[EXOFFI FREELANCE] YOU ARE (Chapter 1)

You Are.jpg

 

[ YOU ARE ]

Tiffany Blesse

-Present-

Starring

Oh Sehun a.k.a Steven Wilson(Sehun Wilson) ||Annastasia Kim||Kim Jongin ||Park Chanyol a.k.a Charlos  Parker(Chanyeol Parker)

Setting

South Korea England

17+ [for Harsh words and Hard scene]

Multi-Chapter

Romance||Friendship||Drama||Hurt

 

PERHATIAN !

Cerita ini hanya fiktif belaka, jadi saya minta maaf apabila ada kesamaan tempat, alur cerita, isi cerita dan lain – lain itu bukan merupakan suatu kesengajaan. Semua isi cerita ini  adalah milik saya dan tolong jangan mengcopynya tanpa seizin saya meskipun saya mengizinkan anda-readers menikmati hasil tulisan saya. Dan saya akan sangat senang dan mengapresiasi apabila anda-readers meninggalkan jejak anda dengan mengkomentari hasil tulisan saya meskipun itu adalah kritikan. Karena dengan itu saya akan semakin semangat lagi untuk menulis dan memperbaiki tulisan saya, cerita ini juga akan di publish di blog lain.  Yang terakhir, I hope you  like this chapter and happy reading. Thank You ^_^

Annastasia Kim – 23 y.o

Oh Sehun a.k.a Steven Wilson(Sehun Wilson) – 22 y.o

 

Park Chanyeol a.k.a Charlos Parker(Chanyeol Parker) – 25 y.o

Kim Jongin 24 y.o

Summary

Disaat masa depan dan manisnya konsekuensi datang, mampukah aku bertahan ?

 

Part 1

Meet Again

 [Now]

Cinta, sebuah rasa dimana saat poros kehidupan menghentak hentak gaduh mengadu pada implus otak untuk tetap tahu caranya bernafas saat netra saling beradu, ketika darah berdesir begitu gencar di balik pori pori dan menggetarkan jasmani meski terbekukan dalam ruang dan masa.

Terlihat manis memang, tapi sebuah manisnya cinta begitu berkonsekuensi saat masa itu semakin menghianati, membawa doktrin lama hingga merajai sanubari, haruskah ia berhenti? kendati konsekuensi menanti dengan dua pilihan dari awal; bertahan atau berhenti untuk jatuh pada orang yang sama.

Entahlah, hanya Tuhan yang mengetahui takdir cintanya; ia hanya berharap takdir itu sesuai dengan apa yang ia inginkan meski ia terlalu pasif dan hanya mengikuti alur kehidupan yang Tuhan buat. Tapi ia lupa akan satu hal, bukankah Tuhan akan mengubah takdir seseorang jika orang itu mau mengubah hidupnya sendiri?

Mata indah bertahtakan bulu mata lentik itu pun terpejam mencoba mencari titik tengah dalam pergulatan hati dan logika, bahkan kini  jemari lentiknya meremas  mug cantik yang teronggok pasrah di hadapannya sebagai pelampiasan kendati jemari lembutnya  masih berfungsi menghantar panas dengan baik. Terlihat dari kepulan asap putih yang terus menguap dan berbaur dengan udara hingga aroma vanilla menggugah kinerja indera penciumannya.

Sayang, lidahnya tak kunjung berdecak nikmat meski sang pembau telah bereaksi menggugah nafsu; Anna tak peduli meskipun susu hangat di genggamannya akan kehilangan aroma karena terabaikan sejak awal, ada hal lain yang lebih menarik atensinya untuk berfikir keras daripada menikmati susu hangat dipagi hari.

Kim Jongin, dua rangkaian kata yang ia rapalkan dalam hati mampu membuat memori lama berputar layaknya film dokumenter yang membawa ia terseret kembali dalam lubang hitam yang tanpa sadar ia ciptakan sendiri. Pria Kim itu telah hampir sepuluh tahun mengisi relung hati terdalamnya, mengisi ruang – ruang hidupnya kendati tak pernah berada di dalam genggamannya. Begitu manis tapi miris saat kenyatan terus menamparnya agar ia segera bangun dan merubah ruang yang mulai retak di makan usia menjadi ruang baru dengan orang baru pula. Tapi apakah ia mampu untuk itu?.

Sebuah hembusan nafas berat lolos begitu saja dari mulut kecilnya yang  seakan mampu sejenak saja menghilangkan penat sebelum netra cantik itu berhenti bersembunyi. Dan sebuah pohon maple dengan daun daunnya yang telah menguning tengah berdiri kokoh di halaman belakang rumah adalah titik fokus pertamanya saat netra cantik itu benar benar terbuka sempurna; Mengamati sejenak lalu tersenyum kecut saat manik coklat itu mendapati salah satu daun maple yang terlepas dari ranting yang menopangnya hingga terombang ambing di udara untuk beberapa detik dan berakhir terkulai tak berdaya di atas tanah.

Kini semuanya terasa semakin sulit untuk Anna saat ayahnya-Sengho Kim mengatakan jika ia akan segera menikahkannya dengan pria yang tak ia kenal dalam waktu dekat; itu berarti statusnya akan segera berganti menjadi seorang istri dari seseorang yang tak ia kenal dan menghabiskan waktu bersamanya hingga nafas terakhir. Tidak, Anna tidak menyukai hal itu, sebuah pernikahan haruslah di bangun dengan sebuah cinta agar tetap kuat dan bertahan sampai akhir jiwa mereka, bukan dengan hal yang begitu konyol; sebuah perjodohan yang ayahnya lakukan dengan entah siapa dia.

Ia muak dan sungguh tak peduli karena amarahnya telah sampai di ubun-ubun setelah mendengar rencana perjodohan itu, bahkan ia tak ingat nama lelaki yang akan menjadi pendamping hidupnya meski baru beberapa detik lalu ayah memberitahunya.  Mengingat namanya saja ia tak mampu apalagi harus menghabiskan sisa waktunya bersama pria yang tak di cintainya?  Oh Shit!, bahkan alam bawah sadarnya kini tengah mengejeknya karena tak juga mampu melepaskan seorang Kim Jongin dari hidupnya atau setidaknya mampu mencari  jalan keluar dari masalah ini.

Anna menggelengkan kepalanya dalam tempo yang cepat mencoba menampik ingatan percakapannya dengan sang ayah dua hari lalu; ia tidak boleh menikah secepat ini karena masih banyak hal yang harus ia lakukan dan ia capai termasuk mendapatkan cintanya. Hingga sebuah deringan ponsel berhasil menginstrupsi pendengarannya, dengan gerakan malas jemari itu meraih ponsel pintarnya dan menggeser panel hijau guna menerima panggilan pagi pertamanya tanpa melihat siapa gerangan yang menelponnya sepagi ini

“Hallo?”

“Kau sudah bangun? Tumben sekali” sungguh jawaban diluar dugaanya hingga lipatan lipatan tipis terpetak di keningnya saat suara bariton itu menelusup gendang telingannya. Ia pun segera menjauhkan ponsel itu lalu mengalihkan pandangannya menuju ponsel yang tengah di genggamnya guna mencari tahu siapa yang kini tengah berbicara.

“Sehun!” panggil  Anna dengan nada kebahagiaan di dalamnya, mata sayunya pun kini berbinar, dan jangan lupakan sebuah senyum simpul telah menghias paras cantiknya saat ini.

“Ya ini aku noona, aku sedang berada di perjalanan kerumahmu sekarang”

“Benarkah? Baiklah aku akan menunggumu di rumah, kebetulan aku juga tidak ada jadwal bertemu client hari ini” dengan nada riang yang masih sama “ kalau begitu sampai nanti Sehun, aku akan mempersiapkan makanan untuk tamu spesialku hari ini hahaha”

“ Baiklah, masakkan  aku makanan yang lezat, sampai nanti noona” Ucap Sehun sebelum ia memutuskan panggilannya.

Anna yang telah mengetahui jika Sehun akan datang pun kini beranjak dari kursi rotan beranda belakang rumahnya dengan riang dan dengan tergesa berjalan kearah dapur guna memasakkan si pri Oh itu dengan berbagai makanan khas Korea, karena ia tahu jika Sehun pasti rindu masakan rumah keluarga Korea kendati hampir lima tahun ia telah menetap di Inggris untuk menjalankan perusahaannya.

Dan oh lihatlah sekarang! Seakan dunia di jungkir balikkan dengan begitu mudah saat mendapati wajah ceria Anna saat ini; seakan pikiran pikiran kalut beberapa detik lalu hanya halusinasinya yang dapat ia tepis dengan mudah tanpa beban yang menggunung di kedua bahunya. Walaupun kenyataan akan terus menginstruspsinya untuk membuat keputusan final; keputusan yang akan benar benar merubah hidupnya saat ini dan yang akan datang.

Disisi lain seorang pria tampan dengan kemeja navy dan celana  jeans hitam berbalut sneakers putih tengah melajukan Buggati Veyron dengan kecepatan sedang meskipun mesin  yang dimilikinya mampu melesat  100 km/jam dalam waktu 2,5 detik saja. Ia hanya ingin menikmati Seoul di pertengahan musim gugur lebih lama; menikmati udara lewat kaca kuda besinya yang terbuka hampir sempurna hingga membuat anak anak rambut hitamnya pun terkoyak manis hingga membuat kesan sexy patut di sandangnya kali ini, tak lupa Evasion seharga US$ 1.200 yang bertengger di hidung mancungnya dan senyuman tipis yang dengan senang hati ia pamerkan membuat wanita – wanita yang berjalan  di trotoar pun berdecak kagum menyaksikan betapa indahnya pahatan Tuhan saat ini.

Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di pelataran rumah sederhana milik Anna, dengan desaign klasik rumah keluarga Korea yang begitu hangat hingga membuat ia rindu akan suasana Seoul, segera ia beranjak dari kuda besinya dan melangkah perlahan menuju gerbang lalu membukanya dengan hati-hati meski membuat decitan samar terdengar saat pintu gerbang itu tengah dibuka.

“Anna?” Tungkai panjang itu terus saja menyeretnya  masuk jauh lebih dalam menyusuri kediaman keluarga Kim, terlihat  lancang memang saat sang tuan rumah belum juga menyapanya tapi si tamu telah masuk hingga kearah dapur; apa boleh buat? toh ia telah membuat janji dengan putri satu satunya keluarga Kim itu.

“Anna?” ucapnya lagi kendati belum ada jawaban dari sang empunya, mata tajamnya terus saja menyapu isi rumah mencari keberadaan si gadis Kim hingga tepat langkah kedua ia mendapati seorang gadis tengah berdiri dalam balutan  dress putih dengan tali kecil menggantung di atas kedua bahunya sedang sibuk membuat adonan pancake coklat with  stroberry ice cream; itu terlihat dari gambar yang terduduk manis di meja  makannya, sebuah majalah tentang bagaimana  cara membuat sebuah dessert. Manis sekali.

Earphone  putih yang masih melekat di kedua telingannya tak mampu membuat Anna menyadari keberadaan Sehun di dekatnya; Sehun kini tengah menitik beratkan bahu kanannya pada dinding putih pembatas antara dapur dan ruang makan dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, manik tajam Sehun yang hangatpun tengah memperhatikan gadis berambut coklat itu tanpa ada satupun yang terlewatkan; dari mulai gadis itu menggoyangkan tubuhnya sembari mengaduk adonan, bernyanyi dengan nada yang sangat fales  dan kecerobohan gadis itu saat tepung yang tidak sengaja tumpah akibat  tersenggol  lengan kirinya membuat gadis itu mengkerutkan keningnya samar, dan  sebuah umpatan lolos begitu saja dari mulutnya yang berhasil membuat Sehun tersenyum simpul.

Ia menyadari jika gadis itu banyak berubah terutama dari segi penampilannya tapi  tetap tidak berubah di beberapa bagian kepribadianya meski hampir lima tahun ia tak bertemu dengannya; expresif, ceroboh dan bodo-

“Sehun? Sejak kapan kau berdiri disana?” Panggilan Anna berhasil menarik Sehun kesadsarannya kembali setelah beberapa detik lalu pikirannya bernostalgia, Sehun yang menyadari Anna tengah menatapnya dengan raut bingung pun segara tersenyum lembut ke arah Anna.

