[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 2

PhotoGrid_1480225269408.jpg

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                          : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 2

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating            : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

*Author POV*

 

“APA?! KAMPING MUSIM PANAS?!”

 

Begitulah koor tiga orang mahasiswa yang terkenal sebagai ‘trio gila’ yang terdiri dari Oh Sehun -pria tampan nan kaya juga punya banyak fans di kampus, Kim Jong In -penari terbaik di Yonsei yang terkenal pemarah, serta Lee Hyojin -gadis aneh yang tidak disukai kebanyakan mahasiswi.

 

“Aisshh!” sentak senior mereka, ia kesal karena teriakan tiga orang itu sudah membuat telinganya berdenging. “Santai saja! Dasar trio gila!”

 

Hyojin mengepalkan tangan kuat di belakang punggung. Meski senior, sebenarnya ia dan pria berambut gondrong itu masih satu angkatan, satu kelas, hanya beda umur. Hyojin, Jong In, dan Sehun memanggilnya senior karena pria itu belum juga lulus meski sudah enam tahun berkuliah.

 

“Ta-tapi kenapa kami harus ikut, sunbae?”

 

Hyojin berdesis pelan setelah mengucapkan kata terakhir, sebab ia sangat tak ikhlas harus menyebut pria tersebut sebagai seniornya. Ada beberapa pengalaman menyakitkan yang membuat Hyojin tak menyukai pria berjambang dengan wajah kusut seperti tak pernah mandi itu.

 

“Kenapa kau bilang?” senior itu tersenyum sinis seraya mendorong bahu kanan Hyojin dengan tangan kirinya, “Kau kan mahasiswa disini, patutnya ikut membantu senior kan?”

 

Jong In berdecak pelan lantas menimpali, “Tapi kami sudah hampir semester akhir, sunbae. Tak lama lagi juga ujian… dan jangan lupakan kuis dari ‘Madam Yoon’. Tak seharusnya kami ikut acara kamping bersama mahasiswa baru!” keluhnya, serta merta menyebut sang dosen dengan panggilan yang ia ciptakan sendiri.

 

Senior itu beralih mengintimidasi Jong In seperti halnya yang ia lakukan pada Hyojin tadi, mengeluarkan aura senioritas yang sangat Jong In tidak sukai. Hampir saja dia menghajar pria itu jika Sehun tak memegang pundaknya untuk mengingatkan konsekuensi apa yang bisa Jong In dapat karena berkelahi di area kampus. Lagipula, bisikan Hyojin soal ‘biaya ganti rugi dan rumah sakit mahal’ sudah cukup untuk membuat nyalinya menciut.

 

“Itu kan sudah jadi tanggung jawab kalian, ya kalian sendiri yang urus!. Pokoknya, kalian harus ikut menjadi panitia kamping minggu depan, mengerti?”

 

Hyojin menggeram pelan, mengumpat dalam hati karena sang senior yang tidak tahu diri dan menyusahkan dia serta dua temannya. Tapi dia tak punya pilihan lain. Ancaman senior itu tentang melaporkannya pada rektor lalu beasiswanya dicabut sudah cukup ampuh untuk membuat Hyojin berfikir dua kali agar tidak mencekik sang senior sampai mati. Toh tahun lalu dia hampir masuk penjara cuma karena dituduh sembarangan. Pelakunya? Tentu saja pria berwajah boros yang sedang berhadapan dengannya sekarang ini.

 

“Jangan lupa, persiapkan agenda untuk hari kedua kamping agar para anak baru itu tidak membuat ulah dengan pacaran seenaknya!, mengerti?”

 

“Kupukul juga kau nanti!” bahkan Sehun sampai sulit mengendalikan emosi. Beruntung ucapannya barusan hanya bisa didengar oleh Jong In serta Hyojin yang tersenyum samar sambil mengalihkan muka.

 

“Ka-kalau begitu sunbae, lebih baik kau segera ke gedung A sebelum dosen Kim marah-marah lagi. Kau tidak suka dengan omelan omong kosongnya kan? Ya kan?” Hyojin mengingatkan dengan nada -pura-pura- baik. Dia hanya ingin pria itu segera pergi, tak mau lebih lama memandang wajah menyebalkan tersebut. Beruntung pria itu mudah terkecoh dan segera mengiyakan perkataan Hyojin lalu pergi tanpa berpamitan.

 

Jong In menghela nafas berat, tangannya mengepal ke udara seraya tersenyum miris. “Padahal aku harus segera menuntaskan makalah dari madam Yoon!” keluhnya, menatap langit-langit dengan sendu.

