[EXO FREELANCE] memory (Chapter 1)

pictM.jpg

Memory (Chapter 1)

Author : Bluesky

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Cast : Oh Sehun, Kim Jenny & Park Chanyeol

Genre : Soft-romance

~Karya asli dari pemikiran Author (tweet : @sky_myblue)~

 

Butiran salju tipis perlahan menuruni kota seoul di pagi hari, udara mulai terasa dingin di sekitar kota tersebut namun tak menurunkan setiap semangat orang-orang yang ingin melihat salju atau biasa di sebut salju pertama yang turun dan memberikan kesan kebahagiaan bagi setiap orang.

 

Perlahan kedua pasang mata itu terbuka, ia belum dapat melihat jelas. Hanyalah kesan putih yang ia lihat, perlahan ia kembali mengerjap hingga ia dapat melihat sekelilingnya.

 

Yeobo, Jenny sudah sadar” terdengar suara wanita paruh baya di ujung pendengarannya.

 

Wanita paruh baya tersebut menghampiri gadis yang terbaring lemah di atas ranjang, ia mengusap puncak kepala gadis itu dengan perlahan “Jenny-ah” panggilnya dengan lembut dan terkesan layaknya nada khawatir.

 

Gadis itu tak bisa mengeluarkan suara apapun, lidahnya seperti kelu dan kaku. Hanyalah jemarinya yang dapat ia gerakkan untuk sementara “Ini ibumu nak” ujarnya lagi.

 

Gadis yang bernama Jenny itu kembali mengerjap, mencoba mencerna apa yang dilihat dan didengarnya. Lelaki yang bertubuh jangkung dan berambut agak putih menghampiri Jenny “Aku harus memanggil dokter”

“cepatlah panggil dokter, Jenny tak menjawabku”

“Ibu?” gadis itu pun akhirnya bersuara “Apa kau ibuku?”

Langkah lelaki paruh baya itu pun terhenti, berbalik dan tak percaya apa yang didengarnya “Ya, aku ibumu. Apa kau tidak mengingatnya?”

 

“Akan kupanggil dokter sekarang”

****

Seorang lelaki jangkung yang menggunakan jubah putih serta stetoskop yang tergantung dilehernya sedang memeriksa Jenny, tak butuh waktu yang lama ia memeriksa gadis itu. Ia mendengus perlahan sedangkan kedua orang tua Jenny tak sabar mendengar perkataan dokter tentang keadaan Jenny.

“dia mengalami amnesia dan kurasa agak sulit baginya untuk mengingat kembali” ujarnya.

Ibu Jenny mulai mengerjap tak percaya, “Apakah separah itu?” Tanya Ayah Jenny.

“Ini semua akbiat benturan keras mengenai kepalanya, tetapi mungkin jika dilakukan terapi sedikit demi sedikit dia akan mengingatnya” ujar kembali dokter itu.

 

Terlihat perasaan legah dari raut wajah kedua orang tua Jenny setelah mendengar perkataan dokter. Mereka pun beralih menatap Jenny yang pandangannya terpanah oleh salju tipis yang berjatuhan dari luar jendela, “Tapi tak kurasa dia bisa kembali sadar setelah satu tahun koma, ini adalah keajaiban”

“anda harus bersyukur, dia gadis yang kuat” kata dokter itu pada Ayah Jenny.

 

Tak berselang lama dokter meninggalkan ruangan, Ayah dan ibu Jenny menghampiri gadis itu dengan tersenyum lembut. “Jenny-ah, apa kau merasa baikkan?” ujar sang Ibu sambil mengambil tangan Jenny dan mengusapnya dengan perlahan. “Ya” jawab Jenny singkat, “Syukurlah kalau begitu” Ayah Jenny mengusap puncak kepala gadis itu dengan perlahan membuat Jenny merasakan kenyamanan yang ia rasa sangat dirindukannya.

 

Jenny mulai melihati sekelilingnya, ruangan yang luas dengan nuansa putih. Pohon-pohon kecil yang ada di sebuah pot terletak di sudut ruangan, sofa berwarna putih yang menghadap pada sebuah televisi dan terletak didekat jendela besar tepat di sampingnya. Ia mengerjap dengan perasaan bingung “Apa ini kamarku?” tanyanya.

Ibunya mengangguk kecil dan tersenyum “tentu saja, ini adalah kamarmu”

 

Sayangnya gadis itu tak dapat mengingat apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kehidupannya pada saat yang lalu? Dan yang terpenting siapa dirinya yang sebenarnya?