“Baru saja”  dustanya dengan tetap memasang senyum simpul di paras ‘malaikatnya’, padahal jelas jelas ia telah berdiri disana sejak lima belas manit yang lalu hanya karena seorang gadis yang berhasil menarik atensinya, ia bahkan rela untuk tetap berdiri dan memperhatikannya dengan jarak dekat meski tubuhnya telah memberontak untuk segera bergelung di hangatnya selimut kamar hotel.

“Maaf atas kelancanganku” ucapnya lagi.

“Bukan masalah” ucap Anna dengan senyum yang masih melekat di  kedua sudut bibir merahnya, membuat Sehun juga mengulum senyum yang sama.

“Ada yang bisa aku bantu?” tawar  Sehun yang kini mulai menegakkan tubuhnya dan  perlahan menyeret tungkainya mendekati Anna yang masih sibuk membereskan sisa tumpahan tepung  yang tercecer diatas meja.

Dan sebuah gelengan pelan menjadi jawaban telak bagi Sehun “ Kau tamuku sekarang, jadi kau hanya perlu duduk dan menikmati” sambungnya lagi sembari memberi isyarat dengan dagunya; untuk duduk di kursi yang tepat berada di hadapannya. Sehun yang menyadari isyarat tersebut hanya menganguk dan segera menarik kursi di hadapannya lalu mendudukinya dengan santai.

“Tunggulah sebentar lagi, pancake ini akan segera matang” titah Anna yang masih sibuk menuang adonan dan sesekali membolak balikkan pancake diatas penggorengan yang kemudian  hanya di tanggapi Sehun dengan gumaman mengiyakan.

“Dimana paman?”

“Sedang keluar kota, nanti malam ayah pulang” jawabnya dengan masih sibuk meletakkan pancake yang telah matang di atas piring, sedangkan  Sehun masih saja mengamati pergerakan Anna yang sibuk memasak tanpa melawatkan satupun.

Setelah beberapa detik kemudian pancake itu telah tersaji dengan indah diatas meja bersama galbi, spicy seafood, oi naengguk dan  moo saengche yang membuat Sehun tak sabar untuk segera menyantap semua makanan di hadapannya. “ Makanlah, aku tahu kau sangat merindukannya” ucap Anna sembari menarik  kursi untuk duduk menemani Sehun menyantap sarapan pertamanya di Seoul setelah lima tahun ini ia tak lagi menyantapnya, tak lupa sebuah senyum manis yang Anna sunggingkan untuknya membuat nafsu makannya bertambah.

Sehun pun segera menarik sepasang sumpit lalu menggunakannya untuk mengambil galbi yang  masih hangat dengan terburu buru, Anna yang melihat aksi Sehun makan dengan lahap pun tersenyum lebar dengan sesekali menyesap tea hangat miliknya.

“ Ngomong – ngomong CEO super sibuk seperti dirimu datang ke Korea emm…lebih tepatnya datang kerumahku ada apa?” ucap Anna setelah meletakkan cangkir keramik itu kembali keatas meja, matanya memincing penuh selidik; biasanya seorang CEO tidak akan membuang waktu untuk datang tanpa ada tujuan  tertentu bukan?.

Sehun yang seolah mengerti jalan pikiran gadis itu pun memutar bola matanya malas “Jangan berfikir macam-macam” ucapnya sebelum menyuapkan irisan lobak itu kedalam mulutnya “ Aku ada perjalanan bisnis di Korea, jadi aku menyempatkan datang kemari” lanjutnya lagi dengan sesekali menyuapkan irisan lobak itu lagi.

“Hanya itu?” selidik Anna lagi

“Aku juga ingin mengundangmu secara pribadi ke acara pernikahanku lusa” ucap nya setelah ia menenggak tea hangat milik Anna membuat sang pemilik melayangkan protes kecil meski rasa keterkejutan dan bahagia lebih mendominasi setelah mendengar penuturan Sehun yang akan segera melepas masa lajangnya.

“ Menikah? Benarkah?” ucapnya Anna dengan bola mata berbinar, senyum yang sedari tadi terulas di bibirnya semakin mengembang. Dan Sehun tahu setelah ini Anna akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan layaknya ia adalah tersangka pembunuhan yang tengah diintrogasi, hingga membuat Sehun menghembuskan nafas lelahnya, ia pun segera meletakkan sumpitnya di atas meja dan beralih menompangkan kedua siku – sikunya di atas meja dengan jemari yang saling bertaut untuk menyangga dagu lancip miliknya.

“Dengan siapa?”

“Nanti kau akan tahu”

“Apa dia sangat cantik?”

“ Tidak juga”

“Ngomong – ngomong dimana kalian  bertemu?”

“Di sekolah menengah atas”

“Apa aku mengenalnya?”

“Tentu, tapi mungkin kau lupa karena dia sudah banyak berubah”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan memastikan sendiri nanti, Apa kau akan  menikah di London?”

“Ya”

“Wah… aku tidak sabar melihat pengantin wanitanya dan tunggu, jika kau menikah di London maka impianku untuk pergi ke Inggris  dengan gratis akhirnya tercapai”

“Kau harus membayar tiketnya sendiri”

“Apa?!”

Damn it!, bahkan dengan senang hati Anna mengumpat saat tiket untuk datang  ke pernikahan Sehun tidaklah gratis meskipun ia telah mencoba merayu Sehun untuk memberinya tiket gratis; itu berarti ia harus menguras tabungan selama 3 tahun miliknya untuk pergi ke Inggris, jika tahu seperti itu lebih baik ia tidak di undang kepernikahan sahabatnya itu.

Suasana dapur pun kini semakin hangat hingga menenggelamkan mereka dalam tawa yang kadang pula di selingi dengan sebuah cacian yang muncul dari keduanya, jika di ingat-ingat lagi suasana seperti ini telah hilang sejak delapan tahun lalu hingga mereka  benar benar merindukan waktu-waktu bersama seperti ini.

Sebuah derap langkahpun tak mampu membawa mereka menyadari akan keberadaan seseorang yang baru saja datang, dan Anna lah yang pertama mengetauhi kedatangannya, hingga seruan secara otomatis  terlontar dari bibir mungilnya “ Ayah! Sejak kapan ayah berada disana?” ucap Anna sembari beranjak dari kursi dan berlari kearah sang ayah tercinta yang kini masih saja  berdiri dan tersenyum kearah mereka, Sehun yang mengetahui itupun segera beranjak dari kursi dan membungkuk hormat.

“Anyeonghaseyeo Sehun imnida” ucap Sehun sopan yang kemudian di tanggapi oleh tuan Kim dengan senyuman lebar.

“Ayah bilang akan pulang nanti malam?” ucap Anna sembari merangkul lengan kanan ayahnya manja sembari menggiringnya menuju meja makan.

“Urusan ayah sudah selesai disana, jadi ayah pulang cepat “ ucap Sengho Kim sembari mendudukan dirinya  disamping  kanan Sehun.

“Dia temanku di sekolah menengah atas ayah, dia menyempatkan berkunjung di sela sela kesibukannya menjadi seorang CEO di London, dan dia juga akan menikah lusa Ayah, dia datang untuk mengundangku secara pribadi untuk datang ke acara pernikahannya di London” jelas Anna panjang lebar yang hanya di tanggapi senyuman tak kalah lebar oleh sang ayah.

“Iya paman, dan paman juga harus datang keacara pernikahanku nanti” ucap Sehun dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya, sedangkan Anna yang mendengar penuturan Sehun hanya membulatkan matanya; Sehun benar benar ingin menguras isi tabungannya dengan mengundang ayahnya juga, yangmana tiket pulang pergi mereka harus mereka tanggung sendiri. What the hell are you doing Oh Sehun?! , umpat Anna dalam hati

“ Baiklah, aku akan dat-“ ucapan sang ayah terhenti begitu saja saat Anna dengan cepat menyela ucapan sang ayah “ Ayah tidak per-“ tetapi sebelum silabel itu dengan sempurna keluar dari mulutnya Sehun telah benar benar membuatnya diam

“Saya telah menyiapkan tiket pulang pergi untuk anda dan Anna” ucap Sehun dengan menatap wajah Anna yang kini berubah cerah sekali saat mengetahui bahwa ia tidak akan menguras seluruh isi tabungannya.

“Benarkah? Ugh… kau penuh kejutan hari ini Sehun, thank you” ucapnya sembari bergelayut manja di lengan kiri Sehun hingga sebuah gelengan dan senyuman manis terpetak di paras tampannya saat mendapati tingkah manja Anna saat ini, begitu juga dengan sang ayah yang memberikan respon yang sama dengan Sehun. Anna pun segera menegakkan badannya kembali dan bersiap mengambil galbi menggunakan sumpitnya saat sang ayah memulai pembicaraan kembali.

“Berapa hari kau akan berada di Korea?” suara tegas tapi hangat itu pun mulai menginstrupsi Sehun hingga membuatnya kembali menatap tuan Kim tanpa meninggalkan senyum manisnya.

“Dua hari paman” ucapnya singkat

“Kalau begitu kau menginap saja disini?” tawar Anna yang di tanggapi dengan anggukan dari sang ayah sebagai tanda persetujuan atas ide yang di berikan Anna untuk membiarkan Sehun menginap di rumah sederhana mereka.

“Benar, kau menginap disini saja” ucap tuan Kim meyakinkan

“Terimakasih atas tawarannya paman, tapi saya akan menginap di hotel saja, karena di hotel itu juga akan ada beberapa pertemuan bisnis paman” tolaknya sopan “kalau paman mengizinkan, setelah makan saya ingin mengajak Anna untuk membeli cincin pernikahan,  karena dia wanita saya membutuhkan pendapatnya  untuk memilih cincin mana yang lebih cocok kami kenakan saat pernikahan” ucap Sehun yang berhasil membuat Anna tersenyum dan menggangguk cepat.

“ Baiklah, kalian boleh pergi setelah makan” ucap tuan Kim hingga membuat mereka tersenyum simpul.

***

Semenjak Anna menaiki kuda besinya tak henti hentinya ia berdecak kagum bahkan bola matanya bergerak kesana kemari; meneliti setiap sudut mobil ini, memuji segala teknologi canggih yang melekat di sekitar kuda besinya hingga senyum terus melekat  di kedua sudut bibirnya. Sesekali Sehun melirik Anna yang tak berhenti untuk bergerak sembari memegangi seluruh interior mobil  hingga membuatnya mengulas senyum tipis meskipun titik fokusnya tak teralihkan sedikitpun dari baku jalanan, Buggati Veyron itu tetap melaju dengan begitu angkuh membelah hiruk pikuk Seoul dengan sesekali suara klakson terdengar menguar guna memaki setiap pemakai jalan yang menghambat perjalanannya.

“Kau sungguh bekerja keras Sehun” ucap Anna sembari menatap Sehun yang berada di kursi kemudi dan hanya di balas dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman manis. Ngomong – ngomong entah  sudah berapa kali hari ini ia tersenyum seperti itu karena perasaan bahagia yang membuncah di hatinya.

“Duduklah dengan benar dan  jangan menatapku seperti itu” ucap Sehun sembari memutar kemudinya kearah kiri

“Kenapa tidak boleh?”  ucap Anna sembari mengkrucutkan bibirnya sebal sedangkan matanya memincing menyelidik.

“Nanti kau jatuh cinta padaku” ucap Sehun santai dengan kekehan di akhir frasanya

“Teruslah bermimpi Oh Sehun! Listen, ku pastikan padamu aku tidak akan jatuh cinta padamu, lagipula kau akan menikah lalu atas dasar apa aku jatuh cinta padamu?” ucap Anna dengan penuh keyakinan, bahkan ia melipat kedua tangan di depan dada menentang pernyataan konyol Sehun beberap detik lalu.

“Benarkah? Kita lihat saja nanti” ucap Sehun yang kini  mencondongkan tubuhnya kerah Anna dan beralih memfokuskan manik tajamnya kearah Anna membuat netra meraka beradu lembut; mata tajam Sehun yang hangatpun mengunci mata berbinar Anna hingga membuat Anna seakan menyelam kedalam kehangatan yang di pancarkan dari netra itu, yang entah mengapa ia bisa merasakan apa arti cinta di dalamnya hingga membuat Anna membeku. Sehun memang tidak melakukan apapun meski jarak mereka tidak lebih dari lima senti, hanya saja ia bingung bagaimana bisa menemukan rasa itu; rasa yang begitu tulus tapi tak terucap, padahal mereka tidak sedang mendebatkan sesuatu yang penting.

