aku ada hubungannya dengan kematian Yuju? Topiku ditemukan disana, pasti aku dijebak.”

“Benarkah? —

“Cukup!” teriak petugas Han memecah suasana.

Terjadi keheningan hingga beberapa detik, hingga Minji meneruskan, “Mengapa kita butuh teman kamar? Ketika ada kamera dan peralatan pengintai di seluruh area sekolah mengerikan ini?” Tanya Minji to the point. “Sebenarnya, seluruh staf harusnya sudah tahu siapa yang membunuhnya, tidakkah semuanya terekam? Apakah sekolah tidak menyerahkan rekamannya kepada polisi? Itu akan membuat segalanya lebih mudah kan?”

“Tidak semudah itu nona Lee.” Wajah petugas Han berubah dingin.

“Bukankah itu yang selalu dilakukan di acara televise?” Minji menggelengkan kepalanya.

“Semua terlihat mudah di televise, semua telah terkemas baik setelah melakukan beberapa pengeditan.” Petugas Han melirik ke arah alat penyembur air sekilas, lalu berbalik pergi, menutup pintu. “Selamat malam semuanya.”

Pintu tertutup dengan pelan, Minji memandangi Yerin, “Tidak ada kamera ya?”

Yerin akhirnya menyeringai, “Jadi semua informasi tentang dirimu itu memang benar, kau gadis yang cerdas, kan?”

.

.

***

“Apakah ada pertemuan lagi malam ini?” suara orang kepercayaan terdengar di ujung telepon. Sembunyi dalam bayangan deretan pohon.

Sedangkan sang pemimpin memandang kilas ke area sekolah, memakai jaket hitam tebal yang melindunginya dari angin musim salju ini. Sang pemimpin mencatat setiap perubahan yang terjadi, langkah-langkah pengamanan diambil lebih cepat dari dugaannya.

Terlepas dari semua kekacauan di sekitarnya, terlepas dari kebutuhannya untuk bersama pengikutnya lagi, terlepas dari deru aliran darah setiap kali ia melihat Lee Minji. “Tidak malam ini.” Jawabnya.

Terlalu berbahaya, para deputi dan sheriff menyusuri Xing Boarden dengan menaiki kuda. Dilengkapi senapan pistol-pistol yang melekat di pakaian mereka.

Untuk sekarang, ia tidak bisa mengambil resiko untuk diikuti atau terbongkar. Salju ditanah membuat penyelidikan jauh lebih sulit, dan sepertinya keadaan sedang berpihak kepada sang pemimpin.

Salju akan membuat para anjing-anjing pencari, kuda-kuda dan kendaraan lain kesulitan untuk melintas. Bahkan para orang tua yang khawatir tidak bisa berkunjung untuk melihat anak-anak mereka, karena sungai membeku dan dermaga tidak beroperasi, dan badai angin yang bisa muncul kapanpun akan membahayakan helicopter.

Badai abad ini

Bisik sang pemimpin.

Angin berhembus lagi, berbisik menembus hutan, menganai wajah tampannya. Serpihan salju menjadi kecil, butir-butir es yang mendedikasikan salju segera datang.

Bagus.

Semakin Xing Boarden menjauh dari dunia, maka semakin bagus. Malam ini, ia akan memaksa dirinya untuk lebih tenang. Dan sampai waktunya tiba— itu akan menjadi menarik.

***

Tes.. Tes.. Tess…

Junghwa berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Cahaya pitih berkelip dari mesin computer, seolah menariknya seperti magnet, ia terus berjalan mendekat. Setelah mendengar suara teriakan yang tertahan beberapa detik yang lalu, ia yakin sedang ada yang tidak beres di dalam. Rasanya kosong dan dingin, seolah roh jahat pembawa sial sedang lewat.

Pintu bergaya Prancis terbuka, angin sepoi mengibarkan gorden putih di jendela. Jam menunjukkan pukul 2.47 siang.