 

“Yak! coba pikirkan lagi, Kang Hyung Nam itu pasti sangat membenci kita!” seru Hyojin dengan nada tak suka, “Senior gila uang itu pasti melakukan ini agar dia bebas dari tugas dan menyengsarakanku lagi!” gadis itu menyingsing lengan bajunya sampai ke siku. Memasang ekspresi paling bringas yang dia miliki.

 

“Kau mau apa?” tanya Sehun, meski tak sepenuhnya penasaran. Dia tahu betul jawaban apa yang akan Hyojin ucapkan, tapi tak ada salahnya basa-basi pada teman sendiri disaat sedang kesal seperti sekarang. Setidaknya itu yang ada dipikiran Sehun.

 

“Menghajarnya!”

 

Yah, tebakkan Sehun benar seratus persen. Harusnya dia mendapat penghargaan untuk pikiran cerdasnya. Itu juga yang sedang pria itu pikirkan setelah mendengar jawaban sahabatnya.

 

“Kau gila ya?!” Jong In menimpali, “Bukannya kau hampir masuk penjara karena membalas perbuatan Kang Hyun Nam sialan itu?. Kali ini kau mau dikeluarkan dari kampus huh?”

 

“Saat itu aku hanya sedang tidak beruntung, kalau aku menemuinya diluar kampus lalu membawanya ke tempat sepi dimana tak ada saksi mata… aku bisa membunuhnya dalam sekali pukul!”

 

Mulut Sehun dan Jong In terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apapun. Mereka terlalu takjub akan pemikiran konyol Lee Hyojin yang sudah masuk daftar hitam oleh senior mereka tadi, Kang Hyung Nam dari jurusan hukum yang juga tidak disukai banyak mahasiswa lain.

 

Sehun merangkul gadis disampingnya, “Sudahlah, tak baik menyimpan dendam. Sebaiknya kau cukup membenci satu orang saat masih hidup, dan kebencian itu cukup pada kakekmu saja.” Ujarnya menasehati, sekaligus menyindirnya dengan senyuman jahil yang paling tidak Hyojin sukai dari Sehun.

 

Gadis itu menepis tangan Sehun, menyodorkan tinjunya pada pria tampan tersebut sambil mengumpat tanpa suara. Sehun mundur teratur karena tak ingin Hyojin lebih marah dari ini sementara Jong In terbahak tanpa mempedulikan situasi. Ia bahkan lupa bahwa kelas dosen yang paling dia takuti, madam Yoon, sudah hampir dimulai.

 

“Hei! Hei!, bukankah lebih baik kalian susun agenda kegiatan yang Kang Hyung Nam pinta?”

 

Trio gila -ah, maksudnya Hyojin, Jong In, dan Sehun menoleh cepat begitu mendengar suara berat dibelakang mereka. Beruntung refleks Hyojin sedang tidak bekerja dengan baik sehingga kaki maupun bagian tubuh Chanyeol yang lain aman dari hantaman gadis yang tangannya cukup berotot itu.

 

“Oh, Park Chanyeol rupanya. Hendak menemui kekasih eoh?”

 

Ledekkan Sehun kembali membuat pipi Hyojin bersemu merah, tapi segera gadis itu tutupi dengan memalingkan wajah seraya berbalik badan untuk menghindari Chanyeol. Namun Jong In bertindak cepat, dia menangkap ransel yang sedang Hyojin kenakan, mencegahnya agar tidak melangkah lebih jauh.

 

“Arrghh! Kenapa sih?!”

 

Jong In terkekeh pelan sebelum menjawab, “Tidak mau menyapa kawan lama? -oops! Maksudku, cinta lama?” lalu kembali tertawa puas bersama Sehun, membiarkan Hyojin  semakin salah tingkah dan Chanyeol diam saja, entah tak mengerti apa yang tiga orang itu bicarakan atau sedang dalam mode ‘pura-pura bodoh’.

 

“Kudengar kalian akan ikut acara kamping musim panas tahun ini, benarkah?”

 

Pertanyaan Chanyeol menghentikan kejahilan Jong In dan Sehun sejenak.

 

“Benar, dan kau dengar sendiri kan ‘per-min-ta-an’ senior kami itu?. Kenapa? Kau mau ikut?. Kami bisa daftarkan namamu karena acara ini tergolong untuk umum.” Jawab dan tanya Jong In tanpa jeda.

 

“Kurasa tidak perlu.” Chanyeol tersenyum misterius, membuat Sehun-Jong In saling pandang bertanya-tanya apa maksud senyuman yang belum pernah dua pria itu lihat dari teman yang baru datang dari Thailand itu.

