[EXOFFI FREELANCE] Crazy with You (Chapter 1)

unnamed

Crazy With You [Chapter 1 : Because One Night]

Author: Babyjae96

Length: Chapter

Genre: Romance,School Life, Comedy

Rating: PG-17

Main Cast :

Park Yena [OC]

Do Kyungsoo [EXO] & Oh Sehun [EXO ]

Disclaimer : Fanfic ini hasil karya otak ku sendiri dan kemudian tersalurkan kedalam Fanfic ini, jika ada kesamaan dengan ff lain hanya kebetulan semata karna tema nya memang mainstream.

Fanfic ini juga di publish di blog pribadiku https://babyjae96.wordpress.com/

“Seperti katamu, hanya karna satu malam hidup ku berubah”

.

.

 

Sejak tadi Yena hanya diam  memandang  kearah depan kelasnya, bukan memerhatikan guru yang tengah menjelaskan didepan karna pandangannya terlihat kosong, pikirannya kini sedang berkelana memikirkan hal lain yang sukses menghancurkan harinya, bukan hanya untuk hari ini tapi juga untuk hari-hari kedepannya, sebuah pikiran dimana ia menyesalinya dan berpikir keras untuk merubahnya tapi itu tidak mungkin.

“Ya! Park Yena.. kau kenapa?”

Eunsoo menengurnya dengan suara pelan agar tak terdengar oleh guru didepan kelas itu yang tengah menjelaskan mengenai rumus-rumus yang memusingkan, keduanya duduk dibagian belakang jadi kemungkinan kecil guru itu bisa mendengar ucapannya, ia menyadari sesuatu yang berbeda dari temannya itu, ini pertama kalinya sejak tiga tahun mereka bersama-sama di sekolah ini dan berada dikelas yang sama Eunsoo melihat Yena menjadi pendiam seperti ini, saat jam istirahat tadi Yena bahkan sama sekali tak keluar kelas , gadis yang biasanya banyak omong itu hanya diam didalam kelas sendirian memilih untuk diam tanpa suara, jika ia ingat lagi Yena hanya mengucapkan kata ‘tidak’ dan ‘iya’ saja sejak tadi pagi. Ini Aneh..

“Yena-ya..”

Panggilnya lagi tapi sama sekali di hiraukan Yena atau mungkin dia tak mendengarnya. Eunsoo menghela nafas berat, ia sudah menyerah dan akan menanyai Yena nanti saja saat jam pulang.

Siapa yang tak kenal dengan Park Yena, gadis itu sangat terkenal di sekolah ini sebagai siswi pembuat masalah, jika digambarkan Yena adalah sosok Sehun versi wanita disekolah ini, dan Sehun sendiri memang pemimpin disekolah ini, siswa paling disegani dan dihormati oleh para murid lainnya. Yena memang memiliki wajah cantik yang memikat tapi tak ada yang berani dekat dengannya selain karna kepribadiannya atau mereka akan habis ditangan Sehun yang mengejar-ngejar Yena sejak lama tapi Yena tak pernah mau menerimanya padahal jika mereka benar-benar berkencan mereka akan menjadi pasangan berbahaya disekolah ini.

Saat jam sekolah berakhir pun, Yena masih diam tak menjawab apapun yang Eunsoo tanyakan, dia memilih menggeleng atau mengangguk saja, sungguh ia tak berniat mengeluarkan satu suara apapun saat ini dan seharusnya tadi ia tak berangkat sekolah saja, siapa peduli dengan peringatan karna dia sering membolos yang diberikan wali kelasnnya.

“Yena-ya.. jangan diam terus, ucapkan sesuatu!” Eunsoo berteriak pada Yena didepannya, Yena berhenti berjalan dan berbalik pada Eunsoo menampilkan wajahnya yang terlihat sedikit pucat bahkan bibirnya kering “Aku tidak apa-apa” Ucapnya kemudian kembali berbalik dan melanjutkan jalannya.

Eunsoo diam ditempatnya, apa baru saja Yena berbicara lembut? Ini sangat jarang terjadi, pasti terjadi sesuatu pada Yena. Eunsoo yakin sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu darinya dan ia pun langsung berlari mengejar Yena yang sudah menghilang diantara kerubunan murid murid lain yang berada di lorong itu.

