[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 4)

unreasonable-love4

Tittle/judul fanfic: Unreasonable Love

Author: AGEHA

Length: Chapter

Genre: Romance

Rating: PG – 15

Main Cast & Additional Cast: Oh Sehun and Suiren Lee

Summary: “We just try how to become a good marriage couple”

Disclaimer: Poster by Tanomioo @SayKoreanFanFiction

Author’s note: Plagiarism is PROHIBITED! Please don’t be a silent reader.

 

New Friend

Sehun dan Suiren akan memulai hari mereka dengan 4 potong sandwich, cream soup, dan juga secangkir teh dan kopi. Sehun harus bekerja seperti biasa dan Suiren harus pergi ke universitasnya. Padahal mereka baru saja pulang dari Jeju kemarin. Tapi, begitulah kehidupan pengantin baru yang super sibuk ini. Mereka mungkin tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama.

 

Setelah menghabiskan tehnya, Suiren bangkit dari tempatnya. “Sehun, apa kau sudah selesai?” Sehun yang sedang membaca koran menghentikan kegiatannya lalu ikut bangkit dari tempat ia duduk. “Ayo. Aku bisa telat nanti,” ajaknya seraya menarik lengan jas Sehun. Setelah Sehun dan Suiren menaiki mobil, mereka berdua segera berangkat.

 

Sebenarnya Sehun dan Suiren masih merasa lelah. Apa boleh dikata. Bahkan Suiren yang awalnya tidak pernah tidur saat ada di perjalanan, kini tertidur nyenyak dengan wajah polosnya saat perjalanan menuju ke universitasnya. Setelah sampai, Sehun membangunkan Suiren hingga perlahan – lahan gadis itu bangun. “Sudah sampai,” ucap Sehun.

 

Suiren mengedipkan kedua matanya berulang kali. “Ah… benar,” ia berusaha memfokuskan penglihatannya lalu melepas sabuk pengamannya. Ia lalu menoleh ke arah Sehun. “Baiklah, aku pergi dulu. Apa hari ini kau akan menjemputku?” ia bertanya sebelum membuka pintu mobil. Menunggu jawaban dari Sehun.

 

“Beritahu aku kapan kau pulang,” jawab Sehun singkat.

 

Suiren mengangguk. “Baiklah, aku akan meneleponmu nanti,” jawabnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil. Tak lama setelah itu, Sehun mulai menjalankan mobilnya dan pergi menjauh dari universitas. Suiren hanya bisa memandangi mobil Sehun perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya. Karena ia tak melihat mobil itu lagi, ia lalu berjalan memasuki halaman universitasnya.

 

“Orang – orang kaya memang berbeda. Semua yang mereka inginkan pasti akan terpenuhi,” seseorang berjalan dibelakang Suiren dengan mengucapkan kata – kata tersebut. Setelah itu ia berjalan melewati Suiren dengan cepat.

 

Suiren yang melihatnya hanya diam dan membiarkan gadis itu berjalan melewatinya. “Tidak semuanya yang kami hendaki akan terpenuhi, gadis bodoh,” jawab Suiren dengan santai seraya memandangi gadis itu yang berada jauh di depannya lalu melanjutkan perjalanannya.

 

Suiren sedang tidak dalam mood yang baik hari ini. Tubuhnya terasa lelah dan ia merasa sedikit mengantuk. Sebenarnya ia sedang tidak ingin belajar hari ini, meskipun dengan sikap yang bermalas – malasan. Pelajaran hari ini terasa membosankan seperti biasanya. Saat makan siang, Suiren lebih memilih untuk membaca buku di taman. Ia membaca halaman buku satu per satu. Tiba – tiba, seorang gadis berkacamata yang tadi pagi bertemu dengannya terlihat sedang berjalan entah menuju ke mana. Suiren menurunkan bukunya. “Oh, bukankah kau gadis bodoh yang kutemui tadi pagi?”