 

Hyojin memanfaatkan keadaan tersebut, ia bergegas kabur tanpa menunggu penjelasan apapun lagi dari pria bermarga Park itu. Beruntung dua sahabatnya tak menyadari kepergiannya, begitu pun dengan Chanyeol… mungkin.

 

***

 

Rombongan mahasiswa universitas Yonsei tiba di tempat perkemahaan. Beberapa mini bus berhenti, terparkir tak jauh dari tenda-tenda yang tergeletak di rerumputan hijau, menunggu untuk dipasang oleh peserta kamping musim panas.

 

Hyojin keluar dari salah satu mini bus, merenggangkan tubuhnya yang kaku selama perjalanan seraya menghirup udara segar ala pegunungan. Ia tersenyum seraya berfikir bahwa mengikuti acara konyol ini tak buruk juga, setidaknya dia bisa beristirahat dari segala tugas, ujian, makalah, atau apapun itu yang mengusik pikirannya.

 

“Oi! Lee Hyojin!”

 

Baru saja Hyojin ingin menikmati liburan, panggilan dari ketua panitia menghentikan khalayan indah gadis itu. “Ya, saya datang!” ujarnya malas-malasan.

 

“Kau bawa semua barang di bagasi ke tenda panitia!”

 

Hyojin melotot, tak menyangka sang ketua juga akan bersikap kejam padanya. Meskipun Hyojin -mungkin- sanggup melakukannya, tapi bukankah keterlaluan jikalau meminta -sebenarnya memerintah- seorang gadis untuk membawa barang yang sekarang memenuhi bagasi mini bus tersebut?. Terlebih lagi tanpa bantuan dari panitia lain yang seharusnya sudah siaga membantu para mahasiswa baru untuk mendirikan tenda. Bukannya malah bersantai diatas karpet besar dengan banyak makanan berjejer ditengah-tengah!.

 

*Hyojin POV*

 

Bagus! Sekarang aku dijadikan budak disini. Seharusnya aku tahu dari awal kalau ketua panitia bekerja sama dengan Kang Hyung Nam sialan itu untuk menjadikanku tawanan!. Manusia menyebalkan!, juga, dimana Jong In serta Sehun?! Kenapa cuma aku yang menderita?!.

 

“Hosh… aku tak sanggup… lagi… hosh…”

 

Kakiku melemah hingga tubuhku jatuh begitu saja diatas tanah berumput. Bukannya aku gadis manja, tapi bahkan seorang atlet angkat besi pun tak mungkin sanggup mengangkat koper-koper tak berguna ini dengan jarak yang cukup jauh dari tempat parkir.

 

“Lagipula, untuk apa para panitia yang jelas-jelas lebih muda dariku itu… membawa tas besar sialan ini?! memangnya kita akan kamping keluar negri huh?!… haaaaaahhh, rasanya kesal sampai mau mati!”

 

“Marah-marah cuma akan membuat energimu semakin terkuras.”

 

Eoh?! Apalagi ini?. Apa tak cukup ketua itu mempermalukanku didepan para junior?, lantas sekarang dia harus mengundang Park Chanyeol kesini pula?!. Bagus, lempar saja aku ke jurang sekalian!.

 

“Mau apa kau kemari?”

 

“Ketus sekali bicaramu. Heran, sejak aku kembali kau teruuussss saja emosi melihatku. Kenapa? Merindukanku membuatmu kesal ya?”

 

Huh?. Dia bilang apa barusan? Apakah alasan beberapa tahun dia menghilang tanpa kabar adalah untuk mempelajari sebuah gombalan tak bermutu?.

 

“Jangan banyak bicara omong kosong dan cepat bantu aku dengan tumpukan koper ini!”

 

Reaksi yang benar kan?. Aku tidak ingin Chanyeol menyadarinya, bahwa perkataannya tadi tepat sekali. Tidak, tidak, aku tidak mau secepat itu kembali mengakui perasaanku.

 

Dimana aku tahu bahwa dia dan Rae Mi masih memiliki perasaan itu…

 

“Daripada melamun, lebih baik kita sama-sama menuntaskan tugas dari ketua panitia menyebalkan itu kan?”

 

Aku menatap uluran tangan Chanyeol tanpa mengatakan apapun. Dalam hati tersenyum konyol, memikirkan bagaimana dulu kami bahkan tak sudi untuk saling bersentuhan. Atau ketika masih menjadi teman biasa dan tak mengetahui hubungannya dengan Rae Mi… aku tak perlu berfikir dua kali untuk menyambut uluran tangan itu.