.

Yena berhasil melarikan diri dari Eunsoo yang terus berada didekatnya, ia bukannya tak mau bersama Eunsoo hanya saja tidak untuk hari ini, dia memiliki pikiran lain yang begitu menganggunya dan tak pernah lepas dari pikirannya. Tubuhnya ia dudukan disebuah tempat pemberhentian bus yang tak begitu jauh dari sekolahnya, sudah beberapa kali bus yang harusnya ia naiki itu melintas didepannya tapi Yena belum mau naik ke salah satu bus itu, ia merasa duduk disini akan jauh lebih baik daripada diam dirumahnya yang sepi tapi minus nya disini ia tidak bisa merokok.. Yah, dia merokok tapi tak begitu sering hanya saat ia merasa frustasi saja dan lebih baik juga ia meminum alkohol.. Oh tidak! Jangan alkohol lagi.. ia tak mau menambah masalahnya dan sepertinya ia akan berhenti meminumnya selama beberapa bulan ini atau mungkin selamanya.

Air mata adalah hal yang dibencinya, Yena tak menyukai menangis tapi untuk kali ini ia menangis sejak kemarin malam, ia menangis dan terus menangis.. entahlah, tiba-tiba saja air matanya mengeluarkan cairan itu walaupun ia sudah mencobanya menahannya. Menangis adalah hal yang percuma, itulah salah satu alasan Yena tak menyukai menangis.. ya menangis tak akan merubah semuanya, tak peduli seberapa banyaknya ia menangis itu tak akan bisa merubah apapun yang sudah terjadi.

Yena mengusap air mata yang jatuh ke pipinya, sialnya ia menangis ditempat seperti ini.. untung saja tidak begitu banyak orang dan tak ada yang memerhatikannya. Merasa hari sudah malam, ia memutuskan naik kedalam bus yang memang melewati kawasan apartement nya daripada ia berada terus disini dengan udara dingin, ya.. sebentar lagi akan memasuki musim dingin.

Yena masuk kedalam bus yang penuh karna ini waktu dimana kebanyakan orang sudah menghentikan pekerjaannya dan pulang , untungnya ia bisa duduk jika tidak ia akan pegal setengah mati berdiri disana. Yena sudah duduk senyaman mungkin disalah satu bangku disana, disebelah orang yang tidak dikenalnya, ia meraih earphone nya dan akan menaruhnya ditelinga tapi.. ia berhenti saat tak sengaja melihat seseorang yang berada dipikirannya seharian ini muncul didepannya dengan wajah polosnya, sepertinya dia tak melihat dirinya sampai pria itu berdiri hampir disebelahnya.

“Ya!” Panggilnya pada pria itu. Pria yang dipanggilnya tetap tak bergeming membuatnya terpaksa menarik jas sekolahnya  yang pria tersebut kenakan sampai dia itu menatapnya  bulat,  “Kenapa? Kau marah?” Tanya Yena dingin melihat ekspersi pria itu.

Kyungsoo memejamkan matanya sebentar menahan amarahnya pada Yena, ia tak mau berdebat di dalam bus “Ada apa?”

“Ada apa?” Yena mendengus kesal “Bukankah ada sesuatu yang harus kita bicarakan?”

“Kurasa tidak ” Kyungsoo dengan dinginnya menjauhinya berjalan menuju bagian depat bis. Yena tertawa tak percaya, hanya Kyungsoo lah yang berani melakukan ini padannya, pria kutu buku itu.. benar-benar  membuatnya emosi  dan bagaimana bisa dia dengan tenangnya  bersikap seperti tidak terjadi apapun?

Kyungsoo sangat tak menyukai Yena, ada alasan tersendiri mengapa ia tak menyukainya. Yena begitu bermasalah, slalu saja membuat berbagai masalah yang memusingkannya, untung saja tahun ini ia tak satu kelas dengannya lagi. Masih ingat penderitaannya selama dua tahun satu kelas dengan Yena, Kyungsoo menjadi ketua kelas saat itu dan ia harus terus menghapi Yena yang melawannya belum lagi ia terus saja ditanyai mengenai Yena yang menghilang saat jam pelajaran dan terkadang ia harus berbohong menutupi Yena yang membolos kelas, tapi… ia akui kemarin malam..ia..tidak, mereka…mereka melakukan sesuatu yang salah.