 

Gadis itu menoleh. “Ternyata sang nona kaya raya. Ada apa? Kau ingin bicara denganku?” gadis itu memiringkan alisnya dan bersikap sombong, membuat Suiren muak.

 

Suiren menutup bukunya dan bangkit dari tempat duduknya. “Sayang sekali aku tidak punya banyak waktu. Tapi, aku akan mengatakan satu hal untukmu,” ia tetap bersikap tenang dan datar seperti biasanya. “Jangan kau anggap remeh aku, gadis kecil,” ia menatap tajam gadis berkacamata tersebut lalu pergi begitu saja.

 

“A… apa katamu?!” protes gadis itu tak terima. Gadis itu melempar bukunya kuat – kuat. Melampiaskan amarahnya setelah diremehkan oleh Suiren tadi. “Apa maksudnya itu?! Hah! Ternyata yang namanya orang kaya, semuanya sama saja!” setelah amarahnya mereda, ia langsung pergi dengan angkuhnya.

 

Suiren yang kini sedang berjalan itu kini bertanya pada dirinya sendiri, sedikit merasa kesal sepertinya. “Memangnya ada masalah apa dia denganku? Hhh… membuang tenaga saja bicara padanya,” Suiren membuang napas berat.

 

***

 

Jam menunjukkan pukul dua siang. Suiren sedang menunggu di depan universitasnya. Ia mengambil handphonenya lalu mencari kontak Sehun, ingin meneleponnya. Tapi sebelum ia menekan icon call, sebuah mobil berhenti di depannya. Jendela mobil itu terbuka dan menampilkan Sehun di dalamnya.

 

“Ayo masuk,” ucapnya singkat.

 

Tanpa basa – basi, Suiren masuk ke mobil. Ia menatap Sehun heran. “Bagaimana kau tahu aku sudah pulang?”

 

“Firasat, mungkin?” jawabnya abstrak, membuat Suiren mengernyitkan dahinya,merasa lebih heran lagi dengan sikap Sehun yang tidak biasanya. Hanya Tuhan dan Sehun yang tahu, bahwa sebenarnya sudah 2 jam Sehun menunggu Suiren dengan sabar di tempat yang tidak jauh dari universitasnya Suiren.

 

Suiren dan Sehun hanya terdiam, seperti biasanya. Setelah beberapa lama, tiba – tiba, Suiren teringat sesuatu. “Sehun, aku…”

 

Belum sempat Suiren menyelesaikan perkataannya, Sehun sudah memotongnya duluan. “Aku tahu. Kau ingin pergi ke rumah orang tuamu kan?” ucapnya, menebak dengan tepat seolah – olah sudah membaca pikiran Suiren. Suiren hanya mengangguk. “Tenang saja. Kita sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tuamu.”

 

Mendengar perkataan Sehun, Suiren merasa tenang. Ia lalu mencari kontak nomor telepon rumah orang tuanya dan menekan icon call. Hanya selang beberapa detik, panggilan langsung terangkat.

 

“Halo. Kediaman keluarga Lee,” terdengar suara Maria, pelayan Suiren dulu, menjawab panggilan dengan sopan.

 

Suiren yang langsung mengenali suara itu, lalu tersenyum. “Maria? Ini aku, Suiren,” jawabnya.

 

Maria terkejut sekaligus merasa senang. Terdengar dari suaranya di telepon. “Nona?! Apa ini benar nona Suiren?” tanyanya merasa tidak percaya. “Nona, bagaimana kabar nona? Apa nona makan dengan teratur? Tuan Oh tidak jahat padamu, kan?” ia langsung menghujani Suiren dengan banyak pertanyaan.

 

Suiren tersenyum tipis, lalu mulai bicara. “Aku baik – baik saja dan aku makan dengan teratur. Dan juga, aku diperlakukan dengan sangat baik oleh Sehun,” jawabnya, membuat Sehun sedikit melirik dirinya. “Bagaimana kabarmu, Ayah dan Ibu?”