 

Benar, antara dia dan Rae Mi sudah berakhir. Tapi itu menurut Rae Mi, mungkin tidak bagi Park Chanyeol. Sebab, kemarin aku masih bisa melihat tatapan matanya yang berbeda jika memandang mantan kekasihnya tersebut. Ah salah, bahkan belum ada kata putus diantara mereka. Jadi, tak salah kan kalau aku menjaga jarak seperti ini?.

 

Tapi, bukannya aku pernah bilang pada Chanyeol bahwa aku menyukainya?, lalu dia memintaku untuk menunggu sampai dia mendapat jawabannya sampai pergi ke Thailand untuk beberapa lama. Iya… seharusnya aku tak perlu bersikap tak acuh terhadap Chanyeol.

 

Penantianku sudah seharusnya terbayar… kan?.

 

Kusambut uluran tangan Chanyeol, sehingga dia bisa menarikku agar segera bangun dan kembali mengangkat koper-koper super berat ini.

 

“Kupikir, kau sangat marah sehingga tak mau melakukan skinship.” Candanya saat mengangkat satu koper dengan kedua tangan, berjalan beriringan denganku yang menyeret dua tas besar berisi seragam olahraga panitia.

 

“Seharusnya begitu…” lirihku, tanpa melihat langsung kearah Chanyeol.

 

“Apa? Kau bilang apa tadi?”

 

Aku pun menoleh padanya, menjawab pertanyaannya dengan senyuman paling cerah.

 

“Aku cinta padamu.”

 

“A-apa?”

 

Senyumanku berubah menjadi seringaian.

 

“Angkat yang benar!, dasar lemah!” ejekku yang lantas memukul Chanyeol dengan salah satu tas ditangan.

 

Pria itu terjerembab ditanah dengan posisi miring, merintih kesakitan memegang lengan kirinya. Berlebihan sekali sih, jatuh begitu saja kan tidak mungkin membuatnya patah tulang!.

 

“Bangun!” seruku menendang kaki panjangnya, “Yak Park Chanyeol!”

 

Dia tak mencoba untuk bangun, cuma mengerang seperti orang yang kehilangan salah satu tangannya.

 

“Yak, jangan bercanda seperti ini… menakutiku saja…”

 

“Siapa yang bercanda?! Ini benar-benar sakit!”

 

Aku berjongkok, membalikkan posisi tubuhnya menjadi berbaring, hendak mengecek keadaan tangan kiri yang sedari tadi Chanyeol pegangi. Tapi baru menyentuhnya, Chanyeol sudah berteriak tak karuan, membuat telingaku sakit dan jantungku memompa lebih cepat. Aku takut, bagaimana kalau Chanyeol benar-benar patah tulang?.

 

“Ba-bagaimana ini?!. Aigoo! Aku harus bagaimana? Bagian mana yang sakit?… omo Chanyeol-ah… aduh aku harus bagaimana?!”

 

Disaat seperti ini aku tidak bisa berfikir jernih. Kepalaku penuh dengan erangan kesakitan Chanyeol serta tangannya yang sedikit memar. Separah itukah? Apa dia akan diamputasi gara-gara diriku?. Bodoh kau Lee Hyojin! Bagaimana bisa membuat orang lain terluka padahal dia sudah bersedia membantumu!.

 

“Yak! yak! yak!, daripada menangis seperti itu lebih baik cepat panggil petugas kesehatan!”

 

Aku? Menangis? Sejak kapan?.

 

“Hyojin-ah… tak perlu khawatir, lebih baik kau panggil petugas kesehatan, oke?. arrgghh… dengan keadaan seperti ini… ugh… aku tak bisa berteriak keras…”

 

“O-oke… kau tunggu disini. Bi-biar aku yang pergi…”

 

Kudengar tawa Chanyeol disela rintihannya. Dia sudah gila ya?.

 

“Dasar bodoh, memangnya aku bisa pergi kemana dengan keadaan seperti ini… ugh.”

 

Aku mendengus kesal, masih bisa ya bercanda?.

 

*Author POV*

 

Hyojin menunduk dalam, tangannya mengepal kuat sambil sesekali mengusap air mata yang tak ia ketahui kenapa masih membasahi pipinya. Ia menyesali perbuatannya serta menghindari tuli di usia muda karena mendengar omelan ketua panitia yang terus berteriak padanya sejak Chanyeol dibawa ke pos kesehatan.

 

“Kenapa bisa bercanda disaat ada tugas huh?!. Kau pikir ini permainan? Kau sudah merasa hebat Lee Hyojin?”

