[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 6B)

my-strong-daddy6b

 

MY STRONG DADDY #6B

 

TITTLE           : MY STRONG DADDY#6B

Author             : Angestita

Length             : Chaptered

Genre              : Family, romance dan drama

Main cast         : Sehun (EXO) – Leo William Recipon (Ulzzang Kid) – Kim Na Na (OC)

Disclaimer       : Cerita ini hanya fanfiction bukan cerita nyata dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sang idola. Cerita ini murni dari pemikiranku dan bukan hasil dari mencontoh karya orang lain. Aku berharap kalian dapat melakukan hal yang sama. Apabila ada kesamaan nama, tempat maupun alur cerita itu mutlak ketidak sengajaan. Aku berharap kalian berkenan meninggalkan jejak. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca karya ini. Semoga kalian dapat menikmatinya.

Summary         : Sehun sudah gila ketika mengatakan dengan lancang apa yang ada di pikirannya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu pada ibu guru dari putranya? Ada apa dengannya?

Sehun point of view

Aku merasakan dingin ketika buliran air itu berjatuhan di tubuhku. Meliuk-liuk membuat jalannya sendiri di atas kulit putihku. Aku memejamkan mata ketika kurasakan kepalaku berdenyut pelan. Inilah yang tidak aku suka dari mandi di malam hari seperti ini. Seharusnya tadi aku menyempatkan mandi di kantor sebelum matahari tenggelam. Dengan sedikit geram aku mematikan shower dan menyandarkan tubuhku di dinding kaca. Beberapa menit aku habiskan hanya dengan berdiam diri. Mencoba untuk mengendalikan tubuhku.

Aku memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, tanpa perlu melanjutkan mandi. Rasanya cukup dengan menyiram air dingin ketubuh letihku. Dengan cepat aku memakai t-shirt abu-abu yang aku ambil secara acak di lemari dan celana pendek putih. Aku segera berjalan menuju tempat tidurku. Disana sudah ada malaikat kecilku yang sedang tertidur dengan nyenyak. Sangat lelap malah. Aku tersenyum tipis melihat Leo terpejam dengan damai disampingku. Perlahan kurasakan peningku tak kembali datang. Leo memang obat mujarab untukku.

Perlahan aku merebahkan diri disampingnya, mencoba memejamkan mata dan hanyut ke alam mimpi. Namun nyatanya tak semudah itu. Mataku kembali terbuka ketika bayangan wajah seorang wanita menelisip masuk ke celah pikiranku. Aku mendesah pelan, mengenali dengan baik sosok cantik itu. Ya, dia Kim Na Na. Wanita dengan senyum selembut malaikat. Wanita yang aku lamar menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anakku.

Gila! Semuanya itu gila. Aku segera bangkit dari tidurku dan mengusap wajah gemas. Kenapa wanita cantik itu selalui menghantuiku disaat aku ingin tidur? Apa tidak ada kerjaan lain selain mengusik kantuk orang lain? Aku sudah cukup lelah akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Apalagi dengan merawat Leo disela-sela jam istirahatku. Seharusnya aku tidur dengan nyenyak agar dapat terbangun dengan fresh seperti biasanya. Tapi kenapa wanita mungil yang sayangnya sudah mampu mencuri perhatianku itu selalu mengusik tidurku.

Dosa apa aku padanya, Tuhan?

Aku memutuskan untuk keluar kamar dan memilih duduk di balkon kamar. Memandang langit malam yang berbintang mungkin dapat mengobati kegundahan hatiku. Aku merebahkan tubuhku disalah satu ayunan. Mataku menatap langit malam kota Seoul. Namun perlahan-lahan anganku kembali ke kejadian lima hari yang lalu.

Flashback

Entah kutukan apa yang tengah membuatku tak mampu mengalihkan pandanganku dari wanita cantik itu. Wanita cantik dengan dress panjangnya yang berwarna hitam bermotif polkadot putih itu seolah sudah menawanku. Dan apa yang membuat seorang sepertiku mudah tertawan dengan wanita sepertinya? Bukankah selama ini tidak pernah ada yang seperti ini selain Ireneku?

Aku berusaha mengacuhkannya. Baiklah kata-kata mengacuhkan itu sebenarnya tidak berdampak banyak. Apabila jika Leo tidak mengungkit-ngungkit kejadian tadi pagi. Leo putra tunggalku selalu menanyakan hal-hal yang aku tanyakan pada gurunya itu. Seperti apa itu istri?. Aku sempat dibuat bungkam olehnya. Namun aku mencoba memeras otakku untuk menjawab pertanyaan dari anak kesayanganku ini.

Syukurlah Leo anak yang cukup cerdas dia mampu menerima dengan baik jawaban yang aku ucapkan. Tapi keimananku kembali di uji ketika tanpa sengaja kita bersitatap. Aku seolah menemukan ketentraman dalam mata bening itu. Menemukan dunia kecil yang aku cari. Tapi aku mulai sadar, apakah ini terlalu cepat? Maksudku, hubungan kita selama ini hanya sebatas wali murid dan wali kelas. Bahkan belum ada kata pertemanan untuk hubungan ini. Lalu apa yang membuatku spontan menngatakan itu? Sampai lima jam berlalu pun tak kunjung kutemui jawabannya.