Sebuah senyum lebarpun terlukis kembali di paras tampannya “Turunlah, kita sudah sampai” titah Sehun lalu melepas sabuk pengamannya dan membuka knop pintu kuda besinya hingga menimbulkan decitan kecil. Dan debuman kecil setelahnya saat Sehun keluar dari dalam mobil dan berjalan memutari bagian depan mobilnya.

Sedangkan Anna masih saja pada posisinya semula, tatapannya masih saja menerawang jauh bahkan sejak tadi ia tidak menyadari bahwa mobil Sehun telah terparkir rapi didepan sebuah toko perhiasan di kawasan elit Seoul, Sehun yang jengah menunggu Anna tak kunjung keluarpun segera membukakan pintu  untuk Anna.

“Anna?” ucap Sehun dengan kernyitan di dahi heran saat mendapati Anna masih menghadap kursi kemudinya tanpa berniat bergerak sedikitpun

‘ada apa dengannya?’ 

“Anna?” tepat di panggilan kedua Anna baru tersadar dari lamunannya hingga membuatnya sedikit linglung; pandangannya bergerak kesana kemari mencoba mencerna situasi hingga ia mendapati mobil Sehun telah berhenti dan Sehun yang telah membukakan pintu untuknya. Segera saja  ia turun  dan berjalan berdampingan dengan Sehun  saat memasuki toko perhiasan itu.

Beberapa pelayan wanita tak henti – hentinya menatap Sehun dan dirinya sejak pintu masuk dibukakan oleh seorang security, sebagian  di antara mereka mengatakan kami adalah pasangan serasi sedangkan sebagian di antara mereka saling berdecak iri. Sungguh tatapan memuja maupun tatapan iri mereka membuat Anna risih, tetapi berbeda dengan Sehun yang tetap tak memperdulikan mereka dan terus menyeret tungkainya hingga menuju salah satu etalase panjang yang memajang berbagai macam bentuk dan harga cincin pernikahan.

“Selamat pagi tuan dan nona ada yang bisa saya bantu?” sapaan ramah yang begitu hangat adalah hal pertama yang kami dengar setalah kami tepat di depan  sebuah etalase panjang dengan design modern itu.

“Kami ingin mencari cincin pernikahan” ucap Sehun yang kemudian di tanggapi senyuman lebar dari salah satu pegawai wanita toko perhiasan itu.

“Pilihlah!” titah Sehun saat mata mereka kembali beradu

“Kau yakin aku yang memilihnya?” ucap Anna dengan ragu; ini adalah cincin pernikahan dan ia takut pilihannya tidak sesuai dengan keinginan Sehun ataupun  calon istrinya, meskipun calon istri Sehun tidak tahu bahwa cincin pernikahannya adalah pilihannya karena Sehun ingin memberikan kejutan untuk calon istrinya, tapi tetap saja Anna berat untuk memutuskan pilihannya; karena semuanya terlihat cantik. Dan sebuah anggukan  ringan Sehun menjadi jawaban telak bagi Anna.

“Emm… Sehun seperti apa dia? Ucap Anna yang berhasil menarik atensi Sehun dari puluhan pasang cincin hingga menatap Anna dengan alisnya yang berjungkit tak mengerti

“Maksudku kepribadian calon istrimu?” sambung Anna lagi

Sehun yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum, matanya menatap dalam netra cantik Anna sedangkan otak briliannya memutar kepingan kepingan memori delapan tahun lalu “Dia wanita sederhana, ekspresif, ceroboh, terkadang kekanak kanakan,  plin plan dan keras kepala”  ucap Sehun santai.

Tetapi berbanding terbalik dengan ekspresi Anna saat ini; matanya telah membulat sempurna dengan kerutan tipis di keningnya, ia tak menyangka jika Sehun akan mendapatkan calon istri seperti itu, dan kenapa pula ia mendiskripsikan semua sifat jelek calon istrinya bukankah biasanya calon suami akan menyanjung calon istrinya? Dia sangat aneh; ‘ Efek jatuh cinta setiap orang memang berbeda’ batinnya.

Setelah mendengar penuturan dari Sehun, ia segera memutar kembali badannya menghadap etalase itu, jari telunjuknya terus saja menyusuri dinding kaca bagian atas etalase itu dan di detik selanjutnya  mata indah itu  berbinar saat menangkap sepasang cincin pernikahan terpajang di sana; sebuah cincin pernikahan dimana setiap sisi yang mengitarinya terdapat berlian putih dan biru yang berkilau, berbeda dengan cincin untuk mempelai laki-laki yang lebih sederhana, cincin untuk mempelai perempuan sisi depannya sedikit menonjol dengan berlian biru terpatri dengan sempurna. Membuat kesan mewah dan elegant jika cincin itu di kenakan pemiliknya.

Cincin mempelai wanita

“Boleh aku lihat yang ini nona?” ucap Anna yang kemudian di tanggapi dengan anggukan dan sebuah senyuman manis, tanpa menunggu lama sepasang cincin itu telah keluar dari etalase, dengan hati-hati pegawai cantik itu menyerahkan sepasang cincin itu kepada Anna.

Anna dengan senang hati menerima sepasang cincin itu dengan senyum manis di kedua sudut bibirnya, kemudian ia memutar tubuhnya menghadap Sehun yang kini menatapnya tak percaya.

“Bagaimana, kau suka?” ucap Anna  tanpa melepas pandangannya ke Sehun.

“Kau yakin?” ucap  Sehun yang tak juga melepas atensinya dari wanita di hadapannya.  Sedangkan yang di tatap mengeryitkan dahinya samar, senyum yang terus terpancar sedari tadi kini mulai memudar.

“Kau tidak suka? Apa cincin ini tidak cantik?” tanya Anna lirih tapi tetap mampu di tangkap oleh gendang telinga Sehun.

“Bukan begitu, hanya saja aku ingin tahu kenapa kau memilihnya?” ucap Sehun serius, tatapannya masih saja mengarah ke wanita yang ada di hadapannya saat ini.

“Aku pikir cincin ini akan memberikan calon istrimu banyak pelajaran baru” ucap Anna dengan senyum yang mulai merekah kembali di paras cantiknya. Sedangkan Sehun hanya membeo dengan lipatan halus yang mulai terpetak di wajah tegasnya

“Maksudmu?” ia sungguh tak mengerti kemana arah pembicaraan Anna saat ini

“Kau tahu? Istrimu itu sangat menarik” ucapnya dengan kembali mengalihkan pandangannya dari cincin untuk menatap Sehun yang kini tengah melipat lengannya di depan dada

“Lalu?”

“Menurutku cincin ini sangat cantik,elegant,dan mahal. Kau tahu benar jika sebuah cincin pernikahan akan selalu melekat di jari manis pemiliknya, dan ketika ia melihat cincin ini ia akan sadar siapa dirinya sekarang, dia adalah istri dari seorang Oh Sehun seorang CEO yang kini memiliki kerajaan real estate di daratan Eropa, maka dari itu dengan perlahan ia akan mengubah kepribadiannya, istrimu tidak akan lagi ceroboh dan terlalu ekspresif untuk tetap menjaga kehormatan suaminya dengan tidak melakukan hal hal bodoh dan lebih bisa menahan diri untuk tidak terlalu ekspresif, tidak akan keras kepala dan plin plan karena banyak hal dan tanggung jawab yang harus ia tanggung bersamamu karena bagaimanapun suatu saat kau akan membutuhkan pertimbangan darinya Sehun”  ucap Anna dengan yakin, bahkan ketika ia menjelaskan alasannya, matanya seakan mengunci mata Sehun untuk tetap menatapnya hingga membuat Sehun membeku dengan alasan di balik ia memilih cincin pernikahan itu.

Setelah mendengar penuturan Anna membuat senyum Sehun semakin lebar di paras tampannya hingga tangan kanannya mengambil alih cincin itu dari genggaman Anna dan menyerahkan kepada pegawai wanita itu.

“Aku ambil yang ini nona, tolong berikan tempat yang paling bagus untuk menyimpan cincin ini “ ucap Sehun dengan senyum yang belum juga hilang dari paras tampannya. Di detik selanjutnya ia memutar tubuhnya menghadap Anna yang kini menyambutnya dengan senyum yang sama. “Terimakasih” Ucap Sehun yang hanya ditanggapi dengan anggukan ringan oleh Anna.

***

Tak terasa saat detik begitu lancang memaksa jam untuk terus berpacu dalam perputaran waktu  hingga ke titik lima tiga puluh saat gurat gurat senja tengah menyebar hingga terlukis indah dalam balutan tangan dingin sang Maestro.

Sapaan lembut anginpun menggerakkan anak anak rambut mereka hingga tak kembali pada posisi semula, namu anginpun tak mampu memecah keheningan meski lima menit telah berlalu; mereka hanya ingin menikmati senja dan riak tenang Sungai Han sembari menyelami pikiran masing masing. Hingga menit ketujuh keheningan mulai terusik saat netra tajam Sehun menangkap pergerakan kecil dari wanita yang kini tengah duduk di samping kemudinya hingga mengharuskannya memutar sebagian tubuh tegapnya yang tengah bersandar santai di kursi pengemudi

“Kau bosan?” ucap Sehun lembut yang kemudian hanya di balas dengan gelengan pelan, sedangkan netra cantik itu masih terus menerawang kedepan

“Aku hanya sedang berfikir, Sehun?” ucap Anna yang kini mengalihkan atensinya pada Sehun yang tengah menatapnya dalam “ Aku akan menjadi seorang istri dari seseorang yang ayah jodohkan dengan ku” matanya berubah sendu dan itu begitu jelas di mata Sehun saat tatapan mereka saling beradu lembut

“Lalu apa masalahnya?” tanya Sehun hati-hati

“Cinta, aku tidak mencintainya Sehun tapi aku mencintai ayahku hingga aku tidak ingin membuatnya kecewa” ucap Anna lirih, bahkan kepala itu telah menunduk sempurna hingga helain rambut coklatnya jatuh menutupi paras cantiknya; ia bahkan mulai menggigit bibir saat sebulir kristal telah luruh di pipi pualamnya. Sehun membuang mukanya saat mendengar pernyataan wanita di sampingnya, bahkan dadanya kini seakan dihimpit oleh dua batu besar hingga membuatnya sesak dan akan mati dalam hitungan detik saja.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Amarah pun serasa begitu mencekik batinnya saat kedua mata cantik menatapnya sendu dengan jejak air mata yang terhapus kasar oleh jemari jemari pemiliknya hingga membuat Sehun meremas kemudinya kuat sebagai pelampiasan.

“Jongin, apa kau masih mencintainya?” ucap Sehun yang kini terdengar begitu dingin dan mengintimidasi berhasil membuat bola mata Anna membulat sempurna dan tubuhnya menegang, Sehun membuatnya mengingat kembali pertanyaan yang begitu mengganggunya selama lima tahun belakangan; ia bahkan menanyakan hal yang sama pada hatinya sendiri saat sang logika memberinya keputusan telak.

“Ya”

Jantung Sehun seakan jatuh merosot ke dalam perut dengan rasa sesak yang semakin nyata, bahkan buku buku di tangannya telah memutih. Ia berharap jika telingannya tidak berfungsi baik saat mendengar pengakuan cinta dari Annastasia Kim, bahkan jika waktu bisa di putar kembali ia lebih memilih untuk  tidak pernah berada di sini dan mendengarnya secara langsung sekarang. Ingin sekali ia menenggak wine hingga hilang akal dan menganggap ucapan itu hanya halusinya saja saat ini.

Oh Shit!

“Kalau begitu pergilah!, kejar Jongin karena kebahagiaanmu adalah dia dan ini adalah kesempatan terakhirmu” Ia bahkan telah muak dengan pembicaraan ini hingga ia lebih memilih untuk diam; segera memutar kunci  lalu menginjak gas hingga kuda besi itu kembali berjalan angkuh membelah hiruk pikuk Seoul, mata tajamnya hanya fokus pada baku jalanan tanpa sedikitpun melirik Anna yang diam-diam merasa ketakutan atas perubahan sikap Sehun yang begitu tiba-tiba menjadi dingin, bahkan ia terus menambah kecepatan laju kuda besi itu.

Anna hanya menatap sisi kiri wajah pria itu tanpa mampu bertanya karena bibirnya seakan terkunci hingga ia tak mampu hanya sekedar menyebut nama pria itu, alisnya berjungkit menandakan dia sedang marah.