 

Pria bertubuh tinggi-besar itu berjalan bolak-balik, memijit pelipisnya seraya menggerutu tak karuan dengan bahasa kasar. Panitia lain tidak mau ikut campur, mereka memilih menjauhi tenda tempat Hyojin dimarahi atau setidaknya berjaga diluar, siapa tahu sang panitia kehilangan akal lalu melakukan ‘tendangan tornado’ pada Hyojin.

 

“Kita bahkan belum menyelesaikan kegiatan pertama!, KENAPA KAU MALAH MENGACAU LEE HYOJIN?!”

 

Hyojin bergeming, matanya menatap lurus pada tanah dibawah kakinya, menghela nafas panjang saat memikirkan keadaan Chanyeol. Dia sama sekali tak takut pada wajah bringas, tubuh gempal, maupun teriakan mengintimidasi sang ketua. Hyojin tidak peduli. Gadis itu mendongak, menghadap ketuanya dengan pipi sembab bekas tangisan yang masih belum bisa Hyojin mengerti alasannya.

 

“Ketua aku minta maaf, tapi kalau boleh tahu dimana tenda milik Chanyeol?”

 

Dua orang panitia yang berjaga diluar mendelik heran, salah satunya bahkan menutup mulut agar tak mengganggu jalannya ‘eksekusi’ Lee Hyojin yang nekat. Gadis itu bahkan tak marah ketika sang ketua menarik kerah Hyojin kuat-kuat.

 

“Kau mau mati huh?”

 

Menyalin kedipan mata polos ala Kang Rae Mi, Hyojin tak melakukannya pada pria besar didepannya.

 

“Tidak, aku mau tahu tenda Park Chanyeol. Bukan mau mati-”

 

Tanpa menunggu penjelasan lebih dari Hyojin, pria itu menyeret Hyojin keluar tenda, melewati panitia yang berjaga, bahkan mempertontonkan kelakuannya terhadap para mahasiswa baru yang sedang mendirikan tenda. Akibatnya mereka saling berbisik, membicarakan pemandangan tak lazim yang terpampang didepan mata. Beberapa juga merasa kasihan pada Hyojin yang harus menyeimbangkan tubuh serta langkahnya agar tak terjatuh.

 

“Ketua! Apa-apaan ini?!” seru Hyojin tak terima, ia berusaha melepaskan pegangan pria itu dari kerah bajunya tapi percuma, tak mudah menghadapi seorang master taekwondo.

 

Sang ketua mendatangi dua orang pria yang sedang mengutak-atik kardus berisi properti untuk pertunjukan di hari terakhir perkemahaan. Sambil tangan kiri menarik Hyojin, tangan kanannya yang bebas meraih borgol yang tergeletak disamping kaki dua orang pria tadi, Hyojin sampai harus ikut menunduk karena pegangan sang ketua yang begitu erat.

 

“Ke-ketua!” panggil Hyojin sedikit gemetar, “Aku minta maaf, oke?. Ta-tadi aku hanya bercanda!, jadi, mari hentikan ini!”

 

“Tidak ada yang perlu dihentikan.” Ujar pria itu dingin, “Kita sudah sampai.” Akhirnya ia berhenti didepan sebuah tenda berwarna biru, menjadi satu diantara tiga tenda yang sudah berdiri di area kamping universitas Yonsei.

 

Hyojin kembali diseret, ia dipaksa masuk kedalam tenda tersebut lalu dilempar sampai jatuh menabrak tas besar dipojok tenda. Gadis itu meringis, memegangi lututnya yang berdenyut karena kerikil yang belum dipindahkan. Sebelum dia melihat pria berbalut perban ditangan, sang ketua segera menarik tangan kiri Hyojin, memasang borgol padanya serta pada pria dengan perban tersebut. Hyojin melotot pada besi yang tengah melingkar ditangannya dan tersambung dengan tangan kanan Chanyeol.

 

“Tunggu! CHANYEOL?!”

 

Chanyeol menutup mata ketika Hyojin berteriak kearahnya, mendengus pasrah karena tak bisa menggunakan kedua tangannya untuk melindungi indra pendengarannya.

 

“Kenapa terkejut?. Bukannya kau yang ingin menemuinya?” Hyojin menoleh pada ketua yang tengah berbicara sambil berkacak pinggang, “Dengan ini kau bisa terus bersamanya kan?. Hyojin-ah, seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah membantumu bersama pria ini. Aku adalah orang yang baik hati!”

 

Baik Hyojin maupun Chanyeol mendelik karena perkataan pria yang masih memakai jaket almamater Yonsei itu.

 

“Lee Hyojin, kau sebaiknya merawat Chanyeol baik-baik karena kau yang sudah membuatnya terluka. Dan Chanyeol, anggap saja ini service tambahan dariku sebagai kawan lama, oke?. Cha!, setelah ini mari kita lanjutkan kegiatan kamping dengan khidmat!”