Hingga Junghwa menurunkan pandangannya. Darah mengalir, tubuh kaku ayahnya terbujur di lantai marmer yang dingin. Pisau berada diujung telapak kaki Junghwa.

Sontak pintu dibelakang dibuka dengan kasar, nyonya Lee masuk kedalam. “Apa yang kau lakukan?!” teriaknya.

Mata Junghwa terbuka. Mimpi itu lagi.

Entah mengapa kejadian itu selalu menghantuinya. Mungkin karena tersangka pembunuhan ayahnya belum dapat ditemukan hingga saat ini. Satu-satunya petunjuk yang ia yakini benar adalah sebuah tanda melengkung dari jejak kaki yang tak teridentifikasi pemiliknya.

Berguling ke samping, ia berkeringat, otot-ototnya menegang, meskipun kamarnya sangat dingin. Sempat berpikir bahwa ia telah mendengar sesuatu, namun saat ia mencoba untuk mendengar lebih, suara itu menghilang.

Junghwa menarik selimutnya hingga dagu, ia ketakutan, membayangkan hal-hal buruk. Dengan perlahan Junghwa meminum sebotol air yang berada di samping tempat tidurnya. Mencoba berdiri untuk melihat keluar jendela.

Salju telah berhenti turun, dan meninggalkan tumpukan es setinggi 40 cm. Mobil polisi sudah pergi, meninggalkan jejak ban keluar dari pintu gerbang area sekolah. Juga ada sebuah jejak kaki baru mengarah ke asrama staff.

Tidak ada yang masuk dan keluar pada saat jam malam. Para deputi telah mengatakan hal itu untuk membuat semua orang waspada. Namun— setelah mendengar sesuatu beberapa menit yang lalu, Junghwa tidak bisa berhenti ketakutan. Adanya kemungkinan bahwa seseorang yang berbahaya sedang berkeliaran didekat mereka.

Dan mimpi itu datang lagi. Junghwa kembali ke tempat tidur, ia duduk bersandar headboard. Apakah itu sebuah peringatan? Atau hanya pemikirannya saja?

.

.

-TBC-

Author note :

Annyeong guys..! chapter 6 is up! ^^ masih pada nungguin ceritanya gak nih? Aku harap iya. Wkwkwk

Akhirnya aku udah mulai ngelanjutin tulisank lagi semenjak bulan lalu memutuskan untuk hiatus.. eheheh.. Jadi harap mengerti, ok? ^^

Dan— satu lagi petunjuk.! Bahwa sebenarnya gak ada kamera sama sekali yang dipasang di sekolah. Itu Cuma akal-akalan doang biar para murid patuh. Tapi jangan bilang siapa-siapa yah.. (?) #loh?

Hahaha.. see you guys next chapter.. 😀 jangan lupa tinggalkan jejak komen & like yahh.. love u (?)

INSTAGRAM: lovanita

TWITTER: @lovanita_

WATTPAD: morschek96 (tapi jarang dibuka wkwk)

Regard.

-morschek96

https://morschek96ff.wordpress.com (ganti URL blog ya.. kutambahin ‘ff’ doang kok)

 

Iklan

26 thoughts on “Xing Boarden [Chapter 6] – morschek96

  1. astaga berarti emang ada pembunuh yang berkeliaran di sekolah xing ini ya??
    apa pembunuh nya itu ada kaitannya sama pak kepsek? hmm penasaran nih kak^^ lanjut ah~~

  2. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 10] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: Xing Boarden [Chapter 9] – morschek96 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Diksinya bikin merinding ih.. Sumpah ya kenapa ff bagus kayak gini malah sedikit tanggapannya dibanding ff alay yg lain,, hmm semangat ya kak author lanjutin tulisannya 😎

  5. aq penasaran m kelompok yg ada pengikutnya itu deh dan siapa pemimpinnya apakah sehun ikut terlibat d tunggu chapnya thor☺☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s