‘Benarkah Sehun sedang marah padanya sekarang?’

‘Tapi kenapa?’

‘Sebenarnya ada apa denganmu Oh Sehun?’

“Aku akan mengantarmu pulang” ucap Sehun dengan nada yang sama; dingin dan singkat, bahkan ia tak juga memalingkan wajahnya saat ia berbicara dengan Anna karena hatinya sedang bergejolak saat ini dan ia tak ingin lepas kendali hingga membentak Anna tanpa Anna sadari apa salahnya hingga membuat seorang Oh Sehun begitu murka saat ini

“Baiklah”  Ia memutuskan untuk diam hingga keheningan kembali merajai keduannya. Keheningan yang  sama masih saja melingkupi sampai kuda besi milik Sehun telah berhenti di pekarangan rumahnya, sejenak ia melirik Sehun yang masih saja diam; bahkan tangannya masih mencengkram kemudi dengan tatapan yang  masih  terkesan menerawang.

“Sehun, aku akan turun sekarang dan…terimakasih telah mengantarku pulang” ucap Anna sesaat sebelum melepas seatbelt yang menggungkung tubuh rampingnya. Kini jemari lentiknya pun beralih memegang knop pintu  berniat untuk segera turun dari mobil Sehun, tapi tepat saat ia akan membukanya Sehun memenekan lock pintu otomatis dari pintu kemudi hingga pintu tak bisa di buka dan di detik itu pula ia mengalihkan pandangannya ke arah Sehun yang kini tengah menatapnya dalam.

Dalam sekejap ia meraih lengan Anna dan menariknya kedalam pelukan hangat miliknya dalam satu hentakan hingga membuat Anna membulatkan matanya, seketika aroma musk menggelitik indera penciumannya dan rasa hangat nan nyaman menguasai tubuhnya hingga sekujur tubuhnya membeku meski darah di balik kulitnya masih berdesir dengan kencang. Sebenarnya ini bukan pelukan pertamanya dengan Sehun, beberapa tahun lalu mereka sering berpelukan tapi karena setelah bertahun tahun membuat sedikit rasa canggung mengusiknya.

“Anna, kau percaya padaku kan?” gumam Sehun yang kini masih saja menumpukkan dagunya di pundaknya, bahkan pelukan yang ia berikan serasa begitu erat saat ini.

“Y-ya” ucap Anna terbata, sungguh ia tak mengerti dengan Sehun saat ini, pagi- pagi sekali ia datang dari London dan mengabarinya jika ia akan segera menikah lalu mengajaknya ke toko perhiasan untuk memilihkan cincin pernikahan untuknya, saat di Sungai Han tiba tiba saja dia berubah dingin padanya dan sekarang ia memeluknya dengan begitu hangat. Bahkan sekarang dia menanyakan pertanyaan yang begitu absurd. Ia semakin tidak mengerti dengan Sehun saat ini.

‘ sebenarnya ada apa dengan Sehun?’

“Kalau begitu percayalah padaku hingga akhir” ucap Sehun lembut dan hanya di tanggapi anggukan pelan dari Anna di sela sela pelukan mereka. Sehun segera merenggangkan pelukkannya dan beralih menatap Anna dalam, tangan kanannya yang semula memeluknya pun kini beralih menyentuh pipinya dan mengelusnya lembut. Bahkan sebuah senyum lembut telah kembali terpahat indah di wajah tegasnya.

Berbanding terbalik dengan Anna saat ini; ia hanya mengulas senyum yang ia paksakan pada Sehun, sungguh ini kali pertamanya ia melihat Sehun seaneh ini, tatapan bingung pun masih terpetak jelas saat netra mereka beradu.

“Sekarang masuklah ini sudah malam, sampaikan salamku untuk paman Kim karena aku tidak bisa menemuinya karena ada pekerjaan yang harus aku urus untuk besok, dan sampai  jumpa di London Anna” ucap Sehun yang hanya di respon dengan anggukan pelan. Segera Anna membuka  pintu setelah  Sehun membuka lock pintu otomatis  hingga pintu itu bisa terbuka kembali.

Debuman lirih akibat  pintu yang tertutup pun menjadi akhir perbincangan sekaligus pertemuannya dengan Anna, di luar Sehun melihat Anna yang masih berdiri sembari melambaikan tangannya lalu beberapa detik kemudian ia memutar kunci dan melajukan Buggati itu pergi dari hadapan Anna.

Sedangkan Anna yang masih terus memikirkan pertanyaan Sehun pun tanpa menyadari jika tungkainya telah menyeretnya masuk hingga kini ia  berada di dalam kamarnya, bisa di bilang hari ini cukup melelahkan setelah pergi bersama Sehun seharian hingga ia lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang sejenak sebelum ia pergi membersihkan tubuhnya yang lengket. Hembusan nafas berat pun kini lolos dari bibir merahnya saat pikirannya kembali mengingat percakapannya dengan Sehun

‘Kalau begitu pergilah!, kejar Jongin karena kebahagiaanmu adalah dia dan ini adalah kesempatan terakhirmu’

Ucapan Sehun begitu mengganggu pikirannya sekarang, haruskah ia mengikuti  saran Sehun dengan konsekuensi mutlak; mempermalukan keluarga terutama ayahnya sendiri atau tetap melakukan pernikahan dengan orang yang sama sekali tak ia kenal dan cintai hingga terjebak dalam luka sepanjang hidupnya? Tidak, ini sungguh pilihan yang sangat sulit untuk dirinya sendiri, rasanya ingin sekali ia bertanya apa maksud Tuhan sebenarnya? Apa Tuhan  sungguh akan menguji kadar imannya?

Hembusan nafas berat pun kembali lolos dengan sempurna dari bibir merahnya hingga memecah keheningan sejenak, ia pun  memilih untuk bangkit dari ranjangnya dan bergegas mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya sebelum ia tidur.

Perputaran waktu memang tak ubahnya roda yang berputar dengan cepat hingga menyeret dirinya yang sebenarnya telah jatuh tersungkur dengan berbagai permasalahan pelik hidupnya. Jika di hitung hitung kini sudah hampir tiga jam  berlalu setelah ia mandi dan memutuskan untuk pergi tidur, tapi mata lentik itu tak kunjung bersahabat dengan tubuhnya yang telah meronta untuk bergelung dengan selimut hangat yang telah membalutnya hingga batas paha atas; terbukti ia lebih memilih untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan tatapan menerawang.

Sedangkan pikirannya terpenuhi berbagai macam pertanyaan yang dirinya sendiripun tak dapat menjawab kendati konsekuensi semakin nyata di depan mata, layaknya menyelam di dasar palung terdalam yang entah kapan ia akan kembali kepermukaan kendati oksigen tengah berada pada titik minim. Begitulah kira kira saat otak brilian itu tak kunjung mencapi titik temu dalam pergulatan batin dan logika; menjatuhkan sang ayah hingga mencium telapak kaki mereka sebagai penebus dosanya adalah hal tergila kendati hanya ingin membuat putrinya bahagia. Tidak, membayangkan saja hatinya berkedut ngilu bak sembilu pedang mengoyak hati terdalamnya saat ini, ia lebih baik memotong urat nadinya sendiri jika itu terjadi. Tapi, bukankah semua itu hanya akan berawal dari keputusan yang ia ambil sekarang?

Bayangan – bayangan mengerikan itu begitu riuh melintas di benaknya hingga ia merasa pening bukan main, bahkan pijatan lembut di pelipis tak kunjung membuat rasa sakit itu reda. Pernikahannya akan segera di gelar maka dia tidak boleh terlalu banyak membuang waktu untuk mengambil keputusan paling bijak menurutnya.

“Jongin, aku membutuhkanmu, aku mohon datanglah” ucapnya dengan bibir yang bergetar, bahkan kristal bening itu telah meluncur deras di pipi pualamnya hingga isakan demi isakan tak mampu lagi ia tahan, bahunya bergerak naik turun dengan tak teratur. Ia berusaha menepuk dadanya agar sesak itu hilang, tapi rasa sesak semakin meremas hatinya.

***

Sinar matahari perlahan menembus celah celah jendela yang telah terbalut tirai putih yang menjulur kebawah, tapi angin tak henti hentinya mencoba menerobos hingga tirai itu bergerak gusar. Kicauan burung – burung pun seakan dengan senang hati menyeretnya dari alam mimpi hingga membuat matanya mengerjab  beberapa kali, ia menggeliat  pelan merenggangkan otot otot lelah di tubuhnya dengan sesekali menguap dan mengucek mata kanannya pelan sedangkan mata kirinya tengah menatap jam dinding yang menggantung begitu angkuh di dinding putih yang berada tepat di seberang ranjang besar miliknya; pukul tujuh tiga puluh pagi.

Ia segera bangkit saat memorinya kembali memutar schedule pertemuannya dengan seorang client yang memintanya memenangkan hak asuh anak. Sejenak ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan wajah yang masih mengantuk dan malas, tentu saja karena ia baru bisa tidur jam lima pagi sedangkan ia harus segera menemui client di kantornya jam delapan pagi, berarti hanya tinggal tiga puluh menit waktu yang tersisa sedangkan dia belum mandi dan bersiap siap.

Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri, tapi kakinya kini berhenti di depan cermin besar untuk memandangi tampilannya sendiri; rambut yang berantakan layaknya singa, matanya yang berubah menjadi sebesar bola pingpong akibat menangis semalaman. Ia hanya menghembusakan nafas kasar karena penampilan dirinya sekarang tak ubahnya gelandangan yang kelaparan.

Setelah hampir lima belas menit ia merendam tubuhnya di air hangat ia segera berjalan ke arah almari dan mengambil sebuah kemeja putih yang di padukan dengan celana kain dan blezer dengan warna abu abu yang senada.

Tak lupa menambahkan riasan tipis di kulit putih bak porselen miliknya lalu menata rambutnya dengan mengikat satu rambut panjangnya ke belakang, hingga memberikan kesan wanita mapan dan independent.

Ia melirik Alexandre Christie yang telah melingkar di pergelangan tangan kirinya sekilas dan segera beranjak keluar dari kamar karena ia hampir saja terlambat, dan dia sangat membenci jika dia terlambat karena akan mengurangi point perfectionis dan keprofesionalitasan yang selama ini ia agung agungkan.

Dengan setengah berlari ia keluar menuju mobil yang tengah terparkir di luar pekarangan rumah, bahkan teriakan sang ayah yang menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu pun ia abaikan dengan alasan ingin sarapan di kantor saja. Sejenak ia mengatur nafasnya sebelum ia memasuki mobil, tapi tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti  tepat dimana dia berada dan dengan cepat beberapa orang berbadan tegap dengan wajah yang di tutup topeng putih pun  keluar dari dalam mobil, orang-orang itu sunguh membuatnya takut; bahkan matanya tengah bergerak gusar dengan tubuh yang semakin bergetar.

“ S…Siapa kalian? Orang- orang itu tak menjawab pertanyaanya dan terus melangkah mendekati Anna, perlahan ia melangkah mundur untuk pergi tapi orang – orang itu telah mengepungnya,  ia mencoba berteriak tapi salah satu dari mereka membekap mulut dan hidungnya dengan sebuah sapu tangan, ia terus mencoba memberontak untuk lepas di sela sela cengkraman orang yang telah membekapnya dan menariknya ke masuk kearah mobil, kakinya yang bebas juga tak segan segan menendang mereka, tapi tiba-tiba pandangannya kabur dan  semuanya berubah menjadi gelap.

‘lepaskan aku, aku mohon siapapun tolong aku, Jongin tolong aku’

To Be Continue….

[ YOU ARE ]

Tiffany Blesse

-Present-

Starring

Oh Sehun a.k.a Steven Wilson(Sehun Wilson) ||Annastasia Kim||Kim Jongin ||Park Chanyol a.k.a Charlos  Parker(Chanyeol Parker)

Setting

South Korea England

17+ [for Harsh words and Hard scene]

Multi-Chapter

Romance||Friendship||Drama||Hurt

 

PERHATIAN !