 

***

 

Hyojin memukul kepalanya dengan sendok ketika beberapa orang mulai menatapnya serta berbisik membicarakan hukuman yang ia dapat dari pemimpin orang-orang yang disebut panitia itu. Chanyeol mengambil sendok ditangan Hyojin, merasa kasihan dengan benda yang tak tahu apapun namun malah digunakan sebagai pelampiasan emosi. Sama seperti keadaannya sekarang.

 

“Seharusnya aku yang lebih stress. Aku bahkan tidak tahu apa salahku, kini malah terjebak dengan borgol seperti ini!” ucap Chanyeol seraya mengangkat tangan kanannya yang terhubung dengan tangan kiri Hyojin.

 

Sehun tersenyum miring disamping Hyojin, melahap sesendok nasi sambil berusaha menahan diri agar tidak menertawakan Hyojin.

 

“Aku kan sudah mengingatkanmu agar tidak cari masalah dengan ketua Jang.”

 

“Yak Oh Sehun, lebih baik kau tetap diam.” Titah Hyojin yang kembali memukulkan kepalanya, kali ini pada meja panjang tempat para peserta kamping berkumpul untuk menikmati makan malam.

 

“Kudengar, rombongan kedua akan segera tiba. Berarti Yongguk, Himchan, Jun Hong, dan Rae Mi juga akan berada disini kan?”

 

Meski berada disebrang, Hyojin berusaha memukul Jong In dengan sumpitnya padahal sia-sia saja karena jarak mereka terlalu jauh. Tapi Hyojin tidak peduli, ia cuma ingin mengeluarkan emosinya yang kembali naik setelah Jong In bicara melenceng dari pembahasan saat ini, hukuman Lee Hyojin.

 

“Kenapa pemarah sekali sih?, maksud Jong In kan baik. Dia mengatakan itu agar kau bisa bertemu dengan sahabat karibmu itu… juga Bang Yongguk. Kau pasti senang bisa bertemu pria itu lagi setelah seharian berpisah.” Chanyeol kembali merebut sumpit ditangan Hyojin.

 

“Bicara apa sih?! Melawak ya?” sungut Hyojin.

 

Sehun terkekeh setelah menghabiskan jatah makan malamnya, ia duduk menghadap pada Hyojin seraya mengelus kepala gadis itu.

 

“Anak manis… pacarmu itu cuma cemburu. Dia bilang begitu karena tak suka kau dekat dengan pria lain.” Godanya sambil melirik pada Jong In agar ikut melancarkan aksi jahilnya.

 

“Benar. Anggap saja ketua Jang itu benar-benar baik hati, sampai hukuman pun disesuaikan dengan orang yang tangah dimabuk cinta! Hahahaha!” setelah berkata demikian, ia melakukan tos dengan Sehun dan tertawa bersama.

 

“Bisa tidak sih, sehari saja kalian tidak melakukan itu?”

 

Sehun menaikan kedua alisnya, “Melakukan apa?. Kau suka sekali bicara ambigu!”

 

“Benar.” Timpal Jong In, “Awas kekasihmu makin cemburu loh!”

 

Keduanya makin mengeraskan suara begitu Hyojin memasang muka sebal. Gadis itu menghela nafas, kemudian menoleh pada Chanyeol yang tak bersuara. Rupanya pria itu sibuk menggunakan tangan kirinya yang dibalut perban untuk menyendok sup rumput laut. Hyojin mulai kasihan, sekaligus berfikir kalau Chanyeol itu bodoh. Sudah tahu sulit, ditambah tangan kanannya diborgol tapi malah sok bisa makan sendiri tanpa bantuan orang lain.

 

“Yak! yak! yak!, makan ini!” ujar Hyojin yang menyodorkan sesendok nasi kemulut Chanyeol. Pria itu menolak dengan menggelengkan kepalanya, Chanyeol menunjuk sup rumput laut didepannya, menegaskan pada Hyojin bahwa dia menginginkan sup tersebut.

 

“Yak! hanya karena itu makanan kesukaanmu kau jangan sampai tak mau makan yang lain!” Hyojin masih bersikeras meminta Chanyeol memakan nasinya.

 

“Whooo kau sampai tahu apa makanan kesukaannya!”