 

“Aku baik – baik saja, nona. Tuan dan Nyonya juga baik – baik saja.”

 

“Begitu…” Suiren bernapas lega. “Ah, aku dan Sehun sedang dalam perjalanan ke sana. Apa Ayah dan Ibu ada di rumah?” tanyanya.

 

“Mereka ada di rumah, nona.”

 

“Beritahu mereka aku akan ke sana.”

 

“Baiklah, nona.”

 

Suiren mengangguk pelan. “Ya sudah. Akan kututup teleponnya,” setelah berkata begitu, ia segera menutup panggilannya dan memasukkan handphonenya ke dalam tas. Sehun yang melihat Suiren tersenyum karena senang juga ikut tersenyum seperti merasakan hal yang sama.

 

Meskipun perjalanannya membutuhkan waktu beberapa puluh menit, tapi hal itu seperti tak berarti sama sekali bagi Sehun dan Suiren. Meskipun dalam keheningan, mereka tak merasa bosan. Dan tak terasa, mereka sudah hampir sampai di kediaman orang tua Suiren. Gerbang dibuka, dan Sehun mengendarai mobilnya memasuki halaman rumah.

 

Setelah mobil berhenti, Suiren langsung membuka pintu mobil, diikuti dengan Sehun. Mereka berdua lalu berjalan memasuki rumah. Di dalam, Nyonya dan Tuan Lee, serta Maria sudah menunggu mereka. Suiren langsung saja memeluk Ibunya. Setelah mereka berlima menyelesaikan momen reuni mereka, Nyonya dan Tuan Lee mengajak Sehun dan Suiren untuk menikmati dessert yang sudah di siapkan.

 

Selagi menikmati makanan manis tersebut, Nyonya dan Tuan Lee bertanya – tanya tentang bulan madu Sehun dan Suiren. “Suiren, bagaimana bulan madu kalian?” Nyonya Lee bertanya secara terang – terangan.

 

Sehun dan Suiren saling menoleh dan bertatapan. Setelah itu, Suiren langsung kembali menatap Ibunya. “Bagaimana? Yah… seperti bulan madu pada umumnya. Memangnya bulan madu kami harus seperti apa?”

 

Nyonya Lee sedikit kesal mendengar jawaban dari Suiren yang menurutnya sedikit tidak memuaskan. “Bukan itu maksud Ibu. Bagaimana malam pertama bulan madu kalian? Apa lancar?” mendengar pertanyaan Nyonya Lee, Sehun sedikit tersedak.

 

Suiren langsung menepuk – nepuk pelan punggung Sehun. “Kau tidak apa – apa, Sehun?” Sehun hanya mengangguk.

 

Tuan Lee hanya tertawa. “Sayang, kau seharusnya tidak menanyakan itu. Biarlah itu jadi rahasia mereka berdua. Ya, kan, Suiren?” pernyataan Tuan Lee justru membuat Sehun dan Suiren semakin canggung untuk menanggapi perkataan orang tua Suiren tersebut.

 

***

 

Rintik hujan perlahan – lahan turun dari langit tanpa ragu, sedangkan Sehun dan Suiren sedang dalam perjalanan, dalam suasana yang sedikit canggung sepertinya. Mereka saat ini sudah setengah perjalanan menuju rumah.

 

Suiren berusaha menajamkan penglihatannya, sedang memperhatikan seseorang yang sedang menunggu hujan di halte. Dan ternyata ia adalah gadis yang tadi pagi bertengkar dengannya. Awalnya Suiren tidak perduli, tapi lama kelamaan hatinya luluh juga, tidak tega melihat seseorang menunggu hujan yang tak jelas kapan berhentinya, sendirian di halte bus. “Sehun, bisa kita berhenti di depan sana?” pinta Suiren.