Cerita ini hanya fiktif belaka, jadi saya minta maaf apabila ada kesamaan tempat, alur cerita, isi cerita dan lain – lain itu bukan merupakan suatu kesengajaan. Semua isi cerita ini  adalah milik saya dan tolong jangan mengcopynya tanpa seizin saya meskipun saya mengizinkan anda-readers menikmati hasil tulisan saya. Dan saya akan sangat senang dan mengapresiasi apabila anda-readers meninggalkan jejak anda dengan mengkomentari hasil tulisan saya meskipun itu adalah kritikan. Karena dengan itu saya akan semakin semangat lagi untuk menulis dan memperbaiki tulisan saya, cerita ini juga akan di publish di blog lain.  Yang terakhir, I hope you  like this chapter and happy reading. Thank You ^_^

Annastasia Kim – 23 y.o

Oh Sehun a.k.a Steven Wilson(Sehun Wilson) – 22 y.o

 

Park Chanyeol a.k.a Charlos Parker(Chanyeol Parker) – 25 y.o

Kim Jongin 24 y.o

Summary

Disaat masa depan dan manisnya konsekuensi datang, mampukah aku bertahan ?

 

Part 1

Meet Again

 [Now]

Cinta, sebuah rasa dimana saat poros kehidupan menghentak hentak gaduh mengadu pada implus otak untuk tetap tahu caranya bernafas saat netra saling beradu, ketika darah berdesir begitu gencar di balik pori pori dan menggetarkan jasmani meski terbekukan dalam ruang dan masa.

Terlihat manis memang, tapi sebuah manisnya cinta begitu berkonsekuensi saat masa itu semakin menghianati, membawa doktrin lama hingga merajai sanubari, haruskah ia berhenti? kendati konsekuensi menanti dengan dua pilihan dari awal; bertahan atau berhenti untuk jatuh pada orang yang sama.

Entahlah, hanya Tuhan yang mengetahui takdir cintanya; ia hanya berharap takdir itu sesuai dengan apa yang ia inginkan meski ia terlalu pasif dan hanya mengikuti alur kehidupan yang Tuhan buat. Tapi ia lupa akan satu hal, bukankah Tuhan akan mengubah takdir seseorang jika orang itu mau mengubah hidupnya sendiri?

Mata indah bertahtakan bulu mata lentik itu pun terpejam mencoba mencari titik tengah dalam pergulatan hati dan logika, bahkan kini  jemari lentiknya meremas  mug cantik yang teronggok pasrah di hadapannya sebagai pelampiasan kendati jemari lembutnya  masih berfungsi menghantar panas dengan baik. Terlihat dari kepulan asap putih yang terus menguap dan berbaur dengan udara hingga aroma vanilla menggugah kinerja indera penciumannya.

Sayang, lidahnya tak kunjung berdecak nikmat meski sang pembau telah bereaksi menggugah nafsu; Anna tak peduli meskipun susu hangat di genggamannya akan kehilangan aroma karena terabaikan sejak awal, ada hal lain yang lebih menarik atensinya untuk berfikir keras daripada menikmati susu hangat dipagi hari.

Kim Jongin, dua rangkaian kata yang ia rapalkan dalam hati mampu membuat memori lama berputar layaknya film dokumenter yang membawa ia terseret kembali dalam lubang hitam yang tanpa sadar ia ciptakan sendiri. Pria Kim itu telah hampir sepuluh tahun mengisi relung hati terdalamnya, mengisi ruang – ruang hidupnya kendati tak pernah berada di dalam genggamannya. Begitu manis tapi miris saat kenyatan terus menamparnya agar ia segera bangun dan merubah ruang yang mulai retak di makan usia menjadi ruang baru dengan orang baru pula. Tapi apakah ia mampu untuk itu?.

Sebuah hembusan nafas berat lolos begitu saja dari mulut kecilnya yang  seakan mampu sejenak saja menghilangkan penat sebelum netra cantik itu berhenti bersembunyi. Dan sebuah pohon maple dengan daun daunnya yang telah menguning tengah berdiri kokoh di halaman belakang rumah adalah titik fokus pertamanya saat netra cantik itu benar benar terbuka sempurna; Mengamati sejenak lalu tersenyum kecut saat manik coklat itu mendapati salah satu daun maple yang terlepas dari ranting yang menopangnya hingga terombang ambing di udara untuk beberapa detik dan berakhir terkulai tak berdaya di atas tanah.

Kini semuanya terasa semakin sulit untuk Anna saat ayahnya-Sengho Kim mengatakan jika ia akan segera menikahkannya dengan pria yang tak ia kenal dalam waktu dekat; itu berarti statusnya akan segera berganti menjadi seorang istri dari seseorang yang tak ia kenal dan menghabiskan waktu bersamanya hingga nafas terakhir. Tidak, Anna tidak menyukai hal itu, sebuah pernikahan haruslah di bangun dengan sebuah cinta agar tetap kuat dan bertahan sampai akhir jiwa mereka, bukan dengan hal yang begitu konyol; sebuah perjodohan yang ayahnya lakukan dengan entah siapa dia.

Ia muak dan sungguh tak peduli karena amarahnya telah sampai di ubun-ubun setelah mendengar rencana perjodohan itu, bahkan ia tak ingat nama lelaki yang akan menjadi pendamping hidupnya meski baru beberapa detik lalu ayah memberitahunya.  Mengingat namanya saja ia tak mampu apalagi harus menghabiskan sisa waktunya bersama pria yang tak di cintainya?  Oh Shit!, bahkan alam bawah sadarnya kini tengah mengejeknya karena tak juga mampu melepaskan seorang Kim Jongin dari hidupnya atau setidaknya mampu mencari  jalan keluar dari masalah ini.

Anna menggelengkan kepalanya dalam tempo yang cepat mencoba menampik ingatan percakapannya dengan sang ayah dua hari lalu; ia tidak boleh menikah secepat ini karena masih banyak hal yang harus ia lakukan dan ia capai termasuk mendapatkan cintanya. Hingga sebuah deringan ponsel berhasil menginstrupsi pendengarannya, dengan gerakan malas jemari itu meraih ponsel pintarnya dan menggeser panel hijau guna menerima panggilan pagi pertamanya tanpa melihat siapa gerangan yang menelponnya sepagi ini

“Hallo?”

“Kau sudah bangun? Tumben sekali” sungguh jawaban diluar dugaanya hingga lipatan lipatan tipis terpetak di keningnya saat suara bariton itu menelusup gendang telingannya. Ia pun segera menjauhkan ponsel itu lalu mengalihkan pandangannya menuju ponsel yang tengah di genggamnya guna mencari tahu siapa yang kini tengah berbicara.

“Sehun!” panggil  Anna dengan nada kebahagiaan di dalamnya, mata sayunya pun kini berbinar, dan jangan lupakan sebuah senyum simpul telah menghias paras cantiknya saat ini.

“Ya ini aku noona, aku sedang berada di perjalanan kerumahmu sekarang”

“Benarkah? Baiklah aku akan menunggumu di rumah, kebetulan aku juga tidak ada jadwal bertemu client hari ini” dengan nada riang yang masih sama “ kalau begitu sampai nanti Sehun, aku akan mempersiapkan makanan untuk tamu spesialku hari ini hahaha”

“ Baiklah, masakkan  aku makanan yang lezat, sampai nanti noona” Ucap Sehun sebelum ia memutuskan panggilannya.

Anna yang telah mengetahui jika Sehun akan datang pun kini beranjak dari kursi rotan beranda belakang rumahnya dengan riang dan dengan tergesa berjalan kearah dapur guna memasakkan si pri Oh itu dengan berbagai makanan khas Korea, karena ia tahu jika Sehun pasti rindu masakan rumah keluarga Korea kendati hampir lima tahun ia telah menetap di Inggris untuk menjalankan perusahaannya.

Dan oh lihatlah sekarang! Seakan dunia di jungkir balikkan dengan begitu mudah saat mendapati wajah ceria Anna saat ini; seakan pikiran pikiran kalut beberapa detik lalu hanya halusinasinya yang dapat ia tepis dengan mudah tanpa beban yang menggunung di kedua bahunya. Walaupun kenyataan akan terus menginstruspsinya untuk membuat keputusan final; keputusan yang akan benar benar merubah hidupnya saat ini dan yang akan datang.

Disisi lain seorang pria tampan dengan kemeja navy dan celana  jeans hitam berbalut sneakers putih tengah melajukan Buggati Veyron dengan kecepatan sedang meskipun mesin  yang dimilikinya mampu melesat  100 km/jam dalam waktu 2,5 detik saja. Ia hanya ingin menikmati Seoul di pertengahan musim gugur lebih lama; menikmati udara lewat kaca kuda besinya yang terbuka hampir sempurna hingga membuat anak anak rambut hitamnya pun terkoyak manis hingga membuat kesan sexy patut di sandangnya kali ini, tak lupa Evasion seharga US$ 1.200 yang bertengger di hidung mancungnya dan senyuman tipis yang dengan senang hati ia pamerkan membuat wanita – wanita yang berjalan  di trotoar pun berdecak kagum menyaksikan betapa indahnya pahatan Tuhan saat ini.

Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai di pelataran rumah sederhana milik Anna, dengan desaign klasik rumah keluarga Korea yang begitu hangat hingga membuat ia rindu akan suasana Seoul, segera ia beranjak dari kuda besinya dan melangkah perlahan menuju gerbang lalu membukanya dengan hati-hati meski membuat decitan samar terdengar saat pintu gerbang itu tengah dibuka.

“Anna?” Tungkai panjang itu terus saja menyeretnya  masuk jauh lebih dalam menyusuri kediaman keluarga Kim, terlihat  lancang memang saat sang tuan rumah belum juga menyapanya tapi si tamu telah masuk hingga kearah dapur; apa boleh buat? toh ia telah membuat janji dengan putri satu satunya keluarga Kim itu.

“Anna?” ucapnya lagi kendati belum ada jawaban dari sang empunya, mata tajamnya terus saja menyapu isi rumah mencari keberadaan si gadis Kim hingga tepat langkah kedua ia mendapati seorang gadis tengah berdiri dalam balutan  dress putih dengan tali kecil menggantung di atas kedua bahunya sedang sibuk membuat adonan pancake coklat with  stroberry ice cream; itu terlihat dari gambar yang terduduk manis di meja  makannya, sebuah majalah tentang bagaimana  cara membuat sebuah dessert. Manis sekali.

Earphone  putih yang masih melekat di kedua telingannya tak mampu membuat Anna menyadari keberadaan Sehun di dekatnya; Sehun kini tengah menitik beratkan bahu kanannya pada dinding putih pembatas antara dapur dan ruang makan dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, manik tajam Sehun yang hangatpun tengah memperhatikan gadis berambut coklat itu tanpa ada satupun yang terlewatkan; dari mulai gadis itu menggoyangkan tubuhnya sembari mengaduk adonan, bernyanyi dengan nada yang sangat fales  dan kecerobohan gadis itu saat tepung yang tidak sengaja tumpah akibat  tersenggol  lengan kirinya membuat gadis itu mengkerutkan keningnya samar, dan  sebuah umpatan lolos begitu saja dari mulutnya yang berhasil membuat Sehun tersenyum simpul.

Ia menyadari jika gadis itu banyak berubah terutama dari segi penampilannya tapi  tetap tidak berubah di beberapa bagian kepribadianya meski hampir lima tahun ia tak bertemu dengannya; expresif, ceroboh dan bodo-

“Sehun? Sejak kapan kau berdiri disana?” Panggilan Anna berhasil menarik Sehun kesadsarannya kembali setelah beberapa detik lalu pikirannya bernostalgia, Sehun yang menyadari Anna tengah menatapnya dengan raut bingung pun segara tersenyum lembut ke arah Anna.

“Baru saja”  dustanya dengan tetap memasang senyum simpul di paras ‘malaikatnya’, padahal jelas jelas ia telah berdiri disana sejak lima belas manit yang lalu hanya karena seorang gadis yang berhasil menarik atensinya, ia bahkan rela untuk tetap berdiri dan memperhatikannya dengan jarak dekat meski tubuhnya telah memberontak untuk segera bergelung di hangatnya selimut kamar hotel.

“Maaf atas kelancanganku” ucapnya lagi.

“Bukan masalah” ucap Anna dengan senyum yang masih melekat di  kedua sudut bibir merahnya, membuat Sehun juga mengulum senyum yang sama.

“Ada yang bisa aku bantu?” tawar  Sehun yang kini mulai menegakkan tubuhnya dan  perlahan menyeret tungkainya mendekati Anna yang masih sibuk membereskan sisa tumpahan tepung  yang tercecer diatas meja.