 

“Wah! Perhatian sekali~”

 

Hyojin hanya memutar bola matanya tak acuh, bahkan tidak mau repot menoleh atau memberondong dua teman laki-lakinya itu dengan pukulan, tendangan maupun makian. Dia masih menghadap Chanyeol, menatap tajam pria itu agar bersedia membuka mulut untuk sesendok nasi ditangannya. Akhirnya Chanyeol menyerah, dengan lesu dia melahap nasi tersebut. Hyojin tak sekejam itu sampai mengabaikan obsesi Chanyeol pada sup rumput laut. Gadis itu kembali menyuapkan sesendok kuah sup beserta rumput lautnya kepada Chanyeol.

 

Cha, kau juga boleh menghabiskan sup milikku.”

 

Jong In memutuskan pergi sebelum menjadi orang ketiga, ia juga mengajak Sehun yang tadinya hendak menggoda Hyojin kembali. Pria berkulit kecoklatan itu merasa dua pasangan yang baru bertemu setelah sekian lama itu butuh waktu berdua. Namun baru beberapa melangkah, dua buah mini bus berhenti tepat didepan keduanya. Hampir saja Jong In tertabrak salah satu mini bus tersebut jika Sehun tak sigap menarik jaketnya.

 

“Pak supir!, kau tak lihat ada manusia disini?. Kalau aku mati bagaimana?!” keluh Jong In pada sang supir yang cuma meliriknya sekilas lantas mengatakan kalimat kejam yang menyakiti perasaan Jong In.

 

“Aku bahkan tidak bisa melihat bayanganmu, terlalu hitam!”

 

Sontak Sehun terbahak sampai memukul-mukul kakinya sementara Jong In melongo karena ucapan dingin supir bis itu.

 

A-ajhussi… bukankah menggunakan kata gelap lebih baik untuk mendeskripsikan jalanan disini?. Ka-kata hitam terlalu berlebihan…” Jong In memegang dada sebelah kiri, merasa serangan jantung mendadak karena sebuah kalimat.

 

“Sudah jangan berlebihan.” Ujar Sehun, merangkul  pundak Jong In seraya menatap pak supir dengan hangat. “Ajhussi! Kalau mau kopi anda bisa datang ke tenda panitia. Atau… segelas soju?”

 

Senyuman pria paruh baya itu langsung merekah. Ia turun dari bis lantas menghampiri Sehun seperti teman lama yang baru bertemu.

 

Aigooo selain tampan kau juga baik, mengerti sekali dengan perasaan paman ya!. Euh, tapi aku masih harus menyetir…” pria itu berfikir sejenak sebelum kembali tersenyum seraya menepuk bahu Sehun dengan semangat, “…tak masalah! Aku bisa menginap disini sekalian. Hahahahaha!” lalu pergi menuju tenda panitia yang Sehun maksud.

 

Jong In menatap heran supir bis tersebut, hendak mencacinya habis-habisan, tapi dia masih tahu tata karma. Lagipula ada yang lebih penting daripada mengurusi ‘tuan ahli mengemudi dengan usia lima puluh tahun lebih’ itu.

 

“Wah~ penyambutan yang bagus, budak-budak!”

 

Sehun mengikuti arah pandangan Jong In yang kini menatap malas Jun Hong yang baru turun dari bis, memasang seringaian kejam yang dia pelajari dari Yongguk. Dimana bukannya terlihat menyeramkan, malah imut dimata wanita yang menjadi penggemarnya.

 

“Anak itu masih belum belajar sopan santun.” Ujar Sehun dan Jong In bersamaan.

 

Dibelakang Jun Hong ada Himchan yang melambai ala model terkenal, membuat para gadis yang bergerombol dibelakangnya saling dorong sampai hampir jatuh. Setelah gadis-gadis penggemar itu turun, muncullah Rae Mi dan Yongguk yang nampaknya tengah berdebat tentang sesuatu yang tidak Sehun-Jong In ketahui. Sepertinya mempermasalahkan sesuatu yang serius sampai ekspresi keduanya nampak tegang.

 

Namun meski begitu, Yongguk masih mau mengulurkan tangannya untuk membantu Rae Mi yang kesulitan menuruni tangga akibat rok panjang yang ia kenakan.

 

“Ada apa sih serius sekali?” tanya Jong In pada Himchan-Jun Hong yang sibuk bermain ponsel.

 

“Mereka mempermasalahkan siapa yang lebih keren, H.O.T atau Sechskies.” Jawab Himchan sambil mengambir gambar dirinya lewat ponsel.

 

Jong In mendengus, “Wah, satu pasangan konyol lagi!”

 

“Kurasa Hyojin sudah mempengaruhi pikiran keduanya.” Timpal Sehun.

 

“Apa? Siapa yang mempengaruhi siapa?”

 

“Hyojin-ah!”