 

****

Jenny menurunkan kakinya menyentuh lantai yang membuatnya merasa sedikit aneh, entahlah mungkin karena ia sudah lama tak berjalan dan hanya terbaring terus di atas ranjang. Ia mulai melangkah perlahan dan dituntun oleh ibunya sambil memegang lengan Jenny “tenanglah, kau bisa berjalan perlahan saja” ujarnya dengan nada lembut. Jenny pun tersenyum dan kembali melangkah menuju pintu putih besar yang terbuka lebar, hingga ia tiba di ambang pintu dan memandang lurus ke depan.

 

“Selamat pagi nona” sapa beberapa orang yang telah berjejer di depan Jenny sambil membungkuk dan kemudian tersenyum ramah pada gadis itu. Alis Jenny berkerut samar melihati beberapa orang dengan pakaian seragam hitam putih yang rapih, seorang lelaki bertubuh agak gemuk dengan rambut yang mulai memutih serta empat wanita paruh baya.

 

Jenny hanya bisa tersenyum kaku dan juga ikut membungkuk, berbalik menatap ibunya berharap ia diberitahu tentang beberapa orang yang tengah berjejer di hadapannya.

“mereka adalah pelayan di sini, biasanya kau memanggil mereka ahjumma dan ahjussi” kata ibunya berusaha menjelaskan.

 

Jenny kemudian mengangguk seraya mengerti, ibunya kembali menuntun gadis itu di setiap sudut rumah mereka. Mengenalkan nama beberapa pelayan di rumah itu, membawanya di setiap ruangan serta di halaman luar rumah yang sangat luas layaknya taman. Jenny merasa sangat tak asing dengan lingkungan itu, ia merasa sangat mengenalnya tetapi ada sesuatu yang hilang dalam benaknya. Entahlah itu apa tetapi mungkin gadis itu akan mengingatnya kembali kelak.

 

Disela Jenny menikmati udara segar serta pemandangan indah di mana salju menyelimuti sebagian rerumputan hijau dan pohon-pohon, seorang wanita paruh baya mendatangi Ibu Jenny dengan menyodorkan sebuah ponsel kepadanya “Nyonya, ada telepon dari tuan Park Chanyeol” ujar Ahjumma itu.

Ibu Jenny tesenyum lebar, meraih ponsel tersebut dan mendekatkan ke telinganya. Jenny hanya bisa terdiam dan bertanya-tanya, siapa yang berbicara dengan ibunya? Tetapi ia menepis pemikirannya dan kembali mengalihkan pandangan ke tempat lain.

 

“Ya, dia sudah sadar” kata Ibu Jenny pada seseorang yang menelponnya di ujung sana.

“Tentu saja, kau bisa datang sekarang” Ia tersenyum dan kemudian memutus sambungan teleponnya.

 

“Ibu berbicara dengan siapa?” Tanya Jenny

Ibu Jenny mengusap rambut hitam gadis itu yang terasa lembut “Kau akan tahu, sebentar lagi dia akan datang makan siang bersama kita” ujarnya sambil tersenyum.

Jenny mengangguk mengerti “Ayah di mana?” Lanjutnya lagi mengganti topik

“dia sedang bekerja, mungkin larut malam dia akan pulang”

Mata Jenny menyipit “Apakah Ayah sesibuk itu?”

“Tentu saja dia sangat sibuk, Ayahmu kan seorang direktur” jelas Ibu Jenny.

 

Jenny kembali berpikir, ayahnya seorang direktur? Setidaknya ia mengetahui sedikit tentang keluarganya. Menurutnya sangat aneh tiba-tiba bangun dipagi hari setelah satu tahun terbaring si atas ranjang dan tanpa mengingat apapun, bahkan kegiatan kesehariannya pun ia tak mengingatnya. Aneh bukan?

“Ayo kita masuk, udara di luar sangat dingin” kata ibu Jenny sambil mengusap kedua telapak tangannya dan menuntun Jenny untuk segera memasuki rumah.

 

****

Mata Jenny terbelalak hingga tak dapat berkedip, aroma sedap merasuki indra penciumannya. Dihadapannya kini telah tersodor berbagai makanan lezat dan gadis itu tak sabar ingin menyantapnya, tentu saja ia butuh energi setelah sekian lama ia tidak menyantap makanan lezat.

 

Gadis itu pun melangkah perlahan menuju meja makan dan disambut senyuman hangat dari seorang Ahjumma yang biasa memasakkan hidangan untuk keluarga Kim. “Selamat siang nona” ucapnya sambil membungkuk pada Jenny.

Jenny terlihat kikuk, dan ikut membungkuk juga. “apa Ahjumma yang memasak semua ini?” Tanya Jenny dan dibalas anggukan kecil dari wanita paruh baya itu.

“Selamat menikmati hidangannya nona” ucapnya sambil membungkuk lagi dan hendak pergi meninggalkan gadis itu.

“Tunggu!..” Tegur Jenny tiba-tiba dan membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya serta berbalik “Siapa nama Ahjumma? Biasanya aku memanggil Ahjumma dengan sebutan apa?” Tanyanya bertubi-tubi.