Dan sebuah gelengan pelan menjadi jawaban telak bagi Sehun “ Kau tamuku sekarang, jadi kau hanya perlu duduk dan menikmati” sambungnya lagi sembari memberi isyarat dengan dagunya; untuk duduk di kursi yang tepat berada di hadapannya. Sehun yang menyadari isyarat tersebut hanya menganguk dan segera menarik kursi di hadapannya lalu mendudukinya dengan santai.

“Tunggulah sebentar lagi, pancake ini akan segera matang” titah Anna yang masih sibuk menuang adonan dan sesekali membolak balikkan pancake diatas penggorengan yang kemudian  hanya di tanggapi Sehun dengan gumaman mengiyakan.

“Dimana paman?”

“Sedang keluar kota, nanti malam ayah pulang” jawabnya dengan masih sibuk meletakkan pancake yang telah matang di atas piring, sedangkan  Sehun masih saja mengamati pergerakan Anna yang sibuk memasak tanpa melawatkan satupun.

Setelah beberapa detik kemudian pancake itu telah tersaji dengan indah diatas meja bersama galbi, spicy seafood, oi naengguk dan  moo saengche yang membuat Sehun tak sabar untuk segera menyantap semua makanan di hadapannya. “ Makanlah, aku tahu kau sangat merindukannya” ucap Anna sembari menarik  kursi untuk duduk menemani Sehun menyantap sarapan pertamanya di Seoul setelah lima tahun ini ia tak lagi menyantapnya, tak lupa sebuah senyum manis yang Anna sunggingkan untuknya membuat nafsu makannya bertambah.

Sehun pun segera menarik sepasang sumpit lalu menggunakannya untuk mengambil galbi yang  masih hangat dengan terburu buru, Anna yang melihat aksi Sehun makan dengan lahap pun tersenyum lebar dengan sesekali menyesap tea hangat miliknya.

“ Ngomong – ngomong CEO super sibuk seperti dirimu datang ke Korea emm…lebih tepatnya datang kerumahku ada apa?” ucap Anna setelah meletakkan cangkir keramik itu kembali keatas meja, matanya memincing penuh selidik; biasanya seorang CEO tidak akan membuang waktu untuk datang tanpa ada tujuan  tertentu bukan?.

Sehun yang seolah mengerti jalan pikiran gadis itu pun memutar bola matanya malas “Jangan berfikir macam-macam” ucapnya sebelum menyuapkan irisan lobak itu kedalam mulutnya “ Aku ada perjalanan bisnis di Korea, jadi aku menyempatkan datang kemari” lanjutnya lagi dengan sesekali menyuapkan irisan lobak itu lagi.

“Hanya itu?” selidik Anna lagi

“Aku juga ingin mengundangmu secara pribadi ke acara pernikahanku lusa” ucap nya setelah ia menenggak tea hangat milik Anna membuat sang pemilik melayangkan protes kecil meski rasa keterkejutan dan bahagia lebih mendominasi setelah mendengar penuturan Sehun yang akan segera melepas masa lajangnya.

“ Menikah? Benarkah?” ucapnya Anna dengan bola mata berbinar, senyum yang sedari tadi terulas di bibirnya semakin mengembang. Dan Sehun tahu setelah ini Anna akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan layaknya ia adalah tersangka pembunuhan yang tengah diintrogasi, hingga membuat Sehun menghembuskan nafas lelahnya, ia pun segera meletakkan sumpitnya di atas meja dan beralih menompangkan kedua siku – sikunya di atas meja dengan jemari yang saling bertaut untuk menyangga dagu lancip miliknya.

“Dengan siapa?”

“Nanti kau akan tahu”

“Apa dia sangat cantik?”

“ Tidak juga”

“Ngomong – ngomong dimana kalian  bertemu?”

“Di sekolah menengah atas”

“Apa aku mengenalnya?”

“Tentu, tapi mungkin kau lupa karena dia sudah banyak berubah”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan memastikan sendiri nanti, Apa kau akan  menikah di London?”

“Ya”

“Wah… aku tidak sabar melihat pengantin wanitanya dan tunggu, jika kau menikah di London maka impianku untuk pergi ke Inggris  dengan gratis akhirnya tercapai”

“Kau harus membayar tiketnya sendiri”

“Apa?!”

Damn it!, bahkan dengan senang hati Anna mengumpat saat tiket untuk datang  ke pernikahan Sehun tidaklah gratis meskipun ia telah mencoba merayu Sehun untuk memberinya tiket gratis; itu berarti ia harus menguras tabungan selama 3 tahun miliknya untuk pergi ke Inggris, jika tahu seperti itu lebih baik ia tidak di undang kepernikahan sahabatnya itu.

Suasana dapur pun kini semakin hangat hingga menenggelamkan mereka dalam tawa yang kadang pula di selingi dengan sebuah cacian yang muncul dari keduanya, jika di ingat-ingat lagi suasana seperti ini telah hilang sejak delapan tahun lalu hingga mereka  benar benar merindukan waktu-waktu bersama seperti ini.

Sebuah derap langkahpun tak mampu membawa mereka menyadari akan keberadaan seseorang yang baru saja datang, dan Anna lah yang pertama mengetauhi kedatangannya, hingga seruan secara otomatis  terlontar dari bibir mungilnya “ Ayah! Sejak kapan ayah berada disana?” ucap Anna sembari beranjak dari kursi dan berlari kearah sang ayah tercinta yang kini masih saja  berdiri dan tersenyum kearah mereka, Sehun yang mengetahui itupun segera beranjak dari kursi dan membungkuk hormat.

“Anyeonghaseyeo Sehun imnida” ucap Sehun sopan yang kemudian di tanggapi oleh tuan Kim dengan senyuman lebar.

“Ayah bilang akan pulang nanti malam?” ucap Anna sembari merangkul lengan kanan ayahnya manja sembari menggiringnya menuju meja makan.

“Urusan ayah sudah selesai disana, jadi ayah pulang cepat “ ucap Sengho Kim sembari mendudukan dirinya  disamping  kanan Sehun.

“Dia temanku di sekolah menengah atas ayah, dia menyempatkan berkunjung di sela sela kesibukannya menjadi seorang CEO di London, dan dia juga akan menikah lusa Ayah, dia datang untuk mengundangku secara pribadi untuk datang ke acara pernikahannya di London” jelas Anna panjang lebar yang hanya di tanggapi senyuman tak kalah lebar oleh sang ayah.

“Iya paman, dan paman juga harus datang keacara pernikahanku nanti” ucap Sehun dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya, sedangkan Anna yang mendengar penuturan Sehun hanya membulatkan matanya; Sehun benar benar ingin menguras isi tabungannya dengan mengundang ayahnya juga, yangmana tiket pulang pergi mereka harus mereka tanggung sendiri. What the hell are you doing Oh Sehun?! , umpat Anna dalam hati

“ Baiklah, aku akan dat-“ ucapan sang ayah terhenti begitu saja saat Anna dengan cepat menyela ucapan sang ayah “ Ayah tidak per-“ tetapi sebelum silabel itu dengan sempurna keluar dari mulutnya Sehun telah benar benar membuatnya diam

“Saya telah menyiapkan tiket pulang pergi untuk anda dan Anna” ucap Sehun dengan menatap wajah Anna yang kini berubah cerah sekali saat mengetahui bahwa ia tidak akan menguras seluruh isi tabungannya.

“Benarkah? Ugh… kau penuh kejutan hari ini Sehun, thank you” ucapnya sembari bergelayut manja di lengan kiri Sehun hingga sebuah gelengan dan senyuman manis terpetak di paras tampannya saat mendapati tingkah manja Anna saat ini, begitu juga dengan sang ayah yang memberikan respon yang sama dengan Sehun. Anna pun segera menegakkan badannya kembali dan bersiap mengambil galbi menggunakan sumpitnya saat sang ayah memulai pembicaraan kembali.

“Berapa hari kau akan berada di Korea?” suara tegas tapi hangat itu pun mulai menginstrupsi Sehun hingga membuatnya kembali menatap tuan Kim tanpa meninggalkan senyum manisnya.

“Dua hari paman” ucapnya singkat

“Kalau begitu kau menginap saja disini?” tawar Anna yang di tanggapi dengan anggukan dari sang ayah sebagai tanda persetujuan atas ide yang di berikan Anna untuk membiarkan Sehun menginap di rumah sederhana mereka.

“Benar, kau menginap disini saja” ucap tuan Kim meyakinkan

“Terimakasih atas tawarannya paman, tapi saya akan menginap di hotel saja, karena di hotel itu juga akan ada beberapa pertemuan bisnis paman” tolaknya sopan “kalau paman mengizinkan, setelah makan saya ingin mengajak Anna untuk membeli cincin pernikahan,  karena dia wanita saya membutuhkan pendapatnya  untuk memilih cincin mana yang lebih cocok kami kenakan saat pernikahan” ucap Sehun yang berhasil membuat Anna tersenyum dan menggangguk cepat.

“ Baiklah, kalian boleh pergi setelah makan” ucap tuan Kim hingga membuat mereka tersenyum simpul.

***

Semenjak Anna menaiki kuda besinya tak henti hentinya ia berdecak kagum bahkan bola matanya bergerak kesana kemari; meneliti setiap sudut mobil ini, memuji segala teknologi canggih yang melekat di sekitar kuda besinya hingga senyum terus melekat  di kedua sudut bibirnya. Sesekali Sehun melirik Anna yang tak berhenti untuk bergerak sembari memegangi seluruh interior mobil  hingga membuatnya mengulas senyum tipis meskipun titik fokusnya tak teralihkan sedikitpun dari baku jalanan, Buggati Veyron itu tetap melaju dengan begitu angkuh membelah hiruk pikuk Seoul dengan sesekali suara klakson terdengar menguar guna memaki setiap pemakai jalan yang menghambat perjalanannya.

“Kau sungguh bekerja keras Sehun” ucap Anna sembari menatap Sehun yang berada di kursi kemudi dan hanya di balas dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman manis. Ngomong – ngomong entah  sudah berapa kali hari ini ia tersenyum seperti itu karena perasaan bahagia yang membuncah di hatinya.

“Duduklah dengan benar dan  jangan menatapku seperti itu” ucap Sehun sembari memutar kemudinya kearah kiri

“Kenapa tidak boleh?”  ucap Anna sembari mengkrucutkan bibirnya sebal sedangkan matanya memincing menyelidik.

“Nanti kau jatuh cinta padaku” ucap Sehun santai dengan kekehan di akhir frasanya

“Teruslah bermimpi Oh Sehun! Listen, ku pastikan padamu aku tidak akan jatuh cinta padamu, lagipula kau akan menikah lalu atas dasar apa aku jatuh cinta padamu?” ucap Anna dengan penuh keyakinan, bahkan ia melipat kedua tangan di depan dada menentang pernyataan konyol Sehun beberap detik lalu.

“Benarkah? Kita lihat saja nanti” ucap Sehun yang kini  mencondongkan tubuhnya kerah Anna dan beralih memfokuskan manik tajamnya kearah Anna membuat netra meraka beradu lembut; mata tajam Sehun yang hangatpun mengunci mata berbinar Anna hingga membuat Anna seakan menyelam kedalam kehangatan yang di pancarkan dari netra itu, yang entah mengapa ia bisa merasakan apa arti cinta di dalamnya hingga membuat Anna membeku. Sehun memang tidak melakukan apapun meski jarak mereka tidak lebih dari lima senti, hanya saja ia bingung bagaimana bisa menemukan rasa itu; rasa yang begitu tulus tapi tak terucap, padahal mereka tidak sedang mendebatkan sesuatu yang penting.

Sebuah senyum lebarpun terlukis kembali di paras tampannya “Turunlah, kita sudah sampai” titah Sehun lalu melepas sabuk pengamannya dan membuka knop pintu kuda besinya hingga menimbulkan decitan kecil. Dan debuman kecil setelahnya saat Sehun keluar dari dalam mobil dan berjalan memutari bagian depan mobilnya.

Sedangkan Anna masih saja pada posisinya semula, tatapannya masih saja menerawang jauh bahkan sejak tadi ia tidak menyadari bahwa mobil Sehun telah terparkir rapi didepan sebuah toko perhiasan di kawasan elit Seoul, Sehun yang jengah menunggu Anna tak kunjung keluarpun segera membukakan pintu  untuk Anna.

“Anna?” ucap Sehun dengan kernyitan di dahi heran saat mendapati Anna masih menghadap kursi kemudinya tanpa berniat bergerak sedikitpun

‘ada apa dengannya?’ 