 

Meskipun sedikit bingung, Sehun tetap menuruti permintaan istrinya itu. Ia lalu memarkirkan mobilnya tepat di depan halte tersebut. Suiren keluar dari mobil menghampiri gadis tersebut.

 

“Hei, kau butuh tumpangan, kan? Ayo cepat masuk ke dalam. Hujannya semakin deras. Untuk kali ini saja aku berbaik hati padamu,” ucap Suiren seraya menyeka air yang turun perlahan ke wajahnya.

 

Gadis itu bersikap acuh, menoleh ke arah yang lain, dan bersikap sombong. “Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu berpura – pura bersikap baik padaku.”

 

CTAS!

 

Seketika urat kesabaran Suiren benar – benar putus dan ia memperlihatkan kekesalannya. “HAH?! Berpura – pura bersikap baik padamu? Hei, aku ini masih memiliki rasa manusiawi,” Suiren mendekati gadis itu perlahan – lahan. “Kau bisa, kan, menolaknya dengan cara yang biasa?!”

 

Gadis itu tertawa hambar. “Haha… tentu saja cara biasa tidak bisa dimengerti oleh orang kaya sombong sepertimu, kan?” ucapannya membuat Suiren tambah naik pitam.

 

“Apa? Kau…!” Suiren mendekati gadis itu dan menjambak rambutnya. “Dasar kau wanita jalang!” Ia mengacak – acak rambut gadis itu, dan tentu saja gadis di depan Suiren ini tidak tinggal diam. Ia juga balas membalas, menjambak rambut Suiren.

 

Sehun spontan saja keluar dari mobil dan melerai mereka berdua. Ia memisahkan Suiren dan gadis itu dengan cara memeluk erat Suiren, berusaha meredam amukan dari gadisnya itu.

 

“Lepaskan, Sehun! Biar kuberi pelajaran pada gadis tidak sopan ini!”

 

Sehun hanya memeluk erat Suiren. Dan akhirnya, amukan gadis itu mereda. Sehun mengelus rambut Suiren lembut. “Tenangkan dirimu, ya?” setelah itu, Sehun mengalihkan pandangannya pada gadis yang tadi bertengkar dengan Suiren. “Masuklah. Kami akan mengantarmu pulang.”

 

Melihat wajah Sehun yang teramat serius itu, gadis itu hanya mengangguk, mengiyakan.

 

***

 

Setelah sampai di depan rumahnya, gadis tersebut keluar dari mobil. Seseorang terdengar berlarian, lalu pintu rumahnya terbuka. “Astaga, Rena! Kau dari mana saja? Apa kau tak lihat kakakmu ini mengkhawatirkanmu?” seseorang yang terlihat seumuran dengan Sehun keluar dari dalam rumah, membawa payung dan memeluk gadis itu.

 

“Sudahlah, kak Rina. Aku baik – baik saja,” ucap Rena berusaha meyakinkan.

 

“Tapi, siapa yang mengantarmu?” Rina menatap adiknya itu dengan penasaran.

 

Rena hanya melirik mobil Sehun. Sehun dan Suiren lalu keluar dari mobil menggunakan payung. “Maaf, tadi kami melihatnya menunggu di halte bus sendirian. Karena aku kebetulan mengenalnya, aku memintanya untuk diantar olehku,” jawab Suiren tenang.

 

“Aah… begitukah?” Rina hanya mengangguk – angguk. “Apa kalian ingin masuk dulu? Pakaian kalian sepertinya basah. Ayo, masuk,” ajak Rina dengan senyuman hangatnya.

 

“Tidak perlu, kami…”

 

“Ayolah… ya?” pinta Rina dengan wajah memelas. Akhirnya, Sehun dan Suiren setuju untuk berteduh sejenak di rumah Rena.