Ahjumma itu pun tersenyum, merasa bahwa gadis itu telah kembali pada sifatnya seperti sebelumnya “Saya Song Yeji, biasanya nona memanggil saya Yeji Ahjumma” jelasnya.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum lebar “baiklah akan kuingat itu”

 

Ahjumma itu pun berbalik dan meninggalkan Jenny, tak berselang lama Ibu Jenny memasuki ruang makan dan tersenyum melihat Jenny yang sudah terduduk manis siap menyantap makanan di hadapannya “Apa kau sudah mandi?” Tanya Ibunya.

Jenny berbalik, berdiri dan tersenyum serta memperlihatkan baju dress selutut yang dikenakannya “Tentu saja sudah, aku memakai baju ini dan sangat nyaman” ujarnya.

“Itu baju kesukaanmu yang sering kau kenakan”

“Benarkah?” Tanya gadis itu tak percaya dan hanya di balas anggukan oleh ibunya.

“Makanlah, kau pasti sangat lapar”

 

Jenny kembali mengannguk, mengambil sebuah sendok dan garpu menandakan bahwa ia siap untuk menyantap makanan. Namun seketika gerakannya terhenti “Ibu, bukankah ada seseorang yang akan datang makan siang bersama kita? Yang menelpon bersama ibu tadi?”

Ibu Jenny tersadar dan seklias melirik jam dinding “Oh iya, mungkin sebentar lagi dia akan datang”

 

“Memangnya siapa dia?”

Ibu Jenny tersenyum lebar dan menghampiri gadis itu “Dia Park Chanyeol, tunanganmu”

Gadis itu tak percaya apa yang didengarnya, mencoba mencerna maksud dari perkataan ibunya “Tunanganku? Aku punya tunangan?”. Ibu Jenny kembali mengangguk.

 

Tunangan? Apa maksudnya? Bukankah dia masih sangat muda?

“kau pasti terkejut, tapi itulah kenyataannya. Bukannya ibu menyuruhmu untuk menikah tetapi lelaki yang ibu percayai untuk menjagamu hanyalah dia” Jelas Ibu Jenny.

 

“Ah, begitu. Apakah dia baik?” Tanya Jenny lagi

“Tentu saja, bahkan kalian dekat” balasnya sambil tersenyum

 

Disela-sela pembicaraan mereka, seorang Ahjumma menghampiri Ibu Jenny dan membungkuk “Tuan Park Chanyeol telah tiba nyonya”

Jenny pun mengalihkan pandangan, melihat sosok lelaki jangkung berdiri tepat di belakang Ahjumma dengan mengenakan pakaian kemeja berwarna biru yang rapih serta dasi biru navy yang dikenakannya. Lelaki itu melangkah dan membungkuk pada Ibu Jenny, serta tersenyum lebar yang membuat benak Jenny berkata bahwa lelaki ini cukup tampan.

“kemarilah, kau belum makan siang kan?” Tanya ibu Jenny pada lelaki itu dan dibalas anggukan kecil. Mereka pun menuju meja makan dan Jenny tak dapat mengalihkan pandangannya dari lelaki jangkung itu hingga mata mereka bertemu untuk beberapa saat semua terasa kaku dan hening.

“Jenny” ucap lelaki bernama Park Chanyeol itu dengan lirih

“dia tidak mengingat apapun, tetapi aku sudah memberitahunya siapa kamu”

Chanyeol hanya tersenyum “tidak apa, mungkin kita bisa berkenalan ulang” katanya, suara berat itu memang terdengar tak asing bagi Jenny, tetapi ia tak dapat mengingat sama sekali siapa lelaki dihadapannya kini.

 

Tak banyak yang bisa dikatakan Jenny, ia hanya menjawab seadanya jika ibunya bertanya di sela-sela makan siang mereka. Gadis itu hanya bisa tertunduk dan berpikir tentang lelaki yang bernama Park Chanyeol itu, Ia telah mengetahui bahwa lelaki itu terlihat sangat ramah dan murah senyum bahkan parasnya yang rupawan membuat siapapun pasti menatapnya dengan berbinar.

 

Tak butuh waktu yang lama mereka menyantap makan siang, Ibu Jenny dihampiri oleh seorang Ahjussi Supir pribadinya. “Ibu harus pergi, kalian bisa berbicara berdua di ruang tengah”

“Baiklah” Jawab Jenny tersenyum. Ibunya menghampirinya dan memeluk singkat gadis itu “Ibu akan segera kembali”.

“Chanyeol, kau bisa menjaganya kan?”

Chanyeol kemudian mengangguk “Ya, tentu saja”.