“Anna?” tepat di panggilan kedua Anna baru tersadar dari lamunannya hingga membuatnya sedikit linglung; pandangannya bergerak kesana kemari mencoba mencerna situasi hingga ia mendapati mobil Sehun telah berhenti dan Sehun yang telah membukakan pintu untuknya. Segera saja  ia turun  dan berjalan berdampingan dengan Sehun  saat memasuki toko perhiasan itu.

Beberapa pelayan wanita tak henti – hentinya menatap Sehun dan dirinya sejak pintu masuk dibukakan oleh seorang security, sebagian  di antara mereka mengatakan kami adalah pasangan serasi sedangkan sebagian di antara mereka saling berdecak iri. Sungguh tatapan memuja maupun tatapan iri mereka membuat Anna risih, tetapi berbeda dengan Sehun yang tetap tak memperdulikan mereka dan terus menyeret tungkainya hingga menuju salah satu etalase panjang yang memajang berbagai macam bentuk dan harga cincin pernikahan.

“Selamat pagi tuan dan nona ada yang bisa saya bantu?” sapaan ramah yang begitu hangat adalah hal pertama yang kami dengar setalah kami tepat di depan  sebuah etalase panjang dengan design modern itu.

“Kami ingin mencari cincin pernikahan” ucap Sehun yang kemudian di tanggapi senyuman lebar dari salah satu pegawai wanita toko perhiasan itu.

“Pilihlah!” titah Sehun saat mata mereka kembali beradu

“Kau yakin aku yang memilihnya?” ucap Anna dengan ragu; ini adalah cincin pernikahan dan ia takut pilihannya tidak sesuai dengan keinginan Sehun ataupun  calon istrinya, meskipun calon istri Sehun tidak tahu bahwa cincin pernikahannya adalah pilihannya karena Sehun ingin memberikan kejutan untuk calon istrinya, tapi tetap saja Anna berat untuk memutuskan pilihannya; karena semuanya terlihat cantik. Dan sebuah anggukan  ringan Sehun menjadi jawaban telak bagi Anna.

“Emm… Sehun seperti apa dia? Ucap Anna yang berhasil menarik atensi Sehun dari puluhan pasang cincin hingga menatap Anna dengan alisnya yang berjungkit tak mengerti

“Maksudku kepribadian calon istrimu?” sambung Anna lagi

Sehun yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum, matanya menatap dalam netra cantik Anna sedangkan otak briliannya memutar kepingan kepingan memori delapan tahun lalu “Dia wanita sederhana, ekspresif, ceroboh, terkadang kekanak kanakan,  plin plan dan keras kepala”  ucap Sehun santai.

Tetapi berbanding terbalik dengan ekspresi Anna saat ini; matanya telah membulat sempurna dengan kerutan tipis di keningnya, ia tak menyangka jika Sehun akan mendapatkan calon istri seperti itu, dan kenapa pula ia mendiskripsikan semua sifat jelek calon istrinya bukankah biasanya calon suami akan menyanjung calon istrinya? Dia sangat aneh; ‘ Efek jatuh cinta setiap orang memang berbeda’ batinnya.

Setelah mendengar penuturan dari Sehun, ia segera memutar kembali badannya menghadap etalase itu, jari telunjuknya terus saja menyusuri dinding kaca bagian atas etalase itu dan di detik selanjutnya  mata indah itu  berbinar saat menangkap sepasang cincin pernikahan terpajang di sana; sebuah cincin pernikahan dimana setiap sisi yang mengitarinya terdapat berlian putih dan biru yang berkilau, berbeda dengan cincin untuk mempelai laki-laki yang lebih sederhana, cincin untuk mempelai perempuan sisi depannya sedikit menonjol dengan berlian biru terpatri dengan sempurna. Membuat kesan mewah dan elegant jika cincin itu di kenakan pemiliknya.

Cincin mempelai wanita

“Boleh aku lihat yang ini nona?” ucap Anna yang kemudian di tanggapi dengan anggukan dan sebuah senyuman manis, tanpa menunggu lama sepasang cincin itu telah keluar dari etalase, dengan hati-hati pegawai cantik itu menyerahkan sepasang cincin itu kepada Anna.

Anna dengan senang hati menerima sepasang cincin itu dengan senyum manis di kedua sudut bibirnya, kemudian ia memutar tubuhnya menghadap Sehun yang kini menatapnya tak percaya.

“Bagaimana, kau suka?” ucap Anna  tanpa melepas pandangannya ke Sehun.

“Kau yakin?” ucap  Sehun yang tak juga melepas atensinya dari wanita di hadapannya.  Sedangkan yang di tatap mengeryitkan dahinya samar, senyum yang terus terpancar sedari tadi kini mulai memudar.

“Kau tidak suka? Apa cincin ini tidak cantik?” tanya Anna lirih tapi tetap mampu di tangkap oleh gendang telinga Sehun.

“Bukan begitu, hanya saja aku ingin tahu kenapa kau memilihnya?” ucap Sehun serius, tatapannya masih saja mengarah ke wanita yang ada di hadapannya saat ini.

“Aku pikir cincin ini akan memberikan calon istrimu banyak pelajaran baru” ucap Anna dengan senyum yang mulai merekah kembali di paras cantiknya. Sedangkan Sehun hanya membeo dengan lipatan halus yang mulai terpetak di wajah tegasnya

“Maksudmu?” ia sungguh tak mengerti kemana arah pembicaraan Anna saat ini

“Kau tahu? Istrimu itu sangat menarik” ucapnya dengan kembali mengalihkan pandangannya dari cincin untuk menatap Sehun yang kini tengah melipat lengannya di depan dada

“Lalu?”

“Menurutku cincin ini sangat cantik,elegant,dan mahal. Kau tahu benar jika sebuah cincin pernikahan akan selalu melekat di jari manis pemiliknya, dan ketika ia melihat cincin ini ia akan sadar siapa dirinya sekarang, dia adalah istri dari seorang Oh Sehun seorang CEO yang kini memiliki kerajaan real estate di daratan Eropa, maka dari itu dengan perlahan ia akan mengubah kepribadiannya, istrimu tidak akan lagi ceroboh dan terlalu ekspresif untuk tetap menjaga kehormatan suaminya dengan tidak melakukan hal hal bodoh dan lebih bisa menahan diri untuk tidak terlalu ekspresif, tidak akan keras kepala dan plin plan karena banyak hal dan tanggung jawab yang harus ia tanggung bersamamu karena bagaimanapun suatu saat kau akan membutuhkan pertimbangan darinya Sehun”  ucap Anna dengan yakin, bahkan ketika ia menjelaskan alasannya, matanya seakan mengunci mata Sehun untuk tetap menatapnya hingga membuat Sehun membeku dengan alasan di balik ia memilih cincin pernikahan itu.

Setelah mendengar penuturan Anna membuat senyum Sehun semakin lebar di paras tampannya hingga tangan kanannya mengambil alih cincin itu dari genggaman Anna dan menyerahkan kepada pegawai wanita itu.

“Aku ambil yang ini nona, tolong berikan tempat yang paling bagus untuk menyimpan cincin ini “ ucap Sehun dengan senyum yang belum juga hilang dari paras tampannya. Di detik selanjutnya ia memutar tubuhnya menghadap Anna yang kini menyambutnya dengan senyum yang sama. “Terimakasih” Ucap Sehun yang hanya ditanggapi dengan anggukan ringan oleh Anna.

***

Tak terasa saat detik begitu lancang memaksa jam untuk terus berpacu dalam perputaran waktu  hingga ke titik lima tiga puluh saat gurat gurat senja tengah menyebar hingga terlukis indah dalam balutan tangan dingin sang Maestro.

Sapaan lembut anginpun menggerakkan anak anak rambut mereka hingga tak kembali pada posisi semula, namu anginpun tak mampu memecah keheningan meski lima menit telah berlalu; mereka hanya ingin menikmati senja dan riak tenang Sungai Han sembari menyelami pikiran masing masing. Hingga menit ketujuh keheningan mulai terusik saat netra tajam Sehun menangkap pergerakan kecil dari wanita yang kini tengah duduk di samping kemudinya hingga mengharuskannya memutar sebagian tubuh tegapnya yang tengah bersandar santai di kursi pengemudi

“Kau bosan?” ucap Sehun lembut yang kemudian hanya di balas dengan gelengan pelan, sedangkan netra cantik itu masih terus menerawang kedepan

“Aku hanya sedang berfikir, Sehun?” ucap Anna yang kini mengalihkan atensinya pada Sehun yang tengah menatapnya dalam “ Aku akan menjadi seorang istri dari seseorang yang ayah jodohkan dengan ku” matanya berubah sendu dan itu begitu jelas di mata Sehun saat tatapan mereka saling beradu lembut

“Lalu apa masalahnya?” tanya Sehun hati-hati

“Cinta, aku tidak mencintainya Sehun tapi aku mencintai ayahku hingga aku tidak ingin membuatnya kecewa” ucap Anna lirih, bahkan kepala itu telah menunduk sempurna hingga helain rambut coklatnya jatuh menutupi paras cantiknya; ia bahkan mulai menggigit bibir saat sebulir kristal telah luruh di pipi pualamnya. Sehun membuang mukanya saat mendengar pernyataan wanita di sampingnya, bahkan dadanya kini seakan dihimpit oleh dua batu besar hingga membuatnya sesak dan akan mati dalam hitungan detik saja.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Amarah pun serasa begitu mencekik batinnya saat kedua mata cantik menatapnya sendu dengan jejak air mata yang terhapus kasar oleh jemari jemari pemiliknya hingga membuat Sehun meremas kemudinya kuat sebagai pelampiasan.

“Jongin, apa kau masih mencintainya?” ucap Sehun yang kini terdengar begitu dingin dan mengintimidasi berhasil membuat bola mata Anna membulat sempurna dan tubuhnya menegang, Sehun membuatnya mengingat kembali pertanyaan yang begitu mengganggunya selama lima tahun belakangan; ia bahkan menanyakan hal yang sama pada hatinya sendiri saat sang logika memberinya keputusan telak.

“Ya”

Jantung Sehun seakan jatuh merosot ke dalam perut dengan rasa sesak yang semakin nyata, bahkan buku buku di tangannya telah memutih. Ia berharap jika telingannya tidak berfungsi baik saat mendengar pengakuan cinta dari Annastasia Kim, bahkan jika waktu bisa di putar kembali ia lebih memilih untuk  tidak pernah berada di sini dan mendengarnya secara langsung sekarang. Ingin sekali ia menenggak wine hingga hilang akal dan menganggap ucapan itu hanya halusinya saja saat ini.

Oh Shit!

“Kalau begitu pergilah!, kejar Jongin karena kebahagiaanmu adalah dia dan ini adalah kesempatan terakhirmu” Ia bahkan telah muak dengan pembicaraan ini hingga ia lebih memilih untuk diam; segera memutar kunci  lalu menginjak gas hingga kuda besi itu kembali berjalan angkuh membelah hiruk pikuk Seoul, mata tajamnya hanya fokus pada baku jalanan tanpa sedikitpun melirik Anna yang diam-diam merasa ketakutan atas perubahan sikap Sehun yang begitu tiba-tiba menjadi dingin, bahkan ia terus menambah kecepatan laju kuda besi itu.

Anna hanya menatap sisi kiri wajah pria itu tanpa mampu bertanya karena bibirnya seakan terkunci hingga ia tak mampu hanya sekedar menyebut nama pria itu, alisnya berjungkit menandakan dia sedang marah.

‘Benarkah Sehun sedang marah padanya sekarang?’

‘Tapi kenapa?’

‘Sebenarnya ada apa denganmu Oh Sehun?’

“Aku akan mengantarmu pulang” ucap Sehun dengan nada yang sama; dingin dan singkat, bahkan ia tak juga memalingkan wajahnya saat ia berbicara dengan Anna karena hatinya sedang bergejolak saat ini dan ia tak ingin lepas kendali hingga membentak Anna tanpa Anna sadari apa salahnya hingga membuat seorang Oh Sehun begitu murka saat ini

“Baiklah”  Ia memutuskan untuk diam hingga keheningan kembali merajai keduannya. Keheningan yang  sama masih saja melingkupi sampai kuda besi milik Sehun telah berhenti di pekarangan rumahnya, sejenak ia melirik Sehun yang masih saja diam; bahkan tangannya masih mencengkram kemudi dengan tatapan yang  masih  terkesan menerawang.