Semuanya bermula saat malam itu, ia dan Yena berada di bawah pengaruh alkohol akibat mereka berada disebuah pesta yang diadakan salah satu teman sekelas mereka dulu lalu karna mereka berada di satu gedung apartement yang sama jadi saat pulang dari pesta itu mereka diantarkan oleh teman mereka itu, seingatnya saat itu ia cukup mabuk begitpun Yena lalu entah kenapa Yena malah berada di apartementnya sampai mereka kembali minum-minum kemudian terjadilah… Kyungsoo tak mengingat sepenuhnya tapi ia yakin melakukan hal itu dengan Yena. Sial…ia tak bisa mengontol dirinya jika mabuk, ia tak pernah semabuk ini sebelumnya, dan sekarang ia merasa seperti pecundang didepan Yena tadi, ia hanya masih belum menerima ini, semuanya masih terasa tak nyata baginya dan pasti bagi Yena juga.

Kyungsoo sudah turun dari bus nya begitupun Yena, ia bisa mendengar suara umpatan Yena dibelakangnya yang terdengar samar, dia benar-benar gadis yang tak tau malu, bisa-bisanya dia mengumpat di jalanan seperti ini..ah.. masih bisa kah, ia menyebutnya sebagai gadis lagi.. Oh! Ini membuatnya frustasi lagi, ia tak mau memikirkannya lagi karna  saat ini ia hanya ingin fokus dengan ujian masuk universitas nanti yang hanya tinggal 10 hari lagi.

“Dasar pengecut!”

Kyungsoo mendengar umpatan itu dengan jelas membuatnya menghentikan langkahnya , ia tak bisa menahannya lagi ia memang harus berbicara dengan Yena untuk mengakhiri ini jadi ia berbalik melihat Yena yang tak jauh didepannya memandangnya penuh kebenciannya seakan disini hanya dia lah yang salah “Lalu apa maumu? Kau ingin aku meminta maaf? ”

Maaf? Yena merasa memerlukan permintaan maaf tapi jelas ia juga salah malam itu karna nyatanya ia lah yang masuk kedalam apartement Kyungsoo dan ia tak bisa mengingat jelas alasannya masuk kesana selain kemungkinan untuk minum alkohol disana. “Tidak.. aku ingin penjelasan”

“Apa yang harus dijelaskan Yena?”

“Semuanya… aku tidak bisa mengingatnya malam itu”

“Bukankah tadi pagi aku sudah bilang, aku tidak mengingatnya..Kita lupakan saja!”

Lupakan? Semudah itukah, Kyungsoo ingin melupakan kejadian itu. Ia juga ingin melupakan semuanya tapi itu tak mudah, ia adalah seorang wanita dan disini ialah yang paling menderita belum lagi ketakutan  jika ia akan hamil nanti, itu lah alasan utamanya diam selama seharian ini “Hanya itu?”

“Lalu aku harus bagaimana?” Tanya Kyungsoo frustasi, ia bingung dan merasa kesal dengan semua ini, “Bukankah lebih baik kita melupakannya saja” Ulangnya menegaskan betapa inginnya mereka melupakan ini semua dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, keduanya bahkan tak pernah dekat mereka slalu terbalik dalam segala hal.

Kyungsoo berada sekitar lima langkah didepan Yena, Yena bisa melihat jelas wajahnya yang serius menginginkan mereka untuk melupakan ini “Baiklah, kita lupakan saja”  Yena lalu berjalan cepat melewati Kyungsoo yang masih diam disana, ini juga keputusannya.  lupakan saja ini dan hidup sebagai Park Yena kembali.

Kyungsoo merasa aneh saat Yena melaluinya, ini adalah keinginannya tapi kenapa aneh. Sungguh ia merasa seperti pengecut sekarang tapi daripada Yena, ia berpikir untuk lebih mementingkan persiapannya kuliahnya yang semakin dekat.

.