 

Saat berada di ruang tamu, Rena mengambil handuk dan memberikannya pada Sehun dan Suiren. Mereka berdua hanya mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. “Tunggu, ya. Akan kubuatkan minuman hangat dulu,” ucap Rina. Saat Rina sedang ada di dapur, seorang anak perempuan yang usianya kira – kira 3 tahun, muncul dari sebuah kamar.

 

“Ibu…” panggil gadis kecil itu lemas. Mungkin karena baru saja terbangun dari tidurnya.

 

Rina menoleh, melihat dari dapur. “Ya ampun, apa Fanni ku sudah bangun?” tanyanya riang. Setelah menaruh dua cangkir cokelat panas untuk Sehun dan Suiren, Rina pamit untuk kembali ke kamar bersama Fanni.

 

Untuk sejenak, Suiren merasa mengerti apa alasan dibalik kebencian Rena terhadap orang – orang kaya seperti dirinya. Mungkin itu semua karena kakaknya. Kakak berharganya. Suiren mengambil cokelat panasnya lalu meminumnya. “Apa kalian hanya tinggal bertiga?” tanya Suiren tanpa memperhatikan Rena.

 

“Ya,” gadis itu menjawabnya. Sudah tidak ingin lagi berdebat dengan Suiren.

 

“Dimana suami kakakmu?”

 

“Dia pergi,” jawab Rena dengan nada dan ekspresi datar. Merasa malas membahasnya.

 

“Pergi?”

 

“Dia mencampakkan kakakku setelah kakakku hamil,” Rena menoleh ke arah Suiren. “Si bajingan kaya itu, mencampakkan kakakku,” wajahnya terlihat sedih sekaligus kesal, jika mengingat masa yang dulu ia dan kakaknya alami.

 

Suiren menenggak kembali cokelat panasnya. “Aku mengerti kenapa kau begitu membenci kami,” Suiren menanggapinya dengan tenang. “Tapi bukankah kau harusnya membencinya karena ia mencampakkan kakakmu, bukannya karena ia orang kaya raya,” pandangan Suiren mulai serius.

 

“Maksudmu?”

 

Suiren menghela napas. “Meskipun aku juga orang yang kaya raya, jujur saja aku tidak seperti itu. Dan sama sepertimu, aku juga membenci pengkhianat. Jangan kau samakan kami hanya karena kami kaya.”

 

Mendengar perkataan Suiren, Rena hanya tertunduk.

 

***

 

Suiren sedang duduk di taman sedang membaca buku kesukaannya. Buku karya William Shakespeare yang berjudul Hamlet. Terlalu serius, ia bahkan tidak menyadari kehadiran Rena sampai gadis itu meletakkan minuman di depan wajahnya.

 

Suiren menerima minuman itu. “Apa ini? Untukku?”

 

“Tentu saja untukmu. Memangnya untuk siapa lagi?”

 

Suiren memandangi minuman itu sejenak. “Terima kasih,” responnya. Suiren menikmati minuman yang diberikan oleh Rena. Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

 

“Aku minta maaf,” ucap Rena tiba – tiba.

 

“Untuk apa?”

 

“Karena sikap tidak sopanku kemarin,” jawab Rena.

 

“Tidak apa – apa. Aku juga bersikap tidak sopan kemarin,” jawab Suiren santai. Setelah beberapa detik, sesaat ia tersenyum. “Sampaikan salamku pada kakakmu dan anaknya,” ucap Suiren dengan nada yang menenangkan.

 

Rena tersenyum. “Tentu.”

 

To be continued…

 

Yaps, Aloha…! Lama tidak berjumpa :v

Maafkeun author yang sering banget hiatus mendadak ini. Dan untuk para readers yang sabar menunggu cerita ini, author ucapkan banyak terima kasihhh >.<. Sorry yang udah menunggu lama, akhirnya author bisa update cerita ini lagi. Dan kali ini, author berencana untuk memunculkan konflik antara Sehun dan Suiren (yayy :D). Muhon sabar menunggu, yaa…

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Unreasonable Love (Chapter 4)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s