“Sehun, aku akan turun sekarang dan…terimakasih telah mengantarku pulang” ucap Anna sesaat sebelum melepas seatbelt yang menggungkung tubuh rampingnya. Kini jemari lentiknya pun beralih memegang knop pintu  berniat untuk segera turun dari mobil Sehun, tapi tepat saat ia akan membukanya Sehun memenekan lock pintu otomatis dari pintu kemudi hingga pintu tak bisa di buka dan di detik itu pula ia mengalihkan pandangannya ke arah Sehun yang kini tengah menatapnya dalam.

Dalam sekejap ia meraih lengan Anna dan menariknya kedalam pelukan hangat miliknya dalam satu hentakan hingga membuat Anna membulatkan matanya, seketika aroma musk menggelitik indera penciumannya dan rasa hangat nan nyaman menguasai tubuhnya hingga sekujur tubuhnya membeku meski darah di balik kulitnya masih berdesir dengan kencang. Sebenarnya ini bukan pelukan pertamanya dengan Sehun, beberapa tahun lalu mereka sering berpelukan tapi karena setelah bertahun tahun membuat sedikit rasa canggung mengusiknya.

“Anna, kau percaya padaku kan?” gumam Sehun yang kini masih saja menumpukkan dagunya di pundaknya, bahkan pelukan yang ia berikan serasa begitu erat saat ini.

“Y-ya” ucap Anna terbata, sungguh ia tak mengerti dengan Sehun saat ini, pagi- pagi sekali ia datang dari London dan mengabarinya jika ia akan segera menikah lalu mengajaknya ke toko perhiasan untuk memilihkan cincin pernikahan untuknya, saat di Sungai Han tiba tiba saja dia berubah dingin padanya dan sekarang ia memeluknya dengan begitu hangat. Bahkan sekarang dia menanyakan pertanyaan yang begitu absurd. Ia semakin tidak mengerti dengan Sehun saat ini.

‘ sebenarnya ada apa dengan Sehun?’

“Kalau begitu percayalah padaku hingga akhir” ucap Sehun lembut dan hanya di tanggapi anggukan pelan dari Anna di sela sela pelukan mereka. Sehun segera merenggangkan pelukkannya dan beralih menatap Anna dalam, tangan kanannya yang semula memeluknya pun kini beralih menyentuh pipinya dan mengelusnya lembut. Bahkan sebuah senyum lembut telah kembali terpahat indah di wajah tegasnya.

Berbanding terbalik dengan Anna saat ini; ia hanya mengulas senyum yang ia paksakan pada Sehun, sungguh ini kali pertamanya ia melihat Sehun seaneh ini, tatapan bingung pun masih terpetak jelas saat netra mereka beradu.

“Sekarang masuklah ini sudah malam, sampaikan salamku untuk paman Kim karena aku tidak bisa menemuinya karena ada pekerjaan yang harus aku urus untuk besok, dan sampai  jumpa di London Anna” ucap Sehun yang hanya di respon dengan anggukan pelan. Segera Anna membuka  pintu setelah  Sehun membuka lock pintu otomatis  hingga pintu itu bisa terbuka kembali.

Debuman lirih akibat  pintu yang tertutup pun menjadi akhir perbincangan sekaligus pertemuannya dengan Anna, di luar Sehun melihat Anna yang masih berdiri sembari melambaikan tangannya lalu beberapa detik kemudian ia memutar kunci dan melajukan Buggati itu pergi dari hadapan Anna.

Sedangkan Anna yang masih terus memikirkan pertanyaan Sehun pun tanpa menyadari jika tungkainya telah menyeretnya masuk hingga kini ia  berada di dalam kamarnya, bisa di bilang hari ini cukup melelahkan setelah pergi bersama Sehun seharian hingga ia lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang sejenak sebelum ia pergi membersihkan tubuhnya yang lengket. Hembusan nafas berat pun kini lolos dari bibir merahnya saat pikirannya kembali mengingat percakapannya dengan Sehun

‘Kalau begitu pergilah!, kejar Jongin karena kebahagiaanmu adalah dia dan ini adalah kesempatan terakhirmu’

Ucapan Sehun begitu mengganggu pikirannya sekarang, haruskah ia mengikuti  saran Sehun dengan konsekuensi mutlak; mempermalukan keluarga terutama ayahnya sendiri atau tetap melakukan pernikahan dengan orang yang sama sekali tak ia kenal dan cintai hingga terjebak dalam luka sepanjang hidupnya? Tidak, ini sungguh pilihan yang sangat sulit untuk dirinya sendiri, rasanya ingin sekali ia bertanya apa maksud Tuhan sebenarnya? Apa Tuhan  sungguh akan menguji kadar imannya?

Hembusan nafas berat pun kembali lolos dengan sempurna dari bibir merahnya hingga memecah keheningan sejenak, ia pun  memilih untuk bangkit dari ranjangnya dan bergegas mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya sebelum ia tidur.

Perputaran waktu memang tak ubahnya roda yang berputar dengan cepat hingga menyeret dirinya yang sebenarnya telah jatuh tersungkur dengan berbagai permasalahan pelik hidupnya. Jika di hitung hitung kini sudah hampir tiga jam  berlalu setelah ia mandi dan memutuskan untuk pergi tidur, tapi mata lentik itu tak kunjung bersahabat dengan tubuhnya yang telah meronta untuk bergelung dengan selimut hangat yang telah membalutnya hingga batas paha atas; terbukti ia lebih memilih untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan tatapan menerawang.

Sedangkan pikirannya terpenuhi berbagai macam pertanyaan yang dirinya sendiripun tak dapat menjawab kendati konsekuensi semakin nyata di depan mata, layaknya menyelam di dasar palung terdalam yang entah kapan ia akan kembali kepermukaan kendati oksigen tengah berada pada titik minim. Begitulah kira kira saat otak brilian itu tak kunjung mencapi titik temu dalam pergulatan batin dan logika; menjatuhkan sang ayah hingga mencium telapak kaki mereka sebagai penebus dosanya adalah hal tergila kendati hanya ingin membuat putrinya bahagia. Tidak, membayangkan saja hatinya berkedut ngilu bak sembilu pedang mengoyak hati terdalamnya saat ini, ia lebih baik memotong urat nadinya sendiri jika itu terjadi. Tapi, bukankah semua itu hanya akan berawal dari keputusan yang ia ambil sekarang?

Bayangan – bayangan mengerikan itu begitu riuh melintas di benaknya hingga ia merasa pening bukan main, bahkan pijatan lembut di pelipis tak kunjung membuat rasa sakit itu reda. Pernikahannya akan segera di gelar maka dia tidak boleh terlalu banyak membuang waktu untuk mengambil keputusan paling bijak menurutnya.

“Jongin, aku membutuhkanmu, aku mohon datanglah” ucapnya dengan bibir yang bergetar, bahkan kristal bening itu telah meluncur deras di pipi pualamnya hingga isakan demi isakan tak mampu lagi ia tahan, bahunya bergerak naik turun dengan tak teratur. Ia berusaha menepuk dadanya agar sesak itu hilang, tapi rasa sesak semakin meremas hatinya.

***

Sinar matahari perlahan menembus celah celah jendela yang telah terbalut tirai putih yang menjulur kebawah, tapi angin tak henti hentinya mencoba menerobos hingga tirai itu bergerak gusar. Kicauan burung – burung pun seakan dengan senang hati menyeretnya dari alam mimpi hingga membuat matanya mengerjab  beberapa kali, ia menggeliat  pelan merenggangkan otot otot lelah di tubuhnya dengan sesekali menguap dan mengucek mata kanannya pelan sedangkan mata kirinya tengah menatap jam dinding yang menggantung begitu angkuh di dinding putih yang berada tepat di seberang ranjang besar miliknya; pukul tujuh tiga puluh pagi.

Ia segera bangkit saat memorinya kembali memutar schedule pertemuannya dengan seorang client yang memintanya memenangkan hak asuh anak. Sejenak ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan wajah yang masih mengantuk dan malas, tentu saja karena ia baru bisa tidur jam lima pagi sedangkan ia harus segera menemui client di kantornya jam delapan pagi, berarti hanya tinggal tiga puluh menit waktu yang tersisa sedangkan dia belum mandi dan bersiap siap.

Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri, tapi kakinya kini berhenti di depan cermin besar untuk memandangi tampilannya sendiri; rambut yang berantakan layaknya singa, matanya yang berubah menjadi sebesar bola pingpong akibat menangis semalaman. Ia hanya menghembusakan nafas kasar karena penampilan dirinya sekarang tak ubahnya gelandangan yang kelaparan.

Setelah hampir lima belas menit ia merendam tubuhnya di air hangat ia segera berjalan ke arah almari dan mengambil sebuah kemeja putih yang di padukan dengan celana kain dan blezer dengan warna abu abu yang senada.

Tak lupa menambahkan riasan tipis di kulit putih bak porselen miliknya lalu menata rambutnya dengan mengikat satu rambut panjangnya ke belakang, hingga memberikan kesan wanita mapan dan independent.

Ia melirik Alexandre Christie yang telah melingkar di pergelangan tangan kirinya sekilas dan segera beranjak keluar dari kamar karena ia hampir saja terlambat, dan dia sangat membenci jika dia terlambat karena akan mengurangi point perfectionis dan keprofesionalitasan yang selama ini ia agung agungkan.

Dengan setengah berlari ia keluar menuju mobil yang tengah terparkir di luar pekarangan rumah, bahkan teriakan sang ayah yang menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu pun ia abaikan dengan alasan ingin sarapan di kantor saja. Sejenak ia mengatur nafasnya sebelum ia memasuki mobil, tapi tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti  tepat dimana dia berada dan dengan cepat beberapa orang berbadan tegap dengan wajah yang di tutup topeng putih pun  keluar dari dalam mobil, orang-orang itu sunguh membuatnya takut; bahkan matanya tengah bergerak gusar dengan tubuh yang semakin bergetar.

“ S…Siapa kalian? Orang- orang itu tak menjawab pertanyaanya dan terus melangkah mendekati Anna, perlahan ia melangkah mundur untuk pergi tapi orang – orang itu telah mengepungnya,  ia mencoba berteriak tapi salah satu dari mereka membekap mulut dan hidungnya dengan sebuah sapu tangan, ia terus mencoba memberontak untuk lepas di sela sela cengkraman orang yang telah membekapnya dan menariknya ke masuk kearah mobil, kakinya yang bebas juga tak segan segan menendang mereka, tapi tiba-tiba pandangannya kabur dan  semuanya berubah menjadi gelap.

‘lepaskan aku, aku mohon siapapun tolong aku, Jongin tolong aku’

To Be Continue….

 

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] YOU ARE (Chapter 1)

  1. wahhhh Bagus ceritanya, walaupun aku ketinggalan beberapa chapter tp aku malah senang hihihi…bisa baca lebih lama, apalagi satu chapternya panjaaangg bgt..
    knpa aku ngerasa klo yg dimaksud sehun itu Anna ya..?? ahhh ga tau ahh.. yg penting aku sukaaa

  2. Wah bagus ceritanya… Jadi penasaran Sehun nikah ama siapa ya??? Tpi kok kyknya tipe yg dibilang menjurus ke Anna ya 🤔🤔🤔
    Semangat ya untuk authornya 😁😁
    Oh ya salam kenal author aku pembaca baru disini 😀😀

    • hai teman, salam kenal kenal dari aku ya ^_^, makasih udah baca dan komen, terima kasih juga pujiannya kekekekeke…..cerita lanjutannya udah siap kok, tenang kekekeke…ffnya bakal aku post kemungkinan bulan februari karena laptop ku lagi rusak dan sikon lain yang ngebuat aku belum bisa pos. Maaf atas ketidaknyamanannya ya karena nunggu terlalu lama. Mohon di tunggu kelanjutannya ff nya ya , makasih teman ^_^

  3. Mungkin calon istri yang dimaksud sehun itu anna dan sifat wanita yang akan dinikahi sehun sama kayak sifat nya anna.
    Siapa yang menculik anna ?
    Penasaran sama kelanjutannya authornim

    • hai teman , salam kenal dari aku ya ^_^ , makasih udh baca dan komen ff aku kekekeke…wah kayaknya kamu penasaran banget ya sama kelanjutannya? mohon di tunggu ya kelanjutannyaya teman, ffnya udah siap kok, maaf ya lama nunggunya. Sampai jumpa di YOU ARE part 2 teman ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s