****

Kini mereka tengah duduk di sofa ruang tengah, suasana hening menyelimuti diantara Jenny dan Chanyeol. Gadis itu hanya bisa mngealihkan pandangannya ke arah lain tanpa melihat Chanyeol yang duduk beberapa jengkal di sampingnya.

“Apa kau baik-baik saja?” Suara berat Chanyeol memecahkan keheningan, Jenny berbalik dan mengangguk kaku.

“Kau memang terlihat tak mengingat apapun, bahkan sikapmu berubah” Ujar lelaki itu.

Alis Jenny berkerut samar “memangnya aku seperti apa?”

Chanyeol memandang kedua mata coklat gadis itu dan tersenyum lebar “kau sangat cerewet”

Jenny tambah penasaran, lelaki ini mengetahuinya dengan baik? Ahh.. mungkin tentu saja karena Chanyeol adalah tunangannya. Pasti mereka sangat dekat “Cerewet? Apa lagi selain itu?”

Chanyeol terdiam sejenak dan pura-pura berpikir “Kau juga sama sekali tidak feminim dan suka marah-marah”

Mata Jenny terbelalak “Apa aku sebegitunya?”

Chanyeol pun tertawa kecil “apa kau tidak percaya?” Jenny mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia memang tak percaya dan tak tahu apa-apa.

“Tapi, aku bersyukur kau bisa sadar”

Jenny kembali berbalik, dan terkejut dengan sikap Chanyeol yang tiba-tiba mengusap puncak kepala Jenny dengan perlahan “Kau akhirnya berbicara, aku merindukannya”

 

Jenny menatap Chanyeol, ia tak tahu mengapa dirinya tak dapat bergerak. Lelaki itu terlalu ramah, ia sejenak berpikir bahwa Park Chanyeol pasti sangat berarti di hidupnya. Bukankah begitu? Setidaknya sekarang ia mengetahui mempunyai lingkungan yang ramah, keluarga yang baik serta seorang Tunangan? Entahlah, rasanya geli jika Jenny memikirkan itu.

 

“Apa kau mau jalan-jalan sejenak? Sekarang tengah turun salju” Tanya Chanyeol dengan semangat. Gadis itu hanya bisa menggeleng kecil. Sebenarnya ia ingin keluar tetapi sepertinya tubuhnya masih belum bisa mengumpulkan energi “Kurasa tidak bisa”

 

Chanyeol mengangguk mengerti “Ah, iya. Baiklah. Tapi, apa kau tidak bosan?”

“Tentu saja aku bosan” Lelaki itu kemudian berdiri dan menegakkan tubuhnya “apa kau punya tenaga untuk bermain ayunan?”

“Apa? Ayunan?”

 

****

Jenny tertawa terbahak-bahak saat melihat Chanyeol duduk di ayunan dengan kakinya panjangnya yang menjuntai bagaikan kaki belalang. “Kenapa kau menertawaiku?” Tanya Chanyeol

“Lihatlah kakimu, sangat konyol kau duduk di ayunan” jawab Jenny

“Apa ini terlihat sangat lucu?”

Jenny mengangguk dan kembali tertawa, bahkan kedua pipinya pun terlihat merah. Gadis itu ikut menduduki ayunan tepat disamping Chanyeol, mereka tengah berada di halaman belakang rumah Jenny.

“Kurasa kau telah kembali menjadi seorang Kim Jenny yang usil” Ujar Chanyeol dengan ekspresi kesalnya.

“Benarkah?”

Chanyeol mengangguk, seketika Jenny memainkan Ayunan yang didudukinya dengan perlahan. Terasa sangat menyenangkan merasakan udara sejuk yang tak terlalu dingin bila siang hari datang pada saat turunnya salju.

“Apa kau mau kita bersaing kecepatan?” Tanya Chanyeol tiba-tiba.

Alis Jenny berkerut samar “Apa?”

Chanyeol pun melajukan ayunannya agak cepat dengan dorongan dari kaki panjangnya itu, membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Jenny tertarik dan mengikuti perlakuan konyol lelaki itu.

 

Seketika kepala Jenny terasa pusing dan ia mengingat sesuatu, senyuman lembut terulas dari bibir seseorang itu. Senyuman yang membuatnya bahagia, hingga tiba-tiba ia tersadar dan melihat Chanyeol yang kini dihadapannya

“Jenny-ah, Kau tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol Cemas

Jenny terdiam sejenak “Jenny?” Tegur lelaki itu sekali lagi. “Ah, ya. Aku tak apa-apa” jawab gadis itu singkat.

 

Ia kembali berpikir tentang apa yang diingatnya, bagaikan potongan puzzle ingatan itu datang dengan tiba-tiba. Tapi siapa yang dilihatnya? Dari senyumannya itu bukanlah Park Chanyeol. Tapi siapa? Apakah seseorang yang berarti di hidupnya?

 

TO BE CONTINUED

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s