Seminggu sudah sejak kejadian itu berlalu, Yena sudah menceritakan semuanya pada Eunsoo karna meresa Eunsoo perlu tahu mengenai ini tentu saja sahabatnya itu terkejut bukan main apalagi ini menyangkut Kyungsoo yang sering Yena ejek sejak dulu, seiring berjalannya waktu pun Yena sudah mulai melupakan kejadian itu dan kembali menjadi Yena yang dulu.

Jam istirahat ini, Yena lebih memilih diam diatas balkon atas gedung sekolah melihat sekolah dari bagian atas ini adalah salah satu tempat yang ia sukai, selain uks sebagai tempat tidurnya dan kantin ruang makannya. Sekarang, Yena tak sendiri ada Sehun berada disampingnya merangkulnya dan memainkan rambutnya mereka sedang duduk disebuah sofa tak terpakai di atas sana, siapapun yang melihat mereka pasti berpikir jika keduanya memang sepasang kekasih.

Yena menyingkirkan tangan Sehun dari kepalanya “Apa yang kau lakukan setelah ujian nanti?” Tanyanya serius.

“Kenapa kau bertanya seperti itu,huh?” Sehun tersenyum aneh kemudian kembali memainkan rambutnya, Yena kembali menarik tangan Sehun menjauhinya “Jawab aku?”

“Mungkin kuliah, itu keinginan Ayahku.. lalu kau?”

Yena menatap Sehun disebelahnya “Apa kau mau menikah denganku setelah lulus?” Tanyanya datar.  Sehun terkejut, ia membuka mulutnya saking tak percaya aa yang baru saja Yena katakan “Waw… Apa kau baru melamarku?”

“Kau tidak mau?”

“Kita bahkan tak berpacaran tapi kau ingin langsung menikah,huh?” Sehun kembali mengelus rambut Yena dengan penuh sayang.

“Sudahlah.. Lupakan saja jika kau tidak mau” Yena membuang wajahnya, entah kenapa ia malah berucap seperti itu pada Sehun. Yena berpikir ia harus menikah setelah lulus nanti dan lupakan saja tentang kuliah, ia tak ada niat berkuliah, mungkin jika menikah ia tak akan ada beban lagi dan semua kebutuhannya ditanggung suaminya nanti.

“Jadi, kau serius?”

“Tidak! Aku bercanda” Balas Yena tegas menyingkirkan tangan Sehun yang berada di bahunya, ia langsung mendorong Sehun pergi karna Eunsoo sudah berada disana melihat mereka berdua bingung “Apa ini? Aku mendengar tentang pernikahan tadi” Tanya Eunsoo mendekati mereka dan menatap keduanya curiga.

“Dia baru saja melamarku” Sehun menunjuk pada Yena yang berdiri didepannya sambil tersenyum. Yena menatapnya tajam dan ia menarik Sehun yang susah bangun dari duduknya “Ya!! Pergi dari sini!!Aku hanya ingin berbicara berdua dengan Eunsoo”

“Okee..Aku pergi tapi asal kau tau, aku menerima lamaranmu tadi”

Cupp..

Sehun tiba-tiba saja mengecup bibirnya dan langsung Yena memukulnya keras lalu menendangnya sampai Sehun berlari kabur dari sana, ia langsung mengusap kasar bibirnya, ia tak suka jika Sehun begini.

Eunsoo tak terkejut lagi dengan keduanya, Sehun sering melakukan itu pada Yena walaupun akhirnya Sehun mendapatkan pukulan setelahnya “Woow.. Kau serius melamarnya?”

“Iya”

“Kau benar-benar tidak tau malu melamarnya, Yena” Eunsoo berjalan kembali “jadi kalian berkencan?”

“Tidak.. ! mana rokok ku?” Yena mengulurkan tangannya menampakan telapak tangannya pada Eunsoo. Eunsoo melemparkan sebungkus rokok yang diambilnya dari tas Yena dibawah tadi sekalian ia membawa minuman kaleng “Tidak? Jadi kalian akan menikah tanpa berkencan?”

“Aku tidak akan menikah dengannya, aku hanya melamarnya” Jawab Yena menyalakan korek gas nya lalu api itu ia dekatkan dengan ujung rokoknya. Eunsoo hanya menggeleng saja, kelakukan temannya ini memang luar biasa tapi sebenarnya dia baik, Yena begitu hanya karna kesepian saja“Lalu buat apa kau melamarnya?” Eunsoo bertanya lagi karna ia masih tak mengerti, kenapa Yena melamar Sehun padahal dia tak mau menikahinya dan keduanya sama sekali tak berkencan.