 

Rae Mi menghambur ke pelukan Hyojin tanpa menyadari keberadaan Park Chanyeol dan borgolnya. Baru setelah gadis bermuka polos itu melepas pelukan, serta pertanyaan dari Yongguk yang keheranan, mampu menyadarkan yang lainnya soal tangan Hyojin dan Chanyeol.

 

“Apa-apaan borgol itu?” tanya Yongguk tanpa ekspresi.

 

Hyojin melotot lalu menoleh pada Chanyeol yang langsung memutar arah pandangan Hyojin karena ia tak suka melihat betapa lebarnya mata gadis itu jika sedang terkejut.

 

“Apa kalian sedang bermain penjahat dan polisi?” giliran Rae Mi yang bertanya dengan lugunya.

 

“Euh… sebenarnya kami…”

 

“Aisshh cepat jawab!” Jun Hong memotong tak sabaran.

 

“Gadis ini mematahkan lenganku dan diborgol sebagai hukuman dari ketua panitia.”

 

“Ooh -APA?!”

 

 

~To Be Continue~

 

Ugghhh maaf kalau kurang memuaskan, soalnya saya sedikit kesulitan pas bikin narasi yang lucu tapi nggak absurd. Maaf juga kalau ada salah kata karena dikerjainnya pake sistem kebut semalam jadi mohon maklumi jika banyak typo atau salah kata bertebaran.

 

Euuummm entah gimana responnya tapi… silahkan RCL Juseyoooo~~~

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 2

  1. sehun kai jangan godain hyojin lg nak…kasian…
    dia sdh menyimpan kesakitan tersendiri krna chanyeol yg gk jelas perasaannya… hahahaha bak emak” nyeramahin anak”nya
    serius aku kasian sma hyojin.. hyojin fighting.. author-nim fighting..

  2. Ahhh aku udah kangen banget sama the one person is you ..
    aku baru baca chapter 2 kemarin chapter 1 nya gak nemu hilang gitu aja.
    tapi syukurlah chapter ini gak ada halangan 😀
    hyojin itu punya kekuatan tangan seperti tyson ya kok chanyeol sampe patah tulang wanita super sekali diaa..
    kangen sehun,jongin :*

    ciee lebih di dekatkan lgi Rae mi sma yongguk nya.. biar chanjin anteng berdua 😀 chanyeol udah move on kan sama rae mi !
    apa kabar yonghwa ? 😀

  3. Kyknya baru kmaren baca chap 1,, lahh udah ada chap 2 :v Syukurlah kkkk
    Suka’ pas bagian sehun sm jongin lagi ngeledek chanjin,, apalagi hyojin asssh
    Jadi kasian sm hyojinn, krn dia tau cy msh cinta sm raemi 😥
    Kerenn. . Panjangin lagi dong kak 😀
    Fast update, please!
    Ditunggu next chapnyaaa 🙂 fighting!!

  4. Hwa……………..So Sweet deh,kok seniornya Hyojin itu kya sengaja ya meborgol Ceye ama Hyojin,apa itu memang permintan y ceye udah rencanain,hwa……….DAEBAK AUTHORNIM JJANG kok trio gila itu ampe buat masalah kya gitu amat,dan knp juga sehun ikut2an,pdahalkn dia itu suholangkaya wkwkwkw,hah gokil lucu plus ga masuk akal,mereka semua sebenernya bego apa bloon semua ya Hahahahahahahahaha 🙂 😦 😉 😛 😀 :-O *^_^* beginilh yang kurasakan campur aduk

  5. ah,knp harus ada kata tbc ? Pada hal lagi seru* x. Tlng cpt di next dong author lee, dan klo bsa crta x di panjangin lagi biar tambah seru… Fighting author lee

    2016-12-08 22:40 GMT+08.00, EXO FanFiction Indonesia

  6. Aku suka scane tiga sahabat itu, bener2 bikin iri, udah gitu keliatan banget emang ga tau dirinya si hyojin wkwwkk *dijambak hyojin* tapi serius loh kak aku beneran suka sama karakter 3 sahabat itu meskipun kadang kebangetan gilanya mereka hahaa
    Well yang paling bikin aku teriak gaje ditengah malem itu pas hyojin bilang ‘aku cinta padamu’ ke chanyeol, terus pas bagian hyojin nyuapin chanyeol jugaaa. Kebayang ga sih dengan segala penggambaran sifatnya hyojin, dengan tindak tanduk selenge-annya itu aku ga nyangka kalo dia bakalan nyuapin chanyeol -terlepas dari fakta tangannya chan diperban dan tangan kanan nya diborgol- tapi yaa menurut aku ini suatu kemajuan?/ buat hubungan mereka hehe
    Semangat kak lanjutinnyaaa ^^ ~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s