Oh Tuhan… apa yang sedang terjadi denganku ini?

Aku lihat Leo berlari ke arahnya, ke arah wanita yang sudah sedari tadi menghindari kami. Aku dapat melihat dia tersenyum canggung ke arah putraku. Namun senyumnya kemudian melunak seiring obrolan mereka. Aku tetap diam, memandangi mereka dari kejauhan. Tidak ingin merusak moment manis itu hanya karena Na Na yang canggung kepadaku. Setelah beberapa saat aku dapat melihat mereka melihat ke arahku. Aku mencoba tersenyum lebar dan tetap diam. Dapat aku lihat Na Na tersenyum kaku ke arahku. Aku seolah dapat merasakan perasaannya saat itu.

Jadi, sebenarnya apa yang aku harapkan dari dirinya? Bukankah pertanyaanku tadi hanya main-main belaka. Maksudku tak mungkin menjadi kenyataan. Na Na, wanita itu pasti memiliki yang lebih baik. Yah, walaupun aku yakin aku masih bisa dibandingkan dengan pria manapun. Tetapi bagaimana jika pria itu jauh lebih meyakinkan dariku?

Lagipula, sebenarnya aku juga tak mengerti maksud dari pertanyaanku itu sendiri. Aku seolah terjebak dalam kehangatan semu atau dalam ladang ranjau. Yang aku tahu pasti perasaanku masih ambigu, antara memilikinya untuk menjadi sosok pengganti Irene untuk Leo atau menjadi sosok ibu seutuhnya beserta menjadi istriku secara nyata. Perasaanku masih terlalu labil. Aku tertarik padanya. Tapi bukankah rasa tertarik dan cinta itu berbeda? Perbedaan yang kelewat tipis hingga aku tak sengaja melewatinya.

Aku merasa setengah menyesal mengatakannya. Namun sebagian dari perasaanku lega. Setidaknya aku sudah mengatakan keinginan yang secara absurd ada di otakku. Lagipula apabila itu memang terjadi dan dia menjadi ibu untuk Leo. Aku yakin dia bisa menjaga Leo seperti menjaga anaknya sendiri. Tapi, hatiku mendadak terasa aneh. Hanya sebatas itukah perannya di dalam keluargaku? Lalu bagaimana dengan hubungan antara aku dan dia? Bagaimana dengan pernikahan kita nanti?

Flashback off

Bunyi alunan piano yang lembut terdengar mengusik indera pendengaranku. Aku tersadar dari lamunan panjangku. Dengan malas aku mengambil benda tipi situ dari saku celanaku. Ada sebuah panggilan dari seseorang. Hatiku bergetar pelan ketika membaca sebaris nama yang terasa sangat familiar untukku.

-Kim Na Na Calling-

Dengan satu sentuhan ringan aku menerima telefon itu. Ada jeda panjang setelah aku mengangkat telefonku. Aku hendak mengatakan beberapa kata namun tampaknya Na Na lebih dahulu mengatakannya.

“Aku menerima lamaranmu. Aku menerimanya. Aku harap dalam waktu dekat ini kita bisa bertemu. Ada yang ingin aku katakan.” Suara itu terdengar serak dan bergetar. Aku tak mampu mengatakan apapun. Duniaku seolah berhenti berputar. Dan sebuah pertanyaan kembali dalam benakku. Pernikahan seperti apa yang akan terjadi nanti?

Hallo… aku kembali dengan FF abal-abalku. Aku berharap kalian dapat menikmatinya. Maaf apabila ada ketidaknyaman dalam membaca karena typo atau kata-kata yang sulit dipahami. Terimakasih atas waktu yang anda luangkan. Dibawah ini foto Na Na saat tamsya bareng anak-anaknya.

1bdjadkx2u

20 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] My Strong Daddy (Chapter 6B)

  1. ada yg aneh.. Nana nelpon sambil bilang nerima lamaran Sehun, suara nya juga serak & bergetar atau kemungkinan lagi nahan tangis??? curiga sama Nana ada sesuatu yg jd beban pikiran dia, tapi lagi males mikir spoiler nya😂 ditunggu lanjutannya☺

  2. sepertinya ada sesuatu yg janggal… hmmmm
    setelah sekian lama gk ada kabarny, akhirnya muncul jg nih ff hahaha
    Leo-ya,,noona kangen dirimu!!! kkkk…

  3. kok firasat aku bilang nana kayanya lagi banyak beban makanya dia nerima lamaran sehun. aduh penasaran, ditunggu aja next chapternya

  4. hallo kak, aku readers baru😁 maaf ya baru komen disini😁
    wah ceritanya semakin menarik.. lanjut kak,, ditunggu next chap nyaa👏

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s