“Aku hanya merasa dia tepat menjadi suamiku ”

Eunsoo masih tak mengerti “Apa maksudmu?” ia mengikuti Yena yang berjalan ke pinggir balkon ini. “Aku ingin menikah, akan lebih baik jika setelah lulus aku menikah.. jadi aku tak perlu khawatir dengan hidupku karna ada seseorang yang menanggungnya” Ucapnya tenang kemudian mengisap rokok itu dan menimbulkan kepulan asap.

“Jadi kau memilih Sehun?Apa tidak yang lain” Eunsoo merasa Sehun tak tepat untuk Yena, walapun keduanya memang terlihat cocok tapi ia berharap Yena akan menemukan pria baik-baik yang bisa merubahnya juga karna hanya dengan nasehatnya Yena tak bisa berubah siapa tau jika ia dinasehati pria baik Yena akan bisa berubah.

Yena menurunkan rokoknya lalu menjawab “Ada Seungjun tapi Sehun lebih baik darinya, tidak ada yang lain selain mereka berdua, semua pria takut padaku..awalnya mereka tertarik tapi setelah mengetahui sifatku mereka membenciku..hanya Sehun dan Seungjun yang bisa menerimaku dan juga  mereka cukup kaya”

“Jadi itu berarti kau akan menikah dengan salah satu dari mereka nanti kan?”

“Tidak juga, aku harap aku bisa bertemu pria lain selain mereka jadi aku tidak harus menikahi salah satu dari mereka, kau tau kan keduanya bukan tipeku” Yena kemudian tersenyum tipis pada Eunsoo yang masih kebingungan lalu kembali menghisap rokoknya tanpa takut ia akan ketahuan atau seseorang dibawah sana melihatnya, ia tak takut dengan itu. Eunsoo ikut melihat kebawah, ia ragu berbicara ini pada Yena tapi ia harus mengatakannya saja hanya sekedar informasi “Tadi..aku melihat Kyungsoo dibawah, dia bersama seorang wanita ”

Yena mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulutnya, Kyungsoo bersama wanita? Apa dia berkencan? Oh apa pedulinya, “Lalu kenapa? Apa aku harus melabrak wanita itu huh? Aku tidak peduli dengannya.. kita berduua orang asing..”

“Bagaimana bisa dia menjadi orang asing, kalian bahkan slalu satu sekolah sejak sekolah dasar dan unit apartement kalian berdekatan”

“Aku tidak peduli Eunsoo, sekarang dia orang asing bagiku” Tegas Yena penuh emosi, setiap nama Kyungsoo disebut pasti saja ia merasa akan naik darah dan rasanya ingin mengumpat. Ya, selama s ini mereka jarang bertemu hanya sekali atau dua kali saja mereka berpapasan karna sekarang Kyungsoo berkerja keras diperpustakaan menyiapkan ujiannya.

.

“Oh.. terima kasih. Aku akan segera mengembalikan”

Ucap siswi itu setelah Kyungsoo meminjamkannya buku catatannya, siswi bernama Minji itu adalah teman sekelasnya, Minji kemudian pergi keluar dari perpustakaan dan Kyungsoo masih berada disana, ia  sibuk dengan beberapa buku-buku tebalnya. Tinggal tiga hari lagi sebelum ujian, sebenarnya mereka sudah bebas jadi ia bisa berlama-lama diperpustakaan.

Bohong Jika Kyungsoo sudah melupakan kejadian malam itu, dia masih mengingatnya dan hanya karna satu malam itu ia menjadi tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan belajarnya. Tidak.. ia harus tetap belajar, ia harus bisa masuk universitas Seoul.. itulah tujuan utamanya. Ia sangat ingin bisa membanggakan Ibunya yang tinggal di desa, ya.. Kyungsoo tinggal sendiri di apartement itu sejak tiga tahun lalu, Ibunya tinggal didesa bersama kakeknya dan juga Ibunya berkerja disana karna menurut beliau upah disana lebih besar daripada harus berkerja di Seoul ini. Lalu Ayahnya? Ayahnya sudah meninggal sejak lama, sekitar 10 tahun yang lalu , jadi apapun yang terjadi ia harus bisa sukses disini tapi mengingat kejadian malam itu ia merasa sudah mengecewakan Ibunya.

Kyungsoo berhenti membaca bukunya, ia menundukan kepalanya merasa pening dengan semua masalahnya., ia membutuhkan sesuatu yang dingin. Ya, Kyungsoo berdiri dari sana ia berniat membeli suatu minuman padahal baru saja tadi ia keluar dari perpustakaan. Langkahnya perlahan melambat ketika melihat Yena berada di depannya juga melangkah dari arah sebaliknya, tak bisa menghindar jadi ia berjalan saja dijalannya sampai mereka berpapasan dan satu hal yang tercium darinya, yaitu bau rokok yang pasti berasal dari Yena. Dia merokok lagi? Disekolah? Dia memang gila.

Yena tetap memasang wajah dinginnya setelah melewati Kyungsoo, tak ada yang ia pikirkan sekarang selain merasa kesal saja. Eunsoo melihat keduanya yang benar-benar seperti orang asing, padahal katanya dulu mereka cukup dekat dan berteman baik.

.

.

Sudah hampir dua bulan  sejak ujian universitas itu berlangsung dan tahun pun sudah berganti, mereka belum mendapatkan hasilnya tapi bagi Yena hasil yang didapatnya sudah jelas. Yena dan Eunsoo masih sering mengunjungi sekolah hanya untuk bermain-main begitupun dengan yang lainnya, sosok Sehun tiba-tiba menghilang sejak ujian banyak yang bilang jika dia dipaksa melanjutkan sekolah di luar negri.. Yena sedikit kecewa berarti satu-satunya calon suami untuknya hilang, ia tak mungkin memasukan Seungjun karna ia tak suka pria itu, Sehun masih lebih baik darinya.

Yena merengek kecil memengangi perutnya, ia merasa tak enak badan akhir-akhir ini dan terus saja muntah saat pagi hari. Eunsoo terlihat khawatir dengan keadaan Yena, dia sangat jarang sakit tapi kenapa ia mudah sakit akhir-akhir ini “Seharusnya kau dirumah saja, yena” Eunsoo mengelus pelan rambut Yena khawatir dengan sahabatnya itu, ia menyeret bangkunya agar dekat dengan Yena.

“Eunsoo-ya…”

“Kenapa? ”

“Aku pikir…”

Hoekk….

Yena langsung berlari keluar kelasnya untuk ketoilet, Eunsoo mengejarnya dan berharap Yena tidak apa-apa ini sudah kedua kalinya dia ke toilet untuk muntah. Didalam sana, Eunsoo mengelus-ngelus punggung Yena, dia begitu khawatir dengan Yena yang terus muntah dan wajahnya sudah begitu pucat.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Eunsoo khawatir memijat kecil tengkuk Yena. Yena membersihkan mulutnya dengan tissu dan menggeleng “Tidak. Aku tidak baik-baik saja” hal yang paling dibenci Yena pun terjadi yaitu menangis, dia menangis disana membuat Eunsoo semakin khawatir apalagi saat Yena menjatuhkan dirinya ke bawah.

“Kenapa? Kau pusing?”

“Aku rasa aku hamil” Yena kemudian menangis sejadinya didalam sana. Eunsoo yang terkejut ikut menjatuhkan diri didepan Yena, ia tak berpikir sejauh ini jika Yena akan hamil “Kau sudah memeriksanya?”

“Belum..tapi.. aku sudah telat bulan lalu dan… bulan ini juga..” Ucapnya terbata karna masih menangis, sebenarnya Yena sudah merasakan perubahan dalam dirinya sejak bulan lalu saat ia telat datang bulan dan saat ia mengalami mual –mual tapi ia slalu mencoba mengelaknya karna tak mau ini terjadi.

Eunsoo ikut menangis  “Bagaimana ini? Karna malam itu hidupmu  bisa berubah seperti ini  Yena-ya..Hikss… ” Eunsoo bersama Yena menangis bersama, ia tau bagaimana penderitaan Yena begitu berat.

Yena masih menangis, ia bersandar di tembok sebelahnya tak peduli akan kotor atau basah “Seperti katamu, hanya karna satu malam hidup ku berubah”  ia mencoba keras berhenti menangis, ini memang belum pasti tapi ia yakin tentang ini, inilah yang ia takutkan dan ini terjadi..sejak dulu Yena sudah memikirkan ini, ada banyak rencana dalam hidupnya tapi ia harus merubahnya, sekarang ia bisa saja hamil maka dari itu rencana hidupnya berubah.. ada pilihan yang sudah ia pikirkan jika ia hamil, menggugurkannya, meminta pertanggung jawab atau membesarkan anak ini sendiri? ia masih belum bisa memutuskan ia akan memilih yang mana.

.

.

Lalu apa yang dilakukan Kyungsoo selama ini ? Kyungsoo melakukan beberapa pekerjaan paruh waktu mengisi kekosongan jadwalnya karna sekarang ia tak perlu bersekolah dan masih bisa belajar saat malam nanti, ia juga membutuhkan uang dan tak mau memberatkan Ibunya yang masih khawatir dengan biaya kuliahnya, jika ia berhasil dalam ujian dan mendapat beasiswa maka itu sangat membahagiakan.

Hari ini adalah hari perpisahan, semua murid kelas tiga berada di aula sekolah sore ini dengan penampilan yang rapih menggunakan seragam sekolah mereka yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya mereka memakainya,  hari ini juga Kyungsoo yang dinobatkan sebagai siswa teladan dan terbaik itu  itu juga datang memberi sebuah pidato tadi, banyak orang yang menduga Kyungsoo pasti akan masuk universitas Seoul dan itu pasti mengingat nilainya yang slalu bagus, walaupun belum pasti karna hasilnya akan diumumkan besok.

“Kyungsoo-ya.. Setelah ini kau mau kemana?” Tanya Minji disebelahnya, gadis itu terus tesenyum pada Kyungsoo sejak tadi. Kyungsoo menggeleng “Entahlah, mungkin pulang”  Balasnnya dingin, tiba-tiba saja matanya malah mengikuti seseorang yang baru saja masuk ke dalam aula, dia melihat Yena masuk kesana.

“Kyungsoo-ya!” Panggil Minji lagi karna Kyungsoo mengabaikannya. Kyungsoo  sadar, ia malah melihat Yena yang ia hindari selama ini bahkan bertemu diapartement saja tidak pernah,“Aku mau keluar”

“Perlu ku temani”

“Tidak, aku mau sendiri” Kyungsoo melangkah pelan keluar aula itu, ia merasa tak nyaman berada disana dan ia ingin mencari udara segar saja atau mungkin berjalan-jalan untuk terakhir kalinya disekolah ini. Langkahnya perlahan berjalan dilorong dasar dekat lapangan, disana sepi hanya ada beberapa orang saja yang lewat. Kyungsoo berhenti dipinggir lapangan itu dan duduk disalah satu bangku kayu panjang disana, dia menghela nafasnya dan keluarlah kepulan asap dari mulutnya di udara dingin ini.. ya.. ini masih musim dingin.

“Ya! Ada yang ingin kubicarakan”

Yena tiba-tiba saja duduk disebelah Kyungsoo, entah kapan dia datang kesana. Kyungsoo memandang datar Yena disebelahnya “Ada apa?”

“Kyungsoo-ya..” Yena memandang serius Kyungsoo disebelahnya yang terlihat cuek seakan ingin segera pergi menjahuinya “Aku punya hadiah untuk mu”

“Hadiah apa?”

“Jangan terkejut!”

“Tidak akan!”

To Be Continue….

 

Komentar Author :

Aku tau tema kaya gini emang pasaran hahaha, tapi ga tau kenapa pengen aja nulis kaya gini dan tentu saja akan berbeda nantinya karna untuk chapter-chapter selanjutnya akan banyak kejutan..  Rencananya sih ga akan banyak chapter nya mungkin Cuma sampe 5 chapter atau kurang dari sepuluh, ga akan banyak lah. Semoga kalian penasaran… Oke?

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Crazy with You (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s